Anak Bilingual dan Efek-efeknya

 

Bilingual_Kids_800x600
Gambar diambil dari : http://www.juanofwords.com

Tahu kan, anak-anak yang bisa bicara bahasa asing dan bahasa ibunya sekaligus? Kalau yang paling umumnya, anak-anak yang bisa Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (karena kita di Indonesia, ya, dan Bahasa Inggris itu kebetulan bahasa internasional). Ada ibu-ibu yang berpendapat, termasuk aku, sih, kalau anak itu bisa dididik untuk belajar dua bahasa sekaligus sejak dini.

Dari awal, aku agak kebingungan soal ini, karena persoalan ini bisa dibilang kontroversial banget di antara banyak ahli. Ahli aja gitu, apalagi pendapat-pendapat umum. Soalnya, kalau diperkenalkan langsung dua-duanya, itu bisa menimbulkan kebingungan pada anak dan memperlambat perkembangan bahasa. Ada juga yang berpendapat kalau anak bilingual juga bisa terhambat perkembangan sosialnya. Dua efek ini aku masih ngerasa wajar.

Tapi, satu saat aku dikagetkan dengan pendapat kalau anak bilingual juga perkembangan emosinya terhambat. Lah, kok gitu? Kenapa aku kaget, karena bahasa itu sifatnya teknikal, sesuatu yang dipelajari. Pas aku baca-baca artikel juga, perkembangan bahasa itu letaknya di otak hemisfer kiri, yang mengatur kerja-kerja intelektual, dan berseberangan dengan otak yang mengatur emosi, yaitu di hemisfer kanan.

Karena kedua otak ini bekerja timbal-balik, aku paham kalau perkembangan emosi terhambat karena ada hambatan di perkembangan bahasa dan sosial. Tapi, kalau ini masalahnya, berarti kalau ditelusuri pake hukum sebab-akibat, penyebabnya adalah perkembangan bahasa dan sosial, sedangkan akibatnya perkembangan emosi. Gitu, kan, simpelnya? Berarti, yang ditekankan tetap penanganan dalam perkembangan bahasa dan sosial, karena perkembangan emosi nantinya bakalan ikut-ikutan juga. Analoginya, kalau emanglah kita kesel gara-gara lagi laper, ya lapernya aja yang diurusin dengan cara makan, nanti juga emosinya bener lagi. Kalau emosinya kita urus, malah jadi lingkaran setan, karena penyebab dasarnya masih mengganggu kita.

Selidik punya selidik, akhirnya ketahuan (walaupun sedikit dan kurang banyak) kalau si ortu anak itu support anaknya kuliah di luar ok, les apapun ok. Kuliah, les, itu kan hal-hal yang lebih banyak kaitannya dengan perkembangan intelektual. Di sini aku mulai nyambung. Berarti ortunya emang lebih fokus ke perkembangan kognisi anaknya.

Masalahnya, pendidikan itu sebenarnya bertumpu sama 3 faktor, kognisi, afeksi, dan konasi. Kognisi itu perkembangan intelektual, kayak pengetahuan-pengetahuan teknis. Kalau afeksi itu menekankan pada sisi emosi, perasaan, dimana anak belajar untuk peduli dan berempati sama orang lain. Terakhir, konasi, yaitu motivasi atau penggerak perilaku anak. Nah, biasanya sih, teori ini digunakan sama sekolah. Tapi, kita sekarang mulai belajar kalau pendidikan itu kebanyakan ya, di ortu. Bahkan, kalau pendidikan di rumah emang kuat, pendidikan sekolah bisa nggak nyentuh anak. Kasarnya sih, gitu.

Artinya, ortu juga perlu terlibat dalam setiap pendidikan anak, nggak bisa nyerahin ke guru aja. Apalagi, kalau di sekolahan itu kan, KBM sifatnya kolektif, 1 guru ngajar 20 anak, malah ada yang sampe 30-40 anak. Kalau di sekolah swasta yang katanya bagus, biasanya ada guru pendamping. Kalau sekolah negeri, setahuku jarang. Aku nggak tahu kalau ada sekolah negeri yang mulai nerapin.

Aku juga menyebutkan dua efek lain dari bilingual. Yaitu, perkembangan bicara dan penyesuaian sosial.

Pertama, perkembangan bicara. Bener nggak, terhambat? Ada yang bilang kalau anak bilingual itu terhambat perkembangan bicaranya. Dia kebingungan menentukan bahasa apa yang harus digunakan dan kadang-kadang suka salah artikulasi. Karena pengucapan alfabet Inggris dan Indonesia beda.

Ternyata, penelitian soal ini nggak banyak terbukti. Anakku sendiri perkembangannya dalam membentuk kalimat emang telat, tapi artikulasinya normal. Dan setelah diselidikin sih, dia emang karakter yang nggak terlalu suka ngobrol. Apalagi, dia anak benefit, motivasi dia itu dateng dari manfaat apa yang bisa dia dapet, jadilah kalau dia belum butuh ngomong, dia nggak ngomong (buat catatan aja nih, ada satu lagi anak yang motivasinya berasal dari ngindarin resiko, mungkin satu waktu aku bahas). Waktu umur 4-5 tahun, perkembangan bicaranya langsung pesat. Bahasa Inggrisnya, yang tadinya ngelantur-ngelantur nggak jelas tiba-tiba jadi jelas banget. Kenapa? Karena dia punya dua sepupu dekat yang bilingual dan dia jadi punya kebutuhan untuk ngobrol sama mereka.

Kasus di anakku, emang suka ada salah artikulasi, seperti A dalam Bahasa Inggris, kebalik-balik sama ‘E’ dalam Bahasa Indonesia, tapi cuma sebentar. Ya, wajar salah, masih belajar.

Kedua, penyesuaian sosial. Seperti yang disebutin di atas, wajar kalau rada susah buat anak bergaul dengan anak-anak lain yang monolingual. Apalagi, ada budaya yang nganggep orang yang bilingual itu sombong. Lah ya, sombong, kalau lagi di tengah-tengah pergaulan biasa, ada orang cas-cis-cus pake bahasa asing yang nggak dimengerti sama temen-temennya, apa gunanya, coba? Bahasa itu kan, fungsinya buat interaksi sosial.

Di artikel kompas.com, menurut peneliti utama studi bilingual, Julia Morales Castillo, dari Departemen Psikologi Eksperimental di Universitas Granada, “studi-studi lain telah menunjukkan bahwa anak-anak bilingual lebih baik dalam perencanaan dan kontrol kognitif (yaitu tugas mengabaikan informasi yang tidak relevan atau membutuhkan respon yang dominan). Artinya, dia bakalan lebih baik dalam memilah-milah gimana cara bicara ke orang-orang yang beda-beda. Dan emang, anakku nggak punya masalah soal itu. Dia tahu dengan siapa harus ngomong bahasa asing dan dengan siapa dia harus ngomong bahasa ibu, jadi waktu dia main sama temennya, nggak ada masalah soal ini.

Ya, perkembangan sosial Tombo emang terhambat karena dia ngikutin sifat emaknya, yang kurang suka bersosialisasi, sih. (Nangis sambil ketawa)

Ketiga, perkembangan emosi. Udah sedikit dijelasin di atas tentang kenapa sisi afeksi anak bisa terhambat. Ternyata, bukan bilingualnya, tapi pola asuh orang tuanya yang fokus banget sama kognisi. Aku kurang setuju sama istilah ini, jadi mari kita pake kata perkembangan afeksi, karena setelah dapet deskripsi dari pendapat tentang perkembangan emosi anak bilingual, ternyata bukan soal energi dari emosi yang dihasilkan, tapi afeksi terhadap orang lain.

Pendapat ini didasarkan pada kearifan lokal Indonesia, artinya budaya. Aku setuju kalau bahasa itu adalah budaya. Jadi, saat kita ngajarin Bahasa Inggris, budaya orang Barat pasti kebawa. Misalnya, Tombo itu sekarang suka beraku-kamu sama neneknya, which is, itu dianggap nggak sopan banget sama orang tua-orang tua zaman dulu. Tapi, ini bisa disiasati, lagi-lagi balik ke pola asuh orang tuanya. Bukannya mustahil kok, kita ajarkan kearifan lokal lewat bahasa asing. Kita cuma perlu tanamkan dan yang paling penting, teladani itu ke anak. Alias kita juga praktekkan kearifan lokal itu, biar dia belajar sosial, alias niru kita. Jangan pernah berharap anak bakalan ngelakuin kalau kita cuma ngomong, tapi kita nggak pernah nunjukin itu ke mereka.

Misalkan, efek “nggak sopan” ke kakek-nenek itu, tinggal suruh aja dia berbahasa Indonesia, karena kalau Bahasa Inggris, emang rata ya, ngomong ke orang kedua, ya pake you atau kamu. Dengan begini, fungsi utama linguistik untuk berinteraksi secara sosial, tetap terjaga dan bukan buat gaya-gaya.

Trus, kenapa bilingual, dong?

Ya, siapa yang mengharuskan? Kalau emang nggak mau, ya nggak apa-apa, karena tujuan orang tua beda-beda. Ada yang karena emang orang tuanya dua kebangsaan atau tinggal di luar negeri. Ada juga yang emang pengen anaknya lebih siap dengan era dimana semua-muanya pake Bahasa Inggris. Yang penting, tetap ingat kalau pendidikan anak harus terintegrasi, kognisi-afeksi-konasi. Trus, jangan lupakan tiga jenis kecerdasan; intelektual, emosi, dan spiritual.

Dan satu lagi yang terpenting, jangan pake metode maksa-maksa. Misal, maksa les (kecuali kalau anaknya seneng) demi anak bisa bilingual. Cukup paparkan aja pelan-pelan tiap hari dan selebihnya, ikhlas aja kalau anak ngerasa nggak butuh bilingual. Anak kecil pun bisa stres, lho…

 

Sumber :

http://female.kompas.com/read/2013/11/25/1738403/Kemampuan.Mengingat.Anak.Bilingual.Lebih.Baik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s