Bhasmī Bhūta

Sesuai dengan petunjuk dayang wanita itu, Kertajaya kembali ke wismanya sebelum Maghrib tiba. Dayang lelaki yang berjumlah lima orang itu tinggal empat saja yang menjagai wismanya.

“Kemana satu lagi?”

“Kurang tahu, Gusti Paduka,” jawab salah satunya. Kertajaya mendengus kesal, berniat akan menjatuhkan hukuman sekembalinya dayang yang tidak patuh itu.

“Baik, kita berangkat.” Hanya dengan berbekal kedua pasang kaki mereka, mereka berangkat menuju sumur tempat pemasungan tersebut. Kertajaya memilih jalan yang tersembunyi, bebas dari penglihatan pengawal kerajaan. Begitu ada pengawal lewat, mereka bersembunyi di belakang bangunan istana. Maghrib mulai tiba, Kertajaya memberikan isyarat untuk mempercepat langkah mereka. Mereka pun sampai ke sumur tersebut.

Baru saja Kertajaya mendekat, sebuah tombak panjang telah terhunus di depan dadanya. Seorang pengawal menghalangi geraknya. “Kau!” raung Kertajaya murka. “Beraninya kau!”

“Atas perintahku!” sahut sebuah suara yang berat. Suara yang sangat dikenalnya. Ayahandanya telah keluar dari balik kegelapan pepohonan yang rimbun. Menatapnya dingin. Dia menghaturkan sembah.

“Ayahanda!” sahutnya, terkejut. Bagaimana ayahnya bisa mengetahui rencananya?

“Apa yang kau lakukan di sini?!”

“Kenapa ayahanda ada di sini?” sahut pria itu dengan waspada. “Dayang itu!?” seru Kertajaya menyadari ketidakhadirannya adalah petaka bagi mereka.

“Ya! Dia adalah mata-mataku! Tak suka kau?!” bentak Dharmawongso II dengan suara menggelegar.

“Ampun, Ayahanda!”

“Aku sudah duga kau akan melakukan ini. Kau mengecewakanku!!! Balik kau!!!”

“Tolonglah, ayahanda! Dia kakandaku dan ibundaku yang menimangku semasa kecil!” mohon Kertajaya mengembik di bawah kaki ayahandanya.

“Kembali ke wismamu!” sahutnya tegas. “Aku ampuni kau sekali ini! Tapi, sekali lagi kau coba dekati mereka, aku tidak akan segan memenggalmu! Kau tahu, pengawal jauh lebih memercayaiku dibanding kau, raja sehari! Kembali kau dan para dayang edanmu itu!” seru Dharmawongso II menggertak Kertajaya. Sekalipun merasa terhina, Kertajaya beserta para dayang lelakinya berbalik, tidak berdaya di bawah ancaman tombak dari pengawalnya sendiri.

“Kakanda, Ibunda, maafkan aku yang tidak berdaya ini,” bisiknya, menengadah kepada cahaya bulan. Dia mengirimkan berbagai doa kepada mereka berdua, sadar penjagaan akan diperketat dan dia tidak akan bergerak bebas di negeri yang dipimpinnya sendiri.

Satria dan ibundanya tidak pernah mengetahui adegan yang terjadi di atas sana. Sumur itu terlalu jauh dari atas tanah sehingga hiruk-pikuk di atas hanya terdengar samar. Mata pria itu berkilat oleh amarah. Bayangan Kertajaya dan Ayahandanya berputar-putar, seolah mengejeknya bertubi-tubi dalam kepalanya.

Satria meraba ke dalam ikat pinggangnya, sebuah batu kecil yang berwarna hitam-kelam keluar dari padanya. Dia mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya. Mahapatih yang putus asa itu menghela nafas. Ini adalah saatnya, sekarang atau tidak sama sekali. Dia mengatupkan kedua tangannya, mengapit batu kecil itu. Mulutnya membuka perlahan,

“Wahai Dewa Syiwa, engkau sang pemusnah. Jatuhkan angkaramu bagi Raja Kerajaan Kediri beserta seluruh isi-penghuninya. Kejatuhan bagi engkau dan seluruh keturunanmu tiada henti, tiada kebahagiaan diperuntukkan bagimu. Bhasmī Bhūta[1]!!!

[1] “Hancur hingga menjadi abu” dalam bahasa sansekerta

 

…bersambung…

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s