Mendeskripsikan Aroma yang Membangkitkan Emosi

Sekarang aku menulis dalam bahasa Indonesia. Kenapa? Waktu aku browsing google, aku kesulitan menemukan situs Indonesia yang membahas tentang cara mendeskripsikan aroma lewat kata-kata, kebanyakan malah bicara parfum. Sebenarnya, situs-situs parfum itu mungkin membantu dalam menemukan beberapa kata, tapi tidak sepenuhnya bisa membantu untuk mendeskripsikan aroma dalam kisah fiksi yang bisa sangat membantu dalam membangkitkan emosi pembaca.

Secara saintifik, aku tidak punya sumber. Namun, aku ingin mengeksplor banyak hal dari deskripsi aroma sebagai pelengkap setting kisah fiksi.

Novel yang aku tahu bicara tentang aroma secara mendalam adalah Perfume dari Patrick Süskind, dimana tokohnya mengenal dunia hanya lewat aroma. Ulasan lengkapnya di sini : Perfume .

Salah satu deskripsi aroma yang aku ingat dari buku ini adalah aroma manusia yang seperti keju asam. Analogi yang bagus.

Kenapa sulit sekali mendeskripsikan aroma? Karena aroma tidak berbuat apapun. Ia tidak berhembus seperti angin, ia tidak melambai seperti nyiur, ia tidak menari seperti api, aroma hanya sensasi yang tertangkap oleh hidung.

Memang ada beberapa aroma yang bisa dideskripsikan dengan gamblang. Busuk, pesing, apak, harum, segar, sengit. Belum-belum aku sudah pusing mencari yang lain selain enam ini. Kalau sudah begini, aku jadi salut dengan bahasa daerah yang biasanya lebih kaya dalam mendeskripsikan sesuatu, termasuk aroma.

Sebutan bau-bauan dalam bahasa Sunda :

Bau : bau bangkai

Hangit : bau benda terbakar

Hangru : bau darah

Hangseur : bau air seni

Hanyir : bau ikan (anyir)

Hapeuk : bau pakaian kotor/belum dicuci

Haseum : bau kotoran kucing/keringat

Penghar : bau jengkol/obat-obatan yang mengandung bahan kimia

Segak : bau tembakau/air tapai

Seungit : bau bunga/parfum

(sumber : wisatabdg.com)

Ini cuma dalam Bahasa Sunda, belum lagi dari bahasa daerah lain.

Masalahnya, dalam kisah fiksi, terutama novel yang membutuhkan setting lebih lengkap, penggambaran aroma ini akan membuat isi novel lebih kaya dan menarik. Semakin membuat pembaca mendalami emosi setiap karakternya, karena aroma biasanya membuat kita lebih mudah menginsafi segala hal.

Contoh sederhana, makanan. Makanan yang berbau sedap akan menggugah selera daripada yang berbau tidak sedap ataupun tidak berbau.

Satu hal yang aku pelajari dalam mendeskripsikan aroma, tentunya selain hanya menyebutnya kata-kata sifat yang sebelumnya kusebutkan, adalah menggunakan analogi seperti dalam novel “Perfume.”

Dan untuk menambah ide, aku juga membaca artikel ini : Wikihow : Describe a Smell.

Oke, ada masalah dengan koneksi internet, jadi aku akan lanjut pada posting berikutnya. Nanti mari kita sharing ide masing-masing, karena butuh banyak putar otak untuk mendeskripsikan aroma.

…tunggu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s