Malam ini Saja

little boy running towards golden fireworks
Gambar diambil dari http://www.pain.com

Sendal jepit di kakinya berkelepak-kelepak seiring ia mempercepat langkahnya. Kejadian siang tadi sudah hilang dari kepala. Ibunya mencubitnya sampai pahanya biru lebam. Mengatainya bodoh dan sebagainya. Ya, dia memang bodoh. Dagangan ibu yang sudah susah-payah dipersiapkan sejak matahari belum bangun pun, ia tumpahkan.

 

Itu tidak penting lagi sekarang. Ibunya sudah memaafkan. Kalau sudah ada jejak penyesalan di tubuhnya, ibu akan selalu memaafkan.

“Aduh!” suara itu diikuti dengan debuman keras. Ia menoleh kaget. Di belakangnya, adiknya meringis dalam kondisi rebah ke tanah.

“Kamu ngapain?!”

Anak seusia 7 tahun itu tidak menjawab. Bangkit dengan gagah, ia menepuk-nepuk bajunya yang terkena debu. Setelahnya, mereka berlari lagi. Bagai panah angin.

Hari ini adalah hari-hari biasa yang lain. Rutinitas mereka sama saja. Membantu ibu berjualan, lalu bersiap ke sekolah. Ya, mereka berseragam merah-putih. Setiap pagi, mengenakannya atas perintah ibu. Biar pintar. Biar punya ijazah. Biar gede nanti jadi orang sukses.

Apa itu sukses? Mereka tentu ingin tahu. Kaya dan terkenal, itu jawab ibu mereka. Macam Mario Teguh. Sayang, keduanya sudah jarang melihat orang yang wara-wiri di televisi itu. Tidak tahu kenapa ibu mereka hilang minat pada orang sukses itu.

Bukan masalah sekarang. Mereka punya tujuan!

“Ini pasti hebat! Coba kita sendiri bisa mainin itu, ya?” Di tengah sela-sela napasnya yang terengah, ia menyempatkan diri untuk bicara. Berbalik, tapi tak menyurutkan langkah.

“Kalau melihat saja udah senang, buat apa main sendiri? Kata ibu, itu mahal, kita nggak akan mampu beli itu. Senang ya, orang-orang mau membaginya buat kita lihat?” Adiknya mengangguk-angguk semangat. Ia lalu memelankan langkah. Senyumnya hilang, begitu ia menoleh.

“Bang, kita dimarahin, nggak?” sahutnya, pelan. Bagaimanapun, cubitan ibu yang khawatir itu sungguh sakit rasanya.

“Besok, pasti. Tapi, yang penting kita bisa lihat ini! Sekali setahun saja!”

Ia memegang tangan adiknya, di punggung tangannya tercoreng lingkaran kemerahan. Bekas tersundut rokok. Kadang-kadang ada saja orang-orang yang iseng pada mereka. Saat mereka membantu menjual dagangan ibu mereka, beberapa meminta uang. Beberapa meminta makanan tanpa bayar. Ada-ada saja.

Kalau tidak diberi, marah. Kata mereka, uang keamanan. Rasanya, justru mereka butuh orang justru untuk mengamankan mereka dari orang-orang ini. Kalau tidak diberi, mereka marah. Memang, kata ibu, selalu ada harga yang harus dibayar sewaktu kita melakukan sesuatu. Lagipula, sama saja dengan berbagi rezeki.

Rutinitas mereka begitu-begitu saja. Lalu, kalau semua sudah selesai, keduanya bisa bermain layang-layang. Langit selalu membawa kebebasan. Ada harapan yang tidak terbatas di atasnya. Kalau malam datang, mereka keluar, mengharap bintang. Tapi, bintang di Jakarta sungguh pemalu. Hanya sedikit yang mau mengeluarkan sinarnya.

7014905-fireworks-night-background
Gambar diambil dari 7-themes.com

Makanya, kalau ada bintang yang bersinar terang, mereka begitu gembira. Kalau langit biru membawa harapan, bintang di kegelapan membawa petunjuk. Bahwa besok kebahagiaan akan datang. Semangat untuk sekolah lagi, berdagang lagi, bermain lagi, semua akan jadi baru.

“Kenapa kita nggak naik ke atap rumah saja, seperti orang lain?”

“Kamu gimana? Atap kita itu tipis, bisa langsung rusak kalau diinjak,” balas sang kakak segera. Genteng-genteng tanah liat jauh lebih kuat. Masih bisa diinjak sekilas. Duduk di atas rangka pucuknya, pasti menyenangkan. Tapi, atap rumah mereka dari seng yang tipis. Panas kala siang, tidak bisa dipakai untuk menopang apapun, kecuali untuk menjemur kain lap biar cepat kering, atau mengisi baterai sepanjang siang. Kadang-kadang, menjemur seragam sekolah mereka yang cepat sekali kotor.

“Trus, kita kemana?”

“Satu tempat yang paling keren!”

Mereka mulai menyeruak masuk ke sela-sela pepohonan. Jalan mereka yang tadinya datar, kini mulai menanjak. Membuat napas mereka lebih cepat habis daripada sebelumnya. Tidak melunturkan semangat, mereka terus berlari. Kau tahu, saat ada tujuan, tak akan habis nyali ini.

Gelap mengerubungi mereka. Gelap yang biasa ditakuti. Gelap yang biasa jadi musuh mereka. Sekarang, terasa lembut di kulit mereka yang gelap. Terasa sebagai pelindung dari mata-mata yang tidak menyetujui. Sudah hampir tengah malam. Mana ada orang dewasa yang memperbolehkan mereka dengan suka rela? Tapi, malam ini mereka mau mengambil risiko.

Hanya satu malam. Satu malam dalam satu tahun.

“Sampai!” seru kakak. Dia melompat ke lahan terbuka yang tidak tertutup pohon. Di depan mereka, tanah terhampar berhenti. Langsung terpahat oleh erosi. Oleh hujan yang mengikis tepi tanahnya. Dari sana, mereka bisa melihat pucuk-pucuk rumah. Titik-titik cahaya dari jendela mereka yang terlihat agak kecil.

“Mana?”

“Ya, belumlah! Ayo, duduk di sini dulu!”

“Ibu mungkin lagi periksa kamar kita, Bang?”

“Nggak, ibu lagi tidur.”

“Setiap malam ini kan, kita selalu keluar.”

“Ibu belum tahu. Begitu sudah tahu, kita sudah gede, jadi ibu nggak akan melarang lagi.”

“Jam berapa?”

“Mana aku tahu? Kita tunggu aja, Dek.”

Suara mereka bagai dengung yang segera lenyap setelah mengawang di udara. Mereka tak banyak berkata. Hanya menikmati angin malam yang sejuk. Yang membawa ketenangan. Gelap yang jadi musuh mereka, berbalik menjadi kawan setia. Ya, biasanya hanya malam ini saja.

Ibu mereka tidak suka malam ini. Perayaan yang sia-sia dan sama sekali tidak disetujui oleh agama mereka. Keributannya lebih lagi. Membuat ibu mereka tidak bisa tidur. Harga yang harus dibayar oleh satu selebrasi.

Malam ini, semua rutinitas yang membosankan hilang. Semua adat yang harus dilaksanakan di rumah tidak terasa. Bahkan, masalah-masalah sepanjang tahun. Semua lenyap. Dalam debaran jantung yang lembut bertalu. Menanti.

 

maxresdefault
Gambar diambil dari BBC One – Youtube

 

Terdengar suitan panjang.

Keduanya melompat. Sebuah cahaya meledak jadi butir warna-warni di langit yang gelap. Lalu, jatuh menghilang. Disusul sebuah lagi. Mereka berteriak kegirangan. Bintang-bintang yang selalu mereka cari. Bintang-bintang yang tak pernah terlihat di langit Jakarta. Bintang-bintang yang membawa semangat baru.

“Ada lagi!” jerit yang lebih muda. Menunjuk satu titik dimana meletus sebuah lagi butir cahaya kuning cerah. Suaranya menggelegar, kadang menakutkan. Seperti kata ibu, selalu ada harga yang harus dibayar. Mereka rela membayar kekagetan mereka dengan sesuatu yang indah dan menakjubkan itu.

Dilatari oleh cahaya-cahaya itu, keduanya menjadi siluet. Merayakan dengan sorak-sorai yang tidak terdengar oleh siapapun. Berdua, membuat satu kenangan kecil, tapi mereka bisa mendengar riuh-rendah seruan banyak orang. Tiba-tiba saja, mereka dikelilingi banyak orang. Yang sama bahagianya dengan mereka. Satu per satu, dari negeri-negeri yang tak mereka kenal.

Sebentar lagi mereka menghadapi satu hari baru di tahun yang menanjak naik. Mungkin tahun berikutnya, rutinitas mereka tidak akan berubah. Tapi, saat dua jiwa itu menyongsongnya bersama bayang-bayang orang yang terasa seperti menepuk punggung mereka, semangat mereka bangkit lagi. Rutinitas tidak akan lagi jadi rutinitas. Tapi, penantian baru pada satu harapan baru.

Dan penantian itu yang tidak akan pernah menyurutkan semangat.

Selamat tahun baru, semua!!!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s