Bhasmī Bhūta

Saat itu, pintu kamar itu terbuka. Sesaat Dharmawongso II membeku, tak percaya oleh penglihatannya sendiri. Perlahan, wajahnya memerah, tatapannya pun menjadi murka.

“Gila!!!” Teriakan itu bagaikan alunan drum pemicu perang. Bertalu-talu hingga ke jantung mereka yang sedang bergumul di ranjang yang tertutup kelambu putih itu. Saraswati dan Satria berusaha menutupi tubuh telanjang mereka.

“Kau bilang, kau sakit! Ini rupanya penyakitmu?!! Penyakit najis!!! Lacur!!! Panggil Pengawal!!!”

“Yang Mulia… Keturunan para dewa…,” sahut Saraswati, menutupi tubuhnya dengan kain seadanya, memohon dalam suaranya yang serak, air mata mulai membasahi pipinya.

“Ayahanda… Ayahandaku seorang…,” tukas Satria berkali-kali. Melompat ia menyembah pada kaki Dharmawongso II. Tendangan pada muka yang diterimanya jua.

“Satria!” pekik Saraswati.

“Kau!” gerung pria yang baru saja melepaskan jabatannya itu, dengan kemurkaan luar biasa. “Anakmu sendiri! Anakmu!”

“Ampun, Yang Mulia, Ampuuun. Kami khilaf…” Kali ini Saraswati melompat, menciumi kaki pria yang mengangkatnya sebagai selir itu. “Ampuuuunn… Khilaaaff…,” sahutnya terbata-bata, dengan ucapan yang semakin meracau.

Pengawal kerajaan segera menghadap. Hanya dengan sedikit gerakan jari telunjuknya, para pria bertubuh besar serta kekar itu menyeret keduanya.

“Berhenti!!! Aku ini panglima kalian! Keturunan raja, dewa! Kalian menghinaku!!!” jeritnya, berkali-kali. Sedangkan, Saraswati hanya dapat menangis terisak-isak, memasrahkan badannya yang kuyu pada cengkeraman dua pengawal kerajaan itu.

“Keparat! Kau tak pantas jadi anakku!” raung Dharmawongso, mengalahkan jeritan-jeritan Satria.

Sementara itu, di kediaman Raja Muda Kertajaya, ketukan cepat dan keras membahana ke seluruh kamarnya. Dia mengernyit, memberikan isyarat kepada dayangnya untuk membukakan pintu.

“Beribu ampun, Yang Mulia!” serunya, terengah-engah. “Gusti Paduka Raja, ah Ayahanda Raja, menitahkan Anda untuk segera ke ruang Balairung Utara.”

“Balairung Utara?” sahutnya ragu. Ruang itu selalu digunakan untuk pengadilan para pemberontak dan pengkhianat raja. Singkatnya, tidak ada pengadilan, hanya tempat untuk menjatuhkan hukuman.

“Panglima… Panglima besar…” Dia pun seorang pengawal yang berkedudukan di bawah kepanglimaan kerajaan, maka panik jua yang menyertai setiap kata-katanya.

“Kakandaku?!” seru Kertajaya, sangat terkejut. Satria adalah panglima kerajaan yang memiliki jasa besar, ayahandanya sangat menyayangi pria yang berusia lima tahun lebih tua darinya itu. Bahkan, ayahnya telah berencana untuk menjadikannya penasehat kerajaan merangkap jabatannya sekarang ini.

Dia melempar buku yang sedari tadi ditekuninya begitu saja. Bahkan melupakan dayang-dayangnya, dia berlalu begitu saja. Hanya kewibawaan yang menyertai keris di pinggang yang mencegahnya untuk tidak berlari membabi-buta ke Balairung Utara itu.

“Ayahanda!” Dia menghaturkan sembah dengan terburu-buru.

“Berdiri kau!” titah ayahnya dengan suara tak sabar. “Lupa siapa kau sekarang? Kaulah yang harusnya kusembah sekarang!”

“Beribu ampun, Ayahanda!” Dia menundukkan kepalanya. Dharmawongso II mengembangkan cuping hidungnya. Wajahnya memerah.

“Setidaknya kau masih memandang orang tua ini!”

“Ada apa ini, Ayahanda?” Matanya membeliak terkejut saat Satria dan ibunya sedang dikerubungi oleh pengawal kerajaan, yang menghunuskan tombak mereka ke leher keduanya agar tidak bergerak.

“Tarik senjata kalian!” serunya, mengibaskan sebelah tangannya. Dia lalu menatap ayahandanya yang murka dan ibundanya yang berdiri dingin, tetapi matanya bergerak cemas kepada Kertajaya.

“Hanya karena menghormatimu, aku tidak langsung membunuh pengkhianat najis ini!” Suaranya bergetar dalam upayanya menekan ledakan amarah yang menyesakkan dada tuanya itu.

“Ayahanda. Beribu ampun, boleh saya minta penjelasan dari ayahanda mengenai ini?”

“Mereka pengkhianat. Mereka berselingkuh dan berhubungan badan. Gila! Najis! Lacur!”

Saraswati terisak keras, tak berdaya menghadapi rentetan penghinaan itu. Satria sebaliknya, memandang ayahnya dengan kebencian teramat sangat. Kertajaya menoleh dengan sangat cepat ke arah mereka berdua. Pandangannya memohon penjelasan dari kakaknya yang diakrabinya sedari kecil itu. Perlahan, Satria menggerakkan bola matanya ke arah Kertajaya, dengan mata yang memerah. Memohon belas kasihan.

“Panji, aku kakandamu. Dia pun ibumu, bukan? Kita sudah berikrar, bukan?” sahutnya, dengan mata memohon. “Dia sakit, Panji.”

“Panggil dia Gusti Paduka Sri Kertajaya!” gerung pria dengan rambut penuh dengan garis-garis putih itu. “Sakit?! Sakit apa yang membuatnya kuat bersenggama dengan anaknya sendiri, hah?!”

Satria menggertakkan rahangnya, air mata mulai berlinang jatuh ke pipinya. Kertajaya terperanjat, baru kali itu dia melihat air mata dari kakaknya yang teguh itu.

“Penggal saja aku, selamatkan dia!”

“Jangan!” pekik Saraswati. “Satria… Yang Mulia…”

“Panji Dharmawongso III!!!” seru ayahnya, memanggil nama kecilnya. Suaranya menggaung di langit-langit balairung yang berbentuk kerucut. Pria itu baru saja beberapa jam menikmati jabatannya sebagai raja. Suguhan ini terlalu cepat baginya, terlalu mendadak. Melibatkan kakak yang disayanginya, dengan segenap jiwanya.

“Tak berkutik kau?! Mereka jelas tertangkap basah! Tak percaya kau pada perkataanku?!!” raung Dharmawongso II.

“Ayahanda, bukan begitu. Dia adalah saudaraku, seperjuangan sedari kecil. Dia adalah ibundanya, dia pun ibundaku. Begitu permaisuri pertama meninggal, dia yang merawatku bertahun-tahun! Bukankah ayahanda yang selalu menceritakan?” sahut Kertajaya memohon.

“Persetan!!! Persetan!!!” sergahnya, semakin murka.

Otaknya berputar dengan cepat, memandangi Satria yang juga bersikukuh menatapnya lantang. Dia menarik nafas.

“Ayahanda, mari asingkan mereka!”

“Panji!” seru Satria, terperangah.

“Kakandaku yang baik, kau telah menodai kehormatan raja keturunan para dewa. Kau menodai istana suci peninggalan nenek moyang. Dengan segala kerendahan hatiku, kakanda, kau memang bersalah,” tegas Kertajaya, dengan pandangan menenangkannya.

“Bersalah?! Jika raja memuaskan nafsunya kepada wanita bersuami itu sah?! Begitu?! Jika raja menanamkan benih, lalu menelantarkan istrinya, itu sah?! Mana keadilanmu, tidak kau adili juga ayahandamu itu! Dia berdosa lebih banyak daripadaku! Ibuku tidak bahagia di tangannya! Saudara tidak boleh menengok, teman tidak punya, semua memusuhinya hanya karena dia sempat menjadi kesayangan raja. Tapi apa?! Raja sendiri tidak melindunginya! Setelah bosan, diabaikannya wanita ini! Aku yang memberikan kebahagiaan kepadanya! Aku sendiri!” raung Satria, pipinya sepenuhnya basah kali ini. Wanita dengan rambut bergelombang yang sama dengannya, menggeleng-gelengkan kepalanya, mencegahnya untuk berbicara lebih banyak.

“Najis!!! Kau berani menyalahkan raja!!!” balas ayahnya, tak kalah geram. Istrinya, yang merupakan permaisuri kedua, menggandeng tangannya seraya membelai-belai punggungnya. Dia hanya menepiskan tangannya dan mendorong wanita itu hingga terhenyak ke belakang.

“Cara memperlakukan permaisurimu saja kau tidak paham!” Satria tersenyum sinis, mengejek.

“Kakanda!”

“Masih sudi kau memanggilnya kakanda?!! Pengawal! Penggal mereka! Gantungkan mayat mereka sebagai contoh!”

“Ayahanda! Kau mempermalukan dirimu sendiri, membuka aib!” tukas Kertajaya, mengerahkan usaha terakhirnya. Ayahnya memandangnya dengan murka. “Pikirkan, ayahanda! Jika peristiwa ini diketahui khalayak umum, reputasi kerajaan juga yang tercemar! Mahapatih Satria, dia pun orang besar. Kematiannya yang tiba-tiba akan mengejutkan!”

Pria tua itu memandang Kertajaya dengan seksama. Pandangannya beralih kepada kedua orang yang mengkhianatinya dengan kebencian mendalam. Sakit hatinya teramat sangat.

“Baik! Maka, pasung!!”

“Ayahanda!”

“Apa lagi yang hendak kau katakan?! Pengasingan sama saja mengeluarkan mereka dari kerajaan. Siapa yang bisa mencegah mulut kotor mereka merambahi bumi kerajaan ini?! Mereka tidak boleh selangkah pun keluar dari istana ini!” Dengan geraman terakhir itu, dia berlalu keluar dari ruang Balairung Utara tersebut.

Pria muda berkumis terpilin pada ujungnya itu, menatap nanar kepada kedua orang yang sangat disayanginya itu. Matanya memerah saat dia meneriakkan, “Pasung mereka!”

“Panji!!! Bunuh kami! Penggal saja kami!!! Gusti Paduka Sri Kertajaya, kumohon!!!”

Teriakan-teriakan pedih menyertai suara seretan yang dilakukan oleh pengawal kerajaan itu. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Permaisuri mendekatinya. Air matanya jatuh tak tertahan. Pemasungan berarti lebih buruk daripada kematian. Tidak ada cahaya matahari, terpendam jauh di bawah sumur kematian, dengan kaki yang segera akan membusuk oleh rantai berkarat. Apa lagi yang dapat diusahakannya? Kertajaya terisak pelan, di atas kedua tangan permaisuri.

 

…bersambung…

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s