Tidak Mau Berhenti

 

foto-kuil-bel-dan-yang-tersisa-kini
Foto kuil Bell di Palmyra diambil dari boombastis.com

Wanita itu berjubah hitam. Hampir seluruh tubuh terselubung olehnya. Ia menarik sedikit kain yang berlebih untuk menutupi hidung. Debu terlalu banyak di sini. Asap lebih lagi. Buminya bergetar lagi, membuatnya terpekik pelan. Biar sudah bertahun-tahun, suara ini tidak pernah membuatnya terbiasa.

Bukan kerasnya suara itu. Tapi, pesan yang dibawanya. Mungkin membawa serta satu lagi seseorang. Baik ia kenal atau tidak ia kenal, semua tetap akan membawa kesedihan.

Bergegas, ia menarik tangan kecil yang balas menggenggam erat tangannya. Tangannya terasa kebas karena itu. Malah, cengekeraman tangan mereka semakin erat. Hanya itu satu-satunya penanda bahwa mereka masih saling memiliki. Tuhan belum boleh memisahkan mereka sekarang!

Pria berjanggut lebat, ia tidak mengenalnya, memanggilnya panik. Tangan pria itu berayun makin kencang. Seruannya lebih keras lagi, mencoba mengalahkan suara rentetan peluru yang berterbangan. Wanita itu bergegas, menarik tangan anak itu lebih keras lagi. Kenal atau tidak, bukan lagi masalah. Ia terpekik saat peluru berdesing di telinganya.

Tangan pria dan wanita itu sudah pada jarak yang dekat. Ia meraih tangan kasar yang terlihat ramah. Tubuhnya segera saja terhuyung ke depan, masuk ke dalam bangunan yang mungkin bisa memberinya waktu barang sehari lagi.

Ia menoleh lega, tertawa ke arah anak di sampingnya. Tapi, tangan itu tidak lagi mencengkeram tangannya. Penanda yang ia genggam telah hilang. Anak itu tersungkur begitu ia berhenti berlari. Di punggungnya telah tercetak satu lubang. Merah. Lalu, melebar.

Wanita itu tersungkur. Tidak ada lagi kekuatan di kakinya. “El shad dai, gha’bi ni[1]…” Air mata tak mau ditahan. Ia menetes begitu saja.

“Inna lilaahi, ta’zi ia[2]. Anakmu?” sahutnya dengan Bahasa Suryani. Wanita itu mengangkat wajahnya.

Ia menggeleng pelan, “semua anak sudah jadi anakku sekarang.”

Lelaki itu berpakaian loreng cokelat tua-muda. Dia mengulurkan tangan. Wanita itu menerimanya. Tubuhnya terangkat, ia berdiri lebih tegap. Menatap anak itu lagi, dengan mata terpejam bagai tidur. Mungkin ia lebih baik di sisi Tuhannya.

“Tidak apa, biar kami yang urus. Pergilah sekarang, di sana, bis itu sudah menanti. Keadaan masih bahaya, jadi cepatlah!”

Sang wanita menatap tentara di hadapannya. Ragu, apa benar ia akan lepas dari bahaya ini? Apa benar di luar sana ada tempat yang terbebas dari politik manusia? Mata tentara itu lurus kepadanya. Mereka meyakinkan diri tanpa kata. Bahwa, kesempatan selalu ada.

Ia takut melangkah. Meninggalkan negerinya yang ia kenal sejak kecil. Ia menatap lagi, tubuh anak yang tersungkur. Tak sempat mengucapkan apapun. Tak sempat untuk melihat dunia sekali lagi, dunia dengan orang-orang yang ia kenal.

Ia takut meninggalkan anak itu. Seolah kebahagiaan adalah dosa yang lain. Kalau ia bahagia, apa anak yang tak punya kesempatan itu akan memaafkannya?

’Hiv li[3]!” tegur tentara itu. Wanita itu tersentak dan bergegas. Ke arah yang ia tunjuk. Sebuah bis besar putih dari pemerintah negerinya. Yang akan membawa mereka keluar dari lubang neraka ini. Dulu, tanah kelahirannya ini sungguh indah. Dengan gang-gang yang bersih dan jalan-jalan yang apik. Bahwa ada seseorang di luar sana yang ingin menghancurkan keindahan, membuatnya bergidik.

Sungguh, Eden dengan manusia, tidak akan pernah terwujud. Mereka mencintainya. Mereka mencintai permusuhan. Mereka mencintai peperangan. Mereka tidak akan berhenti, sebelum nafsu-nafsu itu direnggut, dan surga, pada akhirnya, hanya di sisi Allaah.

Kakinya telah menapak tangga bis.

Rahangnya menegang, membayangkan apa yang berada di balik punggungnya. Ia mengingat kisah Nabi Lot. Seorang wanita yang tidak bisa menerima rezeki yang dianugerahkan kepadanya. Maka, ia ikut terlumat bersama penyesalan di dalam dadanya.

Inilah rezekinya.

Wanita itu menapakkan kaki yang lain. Suasana di bis lengang, hanya isak tangis yang jadi tanda kehadiran manusia. Ia tidak dapat lagi tempat duduk. Beberapa saat, tubuhnya telah terguncang seirama dengan bis. Di luar sana, debu dan asap masih membumbung tinggi. Suara ledakan terhenti, mungkin gencatan senjata sudah dimulai. Mungkin pemberontak sudah berhasil diusir.

Sayup, ia mendengar lantunan beberapa orang membacakan ayat suci Al-Qur’an. Pelan, bersahaja. Ia memahami sedikit dari bahasanya yang dekat dengan Bahasa Suryani. Lain itu, tidak. Ia beragama Kristen Ortodoks. Tapi, bahwa seseorang dekat kepada Tuhan, memilih untuk berserah diri kepada Tuhannya, daripada membalas dengan kekejian yang sama dan kebencian yang sama, menentramkan hatinya.

Satu saat, ia akan kembali. Anugerah ini tidak akan sia-sia. Pemberontak dan kekuatan yang menginginkan negaranya hancur akan musnah, dan ia akan kembali. Membawa harapan dan kekuatan yang baru. Membangun gereja untuk kaumnya lagi, membangun masjid untuk kawan sesama Muslim, biar Sunni ataupun Syi’ah.

Untuk membangun kembali Aleppo, tanah kelahirannya.

[1] Ya Tuhan, maafkan aku

[2] Turut berduka

[3] Cepatlah

 

Catatan penulis :

“Untuk Aleppo, untuk Gaza, untuk Mesir, dan semua daerah yang tengah dilanda konflik”

Bahasa Suryani diambil dari sumber http://www.lexilogos.com/english/syriac_dictionary.htm

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s