“The Count of Monte Cristo”

img_20161006_170725

 

Pengarang : Alexandre Dumas

Penerbit : Wordsworth Classics

Tahun : Text 1997 ; Catatan 2002

Pengantar dan catatan : Keith Wren

Tebal : 894 halaman (dengan catatan 17 halaman)

 

 

Buku paling tebal yang pernah kubaca! Saingannya mungkin Rose Madder oleh Stephen King dan Harry Potter and the Goblet of Fire oleh J.K. Rowling. Aku sendiri nggak tahu mana dari mereka yang paling tebel, yang pasti buku dari Alexandre Dumas ini mencapai 800-an halaman! (Harry Potter and the Goblet of Fire sampe 1000-an, ya?)

Aku tahu buku ini udah lama, dari waktu SMA, sekitar tahun 2001/2002. Direferensiin temen, yang bilang buku ini bagus (dan buku ini akhirnya difilm-in sekitar tahun 2002? Lupa tahunnya). Dan waktu itu, aku juga dipinjemin. Dan emang bener-bener bagus! Saking bagusnya, aku jadi pengen baca lagi dan pengen punya sendiri. Akhirnya, tahun 2015, aku bener-bener beli buku ini.

Yang paling aku suka di sini adalah alurnya yang rumit, muter-muter, belibet, tapi kerennya semua jadi masuk akal kalau udah baca keseluruhan cerita. Jadi, bagi yang suka konflik, buku ini bagus banget.

Masuk ke sinopsis dulu, ya. Awalnya, diceritain tentang pemuda sempurna, yang rasanya nggak mungkin ada di dunia ini! Edmond Dantѐs, awak kapal yang disukai kolega dan atasannya. Karena dia cekatan dan terampil, pemilik kapal berencana menjadikan dia kapten kapal. Udah gitu, ganteng pula! Menambah deretan kesuksesannya, dia bertunangan dengan perempuan yang terkenal kecantikannya di salah satu kota pelabuhan di Perancis itu, Mercedes. Ya, nggak heran dong, ada aja laki-laki lain yang iri sama kesuksesannya itu.

Satu, saingannya dalam berebut profesi kapten kapal, Danglars. Kedua, laki-laki yang juga mencintai Mercedes, yaitu Ferdinand. Dan hal itu diketahui oleh Danglars, yang berniat menjatuhkan Dantѐs. Kondisi Ferdinand yang patah hati, dan juga lemah hati ini orang, dimanfaatkan Danglars untuk memfitnah Dantѐs sebagai pemberontak Napoleon. Persekongkolan naif ini (naif buat si Ferdinand yang sebenernya pengecut, ya!) disaksikan oleh Caderousse, pemilik rumah sewa Dantѐs dan bapaknya (ibu Dantѐs sudah meninggal). Dia nggak setuju, dan sebenernya cukup suka sama si Dantѐs, tapi dia sama pengecutnya sama Ferdinand, jadi dia bungkam, membiarkan Dantѐs ditangkap.

Untuk paham soal cerita ini, nggak ada salahnya baca Sejarah Perancis, waktu pemberontakan Napoleon Bonaparte terhadap Louis XVI, karena cerita ini sedikit membahas kondisi politik waktu itu. Kalau di buku yang aku baca dari Wordsworth Classics ini, ada pengantarnya, jadi penjelasan tentang nama-nama dan suasana politik Perancis waktu itu, dijelasin dengan lengkap. Termasuk, tentang terjemahan buku itu yang satu-dua nggak cocok dengan si pengantar. Lengkap banget deh, pengantarnya!

Singkat kata, karena keculasan si Danglars ini, Dantѐs ditangkap, yang tragisnya nih, waktu pesta pernikahan dia dengan Mercedes. Pada era dimana setting cerita terjadi, suasana politik lagi kacau dan Louis XVI menangkapi orang-orang yang dituduh sebagai anggota pemberontak tanpa pengadilan! Dimana-mana ada aja, ya!

Di tengah kebingungannya, Dantѐs bertemu dengan salah satu jaksa yang menangani kasusnya, yaitu Villefort. Waktu menemui Dantѐs, di selnya, Villefort berjanji untuk mengusut kasusnya, karena Dantѐs merasa nggak bersalah. Sayangnya, Villefort punya masalah sendiri. Walaupun dia sangat ambisius untuk mempertahankan jabatannya di pemerintahan, ayahnya sendiri malah anggota pemberontak Bonaparte. Dan karena itu, untuk menutup-nutupi hal itu, Villefort memilih untuk membiarkan Dantѐs yang masuk penjara dan menghancurkan surat yang menyatakan tuduhan bahwa Dantѐs adalah pemberontak.

Villefort membiarkan Dantѐs dihukum dalam penjara politik (kayak penjara isolasi di bawah tanah, gitu) seumur hidup.

Dantѐs hampir saja membiarkan dirinya mati, memprotes keputusan itu dengan cara mogok makan. Namun, beberapa hari, saat ia berbaring, ia dengan jelas mendengar suara gesekan logam dengan batu. Ia yakin ada yang mencoba melubangi dinding penjara. Dia memperoleh semangat hidupnya lagi dan bertemu dengan salah seorang pendeta tua dari Italia, Abbѐ Faria, yang mengajarkannya banyak hal.

Dalam setahun saja, nggak hanya Dantѐs berhasil menyerap semua ilmu dari si pendeta tua itu, Abbѐ Faria juga memberitahukan rahasia tentang harta karun di bawah laut. Rahasia umum tepatnya kali ya, soalnya dia udah berusaha meyakinkan orang-orang yang mendatangi dia di selnya, mencoba memanfaatkan cerita itu untuk menebus kebebasannya. Ia memaksa Dantѐs untuk percaya padanya, dan mencari jalan agar Dantѐs bisa memperoleh harta itu.

Tentu saja, pertama-tama, dengan cara mengusahakan agar Dantѐs bisa kabur dari penjara terpencil yang dikelilingi samudera luas itu.

Well, sampai di sini. Kalau penasaran, ya baca bukunya. Buatku, buku ini nyaris sempurna. Kenapa kubilang nyaris? Pertama, karena buku ini tebel, liatnya aja udah suka males bukanya, kan? Tapi, percaya deh, begitu mulai baca, nggak bakalan nyesel dan betah berlama-lama. Karena konfliknya seru.

Mungkin buat orang yang nggak suka konflik muter-muter, bisa susah juga suka sama buku ini, karena emang, seperti halnya novel klasik, konfliknya emang suka dibikin panjang. Apalagi si Alexandre Dumas, setahuku sih, bukunya tebel-tebel. Apalagi, kalau nggak suka politik, ya. Salah satu konfliknya juga memuat konflik politik, sih. Tahu kan, ribetnya skenario politik?

Aku yakin, sepanjang baca buku ini, pasti ada saat kening kita dibikin berkerut pas baca di tengah-tengah.Jadi mikir; kok, ceritanya loncat ke sini, trus cerita ini apa hubungannya sama cerita si Monte Cristo, dan lain-lain. Percaya deh, baca terus ceritanya. Karena semua konfliknya jadi masuk akal begitu kita baca sampai habis. Dan ini yang bikin aku bilang “ini buku keren!” Dengan konflik rumit itu, bisa aja Dumas membuatnya masuk akal. Dan semuanya ketemu di tengah-tengah.

Pesan moral dari buku ini sebenernya cukup sederhana, tapi karena endingnya juga dieksekusi dengan baik dan mencengangkan, pesan yang ingin disampaikan penulis jadi ngena banget. Oya, endingnya bukan ending twist kayak yang lagi tren sekarang, tapi bisa dibilang, bukan ending yang juga gampang ditebak. Artinya, endingnya sih, standar banget, tapi eksekusi dan alurnya sama sekali nggak standar.

Sedikit spoiler, tema buku ini tentang pembalasan. Well, aku nggak bilang ini tentang balas dendam, karena semua tokoh rata dapet pembalasan. Yang baik-baik dapet pembalasan berkali lipat atas kebaikannya di masa lalu, yang jahat-jahat juga dapet sanksinya. Caranya juga bukan kayak di film India-India itu, nerobos markas musuh, trus membabi buta menyerang musuh-musuhnya, tapi dengan cara yang buatku intelek banget. Jadi, kalau mengharap buku ini penuh pertempuran, kamu bakal kecewa.

Akhir kata, buku ini kompleks. Dengan rasa sakit hati, dendam, cinta, sampai kompleks rasa bersalah. Lika-liku konflik masing-masing tokoh, yang ada buanyak itu, juga diceritakan dengan detail. Ngebuat semua tokoh jadi manusiawi, walaupun karakter jahat tetep nyebelin. Hehe…

Kesimpulan : wajib baca kalau yang satu ini, deh!

#31HariBerbagiBacaan

 

Advertisements

2 thoughts on ““The Count of Monte Cristo””

  1. mbak winda, baru bisa komentar. 😀

    Konflik politik itu emangs eru kalau di film. Hahaha. Biar nggak kelamaan bacanya. tetapi aku gak pernah sih mbak baca novel politik. Hahaha. bacaanku dangkal. -_-

    Konflik politik semacam ini pasti alurnya lambat kan mbak? seprti karyanya Pram. Dan aku pasti butuh waktu lama membacanya. tetapi kayaknya perlu sih membaca novel semacam ini biar pikrianku yang dangkal juga kebuka.

    1. Selera masing2 veeerr… kebetulan aja aku kena doktrin pas kuliah jd suka satire dikit. Tp klo count of monte cristo gak tentang politik bgt. Jadi di tengah2 dramany ada diselip2in soal politik. Jd gak melulu politik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s