Bhasmī Bhūta

“Kau!!!” raung Kertajaya pada salah satu dayangnya yang tidak mengetahui sesuatu pun. Wanita muda berkulit gelap itu tergopoh mendekati rajanya sambil menghaturkan sembah. Kertajaya menurunkan nada suaranya, “Kau tahu sumur tempat pemasungan?”

“Hamba, Gusti Paduka.”

“Kirimkan makanan setiap hari ke dalamnya dan laporkan padaku tentang penjagaan di daerah itu.”

“Hamba, Gusti Paduka.”

“Jalan kau sekarang,” perintahnya tegas. Wanita itu berjalan mundur dengan lututnya. Setelah dia menutup pintu kediaman Kertajaya, barulah dia mengangkat badannya dan berjalan pada kedua kakinya sendiri.

Malam itu gelap, dinaungi bintang yang bertabur bagai permata. Keindahan itu tampak pula dari dasar sumur tempat di mana Mahapatih Satria dihukum bersama ibundanya. Namun, mereka sama sekali tidak tengah menikmati keindahannya, melainkan berduka atas keadaan yang menimpa mereka.

“Ibundaku… Ampun, beribu ampun…” Kata-kata itu terus mengalir tak henti dari mulut Satria. Keadaan wanita itu semakin lemah akibat tekanan yang dialaminya. Mata itu kini redup tanpa cahaya.

“Kita akan keluar, ibunda… Ibunda percaya padaku, toh?”

Wanita yang belum meninggalkan usia 30-nya itu mengangguk pelan. Dia tersenyum lembut.

“Kau… Kau masih saja bisa tersenyum… Kau, ibundaku… Kau selalu kesepian…,” gumam Satria. Betapa jarak menyiksanya begitu kuat. Betapa pria tua kejam itu masih saja ingin menyiksanya dalam pemasungannya. Dijauhkannya tubuh lemah ibunya dari pelukan dan genggamannya. Berapa meter dia tak tahu. Dipaksa pula dia menyaksikan wanita itu melemah dalam kungkungan rantai besi yang melilit kaki dan tangannya.

Suara derit besi yang beradu membuatnya mendongak ke atas. Sebuah ember kecil berisi makanan digerek dari atas ke bawah.

“Lihat, ibunda. Mereka mengirimkan makanan!” Segera Satria menegakkan badannya, sebisanya menangkap ember tersebut, lalu melemparkan berbagai makanan lezat kepada ibundanya. Satria memakan bagiannya dengan lahap, lalu dia terhenti. “Ibundaku, mengapa kau tidak makan?”

Kepala wanita yang belum habis kecantikannya itu hanya menggeleng lemah. Tatapannya kosong menatap dinding sumur itu.

“Ibunda! Kau harus makan! Demi anakmu ini, makanlah!” bujuk Satria, berkali-kali. Namun, Saraswati memilih untuk menutup matanya. Satria memandangnya dengan putus asa. Dia menggetarkan dasar sumur itu dengan kepalannya. “Sial kau, Dharmawongso II!!!” Teriakannya bergaung hingga ke atas sumur.

Dayang wanita itu menoleh ke arah sumur, mendengar teriakan penuh kebencian itu dengan cemas. Dia lalu berbalik, menatap garang kedua penjaga yang anehnya justru menciut di hadapannya.

“Kalau kalian berani menghalangiku, aku akan laporkan pada Gusti Paduka Sri Kertajaya. Dia raja kalian sekarang!”

“Kau tahu, Gusti Paduka Raja Dharmawongso II memerintahkan…”

“Dia tidak tahu,” sergah dayang wanita itu keras dan tegas. “Dan dia tidak perlu tahu!” Dia lalu berbalik, mengangkat kainnya sedikit untuk menyeberangi rawa itu, kembali ke kediaman Kertajaya.

“Ampun, Gusti Paduka,” sahutnya dari luar wisma kediaman raja tersebut.

“Masuk,” sahut Kertajaya dari dalam. Dayang itu menunggu pintu kediaman raja terbuka, lalu menghaturkan sembah dan mendekati raja muda itu dengan lututnya. Kertajaya mengetuk-ngetukkan jarinya dengan tidak sabar.

“Bagaimana?”

“Ampun, Gusti Paduka. Gusti Paduka Raja Dharmawongso II memerintahkan mereka untuk tidak diberi makan, tapi aku telah memperingatkan kedua penjaga bahwa ini adalah perintah raja mereka.” Kertajaya mengangkat alis, hatinya sedikit mengagumi keberanian gadis ini melawan pengawal kerajaan.

“Kau mengamati kapan pergantian pengawal?”

“Hamba, Gusti Paduka. Saat maghrib tiba, pengawal yang berjaga akan kembali, lalu memanggil pengganti mereka.”

“Waktuku?”

“Maksud Gusti Paduka?” Wanita muda itu melupakan sembahnya, mengangkat kepalanya dengan terkejut. Kertajaya mendelik melihat kekurangajarannya. Dayang wanita itu langsung bersujud.

“Ampun, Gusti Paduka. Tapi, biarlah hamba yang melaksanakan semua rencana ini,” sahutnya tergeragap, sadar akan kekhilafannya.

“Tidak! Nyawamu akan jadi taruhannya. Kalau aku, Ayahanda tidak akan memenggalku.   Tidak semudah itu.” Dayang wanita itu tergugu, hatinya tersentuh oleh kebaikan Kertajaya yang rasanya dilakukan sekilas lalu itu.

“Besok aku akan bergerak. Para lelaki, kalian ikut aku,” perintahnya pada dayangnya. Hanya para dayang itu yang menjadi kepercayaannya, karena pengawal kerajaan mungkin masih menaati titah Paduka Raja yang terdahulu dibandingkan dirinya yang baru dinobatkan menjadi raja.

 

…bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s