Ahok vs Risma : Kajian Ngasal

risma
Sumber foto : bisnis.com

 

Kebebasan itu mahal, Bung!

Sekarang lagi rame nih, soal Ahok vs Risma. Biasalah, kalau udah deket-deket Pemilu, walaupun masih di area Pilgub. Cuma karena ini Pilgub DKI, dan DKI itu bisa dibilang pusatnya Indonesia, jadi serame ini, deh.

Ahok itu kan, emang terkenal kurang punya filter, ya (ini bikin seru kancah politik yang kebanyakan main cantik, sih, haha). Eh, ternyata itu dimanfaatin buat manas-manasin Risma, yang padahal dipisahin jarak udah sampe ribuan kilometer itu. Biasa deh, framing dari wartawan dan media yang bikin perseteruan makin panas. Kalau dikaji dari awal sampe akhir, mungkin Risma nggak perlu semarah itu, karena nyatanya Ahok juga muji-muji kerja Risma, kok.

Alhasil, Risma baper dan bikin konferensi pers buat nunjukin kalau dia marah sama Ahok. Sampai-sampai Ahok dimarahin sama ibunya (sumber dari tempo.co), ini cerita Ahok sendiri. Keren emang tuh, orang, lucu banget!

Dari awal sih, udah keliatan upaya-upaya buat manas-manasin Risma sama Ahok. Diperparah sama media yang sekarang udah banyak ditunggangi kepentingan-kepentingan politik. Bisa dilihat dari berita-berita yang udah beredar, aku nggak bisa ngasi satu contoh (lupa maning sama berita yang pernah dibaca, kacau!)

Aku di sini emang nggak mau bahas mereka dengan detail. Lebih tentang kondisi perpolitikan Indonesia sekarang. Titik balik dari politik Indonesia itu dimulainya dari Jokowi vs Prabowo. Sebenernya, lebih tepatnya dimulai waktu Jokowi mulai menjabat jadi Gubernur Jakarta. Hasil blusukan yang diprakarsai Jokowi ternyata bener-bener bawa pengaruh nyata. Rakyat mulai melek politik. Jeleknya, kebebasan itu mahal, Bung!

Mahalnya kenapa? Perseteruan antara Jokowi dan Prabowo disebut-sebut sebagai contoh demokrasi paling nyata di Indonesia, dimana orang-orang, diwadahi oleh media-media sosial macam FB dan Twitter, mulai buka suara dan urun pendapat. Sayangnya, nggak dibarengi sama mental yang bagus. Yah, emang biasa dijajah, begitu bebas, jadi kayak anak ayam kehilangan induk, tabrak sana-sini aja.

Pasti banyak yang kejadian, gimana hubungan saudara, teman, dilibas cuma dengan perbedaan pendapat dan debat kusir soal pro-kontra tentang Jokowi (kebanyakan yang aku lihat sih, pilpres 2014 cuma soal pro-kontra Jokowi, Prabowo cuma nama selingan yang kebetulan ada di daftar calon). Inilah harga sebuah kebebasan. Jangan kira kalau bebas itu pasti enak. Emang enak, kalo tahu cara menyikapinya. Kalo nggak tahu, ya balik lagi, pengen Soeharto berkuasa. Piye enak jamanku tho? Yah, ini slogan dari orang-orang yang kebingungan akibat dikasih secicip kebebasan, nggak siap untuk menghadapinya. Mending orang-orang lenyap, dipenjara tanpa pengadilan, yang penting kenyamanan hidup nggak terganggu, kan? Orang-orang banyak dibunuh tanpa ada hukuman nggak perlu pusing, karena hidup toh, tetep nyaman, kan?

Namun, perubahan ini justru memberi ide baru dari pelaku politik. Mereka emang nggak ada matinya! Akhirnya, panggung dagelan politik pun dipersiapkan. Lewat media, lewat parpol, bahkan lewat pemuka-pemuka agama. Karena sekarang zamannya kebebasan, rakyat Indonesia nggak bisa lagi dikontrol dengan kekuasaan absolut dan opresi militer. Sekarang, saatnya menjajah rakyat atas nama moral, HAM, dan yang parah, agama. Tinggal tebar media-media, yellow jurnalism atau media nyeleneh pun nggak masalah, wong bakalan dilahap juga sama rakyat yang lagi kebingungan. Apalagi kalau bawa-bawa nama Tuhan dan surga-neraka, oh, langsung ditelen tanpa dikunyah dulu. Guys, tenang, kita masih dijajah kok, belum sebebas itu. Nggak usah paniklah.

 

Dengan panggung ini sebenernya kita dijajah. Coba perhatikan baik-baik, kalau ada tokoh politik yang maju tanpa manut sama parpol, langsung deh, heboh kemana-mana. Dulu Jokowi, yang walaupun diusung parpol, masih nunjukin keengganannya untuk ngikutin suara parpol (sempet slek sama Megawati awal-awal pemerintahan dia). Sekarang Ahok, yang jelas-jelas bikin gerah parpol. Bahkan, setelah katanya dia mau diusung sama PDI-P, masih aja tuh, dia gerak sendiri. Megawati sampe gerah. Sabar ya, Bu… ūüėÄ

Akhirnya, sama juga dengan kejadian Jokowi vs Prabowo, kita dihadapkan dengan Ahok vs Risma. Soalnya, parpol pada ketar-ketir nyari penantang Ahok yang potensial di arena Pilgub DKI. Dan provinsi apa sih, yang biasa menyaingi DKI Jakarta, kalau bukan Surabaya? Dari segi industri, penantang paling baik itu Surabaya. Apalagi, pas tuh, gubernurnya tenar pula. Apa mungkin disiapin jauh-jauh hari? (Nah, mulai kan, bikin isu baru)

Mulailah diadu domba oleh media. Yah, namanya juga media, mereka kan nyari duit juga, the bad news is the good news, as my husband always says. Tinggal edit dikit, bisalah Ahok yang kebiasaan kurang punya filter itu dijelek-jelekin. Biar Risma marah, ceritanya. Ini ya, katanya cewek susah jadi pemimpin, wong digituin dikit aja emosi. Nggak pengen menjunjung tinggi emansipasi wanita juga dalam emosi, Risma?

Ujung-ujungnya kondisi ini jadi kondusif lagi buat manas-manasin rakyat yang udah melek politik, tapi masih rabun soal perbedaan dan kebebasan berpendapat. Apalagi Ahok non-muslim, lengkap sudah pamerannya buat panggung politik baru dengan tema masih seputar 2014. Intinya, buat manas-manasin rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim. Sekarang, perangkat organisasi agama udah dibawa ke kancah politik. Udah dari dulu sih, tapi sekarang perannya jadi makin kuat, kalo belum bisa dibilang nguasain Indonesia.

Dengan kata lain, Indonesia ini lagi dilanda gangguan kecemasan karena kebebasan. Mereka harus punya tanggung jawab atas diri sendiri, atas pilihan sendiri, punya suara sendiri yang harus mereka pertimbangin untuk menentukan arah politik, stressor jadi makin banyak. Di tengah kecemasan ini rakyat jadi rentan, butuh pegangan buat menjaga diri biar nggak jatuh. Mulailah berbagai media berebut, dengan kepentingan uang atau untuk kepentingan kursi, untuk menenangkan orang-orang ini. Soalnya, daripada kenyataan pahit, kayaknya orang-orang lebih masih lebih milih sweet illusion. Karena itu sinetron nggak akan ada matinya. Satu-satunya sarana biar orang bisa tetap terjaga dalam ilusi manis itu. Drama yang wajib hepi ending itu manis banget rasanya di tengah pahitnya kehidupan. Kita seakan-akan diyakinkan oleh seseorang, nggak masalah bersakit-sakit dulu, nanti pasti hepi ending kayak sinetron, kok. Manis, kan?

Tapi, ini kemajuan.

Ya, sejelek-jeleknya, ini kemajuan. Sekarang Indonesia lagi diajarin buat jadi orang bebas, artinya, harus bertanggung jawab untuk diri sendiri. Nggak bisa lagi sembarangan nyalah-nyalahin pemimpin tanpa mau bekerja sama dalam pemerintahan. Biar sekarang media masih menyetir pola pikir banyak orang Indonesia, ini jadi pembelajaran biar mereka makin awas sama media. Orang cemas itu rentan, tapi kalau orang rentan dibohongi berkali-kali, mereka juga bisa jadi waspada. Dan dengan trial and error itu, manusia selalu belajar.

Mudah-mudahan sih, nggak keburu jatuh, baru belajar, ya!

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s