Dirgahayu, Republik Indonesia!

 

 

Lagi lihat-lihat FB, aku nemuin satu tulisan menarik tentang dirgahayu RI. Selama ini banyak yang menyebut dirgahayu seakan-akan sama dengan “selamat ulang tahun,” jadi suka bilang Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-71! Ternyata itu salah! (Ya, ampun setelah 71 tahun baru tahu sekarang!) Jadi, dirgahayu itu asalnya dari Bahasa Sansekerta yang artinya “panjang umur” atau “berumur panjang.” Setelah aku ulik, ternyata emang ada konfirmasi dari badanbahasa.kemdikbud.go.id kalau emang artinya begitu. Noted, govt!

Selama ini, kasus begini suka banget kejadian. Beberapa saat lalu, heboh tentang “minal aidin wal faizin” yang ternyata artinya bukan “mohon maaf lahir dan bathin” (maaf kalo bawa-bawa agama, soalnya ini contoh yang aku inget jelas hehe). Ada banyak lagi contoh lainnya, aku sendiri nggak inget satu per satu.

Salah satu teman menyebut ini sebagai kasus verbalisme, kurang-lebih dimana orang-orang jadi lebih mementingkan kata itu sendiri daripada makna yang dikandung. Lagi-lagi gara-gara kita ngikut budaya. Ya, namanya juga ngikutin kata orang tua, yang penuh kebijaksanaan karena udah makan asam-garam hidup. Semuanya aja sekalian diikutin, bener dan salah siapa yang peduli? Gawat juga ini. Doktrin-doktrin dari otorita, mulai dari orang tua, guru, dan nantinya, di kantor, semuanya rata-rata ngajarin kalau otorita itu paling bener. Zaman udah berubah dan doktrin ini nggak lagi banyak ditekankan, tapi akibatnya masih terasa masif di antara kita. Karena menyesuaikan proses pewarisan budaya butuh waktu lama. Menyesuaikan aja, soalnya warisan budaya yang baik juga ada banyak, kok!

Apalagi, budaya ini diterapkan bukan cuma zaman Soeharto, tapi emang sejak zaman-zaman kerajaan. Dimana kekuasaan absolut ada di tangan para raja. Dan mengingat Indonesia masih seumur jagung, ya, wajar kalau bekas ajaran zaman kerajaan itu masih berasa sampe sekarang. Kayak di beberapa suku ada pamali-pamali (atau semacamnya, nggak tahu istilah lainnya) tanpa keterangan jelas tentang bukti dan alasannya. Pokoknya kalau orang tua bilang pamali, ya udah, ikutin aja.

Masalahnya, ini menimbulkan sifat malas untuk mencari tahu. Dipadu dengan arus informasi cepat nggak terbendung dari media sosial, ini gabungan yang mematikan karakter, saudara-saudara! Ditambah lagi dengan kebebasan pers, beda sama zaman dulu, kalau media harus punya SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers), sekarang nggak perlu lagi. Semua orang bebas untuk menerbitkan medianya sendiri. Akhirnya, mulai bermunculan yellow jurnalism, istilah buat jurnalisme yang melebih-lebihkan beritanya untuk menjual oplah majalah. Sebelum internet viral, ada koran yang nggak perlu aku sebut merknya, yang isinya wow! Tentang kriminalitas ditambah berita-berita tentang perselingkuhan, zina, dkk. Tepat menggambarkan insting primitif manusia, libido dan agresi, dalam bahasa vulgar dan berlebihan.

Sekarang, bentuknya udah lebih canggih. Lewat internet. Dan udah nggak seperti koran yang kusebutin di atas, isinya udah beragam. Tapi, metodenya masih sama. Yang penting menjual. Nggak ada lagi nilai-nilai berita dan kode etik jurnalisme yang mereka ikutin. Yang jadi masalah baru, mereka bukan cuma menjual demi uang, tapi juga demi memenangkan dominasi mereka atas kelompok lain. Bukan hanya yellow jurnalism, tapi berisi tentang dogma dan doktrin, kebanyakan agama dan politik. Biar beritanya salah, atau mengambil framing yang menyesatkan opini publik, yang penting tujuannya tercapai.

Jadi, ini tantangan baru kebebasan. Karena bebas beropini dan bahkan, menyebar berita, walaupun internet bisa jadi gudang ilmu, dia bisa juga jadi gudang kebohongan dan kesesatan. Parahnya, sikap verbalisme ini masih dimiliki orang-orang di sekitar kita. Mereka malas mencari tahu, malas menganalisa makna yang terkandung, bahkan nggak mau skeptis dikit aja (kok, percayaan banget sih, jadi orang? Ajarin dong, caranya!) Apalagi, sekarang tinggal satu kali klik, dan semua bisa viral di medsos. Kalau nge-share berita yang udah kita cari tahu kebenarannya sih, oke. Nah, kalau berita bohong, nggak ngecek narasumber atau sumbernya, trus langsung share? Wow! Pernah juga sih, aku khilaf ngelakuin ini, untuk itu aku sekalian minta maaf lewat tulisan ini.

Dan nggak hanya di internet, berita-berita hoax menyebar lewat layanan messenger pribadi, kayak BBM, WA, Line, dkk. Promosi marketing dogma dan doktrinnya makin keren ajah! Makin canggih, didukung dengan segala macam slogan kebebasan.

Kebebasan Indonesia yang sebener-benernya baru terjadi pada reformasi Mei 1998 ya, setelah kekuasaan “absolut” Soeharto berhasil dijatuhkan mahasiswa. Itupun harus lewat tank dan berbagai peluru tajam. Perang-perang di TimTeng itu, semua negara mungkin udah pernah ngelewatin satu kali, Indonesia juga udah ngerasain dan berhasil ngelewatinnya, lho! Pahlawan sekarang bukan lagi hanya Pahlawan Nasional, tapi tokoh-tokoh reformasi 1998 itu. Siapa aja? Cari di google, gampang, kok, yang penting cek dan ricek ya, jangan asal percaya aja.

Ada yang bilang reformasi belum bener-bener terjadi. Benarkah? Yah, emang membangun negara nggak mungkin satu-dua hari. Mengubah budaya yang tertanam berpuluh-puluh tahun juga nggak cukup satu tahun aja, kan? Yang jadi tantangan sekarang justru bukan hanya perubahan besar yang terjadi di arena politik dan pemerintahan, tapi juga kontribusi rakyat. Kecanggihan teknologi informasi juga mendukung wadah untuk aspirasi rakyat. Contoh aja, change.org, petisi online yang berhasil mengubah beberapa kebijakan, di bidang apapun.

Namun, seperti pedang bermata dua, perkembangan teknologi informasi yang didukung oleh kebebasan ini juga punya banyak sisi negatif. Dia juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang punya kepentingan sendiri, punya agenda sendiri, yang jahatnya, nggak segan-segan untuk menyebar berita bohong buat mencapai tujuannya. Artinya, publik sebagai produsen dan konsumen sekaligus ditantang untuk lebih cerdas dan kritis. Kalau nggak, siap-siap jadi korban.

Tidak hanya itu, kemerdekaan berpendapat ini memunculkan dengan vulgar semua pola pikir orang-orang yang terlibat. Sekaligus, memperlihatkan budaya-budaya mereka. Akibatnya, perbedaan-perbedaan yang dulu tertutup oleh keterbatasan sarana informasi bermunculan, perbedaan pendapat makin banyak, diskusi, debat, bermacam adu opini lain makin santer. Di sini, dituntut para konsumen medsos untuk lebih bijak dalam bereaksi terhadap pola pikir yang berbeda, sedikit atau banyak. Internet itu juga punya jebakannya sendiri, lho. Soalnya, internet itu kan menutupi identitas kita, nggak jarang ini bikin orang merasa lebih aman, akhirnya emosi jadi nggak kekontrol karena terlalu berani atau nekad.

Sejak Pemilu 2014, reaksi orang-orang terhadap perbedaan pendapat makin kelihatan jelas. Akhirnya, endapan emosi selama rezim Soeharto yang kebanyakan menutup mulut rakyatnya dan membuat rakyatnya itu kurang belajar asertif dan cerdas dalam berpendapat, keluar tanpa terkendali. Akibatnya, diskusi berubah jadi debat kusir, maunya menang, dan nggak lagi punya tujuan untuk mencari kebenaran. Malah, makin jauh dari kebenaran karena pola pikir “yang penting menang” itu.

Kedua hal ini, untuk jadi cerdas dan kritis, lalu bijak dalam berpendapat dan bereaksi terhadap pendapat yang berbeda, intinya cuma satu, kecerdasan emosional. Ini saatnya kita paham kalau emosi itu bukan sesuatu yang salah dan perlu ditutupi, melainkan sesuatu yang jadi bagian dari manusia itu sendiri, untuk dikendalikan dan diungkapkan dengan cara yang sehat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Kemerdekaan memang menyenangkan, tapi kita nggak bisa larut dalam histerianya terus-menerus, karena tantangan dari kemerdekaan makin meningkat. Kalau dulu, kita tahu siapa lawan kita dengan jelas, para penjajah yang mencoba menaklukkan kita, sekarang kita harus benar-benar memahami seluk-beluk perubahan sosial, untuk memilah-milah dengan lebih baik, siapa yang berdampak baik buat kita dan siapa yang berdampak buruk untuk kita. Lebih baik memandang masalah ini dari segi dampaknya karena benar dan salah itu subjektif banget, jadi lebih baik kita nggak ngejudge berdasarkan itu.

Di ulang tahun Indonesia yang ke-71 (yang kayaknya belum bisa diakui oleh Belanda hoho), ayo kita menghadapi tantangan yang sifatnya laten ini. (Bukan PKI, lho! Karena PKI udah mati, masa masih takut sama hantunya? :p ) Ayo kita rayakan sambil mencatat baik-baik untuk mengubah mental kolonial yang masih sedikit-sedikit bersarang di hati rakyat.

Dirgahayu, Repubilk Indonesia!

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s