Sosialisasi dalam Sekolah Konvensional

socialization
gambar diambil dari : http://www.unschooler.org

 

Lagi-lagi terinspirasi dari diskusi tentang Homeschooling dan Sekolah Konvensional.

Jadi, beberapa waktu lalu, ada teman yang posting tulisan di Facebook, tentang Homeschooling. Pernyataannya secara garis besar bilang bahwa anak HS (HomeSchooling) itu maju dalam intelektualitas, tapi kurang dalam kemampuan sosial.

Jadi, ini ada satu fun fact. Dijalani oleh nggak lain dan nggak bukan oleh aku sendiri.

Aku sendiri adalah salah satu anggota sekolah konvensional. Dari umur 5 tahun, malah, aku udah masuk SD. Karena terpaksa waktu itu sih, bukan karena anak accel yang super pinter hehe. Nah, seperti biasa, aku menjalani pendidikan formal wajib, dari SD sampai SMP sampai SMA. Totalnya jadi 12 tahun. Selama itu, aku belajar bersama dengan anak-anak lain, bahkan bisa sampai 40 anak sekaligus.

Wajarnya, aku pasti bersosialisasi, membangun clique dan gang, punya banyak teman, karena pilihannya ada banyak dan tiap hari aku ketemu mereka, minimal selama setahun. Faktanya? Minim, kalau nol keterlaluan. Aku bukan orang yang supel dan gampang bersosialisasi. Mau ketemu setahun atau tiga tahun sekaligus, susah buatku membangun kedekatan sama orang lain. Waktu SD minimal aku punya clique sendiri, anggotanya tiga orang, yang bubar begitu SD selesai, aku nggak tahu kabar mereka sampai sekarang. SMP cuma temenan sama temen sebangku, yang menghilang juga pas pindah kelas, pas kelas dua sama sekali nggak punya temen, malah. Dan waktu SMA lumayan bisa ngobrol. Itupun dengan tekad personal kalau aku nggak mau mengulang kesalahan waktu SMP yang menyedihkan. Total teman selama 12 tahun: sekitar 9-10 orang aja. Yang masih kontakan sampai sekarang, lebih dikit lagi.

Hasilnya, aku tetap anak yang rigid dan timid, ngobrol juga seadanya, punya teman yang bener-bener deket paling 2-3 orang. Kalau dihitung-hitung nih, 40×12=480. Singkatnya, aku cuma bisa bersosialisasi secara utuh sebesar 2,08% (pake kalkulator ini, harap dicatat!) selama 12 tahun. Dengan kesempatan sebesar itu, setahun 40 orang! Setahun lamanya aku bisa bersosialisasi!

Mungkin aku cuma pengecualian yang jadi minoritas. Tapi, ini salah satu bukti kalau sekolah itu nggak menjamin terbangunnya kemampuan sosial yang baik. Bagi orang-orang yang berbeda, kayak aku waktu dulu, mereka nggak bisa menyesuaikan diri karena keburu dipandang aneh, bahkan bisa dianggap salah. Lah, ini menurunkan tingkat kepercayaan diri, yang jelas-jelas memundurkan perkembangan penyesuaian sosial.

Kenapa kok, bisa dipandang aneh?

Kesalahan terbesar dari sekolah konvensional adalah mereka mencoba menyeragamkan pola pikir dan pola perilaku. Anak yang baik adalah anak yang patuh dan kalem. Kalau anak-anak aktif, yang pasti lebih sulit diatur, dianggap nakal, dsb. Akibatnya, semua harus seragam, dari pakaian-sepatu, sampai perilaku yang diharapkan. Sekarang bisa dilihat akibatnya, orang-orang yang nggak bisa menerima perbedaan, yang takut akan perbedaan, dan malah sangat defensif, menolak keras adanya perbedaan. Diskusi bisa berubah jadi debat kusir hanya karena nggak suka sama orang yang punya pandangan berbeda. Dan begitu mudahnya diprovokasi, dengan mengatasnamakan perbedaan yang dianggap berbahaya.

Solusi untuk ini, jadikan sekolah itu ideal dengan perbedaan masing-masing anak. Menurutku, hampir mustahil, tapi seenggak-enggaknya seideal yang memungkinkanlah. Untuk itu, butuh tenaga-tenaga pengajar yang benar-benar dewasa (bukan cuma orang yang usianya nominalnya gede), terintegrasi dengan yayasan sekolah yang nggak mikir duit mulu, serta orang tua yang bisa dan mau bersinergi dan kerja sama dengan guru dalam membimbing karakter anak. Itupun kesulitannya adalah berkompromi antar semua kepentingan masing-masing. Politik banget, kan?

Sekolah konvensional itu bukan pengaruh buruk, tapi seperti satu alat atau media, situasi di sekolah itu butuh bimbingan orang tua. Jadi, yang salah bukan sekolah, tapi kalau orang tua lepas tangan membiarkan anak sekolah tanpa bimbingan. Tetap, tumpuan terbesar pendidikan anak usia dini, itu orang tuanya. Orang tua menganggap anak udah beres di sekolah, trus santai-santai aja di rumah, ya wassalam. Anak bisa jadi konformis atau istilahnya follower tanpa syarat. Ingat kan, kalau aturan di sekolah itu saklek dan bersifat memaksa? Gimana anak-anak dipaksa patuh dengan berbagai macam reward dan hukuman, bahkan labeling? Istilahnya, sekolah itu otoriter. Dan anak tanpa bimbingan, akan mengikuti aja mentah-mentah apa yang diajarkan sekolah.

Perlu diingat, perilaku konformis itu jauh lebih merusak daripada anak-anak yang “nggak tahu aturan” menurut orang-orang dewasa itu. Kalau dia mengikuti perilaku baik pun, dia nggak bakalan tahu kenapa dia harus begitu, dan nggak akan jadi prinsip yang bertahan di masa-masa selanjutnya. Dan sewaktu-waktu, anak ini akan ketemu dengan orang-orang yang nggak sejalan, dan apa jadinya kalau cuma bisa konformis? Dia akan ngikut aja, nggak peduli perilaku itu akan merusak atau menguntungkan.

Nah, sekarang coba perhatikan baik-baik, anak kita itu sosialis (wah serem bahasanya, ya, haha) atau konformis? Konformis itu bukan orang yang pinter bersosialisasi lho, dia cuma ikut arus tanpa mikir-mikir demi menyenangkan teman sebaya. Malah nggak sehat untuk hubungan sosialisasi sendiri, karena nggak terbangun interaksi timbal-balik, dimana ada pola saling menghargai, menghormati, dan menyayangi. Cuma ada hubungan boss sama anak buah.

Jadi, sekolah konvensional bukan tempat paling tepat untuk sosialisasi, tapi bukan nggak mungkin sosialisasi yang sehat di sekolah konvensional. Orang tua harus siap fasilitasi anak. Entah itu sebagai tempat diskusi, curhat, dan solving-problem. Asal orang tua jangan kebanyakan ikut campur juga! Kalau bingung dengan pola yang berlawanan ini, silakan didalami ilmu parentingnya!

Don’t think smart, think wise!

 

Advertisements

One thought on “Sosialisasi dalam Sekolah Konvensional”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s