Kau yang Berada di Dalam Jendela

you-are-my-eternity

 

Malam ini aku ingin berbicara tentang cinta. Bagaimana kelembutannya dapat mengubah kemuraman malam menjadi sehelai lapisan cahaya temaram yang ternaungi oleh jutaan bintang. Yang setia. Setia menunggui sang rembulan, hingga habis masa peraduannya, memberikan singgasananya kepada mentari yang merajai siang. Gemulai auranya yang mengalir pelan dan syahdu, mengiringi setiap hati yang bersenandung pilu. Kau, cinta.

Malam ini, aku hanya ingin mengenangkan kau. Selewat malam ini, mungkin kau tidak lagi menemaniku.

***

Aku terduduk muram di atas jendela kayu rumahku yang terbuka. Begitu sempit kamar ini kurasa. Begitu penuh, tanpa ruangan pribadi yang bisa membebaskanku. Kubiarkan angin malam menerobos masuk, menggigilkan tulang-belulangku. Dia kuat, namun rapuh hingga ke sumsumnya. Apa dayaku apabila suatu saat diapun memutuskan untuk membisikkan kata selamat tinggal ke telingaku, menerobos jauh ke dalam hatiku. Ah, mungkin akan justru kutemukan damai itu. Di dalam sana hangat, tidak lagi dingin.

Hingga kini kuketahui, tidak ada ahli yang berani mendefinisikan cinta secara eksplisit. Hanya ikhtisarnya, tidak lebih. Hanya hakekatnya, memaknai kedalaman sukmanya yang semburatnya menerangi hati manusia. Kau, tidak lebih dari kau.

Kau mendesah membangunkanku dari alam lamunan yang sedemikian jauh. Aku terhempas ke dunia nyata dengan begitu lugasnya, hingga sukmaku kembali menemanimu. Aku menoleh ke arah sesosok tubuh yang sudah termakan usia. Kau. Aku bangkit perlahan. Badanmu menggigil oleh gigitan angin malam yang membelai mesra tanpa memberikan ibanya. Kututup jendela itu, hingga angin malam merintih kecewa. Tidak lagi dapat bercumbu rayu dengan simbolisasi kasih yang begitu besar itu.

Aku memandang seorang wanita tercantik dalam hidupku. Kau. Kulitmu telah diberangus oleh kesakitan pengalaman hidup yang bertubi-tubi. Bibirmu keropos oleh lantunan nada kasih yang kaudendangkan tanpa kenal lelah. Namun, mata batinku tak sudah-sudahnya mengagumi dan mendewakan kecantikan yang agung dari wanita ini. Kaulah kekasihku, tak pula para Dewa mampu merenggutmu dariku.

Aku mengecup bibirmu perlahan. Kau mendesah gelisah dalam tidur. Mungkin mendengus kecewa akan kekasaran seorang pria yang mengganggu satu-satunya ketenangan yang kau miliki dalam hidup. Aku tersenyum, kebiasaan tidurmu yang sulit untuk diganggu selalu menggodaku untuk merenggut kesenanganmu itu.

Kau memiringkan badan, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman, yang tak terganggu. Namun, kuganggu pula kau. Lagi. Aku berbaring di belakangmu, dengan tanganku melingkari pinggang hingga perutmu. Kau begitu ringkih, begitu mungil.

“Bu…,” bisikku perlahan, hingga keheningan masih saja menyelimuti ruangan kecil tempat kami bernaung. “Begitu lama… Kita berdua saja berlayar mengarungi dunia ini…”

Senyumanmu tampak jelas di mata batinku. Itu saja yang kaulakukan. Menemaniku, menggenggam tanganku agar tetap hangat, menjaga hatiku tetap berdenyut utuh. Pernah juga aku sekali ingin mencoba-coba merayapi dunia fana ini. Merengkuh kenikmatan bernama materi, menghayati cengkeramannya yang kuat pada hati manusia. Ya, kadang hingga hati itu pecah terserak.

Setiap hari. Setiap hari, hanya kemeja yang kuperhatikan. Kusutnya penanda kusut hatiku. Kutuang dengan laknatnya ke arahmu, yang hanya gemulai mengangguk. Bertambah-tambah kedurhakaanku pada kehidupan batiniah saat denyut lain telah menggelitik nadimu, istriku. Jemari mungil yang menjawil kemihmu, wanitaku, seolah menusuk jantungku, agar memompa lebih cepat. Hilang akal, materi jadi penentu kebahagiaan.

Di luar jendela. Selalu di sana aku berada. Menemukan kesenangan samar saat memperoleh lebih dari yang bisa kugenggam. Tertawa saat kesilauan cahaya-cahaya dari jendela yang lain. Jendelaku tak terlihat lagi.

Apa?

Sepasang bibir merah mudamu bergerak, lambat, tapi tak satupun ucapannya dapat kupegang. Sosoknya kian mengabur. Mencoba meraih bayang itu, yang justru semakin kukejar akan semakin tak terjangkau. Melayang menembus belantara besi. Kau pun perlahan menengok, tak lagi ke arahku.

Aku hilang akal. Mataku hanya menangkap remah-remah harapan, tetesan kerinduan. Di balik tudung saji hanya berupa selongsong yang kosong. Kenyang jadi suatu kemewahan. Selimut menjadi dingin, beku. Membuat hati pun perlahan membeku. Jiwaku berteriak, memohon pertolongan. Tidakkah Tuhan Maha Mendengar?

Oh!

Tidakkah aku yang menjauh saat firman-Nya memanggil-manggil? Saat hendak membasuh hati si pesakitan, memurnikannya lagi dengan embun-embun berupa rasa syukur dan doa? Ya, aku yang terlupa, menulikan telinga dari panggilan-Nya. Kesenangan mulai luntur, hati mulai resah. Desah desau angin jadi hantaman badai.

Oh kau, cinta! Kau meninggalkanku!

Mataku mengerjap dalam kekelaman. Setitik cairan bening menetes begitu saja. Aku mengusapnya. Benar, kala syaitan telah berbisik manis, memanggil-manggil nurani untuk meninggalkan badan, ketenangan yang terajut kuat pun terurai. Namun, cinta telah membawaku kembali. Ya, pada saat mata mungil yang kesulitan menatap dunia itu memandangku. Begitu herannya ia, mendapat seorang bapak serupa aku. Dan hembusan nafasnya di telingaku, jadi titik balik seluruh goresan pena kehidupanku.

Lalu, sepasang bibir serupa sabit milikmu itu. Senyuman lembut penuh haru, dihiasi setitik air mata yang mengalir perlahan. Air mata selembut embun pagi jatuh di pipi seorang anak yang begitu rapuh, yang bahkan belum jelas melihat dunia. Anak yang kemudian mulai beranjak dewasa, pelan-pelan seakan merayap mengarungi kedalaman masing-masing sisi dunia. Bertahan dan bertahan, itu saja hakekat hidupnya. Sepanjang itu pula, belaianmu mendampinginya. Saat dia terluka, pada fisiknya. Saat dia berduka, pada batinnya. Kelembutan akan selalu menenangkan sisi jiwanya yang gelisah akan ketidakpastian hidup. Cinta itu ketenangan, tidak memberikan kesenangan semu, tetapi ketenangan yang terus akan melingkar lembut di hati. Dan, itu kau!

 

***

 

Aku mendengus dalam kesunyian. Memikirkannya saja begitu sunyi. Satu masa yang mencengkeram hati.

Mata mungil itu, mata yang sebelumnya hanya memandangi aku dan kau itu beralih, terbata-bata hingga menjadi pasti. Dia memilih kadar hidupnya sendiri, lepas dari kungkungan peluk kasih orangtuanya. Dia memilih untuk terbang menjangkau cakrawala yang tak sanggup kami ikuti lagi. Air mata akan jatuh di pipi sang wanita yang melahirkannya, tetapi tanganmu kaucengkeram erat di punggung. Cinta itu melepaskan, membebaskan, hingga sang tercinta sanggup menjelajahi dunia dengan keluasan pikirannya.

Namun, bila sang tercinta itu pulang, aku dan kau, berdua mengetahui dengan pasti, pelukan akan selalu menjadi rumah untuknya. Walau tak selalu indah, tetapi akan selalu ada. Dan cinta adalah rumah, sesuatu yang akan selalu menunggu siapapun untuk menyapanya. Menghangatkan periuknya selalu agar yang tercinta bisa pulang di kala ia kelaparan, akan kasih, akan belaian manja.

Saat pintu itu menyambut kebebasan buah hati aku dan kau, kekosongan jiwa menggerus setitik ketenangan. Satu sama lain. Ya, aku dan kau terkungkung kembali dalam tautan cinta kasih yang terajut perlahan. Mataku kembali menangkap sosokmu, yang tak lagi bertuan keriangan. Sejenak. Ya, sejenak aku merasa letih dan kecewa. Aku mencoba kembali membuka jendela kamar demi memperoleh kesenangan semu. Menuhankan untaian mutiara yang di dalamnya tak lebih dari seonggok sampah. Mengagungkan sosok-sosok pesona duniawi yang genit menggoda. Dan sosokmu jualah yang selalu kutemui. Wahai, kau pelipur lara.

Aku ingat bagaimana lembut jemarimu menyentuh ujung syarafku. Tidak ada apapun di balik jendela itu, sayangku… Hanya keluasan pikiran kita yang ada…

Betapa ingin kutepiskan tanganmu, meraung bahwa kau salah, selalu salah. Kau tak lebih dari penjaraku, penghasut hati yang merindukan keluasan langit di balik jendela. Tidakkah indah langit berarak awan di luar sana? begitu aku sahut-menyahut. Tidakkah kau mengehendakinya juga?

Kau jawab, hanya keluasan pikiran yang kukehendaki. Aku terdiam. Lenyap dalam kerisauan, akan kebodohan dan keapatisan. Tenggelam dalam samudera kemunafikan. Betapa kau, kebenaran yang melembutkan es di Kutub Utara. Sekalipun, di Kutub Utara.

***

Tiap liukan jalanku, tiap persimpangan yang penuh aroma kebimbangan, hingga tiap perpisahan dengan cengkeraman perih di hati. Waktu-waktu itulah saat aku merasakan cinta yang sesungguhnya. Dari kau yang selalu menggenggam tanganku erat. Dari kau yang selalu membisikkan kata-kata yang menyejukkan hati. Dari kau yang selalu setia dengan senyuman lembut di bibirmu.

“Bu… Di balik jendela memang tidak ada apapun. Ternyata di ruangan sempit ini kurasakan cinta yang begitu luas…” Kau kembali menggelisah dalam tidur. Aku tersenyum kekanakan, merasa senang telah dapat mengganggu tidurmu yang pulas itu.

Aku bangkit, sembari memegangi pinggangku yang perih akibat reumatik berkepanjangan, menggeser tirai hingga menutupi jendela sepenuhnya. Menghalau sinar temaram rembulan yang masuk mengganggu, menyingkirkan kerlipan bintang yang menggoda. Cinta itu tidak ada di luar jendela. Sepenuhnya di sini, di sisimu, wanitaku, yang tiap untaian rambut telah memutih oleh kasihmu kepada anakku dan aku. Kau menua bersamaku, merengkuh beban hingga ke sukmaku dengan erat.

Dan di sinilah cinta berada.

 

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s