Mendeskripsikan Aroma yang Membangkitkan Emosi (2)

Lanjutan dari artikel beberapa hari yang lalu; Mendeskripsikan Aroma yang Membangkitkan Emosi

Menyontek dari wikihow tentang cara mendeskripsikan aroma dan menambal-sulam dari pengalaman sendiri, akhirnya ada beberapa hal yang kudapat, setidaknya dari diri sendiri, bukan secara saintifik, tentang bagaimana mendeskripsikan aroma. Kita butuh ini, karena aroma selalu membuat emosi terjentik dengan mudah.

Membangun Indera-indera yang Lain

 

Dalam bahasa Indonesia, ternyata kutemukan istilah-istilah untuk mendeskripsikan aroma jauh lebih banyak daripada bahasa Inggris. Kemudiannya, aku tahu kalau kekayaan bahasa Indonesia juga dipengaruhi oleh kekayaan bahasa daerah di sini. Contohnya saja, istilah sengit, yang mendefinisikan aroma terbakar atau yang biasanya dikeluarkan serangga, berasal dari bahasa Jawa. Lainnya? Terlalu panjang kalau dideskripsikan di sini.

Jadi, sebenarnya akan lebih mudah untuk mendeskripsikan aroma dalam bahasa Indonesia. Itulah keindahan bahasa nasional kita 😉

Bagaimanapun, untuk semakin mempercantik kalimat, satu kata saja tidak cukup. Kita bisa menggunakan kata harum untuk sebuah bunga, tapi harum seperti apa? Aroma mawar dan aroma melati bisa dikatakan sangat jauh berbeda. Kalau aku mencoba mendeskripsikan dengan lebih jauh, aroma mawar menyentuh indera penciuman kita dengan lebih lembut dan mengawang. Bandingkan dengan keharuman aroma melati yang menyengat, menusuk indera penciuman dengan aroma yang lebih tajam.

Di sini, aku menggunakan kata-kata semacam lembut dan tajam. Keduanya sebenarnya lebih tepat digunakan untuk indera peraba yang adanya di kulit. Ini yang kumaksudkan dengan membangun indera-indera yang lain.

Yang pasti, penggunaan indera ini lebih untuk analogi, daripada menjelaskan aroma dengan konkrit. Ya, analogi yang lain-lain juga,  sih. Misalnya lagi,

Bunga itu berwarna kekuningan dengan aroma yang membangkitkan kehangatan pagi hari, pun sesegar berkas matahari yang masih bersinar malu-malu.

Pada kalimat di atas, aku mencoba mendeskripsikan aroma dengan menggunakan indera penglihatan, tanpa melupakan kata-kata kunci yang menggambarkan aroma. Seperti “sesegar” yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan aroma.

Yang paling sering kulakukan juga adalah menggunakan indera pencecap alias lidah, seperti aroma yang manis, kecut, atau sebagainya. Entah kenapa hal ini lebih mudah untuk dibayangkan daripada aroma yang sifatnya mengawang-ngawang. Kenapa, ya?

Membandingkan Aroma dengan Situasi Lain

 

Menganalogikan aroma dengan situasi lain juga bisa memperkaya deskripsi kita dalam menggambarkan aroma. Seperti contoh sebelumnya, aku membandingkan aroma dengan kehangatan cahaya matahari pagi dan berkas sinarnya. Ini juga analogi dalam situasi yang lain.

Sebelumnya, aku sudah memberitahukan kalau aku menyukai aroma selepas hujan, dengan aroma kayu dan rumput yang lembab, tapi aku sendiri selalu menemui kesulitan untuk menyampaikan aroma yang kupersepsikan dengan persis apa yang aku dapatkan sendiri. Namun, memang untuk mendeskripsikan aroma bukan sekadar untuk menyamakan persepsi atau membuat orang lain berpikir seperti yang kita mau. Dalam mendeskripsikan aroma, terutama dalam tulisan fiksi, itu artinya mencoba membangkitkan emosi dengan cara yang lebih unik.

Dalam hal ini, hujan tentu selalu membawa kenangan, siapapun akan berpikiran sama. Hujan selalu ada, dan memberi kesan lebih mendalam dengan suasana yang dingin dan sejuk. Semua orang akan memikirkan kenang-kenangan masa lalu terkait dengan hujan.

Kita bisa bermain kata di sini, dengan mendeskripsikan aroma hujan dengan kenangan semasa kecil, karena siapapun pernah bermain hujan ketika kecil. Misal,

Aroma hujan menarik ia ke masa lalu, di mana ia kecil tak berdaya, tapi tak ada beban yang dipikul. Aroma kenangan seperti kaki-kaki kecil yang menghempas-hempas kubangan air yang tiba-tiba saja muncul.

Saat aku mendeskripsikan ini, dengan segera aku kembali ke masa kecil, ketika aku berani berbasah-basah tanpa mencemaskan macam-macam. Bagaimana dengan aku yang sekarang, sepatu basah saja aku bisa merasa kesal. Boring adult hehe…

Bisa juga mendeskripsikan dengan sesuatu yang menyebalkan. Misal,

Aroma itu busuk dan berbau tidak enak, seperti tempat pembuangan sampah dengan banyak belatung di tengahnya.

Weew, lebih baik kalimat di atas ini dijadikan bagian dari cerita thriller, ya, jangan romance, hehe…

Analogi dengan Aroma Lain

 

Sebenarnya, ini cara mendeskripsikan aroma yang paling tidak memuaskan menurutku. Masalahnya, ini hanya akan merambat kepada pikiran-pikiran lain tentang bagaimana lanjutan mendeskripsikan kata yang kita pakai untuk menganalogikan satu aroma. Rasanya dia hanya jadi aroma di atas aroma.

Misal, aroma ruangan itu menebarkan aroma bunga. Nah? Aroma bunga yang seperti apa? Jadinya, aku merasa kurang puas. Tapi, tentu saja, daripada meninggalkan ketidakpuasan seperti itu, aku bisa juga mengembangkannya dengan cara mendeskripsikan aroma yang lain. Misalnya dengan menambahkan;

 

Mengingatkannya akan sejuknya embun pagi hari yang mengitari taman yang sepi,

atau

 

Membangkitkan kenangannya akan kampung halaman yang penuh dengan bunga-bunga tropis.

Yang pasti, tentunya kita harus menggunakan perbandingan dari dua benda yang sangat berbeda. Maksudnya, tidak mungkin menganalogikan aroma bunga yang satu dengan bunga yang lain, kan? Rasanya jadi tidak masuk akal dan memang hampir tidak mungkin membandingkan aroma objek yang sama, karena biasanya memang mereka pastinya memiliki aroma yang berbeda. Misalkan,

 

Aroma tubuhnya sesegar lavender yang bercumbu dengan embun pagi hari.

 

Atau yang paling sederhana dan terlalu jelas untuk dideskripsikan, bunga bangkai yang mirip dengan bau bangkai atau kotoran. Haha, rasanya tidak perlu lagi dijadikan contoh.

Mendeskripsikan Aroma seperti Pelaku

Kita mungkin sering mendengar bagaimana nyiur melambai, angin berhembus, majas yang kuingat sebagai majas personifikasi, dimana kita memposisikan benda mati seperti benda hidup. Karena yang biasanya melambai adalah tangan manusia, kan? Atau, yang kekerabatannya dekat dengan kita, seperti hewan primata lah.

Lantas, kenapa tidak kita coba dengan aroma? Kita bisa personifikasikan aroma dan membuatnya seperti kanak-kanak yang nakal, atau orang dewasa dengan pendirian yang kaku dan dingin. Dia bisa melambai, menggelitik, atau yang lain-lain. Aku paling suka penggambaran aroma seperti ini. Tidak hanya aroma, aku paling suka menggambarkan majas personifikasi dalam hal apapun. Misal,

 

Aroma bensin itu menguar kuat, melompat-lompat di indera penciumannya, mengganggu dan mengolok-oloknya.

Di sini, aroma bertingkah seperti anak-anak iseng yang riuh-rendah suka mengolok-olok. Ini membuat kita merasa lebih dekat dengan aroma, bukan? Walaupun, aroma itu tidak tergambar secara konkrit, tapi emosi yang didapat dari aroma itu cukup jelas.

Apa lagi, ya? Mungkin;

Aroma pantai itu membelai hidungnya dengan lembut, membisikkan kata-kata yang melepasnya untuk terlelap.

Sejauh ini, hanya beberapa poin di atas yang aku temukan. Mungkin ada lagi yang lebih menarik kalau dibahas lebih lanjut atau ada cara-cara mendeskripsikan aroma yang lebih unik. Kalau memang ada yang lain lagi terbersit di pikiran, nanti aku update lagi.

Akhir kata, kalau contoh-contohnya agak mirip dengan wikihow, mohon dimaklumi, karena memang inspirasinya datang dari sana. Tapi, masalah-masalah begini lebih enak didiskusikan, karena ini murni opini yang tidak ada dasar keilmuannya. Mudah-mudahan ada lulusan sarjana bahasa Indonesia atau Sastra Indonesia yang mampir untuk mendefinisikan keilmuannya. Atau, siapa saja juga boleh diskusi dengan meninggalkan komentar. Ditunggu, ya 😉

 

Ini artikel lengkap dari wikihow tentang bagaimana mendeskripsikan aroma (Sayang, dalam bahasa Indonesia aku belum menemukan); Describe a Smell by WikiHow

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s