Momentary Confusion

 

 

Lagak banget ya, pake Bahasa Inggris? Masalahnya, kalau diindonesiain rasanya kurang mendalam maknanya. Kebingungan sementara. Kalau konteksnya begitu kan, bisa diartiin kita bingung antara mau beli barang A atau barang B. Sementara, momentary confusion itu istilah kekiniannya adalah kegalauan mendalam yang sifatnya sementara. Ini definisi operasional lho, definisi yang dipilih oleh penulis sendiri, hehe.

Kalau mau dijabarkan lebih dalam, momentary confusion itu intinya saat-saat kita nggak yakin dengan hidup kita, dengan pilihan kita, dan nggak yakin kemana akhir dari perjalanan hidup yang kita jalani. Walaupun efeknya bisa besar, sebenarnya hal Ini biasa banget, kayak pebisnis yang lagi mengalami masa sulit dengan bisnisnya, dan merasa bahwa ia telah mengambil keputusan yang salah. Detik-detik mau menikah, dan calon pengantin tiba-tiba ragu sama pasangannya dan kehidupan pernikahannya nanti. Dan banyak lainnya.

Itu yang kusebut dengan momentary confusion.

Penyebabnya apa, sih? Beberapa orang bilang jenuh. Bisa jadi, karena dalam setiap kasus psikologi, kemungkinannya bisa banyak. Kita bicara tentang manusia yang kompleks banget, jadi penyebabnya pasti juga kompleks. Mungkin yang baca mikir, buat apa dicari penyebabnya? Kenapa nggak dicari solusinya? Nah, itu berhubungan. Kalau kita tahu penyebabnya, kita bisa milih solusi paling baik. Jadi, cari penyebab ya, bukan cari kambing hitam yang malah bikin kita stuck sama masa lalu. Cari kambing hitam itu yang nggak berguna.

  1. Kurang bertanggung jawab

Di budaya Timur Indonesia, sekarang sih, mulai membaik dengan menyebarnya ilmu parenting ya, tapi banyak anak-anak kurang diajarkan untuk tanggung jawab. Emang sih, orang tua sering nyuruh-nyuruh anaknya ini-itu, supaya mereka belajar, tapi yang kurang banget adalah dipercaya untuk memegang satu tanggung jawab. Misalnya, bersihin kamar. Orang tua harus berisik dulu, baru anaknya bersihin kamar. Artinya, tanggung jawab masih dipegang orang tua, dan anak nggak belajar untuk berinisiatif sendiri. Akibatnya, waktu mereka buat keputusan, mereka suka takut ngadepin tanggung jawabnya.

Buat orang tua, ini gampang-gampang susah. Kasih satu tanggung jawab dan lepasin mereka untuk menyelesaikan tanggung jawab dengan cara mereka sendiri. Dan kalau nggak dikerjain, dari awal, sebelum dikasih tanggung jawab itu, buat aturan yang jelas kalau nggak dikerjain. Lalu, tutup mulut dan jangan ikut campur lagi, selama tanggung jawab itu beres atau anak lebih milih nerima konsekuensi dan nggak ngerjain tanggung jawab. Nah, ini yang masih susaaaah banget buat orang tua. Iya, kan? Tapi, kalau anak udah belajar tanggung jawab, kita orang tua bisa leha-leha deh, nikmati hasilnya, suatu saat nanti (jangan lupa ngedidik anak nggak berbatas waktu).

  1. Nggak pikir panjang, apalagi mendetail

Pernah nggak sih, kita lihat banyak orang buru-buru memutuskan sesuatu? Contoh simpel, nikah dan punya anak. Kalau di luar negeri, kita bisa lihat banyak orang yang nunda nikah dan punya anak sampe tua. Jadi, begitu anaknya gede, mereka udah tua banget. Alasannya, karena mereka dalam mengambil keputusan sebesar itu, mereka mikir-mikir panjang banget dulu. Entah itu finansial, entah itu kesiapan mental, dkk. Lagi-lagi, karena mereka lebih paham tanggung jawab. Mereka itu bisa dibilang ‘terpaksa’ keluar waktu lulus SMA, jadi mereka udah belajar dari awal untuk mengurus dan bertanggung jawab atas diri mereka sendiri dari usia akhir masa remaja.

Nah, kalau di Indonesia, jangankan mikir-mikir. Malah, sekarang lagi ada yang mempropagandakan ‘ayo nikah’ which is, menggelikan buatku. Nikah itu ibadah, slogan itu oke, untuk menjelaskan kalau sebaiknya kita nikah atas nama Tuhan. Bukan berarti dikit-dikit pengen nikah, punya duit dikit pengen nikah (well, kayaknya aku juga harus sedikit introspeksi di sini hihi). Kan masalah itu bukan cuma finansial, bisa juga kesiapan mental-emosional-spirituil, yang kayaknya justru jauh lebih kurang dipersiapin sama kita. Apalagi, ditambah lagi, keyakinan kalau nggak boleh KB, trus tinggal di Jakarta pula, yang menderita ya, anak. Kenapa juga kalau mau begitu nggak pindah ke tempat yang lebih jarang penduduk, sih? Bahkan, lahan kuburan aja udah susah lho, di Jakarta. Nanti kalau mayat-mayat dibuang ke tempat nggak layak, juga nggak mau, karena kuburan dianggap keramat (seberapa keramat sih, jasad yang udah busuk? Paling kenangannya yang berharga, bukan kuburannya). Serba susah, kan?

Itu baru satu persoalan lho, yaitu nikah. Gimana dengan yang lain, dengan yang lebih besar, kayak perkembangan kota-kota mandiri, yang kebanyakan, walau nggak semuanya, yang nggak mikir soal tata kota. Lebih ribet dan lebih luas lagi dampaknya.

  1. Dukungan sosial yang berlebihan

Aneh nggak, sih? Padahal mah, dukungan sosial itu emang perlu ada. Masalahnya, kadang-kadang dukungan sosial itu suka lebay (baca : berlebihan) yang akibatnya, malah bukan lagi berupa upaya tolong-menolong, tapi malah saling ketergantungan. Kalau perkembangan psikososial mau matang, hal pertama yang harus dilepaskan oleh anak itu adalah ketergantungan pada orang tua. Nah, di Indonesia, kekerabatan itu sangat dekat, kadang-kadang membuat anak susah lepas dari orang tua.

Ini juga racun yang ditinggalkan warisan budaya. Orang tua harus bantu anaknya, bahkan saat anaknya udah gede. Kita itu perlu tahu, setiap manusia itu punya insting primitif (walaupun nggak diajarin) untuk bertahan hidup. Jadi, separah apapun situasinya, selama di tempat dia tinggal itu masih ada makanan, minuman, oksigen, mereka bakalan hidup. Jangankan orang dewasa, anak-anak juga bisa aja kok, bertahan hidup, kalau cuma soal fisik, ya. Yang perlu diajarin dan diarahkan orang dewasa itu adalah kehidupan bersosialisasi dan pembangunan karakternya.

Jadi, orang tua nggak perlu khawatir anaknya bakalan mati kalau nggak dibantuin. Anak susah? Ya, orang mesti menghadapi kesulitan untuk jadi dewasa. Kalau anak bilang nggak bisa dikit, jangan langsung turun tangan buat bantuin, ini bikin anak nggak mandiri dan selalu cemas kalo nggak ditemenin sama orang lain (bahaya kalo udah remaja, apa-apa mesti ada temen atau malah, pacar. Kalau pacar abusive, bisa aja dia cuek, yang penting punya orang di sampingnya. Ih, serem!) Buat para orang tua : nggaaak, nggak jahat kok, untuk mengajarkan anak berdiri di atas kakinya sendiri. Apalagi kalau emang niatnya ikhlas pengen ngedidik anak, yang penting tahu batasnya. Kalau udah bahaya, baru ditolong. Masa anak mau ditabrak bis, kita masih tenang-tenang aja? Ini analogi simpelnya.

Ketergantungan ini bikin anak susah bikin keputusan sendiri. Kalaupun akhirnya bikin keputusan sendiri, pasti banyak masa galaunya, dan ujung-ujungnya lari ke orang tua. Nanti tiba-tiba dapet kata-kata ‘I’ve told you…’ Sebenarnya bukan karena kata-kata orang tua itu benar mutlak, tapi anaknya yang nggak berani menjalani keputusannya, sehingga akhirnya balik lagi ke “saran” orang tuanya. Percaya deh, nggak ada yang salah dan benar yang mutlak di dunia, adanya gimana kita puter otak untuk nyari solusi waktu menjalani keputusan sendiri. Susah? Welcome to the reality!

Jadi, kenapa disebut momentary atau sementara? Karena yang namanya masalah itu nggak ada yang tanpa solusi. Pasti ada, tinggal kita berani jalanin apa nggak, karena solusinya bisa menakutkan bagi orang-orang yang susah ambil keputusan sendiri. Maka, kebingungan atau kegalauan macam apapun, pasti sifatnya sementara, dan bakalan hilang. Kalaupun ini datang, nggak usah langsung buru-buru pengen kabur. Lampiasin emosi dengan cara yang enak (misalkan ngelakuin hobi), kalau pikiran udah jernih, baru puter otak lagi nyari solusi. Kalau kata Metallica, and nothing else matters…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s