Waktu untuk Abah

Hidup itu apa, ya?

Susah-susah berjalan. Jauh-berbatu, kadang terseok, kadang tersandung. Mesti mampir di persimpangan dan bersiap untuk bingung. Jalan itupun tidak jelas. Ujung jalannya gelap, kalaupun terang, seakan tidak berujung.

Kalau sampai, harus meninggalkan semua yang sudah diperjuangkan. Lalu, pergi. Yang entah kemana.

Delima menggigit rotinya. Bola matanya bergulir. Sesekali ke kiri. Kemudian ke kanan. Orang-orang berjalan kaki. Cepat, entah kemana. Mobil, banyak mobil, berlalu-lalang, entah kemana. Dia menyadari begitu banyak yang ia tidak kenal. Lebih banyak lagi yang ia tidak tahu.

Abah kemarin menempuh jalan yang lain daripada orang-orang di depannya. Kalau dari mata telanjang, jalan itu pasti gelap. Karena Abah tidak membawa lampu. Dan jauh di bawah, semua diapit oleh warna cokelat gelap. Bagaimana lantas Abah menjalani liku-likunya?

Ah, ruang itu bahkan terlalu sempit untuk bergerak ke kanan ke kiri. Berguling saja tidak bisa. Akankah Abah bosan di dalamnya?

Waktu rupanya juga sama seperti manusia. Dia buru-buru dan tidak sabar. Akhirnya, mengambil Abah sebagai sekutu. Terbang bersama. Di lain waktu, dia begitu malas. Tubuh renta ia biarkan terus tertatih. Berjalan, biar pelan-pelan. Dan ia berjalan pelan bersamanya. Sungguh tidak konsisten.

Delima tidak tahu kenapa ia ada di sini. Apa yang harus diperbuat. Mungkin ia hanya ingin menantang waktu. Ayo, apa yang akan kau lakukan kalau aku membuang-buang kemurahan hatimu? Apa akan kau persingkat pula hariku?

Ia sudah tidak bisa bertemu Abah lagi. Dan itu membingungkan. Kebingungan yang membawa duka lebih besar dari apapun. Lelaki tinggi-besar itu tidak lagi terdengar jejaknya di rumah. Suaranya yang sedikit-sedikit itu. Bahkan, suara sandalnya yang menyeret itu. Semua tiba-tiba hilang.

Dan waktu enggan menjelaskan. Dia hanya…pergi.

Lebih membingungkan lagi, semua malah jadi lebih jelas begitu tubuhnya tidak lagi terlihat. Sebelum waktu menggandeng tangannya, ia suka berdengung. Ayat-ayat Al-Qur’an. Delima tidak pernah menanyakan. Ia tidak pernah sebegitu peduli untuk menanyakan. Namun, ia bisa menangkap sedikit-sedikit. Kalimat Allaah itu. Setelah Abah pergi, barulah ia tahu, ayat Al-Baqarah yang tengah dihapalkanlah yang sering ia dengungkan.

Dia berdengung di dapur.

Mendengungkannya di teras.
Mungkin juga ketika ia tidur.

Saat itu waktu tengah bermalas-malasan dengannya. Melihat matahari pelan bergerak. Saat-saat siang berubah jadi malam. Malam ke siang. Dengungan itu menjadi musik yang merdu buat mereka.

Waktu menikmati detik yang berjalan pelan. Ia sudah menemani lama dalam suka-duka. Ia yang bersorak kegirangan sewaktu Abah pertama kali menggendong anak perrmpuannya. Lalu, yang kedua, yang ketiga, yang keempat. Ia yang meneteskan air mata saat Abah harus berpisah dengan kakak lelaki satu-satunya. Ia sudah sesabar itu.

Delima menyuapkan potongan roti terakhir. Roti sudah habis. Waktunya belum. Katanya, “kau tahu aku akan setia. Tak peduli biar kau membuangku atau menyiksa. Sampai tiba saatnya, aku akan terus menemani.”

Hanya satu yang tidak pernah diungkapkan waktu dengan jujur. Sampai tiba. Kapan, dimana?

Begitu juga dengan waktu di sisi Abah. Ketika pria itu bertemu dengan malaikat berjas putih, ia menemani. Diam-diam berjalan bersama Abah dengan wanitanya. Wanita satu-satunya yang ia puja. Yang dengannya ia memutuskan untuk mengikat waktunya dengan waktu wanita itu.

Ikatan yang tumbuh jadi simpul berkarat yang susah lepas.

Waktu menangis bersama Abah. Ketika malaikat itu berbisik. “Sabar,” katanya. Karena itulah jadi menakutkan. Tidak ada yang akan menyuruh sabar kalau ia tidak tampak buru-buru. Satu kata yang justru menekankan makna anti-tesisnya. Begitu kuat.

Ia menatap tubuh tinggi-besar itu. Tergolek lemah di dalam pangkuan wanitanya. Bergulung. Kembali menjadi janin yang lembut. Terselubung oleh ketuban yang hangat. Waktunya tersenyum. Mengecup keningnya pelan.

Satu per satu sosok yang begitu Abah kenal. Berdiri gelisah. Seorang anak perempuan. Tiga orang anak lelaki. Tidak peduli seberapa tinggi mereka sekarang, mereka bocah-bocah kecil Abah. Dan waktu menangis.

Ia tidak sabar. Tapi, bagaimana merelakan keajaiban-keajaiban kecil yang tumbuh besar itu? Ia tidak mau menyiksa sahabatnya. Tapi, bagaimana cara melepaskan genggaman tangan yang hangat itu?

Lantas, bagaimana dengan wanita Abah? Akan seberapa hancur hatinya?

Waktu di sisi wanita itu menggenggam tangannya, “aku akan menyelubunginya dengan butir-butir baru. Yang lembut. Yang membahagiakan.”

Sampai tiba saatnya. Waktu untuk Abah. Waktu untuk waktu. Tiba di penghujung. Waktu memutar kembali. Kepingan-kepingan yang hilang beberapa minggu terakhir. Dan ia melihatnya. Mata itu bercahaya. Keajaiban-keajaiban kecil. Yang tumbuh besar di keluasan hatinya.

Matahari semakin redup. Menggeliat, ia masuk ke peraduannya. Abah turut gelisah. Ingin ikut. Menggenggam bias mahkotanya. Membiarkannya menghantarkan ke singgasana Penguasa Segala Makhluk.

Roti Delima sudah habis. Air matanya pun. Tapi, tidak seperti Abah, waktunya belum. Dia bangkit. Berjalan lagi.
Dedicated to Abah Iskandar Burhanuddin
(5 Januari 1955-9 Maret 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s