“Easy A”

 

Watch Out! I think it’s Full of Spoiler!

 

Nah, jujur aja. Udah lama sejak kali pertama aku nonton ini. Udah sering juga. Hehe. Tiba-tiba, malem ini aku jadi kepikiran lagi nontonnya. Dan aku nggak menyesal.

Aku mau jelasin dari awal tentang positifnya film ini. Aku tahu tulisan resensi ini panjang banget, sih. Jadi kalau males baca, tetap bisa tertarik nonton ini. Yang hebatnya, ini film remaja, tentang anak SMA. Kalau kita bicara tentang film anak SMA, yang kepikiran pasti adegan-adegan penuh kegalauan dan kelabilan anak remaja tentang cinta dan persahabatan. Yak bener, film ini juga menyangkut hal-hal begitu, tapi diceritakan dengan cara yang menurutku unik, dan itu membuatnya jadi luar biasa.

Itu bukan hiperbola.

Kenapa aku bilang luar biasa? Karena film ini ternyata mengupas secara mendalam sisi gelap remaja SMA. Bahkan, sampai sistem pendidikannya. Semuanya dirangkum lewat lelucon-lelucon ringan yang nggak bikin pusing, tapi ngena banget. Mau tahu sampai mana dia madetin analisanya? Yak, sampai ke bahasan sastra.

Mungkin kalau kita denger ini, kesannya ini film padet konflik banget. Tapi, nggak, lho. Karena, seperti yang aku bilang analisa-analisanya dikupas lewat lelucon, kadang-kadang cuma sepintas lalu. Jadi, kalau bisa, perhatiin baik-baik dialognya.

Disutradarai Will Gluck (yang juga sutradara film Friends with Benefits), Olive (Emma Stone), anak SMA yang nggak populer, pinter dan cenderung nerd. Punya temen cuma satu orang, Rhi (Alyson Michalka), itupun yang nggak tahu cara menghargai dia sebagai temen. Sejauh ini, biasa aja, sampai dia dipaksa temennya itu untuk nemenin si temen kemping di waktu weekend sama orang tuanya yang Olive anggap aneh. Semacam kaum nudis-vegetarian-back-to-nature gitu, deh. Kayak semacam hippie di film Wanderlust (filmnya Jennifer Aniston, nih).

Cuma buat menghindari bujukan yang memaksa itu, Olive berbohong kalau dia sudah punya janji kencan dengan mahasiswa. Ini yang membuat hidupnya mulai berubah arah. Begitu hari Senin tiba, dan dia ketemu temennya lagi, dia dituduh telah kehilangan keperawanannya. Karena temennya ini super maksa, Olive akhirnya memilih untuk berbohong kalau dia emang melakukan seks sama teman kencannya, yang sebenernya fiktif. Padahal, dia ngabisin waktu weekend-nya di rumah seharian.

Lebih parahnya, waktu dia menceritakan pengalaman seks pertamanya yang fiktif itu, ada orang lain yang denger, siswi SMA yang paling teladan di seluruh sekolah, Marianne (Amanda Bynes). You know, anak yang ikut OSIS, yang ikut perkumpulan agama, yang taat banget sama agamanya dan sibuk orasi untuk mengembalikan keshalehan siswa-siswi lainnya, bahkan dia magang di kantor administrasi sekolah. Karena itu, dia menjadikan Olive sebagai proyek baru untuk mengembalikan Olive “ke jalan yang benar.”

Sayang, caranya terlalu ‘radikal.’ Dia menyebar gosip ke seluruh sekolah tentang Olive yang kehilangan keperawanannya, memberikan Olive sanksi sosial, sehingga dipandang setengah mata sama siswa-siswi lainnya. Kesel, Olive bener-bener menantangnya dengan berpakaian minim dan seksi.

“Agen-agen” Marianne, si anak shaleh, bahkan menyindirnya dalam satu kelas. Yang bikin dia ngebales kata-katanya dengan kata kotor, yang membuat dia dikirim ke ruang kepala sekolah. Kejadian ini ngebuat dia kenalan dengan Brandon (Dan Byrd), yang juga dihukum karena berkelahi. Brandon ini gay dan karena itu, sering banget di-bully sama siswa lain. Hal ini membuat mereka bekerja sama, berpura-pura melakukan hubungan intim. Niatnya Olive nih, biar Brandon nggak dituduh gay lagi dan mereka sama sekali nggak berhubungan, karena Brandon emang gay.

Gosip soal Olive makin mencuat. Dan parahnya, ada temen-temen Brandon yang tahu soal kebohongan itu dan malah ngajak dia kerja sama supaya mereka dapet popularitas karena pernah “bersama” dengan Olive, yang udah jadi tenar banget di sekolah. Olive resmi dapet julukan “pelacur” di sekolahnya.

Sejak itu, Olive selalu jadi kambing hitam, bahkan disalahin pas ada siswa yang terjangkit chlamydia, semacam penyakit kelamin gitu. Padahal, Olive murni sama sekali nggak bersalah. Malah, dia rela dipersalahkan dan dibenci buat menolong orang-orang di sekitarnya. Contoh lain lagi, siswa yang terjangkit penyakit itu ternyata tertular dari guru BP-nya dan Olive membiarkan gosip tentang dia yang menularkan chlamydia itu supaya gurunya nggak dipecat. Wah, gimana cara Olive menyelesaikan masalah yang belibet itu?

Eng…nonton sendiri, ya!

Ceritanya kedengeran rumit, ya? Tapi, harus nonton, karena pengemasannya asik, dan nggak capek buat diikutin. Aku pikir tadinya malah film ini lumayan sederhana, sampai aku sadar kalau setiap dialognya ternyata punya arti sendiri.

Misal, satu kali Olive dipanggil ke ruang kepala sekolah (ini artinya kesalahan murid udah parah banget, kalau di Barat. Kalau di Indonesia mah, kepsek malah dateng siang, pulang duluan, ya. Hehe, masih begitu nggak, sih?). Di adegan ini, kepseknya terlihat otoriter dan bilang. This is public school. If I could get the girls out of pole and get the boys out of the pipe, I got bonus (menjauhkan siswi dari tiang (refer to stripper) dan siswa dari rokok/narkoba, aku dapet bonus). Jelas-jelas ini sindiran terhadap sistem pendidikan kuno yang mengacu pada kurikulum pemerintah, yang menekankan otorita guru dan sekolah.

Tapi, yang bikin film ini strike banget adalah Marianne dan koloninya. Aku melihat kondisi ini sedang terjadi di Indonesia. Di film ini, Marianne sengaja menyebarkan gosip, memfitnah, bahkan mencaci-maki Olive hanya karena dia mau Olive kembali ke jalan yang “benar.” Inget Ahok dan pendukung muslimnya dan FPI? Nggak hanya itu, Marianne bahkan ‘merekrut’ teman dekat Olive, yaitu Rhi. Mirip banget sama yang terjadi sekarang, pihak yang tadinya netral -kelewat netral malah- belakangan jadi shaleh banget. Dan jadi sama radikalnya. Hmm…

Kenapa aku analogikan dengan itu, perlu aku jelasin, Rhi ini beneran cewek yang hobi berhubungan intim. Di salah satu dialog disebutkan kalau dia pernah berhubungan dengan laki-laki di belakang Bed, Bath, and Beyond (nama toko besar yang jual perlengkapan rumah di Amrik sana). Lucunya, Bri yang kayak gitu, tiba-tiba gabung sama Marianne, mendemo Olive agar dikeluarkan dari sekolah (wow, yang katanya temen baik, nih!), bawa-bawa surat dari Alkitab, layaknya siswa shaleh lain. Hmm, aku agak teringat sesuatu tentang perpecahan yang sekarang lagi terjadi di Indonesia, atas nama agama.

Dan lagi, ada juga sentilan lain tentang orang shaleh di film ini, dimana dilihatin kalau seorang pastur (kebetulan ayahnya Marianne) menonton webcast (semacam nyiarin video live lewat online), sedangkan Olive sudah membuat seakan-akan kalau webcast itu berbau pornografi. Jadi, dia mengharapkannya (kebukti dia kesel pas ternyata cuma ada video si Olive-nya bicara doang tanpa ngelakuin apa-apa).

Film ini ringan, banyak humor yang bisa bikin ketawa, dan sinematografinya cerah berwarna terang. Mengesankan film ceria tentang anak SMA. Tapi, semua yang ada di baliknya itu adalah sisi kelam kehidupan anak SMA. Mulai dari Olive yang jadi sasaran gosip. Kasus bully pada Brandon yang nggak ditangani dengan baik oleh sekolah (kepsek malah menghukum Brandon dan nggak menghukum ‘lawan berantem’-nya Brandon, what the hell?!). Murid teladan dan disukai guru-guru justru menjatuhkan rekannya sendiri. Trus, guru BP yang akhirnya mengorbankan anak muridnya supaya dia sendiri aman.

Untunglah dengan menghadapi sisi kelam itu, ada orang tuanya yang baik, non-judgemental, dan humoris. Mereka bahkan nggak memaksa Olive untuk cerita apa yang terjadi, membiarkan Olive memutuskan sendiri apa yang dia mau. Termasuk, nggak banyak komen waktu Olive berpakaian layaknya stripper. Juga, cowok keren yang…ehem, jadi terlalu banyak spoiler, ah!

Di sini juga terkesan film ini juga ingin menunjukkan kalau di Barat itu nggak selalu identik dengan perilaku seks bebas. Bisa dilihat dari sifat Olive sendiri, yang menjaga dirinya, masih perawan gimanapun orang-orang menghakiminya. Trus, anak-anak beragama yang taat itu juga mengharamkan perilaku seks bebas.

Di film ini juga ditunjukkan kalau agama nggak lantas bikin orang jadi shaleh. Seperti Olive, dia nggak terlalu percaya sama Tuhan. Ada satu adegan pas Marianne bilang dia harus menjelaskan pada higher power soal gosip itu. Dan Olive menjawab, “Tom Cruise?” wakakakakk… Dan cowo yang terkena chlamydia itu, yang tidur sama gurunya sendiri itu, malah anggota perkumpulan agama di sekolahnya, dan juga pacarnya Marianne.

Oya, soal sastranya. Olive mengomentari sekilas buku Huckleberry Finn oleh Mark Twain dan interpretasi mendalam soal buku A Scarlett Letter oleh Nathaniel Hawthorne yang sudah difilmkan. Ih, keren…

Ini mengingatkanku, cerita yang ringan bukan berarti nggak bisa diisi dengan sederet pesan moral yang mendalam.

Bravo, Will Gluck!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s