Deal

169796-tipe-jabat-tangan
Gambar diambil dari brilio.net

“Saya bisa lihat ruangan ini. Besar, penuh perabotan mewah. Menarik, susah untuk berhenti mengaguminya. Semua serba putih. Dan bersih, itu paling penting. Bersih itu disukai semua orang. Kalau bersih, semua akan tampak baik. Bahkan, tampak indah. Maksud saya, gudang itu privasi, tidak ada satu tamu pun yang perlu tahu. Biar dia tetap di belakang. Dan biar saja dia kotor atau bersih. Tapi, kalau di permukaan…”

“Ya, ya, saya paham maksud Anda. Kecantikan di dalam, ah itu omong kosong buat saya. Orang suka dengan polesan luar. Mungkin mereka akan sedikit kecewa dengan apa yang ada di balik polesan itu. Katakanlah, perak yang dilapisi emas putih. Mereka tidak suka dengan peraknya, mereka akan sedikit, mungkin, ragu atau kurang minat. Jadi, yang penting kita tonjolkan emas putihnya. Itu yang dilakukan pedagang. Tentu saja, kita tidak perlu berbohong atau menyangkal soal perak di baliknya. Tapi, apa perlu kita sebut-sebut itu? Kalau mereka tanya, kita jujur saja. Sesudahnya, kita kasih kebenaran yang lain. Tentang emas putih.”

“Brilian. Hebat. Lihat, saya bertepuk untuk Anda. Jelas, pemikiran Anda brilian sekali. Dan saya paham sekali analogi Anda. Sudah saya katakan analogi Anda lebih baik daripada rumah dan gudang itu? Jauh lebih baik. Saya bisa merasakan apa yang Anda bilang. Maaf, saya konyol. Tangan saya bergerak banyak kalau bicara banyak. Kelainan syaraf mungkin.”

“Tidak, sama sekali tidak konyol. Ekspresif. Polesan luar, ingat? Kalau kita bilang ekspresif, maka orang tidak melihat itu konyol.”

“Gila, tetap?”

“Ah, biar saja. Sekarang, gila itu biasa. Semua orang gila. Kalau semua orang sudah bersikap gila, berarti yang normal lah yang gila itu. Yang penting kan, statistiknya? Statistik yang akhirnya melebur jadi budaya. Orang-orang lupa, dulu yang dihitung hanya jumlah sampel dalam populasinya. Biar jumlah sampelnya sudah berubah, orang sudah tidak peduli lagi.”

“Gila sekali!”

“Ya, ya. Saya tidak bisa berhenti tertawa. Anda juga tidak? Saya maklum. Ah, sakit perut saya terguncang begini.”

“Ah, saya butuh ini, refreshing. Anda tahu, aktivitas politik saya terlalu banyak akhir-akhir ini. Maklum, saya workaholik, bekerja untuk rakyat. Harus kelihatan bergerak banyak. Sampai-sampai dada saya suka sesak akhir-akhir ini. Harus sering dikeluarkan beban yang banyak di dalamnya. Anda tahu, teknik meditasi dalam yoga? Pusatkan pikiran pada pernapasan. Seperti yang saya lakukan sekarang ini.”

“Tidak, saya paham…tidak lancang… Anda bisa tenangkan diri dulu.”

“Ya, terima kasih. Lanjutkan saja soal proyek itu. Proyek lagi, dana lagi. Sekarang, uang pegang peranan utama. Dipikir-pikir, sistem barter lebih enak. Orang mendapat langsung apa yang mereka butuhkan. Dengan uang, kebutuhan bisa melebar.”

“Sepakat, tapi ekonomi juga tidak bisa berkembang. Yang terpenting sekarang ini, ekonomi berkembang, rakyat sejahtera.”

“Ya, ya, Anda benar juga.”

“Orang itu bukan butuh duitnya sebenarnya, tapi jaminan. Jaminan yang bikin orang merasa aman. Birokrasi kan, juga begitu. Kalau sudah aman, semua beres.”

“Itu memang penting sekali.”

“Ya, tentu saja. Kalau sudah aman, orang juga bekerja jadi enak. Jadi, memang tidak ada salahnya. Rumah tangga yang kecil-kecilan pun perlu uang.”

“Lagi. Rumah ternyata yang paling penting.”

“Ah, jangan mengacungkan jari pada saya seperti itu. Saya merasa jadi tertuduh. Masalah yang sentimentil, buat saya, uang itu. Lebih sentimentil daripada cinta pertama. Ya? Benar?”

“Sungguh pintar melawak.”

“Ya, kentara sekali kalau saya gugup. Saya melawak kalau gugup. Sementara orang lain keringatan, saya malah keringatan dari mulut. Keluar semua. Sebelumnya, mungkin Anda perlu melihat proposalnya. Saya sudah siapkan. Ya, saya pasti siapkan presentasinya, tapi ini bisa dilihat terlebih dahulu. Saya tidak suka membuang waktu Anda. Dan, jujur saja, yang terpenting adalah opini Anda dalam soal ini.”

“Anda ini pintar sekali bersilat lidah. Anda kasih saya kertas. Kertas, kertas, kertas lagi. Seumur hidup saya, hanya ada kertas. Untunglah sekarang tidak pakai mesin tik yang semrawut itu, ya? Sudahlah isinya membosankan, maksud saya bukan yang ini lho, yang umum-umum saja, tulisannya tidak enak dibaca. Perfeksionis saya begini, melihat yang begitu, maag jadi kambuh.”

“Tidak, Anda benar. Memang sangat membosankan. Silakan, Anda perlu waktu untuk membacanya, kan? Saya akan diam dulu.”

“…begitu. Ada apa dengan angka ini? Penggelembungan, eh?”

“Ah…”

“Begini, harap Anda tahu. Saya bukan orang yang neko-neko. Apa saya minta bertemu di hotel mewah dengan biaya jutaan rupiah hanya dalam semalam? Tidak. Saya memilih bertemu di restoran kecil begini. Yah, saya juga yakin semakin kecil kemungkinan kita tertangkap tangan oleh KPK. Ah, jangan tertawa, Anda membuat saya jadi ikut ingin tertawa. Saya tidak mau macam-macam, saya tidak mau ikut campur dalam analisa budget Anda. Yang pasti-pasti saja.”

“Baik, saya paham. Saya yakin perusahaan saya yang paling tepat untuk proyek ini. Tapi, saya butuh jaminan, Bapak pasti paham. Seperti yang sudah kita bicarakan tadi.”

“Ya, ya, ya. Saya minum dulu, ya? Ya?”

“Ya, silakan. Silakan. Dan saya bisa lihat kalau Bapak adalah orang yang tepat untuk membantu saya. Saya tidak akan mengecewakan rakyat dengan proyek ini. Tentu saja, saya akan kerjakan secermatnya. Budget itu bukti kalau saya berusaha yang terbaik. Bapak tentu mencintai rakyat, bukan? Saya yakin itu. Makanya, saya juga dukung Bapak naik ke posisi itu.”

“Hm… Anda menyerang tepat sasaran.”

“Ah, jangan menghela napas begitu. Saya paham kesulitan Bapak. Bapak ingin yang terbaik untuk negeri ini, sayang, negeri ini tidak merespon baik. Perusahaan kami, perusahaan saya, akan membantu Bapak memperbaiki negeri ini. Kalau Bapak naik, semua akan jadi baik.”

“Tatapan Anda itu yang saya kurang suka. Culas Anda.”

“Saya tidak bermaksud apapun. Mata saya memang begini. Muka saya memang begini.”

“Oke, oke, saya terpaksa setuju, kan?”

“Ah, Bapak pandai sekali melawak. Masa saya memaksa Bapak? Begini, kalau ada keraguan, kapan saja saya siap untuk bertemu lagi. Bapak boleh mempelajari proposal saya dulu secara pribadi.”

“…”

“Lain waktu, boleh.”

“…”

“Anda sedang mempelajari saya. Itu juga boleh.”

“Proposal diterima. Saya sudah bilang saya tidak akan neko-neko. Karena yang pasti sudah jelas, sekarang tinggal formalitas sepele. Presentasi, Anda meyakinkan beberapa orang yang lain. Pertama, mari kita deal dulu, jabat tangan?”

“Benar? Wah, terima kasih sekali, Pak. Bantuan Bapak ini besar sekali artinya untuk perusahaan saya. Sebaliknya, saya pastikan dukungan saya kepada pencalonan Bapak.”

“Itu bisa kita bicarakan lain waktu.”

“Deal.”

 

sampai

Catatan penulis : 

Bisa dibilang, ini eksperimen. Aku nggak tahu apa ada yang pernah melakukan sebelumnya, tapi tiba-tiba aja aku mikir buat bikin ini. Cerpen yang diceritakan dalam bentuk dialog utuh. Mirip naskah, tapi tanpa narasi atau deskripsi lain sama sekali. Menarik? Tidak menarik? Yang pasti, penulisnya aja bingung pas baca ulang ^^;

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s