Masyarakat Adat yang Jauh Lebih Modern

sawah_kita_by_nooreva-d5q63ap
Gambar diambil dari DevianArt by nooreva

 

Please don’t judge me. Aku tahu ini topik yang udah rada basi, tapi karena aku lagi off kemaren dari segala macam berita dan medsos, jadinya bener-bener ketinggalan.

Akhir-akhir ini, berita soal Petani Kendeng lagi banyak ditampilkan. Aku sering denger, tapi baru kali ini tahu apa masalahnya. Lagi-lagi, masyarakat adat vs pengusaha.

Oke, aku sebelumnya nggak pernah tahu soal kasus masyarakat adat dan pengusaha, tapi oh come on, it’s so easy to guess! Masyarakat adat dipinggirkan karena ada kapitalis lagi nyari untung. Terjadi dimana-mana. Sejarah juga banyak membuktikan.

Di Indonesia, keberadaan masyarakat adat adalah sesuatu yang masih dihargai dan diakui secara hukum. Seberapa baik penghargaannya? Ternyata, nggak begitu baik. Soalnya, orang Indonesia sibuk nyari duit. Salah nggak? Nggaklah, siapa yang nggak butuh duit. Tapi, kalau banyak duit, tapi kita nggak punya apapun untuk dimakan, oksigen yang semakin tipis karena kita tebang semua pohon, dan banjir dimana-mana karena nggak ada daerah serapan air, apa gunanya, sih?

I don’t get human somehow. Eh, aku juga manusia, ya?

Di satu sisi, aku menyukai perkembangan teknologi. Aku menyukai kemajuan, karena bagaimanapun, kemajuan juga membawa banyak hal positif. Pengobatan, misalkan. Pendidikan parenting (karena aku orang tua yang butuh itu).

Ups! Pendidikan parenting ternyata kita nggak begitu maju, lho. Kita, masyarakat kota, yang katanya sangat beradab, jauh ketinggalan masalah yang satu ini.

Dari kakak iparku (credit for her) yang suka traveling, di Badui Dalam, mereka nggak butuh ahli parenting untuk mengatakan ke mereka, kalau anak melakukan kesalahan, ya dibilangin, nggak perlu dikasarin or such. Sementara, masyarakat kota??? Guru nyubit anak murid malah dibelain, katanya mencubit dan memukul itu biasa untuk pengendalian perilaku. Sementara, di Badui Dalam, dengan pendidikan parenting yang begitu, mereka tentram dan saling bersahabat tanpa banyak konflik. Kalaupun ada, selesai tanpa harus kasar dan menjelek-jelekkan orang lain. Sejak kapan peradaban modern justru membuat kita mundur jadi manusia purba?

Dan masyarakat adatlah yang punya cukup etika untuk menjaga alam. Masyarakat Badui Dalam punya aturan hanya boleh panen padi setiap 6 bulan sekali dalam setahun. Karena mereka percaya bahwa mereka nggak boleh tamak dalam mengambil hasil alam. Dan, kebetulan sangat, ibuku pernah cerita, bahwa dulu di Sumatera Barat, panen dilakukan 6 bulan sekali,  sebelum pemerintah (bodoh, maaf, aku nggak tahan) mengubahnya jadi 3 bulan sekali. Akibatnya, kualitas beras di Sumatera Barat menurun drastis. Dulu, kata ibuku, beras dari sawah di kampung, rasanya enak banget. Beda sama yang sekarang. Sedih.

Masyarakat Samin, termasuk petani dari pegunungan Kendeng, juga sama sekali nggak menggunakan bahan-bahan kimia untuk pertanian mereka. Mereka menggunakan bahan alami, kayak kotoran sapi dan jeroan sapi (yang masih fresh, dari sapi yang baru disembelih, kurang-lebih) dihancurkan dan diproses jadi pupuk. Artinya apa? Mereka punya kualitas beras yang jauh lebih baik daripada yang kita makan sehari-hari. How sad is that?!

Tapi, kapitalis nggak pernah puas. Dengan alasan membangun perekonomian, mereka bangun pabrik dimana-mana. Padahal, Indonesia itu negara agraria. Kalau kita bisa fokus di agraria, dan mengekspor itu semua, perekonomian kita juga bisa maju. Tanah kita sangat subur, ingat?

Aku rasa, kita harus melepas satu gelar indah lagi dari Indonesia.

Kalau aja masyarakat Indonesia lebih percaya diri untuk mengolah semua hasil alamnya sendiri. Dan kita bisa mendepak semua pihak yang maunya memperkaya diri dari berbagai tender dan investasi asing, mungkin kita akan jauh lebih kaya. Aku nggak anti investor asing ya, tapi tolonglah proporsinya diatur. Kebanyakan!

Selamat tinggal, etika dan moralitas. Sejak kapan civilization menjadi kata yang begitu menakutkan? Sejak kapan peradaban justru menghancurkan manusia daripada membangunnya?

Selamat datang, kanker dan penyakit mematikan lainnya. Hanya karena kita terlalu malas untuk memperjuangkan kesejahteraan alam, yang padahal menghidupkan kita juga.

Tanpa kita sadari, ternyata masyarakat adat jauh lebih maju daripada masyarakat, yang katanya, modern. Internet ternyata nggak cukup bikin kita pinter (akhir-akhir ini, malah membuat kita jadi makin bodoh). Begitulah, dengan berkurangnya kepedulian akan lingkungan sekitar kita, baik pada manusia dan alam, manusia hanya akan jadi hewan. Hanya dengan rasa peduli, kita jadi manusia seutuhnya.

Teriring doa bagi masyarakat adat, semoga masyarakat adat tetap terjaga dan terhormat di atas bumi Indonesia.

 

 

Depok, 29 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s