A Tale of Two Cities (part 1)

charles dickens
Gambar diambil dari amazon.com

 

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classic

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris
Sekarang ini lagi baca buku Charles Dickens yang judulnya “A Tale of Two Cities.” Aku milih buku ini karena di satu artikel, buku ini dapet peringkat pertama di kategori sastra klasik terbaik. Yang kedua Agatha Christie “There Were None.” Suatu hari pasti aku incer itu buku hehe…

Niat bacanya udah beberapa bulan yang lalu. Malah, sempet udah mulai baca. Tapi, dasar namanya sastra klasik, dan terlebih lagi, Bahasa Inggrisnya juga yang dari Inggris Raya, yang beda sama Bahasa Inggris yang biasa dipelajari di Indonesia. Susyaaaahh…

Akhirnya, baca dua halaman pertama, berhenti, trus ulang lagi. Begitu terus, sampai sekarang, yang keempat kalinya. Bedanya, pas sekarang ini, aku bener-bener tekad buat tetep lanjut, walau cuma satu halaman sekali baca (ini juga nggak setiap hari, lho ^^;)

Sekarang, udah di halaman ke-60-an. Dalam seminggu. Lambat banget, tapi lumayanlah buat seorang prokastinator kayak aku.

Setting waktu di buku ini sendiri adalah saat King George III merajai Inggris Raya dan Louis XVI berkuasa di Perancis. Jadi, saat-saat sebelum Revolusi Perancis yang terkenal itu. Itu tuh, yang kejatuhan Penjara Bastille yang dianggap jadi simbol tirani Louis XVI.

Karena judulnya “A Tale of Two Cities,” aku udah bisa nebak kalau ini pastinya ngelibatin dua negara ini (ya iyalaaahhh). Well, yang pasti, aku suka banget sama paragaf pembukanya…

It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity, it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way – in short, the period was so far like the present period, that some of its noisiest authorities insisted on its being received, for good or for evil, in the superlative degree of comparison only” (sumber)

Buatku, ini narasi yang unik dari penggambaran suatu situasi. Kebayang nggak sih, kita bakalan penasaran setelah ngeliat narasi macam ini? Maksudny, mendeskripsikan satu waktu dalam dua sisi yang kontradiktif begini jarang dilakukan pastinya.

Satu paragraf ini aja udah bisa ngebuat aku paham kenapa karya ini dikatakan karya terbaik dari Charles Dickens. Dan mungkin karya terbaik dari seluruh karya sastra.

Sejauh ini baru baca bagian “Recalled to Life,” cerita tentang seseorang yang dipenjara (bener-bener dikurung kayak dalam kuburan gitu) di bawah tanah selama 18 tahun. Akhirnya, dia bebas. Lalu, ternyata dia punya seorang putri yang terpaksa harus mengurus dia.

Udah, baru sampe si Petugas Bank Tellsonnya ngasih tahu itu.

Biasanya, kalau aku ngereview buku, aku harus baca bukunya sampai selesai, tapi kali ini aku nggak sabar. Pengen ngebahas paragraf pembukanya yang ini. Selain itu, dengan membahasnya dikit-dikit begini, malah makin detail reviewnya. Jadi, aku belajar buat review sebuah buku dengan baik. Kalau tunggu selesai, biasanya banyak scene-scene yang kelupaan.

Pas pertama aku baca, kupikir buku ini rada kaku. Bisa jadi gara-gara pembahasan politiknya. Mungkin aku rada ngikut stereotip kalau yang berhubungan dengan politik pasti membosankan.

Teryata, nggak juga. Narasi dari Charles Dickens emang khas sastra klasik, bertele-tele dan panjang-lebar, tapi ternyata cukup luwes. Untuk novel satire, sejauh ini lumayan luwes. Walaupun, ada bagian-bagian yang narasinya rada kaku. Di novel ini, Charles Dickens juga sesekali menggunakan metafora, dengan gaya bahasa yang cukup unik.

Seperti halnya di halaman 26 (edited), dimana Charles Dickens menggambarkan kelaparan yang terjadi di wilayah Saint Antoine, Paris. Ia menggambarkan ‘hunger‘ (maksudnya bencana kelaparan gara-gara Louis XVI waktu itu) dari narasi akan situasi yang lain. Seolah-olah ‘hunger‘ menjadi preseden dari situasi itu sendiri.

Bukan cuma, “rakyat kelaperan. Tubuhnya kurus-kering,” which is so obvious. (Rada ketampar sama kalimat sendiri haha, penggunaan bahasaku masih sesempit itu)

Coba baca sendiri, deh. Kemampuanku untuk bermain kata masih kurang, jadi nggak dapet penggambaran yang tepat untuk narasi Charles Dickens ini. Ini dia kutipannya;

The mill which had worked them down, was the mill that grinds young people old; the children had ancient faces and grave voices; and upon them, and upon the grown faces, and ploughed into every furrow of age and coming up afresh, was the sigh, Hunger. It was prevalent everywhere. Hunger was pushed out of the tall houses, in the wretched clothing that hung upon poles and lines; Hunger was patched into them with straw and rag and wood and paper; Hunger was repeated in every fragment of the small modicum of firewood that the man sawed off; Hunger stared down from the smokeless chimneys, and started up from the filthy street that had no offal, among its refuse, of anything to eat. Hunger was the inscription on the baker’s shelves, written in every small loaf of his scanty stock of bad bread; at the sausage-shop, in every dead-dog preparation that was offered for sale. Hunger rattled its dry bones among the roasting chestnuts in the turned cylinder; Hunger was shred into atomics in every farthing porringer of husky chips of potato, fried with some reluctant drops of oil. (sumber)

See? Keren, ya. Ia menggambarkannya dengan detail dan gaya bahasa yang nggak biasa dan monoton.

Ingatanku soal detail kurang bagus, jadi dua kutipan itu aku ambil dari situs lain. Ternyata dua kutipan itu ada dimana-mana, ini bukti betapa terkenal karya ini. Dan juga, bukti kalau kalimat yang sama dalam novel ini bisa memikat banyak orang sekaligus. Biasanya kan, rentang perhatian orang beda-beda dan bikin orang punya penekanan yang berbeda dari satu objek. Aku sering nyoba iseng nyari kutipan-kutipan yang kubaca dari buku di internet, dan nggak semua ada.

Nah, sekarang aku mau lanjut baca…(mungkin besok atau hari-hari setelahnya ^^;) Semoga aja cepet selesai.

Dan….

See ya di review “A Tale of Two Cities” selanjutnya, ya!

 

 

sampai

Advertisements

4 thoughts on “A Tale of Two Cities (part 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s