Pokemon Go (ver.2)

pokemon go

 

Pokemon Go dan Perilaku Adiktif

 

Beginilah jadinya kalau kurang konsisten ngelakuin sesuatu. Tadinya pembahasan ini mau langsung diluncurkan persis habis artikel Pokemon Go (ver.1), eh malah jadinya sekarang. Tapi, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Walaupun cepat dan tepat itu slogan yang paling tepat untuk zaman sekarang ini.

Pokemon Go dalam waktu singkat (walaupun bangun game-nya sih, bertahun-tahun, tuh) ternyata bisa mencuri hati orang-orang. Nggak tanggung-tanggung, berkat teknologi informasi yang berkembang pesat juga, ini viral dari Indonesia sampai Amerika Serikat sana. Terbukti dari berbagai berita tentang Pokemon Go di Amerika. Kadang-kadang beritanya parah, tentang kecelakaan gara-gara ngejar monster Pokemon ^^;

Aneh, ya, orang bisa meninggal gara-gara main games? Tapi, ini bukan berita baru. Waktu dulu game-game RPG masih terbilang baru, banyak orang-orang yang terjebak jadi pecandu games. Beberapa dari mereka sampai tinggal berhari-hari di warnet. Hasilnya, ada yang meninggal karena kelelahan. Ya, iya, berapa banyak radiasi yang diterima tubuh mereka? Bagaimana pola makan dan pola tidur yang keganggu? Resep bagus buat orang yang mau bunuh diri pelan-pelan.

Kenapa sih, orang bisa kecanduan games?

Intinya, semua perilaku itu didasari 3 alasan, biologis, psikologis, dan sosial. Secara biologis, games itu bisa meningkatkan hormon endorfin karena tantangan menyenangkan yang disajikan sama si pembuat games. Trus, secara psikologis, kalau kita lagi stres, ya pasti kita ngelakuin hal-hal yang bisa meningkatkan si endorfin yang efektif bikin tenang itu. Ketiga, standarlah, karena kita mau tahu hal-hal yang kekinian, atau mau diterima secara sosial. Ngikutin yang kekinian kan, bisa bikin kita punya bahan buat ngobrol sama orang lain.

Namun, kenapa satu perilaku berlanjut, punya proses yang lebih kompleks. Normalnya, kalau tujuan kita tercapai, kita bakal menghentikan satu perilaku. Bukan secara total, tapi minimal kita nggak perlu meningkatkan intensitasnya. Jadi, kalau main Pokemon Go bisa ngilangin stres, waktu stres kita berkurang, ya kita balik ke aktivitas asal dan naro HP dulu sampai kita pengen main buat ngilangin stres lagi. Atau, cukup kalau Pokemon Go yang kita mainin bisa nambah bahan obrolan sama temen sekantor, ya kita bakalan main ala kadarnya. Nggak perlu sampai menambah-nambah intensitasnya.

Kalau yang terjadi kita malah lanjut dan terobsesi sampai nggak bisa lepas dari HP, itu artinya perilaku main gamesnya udah bahaya. Karena banyak yang jadi terabaikan, bahkan nyawa sendiri. Kan?

Games sebenernya salah satu cara orang untuk melakukan penyesuaian diri terhadap stres. Kenapa sih, ada stres? Stres itu datangnya dari kebutuhan kita untuk mempertahankan diri. Kenapa orang takut kehilangan kerja? Sejatinya, karena dia takut nggak punya uang buat makan dan mati kelaparan. Kenapa orang kesel kalau dinasehatin? Karena dia ngerasa nasehat sebagai serangan dan upaya untuk mematikan dia (dalam hal karakter nih, ya), akhirnya timbul insting untuk mempertahankan diri dan melawan serangan berupa “nasehat” itu. Sama dengan games, games itu adalah cara kita menyesuaikan diri terhadap stres, supaya kita tetap bisa “survive.” Baik fisiologis maupun psikologis.

Jadi, stres itu sehat. Aneh, ya? Stres itu sehat karena stres adalah salah satu alarm dari pikiran kita supaya kita tetap bisa hidup dan berkembang. Makanya, pola pikir yang menganggap stres itu jelek justru harus diubah. Seperti halnya emosi, stres itu harus ada supaya manusia bisa mendeteksi bahaya-bahaya di sekitarnya. Yang membedakan apakah stres bisa berdampak baik atau buruk adalah cara menghadapinya. Games mungkin efektif buat menyesuaikan diri terhadap stres, kalau games diperlakukan sebagai rekreasi. Rekreasi itu kan sifatnya sementara, jadi kalau udah selesai, kita balik ke kenyataan.

Nah, ini dia yang kadang-kadang kita tolak. Kenyataan itu berat. Norak dan klise banget sih, tapi ya, begitulah. Kenyataan itu adalah tempat dimana kita harus bertanggung jawab atas semua apa yang kita lakukan dan apa yang kita jalani. Artinya, games, yang menyediakan fantasi dan gambar-gambar menarik yang beda banget sama kenyataan, membuat kita lega, merasa bebas dari kenyataan. Efeknya, kembali ke kenyataan itu jadi susah. Ini yang membuat kita kecanduan. Nggak perlu sama games deh, apa aja juga bisa. Ada yang candu rokok, narkoba, bahkan hal-hal yang kita anggap sepele, seperti makan. Dan sekalipun makan adalah kebutuhan, kalau dia jadi candu, dia jadi sama buruknya dengan narkoba. Banyak kan, orang meninggal gara-gara obesitas? Ini salah satu contoh aja, ya.

Games juga sama aja. Menyenangkan di awal. Begitu jadi candu, dia bisa menghancurkan kehidupan kita. Nggak usah ngomong yang serem-serem kayak kecelakaan karena ceroboh, tapi kalau bisa ngebuat kita mengabaikan orang-orang di sekitar kita, jadinya gimana? Mau putus sama pacar gara-gara Pokemon? Kalau masih asik main Pokemon sih, emang nggak berasa, ya. Begitu udah bosen, kekiniannya ilang, baru deh, galau sendiri hehe. Bisa juga tugas-tugas, di sekolah, di kantor, di rumah, jadi terbengkalai, dan makin numpuk dan makin numpuk, makin stres, makin pengen main games biar nggak usah ngeliatin tugas, tugasnya jadi bejibun, makin stres, makin pengen main games, jadilah lingkaran setan yang nggak putus-putus. Akhirnya, bukannya stresnya ilang, malah nambah stres baru karena udah susah lepas dari games itu.

Proses ini berlaku sama dengan apapun, baik itu ngemil, rokok, narkoba, dkk. Mereka itu awalnya bukan candu, sampai kita yang menjadikan mereka candu. Menjadikan mereka kebutuhan yang susah digantikan dan ngerusak diri sendiri. Narkoba juga nggak pernah langsung jadi candu. Dia jadi candu dan bikin sakaw, kalau kita terus-terusan make itu. Jadi, kalau kita mau coba-coba, minimal kita udah tahu gimana cara membatasi intensitasnya dan menghadapi resiko apapun yang bisa timbul dari percobaan itu.

Yuk, main games buat rekreasi aja!

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s