Manusia, yang Sendirian

shalat-dan-tandus
Gambar diambil dari kanzunqalam.com

 

Hanya ada padang tandus. Kakiku menapak pasir kering, kasar. Sesekali kerikil tajam menusuk. Entah sudah berapa titik darah di sana. Menyengat. Tapi, aku tak peduli.

Kehampaan adalah jalan yang paling menakutkan.

Dari belakang, seolah ada hantu yang mengikuti. Dan mungkin kau akan merasa senang karenanya. Tapi, tidak. Hanya bayangan kelam yang mencemooh. Mencemooh ketakutanmu. Mungkin sekali, kau akan takut padanya. Lebih dari apapun juga.

Dunia hancur pada tahun 2020 Masehi.

Manusia tidak suka dibangunkan dari mimpi panjangnya. Bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa beragam kaum mengiringi langkah mereka. Dan bisa menguasai mereka. Tahun 2014, semua orang harus keluar dari rongga mimpinya. Menghadapi kenyataan. Kau tidak bisa bayangkan. Seseorang yang keluar dari cangkang.

Kebingungan. Kewaspadaan.

Sesama saudara saling menatap curiga. Tali persahabatan terputus. Di hadapan mereka, monster-monster tumbuh. Bahkan, mereka tidak lagi menatap cermin. Takut pada apa yang akan mereka lihat dari refleksinya.

Tidak ada yang lebih buruk daripada manusia di tengah kelimbungan. Sebuah status quo yang menganga. Status quo dari kepercayaan. Status quo dari keyakinan. Para penguasa telah mati. Manusia sibuk mencari satu sosok baru. Yang bisa menjadi pegangan mereka. Dan ia tidak perlu mengucap kebenaran. Hanya satu sosok yang bisa membenarkan superioritas mereka sebagai manusia, bahwa mereka masih jadi pemimpin atas semua makhluk di muka bumi.

“Dan satu orang terbunuh,” bisikku, berbicara, kepada pasir di kakiku. Pada beliung kecil yang berada di sampingku. Bagai sahabat yang hilang. Aku berbicara pada mereka. Tanpa jawaban. Dulu, pernah aku berbicara, dan marah pada orang yang menjawab. Dan aku berharap masih bisa beradu mulut dengan mereka.

Menurutmu, perang menakutkan? Bagiku, tidak. Perang memberikan jalan untuk manusia mengeluarkan nafsu kebinatangan mereka. Mereka membunuh. Menyiksa orang yang tidak sejalan. Lalu, memperkosa. Lahir-batin. Hanya untuk menjadi superior. Meyakini bahwa mereka lebih tinggi daripada yang lain. Bahwa mereka punya kuasa atas manusia lainnya.

Manusia mana yang tidak mencintai perang?

Perang sama sekali tidak menakutkan. Aku berjalan, melupakan perih di kaki, sengat di kepala. Sudah jauh. Berapa jauh, aku tidak menghitung. Manusia tidak pernah takut akan luka. Mereka menyukainya, seperti mereka menyukai drama-drama yang disuguhkan televisi. Darah adalah warna merah yang mereka butuhkan. Candu mereka.

“Perang sama sekali tidak menakutkan,” aku berbisik lagi. “Apa yang menakutkan adalah apa yang tersisa darinya.”

Ketiadaan.

Kehampaan.

Kesepian.

Aku merindukan orang-orang. Orang-orang yang bersekutu denganku. Orang-orang yang menjadi musuhku. Bahkan, mereka yang marah ketika aku menyatakan keyakinanku. Aku merindukan perselisihan dengan manusia lain. Siapa yang peduli akan perselisihan, saat kau tahu mereka masih ada di sisimu? Mereka masih menemanimu sekalipun dalam kebencian yang sangat? Mereka ada. Bukan dalam sosok yang kau mau, tapi mereka ada. Karena mereka ada, kau semakin tidak peduli. Karena mereka akan tetap ada, sekalipun tidak jadi sekutu. Dan kau akan mabuk dalam kenyamanan itu.

Matahari begitu terik. Air sudah habis. Aku harus menghemat sisa cairan di tubuhku.

Tapi, ia pun berkhianat. Sekali aku mengingat semua yang menghantui di belakang, tubuhku berbuat sesuatu yang berlawanan dengan yang ku mau. Pengkhianat. Aku berhenti melihat ke sekeliling. Aku berhenti berharap melihat satu sosok manusia yang akan menghampiriku. Kemana mereka semua?

Bahuku bergedik. Kepalaku tertunduk bagai ribuan ton yang membebaninya. Air yang tersisa dari tubuhku. Mengalir pelan dari kelopak mata. Satu titik. Dua titik. Berubah menjadi puluhan. Kini menjadi ribuan.

Kemana mereka semua?

Mereka habis di bawah semburan keberingasan. Mereka tewas di tengah serbu kebencian. Satu per satu, tumpas. Begitu banyak kematian, hingga manusia tidak peduli lagi siapa yang akan membasuh jenazah mereka. Siapa yang akan menguburkan mereka. Saat-saat terakhir, yang terpenting adalah sepasang tangan yang akan mendekap ketakutan mereka. Menampung air mata penyesalan mereka.

Aku bersujud. Tidak tahu pada siapa. Untuk siapa. Dan mataku terus berkhianat, membiarkan cairan tubuhku habis. Habis, aku habis. Aku sudah habis begitu aku terbangun sendirian. Sendiri. Hampa.

Temanku hanya waktu. Waktu yang terlalu banyak. Apa arti waktu, tanpa manusia?

Tahun 2016, manusia suka sekali menghitung waktu. Mereka lari darinya. Mereka lari mengejarnya. Waktu ada di dinding mereka, waktu ada di pergelangan mereka. Lupa, kalau waktu hanyalah tentang apa yang kita mau darinya.

Tahun nol, hari ini, aku tidak lagi mengejar waktu. Atau lari darinya. Dia bahkan rela menungguku, hingga aku berhenti bersikap bodoh. Berputus asa. Berputus asa adalah bodoh, karena kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa kau temui di depan sana. Biar jaraknya tak mampu kau hitung.

Tapi, aku tidak bisa merasakan waktu. Aku tidak bisa merasakan napas yang membelai lembut saat ia bicara tentang kebahagiaan. Aku tidak bisa merasakan panas tubuh yang hampir-hampir menyengatku ketika aku berdekatan dengannya. Dan tak peduli berapa banyak aku menangis, aku tidak bisa merasakannya menepuk punggungku.

Tuhan, dimana Tuhan? Tidakkah ia mau menjawab kegelisahanku? Tidak lagi. Tuhan berbicara lewat manusianya. Saat manusia tidak lagi ada, kau turut kehilangan Tuhan. Karena Tuhan menciptakan manusia. Lalu, mengirimkan manusia agar kau memahami Tuhan. Tuhan, sesungguhnya, bisa dipahami lewat sosok manusianya.

Sosok yang Tuhan pilih sebagai pemimpin di atas bumi-Nya.

Aku bangkit. Tanpa apapun selain sehelai pakaian penutup aurat. Temanku tidak lagi bersifat fisik. Mereka hanya bayang-bayang yang ada di kepalaku. Waktu yang berjalan bersamaku. Harapan yang bersukacita di dalam pikiran.

Aku ingin mencari Tuhan, lewat kasih sayang manusianya.

Berjalan lagi. Aku tidak tahu harus berjalan seberapa jauh lagi. Di kepalaku, aku membayangkan seorang sosok. Dengan dua mata yang mungkin berwarna lain. Dengan hidung berbentuk lain. Dengan kulit berwarna lain. Pada saat itu, aku akan memeluknya. Sekali lagi merasakan, bahwa Tuhan masih mau berbicara lewatnya. Walau dengan bahasa yang lain.

Perang sama sekali tidak menakutkan. Apa yang menakutkan adalah apa yang tersisa darinya. Ketiadaan. Kehampaan. Manusia, yang kesepian.

 

 

sampai

 

Advertisements

4 thoughts on “Manusia, yang Sendirian”

  1. “Taukah kamu apa ketakutan terbesar manusia itu? ketakutan terbesar manusia ialah ketakutan akan ketakutan terbesarnya itu sendiri. Ketakutan manusia akan selalu berpangkat-pangkat layaknya di persoalan matematika. Tak usah bingung jika kau takut, jawablah dengan keberanian berlambang “0”. Karena apapun itu jika dikali 0 akan selalu 0. Dan keberanian yang baik akan selalu menemui jalannya untuk menang terhadap ketakutan. Sebesar apapun itu.”

    Hai kak, salam kenal. Keren banget tulisan kakak. Sampai-sampai aku dapet insipirasi buat cuap2 kaya di atas. Keren kak! keep writing! 🙂

    1. Hai kinai, salam kenal juga… aku panggilnya gitu aja boleh? Syukurlah kalo tulisanku bisa menginspirasi. Biasanya, kita akan selalu menginspirasi satu sm lain. Ditunggu tulisan dri km yg menginspirasi juga, ya… Suka nulis apa nih, kinai?

      1. “Kinai” suka deh dipanggil gitu, hehe. Aku panggil kakak, kak winda saja ya. Semoga saja kita satu sama lain dapat menginspirasi dalam hal kebaikan. Hem, banyak. Sajak, puisi, cerita pendek, atau cuma sekedar satu dua kalimat yang muncul tiba2 di pikiran aku. Sayangnya, kuantitas banyak tapi kualitas belum kak tulisanku. Aku belum cukup berani buat publish, haha. Ada tips kak, agar aku lebih berani?

      2. Siang Kinai,

        Aku juga suka nama ‘kinai’ tuh 😀 Boleh panggil apa aja. Nggak usah pake ‘kak’ juga gpp. Aamiin buat doanya.
        Wah aku juga dulu takut share2 tulisan dan pendapatku. Kalau caraku sih, aku mulai dengan ikut2 diskusi2 online
        Sok tahu aja, deh. Bahkan, nggak sekali-dua kali salahnya. Banyak hehe. Malu banget, tapi karena lewat medsos jadi masih lumayan deh tertutupi.
        Ada lho saat2 aku teken “post” di fb aja gak berani (parah), tapi karena aku gak mau terkungkung sama ketakutan sendiri, aku paksa aja
        Intinya ya, itu. Dorong diri sendiri terus. Terus-terusan bilang, “kalau gak sekarang, kapan lagi?”
        Nanti lama2 juga ilang rasa takutnya. Yah, buatku sih lumayan sukses.
        Cara orang beda2, cara yg paling cocok sm km pastinya km yg paling tahu…

        Semangat nulis terus, ya! 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s