Sekolah atau Edukasi?

edukasi
Gambar diambil dari : http://www.kulitinta.com

Kita belum bisa terlepas dari doktrin…

Kayaknya yang namanya sekolah itu akrab banget di telinga. Udah bukan akrab lagi, tapi udah nyatu, seakan-akan dia nempel di gendang telinga, bergaung setiap kali bergetar. Sedikit hiperbola sih, tapi rasanya aku ngerasa begitu. Sejak mulai bisa inget, itu sekitar umur 4 tahun, itu pertanyaan yang paling sering diajuin orang. Udah sekolah, belum? Apalah urusannya sama mereka, yang sekolah siapa juga? Aneh, kenapa orang suka banget ikut campur sama urusan orang lain. Stop, jangan curhat!

Doktrin itu nggak hanya disampaikan orang-orang terdekat, tapi juga media, khususnya dari layanan masyarakat. Alias, iklan dari pemerintah tentang wajib belajar. Lagu yang dulu kuhapal banget sekarang udah ilang dari kepala, tapi aku inget salah satunya tentang sekolah. Aneh, kok bisa lupa, ya? Mudah-mudahan karena udah bisa move on dari yang namanya sekolah, hehe. Singkat kata, dari kecil kita udah dibombardir dengan satu kata : sekolah.

Sekarang, yang namanya sekolah udah lepas dari bayangan tentang anak-anak pake seragam merah-putih, duduk di meja kayu cokelat tua, dengan standar duduk rapi itu adalah tangan terlipat di atas meja. Masa-masa itu udah lewat, karena sekolah udah macem-macem bentuknya. Ada sekolah alam, yang kebanyakan pelajarannya lewat outdoor, ada sekolah montessori, yang konsepnya mirip, ada lagi yang terbaru soal sekolah alternatif Qaryah Tayyibah. Dan masing-masing dari mereka konsepnya udah jauh dari sekolah konvensional yang metode belajarnya itu guru ceramah, murid mendengarkan. Bahkan, di sekolah alam, anak-anaknya belajar sambil lesehan.

Nah, yang lebih menarik daripada semuanya adalah homeschooling. Seperti istilahnya, ini sekolah yang adanya di rumah. Pengajarnya? Bebas, tapi tetap belajarnya di rumah. Ada yang pake jasa homeschooler kayak Homeschooling Kak Seto, manggil jasa pengajar dari sana. Ada yang pake guru les privat, sampe yang semuanya dikerjakan oleh orang tua si anak sendiri. Intinya, adanya di rumah. Baru-baru ini, maksudnya aku baru denger (rada kuper emang ^^;), kalau ada istilah yang lebih drastis, unschooling. Artinya, nggak sekolah. Walah!

Bagi kita yang udah didoktrin puluhan tahun, dengernya serem, ya!

Orang-orang yang denger soal itu juga pasti langsung nanya, nggak sekolah? Trus belajarnya gimana? Ijazahnya gimana? Ujiannya gimana? Ujung-ujungnya adalah pertanyaan paling menakutkan dari seluruh orang tua di dunia, mau jadi apa nanti gedenya? Aku selalu heran denger pertanyaan itu. Akhirnya, aku jawab aja, “jadi orang.” Bukannya kita udah jadi manusia sejak lahir, ya? Mau diapain lagi, sih?

Akhirnya, kata ‘orang’ dikaitkan lagi sama kesuksesan. Berarti, kalau nggak sukses bukan orang. Langsung berubah jadi ksatria baja hitam kali, ya (ketahuan kan, yang nulis kelahiran tahun berapa).

Biar begitu, beberapa orang berhasil membuktikan tanpa sekolah formal pun anak-anaknya bisa sukses. Kita standarisasi dulu ya, kesuksesan yang dimaksud di sini. Secara umum, sukses buat orang-orang itu adalah sukses yang bisa dilihat, diraba, dikecap, kayak pengusaha dengan omset jutaan rupiah per hari, lulusan cum laude dari universitas bereputasi bagus, karyawan di perusahaan besar, kalau di Indonesia, tambah satu lagi : PNS. Nah, sukses itulah yang dimaksud di sini. Dengan bekal cerita orang-orang sukses berlatar tanpa sekolah formal, orang-orang mulai melirik metode ini. Ditambah dengan ilmu parenting yang menyebutkan pendidikan anak itu dimulai dari interaksinya dengan orang tua, jadilah makin banyak yang mau terjun ke metode HS.

Tapi, semakin lama aku terlibat dengan pihak-pihak HS, semakin aku paham kalau kita masih terikat dengan doktrin itu. Makna sekolah rumah bukannya makin terang, malah makin dikaburkan oleh doktrin puluhan tahun yang disarangkan di otak kita. Tujuan orang tua masih satu : mengarahkan anak-anak mereka ke kesuksesan yang aku deskripsiin di atas. Dan itu jadi jebakan buat para orang tua, yang akhirnya memaksakan metode didik mereka ke anak-anak.

Mentalitas orang tua masih berputar di ‘sekolah.’ Homeschooling, unschooling, kata-kata itu masih terikat kuat dengan bapaknya, schooling alias sekolah. Lho, itu kan hanya istilah? Well, Margaret Tatcher pernah bilang kalau “you are what you say,” artinya kata-kata yang kita pilih pada akhirnya secara nggak sadar itu adalah pikiran bawah sadar kita. Sekaligus, jadi sugesti ke dalam pemikiran kita, seperti halnya doktrin-doktrin itu. Artinya, penggunaan itu adalah representasi pikiran bawah sadar kita yang belum bisa terlepas dari sekolah. Ya, doktrinnya tahunan dan digalakkan secara masif di seluruh dunia, gimana nggak nempel kuat banget di otak kita?

Waktu aku baca-baca quote tentang HS, ada meme yang menyebut tentang self-educated. Jadi, konsep HS yang disebutkan si pembuat meme itu adalah mengedukasi diri sendiri, artinya anak punya daya juang untuk mempelajari yang dia butuhkan, yang dia suka dan yang dia mau, dengan orang tua hanya jadi fasilitator. Berlawanan dengan konsep itu, kata sekolah yang melekat di HS banyak juga diartikan kalau sekolahnya itu di rumah. Akhirnya, anak punya jadwal sekolah di rumah. Sama aja kayak mindahin sekolah ke rumah. Yang lucu lagi, malah ada sekolah yang bilang kalau prinsip sekolahnya itu mengikuti HS. Padahal mah, dia bukan rumah, so…yah… Terserah mereka, deh.

Ini dia jebakan dari HS. Penggunaannya yang masih terikat dengan sekolah juga membuat orang-orang salah kaprah tentang itu. Nggak hanya itu, ada juga yang mikir kalau anak yang di-HS-kan itu artinya dikurung di rumah, disuruh belajar, akhirnya jadilah pemahaman kalau HS itu nggak mendukung interaksi sosial. Yang lucu lagi sih, ada juga pemahaman bahwa orang tua jadi guru. Ini membuat orang-orang ragu lagi soal HS dan juga muncul anggapan kalau yang bisa meng-HS-kan anak cuma orang-orang pinter. Lagi-lagi, kita berhadapan dengan labeling. Ah, apalah pinter itu, saudara-saudari setanah air? Ukurannya nggak pernah jelas.

(Baca juga “Sosialisasi dalam Sekolah Konvensional”)

What’s in the name? kata Juliet dalam drama yang ditulis Shakespeare. Tapi, toh, karena nama itulah mereka ditentang sampai memilih untuk bunuh diri berdua. Emang kita harus hati-hati agar nggak terjerumus dalam verbalisme, mainannya istilah mulu, tanpa pemahaman menyeluruh. Ujung-ujungnya, salah kaprah lagi. Aku juga nggak menyarankan kita debat soal masalah nama ini, tapi nama ini bisa membuat kita lebih paham tentang tujuan sebenernya kita menyekolahkan anak. Bukan sekolahnya, tapi pendidikannya, edukasinya. Begitu sebaiknya, kan?

Aku sendiri banyak menulis soal locus of control, yaitu kontrol perilaku kita, apakah asalnya dari diri sendiri atau dari orang lain? Buatku, baik HS maupun NS, masih punya kekuatan locus of control eksternal (dalam hal ini doktrin sekolah itu), alias perilaku kita dikontrol dari kekuatan luar, yang jelas-jelas nggak bisa kita kendalikan. Nah, ini juga bahaya. Seharusnya kan, kita bukan jadi follower atau pemberontak total dari norma luar, tapi mencari yang terbaik buat diri kita. Cocok, syukur. Nggak cocok, ya apa boleh buat. Artinya juga, kita mandiri dari pengaruh luar yang banyak banget itu.

Kemandirian ini jadi penting karena kita nggak tahu berhadapan dengan apa atau siapa di dunia eksternal. Kalau ketemu orang baik, syukur, tapi kalau ketemu orang yang berniat nggak baik, jadi momok, deh. Segala yang busuk-busuk juga kita ikutin hanya karena kita susah terlepas dari pengaruh luar itu. Memberontak total juga salah. Kalau kita berontak terhadap sesuatu yang baik, jadinya kita harus melakukan yang nggak baik, dong? Kan, efeknya jadi nggak baik juga.

Akhir kata, istilah self-educated ini di lain pihak juga bisa menyempitkan tujuan sebenarnya dari kegiatan belajar-mengajar. Kita bukan mengantar anak ke sekolah biar dia bisa sekolah, tapi biar dia bisa dapet edukasi. Bukan buat mengikuti aturan-aturan yang dibuat sekolah, tapi supaya bisa mencari ilmu lewat transfer belajar dari guru. Kalau mau pilih sekolah, kalau emang tepat buat kita, tentu aja bagus, tapi kalau yang kita pikirin sekolahnya, edukasinya jadi melorot, dong. Dan perlu diperhatikan, makna edukasi sendiri itu mencakup tiga hal, kognitif, afektif, dan konatif. Kalau nggak seimbang, edukasi biasanya susah memaksimalkan potensi anak.

Karena itu, doktrin tentang sekolah ini harus mulai kita kikis pelan-pelan, bahwa tujuan kita itu bukan nyari sekolahnya, tapi edukasinya, yaitu metode (metode apa aja, termasuk sekolah formal) yang bisa kita pakai untuk menimba ilmu sebanyak mungkin, sekaligus cara mengaplikasikannya di dunia nyata. Teori tanpa praktek kan, artinya lumpuh?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s