Inside Out

insideoutfamily-normal_e46cac6d
Gambar diambil dari movies.disney.com.au

 

“Apa yang Terjadi dalam Kepala Kita”

Bener-bener telat, sih… Tapi…

Aku rasa aku perlu posting ini. Simpel aja, karena film animasi yang satu ini menurutku brilian. Itu penggambaran yang paling deket. Nggak hanya karena alurnya yang sederhana, Inside Out ngasih banyak makna tentang tumbuh-kembang satu anak.

Oke, sedikit reviewnya. No spoiler, tenang aja. Siapa tahu ada yang belum nonton, walaupun ini film udah lama keluarnya.

Dimulai dengan kemunculan Joy tiba-tiba, nggak tahu dari mana. Yang pasti, setelah Riley, seorang anak cewek, dilahirkan. Pandangan Joy pertama kali bertemu dengan sepasang laki-laki dan perempuan, orang tua dari Riley. Di depannya ada satu tombol, begitu dia pencet, Riley yang masih bayi ketawa. Jangan heran ya, kalau reviewnya kayak tulisan anak-anak, abis emang ini film buat anak-anak, sih.

Ok, lanjut. Pas Joy lagi asyik menikmati pemandangan yang terlukis dari matanya Riley, tiba-tiba Riley bayi menangis. Ternyata, di sampingnya, ada satu orang lagi. Kalau Joy digambarkan bercahaya kuning terang, orang ini punya cahaya kebiruan. Ini perkenalan pertama kali Joy dengan Sadness, yang udah diwarnai dengan prasangka. Karena mereka emang beda banget sifatnya, Joy itu penuh dengan optimisme, sedangkan kebalikannya, Sadness itu mikirnya yang sedih-sedih aja. Mulai dari situ, tempat yang mereka sebut headquarters, makin ramai dengan kehadiran Fear, Disgust, dan Anger.

Kok, namanya kayak istilah-istilah buat emosi yang ada di manusia sehari-hari?

Karena emang orang-orang ini adalah representasi dari emosi Riley sendiri. Mereka tinggal di kepala Riley dan menjadi penentu dari perilaku Riley. Misal, kalo Riley lagi berhadapan dengan bahaya, maka Fear maju buat menyelamatkan Riley. Kayak satu adegan dimana Riley lagi lari-larian dan di depannya ada kabel listrik, Fear langsung menekan tombol yang membuat Riley berhenti lari. Sama juga dengan halnya dengan emosi yang lainnya.

Dan keempatnya menjaga Riley agar Riley jadi anak yang bahagia, sampai saat itu, Joy nggak pernah ngerti fungsi Sadness selain bikin Riley nangis.

Sampai…ayah dan ibu memutuskan untuk pindah dari Minnesota, kota kelahiran Riley, ke San Fransisco, kota yang digambarkan padat penduduk. Hal ini memaksa Riley, yang berumur 12 tahun, harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat berbeda. Sementara itu, kepindahan ini menyebabkan keributan di headquarters. Nggak tahu kenapa, Sadness mengalami nervous breakdown, alias stres berat, yang bikin dia mengacau. Kayak semua memori (memori digambarkan lewat bola-bola kaca yang mirip kelereng) yang dia sentuh jadi sedih, tapi dia terus aja terdorong buat menyentuh memori.

Dalam upaya Joy menyelamatkan Riley dari kesedihan, ia memaksa Sadness buat jauh-jauh dari remote control (duh, aku bingung sama istilahnya, tapi kayak semacam panel pengaturan buat emosi dan perilaku Riley yang digunain sama emosi-emosi Riley ini, sebut aja remote control-lah, ya). Tapi, ternyata percuma. Waktu Riley memperkenalkan diri di depan teman-teman sekelasnya, lagi-lagi Sadness berulah dengan menyentuh bola memori, membuat Riley jadi sedih dan bahkan nangis di depan teman-teman sekelasnya, waktu hari pertama sekolah! Bayangin, malunya gimana!

Dan pada waktu itu juga, Joy terhisap ke long term memory lewat saluran kayak pipa (jadi, setelah memori terkumpul penuh di headquarters, untuk digunakan sewaktu-waktu, bola-bola memori itu dipindahin ke long-term memory, seperti halnya ingatan kita aja), Sadness juga ikut terhisap. Dimulailah perjalanan mereka balik ke headquarters. Di dalam hiruk-pikuk kepalanya Riley, ada perpustakaan long-term memory­­, ada tanah imajinasi, lokasi syuting perfilman mimpi, dkk, keduanya mulai berpetualang.

Dan, gimana akhirnya, silakan cari tahu sendiri, kan no spoiler ini. Hehe…

Kalau dilihat dari plotnya, emang ini film kekanak-kanakan banget, ya. Mungkin jadinya orang-orang yang udah dewasa jadi rada males buat nonton film ini. Paling-paling nemenin anak-anaknya nonton. Tapi, menurutku, salah besar! Ini film yang secara harfiah aku bilang bisa dinikmati oleh semua umur. Mirip-mirip sama buku The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupѐry. Penggambarannya sederhana, tapi makna di baliknya kompleks banget. (Baca resensi The Little Prince di sini)

Misalnya, penggambaran tentang kerja memori. Kalau kita lihat, gimana satu peristiwa disimpan dalam bola kaca memori, lalu begitu headquarters udah penuh, mereka langsung dipindah ke long-term memory. Ini emang terjadi di kepala kita. Sama seperti kerja memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Kalau satu memori udah nggak digunakan lagi, biasanya otak akan menekan ingatan itu ke ingatan prasadar (ini ingatan yang masih bisa dipancing kalau ada kata kuncinya), lebih jauh lagi, kalau udah benar-benar nggak berguna, atau mungkin membawa pengaruh buruk, kayak pengalaman traumatik, memori itu bisa ditekan ke pikiran bawah sadar. Di film ini ada juga lho, digambarkan dalam satu jurang gelap, dijaga oleh satpam (ada pekerja-pekerja yang ngatur area otaknya Riley, digambarkan dengan orang-orang berbentuk oval, simpel aja) dan ditaruh di ruang tertutup. Isinya adalah ketakutan-ketakutan bawah sadar Riley, di dalamnya ada brokoli, badut, vacuum cleaner punya nenek, dst. Sekali lagi, brilian!

Di film Inside Out, ada juga pembuangan yang menghapus memori-memori. Walaupun, di dunia realita, ini nggak sepenuhnya bener, karena nggak ada ingatan yang bener-bener bisa ilang. Tapi, kalau udah sampai di pikiran bawah sadar, hanya profesional, macam Psikiater atau Psikolog gitu, atau peristiwa besar yang bisa mengeluarkan ingatan itu lagi. Jadi, kesannya emang ‘forgot (dilupakan).’ Padahal, nggak sepenuhnya. Kalau kita dalami maknanya, film ini justru jauh lebih rumit daripada yang kita duga. Ada penjelasan saintifik yang sengaja digambarkan lewat animasi-animasi simbolis yang sederhana, supaya bisa dicerna anak-anak.

Tapi, proses yang terjadi di kepala Riley, mulai dari runtuhnya semua pulau-pulau kepribadian (yang menggambarkan image tentang hubungan Riley dengan lingkungan di luar dirinya – ada family island, friendship island, honesty island, funny island, dan hockey island, karena Riley suka sama hoki), itu sebenernya proses yang bener-bener terjadi sama semua manusia yang sedang dalam masa transisi dari anak-anak ke pubertas.

Lalu, hubungan Joy dan Sadness, hal yang paling sering terjadi dalam kepala kita. Saat kita sedih, tapi mencoba memaksa diri tetap gembira karena ekspektasi sosial lebih suka sama anak yang gembira daripada anak yang sedih, dan juga emosi-emosi lain. Asli, aku susah gambarinnya satu per satu di sini, karena prosesnya itu sangat kompleks. Inti dari pesan moral dari film ini secara garis besar adalah, kita nggak bisa menekan kesedihan atau emosi-emosi lain, kalau nggak malah bisa timbul kekacauan, seperti yang terjadi di kepala Riley.

Jadi, nggak perlu tunggu punya anak buat nonton film ini. Film ini bisa menggambarkan dengan tepat proses psikologi tentang apa yang terjadi waktu kita pubertas dulu. Dan mudah-mudahan, bisa membantu kita untuk dapat petunjuk atas apa yang terjadi di kepala kita waktu kita dalam masa-masa transisi. Misalkan, dari remaja ke dewasa, dari dewasa ke masa tua. Atau, simpel aja, perubahan-perubahan kecil dalam hidup kita. Biasanya, kalau kita tahu alasannya, frustasi bisa sedikit berkurang, lho! Penelitian dalam ilmu Psikologi Sosial ini!

Akhir kata, jangan pernah memendam emosi, ya! Semua emosi perlu pelampiasan, asal caranya yang kita atur supaya nyaman buat diri kita, nyaman buat orang lain.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s