download
Gambar diambil dari pulsk.com

Kemarin (26/1), aku baca satu artikel di tempo tentang bule yang mengadakan eksperimen sosial. Dia sengaja memakai rok mini dan berjalan-jalan di Jakarta. Dalam tempo 35 menit saja, sudah ada 13 laki-laki yang menggoda, dari suit-suit nggak jelas sampai ada yang berani meminta nomor telepon wanita bule ini. Wow!

Kita putar balik ke tahun lalu, sayangnya aku nggak inget siapa yang ngomong dan kapan kejadiannya. Yang pasti, waktu itu ada kasus pemerkosaan, lalu ada satu figur publik yang berkomentar tentang itu. Di waktu kasus pemerkosaan itu masih fresh from the oven banget, dia bilang kalau wanita harus menjaga diri dan menutup aurat. Kira-kira begitulah kalimatnya.

Bener nggak? Dalam pandangan Islam yang kutahu, emang bener wanita harus menutup aurat demi menjaga diri.

Tapi, kenapa komentar ini terasa salah banget di telingaku, tambahan lagi, memicu komentar-komentar pedas dari wanita lain? Tentu saja, karena sebenar-benarnya perkataan, kalau diucapkan dalam waktu dan tempat yang salah, dia akan berdampak buruk.

Ayooo, Para Muslimin dan Muslimah jangan cari-cari alasan buat defens dulu. Kenapa sih, aku bilang kata-katanya jadi salah? Karena efek yang ditimbulkan. Pertimbangan manfaat dan mudharat, ingat?

Di saat kasus masih fresh itu, apa yang terjadi kalau kata-kata itu didengar oleh korban? Mereka dalam kondisi traumatis. Pemerkosaan itu mengakibatkan rasa malu, rasa rendah diri, karena yang diserang bukan cuma fisik, tapi kehormatan si wanita. Bayangkan, wanita dalam kondisi ini mendengar itu, apa nggak tambah malu? Disalahin pula, apa nggak tambah merasa rendah diri? Dan dalam kondisi psikologis seperti itu, traumanya makin berkali lipat. Efeknya, rata-rata wanita Indonesia yang dilecehkan secara seksual, malu dan takut untuk melapor ke pihak berwajib. Apa ini nggak menimbulkan superioritas buat si pelaku yang hobi melecehkan?

Kedua, apa yang terjadi kalau kata-kata ini didengar si pelaku? Ini bisa dimanfaatkan buat menjustifikasi kesalahan mereka. Orang yang dalam kondisi merasa bersalah, biasanya mereka juga stres. Dan karena stres itu nggak enak, ya pasti kita sebagai manusia berusaha untuk meredakannya. Salah satunya ya ini, rasionalisasi, justifikasi, membenarkan perbuatan kita. Ini, buatku, sangat berbahaya.

Kenapa? Perkataan itu membuat mereka merasa kalau mereka nggak salah. Minimal, mereka nggak ngerasa salah-salah amat dan ikut menyalahkan wanitanya. Dan laki-laki lain yang mendengar itu (ini figur publik yang ngomong, lhooo, kontrol sosialnya pasti tinggi) juga mendapat justifikasi kalau nggak ada salahnya menggoda atau melecehkan wanita-wanita, asal dia pake rok mini. Gimana tingkat pemerkosaan mau menurun, dong?

Sekarang begini, kasus pelecehan yang banyak terjadi di commuter line itu juga banyak menimpa cewek yang udah nutup aurat. Nggak usah bicara jilboobs deh, yang udah pake baju gombrang-gombrang (eh anak sekarang ngarti gombrang gak ya, pokoknya baju longgar) masih aja dilecehkan.

Kalau aku analogikan begini. Wanita itu nafsu shoppingnya tinggi kan, ya. Kalau dia boros dan belanja mulu, siapa yang biasa disalahin? Dia sendiri, kan? Bukan tokonya yang menggiurkan itu (walaupun akibatnya ada yang nggak suka sama kapitalis sih, mungkin ini suami-suami yang tertindas hahaha).

Sudah saatnya manusia itu tanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Nggak mungkin terus menyalahkan orang lain atau hal lain atas akhlak kita. Sinetron itu nggak ada artinya bagi orang-orang yang mau sedikit ribet mikir. Media juga nggak akan bisa membodohi kita kalau kita orang yang rajin memperkaya ilmu. Cuma diri kita sendiri yang bisa menjaga akhlak kita. Allaah aja nggak banyak ikut campur soal itu, selain ngasih hidayah, kan?

Bayangin kalau orang cuma bisa nyalahin lingkungannya. Anak menyalahkan orang tua yang salah asuh, suami menyalahkan istri yang nggak pinter ngurus rumah tangga, istri menyalahkan suami yang nggak pinter cari nafkah, orang tua bahkan menyalahkan anaknya yang nggak mau nurut sama dia (padahal yang mendidik anak kan dia, cih!). Gara-gara nggak mau tanggung jawab sendiri, maunya lemparin ini ke orang lain, akibatnya kita susah introspeksi diri dan berubah. Gimana mau berubah, kalau dirinya sendiri udah dianggap bener, layaknya Tuhan?

Akibatnya lagi, yang ada cuma pertentangan. Karena masing-masing manusia punya persepsi berbeda tentang apa yang benar dan apa yang salah. Sama kayak sekarang ini, kan? Masing-masing ribet ngurusin akhlak orang lain, sampai lupa kalau dia lagi marah-marah di wal FB sambil mengucapkan kata-kata yang nggak pantes. Ups, bias! Haha…

Pendidikan itu seyogyanya seimbang, harmonis. Antara satu dengan lain hal itu ada korelasinya, maka kita harus melihat per detail dan melihat bagaimana mereka saling berkaitan. Dengan begitu, tercipta juga solusi yang sifatnya komperehensif dan bertahan dalam jangka panjang. Nggak cuma melihat dari garis besarnya aja, itupun melihatnya sambil lalu, trus jadi kesimpulan. Mana nggak mau diganggu-gugat lagi kesimpulannya… ^^;

Gak apa-apa, sih. Hak itu, haaaakkk… Jadi orang yang timid dan rigid itu juga hak kok, asal nggak pake pola senggol-bacok aja…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s