“Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”

Pengarang : Soe Hok Gie

Pengantar : Prof. Dr. Ahmad Safii Ma’arif

Penerbit : Bentang

Tebal : 358 halaman (dengan 76 halaman daftar pustaka, pengantar, dan index)

 

 

Pas banget lagi tanggal 30 September, yaitu peringatan peristiwa pembunuhan jenderal-jenderal yang (katanya) dilakukan PKI, aku baca salah satu skripsi Soe Hok Gie tentang perkembangan PKI di masa pasca-proklamasi. Nah, aku niat banget posting hari ini jadinya. Tapi, sama sekali nggak menyangkut peristiwa G 30 S/PKI, ya! Minimal nyambung-nyambung dikitlah, masih soal PKI.

Pertama yang mau kubahas adalah pro-kontra soal PKI. Bahkan, sampai sekarang PKI udah nggak ada pun, orang-orang masih aja takut sama ‘hantu’ yang diciptain entah siapa. Apa lagi kepentingannya ngegunain nama PKI, aku nggak tahu. Tapi, aku pribadi sih, nggak percaya PKI bisa bangkit lagi, bekingannya siapa? Dan kalaupun iya, emang kenapa ditakutin? Politik zaman feodal yang penuh kekerasan kan, nggak mungkin hidup lagi di tengah masyarakat yang udah cerdas begini.

Nah, teralihkan. Balik ke resensi buku. Menurut pengantarnya, buku ini sebenarnya skripsi yang ditulis Soe Hok Gie tahun 1969, yang judul aslinya “Simpang Kiri Sebuah Jalan : Kisah Pemberontakan Madiun September 1948.

Sebelum masuk ke tulisan asli Soe Hok Gie, di sini nggak ada keterangan kalau ini karya asli tanpa editan (unaubridged atau aubridged version kalau istilah Inggrisnya, aku nggak tahu istilah Indonesianya apa), mending baca dulu pengantar dari Ahmad Safii Ma’arif. Yang aku lihat sih, ada sedikit pernyataan yang kontra-PKI, seperti deskripsi dia tentang pemuda-pemuda PKI yang ‘sok revolusioner.’ Ke belakang sih, pernyataan itu dikeluarkan juga dari Soe Hok Gie, aku ngerasa ini kurang baik buat karya ilmiah yang harusnya diminimalisir subjektivitasnya, walaupun mungkin nggak bisa 100%.

Buku ini sebenernya bukan tentang perjalanan PKI secara menyeluruh, tapi seperti halnya skripsi atau karya ilmiah, dia merupakan studi kasus dari satu fenomena khusus. Di sini, kasus yang mau diangkat Soe adalah tentang pemberontakan Madiun oleh Musso, salah satu fenomena sejarah yang banyak diungkit juga di buku-buku sejarah anak SMA. Dalam skripsinya, ia menganalisa sebab-sebab meletusnya pemberontakan Madiun yang memakan banyak korban jiwa itu.

Diawali tentang sekelumit kisah-kisah tokoh yang jadi pelopor perkembangan PKI di Indonesia, tentu saja termasuk pula Musso, yang disebut-sebut sebagai penggerak pemberontakan. Di sini disebutkan tokoh-tokoh besar di depan layar, yang mungkin udah sering kita dengar namanya, seperti Musso itu, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Amir Sjarifudin, dan lain-lain. D.N. Aidit malah kurang banyak disebut, mungkin karena D.N. Aidit masih generasi muda waktu itu.

Selanjutnya, Soe membatasi tulisannya dalam pergolakan internal di tengah-tengah PKI, dimulai dengan pecahnya PKI menjadi dua kubu, yaitu grup Alimin-Sardjono dan grup Tan Malaka. Dan dari perpecahan ini, PKI mulai mengalami kemunduran dari segi ideologis, yang berdampak pada situasi psikologis dalam tubuh PKI sendiri.

Adanya intervensi pihak asing dalam pemerintahan Indonesia, juga dengan Sjahrir yang bersikap kooperatif dengan asing, menimbulkan kekecewaan pihak-pihak yang menginginkan revolusi Indonesia, yaitu Indonesia yang merdeka seutuhnya. Kekecewaan ini ditambah-tambah dengan situasi politik PKI yang simpang-siur, dan akhirnya diletuskan oleh pembunuhan Kolonel Sutarto di Solo. Inilah cikal-bakal pemberontakan Madiun. Dari pelajaran yang kudapat dulu sih, otaknya itu Musso, tapi di buku ini, waktu pemberontakan Madiun, ditandai sama diproklamirkannya Pemerintah Fron Nasional (kayak kudeta terhadap pemerintahan, gitu), Musso sendiri justru lagi nggak ada di tempat. Belakangan, salah satu tokoh PKI, yaitu Soeripno, menjelaskan bahwa PKI nggak bermaksud untuk meletuskan pemberontakan, apalagi kudeta, karena petingginya sendiri justru lagi sibuk sama reorganisasi dan fusi partai PKI yang kepecah-pecah.

Ada beberapa teori soal ini, silakan baca sendiri ya, untuk lebih jelasnya.

Nggak seperti buku sejarah lainnya, tulisan Soe Hok Gie ini nggak digambarkan berdasarkan kronologis yang kaku, jadi kalau detail-detail kayak masuknya pengaruh komunisme di Indonesia dibawa sama siapa, dan kapan terjadinya, nggak disebutkan di sini. Soe lebih mementingkan situasi sosial dan psikologis yang menjadi dasar masuknya paham sosialisme-komunisme di Indonesia. Salah satunya ya, keinginan rakyat untuk mengubah situasi sosial-politik yang masih bernapaskan feodalisme.

Nggak hanya penjajahan Belanda, orang pribumi sendiri juga masih banyak menerapkan prinsip feodalisme. Kayak masih berlakunya sistem sewa tanah yang memberatkan tani, tukang ijon (semacam lintah darat), dan banyak lagi. Jadi, idealnya sih, ideologi sosialisme-komunisme ini menurutku indah banget, karena slogan mereka juga satu rasa, sama rasa. Artinya, dalam ideologi ini, nggak ada tuh, dominasi dari pihak kapitalis, jadi nggak ada kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat. Idealnya ini, lhooo…

Sayangnya, komintern nggak setuju kalau ajaran komunisme ini dicampuradukkan sama agama (ini yang bikin Tan Malaka jadi bersitegang sama komintern), sedangkan dogma agama di Indonesia itu kuat banget, akibat pengaruh para pendatang. Makanya, ketidakcocokan ini akhirnya jadi bumerang buat PKI, dimanfaatkan juga buat ngejatuhin pamor PKI.

Nah, pembicaraannya jadi ngarah ke politik, deh.

Sesuai dengan deskripsi pengantarnya, buku ini disajikan seperti “sebuah novel sejarah dramatis yang menegangkan,” emang Soe Hok Gie nggak melulu menggambarkan kronologis detik-detik pemberontakan ini dengan cara yang kaku. Soe juga memasukkan analisa kondisi psikologis pemuda yang kebingungan saat dihadapkan dengan ideologi politik PKI yang simpang-siur, contohnya Sjahrir yang banyak kompromi dengan kaum kapitalis dan pemerintah, bahkan Belanda sendiri (ini waktu muncul fasis Jerman, jadi semua negara bergabung melawan fasisme, termasuk juga PKI, yang bergabung dengan Partai Komunis di Belanda).

Kerennya sih, buku ini emang agak mirip novel, yang punya pola konflik-klimaks-antiklimaks, jadi kita bisa menikmati plot yang sama kayak kita waktu baca novel fiksi. Jadinya, asyik buat kita yang mau belajar sejarah juga. Bukan berarti, unsur kekakuan sejarah hilang ya, soalnya waktu baca buku ini kita bakal dihadapkan dengan berbagai nama, tanggal, dan tahun peristiwa. Juga, berbagai keputusan-keputusan belibet dari kongres-kongres serta rapat-rapat yang diselenggarakan PKI.

Sayangnya, buku ini rasanya dikhususkan sama pengamat politik aja, kurang bisa masuk untuk santapan orang awam atau yang buta-politik. Kalau dari skripsi Soe Hok Gie emang nggak ada penjelasan soal itu, wajar. Karena itu emang karya ilmiah yang pastinya punya istilah-istilah teknis sendiri yang udah dikenal sama kalangannya. Tapi, seharusnya Ahmad Safii, selaku pengantar buku ini, paham kalau buku ini bakal jadi santapan massal, jadi enaknya istilah-istilah teknis itu dikasih penjelasan (banyak istilah politik dan juga bahasa Belanda, bahkan ada teks dalam Bahasa Perancis, yang nggak diterjemahin). Dia ngasih pengantar sih, tapi menurutku nggak ngebantu, karena sifatnya malah mirip daftar pustaka. Padahal, yang diperluin itu detail peristiwa yang nggak dijelasin sama Soe Hok Gie. Misal, di halaman 56, ada peristiwa sabotase-sabotase kereta api, ada catatan kakinya, tapi cuma sumbernya aja yang ditulis, ringkasan kronologisnya nggak ada. Jadinya, yang nggak paham politik, kayak aku, jadi pusing dengan detail-detailnya.

Jadi, yang kurang dari buku ini sebenernya ya, pengantarnya. Kalau skripsi Soe Hok Gie sendiri, menurutku keren banget karena dia bisa menganalisa tuntas sebab-sebab meletusnya pemberontakan ini, dan juga lumayan objektif. Selain, satu kali dia nyebut-nyebut pemuda sebagai sok revolusioner, sih.

 

Catatan penulis :

Daaaan, gagallah resolusi untuk posting resensi buku ini pas tanggal 30 September… 😀

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s