“Maryam”

Penulis : Okky Madasari

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2012

Tebal buku : 275 halaman

 

 

“Pemenang Khatulistiwa Literary Award 2012”

 

Waktu pertama kali baca buku ini, yang langsung terpikir adalah : ‘ooh, jadi nggak perlu susah-susah bikin prosa yang sangat sastrawi (apa ya, ini maksudnya?) alias nyastra buat jadi pemenang di Khatulistiwa Literary Award?’ Sok ngegampangin! Haha…

Tapi, nggak sesederhana itu memang! Pertama, tema dari buku ini nggak sembarangan. Dengan tema tentang Ahmadiyah yang dicap sesat dan sempat menimbulkan kericuhan di tengah Umat Muslim beberapa saat lalu, penggambarannya pasti nggak bakalan semudah itu.

Buku ini dimulai dengan kisah kepulangan Maryam ke Gerupuk, daerah kelahirannya. Ia memang seorang perempuan yang tumbuh di tengah-tengah warga Ahmadiyah di sana. Di sana, warga Ahmadiyah menjadi kalangan minoritas, walaupun dengan agama yang akarnya masih sama, yaitu Islam. Biarpun begitu, warga lain yang berkeyakinan Islam mayoritas tidak mempersoalkan hal itu. Mereka hidup dalam damai.

Orang tua Maryam mendidik Maryam untuk tetap berkeyakinan teguh pada agamanya sendiri, walaupun berbeda dan mendapat cemoohan dari orang lain. Ya, Ahmadiyah memang dinyatakan sesat di negeri Indonesia ini, bahkan ditentang oleh masyarakat Muslim mayoritas. Dan memang keyakinan Maryam tetap teguh dan tidak goyah hingga ia dewasa. Sampai ia bertemu dengan Alam. Keyakinannya mulai luntur karena cintanya kepada Alam, yang memang bukan Ahmadi. Bahkan, nasehat ayah dan ibunya tidak lagi ia dengarkan.

Ia pun menikah, walau tanpa persetujuan orang tuanya. Karena kondisi ayahnya yang beraliran Ahmadiyah, mertuanya juga tidak menginginkan ayahnya menjadi wali nikah. Sejak itu, komunikasi dengan keluarganya terputus karena Alam menolak menjadi Ahmadi dan Maryam lebih mengikuti suaminya, termasuk soal agama. Lima tahun kemudian, Maryam bercerai dengan Alam.

Di tengah kepenatannya, ia mengingat lagi kehangatan yang ditawarkan keluarganya dan memutuskan untuk pulang. Ia terkejut saat rumah keluarganya kosong. Yang tinggal hanyalah Jamil, orang yang dulu suka membantu di rumahnya. Dari mulut Jamil, Maryam mengetahui bahwa keluarganya telah diusir karena mereka dianggap menyebarkan aliran sesat. Tahun 2001, tiba-tiba saja keadaan berbalik dan kerukunan seolah tidak pernah ada. Warga Gerupuk bersatu-padu melakukan pengusiran terhadap anggota Ahmadiyah. Maryam terkejut dan sedih, karena ia tak pernah tahu tentang peristiwa itu.

Berbekal sedikit pengetahuan dari Jamil, Maryam mencari Zulkhair, kepala organisasi Ahmadiyah di daerah itu. Darinya, ia mendapatkan cerita lengkap tentang pengusiran itu serta dimana keluarganya berada sekarang. Sempat berada di pengungsian, para anggota Ahmadiyah kembali membangun hidupnya di daerah lain yang bernama Gerugung. Dengan bantuan anggota-anggota yang berada, mereka berhasil membangun satu pemukiman khusus mereka. Di sana, Maryam menemui keluarganya.

Tanpa memedulikan masa lalu, keluarganya menyambut Maryam dengan hangat. Seolah ia tidak pernah menghilang, bahkan setelah menceritakan kisahnya dengan Alam, pernikahannya seolah tidak pernah ada. Tidak pernah lagi disebut. Setelah itu, dimulailah kisah kebangkitan Maryam, membangun kembali hidupnya walau tak lagi seiman dengan keluarganya. Bahkan, ia kembali menikah dengan orang Ahmadi bernama Umar. Kehidupan mereka tenang-tenang saja hingga masyarakat Gegerung kembali mulai beraksi, hendak membubarkan organisasi Ahmadiyah.

Lanjutannya, silakan baca bukunya, ya!

Gaya bercerita dari Okky Madasari ini termasuk sederhana. Ia tidak menggunakan bahasa aneh-aneh dan juga tidak memainkan komposisi cerita atau alurnya, sehingga mudah untuk dimengerti, walaupun temanya termasuk berat, yaitu satire berbumbu agama. Tema agama selalu jadi topik sensitif dimana-mana, bahkan di negara liberal. Jadi, keberanian Okky Madasari mengangkat tema agama ini perlu diacungin jempol.

Okky Madasari juga kuat soal narasi. Dia memberikan gambaran setting lokasi dengan cukup akurat. Narasinya bisa membuat kita membayangkan Gerupuk dan Gegerung yang menjadi tempat tinggal keluarga Khairuddin (nama ayah Maryam) dengan mudah.

Tema sosial yang diangkat Okky juga tergambar dengan cukup baik, sehingga kita bisa ikut merasakan penderitaan anggota Ahmadiyah yang terusir hanya karena berbeda aliran. Rasanya tidak ada lagi jaminan kebebasan beribadah, seperti yang diagung-agungkan di Pancasila (ups, sudah beda nih, pembahasannya!)

Yang sedikit kusayangkan, Okky kurang banyak menggali soal Ahmadiyah. Oke, Okky menjelaskan bagaimana deskripsi kehidupan mereka yang melakukan pengajian dan bagaimana mereka berusaha mengikat kekeluargaan dengan sesama Ahmadi. Penjelasan ini cukup baik, tapi nggak menggambarkan esensi Ahmadiyah sendiri. Misalnya, aku bakalan lebih menghargai kalau sekilas Okky bisa menjelaskan sesuatu yang lebih khusus tentang ajarannya. Nggak perlu mendalam, tapi cukup untuk menjelaskan kalau itu Ahmadiyah. Kalau pengajian sih, semua agama juga punya.

Lalu, aku kurang puas sama penggambaran karakternya. Awal-awalnya sih, aku suka dengan karakter Maryam yang pemberontak, tapi makin ke belakang, karakternya malah makin nggak inspiratif. Ini novel kan, judulnya “Maryam,” jadi aku mengharapkan kalau karakter Maryam ini bakalan menjadi tokoh kunci dari segala konflik dalam cerita.

Nyatanya, karakter Maryam digambarkan plin-plan. Nggak ada penjelasan kalau dia balik ke Ahmadi setelah dia cerai sama Alam, atau malah emang menemukan keyakinan berbeda, walaupun dia tetap bersama keluarganya.

Perjuangan Maryam untuk membela komunitasnya juga nggak terlihat. Kalau dari keragu-raguan Maryam tentang imannya sendiri sih, sebenarnya cocok. Kalau kita bicara soal realita, emang banyak orang-orang yang punya karakter kayak Si Maryam ini, tapi ini novel. Seberapapun realistis, bukannya kita selalu butuh fokus cerita? Entah Maryam mau jadi pemberontak, pahlawan, ataupun tokoh dengan aksi yang drastis. Dan aku nggak nemuin itu, dan aku kecewa. Sama aja kayak suami kedua Maryam, kelakuannya sama. Cocok banget, deh. Realistis, tapi kita bisa nonton berita aja kalau mau yang bener-bener serealistis itu.

Aku suka gimana cara Okky menceritakan penderitaan Umat Ahmadiyah di penampungan. Bener-bener menyentuh hati kita. Konfliknya juga digambarkan dengan baik, sehingga bisa menimbulkan empati sama Umat Ahmadiyah. Sayangnya, pas masuk klimaks, aku kurang dapet emosi yang memuncak. Aku rasa sih, klimaks itu mau digambarin waktu Maryam mulai berselisih dengan sahabat dan keluarganya yang memegang keyakinan Islam mayoritas, tapi tiba-tiba Umar (suami keduanya yang Ahmadi galau juga haha) misahin mereka, trus udah. Udah? Minimal, jambak-jambakan gitu, mbak! 😀

Sejauh ini, biasanya aku ngerasain ini dalam karya-karya orang Indonesia. Konflik mulai panas, makin panas, belum orgasme, udah jatuh lagi ke anti-klimaks.

Apa, sih? PHP banget…

Bagaimanapun, keberanian Okky mengangkat tema kontroversial (pas lagi panas-panasnya), sekali lagi, perlu diacungi jempol. Jadi, dapet dua jempol, nih. Biar Maryam dan Umar cari aman, yang penting penulisnya nggak! Hehe…

 

#31HariBerbagiBacaan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s