The Little Prince

little_prince

For he never forgot a question once he had asked it.”

Buku ini aslinya ditulis oleh pengarang Perancis, jadi aku, yang nggak ngerti Bahasa Perancis, nggak mungkin baca buku ini dalam bahasa aslinya. Jadi, aku memilih terjemahan dalam Bahasa Inggris. Aku nggak tahu apa ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia apa nggak. Nah, dari sekian banyak, aku dapat terjemahan dari Wordsworth Classic. Ini penting, karena bahasa yang digunakan bisa aja beda-beda.

Buku ini bisa dibilang buku lama karena kali pertama terbit tahun 1943. Tapi, buku ini ditulis dengan luar biasa. Berkisah tentang seorang pangeran kecil (the little prince) yang datang dari sebuah planet yang sangat kecil, bahkan tubuhnya lebih besar daripada planetnya sendiri. Dan dia sendirian di planet itu. Dia bertemu dengan seorang pria dewasa yang terperangkap di tengah gurun pasir Sahara di Afrika. Pria itu (yang jadi narator cerita) menaiki pesawat, dan pesawat itu rusak di tengah jalan. Saat ia tengah tidur di malam hari, tiba-tiba pangeran kecil itu memintanya menggambar domba.

Yang jadi masalah adalah, orang-orang dewasa di sekitarnya telah menyuruhnya melupakan impiannya untuk menjadi pelukis sejak usia 6 tahun. Alasannya adalah karena ia menggambar sesuatu yang tidak dipahami oleh orang-orang dewasa, seekor boa raksasa yang menelan gajah. Akhirnya, ia menjadi pilot pesawat terbang.

Pangeran kecil itu tidak pernah puas akan gambarnya. Kadang dombanya terlalu lemah, kadang terlalu tua, kadang malah dianggap bukan domba sama sekali karena ia menggambar tanduk dengannya. Akhirnya, si pilot menggambar kotak yang ia katakan ada domba di dalamnya. Yang mengejutkannya, pangeran kecil itu puas dengan gambar itu.

Sejalan dengan perkenalannya, si pilot menyadari perbedaan mereka sebagai orang dewasa dan anak-anak. Orang dewasa yang terlalu membutuhkan banyak penjelasan dan bentuk-bentuk yang jelas, berbeda dengan anak-anak yang hanya butuh imajinasi mereka.

Pangeran kecil itu mulai menceritakan perjalanannya hingga sampai ke bumi. Ada satu bunga yang tumbuh di planetnya, wanginya menguar ke seluruh planet. Dia adalah bunga yang sombong, dia sering mengatakan kebohongan, dan sangat butuh perhatian. Namun, saat ia memutuskan untuk pergi dari planetnya, bunga itu meminta maaf. Dan pangeran kecil menyadari bahwa ia seharusnya  menilai bunga itu dari kebaikannya, dan bukan hanya sekadar kata-kata yang suka diucapkannya.

Tapi, sudah terlambat. Ia sudah bersiap-siap dan sang bunga menyuruhnya segera pergi. Pangeran kecil itu hanya bisa berharap bunga itu akan bertahan.

Ia bepergian menyusuri asteroid-asteroid yang ada. Yang ukuran planetnya mungkin jauh lebih kecil daripada planetnya sendiri. Masing-masing planet dihuni oleh orang-orang yang berbeda-beda. Ada seorang raja yang kesepian, yang selalu ingin mengatur sesuatu. Lalu, ada seorang individu yang sombong, yang dibutuhkannya hanya tepuk tangan dan ia merasa senang.

Di planet ketiga, ia bertemu dengan pemabuk, yang mabuk karena ia merasa sedih. Ketika pangeran kecil bertanya kenapa, pemabuk bilang ia sedih karena ia pemabuk! Di planet keempat, dihuni seorang akuntan, yang kerjanya menghitung bintang dan menyatakan itu miliknya. Planet kelima dihuni penjaga lampu, yang kerjanya menyalakan dan mematikan lampu. Ia orang yang paling menyenangkan bagi pangeran kecil, tapi ia terlalu sibuk untuk menyalakan dan mematikan lampu.

Lalu, ada pula seorang ahli bumi, yang selalu membaca buku tentang ilmu bumi, tapi tak sedikitpun tahu tentang sungai-sungai, gunung-gunung yang ada, karena baginya itu tugas seorang penjelajah! Sampai akhirnya, pangeran kecil sampai ke bumi dan melihat kenyataan-kenyataan yang mengejutkan serta membuatnya sedih.

Buku ini brilian karena kompleksitasnya dirangkum dalam bahasa yang sederhana. Terutama, buku ini mengulas bahwa orang dewasa bisa jadi nggak masuk akal dalam memandang suatu persoalan. Seperti pada awal bab, dimana narator menceritakan tentang orang Turki yang menemukan planet di antara asteroid yang begitu kecil. Saat orang Turki itu mempresentasikan planet itu dengan baju Turki, orang-orang dewasa meragukannya. Tapi, begitu ia mengenakan jas yang lengkap dengan dasi, orang-orang dewasa tidak lagi meragukannya!

Sindiran-sindiran terhadap perilaku orang dewasa terus dilancarkan lewat kenaifan pertanyaan-pertanyaan pangeran kecil. Dan pangeran kecil akan terus menanyakan pertanyaan yang diajukannya sampai ia mendapat jawaban.

Seperti pada masing-masing planet yang dikunjungi pangeran kecil. Masing-masing menggambarkan perilaku orang dewasa yang nggak masuk akal. Buat apa seorang raja, kalau tidak ada yang bisa diaturnya? Orang yang sombong hanya membuat orang-orang bosan karena ia selalu butuh perhatian dan pujian. Dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, buku ini akhirnya dinyatakan menarik baik buat anak-anak maupun orang dewasa. Aku sendiri mengakui, karena begitu aku membaca ulang buku ini, aku benar-benar terpengaruh oleh pola pikir pengarang. Memikirkan betapa orang dewasa benar-benar picik dalam memandang suatu persoalan. Berbeda dengan anak-anak yang memiliki keluasan pikiran akibat imajinasi tak terbatas mereka.

Waktu aku baca buku ini, aku bahkan berpikir. Ini buku beneran bisa buat anak-anak? Karena pembahasannya cukup rumit dan penuh simbolisasi tentang perilaku orang dewasa pada umumnya. Tapi, mungkin aku sedang berpikir layaknya orang dewasa. Aku picik dan meremehkan anak-anak. Wah, aku nggak mau tumbuh jadi orang dewasa seperti itu!

Advertisements

One thought on “The Little Prince”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s