Besar, Semakin Besar

38874182-fire-wallpapers
Gambar diambil dari bsnscb.com

 

Dia semakin besar. Semakin besar. Tumbuh, menjalar. Sejak kapan ia datang?

Tanah berkerikil itu berderak. Bebatuan kecilnya terserak. Gadis berjilbab putih merapikan bros putih yang tersemat di dadanya. Membetulkan letak tali tas tangannya. Tas tangan itu berpotongan sederhana. Ia pun putih polos.

Tapi, ia bukannya mau menikah. Tidak ada aturan menikah dengan pakaian putih dalam Islam. Dan perbuatan apapun di luarnya, hanya memperburuk citra Islam. Ia punya visi. Untuk itu, ia harus menjalankan misinya.

Berdakwah adalah kewajiban dalam Islam. Tidak perlu seorang yang jenius untuk memahami itu.

Berdakwah tidak semata dengan kata. Seperti halnya pakaian monokrom ini. Ia tengah menjalankan teladan. Menunjukkan sebagaimana mestinya wanita Islam bersikap. Ini juga misinya.

Ia membuka sepatu. Membiarkan kaus kaki tetap melekat, seperti kembar siam, pada kakinya. Bangunan itu luas. Sinar matahari menyeruak masuk dari sela-sela jendela, mencetak cahaya-cahaya kotak-kotak di keramik yang berkilauan. Langit-langit tinggi yang membuat bangunannya serasa tanpa batas.

Bisik-bisik bergaung lembut. Seperti dengung lebah yang menari. Yang menyenandungkan ayat-ayat yang sungguh indah. Ia memejamkan mata, merasa masuk ke dunianya. Akhirnya. Siapa bilang tidak ada surga di dunia? Siapa bilang tidak ada lagi orang yang masuk akal di atas muka bumi ini?

Gadis itu mendatangi satu per satu penyebab bisik-bisik itu. Berjenis kelamin sama dengannya, bersifat sama dengannya. Mungkin ada yang bergaya sedikit berbeda, berhijab sedikit lebih pendek daripada standarnya, tapi biarlah. Ia bisa memaafkannya. Karena gadis itu, gadis dengan hijab pendek itu, mau di sini, menghabiskan waktu dengan Sang Khalik. Dan hamba-hamba setia-Nya.

Saat ia mendatangi, dada gadis itu tersembul dari sisi-sisi hijab yang terlalu pendek. Ia merasakan desis di dadanya. Semakin keras. Ia mempercepat salamnya, lalu berjalan menjauh. Kepada Muslimah yang lebih taat. Bukan peniru yang fasik.

Ia membuka buku kecil berpenutup kulit hijau kelam. Tinta hitam di atas kertas putih gading. Tinta hitam yang meliuk, membentuk huruf-huruf indah. Dengan sajak yang indah terdengar, indah terbaca. Ia memegang dadanya, merasakan sesak yang menyenangkan di sana. Ingin sekali berkumpul dengan pembuat sajak terindah di muka  bumi ini.

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

 

***

 

“Pengajiannya bagus. Ustadznya pintar, ya.”

“Iya, lulusan Universitas Madinah, tidak diragukan lagi.”

Bisik-bisik itu berubah jadi kalimat-kalimat panjang penuh kegembiraan. Gadis berjilbab putih menempelkan telunjuk di bibirnya. Mendesis. Wanita-wanita yang berbicara itu menutup mulutnya, tersenyum malu-malu. Menunduk tersipu.

Berdakwah tidak sekadar ceramah. Ia adalah setiap kata dan cara untuk mengingatkan. Menasehati. Dalam kebaikan. Dalam kesabaran. Huruf-huruf Hijaiyyah itu berputar-putar di benaknya. Kesabaran, menasehati dalam kesabaran. Ia mendesah pelan.

Suaranya sendiri bergaung di telinganya. Ia bergidik, rasa dingin menjalar. Membangkitkan sensitivitas setiap syarafnya. Ia tengah mendekatkan diri pada Sang Khalik. Dan, oh, ia merasa sangat dekat. Mungkinkah Dia berada pada nadi-nadinya, berbisik pada telinganya? Ingin bertemu dengan-Nya, ingin bersatu dengan-Nya.

Dunia hanya tempat persinggahan. Penjara yang lain. Begitu, bukan?

Di setiap sudut, ia hanya menemukan kaum-kaum yang menentang. Yang lebih mencintai manusia, lebih memilih dunia. Di setiap sudut, ia menemukan orang-orang fasik, mengaku Islam, tapi tidak mencintai Khalik mereka.

Dan perlahan, kemarahan tumbuh di dadanya. Pelan-pelan. Wajar ia marah. Ia mencintai Islam, ia mencintai Allaah. Ia ingin menjadi pembela-Nya. Ingin menyadarkan setiap orang yang menentang-Nya. Seberapa salah itu?

Wanita berhijab pendek itu berdiri. Ia menyelipkan ujung-ujung hijabnya ke belakang. Semakin jelas menampakkan dadanya di balik kaus spandek yang jelas menunjukkan lekuk tubuhnya. Di depannya, seorang wanita berhijab panjang seperti dirinya, mematut diri di depan cermin. Memoles bedak. Lalu, memulas warna-warna di seluruh wajahnya. Meronakan wajahnya.

Dan perlahan, kemarahan semakin besar di dadanya. Menyebar bagai spora. Pelan, meluas. Membesar. Ia besar, semakin besar. Ia mencoba mengingat beberapa kalimat yang menenangkan. Batinnya tidak tenang. Tapi, bukankah wajar? Ia ingin sesamanya juga mencintai Islam, seperti dirinya. Meyakini perintah dan larangan Allaah, seperti dirinya. Mendekatkan diri pada Khalik, seperti dirinya.

Seperti dirinya.

Seperti yang ia lakukan.

Seperti yang ia tanamkan baik-baik.

Seperti dia. Seperti dia. Seperti aku, bisiknya.

Ia mendengar lagi suaranya. Tapi, itu tidak seperti suaranya. Serak yang tidak sabar. Dengkur yang kurang ajar. Sesaknya berubah. Tidak lagi menyenangkan. Napasnya tersendat. Matanya menggeliat cepat. Sesuatu tumbuh di dadanya. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia tidak kenal. Sesuatu yang ditolaknya. Memakannya dari dalam. Ia merasakan semua menciut; pikirannya, perasaannya, nuraninya. Tuhannya.

Dan sesuatu itu besar. Semakin besar. Ia tumbuh mendesak-desak. Sejak kapan ia datang? Dada gadis itu terasa sakit. Ia mengingat-ingat lagi. Kata-kata. Berdakwah, menasehati, memberitahukan yang tidak tahu. Dalam kebaikan. Dalam kesabaran.

Kesabaran, kata apa itu? Ia kehilangan satu kosakata dalam kamusnya. Hari itu.

 

sampai

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s