Bagaimana Cara Penerapan Homeschooling?

anatomy-homeschool-mom-new-branding
Gambar diambil dari : http://www.aop.com

 

Homeschooling lagi.

Bahas ini lagi. Soalnya, aku sudah tekad sepanjang usia SD ini, anakku mau di-homeschooling-in aja. Kenapa? Karena aku melihat iklim pendidikan yang lagi bener-bener nggak sehat. Contohnya aja, dengan kurikulum yang ganti tiap kali ganti menteri. Masing-masing menteri memanfaatkan sekolahan untuk eksistensinya, apa-apaan?! Apalagi, begitu menteri pendidikan yang baru tiba-tiba mengatakan sesuatu yang menyeramkan, sanksi fisik itu boleh ditoleransi!

Mau lihat beritanya? Lihat di sini

Bagiku, ini sama aja balik ke zaman batu, ya. Soalnya, udah sejak lama, penelitian soal reward dan punishment ini dipublish dan, ternyata, dua-duanya nggak efektif membangun perilaku. Dalam jangka pendek mungkin bisa, tapi membangun prinsip dan pola pikir yang menetap bahkan hingga dewasa? Tipis. Jadi, kenapa pernyataan begini masih suka muncul? Well, bukan itu sih, yang mau aku bahas.

Intinya, dengan situasi begini -ditambah dengan UU yang ‘seolah merasionalisasi’ sanksi dalam sekolah dalam bentuk apapun itu- aku merasa sekolah bukan lagi tempat yang ‘aman.’ Apalagi, seleksi terhadap guru juga nggak ketat-ketat amat. Dengan sendirinya, aku agak khawatir sama kualitas guru, dimana anakku dititipkan setengah hari. Mungkin lebih.

Pertimbangan lain, tentu aja karakter anakku. Anakku bukan tipe yang bisa disuruh duduk diam lama dalam satu tempat, kecuali kalau dia asyik melakukan apa yang dia suka. Kalau di sekolah kan, aturannya ikut aturan guru. Inget banget deh, gimana kalau anak-anak yang gambar waktu jam pelajaran dianggap nakal dan sebagainya. Labeling dalam sekolah itu rasanya parah banget, mudah-mudahan sekarang udah berkurang, sih. Jadilah aku putuskan homeschooling yang terbaik buatku dan anakku (kebetulan juga aku IRT). Untuk sementara, karena perkembangan selalu nggak bisa segampang itu diduga.

Nah, hal yang paling membingungkan soal homeschooling ini adalah penerapannya. Ada yang menerapkan jadwal-jadwal seperti di sekolah. Ada yang memanggil guru les ke rumah. Dan banyak lagi. Sampai saat ini, aku kurang setuju dengan penjadwalan pasif. Artinya, aku bikin jadwal, anak ngikutin. Itu mah, sama aja mindahin ke sekolah ke rumah. Jadi, aku pikir, sama nggak efektifnya buat anakku.

Hari ini, aku memutuskan bagaimanapun harus ada skema, aku bikin hanya secara garis besar, tentang pedoman aktivitas atau pembahasan apa yang harus dilakukan sama anakku, supaya nggak melebar kemana-mana. Dasar orang generalis ya, hobinya lompat sana, lompat sini, nggak terarah, jadi harus ada sedikit ‘jalur’ yang memastikan aku berjalan agak lurus.

Skemanya sederhana. Sama aja kayak pembentukan kamus kompetensi di kantor-kantor sebenernya.

screenshot-17Skemanya sederhana banget, kan? Emang aku bukan anak desain, harap maklum, ya ^^; Intinya, emang aku cuma mau ngingetin diri sendiri, anakku masih perlunya skill ini, lho. Belum harus kemana-mana, ngikutin anak lain yang udah jadi expert dalam bidang-bidang tertentu itu.  (Gambar di samping baru contoh aja, sih)

Seperti di gambar, aku membagi dua skill umum, yaitu soft skills dan hard skills. Dari kedua itu aku breakdown skill-skill apa yang sebaiknya dikembangkan sesuai dengan usia anakku. Tentunya, aku fokus sama soft skills dulu, kayak sosialisasi, tanggung jawab, adab kesopanan, nilai-nilai kesusilaan, dkk. Soft skills sulit dikembangkan karena nggak ada medianya. Kita nggak bisa pake peralatan prakarya di sini. Mungkin bisa, tapi ujung-ujungnya peralatan itu ya, lebih cuma ke alat bantu. Bukan jadi alat utama yang menentukan perilaku anak.

Misal, ada buku yang ngajarin soal adab kesopanan. Tapi, kalau ortu sendiri nggak bisa nunjukin ke anak gimana caranya sopan, isi buku tinggal kenangan, deh. Jadi, soal ini, aku lebih banyak menerapkan pembahasan studi kasus. Jangan langsung tutup kuping gara-gara inget skripsi, ya! Maksudnya ya, ngobrol-ngobrol ringan aja. Kalau ada kasus apa aja, bisa dibahas dengan anak dan diberi kesimpulan. Bicaranya sih, gampang. Nah, yang terpenting dan justru yang paling sulit, kita sebagai orang tua juga harus praktek langsung di depan anak. Biar anak paham kalau itu nilai yang kita junjung tinggi, jadi anak akan mengimitasi perilaku kita. Ini namanya belajar sosial.

Berbeda dengan hard skills. Lebih gampang karena ada peralatan buat mengasahnya. Dan peralatan itu, ya emang bisa ditujukan secara langsung untuk mengasah skill anak. Kalau mau belajar musik, tinggal pake alat-alatnya. Kalau menulis atau menggambar, tinggal kasih pulpen dan kertas. Yang sulit, kalau anak nggak minat. Ada yang minat nulis, nggak minat itung-itungan. Kayak anakku. Ada yang minat sport, tapi nggak minat baca. Di sini orang tua harus ikhlas kalau anaknya susah diajakin ngelakuin sesuatu yang nggak sesuai dengan minat mereka.

Tapi, bukan berarti nggak ada caranya.

Caranya sederhana, tapi kompleks. Bingung, kan? Ya, sederhana karena tinggal kasih aja pembelajaran yang terhubung dengan minat anak. Kalau anakku, suka kereta, jadi sepanjang perjalanan di kereta, ajakin aja dia baca-baca apa yang tertulis di kereta. Tinggal ajak ngobrol tentang apa yang dia liat di kereta. Kompleksnya, orang tua harus fleksibel dengan minat anak ini, kali-kali aja orang tuanya malah nggak minat. Misal, anak minat kereta api, tapi orang tuanya malah nggak suka jalan-jalan pake kereta api. Dilema, kan? 😀

Yang pasti, soal homeschooling ini susah-susah-gampang. Jangan pernah mikir orang tua harus paham semua subjek yang diajarkan ke anak. Dari IPA sampe Matematika. Dari ilmu sosbud sampe sejarah. Aku juga mana inget pelajaran-pelajaran waktu kecil. Apalagi, diajak ngomong fisika, rasanya pengen pura-pura tidur langsung.

Intinya, kalau orang tua nggak paham, ya cukup ajarkan anak untuk berjuang untuk mencari tahu kalau dia mau tahu atau butuh untuk tahu sesuatu. Dan kalau anak butuh bimbingan teknis, ada banyak guru les berkeliaran, kok (kesannyaa….). Dan lagi, google kan udah menyediakan semuanya. Apa lagi yang harus dikhawatirkan?

Aku sih, nggak bakalan tiba-tiba propaganda : homeschooling, yuk! Karena kondisi di setiap rumah tangga kan, beda-beda, ya. Misal, kalau ibunya bekerja, gimana caranya homeschooling? Kalau yang ngelakuin orang lain, aku nggak saranin, karena pola pikir orang beda-beda, yang ada tiba-tiba anak berperilaku nggak sesuai dengan mau orang tua dan malah makin ribet ke depannya. Jadi, berikan yang terbaik buat anak! Itu propaganda hari ini!

Salam Pendidikan!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s