“The Little Women”

Pengarang : Louisa May Alcott

Penerbit : Wordsworth Classics

Tahun : 1993

Halaman : 224 halaman

 

 

Klasik.

Akhir-akhir ini aku sering mengincar novel klasik buat bacaan. Karena segala sesuatu yang klasik, tapi masih bisa bertahan sampe sekarang, pasti punya nilai sendiri. Makanya, aku coba untuk mempelajari nilai-nilai yang ada di mereka.

Beautiful little world…

Begitu aku baca buku ini, kata-kata ini yang terus kepikiran. Kenapa? Soalnya, buku ini memang menyajikan kisah-kisah yang bener-bener moralis, tentang kehidupan yang tenang di satu desa. Rasanya, begitu aku baca novel ini, muncul harapan-harapan tentang kehidupan moralis yang ideal, tanpa ada orang-orang jahat atau keji di sekeliling kita.

Sebenernya, aku rasa kisah ini lebih dekat dari kenyataan daripada sinetron dengan orang-orang jahat bermata melotot itu. Karena, kenakalan-kenakalan atau kekurangan-kekurangan kecil dalam diri manusia yang ada di dalamnya, disajikan dengan ringan. Itupun dengan pemikiran awal, kalau semua manusia itu pada dasarnya baik.

Oke, kayaknya aku terlalu bertele-tele soal ini. Lanjut deh, ke sinopsis ceritanya.

Sederhana aja, seperti judulnya, Little Women mengisahkan tentang 4 anak wanita yang bahkan belum akil balig. Mereka tinggal dengan ibunya dan satu pengasuh, sedang ayah mereka pergi berperang untuk membela negara. Settingnya ada di Amerika. Yang menarik dari buku ini, seolah ingin menjelaskan bagaimana pedalaman wanita-wanita kecil ini, Louisa May Alcott memulai adegan dimana masing-masing anak wanita itu mengeluh dan bermimpi tentang kehidupan yang mereka mau.

Mereka adalah anak-anak baik yang bisa dibilang sangat miskin. Karena ayah mereka pergi berperang, maka ibu mereka menjadi tulang punggung keluarga, bahkan dua anak tertua, Margaret dan Josephine, pergi bekerja untuk menambah pemasukan mereka. Sedang, Elizabeth dan anak termuda, Amy, membantu ibu mereka dengan pekerjaan rumah. Lebih banyak Beth karena Amy tidak hanya termuda, tapi anak yang paling dimanja di antara keempatnya.

Masing-masing dari mereka punya karakter sendiri-sendiri.

Margaret, yang akrab dengan panggilan Meg, adalah anak wanita tertua, berusia 17 tahun. Digambarkan sebagai perempuan muda yang cantik dan anggun, Meg sangat memperhatikan penampilan dan berambisi untuk menjadi kaya dan memiliki rumah yang mewah dengan segala perabotan yang wah.

Josephine, anak kedua yang berusia setahun saja di bawah Meg, sangat suka menulis. Ia gadis yang penuh vitalitas, kalau sekarang sih, disebutnya tomboy, ya. Tapi, tahulah, kalo setting di zaman itu, nggak ada yang namanya tomboy, semua harus bersikap selayaknya “wanita.” Blak-blakan, kurang mampu mengendalikan emosinya, serta nggak peduli sama penampilan, Jo digambarkan oleh Louisa sebagai pribadi yang unconventional. Membenci namanya sendiri, dan dia hanya mau dipanggil dengan nama “Jo.”

Anak ketiga, paling berbeda dari yang lainnya, Elizabeth, atau Beth, anak yang pendiam dan sulit bergaul. Ia takut dengan orang asing, sangat pemalu, tapi kebaikan hatinya mengalahkan ketiga saudaranya yang lain. Ia yang biasa membantu ibunya sepenuhnya di rumah, menyukai pekerjaan rumah tangga dan jadi anak paling sederhana di antara semuanya. Bahkan, di satu scene, Beth menyatakan mimpinya adalah memberikan rumah yang nyaman untuk ditinggali bagi ibu dan ketiga saudaranya yang lain.

Keempat, bernama Amy. Baru berusia 12 tahun, Amy adalah anak bawang kebanyakan. Anak bawang yang ingin sekali menyusul kakak-kakaknya, jadi dia bersikap lebih dewasa daripada anak-anak seumurnya. Keinginannya adalah menjadi seorang wanita sejati, terkadang sedikit angkuh untuk menunjukkan hal itu. Oh, dia juga lebih manja dibanding yang lainnya.

Mereka tinggal bertetangga justru dengan pria tua yang sangat kaya raya. Pria tua itu adalah teman ayah mereka dan sangat dermawan kepada mereka. Kebetulan, ia memiliki cucu yang seusia dengan Jo, bernama Laurie. Atas usaha Jo, suatu ketika, Laurie, yang kebanyakan dituntut untuk tinggal di rumah dan belajar oleh kakeknya, akhirnya akrab dengan mereka. Sejak itu, Laurie lebih sering bergaul dan menjadi anggota dalam keseharian mereka.

Louisa May Alcott menggambarkan konflik-konflik mereka dalam kumpulan-kumpulan cerita singkat. Seperti saat anak-anak keluarga March sangat senang bisa libur seminggu, tapi malah mendapat pelajaran bahwa nggak selamanya bermain terus itu menyenangkan. Ada lagi kisah tentang perang dingin antara Jo dan Amy, yang menyebabkan Amy kecelakaan, kisah Meg yang bermimpi menjadi lady yang kaya dan punya semua benda-benda mewah, malah berhadapan dengan kebusukan teman-temannya yang kaya. Kisah-kisah kecil yang berujung pada pelajaran moral yang manis.

Buat penyuka konflik berat, buku ini bisa jadi membosankan. Aku sendiri harus ngaku kalau aku sempet ngerasa bosen waktu baca buku ini. Karena, aku suka buku-buku yang menyajikan kisah-kisah yang sarat konflik. Tapi, bagaimanapun, aku terkesima dengan cara penulis ini menyampaikan keindahan-keindahan moral lewat konflik-konflik kecil yang deket banget dengan keseharian kita sendiri.

Tapi, emang novel ini diperuntukkan buat anak-anak, jadi gambaran moral yang deket dengan keseharian itu cocok banget. Aku sedikit nggak nyangka, sih. Selama ini aku mikir “Little Women” itu ya, novel-novel seperti punya Jane Austen, dkk. Karena modelnya juga nggak ada karikatur-karikatur, tulisan semua (dangkal banget, ya!)

Satu keuntungannya, kalau kita lagi bosen, mau kita taruh buku ini lama-lama, trus kita lanjut baca lagi, kita nggak bakal kebingungan karena sibuk mengingat-ingat konflik sebelumnya apa. Seperti serial TV, konfliknya habis di setiap bab. Sayangnya, kadang-kadang ini bikin ceritanya juga kayak lompat-lompat, jadi nggak terlalu nyambung antar babnya.

Biarpun begitu, aku suka dengan penggambaran Louisa tentang emosi anak-anak itu, terutama menyangkut ayah mereka yang jauh di medan perang. Mereka sedih, tapi mereka bersikap positif dan justru memperkuat mereka untuk terus berusaha jadi anak-anak yang baik. Aku selalu suka penggambaran kesedihan dari sudut pandang yang optimis. Bener-bener melambungkan harapan tentang hidup! (Makanya, paling sebel sama acara dokumenter tentang kehidupan orang papa, tapi pembawa acaranya nangis dan backsoundnya pasti lagu-lagu sedih. Padahal, mereka bisa ngegambarin itu dari perjuangan dan semangat yang tetap orang-orang itu pikul. Indah, kan?)

Jujur aja, sebagai novel anak (mungkin lebih ke anak yang mulai remaja, karena penggambarannya tentang konflik dan pelajarannya cukup rumit juga untuk anak kecil), aku nggak (atau belum) menemukan kelemahan dari novel ini. Bukannya mencoba cari-cari kelemahan karya orang ya, tapi wow banget kalau bisa nemu karya yang sempurna!

 

#31HariBerbagiBacaan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s