“Pride and Prejudice”

img_20161003_201720

” PRIDE AND PREJUDICE ” 

 

Pengarang : Jane Austen

Penerbit : Wordsworth Classics

Tebal : 325 halaman

Tahun : First published 1993, new introductions and notes added in 1999, illustration added in 2007 (jadiii??? ^^;)

 

 

Walaupun udah lama aku mendengar karya Jane Austen, Pride and Prejudice, terutama karena sering banget diangkat ke film, aku belum pernah membaca karya satu ini. Dulu-dulu aku nggak pernah tertarik sama karya klasik. Ya, karena pengetahuan tentang sastra kurang banget, apalagi sastra impor.

Kebetulan, aku baca buku ini dengan bahasa aslinya, bahasa Inggris. Itu udah bikin pusing. Ditambah lagi, Inggrisnya itu versi British punya, yang bahasanya berbeda dengan bahasa Inggris “USA” yang lebih familiar sehari-hari. Misal, Austen memakai handsome untuk menggambarkan wanita cantik, fine eyes dengan arti yang kurang-lebih sama, matrimony, dan lain-lain.

Berawal dari penggambaran situasi keluarga Bennet, sepasang suami-istri dengan lima anak, di wilayah pedesaan bernama Herthfordshire. Sang ibu, Mrs.Bennet, begitu terobsesi untuk menikahkan anaknya, jadi ia ribut saat seorang pria single-kaya, berpenghasilan £5,000 per tahun, datang ke desa mereka. Ia memaksa suaminya untuk mengenalkan diri dalam upaya memperkenalkan kelima putrinya kepada sang bujangan, bernama Mr.Bingley.

Di kata pengantar, perhatian pertamanya itu terpusat pada kalimat pertama yang disuguhkan Austen, yaitu “It is truth universally acknowledged, that a single man in possession of a good fortune, must be in a want of wife.” (Kebenaran yang sudah diketahui secara universal bahwa pria lajang berpenghasilan tinggi pasti menginginkan seorang istri) Denger ini, aku setuju juga sama penggambaran dari si pengantar kalau kalimat itu unik, karena berkebalikan dengan kepercayaan umum pada era itu, dimana justru cewek yang berkeinginan menikahi pria kaya. Di sini juga aku belajar kalau kalimat pembuka dalam novel itu nggak boleh asal-asalan. Epik, deh!

Nah, barulah Austen menjelaskan, bukan dengan gamblang, tapi lewat dialog keluarga Bennet tentang Mr. Bingley dan Mr. Darcy, dua pria berpenghasilan sangat besar, baru saja membeli rumah Netherfield (kalau di Inggris, setiap rumah punya nama). Dua pria ini sifatnya berlawanan banget. Mr. Bingley yang ramah dan supel, Mr. Darcy malah sebaliknya, kelihatan angkuh dan nggak mau bergaul dengan sekitarnya.

Mrs. Bennet, ibu dari lima anak perempuan keluarga Bennet, langsung buru-buru memperkenalkan anak-anaknya kepada dua lelaki yang disegani ini, dengan harapan salah satu atau keduanya akan jatuh cinta pada anak perempuannya yang mana saja. Belakangan, Jane Bennet, anak perempuan tertua keluarga Bennet, jadi dekat dengan Mr. Bingley. Sebaliknya, Elizabeth Bennet, yang lebih akrab dengan panggilan Lizzy, jadi membenci sahabat lelaki itu, Mr. Darcy, karena kesombongannya. Nggak hanya Lizzy, hampir semua warga desa menumbuhkan prasangka jelek pada Mr. Darcy.

Prasangka itu diperkuat oleh cerita seorang prajurit militer Inggris berpangkat rendah, Mr.Wickham. Berdasarkan cerita dari bibirnya, Mr. Darcy telah mengabaikan keinginan Mr. Darcy senior untuk mewariskan sebuah tempat tinggal (kayak semacam gereja dan dia jadi pastur) untuknya, membuat pria itu terkatung-katung jadi prajurit militer yang miskin. Kebencian Lizzy semakin menjadi. Sedangkan, ikatan perasaan Jane dan Mr.Bingley justru semakin menguat.

Mrs. Bennet berkali-kali mengucapkan rasa bahagianya karena Jane menuruti keinginan ibunya untuk mendekati Mr.Bingley. Biarpun begitu, sepucuk surat datang dari Miss Bingley, mengabarkan bahwa mereka memutuskan untuk meninggalkan Hertfordshire, bahkan mengungkapkan bahwa ia menginginkan adik Mr.Darcy untuk menjadi adik iparnya! Harapan Mrs.Bennet pupus di tengah jalan. Dan mereka semua berniat untuk melupakan keberadaan kedua pria tersebut.

Apa yang terjadi selanjutnya, baca sendiri, deh! Biar bener-bener meresapi kisahnya.

Cerita ini, walaupun bertema romansa, menampilkan banyak hal lain selain percintaan antara dua insan. Di dalamnya, terdapat sindiran dan sarkasme atas pandangan umum kala itu tentang pernikahan dan wanita. Seperti salah satu kutipan oleh Mr. Darcy kepada Miss Bingley, “A lady’s imagination is very rapid; it jumps from admiration to love, from love to matrimony, in a moment.” (“imajinasi wanita sangat cepat, bergerak dari kekaguman kepada cinta, dari cinta kepada pernikahan, dalam sekejap.”) Juga, dimana satu-satunya masa depan buat perempuan itu cuma menikah. Ini diperkuat dengan karakter Mrs. Bennet yang tujuan hidupnya cuma satu, yaitu menikahkan kesemua putrinya dalam sekejap.

Tidak hanya itu, pada zaman dimana setting cerita terjadi, wanita juga diharapkan mempunyai satu skill yang sama; melukis, bermain pianoforte (piano zaman baheula), berdansa, dan menyepikan diri di rumah hingga kakaknya menikah. Ditunjukkan dari dialog antara Lady Catherine de Buorgh, tantenya si Mr. Darcy, dengan Lizzy, ia bertanya tentang keahlian ini kepada Lizzy dan secara terus-terang menyatakan bahwa ia terkejut dengan tidak adanya saudara Lizzy yang melukis dan fakta bahwa mereka bergaul di luar rumah sebelum kakaknya menikah.

Jane Austen juga menunjukkan humor-humor yang cerdas lewat dialog-dialog sarkastis yang dilontarkan Lizzy. Karakter ini sendiri menunjukkan bahwa Austen mencoba mendobrak pandangan lama tentang pernikahan dan wanita. Aku bisa bilang kalau ini adalah salah satu karya yang mempromosikan kemajuan wanita di tengah-tengah masyarakat melalui karakter Lizzy, yang sama sekali beda dengan gadis umumnya pada zaman itu.

Yang aku suka dari romantisme yang disuguhkan Austen adalah adegan-adegan manis, tapi nggak cheesy, kayak waktu Lizzy menginap di rumah Charlotte, temennya yang baru aja menikah dengan sepupunya, Mr. Darcy, selalu muncul. Membuat Lizzy bertanya-tanya. Apalagi kecanggungannya, dimana dia menemani Lizzy jalan-jalan, tapi dia nggak banyak bicara, kebanyakan diam. Atau mengunjungi Lizzy di rumah Charlotte, tapi dia cuma bisa duduk. Lizzy sampe kebingungan, haha! Sesuai sih, sama seleraku. Nggak penuh kata-kata romantis yang kadang-kadang bikin malu sendiri dengernya.

Nah, sebaliknya, buatku kekurangan novel ini ada pada dialognya. Kebanyakan emang aku nemu ini di novel-novel klasik, sih. Dialognya panjang-panjang dan kadang bikin capek juga bacanya. Rasanya dalam dialog itu semua harus dijabarkan dengan detail, padahal menurutku sih, nggak perlu-perlu amat. Overall, aku tetep suka karena di balik dialog itu emang banyak diselipkan pandangan-pandangan Austen sendiri soal situasi sosial wanita kala itu.

Namanya juga novel klasik ya, nggak mungkin bertahan dan jadi klasik kalau nggak menarik. Jadi, bener-bener novel ini recommended, apalagi buat penyuka romance yang nggak kebanyakan mengumbar kata-kata romantis yang saking manisnya jadi rada eneg. Hehe…

 

#31HariBerbagiBacaan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s