Bosan

Aku bukan Alice. Dan aku bukan di wonderland. Aku hanya seorang gadis biasa yang tenggelam dalam mimpi sendiri. Seberapa bodoh itu? Tapi, aku tak mau berhenti. Belum, setidaknya.

Kakiku mulai lelah, otakku mulai mengawang. Rasanya sudah beberapa hari berjalan. Itulah yang terjadi kalau kau berada dalam ketidakpastian. Semua hal tampak jauh dan lama. Terseok, aku bisa merasakan bahwa kakiku mulai protes.

Ada yang bilang, Tuhan itu tepat waktu, mungkin benar, karena kini aku melihat titik cahaya itu. Aku melupakan letih, kakiku juga terlupa, karena ia kini berlari sekuat tenaga. Ketidakpastian adalah sesuatu yang menakutkan, ketidakpastian dalam kegelapan adalah tragedi.

Titik itu tentu saja semakin besar. Itu aturan dalam sebuah kisah. Kalau tidak, maka suatu kisah tidak akan ada artinya. Dia membentuk sebuah pintu. Dalam kegelapan, ia serupa rembulan dengan cahaya lembut. Kakiku melangkah menuju terang, membuatku ingat semboyan emansipasi wanita dari Kartini. Habislah gelap, terbitlah terang.

Ah, ini rumahku.

Aku berdiri di depan pagar hitam yang tertutup. Belum pernah aku segembira ini menemukan aspal yang di beberapa tempat berlubang. Selokan yang membawa segala macam bungkus makanan ringan anak-anak, yang dibuang sembarangan. Sudah berbau busuk, aku menghirupnya dalam-dalam. Baunya tidak sedap, tapi ini bau kenyataan, bau realita yang kukenal.

Mungkin aku berjalan dalam tidur dan alam bawah sadar menunjukkanku jalan keluar dari rumah. Lucu sekali. Aku menghela napas lega. Setidaknya, benar juga, Tuhan memberikanku jalan untuk keluar dari kebosanan. Kalau bosan, tinggal keluar rumah, seharusnya aku tahu. Salah satu guna manusia untuk manusia yang lain.

Dua rumah berselang, ditutup oleh dinding panjang, lalu jalanan beraspal membelah jadi dua bagian. Yang ke kiri dan yang ke kanan. Aku melihat satu bangunan ganjil di sana. Seperti patung tak berbentuk. Ada satu tungkai, yang agaknya kurang jelas, kakikah itu? Tidak, ia menapak, seperti tangan. Seperti orang yang tengah berdiri terbalik.

Kenapa aku mendekat? Karena aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Tiba-tiba dia, apapun itu, berbalik. Aku terbelalak.

“Aaaa!!!” dia, apapun itu, ikut berteriak. Kami berdua, berteriak dalam unison.

Manusia? Bukan manusia? Aku sudah jatuh duduk di aspal, dengan takut-takut menilai apapun itu yang ada di hadapanku. Semua bagian tubuhnya adalah organ manusia, tapi tampak berada di tempat yang salah. Tidak benar, tidak mungkin benar.

“Apa yang terjadi dengan wajahmu?” aku mengangkat alis mendengar pertanyaan itu. Aku baru menyadari bahwa ia juga tengah menilaiku. Menatapku seksama. Sepasang mata bulat, yang benar-benar berbentuk lingkaran, kini menyipit. Serupa bulan sabit. Sinar mata itu bisa kukenali setidaknya. Ia juga sama takut, takjub, tangar* kepadaku.

Dan kata-kata lenyap dalam kekagetan itu. Seharusnya aku yang bertanya, kan? Kenapa kelopak matanya berbentuk lingkaran, bukan almond sepertiku? Kenapa mata itu berada di pipi dan hidungnya malah mendongak ke atas? Kenapa kepalanya setengah botak seperti itu, dengan rambut terkepang di sisi kanan tubuhnya?

Kenapa tangannya di bawah dan tidak bersepatu?! (bersambung)

 

Catatan penulis :

Sampai di sini dulu… Siapa atau apa yang tokoh temukan itu?

Terus baca, ya…

*tangar : aku dapet di web kalau tangar itu sinonim hati-hati atau waspada

aku bikin catatannya, siapa tahu ada yang kayak aku, baru pertama kali denger kata itu hehe…

Enjoy!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s