Full-day School : Pro dan Kontra

 

13873057_795271397264763_7867024832459263691_n

 

Kemarin, tanggal 9 Agustus 2016, tiba-tiba beredar meme tentang menteri baru yang menganjurkan full-day school. Aku tahunya gara-gara meme, ambil hikmah aja deh, berarti meme itu fungsional banget, ya, hehe. Menteri pendidikan baru, Muhadjir Effendy, menggantikan Anies Baswedan yang di-reshuffle beberapa saat lalu. Aku nggak ngerti kenapa dan aku juga nggak ngerti itu pertanda bagus atau nggak, soalnya akhir-akhir ini aku kurang merhatiin politik dan sebangsanya. Dan emang yang pengen aku bahas bukan masalah politik, tapi masalah usulan ini.

Aku kaget.

Emang sih, baru usulan, belum tentu bakalan diterapin. Dan aku kaget, sekali lagi. Full-day school? Kurang-lebih artinya sekolah seharian penuh, tapi emang nggak full banget, yaitu dari jam 7 sampai jam 5. Itu 10 jam, lho! Kurang-lebih Muhadjir Effendy bilang kalau murid-murid Indonesia kurang siap berjuang di tengah kemajuan zaman, makanya harus memperbanyak jumlah jam di sekolah.

Daripada marah-marah nggak jelas, mungkin kita bisa nimbang-nimbang positif dan negatifnya. Bener nggak sih, omongan Muhadjir Effendy ini? Kalo kita bandingin dengan sistem pendidikan Finlandia yang anak sekolahnya cuma belajar 5 jam sehari, tapi pendidikannya maju juga, kayaknya pendapat ini kurang cocok, ya. Well, tapi itu di Finlandia, budaya Indonesia kan, beda lagi.

Ini beberapa alasan yang dikasih menteri pendidikan baru soal full-day school :

1.Membangun kegiatan positif, menghindari hal-hal negatif

Pro : sekolah itu kan, katanya kegiatannya positif semua, ya. Artinya, kalau anak di sekolah seharian, pasti mereka selalu dihadapin dengan kegiatan-kegiatan positif dari pihak sekolah. Jadi, mereka nggak kelayapan aja main di luar. Ini bisa membuat anak-anak terhindar dari hal-hal negatif, seperti narkoba, tawuran, dkk.

Kontra : Ya, kalau bisa diatur segampang itu, pasti enak banget. Faktanya, narkoba bisa beredar lho, di sekolahan. Dan, entah ada penelitian lebih lanjut atau penanganan dari pemerintah soal ini, bullying itu justru kebanyakan terjadi di sekolah. Jadi, sekolah itu nggak melulu isinya yang baik-baik dan indah-indah aja, banyak juga yang negatif. Bahkan, kalau mau ditelusuri, kan awal anak-anak merokok justru di sekolah, karena mereka terbiasa dihadapi oleh peer pressure. Kalau sekarang full-day school diterapin, peer pressure itu akan makin tinggi. Karena ini cara mereka untuk survive di dalam sekolah, apalagi kalau sekolah jadi rumah kedua mereka, maka lama-lama, yang terpenting buat mereka adalah kelompok teman sebaya, daripada keluarga dan lainnya. Inget lho, interaksi tertinggi di sekolah kan terjadi di tengah teman sebaya, daripada guru dan murid.

2. Lebih banyak belajar, lebih banyak pengetahuan

Pro : lebih banyak jam pelajaran artinya mereka lebih banyak belajar. Kalau lebih banyak belajar, pasti pengetahuan yang mereka dapat makin mendalam.

Kontra : faktanya, semakin banyak buku yang mereka hapal, semakin sedikit mereka paham apa yang ada dalam buku. Terutama, kalau untuk anak-anak di bawah 12 tahun, discovery learning, yaitu belajar lewat pengalaman sendiri, terbukti lebih efektif buat memperdalam ilmu itu sendiri. Kenapa? Karena mereka melihat langsung dan membuktikan langsung apa yang ada di buku. Kalau metode belajar di sekolah Indonesia kan masih lebih banyak menghapal, artinya mereka tahu, tapi nggak paham. Percuma, paling-paling kalau udah nggak masuk dalam tes, mereka lupa lagi apa aja yang mereka udah hapal. Jadi, makin banyak yang dimasukin, makin banyak yang lupa. Kalau untuk mendorong nilai tes bagus, cara ngapal emang baik, sih. Tapi, baik nggak buat masa depan anak-anak?

3. Kegiatan ekstrakurikuler yang menyenangkan

Pro : full-day school itu nggak belajar seharian, tapi setengahnya diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler, menjadikan sekolah kegiatan yang menyenangkan

Kontra : kalau emang ini alasannya, harusnya nggak begitu aja ya, menyatakan apa yang menyenangkan dan nggak menyenangkan buat murid. Menurutku, pemerintah mungkin lebih baik mulai sadar, yang ngadepin sekolah itu bukan mereka, tapi murid-murid. Kalau mau tahu apa yang menyenangkan buat mereka, adain konsensus langsung, jadi nggak main kepedean aja kalau ekstrakurikuler pasti menyenangkan.

4. Membangun pribadi lebih baik lewat ekstrakurikuler

Pro : lewat ekstrakurikuler, anak dididik untuk bersosialisasi lebih banyak dan dengan begitu juga membantu mereka bangun kepribadian lebih baik karena mulai dari situ mereka berorganisasi.

Kontra : bener, tapi sayangnya, terutama untuk anak-anak lebih kecil, pribadi dibangun mula-mula dari keluarga, terutama hubungan dengan orang tua. Ini yang kurang diperhatikan oleh pemerintah, mereka lupa karakter anak itu bukan dibangun di sekolah, maaf ya, to be honest, sekolah itu cuma media belajar, pembangunan karakter yang bisa dilakuin di sekolah itu pun sifatnya cuma lanjutan. Kalau pembangunan karakter itu nggak dimulai dari orang tua, biasanya sekolah mau jungkir-balik kayak apa juga, nggak bakalan sukses membangun karakter murid. Malah, yang terjadi labelling parah dari guru-guru dan pihak sekolah yang bingung ngatur anak-anak yang nggak “seragam” menurut mereka. Anak yang susah paham dibilang bodoh, anak nggak mau ikut kata-kata guru dibilang nakal. Ya, ini malah makin jauh dari pembangunan karakter, ya, entah lewat ekskul atau ruang kelas.

 

Ini sebagian pendapatku soal pro-kontra full-day school. Aku yakin sih, Muhadjir Effendy cuma pengen yang terbaik, tapi seharusnya nggak main asal tabrak bikin statement kayak gitu atau memberikan usulan begitu. Apa nggak seharusnya diadain penelitian dulu tentang itu? Gimana dengan pendapat murid-murid yang secara langsung ngadepin situasi KBM? Bukan ortu lho, bukan pemerintah, bahkan bukan guru, tapi murid-murid. Kalau mau tahu yang terbaik untuk mereka, periksa langsung ke mereka.

Pe-er pemerintah soal sistem pendidikan sebenernya masih banyak banget. Coba deh, terapin dulu kurikulum yang konsisten, nggak tiap ganti menteri, ganti kurikulum, bahkan guru-guru yang ngajar aja ngaku bingung. Anak-anak yang diajarin ya, jadi jauh lebih bingung, kan? Trus peningkatan SDM guru juga harus jadi perhatian. Coba kasih sarana pendidikan yang memadai buat guru, lebih selektif milih guru-guru, dan tingkatin juga kesejahteraan guru supaya profesi guru nggak dianggap main-main aja. Mereka juga punya peranan untuk membangun pola pikir anak, doktrin pendidikan kebanyakan ada di mereka. Pertanyaan tambahan : dana BOS udah disiapin untuk ekstrakurikuler segudang? 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s