Bhasmī Bhūta

Kamera beralih ke reporter yang menyatakan keraguannya akan kesaksian anak muda tersebut. Bagaimanapun, polisi telah meninjau lokasi dan terbukti dia bukan si pengemudi. Kamera sekarang menyorot salah satu petugas polisi yang datang meninjau lokasi kecelakaan. Gadis itu mengedikkan bahu tak tertarik, lalu melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk membuat kopi, santapan pagi harinya.

Menyeruput kopinya, dia menatap lukisan kelabu yang berada di studio kecilnya yang sebenarnya berstatus gudang yang disulap oleh Sekar. Dia adalah penganut realis, mengagumi pola gerakan manusia, membekukannya dalam lukisan. Maka, dirinya sendiri menganggap cukup aneh apabila tiba-tiba saja dia tertarik untuk menggali tentang aliran romantisisme. Apakah dia jenuh dengan lukisan dengan tema yang sama, entahlah. Sketsa kasar itu baru selesai dibuatnya dari pensil. Suasananya muram, suram. Angker, pun sepi. Entah apa yang merasuki dirinya kali ini, melukis sesuatu yang tidak biasanya ia lukis. Dia menghela nafas. Lukisan ini apakah juga akan gagal? Setidaknya, di mata dosennya yang terlalu selektif itu?

 

“Sekar. Lukisan lu itu seringkali tidak berjiwa. Gak ada luapan emosi di dalamnya. Coba lebih berani menghidupkan warna-warna di dalamnya, coba eksplorasi tema lukisan lo lebih dalam.”

Sekar menunduk, tidak memercayai pendengarannya sendiri. Sedari pagi dia telah mengagumi hasil karyanya sendiri. Dia puas. Ya, dia teramat puas, menganggap lukisan itu adalah masterpiecenya. Namun, ternyata dosennya yang berpengalaman puluhan tahun menganggap karyanya itu tidak seberapa.

“Gue denger lu mau ngadain pameran?”

“Lagi coba bicara sama sponsornya, Pak.” Sekar menahan diri untuk tidak menghela nafas penat di hadapan dosennya. Kelemahan hanya memicu semangat pria berambut putih berekor kuda itu untuk menyepak Sekar ke jurang keputusasaan lebih jauh.

“Lu belom siap! Gini, gua jujur udah bosen ngomong berulang-ulang sama lu. Eksplorasi, coba, gali terus potensi lu. Jangan terpaku pada bentuk yang udah ada. Jangan terpaku pada minat lu aja, itu artinya membatasi diri. Gua bisa ngerasain ketakutan di lukisan lu. Takut keluar dari kotak lu itu. Pokoknya, jangan temui gua lagi kalo lukisan lu belom bener-bener bebas dari ketakutan dan batasan-batasan itu!”

Sampai kapan? Bagaimana dia bisa tahu bahwa lukisannya telah menampilkan warna yang berbeda, yang lebih berani? Sejauh ini, dia selalu menggunakan berbagai macam warna, tidak terfokus pada satu warna. Maka, dia sama sekali tidak memahami pola pikir dosennya yang menganggap warna yang digunakannya tidak meluapkan emosi jiwanya? Sekar menunduk, menghela nafas. Tangannya yang memegang kuas bergetar. Jari-jemarinya terlalu kotor oleh campuran warna cat-cat yang selalu singgah, begitu cepat, tapi begitu enggan untuk pergi. Lukisan ini. Apakah dia sedang mencoba bereksplorasi? Tiba-tiba perasaan ragu menyelimutinya kembali. Akankah dia menyelesaikan lukisan yang tidak sesuai dengan gayanya ini?

Kuasnya lalu bergerak, memilih cat akrilik warna hijau tua, mencampurnya dengan warna hijau muda sedikit, juga sedikit warna cokelat muda. Dia terus mencampur hingga tercipta satu warna hijau lumut yang sempurna. Dia menggoreskan kuas berujung lebar, menciptakan warna latar belakang untuk lukisannya.

“Kar!”

Sekar tersentak saat seorang wanita yang kurang-lebih berusia sebaya dengannya telah muncul di depan pintu studionya yang terbuka. Wanita itu berkulit mulus, tiada satu tahi lalat pun yang menyambangi kulitnya, membuatnya bagai pualam berwarna mutiara. Kecantikannya selalu membuat gelisah para pria, keanggunannya melumatkan hati kaum Adam. Tinggallah kaum Hawa mengimpi dan mengiri padanya.

“Bano? Kok lo di sini?”

“Kok pintu lo biarin kebuka gitu aja, sih?”

“Ya, emang kenapa? Gak ada juga peralatan yang bisa dicuri di sini.”

Wanita muda yang baru saja berbicara melalui ponsel dengannya itu, bergerak mendekat. Sambil tetap berdiri, dia memperhatikan sketsa yang kini telah dihiasi sapuan kasar hijau lumut. “Lo tumben bikin lukisan suram gini?”

“Iya, gue pake satu tone warna, hijau, semua didominasi warna hijau, bahkan langitnya memantulkan warna hijau itu, nanti paling gue maenin gradasinya. Kali ini gue mau coba romantisisme, kayak Raden Saleh. Gimana menurut lo?” Gadis itu mengangkat alisnya dengan mata bersinar antusias. Temannya yang ditanyai hanya mengangkat bahu.

Jari lentik berkuku panjang terawat itu terangkat, hampir menyentuh permukaan kanvas, mengikuti garis sketsa yang belum tersentuh cat. Matanya menerawang, mungkin membayangkan pemandangan itu terpampang memenuhi pandangnya.

“Hebat. Ada kekuatan magis di dalamnya,” sahutnya dengan nada misterius. Sekar mendengus geli, ketidakpercayaan mewarnai matanya yang mengejek.

“Apaan sih, lo!” tukasnya. Dia kembali menjawil campuran cat yang menempel di palet dengan ujung kuasnya itu.

“Lho? Kok lo gak percaya, sih?” Dia berkacak pinggang, menonjolkan lekuk dadanya yang menjulang sempurna. Sekar menatap wanita yang kini berdiri di sampingnya itu. Bagi Sekar, dia adalah wanita sempurna. Sosok tubuhnya, kecantikannya, struktur tulang, hingga…pikiran itu terhenti. Dia tidak berminat membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan wanita lain, terutama temannya sendiri. Layaknya masing-masing karya memiliki jiwanya sendiri, kecantikan pun punya keunikannya sendiri.

“Ceritanya ini adalah sebuah sumur di antara semak belukar yang indah. Sendirian, berteman dengan makhluk-makhluk tak bernama, tak berwujud…”

 

…bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s