Tatap

Matanya terbelalak. Jarinya menghentak cepat. Menekan tuts-tuts lembut. Semua tidak lagi sama. Dulu, untuk menulis sedikit saja, kekuatan fisik harus bergerak seirama dengan kekuatan pikiran. Dan gaungnya akan sampai di langit-langit. Membalas tak kalah tegas. Sekarang, gaung itu lemah. Selemah pikirannya yang tidak lagi tertantang.

Ia menggeleng geram. Rahangnya menegang. Semua urat-urat di pelipisnya menonjol keluar. Berlomba untuk menampakkan diri. Mereka yang biasa hanya bergerak di balik layar. Kehilangan perhatian dari semua. Kini memberontak.

Kamar itu gelap. Hanya satu sumber cahaya. Layar komputer yang lalu memantul lewat kacamatanya.

“Orang-orang gila yang tak tahu diuntung. Gila dalam pikiran mereka,” gerutunya lewat gemeletuk gigi-gigi yang beradu.

“Kebodohan yang tak habis-habis,” suaranya semakin keras. Dalam senyap, suara itu berbalik. Merembes ke pori-pori otaknya. Dia meremas kepalanya. Suaranya berbalik. Penuh dalam kepalanya. Orang-orang itu mengatainya!

Dia tahu!

Dia tahu!

Denting monoton lembut bertalu-talu. Bergantian, terus-menerus. Dia menekan keras kacamatanya hingga pangkal hidungnya begitu perih. Sesaat saja, rasa itu hilang di tengah gemuruh darah sendiri.

Gambar-gambar dan tulisan baru, kecil-kecil, bermunculan di layar itu. Wajah yang berbeda. Ilustrasi yang berbeda. Begitu banyak huruf. Begitu lurus karena ditulis oleh sistem yang kaku. Tidak punya rasa dan emosi. Sebenarnya.

Dia mendekati layar komputer. Satu wajah membayang. Menatap balik. Mau apa? Wajah itu tak membalas, tapi jelas matanya menuduh. Merendahkan. Kau tidak mungkin menyalahkanku sekarang! Tentu saja dia harus menang. Dia harus benar. Kalau tidak, semua tidak akan ada arti. Hidupnya tidak akan ada arti.

Begitu puas kalau menang. Begitu puas kalau tegak. Berdiri di tengah gelimpangan sampah. Yang terserak karena tidak mau mendengar. Wajah itu berkerut. Dengan ujung bibir tertarik ke atas. Orang bodoh harus dibuat mengerti! Itu kata-katanya. Dari bibirnya sendiri. Bergaung di dalam tengkorak, tak mau lepas.

Iya, kan?!

Dia melompat. Kursi kayu itu terbanting ke lantai keramik. Gaduhnya tidak terdengar. Kepalanya sudah terlalu penuh. Dengan kata-kata. Lebih nyaring daripada teriakannya sendiri. Tenggorokannya perih. Tapi, ia tak tahu kenapa. Kata-kata nyaring di kepalanya.

“Aaaahh!” Kesepuluh jarinya menghentak lebih keras. Memacu lebih cepat. Kata-kata meletup begitu cepat. Baris-baris panjang tak tercegah. Ia mengepalkan tangan. Ujung kuku tertancap dalam ke dagingnya. Kata-kata terus meluncur. Ia terbelalak. Siapa yang menulis?

Wajahnya semakin dekat. Hanya satu sentimeter saja dari ujung hidungnya kini. Ia menatap lurus. Dan ia melihat. Mata yang balik menatap. Urat merah menggeliat di putih matanya. Menjalar semakin banyak. Ia bisa merasakan dinginnya layar itu sekarang. Dingin yang keji. Dinginnya kata-kata monokrom. Bunyi monoton berdetak. Menggetarkan ujung syarafnya. Darahnya berdesir. Ototnya tertarik. Perlahan. Pasti. Kata-kata. Kata-kata yang bersahut-sahutan. Terkesiap!

Ia lenyap dalam kata-kata.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s