“Jangan Tulis Kami Teroris”

 

Penulis : Linda Christanty

Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tahun : 2011

Halaman : 147 halaman

 

img_20160913_153542-1
ini gambar diambil sendiri, jadi maklum ya, rada kabur. hehe…

 

Awalnya sih, gara-gara penasaran dengan sosok Linda Christanty, yang merupakan salah satu pemenang Khatulistiwa Literary Award (KTA). Lupa lagi tahun berapa. Lagipula, dalam dunia sastra sekarang ini, namanya juga cukup diperhitungkan. Karena itulah, akhirnya beli buku karyanya ini, Jangan Tulis Kami Teroris.

Linda sendiri awalnya adalah jurnalis, seperti beberapa penulis besar lain. Dan bukunya yang ini merupakan salah satu hasil reportasenya. Di seluruh dunia, nama Islam sudah banyak dikaitkan dengan terorisme, tepatnya sejak Menara Kembar WTC di Amerika Serikat diruntuhkan oleh pesawat yang dibajak oleh anggota Al-Qaeda. Jadi, isi dari buku ini adalah kumpulan kisah-kisah pendek tentang Islam dan konflik-konflik yang dihadapi pemeluknya di beberapa negara.

Diawali oleh kisah konflik Aceh dan GAM, yang pernah mencuat pada rezim Soeharto. GAM merasa Presiden NKRI hanya memusatkan perhatian pada pulau Jawa dan suku-suku Jawa, sehingga mereka, sebagai warga Aceh, merasa dirugikan. Setelah GAM berhasil “ditenangkan” oleh pemerintah lewat Perjanjian Helinski tanggal 15 Agustus 2005, Linda mengunjungi para mantan pejuang-pejuang GAM yang masih hidup.

Beberapa, tentu saja, masih menginginkan Aceh merdeka dan bebas dari penjajahan suku Jawa, yang dikobarkan nggak lain dan nggak bukan oleh Soeharto. Di dalam esai itu, secara nggak langsung, Linda mengisahkan perasaan-perasaan para pejuang tersebut dan apa saja perjuangan mereka setelah perjanjian damai dengan pemerintah Indonesia terwujud. Tersebut juga pemberontak-pemberontak pasca GAM, seperti Imam Samudra, Abu Bakar Ba’asyir, yang jadi terdakwa melakukan terorisme. Mereka ini muncul setelah perjuangan GAM selesai.

Tidak sampai di situ, esai-esai itu juga mengisahkan peristiwa dimana Islam ditekan dan dikucilkan di berbagai negara. Indonesia ternyata pernah mengalami hal itu, waktu Soeharto melarang wanita Indonesia berjilbab karena ditakutkan merupakan pengaruh Arabisasi yang bisa mengancam Demokrasi Pancasila. Selain itu, ada pula kisah konflik-konflik Islam di Kamboja, di Malaysia, dan lain-lain. Semuanya berdasarkan reportase lapangan dari Linda sendiri.

Yang membuatku lumayan terkesan dari buku ini adalah gaya narasi dari Linda Christanty. Walaupun buku ini hasil reportase, narasinya nggak membosankan. Rasanya masih kayak baca cerpen biasa, bukan esai yang kebanyakan bikin kening berkerut. Gaya bahasanya juga gampang dicerna, dengan komposisi yang nggak rumit.

Satu lagi yang bikin buku ini menarik adalah makna-makna tersirat yang dilakukan Linda. Walaupun nggak berhubungan dengan tema esai, tapi makna tersirat itu berhasil dilakukan tanpa mengganggu plot yang ingin ditampilkan. Sekalipun temanya adalah konflik-konflik yang terjadi pada Umat Muslim, makna esainya lebih luas dari itu. Pada esai berjudul “Jangan Tulis Kami Teroris,” Linda menyelipkan satu percakapan tentang fenomena victim-blaming yang terjadi pada perempuan korban pemerkosaan. Biarpun percakapan itu singkat dan ringan, makna yang kutangkap tetap ngena.

Yang kusayangkan adalah tulisan-tulisan Linda yang suka “lompat-lompat.” Karena sifatnya dokumenter, pemilihan dialog dan kronologis di lapangan emang sangat perlu diperhatikan. Nah, ini yang menurutku kadang-kadang kelewat oleh Linda.

Misal, masih dalam esai yang sama, tiba-tiba terselip pertanyaan “kenapa FPI mengurusi pakaian perempuan?” Padahal, waktu itu Linda tengah mewawancara soal prioritas FPI soal ekonomi Aceh. Aku sempet mengira kalau emang pembicaraan mulai ke arah situ, tapi pertanyaan berbelok ke arah isu Kristenisasi. Maksudku, kalau pertanyaan itu dihilangkan, aku rasa nggak akan mengubah tema esai sendiri. Satu contoh lain, bisa dilihat dari esai “Tahun Nol di Kamboja,” dimana Linda bilang dia lagi ada di tengah-tengah danau Ton Le Sap di Kamboja, tapi tiba-tiba dia udah ada di daratan, tanpa ada kalimat bridge apapun.

Mungkin contoh terakhir di atas nggak terlalu penting, tapi dalam satu buku, aku rasa detail-detail begitu penting untuk nggak membingungkan pembaca.

Yang bikin bingung juga, Linda memfokuskan setengah awal buku di peristiwa-peristiwa di Aceh, tapi belakangan lompat ke Malaysia dan Kamboja. Tadinya, aku pikir ini murni tentang Islam di Aceh, ternyata aku salah. Walaupun begitu, asik sih, jadi punya gambaran tentang peristiwa di negara lain.

Overall, aku merasa buku ini menarik. Kita bisa belajar sejarah, yang aku yakin nggak diajarkan dengan detail di sekolahan, dan dari sudut pandang jurnalis pula. Dengan gaya cerita yang cukup menarik dan nggak banyak permainan kata atau istilah yang memusingkan.

Aku pernah diajarin salah satu jurnalis “Koran Tempo,” semakin hebat penulis artikel, maka makin sederhana bahasa yang digunakan. Sepakat!

 

#31HariBerbagiBacaan

 

Salam,

Penulis

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s