Di Kolam Renang

image
Dia melemparkan tumpukan baju. Agak marah. Marah pada siapa, dia sudah tidak tahu. Yang pasti, dia terus-menerus marah. Menghembuskan napas keras, ia duduk. Menghempaskan tubuhnya sendiri ke lantai yang dingin.

Lantai itu…

Dipenuhi kertas-kertas terserak. Serpihan kecil warna-warni crayon. Sekaligus dengan induk mereka. Berbagai miniatur kendaraan; mobil, kereta api, semua yang beroda. Bagaimana cara membereskan semua?

Saat-saat begini, ia membayangkan dirinya duduk di ruang ber-AC. Di tengah kubikal kecil, tapi teritorinya sendiri. Tidak, bahkan bosnya, punya hak mengutak-atiknya. Tidak juga rekan sekerjanya yang selalu penasaran. Sekarang, semuanya hilang. Tidak ada tempat khusus untuknya. Tubuhnya pun sudah bukan miliknya sendiri.

Menahan tangis frustasi, ia melipat baju. Pikirannya penuh dengan hal-hal jahat. Membakar rumah, misalnya. Membuang semua mainan tidak peduli akan air mata yang pasti tumpah karenanya. Sekadar memuaskan hasrat duniawinya, menyenangkan diri sendiri.

“Maaaa,” anaknya pulang. Satu-satunya, yang berumur 5 tahun. Belum sempat bicara apa-apa, si bocah lelaki sudah kena semprot.

“Kalau mau main yang lain, beresin dulu yang ini!” bentak ibunya, merengut kesal. Tatapannya penuh kebencian pada anaknya sendiri. Putranya melongo. Tidak berani lagi bicara. “Berantakin rumah, tapi nggak mau beresin! Harusnya kamu tanggung jawab, dong!” Semua kata-kata itu diikuti geraknya yang beringasan membereskan rumah.

Harusnya aku kerja di kantor! batinnya kesal. Biar saja anaknya diurus siapa saja, asal bukan dirinya sendiri!

***

“Ada lowongan kerja?” Tanyanya sumringah. Mungkin dia masih punya kesempatan. Umurnya belum genap 30, seharusnya ada satu pekerjaan untuknya. Memperoleh kubikal itu. Teritorialnya sendiri. Juga, harga diri ketika mengenakan blazer, kemeja yang rapi, dengan polesan make-up yang serasi.

Dia akan menggunakan intonasi itu. Suara yang sengaja dikeluarkan dari rongga dalam tenggorokan, mengesankan wibawa. Mengutak-atik power point atau mungkin aplikasi presentasi terbaru. Mempersiapkan diri untuk menunjukkan proposal. Segala kata-kata teknis yang memukau telinga. Yang membuat orang berdecak kagum.

Bukan cuci piring dan menyapu, yang bisa dilakukan siapa saja. Yang bisa dilakukan bahkan tanpa pendidikan apapun! Dia ingin menjadi ‘seseorang.’ Dia ingin merasa berharga. Menjadi seseorang di tengah sorot cahaya.

“Iya, cepetan lamar kerja. Sayang itu ijazah fungsinya apa?” Sindiran seperti biasa. Hampir semua orang, keluarganya, teman-temannya, melemparkan kalimat tajam tak berbelas kasihan itu. Heran juga, apa yang mereka dapatkan kalau dia memutuskan untuk kerja lagi?

Dia melihat e-banner yang pasti dibuat oleh desainer grafis perusahaan itu. Membayangkan ia berkenalan dengan profesional dengan skill-skill yang dihargai orang. Dan ia akan jadi salah satunya.

Soal anaknya? Ada begitu banyak ART yang bisa menggantikan. Tidak perlu dirinya. Toh dia akan selalu bertemu anaknya ketika pulang kerja. Ia melihat teks balasan dari temannya. Ia dipanggil wawancara! Oh! Tentu saja…

“Mama,” suara nyaring itu menyapanya. Anaknya bertelanjang dada, basah dan berkilau. Di sekeliling mereka, kolam-kolam dengan air jernih, biru dan hijau pastel. Dengan pantulan sinar matahari yang membias ke seluruh kolam.

Ibunya menghela napas. Apa lagi kali ini? “Ayo, sana les. Biar pinter berenangnya!” Sekali saja, ia ingin lepas dari panggilan menuntut itu. Tidak hanya 9 bulan di kandungan, ternyata beban itu masih memberatinya hingga kini.

“Tapi, hidungku sakit kalau bubble.”

“Nak, kamu harus bubble kalau mau berenang.” Segala macam ilmu parenting berseliweran di kepalanya, mencegahnya untuk tidak membentak-bentak. Ilmu yang juga membuatnya terkungkung di dunia yang sama sekali tidak rasional ini; membesarkan satu jiwa bebas dengan kesabaran tingkat tinggi.

Anaknya cemberut, berusaha mencari kata-kata lain. Tapi, ia kenal raut wajah itu. Raut wajah yang sedang tidak mau berkompromi. Bocah lelaki itu lalu lari lagi ke arah guru les renangnya.

Ibunya mengernyit agak kesal, mendapat gangguan. Sekilas kemudian, ia memfokuskan diri lagi ke ponsel pintarnya. Dia akan mengetik jawaban itu; ya.

Ibu jarinya berhenti di tengah-tengah. Ia menegakkan lehernya, mencari sosok anaknya. Jangan sampai si anak melobi guru lesnya untuk melewatkan pelajaran paling penting dalam renang, bernapas dalam air.

Guru lesnya tengah memegangi tangan anaknya. Tidak memegangi tubuhnya, hanya kedua tangannya yang terentang. Lalu, setiap dua atau tiga menit, kepala anaknya masuk ke air beberapa detik. Ia tercengang. Anaknya susah sekali kalau disuruh memasukkan kepalanya dalam air. Wanita itu lupa pada ponselnya.

Kini, pikirannya mengulang rekaman yang telah lalu. Anaknya, yang dengan teguh berusaha berguling. Jalan pertamanya yang tertatih. Kali pertama ia mengeja ‘lama’ dan mengetik ‘commuter.’

Dan banyak lagi. Terlalu banyak untuk ia hitung.

Setelah ini, mungkin ia akan mengomel lagi. Bahkan, bentakan yang sangat terlarang dalam dunia parenting itu akan keluar dari bibirnya. Tanpa tercegah.

Tapi…

Ia tersenyum. Lalu, teringat pada ponsel pintarnya yang terabaikan. Dia mengetik jawaban yang sudah dipersiapkan.

“Kurasa aku mau menyia-nyiakan ijazahku lebih lama.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s