Perbedaan Itu Indah Nggak, Ya?

Baru aja beberapa hari yang lalu, aku main ke rumah saudara. Dan aku kaget. Anak-anak kecil, kalo aku nebak-nebak kisaran umurnya itu sekitar 5-10 tahun, pada main juga ke sana. Yang bikin aku kaget bukan anak-anak kecil main ke rumah temennya, tapi semuanya pada pake jilbab! Trus, aku nanya ke saudaraku, “ini anak-anak di kompleks sini semuanya pake jilbab?” Dan jawabannya, iya. Wow!

Akhir-akhir ini, fenomena ini mulai timbul di kalangan Umat Muslim. Dimana semua pola pikir harus dibuat seragam. Contohnya aja, cewek harus berjilbab, karena itu perintah Allaah SWT. Jadilah, seperti fenomena di satu kompleks itu, semua anak ceweknya dijilbabin. Dan bagi Umat Muslim yang meyakini soal perjilbaban ini, mereka jadi senang. Sampai-sampai aku melihat mereka merasa ini juga jadi kemenangan pribadi mereka. Mudah-mudahan aku salah, ya!

Ada satu waktu dimana aku pikir perbedaan itu indah. Makanya, kalau kita jadi berbeda-beda sifat atau apapun yang kita pilih, menurutku itu indah. Namun, belakangan aku jadi mikir apa sih, bedanya ‘perbedaan’ atau ‘persamaan’ itu?

Itu jadi masalah kalau perbedaan atau persamaan jadi mutlak. Jadi harus. Kadang-kadang demi mencapai itu, dibuatlah propaganda besar-besaran, almost dan mostly-lately kasar, atas nama persamaan. Ini nggak aneh, tapi ada juga yang berbuat itu atas nama perbedaan. Nah, ini yang aneh. Kita menganggap perbedaan itu indah, begitu ada orang yang memilih jadi sama, which is, beda sama pandangan kita, kok kita malah sewot? Jadi sama anehnya sama orang yang mempropagandakan persamaan, dong! Nah, agen propaganda “kembaran” ini juga lagi tren banget. Semua harus dibuat seragam. Kalau nggak, pasti dianggap salah. Lucunya, mereka nggak mau denger alasan macem-macem, telinga mereka disumpal kuat-kuat, mungkin takut keyakinan pribadi goyah.

Gawatnya, kalau agen-agen perbedaan mengancam atas nama individualitas, yang lainnya mengancam atas nama normatif. Whew! Manusia-manusia sekarang doyan banget ngancam-ngancam orang!

Misal, saking mengagungkan perbedaan, maka ada yang bilang, orang-orang yang maunya sama aja itu artinya nggak punya kepribadian, nggak punya karakter. Buatku, ini ancaman secara halus, supaya mereka yang sedang dijaring juga bisa jadi manusia yang “berbeda”. Jadi berbeda, atau biar jadi punya pola pikir yang sama dengan yang ngacem, ya? :p

Lain kasus lagi, yang menginginkan persamaan terang-terangan bilang, kalau nggak sama, berarti melanggar norma. Entah norma persahabatan, seperti fenomena baju kembaran. Kalau nggak kembaran, berarti nggak kompak! Lah? Dalam skala lebih besar, ancamannya langsung ke surga-neraka, nggak tanggung-tanggung! Kayak contoh yang tadi, kalau anak cewek nggak pake jilbab, masuk neraka, lho! Lah, situ Tuhan, bisa bikin keputusan kayak gitu? Bukannya itu hak Tuhan, ya? Hati-hati lho, masuk neraka… :p (sendirinya ngikut ngacem-ngancem)

Ini fenomena apaan, sih? Sifatnya masif dan sistematis banget, lho! (Ciyeeee, yang ngikut berita Jokowi-Prabowo, jadi kenal istilah ‘masif’ dan ‘sistematis’! Haha!)

Lagi-lagi, ternyata ujungnya sama aja, yaitu konformitas sosial. Buat yang mungkin baru denger, konformitas itu adalah sifat yang mau ikut-ikutan aja. Apapun alasannya, pada akhirnya, yang kita ikutin itu adalah lingkungan sosial kita. Kita memutuskan untuk jadi beda dan liberal dan apalah namanya, kalau itu dilakuin karena ada temen yang kita percayai omongannya bilang gitu, itu artinya kita sedang melakukan konformitas. Kita nggak melakukan perbedaan karena pada dasarnya kita juga cuma nyama-nyamain dia.

Yang diancam atas dasar surga dan neraka juga sama. Sementara, kita mikir kita itu sedang bertaqwa kepada Allaah SWT, pada dasarnya ujung-ujungnya kita cuma ngikut apa kata orang lain, yang notabene juga manusia. Apa kata ustadz, kita ngikut. Apa kata partai, kita nurut… Partai apa? Tebak sendirilah!

Langsung ada yang mikir: Itu kan, berdasarkan Al-Qur’an?! Ya, emang kata-katanya sih, berdasarkan Al-Qur’an, tapi tetap diinterpretasi oleh manusia. Tahu kan, berapa macam mazhab di dunia ini, yang mengatasnamakan Islam? Dan tahu kan, interpretasi masing-masing dari mereka bisa beda-beda? Nah, ujung-ujungnya kita cuma memilih salah satu dari sekian mazhab untuk kita ikuti. Artinya, kita lagi manut pada sekelompok orang yang jadi lingkungan sosial yang kita pilih. Artinya, kita emang sedang praktek konformitas juga.

Fatalnya, semua ini terjadi di permukaan layar media sosial. Dalam dunia media sosial, identitas kita itu tertutupi. Bukannya tertutupi secara total, tapi kita yang ngerasanya identitas kita tertutup. Ini namanya perasaan anonimitas. Nah, perasaan kalau kita “tanpa identitas” ini yang bikin semua pola emosi dan pola pikir yang tadinya kita tutup-tutupin, keluar tanpa malu-malu atau ragu atau takut. Semua yang (hampir) nggak mungkin keluar kalau kita lagi bertatap muka secara langsung sama lawan bicara dalam dunia nyata.

Ini namanya deindividuasi. Dimana sikap moral kita turun drastis karena kita ngerasa nggak bakal kena hukuman dari perilaku kita. Kalau kita berhadapan langsung sama orangnya, trus kita ngomong kurang ajar, bisa aja kita langsung dibentak-bentak atau ditonjok sekalian. Beda kan, sama di medsos? Paling banter kita bales-balesan ngetik kata-kata kurang ajar. Ngebaca caci-maki yang diketik sama caci-maki berupa bentakan yang kayak badai itu pasti beda banget rasanya.

Diperparah lagi dengan agen-agen provokasi. Nggak tahu apa tujuannya, target yang dia mau, selalu ada agen-agen yang pertama kali bikin ricuh. Bisa jadi sekadar pengen liat drama lanjutannya (kali dia hobi sinetron, kan) atau mungkin punya kepentingan kampanye politik (yang paling heboh orang saling caci-maki itu kalau udah deket pemilu, mau pilpres, mau pilgub, sampe pilkada, ah mulai deh, kelihatan rusuhnya!)

Makanya, di dunia medsos itu, mental-psikologis kita yang sebenernya diuji. Semua perbedaan yang tadinya malu-malu diungkapin di dunia nyata, akhirnya keluar, kadang-kadang tanpa filter. Perasaan pertama yang biasanya bakalan muncul adalah ‘tidak nyaman’ dan ‘merasa diserang.’ Yang “diserang” sebenernya bukan ideologi dan/atau keyakinan kita, tapi rasa aman. Rasa aman di tengah dunia yang kita tahu dan, sadar atau nggak sadar, sudah kita bangun selama ini. Kalau kita merasa nggak aman, jelas kita akan memproteksi diri. Akhirnya, muncullah berbagai bentuk defense mechanism (lebih jelasnya baca teori Sigmund Freud, rada jadul, tapi masih relevan kalo soal ini).

Defense mechanism itu bisa berupa pengucapan kata-kata kasar, mudah tersinggung, yang menolak sama sekali untuk dikritik atau bahkan cuma komen yang nggak sesuai dengan pikiran kita. Bisa juga dengan black campaign, menjelek-jelekkan orang yang mengkritik supaya kita dapet pendukung. Bisa juga dengan menarik diri/withdrawal, jadi nggak mau bales komen, nggak mau berpendapat, nanti kalau udah di tengah-tengah pendukung, baru deh, dibahas panjang-lebar. Malah sampe ngomongin orang yang pendapatnya nggak disukai, macam-macam ibu-ibu RT ngerumpi gitulah. Sayang, nggak ada lagi bedanya cowok dan cewek dalam masalah ini.

Jeleknya, intoleran terhadap perbedaan bikin orang bisa putus silaturahmi sama orang lain. Bisa benci sama teman atau saudara, nggak pandang bulu, cuma karena mereka beda. Sedih, ya! Bagusnya, fenomena ini bisa nunjukin siapa sebenernya yang bijak, siapa yang selama ini cuma pura-pura bijak. Jadinya, lebih gampang pilah-pilih temen. Karakter orang Indonesia, ambillah hikmah dari setiap situasi. Dan kalau situasinya jelek, nggak usah kritik siapa-siapa, manut dan nrimo aja. Makanya, gampang diinjek-injek investor asing. Uuupps! Bias alert!

Sekarang, aku juga nggak lagi punya motto perbedaan itu indah, karena aku baru sadar kalau nggak ada yang berbeda. Orang-orang cuma punya “golongannya” masing-masing. Dalam golongannya, ya mereka sama, nggak ada bedanya. Jadi, istilah perbedaan itu muncul lagi-lagi hanya demi membela kepentingan kelompok.

Maksudnya, di dunia nyata, apa kita pernah mempermasalahkan orang pake baju hitam dan orang pake baju putih? Nggak, kan? Boro-boro, merhatiin aja nggak!

Advertisements

3 thoughts on “Perbedaan Itu Indah Nggak, Ya?”

  1. Bener mba, boro-boro bedain. Merhatiin juga kagaa, ahaha. Btw kaya Eminen aja klo gue mba,

    “if you’re black, white, straight, bisexual, gay, lesbian, short, tall, fat, skinny, rich or poor. If you’re nice to me, I’ll be nice to you.” Biar bijak heheee

    1. Eminem emang keren, aku juga suka #nahgagalfokus

      buat org2 tertentu emang susah ngadepin perbedaan sih, soalnya itu kan merusak zona nyaman mereka. wajar kalo jadinya mereka mauny dunia ini isinya org2 yg sama pikiranny sm mereka. tp kan mana mungkinlah, manusia itu kompleks.

      dan butuh orang2 yg bermental baja (alias punya prinsip egp = emang gue pikirin haha) buat ngadepin perbedaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s