“The Sinden”

img_20160915_163054_666

 

Judul : The Sinden

Pengarang : Halimah Munawir

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 143 halaman

 

Don’t judge the book by its cover. Itu pepatah yang tepat soal buku ini. Pertama kali aku ngeliat covernya, aku tertarik. Apalagi judulnya yang menyebut-nyebut ‘sinden.’ Temanya cukup unik karena setahuku jarang ada penulis yang mengangkat tema itu. Apa buku ini sukses mendiskripsikan sinden dengan baik? Itu lain soal.

Plotnya sendiri cukup simpel. Seorang wanita paruh baya, yaitu Nyi Inten, terobsesi dengan dunia sinden. Ia sendiri telah berkarir di dunia tersebut dan menjadi sinden ternama. Ditambah dengan dingklik, yang ia percaya membawa ruh, yang membuatnya makin sempurna waktu nyinden. Obsesinya itu diwariskan kepada anaknya, yang ia didik sedari kecil untuk menjadi sinden. Nama anaknya adalah Waranggana.

Namun, pada saat Waranggana beranjak dewasa, penguasa baru datang ke desa mereka. Ia mencari gadis-gadis desa untuk dijadikan istri samping –yang kurasa, maksudnya di sini selir– dan juga tumbal untuk pembangunan jembatan. Mendengar itu, Nyi Inten lalu menyuruh adiknya, Jarok, membawa Waranggana kabur dari desa. Dari situ, dimulailah perjalanan Waranggana menjadi sinden. Jarok memutuskan memberi nama panggung untuknya, yaitu Dingklik Waranggana, karena dingklik tempatnya menyanyi membuatnya semakin luwes nembang.

Di tengah perjalanannya, Dingklik Waranggana bertemu dengan beberapa orang, orang-orang yang akhirnya membawanya menuju karir yang sukses sebagai sinden. Namun, perjalanannya itu tidak mulus karena sinden kerap dianggap punya ‘pekerjaan sambilan’ menjadi mainan lelaki hidung belang. Ditambah dengan wajah dan tubuh molek miliknya, membuat lelaki tertarik kepadanya, bahkan ada pejabat yang memintanya jadi selir.

Dari ceritanya sih, memang kedengeran menarik. Terutama, kalau yang suka sama budaya-budaya nusantara, mendengar kata sinden aja pasti tertarik. Di dalamnya, juga tampilan budaya Jawa disajikan kental dengan banyaknya istilah-istilah Jawa. Sayangnya, soal sindennya malah kurang digarap. Sinden itu seharusnya penyanyi pendamping waktu pertunjukan wayang, kan? Minimal, kebanyakan kerjaannya begitu. Kok malah nggak ada disebut-sebut soal wayang?

Padahal, pasti seru banget tuh, kalau Halimah menceritakan sedikit soal seputar dunia perwayangan. Bikin nuansa Jawa di dalem bukunya jadi makin menarik!

Lalu, soal karakter. Tadinya aku suka karakter Dingklik Waranggana yang dibikin kayak jinak-jinak merpati gitu. Waktu dia disuruh ngibing, joget-joget yang goyang pinggul gitu deh, dia oke aja, malah sedikit genit. Biar begitu, Dingklik Waranggana nggak pernah mau jadi simpanan laki-laki manapun, dan masih memegang prinsip sebagai profesional sebagai sinden. Di sini penulis kurang konsisten, ujung-ujungnya malah karakter Dingklik Waranggana dibikin moralis banget, jadinya bikin karakter yang ngebosenin dan nggak manusiawi.

Tahulah, manusia itu harusnya punya kekurangan, kan? Dan di novel, itu jadi poin penting yang bikin karakternya menarik.

Plotnya juga cukup aneh. Banyak konflik, tapi menggantung di tengah-tengah, nggak pernah diselesaikan. Misalnya, seperti Ki Joko, yang merayu Dingklik Waranggana untuk masuk grup karawitannya. Di saat yang bersamaan, ada pejabat yang memintanya menjadi selir. Jadilah Dingklik Waranggana kabur. Padahal baru diminta sekali lho, dan belum masuk ke tahap maksa. Kesannya si Dingklik Waranggana ini paranoid gimana, gitu. Kalau kabur, kenapa nggak kabur ke grup karawitannya si Ki Joko, malah kabur sendirian? Well, kita dipaksa nebak-nebak isi kepalanya Dingklik Waranggana yang terlalu gampang panik di sini.

Ya, kalaupun itu konflik yang pengen dibangun, minimal ada penjelasan logis soal pola pikir si Dingklik Waranggana yang dengan gampang ninggalin adik ibunya. Emangnya dia nggak merasa punya beban moral sebagai keponakan, gitu? Atau sekadar kedekatan emosional yang bikin dia berat ninggalin pamannya?

Setelah kabur, keberuntungan tokoh ini kelihatan banget dibuat-buat. Setiap kali ketemu orang, mereka punya koneksi ke dunia persindenan. Lah, emang segampang itu, sebanyak itu? Ketemu di jalan ternyata orang sinden semua? Malah, dia pernah ketemu cewek mau bunuh diri di pantai, ternyata sinden juga. Duh, settingnya nggak jelas sih, mungkin ini daerah dimana orang-orangnya sinden semua?

Trus, karakter yang tiba-tiba muncul dan membuat konflik baru menurutku aneh banget. Bayangkan seorang Susan, yang tinggal di gua, nggak ada ujung-pangkal, jadi temenan sama Dingklik Waranggana. Nggak bersesuaian dengan plot awal, bahkan nggak sesuai dengan tema yang mau diangkat. Sebenernya, apa sih, yang mau disampaikan penulis? Itu jadi pertanyaan besar waktu baca buku ini.

Ditambah lagi, setting yang kurang digali. Setting waktu, kita nggak tahu Waranggana hidup di tahun berapa. Kalau nyebut-nyebut tumbal, rasanya nggak terlalu lekat dengan tahun-tahun sekarang, atau tahun 2011, saat buku ini dicetak. Mungkin ada, tapi pasti udah jarang banget. Lalu, setting tempatnya juga nggak pernah jelas. Pertama, ia di desa, tiba-tiba pas kabur sempat sampai ke pantai, dan lain-lain. Penggambaran setting juga kurang mendukung suasana emosi yang lagi dialamin tokoh.

Intinya, buku ini kukasih rating 2 bintang. Itupun hanya karena suasana Jawa yang kental ngebuat buku ini jadi sedikit ada ‘rasa’-nya.

 

#31HariBerbagiBacaan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s