All posts by dewinda

Keep On Writing

Yang Kutemukan Selama Belajar Menulis Artikel

Apa kabar, dunia?

Yang menyenangkan dari internet memang bisa menghubungkan banyak orang dari seluruh dunia. Tidak hanya cepat, tapi juga murah-meriah karena kita hanya mengandalkan internet. (Bisik-bisik : padahal sih, katanya, layanan informasi di Indonesia termasuk mahal). Bagaimanapun, memang tetap lebih murah dan mudah ketimbang jalur pos, misal.

Aku nggak pernah punya teman pena di luar sana, jadi kurang tahu juga bagaimana detail-detail berkirim surat antar negara. Kalau sekarang, pakai layanan messenger berbagai medsos dan email sih, udah bisa.

Ok, cukup sekian basa-basi nggak jelasnya.

 

Pengalaman Menulis Artikel

Kali ini aku pengen berbagi pengalaman nulis artikel. Aku biasanya fokus ke tulisan-tulisan fiksi, karena aku suka bermain dengan imajinasi. Dan lagi, rasanya kebebasan menulis fiksi tidak terbatas. Walaupun, sekarang ini, aku sama sekali nggak setuju. Maksudnya, kalau karya fiksi juga diuntukkan pada pembaca, artinya pembaca harus paham isi tulisan. Dan karena mereka harus paham, logika tulisannya tetep harus berpegang pada realita.

Jadinya, kebebasan sebebas-bebasnya itu mungkin cuma ilusi. Soalnya ada resikonya. Nulis tapi gak ada yang baca kan nyesek juga haha…

Jadi, selama nyoba-nyoba nulis artikel, aku memperhatikan beberapa hal yang penting buat mendukung penulisan artikel.

1. Riset

Ini sebenernya yang paling males dari nulis artikel. Faktanya harus bener-bener valid dan arus informasi di internet kan bermacam-macam dan nggak semuanya terpercaya. Beda sama fiksi, informasi dasar bisa ditambal sulam, dan orang tetep maafin dong. “Namanya juga fiksi” hoho…Jadi, soal info ini tetep mesti milih-milih, sekalipun informasi tentang satu hal bisa dapet segudang dari internet.

Buat orang perfeksionis mungkin semua sumber yang ada dibaca dan diperhatikan dulu ya, lain hal denganku. Aku memperhatikan fragmen-fragmen dari satu artikel yang bener-bener kubutuhin aja. Dan biasanya aku nulis artikel dulu, baru nyari info di internet sesuai kebutuhan. Cara ini lebih gampang, tapi rentan juga karena bisa aja ada info tambahan yang mengklarifikasi atau membantah info yang kudapet.

Nah, ini salah satu artikel hasil riset yang kurang bener. Jujur, ya? Iya, harus jujur kalau mau berkembang. Waktu nunjukin artikel ini ke temen-temen penulis, aku habis dicaci-maki karena infonya simpang-siur. Lah, tapi disuruh komen di blog ini kagak mau juga. Huh! (Coba kalau ada fitur mention, udah aku mention satu-satu tuh orang-orang hahaha) Silakan baca artikelnya di sini : Perkembangan Film Animasi 3D di Indonesia

Jangan tiru aku, deh! 😀

2. Hati-hati dengan Topik Artikel

Pernah lihat nggak, beberapa artikel dengan topik yang sama, paling beda-beda dikit. Selama riset artikel, aku banyak nemuin hal begini. Kadang-kadang, malah keliatannya, satu blog mencomot dari blog lain. Inilah ruginya dunia dengan arus informasi yang terlalu mudah. Plagiarisme jadi makin gampang.

Nah, bayangin kalau topik yang mau kita tulis sama dengan topik yang udah ada? Rasanya gimana gitu, deh. Kalau referensi diambil dari artikel itu, berasa plagiat, walaupun beda bahasanya. Apalagi, ini jadi menyalahi prinsip berita, yaitu unik. Artikel ini sama aja kayak laporan khas di berita, jadi prinsip-prinsip keberitaan harusnya tetep berlaku untuk artikel.

Sayangnya, dengan banyaknya orang berlomba-lomba buat naikin trafik webnya, akhirnya banyak banget yang nulis artikel-artikel, jadi makin banyak deh kompetitornya. Nasib…

Di lain pihak, ada bagusnya. Kalau kita butuh bahan buat artikel, ya comot aja dari artikel itu. Yang pasti, tetep harus cari sumber artikel yang tepat. Soalnya banyak blog-blog ngasal di internet. Ya, inilah salah satunya. Blog pribadiku ini.

3. Siap-siap dengan Kemampuan Bahasa Inggris

Kenapa Bahasa Inggris doang? Karena aku bisanya itu haha. Dan lagi, Bahasa Inggris emang udah sangat umum, karena dia bahasa internasional, penghubung antar etnik-etnik dunia dengan beragam bahasa. Trus, apa hubungannya dengan nulis artikel?

Karena, walaupun arus informasi di internet ini sangat cepat dan banyak, ternyata tetep terbatas. Kalau hanya bertumpu pada artikel berbahasa Indonesia, kadang kita susah dapet informasi yang mendalam. Sebagian memang ada yang tersedia lengkap, tapi ada juga yang susah banget dicari. Dan ternyata, ini bisa ketutup dengan nyari sumber-sumber dari luar.

Pastinya, juga wajib paham perbedaan budayanya. Jadi, kalau kita ambil sumber dari Bahasa Inggris, bisa jadi beberapa info nggak cocok dengan kondisi di negeri kita. Harus punya banyak pertimbangan, deh.

Coba baca artikel hasil kerjaanku di sribulancer, nih : How to Treat Scabies in Rabbits. Di sini ada yang namanya NEEM oil. Aku nggak pernah denger sama sekali tentang minyak itu, tapi di sumber berbahasa inggris, emang banyak penggunaan neem oil ini. Untungnya, ini artikel juga berbahasa inggris, jadi nggak perlu banyak perubahan. Kalau ini buat artikel bahasa Indonesia, ya nggak mungkin dijadikan pegangan, kan.

Mungkin lebih bagus lagi kalau kita punya kemampuan bahasa lain, kayak Jerman, Jepang, Cina, dkk, lebih lengkap lagi sumber yang bisa kita dapat. Tapi, ya gitu, deh. Kemampuan bahasaku terbatas.

4. SEO dan Keterbatasan Penulis

Yang namanya nulis itu sama aja kayak melukis. Alih-alih cat yang berwarna-warni, kita menggunakan bahasa dengan nuansa emosi yang berbeda-beda, lalu menggabungkannya seperti menggabungkan warna dalam lukisan. Sekarang ini, karena banyaknya kompetisi antar web, akhirnya orang lebih milih jalan praktis buat naikin trafik di blog/webnya.

Salah satunya itu dengan penggunaan SEO. Penulisan artikel untuk web sekarang lebih banyak mengikuti kaidah-kaidah SEO, karena emang SEO ini adalah cara untuk mengoptimasi pencarian kata kunci yang kita pake di artikel kita. Intinya, cara biar web/blog kita langsung jadi yang teratas begitu ada orang ngetik kata kunci tertentu.

Sayangnya, ini membatasi ekspresi penulis dalam mencampurkan kata-kata dan mencampurkannya untuk menjadi lukisan besar yang indah. Biasanya, artikel SEO itu emang lebih menuntut kata-kata yang mudah dan umum digunakan. Ah, kanvas itu jadi buku bergambar anak-anak, dengan garis-garis pembatas yang kaku.

Apalagi, ya? Aku rasa sekian sampai di sini, karena aku lagi ada urusan lain (alias belanja hihihi…)

Advertisements

Bhasmī Bhūta

“Jadi?” Setelah beberapa lama mereka meneliti buku itu, Sekar mengamati reaksi Arya. Pemuda itu tampak kebingungan, lebih banyak membolak-balik kumpulan kertas dengan warna yang mulai kecokelatan karena termakan usia itu.

“Di sini disebutin kalo lepasnya ruh dari tubuh manusia hanya disebabkan dua hal, yaitu kematian dan tidur. Maka, beberapa pendapat menyatakan bahwa tidur adalah suatu kondisi mati suri yang sifatnya hanya sementara. Sementara kita tidur, ruh kita bisa saja melayang di tempat lain…” Arya mengingat-ngingat. Sekar hanya bisa menunggu.

“Waktu itu gue ngerasa justru ruh gue keambil, trus pingsan.”

“Ya, cocok,” sela Sekar. Arya menghentikan omongannya.

“Trus gue tiba-tiba ada di tempat yang lain, tapi gue sadar. Berarti ruh gue balik, kan?” Dia menoleh meminta pendapat Sekar. Gadis itu mengangguk ragu, tidak yakin akan arah pembicaraan Arya. “Tapi, gak sepenuhnya. Apa mungkin ruh baliknya gak utuh?”

“Bentar, bentar.” Sekar menghentikan Arya dan asumsinya, lalu membolak-balik buku itu. “Di sini ada definisi ruh, kan? Lihat, Sebagian ulama berpendapat bahwa ruh adalah suatu benda serupa gelombang cahaya yang sifat intinya sangat halus. Ruh tidak dapat terpisah atau terkoyak, dan tidak pula terangkum dalam dimensi panjang atau lebar.

Arya mendesah, “Trus? Kenapa gue bisa beda kalau ruh gue kembali baik-baik aja?”

“Gini,” sela Sekar, memejamkan mata. Otaknya berputar keras. “Anggep ruh itu yang mengaktifkan badan. Kalo gak ada ruh, otot kita gak kerja, jantung kita gak berdetak, kita sama aja mati, sekalipun organ-organ tubuh kita masih bagus. Otak juga diaktivasi oleh ruh, kan? Gimana kalo ruh dan jasad itu bisa bersatu dengan baik kalo sebenernya ada sinkronisasi antara mereka?” jelas Sekar, mengangkat alis ke arah Arya.

“Oke,” angguk Arya, semakin tertarik.

“Nah, gimana kalo mungkin ada sesuatu yang bikin sinkronisasi antara ruh dan badan lo itu ilang. Kalo di dunia medis, jelas namanya penyakit fisiologis. Nah, gimana kalo penyakit lo ini sifatnya lebih gaib?”

“Maksudnya?”

“Gimana kalo lo disantet? Jadi, ruh sama badan lo itu jadi gak sinkron karena dihalangin oleh kekuatan itu.”

“Hah? Serius lo?! Zaman sekarang emang masih ada maenan kayak gitu?”

“Ya ampun, baca berita, dong. Itu orang yang tubuhnya keluar kawat atau paku gimana tuh, ceritanya?”

“Tapi, tubuh gue baik-baik aja.”

“Mungkin santet itu gak nyerang fisik lo, mungkin nyerang ruh lo. Mungkin yang sakit itu ruh lo.”

“Kayaknya interpretasi lo lumayan gila.”

“Iya, sih,” sahut Sekar, menghela nafas. “Tapi, gak ada salahnya nyari tau soal itu, kan?”

Arya mengedikkan bahu dengan wajah putus asa. Kalau dia harus mencari tahu segala tentang dunia ruh ini, jelas akan memakan waktu yang lama. Rasanya terlalu abstrak. Sesuatu yang tidak terikat dengan materi di atas bumi pastilah jauh lebih sulit untuk diraba, baik dengan tangan maupun dengan pikiran.

“Mending cari di internet, deh,” keluh Sekar tiba-tiba. Dia mengamati rak-rak yang berderet kaku dan bisu. Seolah sedang menantang manusia untuk beradu diam dengannya. “Gimana kalo lanjut di kontrakan gue? Deket sini, kok.”

…..bersambung…..

Nasib Studio Musik di Era Digital

Keberadaan banyak aplikasi pembuat musik dan/atau music editor memberi keuntungan bagi musisi-musisi baru. Dengan modal yang jauh lebih rendah mereka dapat membuat musik mereka sendiri. Bahkan, tidak perlu lagi menyewa studio musik maupun audio engineer. Ini merupakan tantangan baru bagi usaha studio musik di era digital.

Tak pelak lagi, memang era digital mengubah banyak hal. Usaha yang menyediakan produk fisik mulai tergerus oleh aplikasi-aplikasi di berbagai bidang. Misalnya saja, toko penjual album yang sekarang mulai gulung tikar. Keberadaan mereka digantikan oleh aplikasi-aplikasi penyedia musik seperti spotify. Layanan premiumnya pun jauh lebih murah daripada album fisik dengan kesediaan musik yang tak terbatas.

Studio musik juga mengalami tantangan yang sama. Karena sewanya yang tergolong mahal, studio musik mengalami penurunan pelanggan. Beberapa usaha penyewaan studio musik bahkan sudah menyerah di tengah kompetisi yang ketat.

Inovasi bagi Studio Musik

Studio musik, bagaimanapun, memiliki komponen-komponen yang tidak dimiliki oleh aplikasi manapun juga. Termasuk, rasa dan karsa manusianya sendiri. Maka, pihak-pihak yang terlibat dalam produksi audio dalam studio musik dapat memberikan kreasi dan inovasi lebih luas daripada mesin apapun.

Menciptakan Jenis Musik Baru

Musik adalah seni. Sebagaimana seni yang lain, ia dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, studio musik dengan komponen manusia yang tidak tergantikan dapat menciptakan musik baru. Seperti halnya lukisan, suara-suara yang ada di sekitar kita bisa dicampuradukkan menjadi satu jenis suara baru. Yang kemudian bisa menghasilkan musik baru.

Franchise bagi Home Recording Studio

Hal yang marak terjadi sekarang ini adalah bisnis seminar dan pelatihan-pelatihan di segala bidang. Studio rekaman musik juga bisa menjadikan fenomena ini sebagai inovasi dalam bisnis yang mulai meredup. Studio musik bisa mengadakan pelatihan bagi orang-orang yang tertarik untuk berbisnis dalam bidang perekaman suara. Nantinya, orang-orang yang diberikan pelatihan dapat diberikan penawaran bisnis berupa franchise.

Memberikan Pelayanan Tambahan dalam Bidang Musik

Allen Sides dalam entrepreneur.com tidak hanya membangun studio rekaman musik, tetapi juga mengumpulkan berbagai alat musik berkualitas tinggi. Alat-alat yang tergolong jarang ditemukan ini kemudian disewakan kepada para musisi. Selain itu, ia juga memberikan pelayanan berupa perbaikan alat-alat musik dan perlengkapannya. Tidak hanya itu, ia bahkan membangun high-end speaker secara costum. Bayangkan kalau speaker ini memberikan keunikan yang tidak dimiliki produk lainnya, ini tentu akan semakin menguntungkan bisnisnya.

Studio musik memang masih memegang peranan penting dalam dunia musik. Namun, persiapan tetap harus dilakukan seiring dengan berkembangnya teknologi. Bahkan, kini telah ada produk LANDR yang menggunakan algoritma rumit yang mampu menggantikan peran sound engineer. Algoritma dalam LANDR dibangun dengan cara menganalisa ribuan lagu-lagu, yang kemudian dijadikan data yang akan memberikan layanan mixing suara yang lebih baik. Semacam Artificial Intelligence dalam dunia musik.

Maka dari itu, pelaku-pelaku musik sekarang ini sama sekali tidak boleh lengah. Kalau tidak, era digital bisa menggerus usaha manusia, yang digantikan oleh mesin.

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini : SAE : Sekolah Media Kreatif.

Apakah Efek Praktikal Masih Diperlukan pada Era Film Digital?

Seperti yang kita tahu, film-film spektakuler banyak memakai efek komputer atau CGI dalam pembuatannya. Kita harus bersyukur pada era digital yang membuat adegan-adegan laga dalam film terkesan lebih hidup. Pembuatan film secara digital menjadikan semua serasa mungkin. Ini mendatangkan pertanyaan, “apakah efek praktikal masih diperlukan pada era film digital?”

Apa itu Efek Praktikal dalam Film?

Efek praktikal adalah efek kamera yang tidak menggunakan teknik komputerisasi dalam pembuatannya. Sebaliknya, ia memanfaatkan teknik-teknik manual yang juga mengagumkan. Misalkan saja, bagaimana film Lord of the Rings memanfaatkan teknik ilusi optik untuk saat hobbit terlihat jauh lebih pendek saat berhadapan dengan penyihir? Tidak ada efek komputer di adegan tersebut, melainkan hanya permainan sudut pandang. Dengan mengubah jarak pengambilan gambar antara satu pemain dengan pemain lainnya, maka terciptalah ilusi optik yang membuat hobbit jadi terlihat sangat pendek.

Dengan teknologi film digital, mungkin membuat ilusi optik ini jadi lebih mudah. Yang perlu dilakukan adalah menambahkan efek CGI dan jadilah adegan-adegan “janggal” yang terasa nyata. Sayangnya, teknik ini membutuhkan keahlian komputerisasi yang tinggi. Sedikit saja terjadi penyimpangan dalam penggunaan teknik CGI, adegan dalam film bisa lebih aneh daripada teknik praktikal.

Keuntungan Efek Praktikal

Keuntungan efek praktikal sendiri adalah lebih mudah untuk mengatur agar adegan terlihat lebih riil. Nyatanya, beberapa sutradara masih menggunakan efek praktikal ini. Contohnya adalah Christopher Nolan. Kita tentu ingat film spektakuler yang masih membekas di benak orang hingga saat ini, Dark Knight Trilogy?

Kita juga tentu ingat bagaimana adegan Batman mengejar Joker sepanjang jalan Gotham City. Seringkali terjadi tabrakan dan ledakan pada saat itu, yang terlihat sangat nyata. Mudah sekali bagi kita menganggap kalau adegan itu dibantu oleh teknik CGI. Lagipula, siapa yang rela menghancurkan mobil-mobil dan truk begitu saja?

Namun, adegan itu justru menggunakan efek praktikal. Nolan memilih untuk membangun miniatur dari setiap kendaraan yang terlibat dan menggunakannya dalam adegan tersebut. Hal ini adalah salah satu contoh efek praktikal yang digunakan dalam film.

Keuntungan lain dari efek praktikal adalah emosi yang dihasilkan akan lebih terasa. Biasanya, efek praktikal menggunakan kostum buatan yang akan dikenakan pemain. Akting dari pemain tersebut akan membuat emosi dari efek itu terasa lebih hidup. Ia tidak nyata, tapi juga nyata.

Sekalipun tidak berupa kostum, melainkan hanya model yang digerakkan oleh remote atau semacamnya, gerakan yang dihasilkan biasanya akan lebih bebas dan tetap terlihat lebih nyata daripada efek CGI.

Apakah itu artinya efek praktikal lebih baik dari efek CGI? Tentu saja tidak. Teknologi CGI tetap diperlukan untuk memperkaya adegan dan “menghaluskan” efek-efek dalam film. Sedangkan, efek praktikal akan membawa emosi yang lebih kaya dalam film. Tentu gabungan keduanya akan membuat film jadi jauh lebih sempurna, bukan?

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini : SAE : Sekolah Media Kreatif.

Peran Digital Imaging dalam Bisnis UKM

Beberapa tahun yang lalu, apa yang kita pikirkan saat mendengar istilah digital image? Tentunya, kita akan otomatis memikirkan tentang perangkat-perangkat canggih juga studio yang besar? Sekarang, istilah tersebut sudah sangat dekat dan familiar. Bahkan, kita sudah biasa menggunakannya sehari-hari. Termasuk, para pelaku usaha UKM. Begitu banyak peran digital imaging dalam bisnis UKM saat ini.

Kalau dulu, bisnis UKM lekat dengan istilah “usaha rumahan,” sekarang kita lebih banyak menyebutnya bisnis online. Dengan berkembangnya era digital, tidak heran kalau banyak yang memanfaatkan kepraktisan dan arus informasi teknologi yang sangat cepat.

Dengan maraknya media sosial yang beragam jenis, kesempatan bagi bisnis UKM semakin terbuka. Terbukti dengan banyaknya toko-toko online yang bermunculan di media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Media sosial dengan mudah menghubungkan antara penjual dan pembeli, hanya dengan akses internet.

 

(Baca selengkapnya tentang : Tips Ngasal Blogger Pemula)

Perkembangan Digital Imaging

Kecepatan arus informasi teknologi ini membuat perusahaan-perusahaan berbasis IT semakin kompetitif. Peningkatan kompetisi ini membuat perusahaan-perusahaan tersebut banyak mengembangkan aplikasi dan fitur-fitur mobile yang semakin menarik. Terutama, dalam bidang digital image.

Sudah tidak terhitung banyaknya aplikasi yang menggunakan teknologi digital image. Sekarang, mengambil foto yang indah dan menarik sudah terbilang sangat mudah dengan peningkatan kualitas dan resolusi pada kamera telepon selular. Apalagi, aplikasi untuk editor foto yang menjamur mampu menyempurnakan foto tersebut.

Kesempatan ini pun dimanfaatkan oleh pelaku bisnis UKM untuk mengambil foto-foto produk yang menarik hati. Istilah yang tren sekarang adalah foto yang “instagramable,” yang mengacu pada foto produk yang berkualitas tinggi.

Memanfaatkan Digital Imaging

Untuk menjadi pemain dalam bisnis online, keahlian dasar dalam digital imaging sangat diperlukan saat ini. Tidak ada salahnya untuk mencari aplikasi-aplikasi mobile untuk meningkatkan kualitas foto produk. Aplikasi ini akan mudah untuk digunakan di mana saja dan kapan saja diperlukan. Namun, tidak cukup dengan mengunduh aplikasi ini dan menaruh di smartphone kita. Yang harus kita lakukan adalah menguasai teknik editing foto agar gambar yang sudah kita ambil jadi jauh lebih menarik.

Tidak hanya praktis, aplikasi ini juga jauh lebih meminimalisir biaya yang dikeluarkan. Foto produk yang diambil secara profesional biasanya akan menggunakan studio yang berbekal pencahayaan lampu khusus dari berbagai sudut. Dengan resolusi pada smartphone dan aplikasi photo editor, kita tidak perlu mengeluarkan biaya untuk semua itu.

Yang perlu diingat adalah pemahaman tentang berbagai aplikasi mobile sangat mendukung dalam pemilihan aplikasi. Kita perlu tahu fitur-fitur yang ditawarkan oleh aplikasi tersebut, supaya kita dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan bisnis. Beberapa aplikasi mobile yang cocok untuk foto produk adalah:

  1. Photoshop Express,
  2. TouchRetouch,
  3.  Autodesk Pixlr,
  4.  Camera+,
  5. Procamera8  HDR
  6. VSCO Cam

Beberapa adalah aplikasi berbayar dan adapula aplikasi yang gratis. Tentu saja, aplikasi yang berbayar akan memberikan fitur yang jauh lebih banyak dan lebih lengkap. Namun, apabila aplikasi yang gratis sudah cukup mendukung foto produk kita, menggunakannya tentu akan lebih menguntungkan.

Teknik Pengambilan Foto Produk

Menggunakan aplikasi kamera dan photo editor memang mempermudah hidup kita. Namun, hal itu saja tidak cukup. Kita harus ingat bahwa semua kemudahan itu berlaku untuk banyak orang, sehingga bisnis UKM akan menjadi sangat kompetitif. Maka, kita juga membutuhkan pengetahuan tentang teknik pengambilan foto produk.

  1. Memahami produk dan kelebihan yang ingin ditampilkan.
  2. Menentukan konsep foto yang akan diambil.
  3. Menggunakan studio mini yang didukung dengan lighting buatan.
  4. Menggunakan beberapa angle dari produk.
  5. Hindari zoom in pada kamera ponsel.
  6. Lebih baik menggunakan lighting buatan daripada flash kamera ponsel.
  7. Buat sesederhana mungkin dengan latar belakang yang mendukung warna produk.

Begitu kita memahami proses digital imaging yang sederhana lewat ponsel kita, kita siap untuk terjun ke arena kompetisi bisnis UKM. Hal ini akan jadi senjata yang kuat, selain pemahaman tentang cara kerja media sosial itu sendiri.

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini : SAE : Sekolah Media Kreatif.

Tips Membuat High Quality Audio untuk Film Indie

Film indie di Indonesia semakin tegas menemukan jalannya. Sudah banyak film indie produksi anak-anak bangsa yang meraih penghargaan, sebut saja Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, Istirahatlah Kata-kata, dan lain-lain. Memahami cara membuat high quality audio untuk film Indie jadi penting apabila kita juga ingin berkontribusi dalam dunia film indie.

 

(Baca lebih lanjut resensi film di sini : “Easy A”)

 

Berikut ini adalah beberapa tips untuk membuat high quality audio untuk film indie yang sering berbudget rendah :

 

1. Dual System Audio

Singkatnya, dual sistem ini adalah audio yang direkam dengan peralatan yang berbeda dari kamera yang merekam gambar. Kelebihan dari dual system audio ini adalah kita bisa mengatur tingkat kualitas audio, seperti sampling rate dan bit depth yang lebih tinggi. Ditambah lagi, merekam audio dari kamera dengan sistem single audio justru kurang praktis karena kita akan membawa-bawa kabel sepanjang proses perekaman. Dual system audio juga dapat membuat audio yang dihasilkan tetap berkualitas walaupun dengan peralatan syuting seadanya.

 

2. Jenis-jenis Peralatan yang Digunakan

Alat-alat yang digunakan dalam merekam audio untuk film sangat menentukan kualitas suara. Misalkan saja, kabel audio yang akan mengirimkan sinyal dari mikropon ke preamplifier. Kabel yang sering digunakan profesional adalah kabel XLR, yang mempunyai input balanced dengan adanya konfigurasi 3 pin pada audio jack-nya. Mikrofon tentu saja faktor penting untuk pembuatan film. Mikropon yang paling sesuai adalah boom mic yang bisa ditempatkan dengan fleksibel untuk memastikan suara bisa jelas terekam. Untuk meringankan budget yang dikeluarkan, peralatan ini bisa disewa. Yang harus diperhatikan, jenis peralatan yang digunakan tetap harus memenuhi standar agar menghasilkan kualitas suara yang baik.

 

 3. Merekam Room Tone

Room tone adalah rekaman suara latar belakang tempat lokasi syuting film tanpa diikuti oleh suara dialog atau adegan-adegan lainnya. Hal ini sangat berguna dalam pasca produksi suara di mana editor suara bisa menggunakan latar belakang suara yang lebih tepat untuk satu dialog, bahkan bisa digunakan sebagai tambahan efek suara.

 

 4. Bekerja sama dengan Operator Boom dan Sound Recordist

Kedua kru ini sangat vital dalam merekam suara yang berkualitas. Mungkin sekilas tugas operator boom hanya memindah-mindahkan boom mic, tetapi penempatan mikropon itu sendiri sangat penting dalam menentukan kualitas suara. Untuk film Indie yang berbudget rendah, tentu merekrut keduanya bisa jadi beban. Maka, carilah sound recordist yang profesional yang biasanya juga memahami cara kerja operator boom mikrofon.

 

 5. Memahami Lokasi Syuting

Mempersiapkan diri untuk survei lokasi yang akan dipakai untuk syuting juga penting dalam menentukan kualitas audio yang baik. Kita harus memperhatikan suara-suara yang biasa muncul dalam lokasi tersebut, sehingga bisa meminimalisir gangguan audio pada proses perekaman suara.

 

6. Menggunakan Slate atau Clapperboard

Kelihatan remeh, memang, tetapi ternyata penggunaan slate atau clapperboard cukup penting untuk memisahkan adegan demi adegan. Dengan adanya suara pemisah antar adegan ini, maka akan mudah untuk mengedit suara pada proses pasca produksi nantinya. Misalnya saja, untuk melakukan looping atau lipsync agar dialog yang kurang baik dapat diperbaiki.

 

7. Memastikan Operator Boom Menonton Latihan Syuting

Sekalipun, dalam pengeditan suara, editor bisa melakukan looping, kualitas suara yang dihasilkan jelas berbeda daripada perekaman awal. Maka, mempersiapkan operator boom akan meminimalisir kesalahan penemapatan boom mikrofon pada pengambilan suara.

Tentu saja, yang paling penting adalah kesabaran dalam merekam suara pada syuting film. Ketidaksabaran hanya akan membuat kualitas suara lebih buruk, padahal suara adalah aspek penting dalam menikmati film. Bahkan, sutradara besar Steven Spielberg menyatakan bahwa “Sound is half of the picture.” Begitulah, suara sangat menentukan bagaimana film bisa dinikmati.

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini : SAE Indonesia : Sekolah Media Kreatif.

Bhasmī Bhūta

(Lanjutan Bab II : The Social Contract)

 

Buku The Social Contract itu berada di mata Arya saat ini. Dia tersenyum dan mengambilnya. Sekar menyisir rambut ikalnya yang tidak tersisir dengan jemarinya. Dia tidak percaya dia sedang duduk berdampingan dengan pria yang baru dikenalnya dua hari yang lalu sepagi ini. Bahkan jarum jamnya belum menunjuk pada angka delapan. Rasanya hidupnya beralih ke arah yang aneh. Bahkan, perasaannya tentang pemuda ini begitu aneh.

Saat dia terbangun karena dering ponselnya itu, dia keheranan melihat nomor telepon yang tidak dikenalnya menghiasi layar itu. Namun, begitu mengangkatnya, entah kenapa dia langsung mengenali suara itu. Lagipula, teman-teman lelakinya jarang menghubunginya lewat telepon. Dan setengah jam kemudian, dia sedang duduk bersama si penelepon, memandangi patung abstrak kelabu yang seolah sedang balas mengamatinya.

“Udah selesai?” sahut Arya, menyadarkan lamunannya.

“Buku paling ngebosenin yang pernah gue baca,” sungut Sekar, menggeleng-gelengkan kepala. Saat ini mereka berada di depan bioskop TIM, duduk menggelesot di terasnya.

“Hebat juga lo bisa nyelesein buku ngebosenin ini dalam dua hari.”

“Yah, berhubung gue males terlibat lama-lama jadi mending diselesein aja cepet-cepet,” tukasnya sambil meringis. Sekar menatap pemuda yang lebih muda empat tahun darinya itu tiba-tiba termenung. Pandangannya agak…agak apa? Sekar sulit untuk memutuskan. Muram? Dia membalik halaman buku itu tanpa membacanya. Pertanyaan di benak Sekar semakin menggunung.

“Kalo bukan karena buku itu, kenapa lo ngubungin gue? Pagi-pagi pula. Ada apaan?”

Arya membeku. Buku itu ditutupnya. Matanya bergerak ke arah Sekar. Dengan penuh pertimbangan, dia memulai,

“Gak tau.” Dia tersenyum kecut. Sekar hanya mengernyit. “Yah, gak tau kenapa. Aku ngerasa harus nelpon lo aja. Aneh, ya?” lanjutnya, dengan nada meminta maaf. Mendengar pernyataan luar biasa ini, Sekar hanya dapat menggaruk dahinya pelan. Dia lalu terdiam, otaknya seakan tersetrum ingatan yang baru disadarinya sekarang.

“Oh, ya ampun!” seru Sekar tertahan, membuat pemuda itu terkesiap. “Gue baru inget, lo kan cowo yang di TV itu? Yang diwawancara soal kecelakaan itu?”

“Lo liat beritanya?”

“Iya, pantes gue ngerasa muka lo tuh gak asing.” Arya tersenyum kecut, rasa malu menyergap kesadarannya. Dia hanya menunduk dengan wajah merah, memainkan buku yang berada di tangannya. Sekar menyadari kecanggungannya. Apa dia merasa malu?

“Emang kejadiannya gimana, sih?” tanya Sekar, mencoba menghindari kecanggungan itu. Arya menghela nafas, rasanya tak rela kembali memutar kembali rekaman tentang peristiwa aneh yang menimpanya. Namun, itulah alasan dia menghubungi gadis yang baru dikenalnya itu. Dia kembali menceritakan persis seperti yang dia laporkan kepada polisi tempo hari. Dia lalu menyudahinya dengan tatapan cemas.

“Nah, aneh, kan?” Tangannya terhempas ke pangkuannya begitu saja setelah dia menjelaskan dengan berapi-api tentang gadis yang dilihatnya malam itu dan bagaimana dia kehilangan ingatannya. Sekar masih saja mencoba mencerna arti semua itu. Dia memutar otaknya dengan keras.

“Iya, sih. Aneh,” sahutnya tak yakin.

“Nah, yang bikin gue khawatir itu entah kenapa otak gue sejak itu gak berfungsi dengan baik sejak kejadian itu. Orang bilang sih, karena gue masih trauma.”

“Bisa jadi. Kalo soal itu, ya mesti diobservasi lagi.”

“Tapi, lo percaya kan sama gue?”

“Percaya, kok,” sahutnya.

“Serius?” Arya menoleh dengan cepat hingga hampir mematahkan lehernya. Dia mengaduh pelan, memijat bagian belakang lehernya. “Kenapa?”

Sekar menimbang-nimbang jawabannya. “Yah, banyak kan, hal-hal yang gak bisa dijelasin dengan akal sehat. Misalnya, alam gaib. Mungkin ada hubungannya sama alam gaib kejadian malem itu?”

“Masa, sih?”

“Kan, elo yang bicara soal roh lo seakan terlepas dari badan lo. Bukannya gak mungkin, kan? Kayak orang kesurupan?” Sekar menaikkan sebelah alisnya pada Arya, memandang dengan yakin. Arya tak teryakinkan sepenuhnya, tapi dia mencoba menatap Sekar dalam-dalam. Ada perasaan aneh yang menyelusupi hatinya, perlahan kepercayaan yang ganjil mulai merasukinya. Seolah ada sihir yang mengikat kehidupan mereka.

“Sini!” Sekar menggamit tangan Arya, menarik tubuh pemuda itu. Arya tersentak oleh tangan yang tak sepenuhnya halus itu. Ada bagian yang mengeras mungkin akibat terlalu lama memegang kuas. Namun, kehangatan yang mengalir dari tangan itu memberikan Arya sedikit kekuatan. Rasanya pemuda itu luluh di tangan Sekar, mungkinkah karena perbedaan usia yang membuatnya segan?

Aroma kertas lapuk menyergap hidung Arya saat mereka memasuki ruangan yang berpenerangan remang-remang itu. Suasana di sekelilingnya sepi, seolah ada ritual keramat yang tengah berlangsung. Rak-rak kayu berderet menopang beratus-ratus buku yang berjejeran, berdempetan. Sekar berdiri berkacak pinggang, memerhatikan indeks huruf yang tergantung di sisi masing-masing rak. Tak lama jemarinya menyisiri buku-buku di salah satu rak.

“Lo nyari apaan?”

“Ini,” sahut Sekar mengeluarkan salah satu buku tentang spiritualisme, dunia ruh dan kegaiban. Arya membusungkan dadanya, melipat tangannya di depan dada. Tatapannya dipenuhi dengan keraguan. Sekar tersenyum penuh arti.

…..bersambung…..

Perkembangan Film Animasi 3D di Indonesia

Teknologi selalu berkembang, termasuk dalam dunia perfilman. Sekarang ini, film-film berformat 3D sudah mulai banyak dikembangkan. Indonesia tidak ketinggalan. Beberapa film animasi 3D buatan Indonesia telah ditayangkan di bioskop-bioskop. Perkembangan film animasi 3D di Indonesia juga mulai perlahan-lahan mulai terlihat.

 

(Baca juga review film kartun Inside Out di sini : Inside Out)

 

Film Animasi 3D Indonesia

Perkembangan animasi 3D di Indonesia ini tampak lewat beberapa film karya dalam negeri. Beberapa dari mereka kurang mendapatkan sambutan hangat, tetapi hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak mau kalah bersaing dengan dunia internasional.

 

  1. Homeland

Film animasi yang disutradarai oleh Garin Nugroho ini sayangnya kurang mendapat sambutan hangat. Walaupun pembuatannya memakan waktu hingga 1 tahun, film ini kurang sukses mendapat penggemar. Gambar grafik yang masih kasar dan alur cerita yang membingungkan membuat film ini kalah saing dibanding film-film buatan Hollywood.

 

  1. Meraih Mimpi (Sing of the Dawn)

Meraih Mimpi bisa dibilang adalah film animasi 3D kedua yang diproduksi pada tahun 2008. Film ini disutradarai oleh pria berkebangsaan Inggris bernama Phil Mitchell. Film ini cukup mampu meraih kesuksesan, terbukti dengan penayangannya di Singapura, Korea, Malaysia, dan Rusia. Kekurangannya adalah kru-kru dari film animasi ini hampir seluruhnya dari luar, kecuali penulisnya, Nia Dinata. Jadi, agak sulit untuk menyatakan bahwa film ini adalah karya dalam negeri, walaupun diproduksi oleh studio animasi di Batam, Indonesia.

 

  1. Aji Saka : The Chronicle of Java Island

 Film animasi 3D ini patut diacungi jempol  dengan grafiknya yang sangat baik. Bahkan, tampilan grafik ini bisa disamai dengan film animasi karya Jepang, yaitu Final Fantasy VII: Advent Children. Untuk pembuatannya, STMIK AMIKOM memang merekrut salah satu sutradara yang juga screenplay asal Selandia Baru, Tristan Strange dan scriptwriter Hollywood, Robert Pawlozki dan Triss Forrest. Kerja sama yang apik ini menghasilkan karya yang luar biasa bagi perkembangan film animasi 3D di Indonesia.

 

  1. Petualangan si Adi

 Film produksi Batavia Pictures ini juga tampil dalam format 3D. Dibandingkan dengan kesuksesan Aji Saka, film ini tampak seperti main-main dengan grafiknya yang terlihat “kasar.” Daripada perkembangan, film ini lebih tampak sebagai kemunduran dalam animasi 3D di Indonesia. Kelebihannya adalah film ini benar-benar berniat menangkap kultur di Indonesia.

 

  1. Serial Petualangan Si Unyil

 Siapa yang tidak kenal si Unyil? Anak-anak Indonesia, terutama generasi 90’an tentunya sangat mengenal tokoh ini. Sejak tahun 2006, film ini mulai dipopulerkan kembali dan diremake dalam bentuk 3D. Sayangnya, grafik pada film animasi ini masih terkesan kaku. Gambar latarnya pun dibuat kurang apik, sehingga terkesan “asal.”

Film Animasi Pendek

Perkembangan animasi 3D di Indonesia juga ditandai dengan kemunculan film pendek. Yang banyak mendapat sorotan adalah film animasi pendek berjudul “Some Nights” karya Yuditya Affandi. Yuditya sendiri adalah siswa SMKN 2 Bawang, Banjaranegara, Jawa Tengah. Karyanya ini berhasil masuk CGBros, channel yang menjadi kurator karya-karya animasi dunia.

Setelah itu, tampaknya tidak ada lagi anak negeri yang mengalami kesuksesan yang sama. Tampaknya, kekurangan dalam menciptakan grafik dalam film animasi adalah tantangan yang tidak mudah. Kebanyakan film yang sepenuhnya buatan Indonesia, selalu mempunyai kekurangan dalam hal itu.

 

(Baca juga tentang karya film anak negeri di sini : FILM PENDEK “CHICK-CHIK” MENANG KOMPETISI REGIONAL THE 5 MIN VIDEO CHALLENGE)

 

Namun, geliat teknologi dalam dunia perfilman Indonesia tampak meningkat. Diharapkan ke depannya, Indonesia tidak akan kalah dalam menciptakan animasi yang baik dan menarik.

 

 

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini.

Bhasmī Bhūta

“Sekar, ayo!” Banowati menarik tangannya untuk memasuki wilayah perkuliahan mereka.

“Kita ngapain, sih?”

“Ketemuan ama juniornya temen gue. Katanya ganteng, lho.” Mata Banowati memancarkan cahaya saat meyakinkan Sekar akan ketampanan pemuda yang ingin ditemuinya itu.

“Trus, ngapain ngajak gue?”

“Ya, gue kan gugup, Kar.”

“Plis, deh. Boong banget lo,” tukas Sekar, meyakini bahwa kepercayaan diri gadis itu terlalu tinggi untuk merasakan kegugupan.

“Beneran,” tukas Banowati mencoba meyakinkannya. Sekar hanya mengedikkan bahu.

“Lo ngapain ketemuan sama dia? Dia kan, anak FISIP?”

“Kemaren itu gue ketemuan sama temen gue, anak FISIP UI juga. Nah, kebetulan gue liat dia. Gue penasaran, dong.” Sekar menggeleng-gelengkan kepalanya dengan putus asa. Gadis ini tak sudah-sudahnya mencari pasangan hidup terbaik untuknya. Namun, selalu kandas bahkan sebelum memulai.

“Kalo junior, berarti masih muda, dong.”

“Gak ada salahnya sama daun muda.” Banowati lalu menunjuk-nunjuk dengan antusias ke arah seorang pemuda berkacamata yang duduk sendiri di kantin Taman Ismail Marzuki, yang biasa dikenal dengan singkatannya, TIM. Dia tampak sedang membaca sesuatu.

“Oiya, kata temen gue juga, nih. Kemaren dia sempet terlibat kasus kecelakaan, sejak itu dia jadi aneh gitu. Biasanya gaul, jadi sering menyendiri. Trus, nilai-nilai dia pada jatoh semua pas kuis. Untung cuma baru kuis doang. Kasian, ya. Mungkin masih terpengaruh sama kecelakaan itu kali, ya.”

Sekar mengedikkan bahu tak peduli, yakin bahwa rasa iba Banowati itu terbatas untuk orang-orang yang menarik hatinya. Begitu mereka mendekat, pemuda itu mengangkat wajahnya. Sekar akhirnya memahami kenapa Banowati begitu tertarik pada lelaki yang lebih muda darinya itu. Kulitnya putih dengan mata yang bersinar cerdas. Wajahnya seolah terpahat sempurna, dengan lekuk yang menambah ketampanannya. Namun, entah mengapa Sekar merasa tak asing dengan wajah itu.

Dia berdiri untuk menyambut Banowati dan Sekar. Banowati langsung menyalaminya dengan antusias. “Eh Arya, sori gue bawa temen. Gak apa-apa, kan? Kenalin, Sekar.” Arya menatap wajah gadis yang berkulit kecokelatan, tapi tampak manis itu. Kesan suku Jawa terlihat kental pada wajah gadis itu. Dia pun tersenyum seraya mengulurkan tangannya.

Sekar menjabat tangan itu. Dia merasakan ada sensasi aneh yang mengalir dari jemarinya saat bersentuhan dengan pemuda itu. Mungkin hanya karena dia mengagumi ketampanannya, tak lebih. Tak lama, Banowati langsung bercericau tentang masalah sosial dan politik di Indonesia. Dia menyatakan bahwa dia sedang melakukan riset tentang itu. Sekar tahu itu hanya taktiknya mendekati pemuda itu. Dalam kesenggangannya, dia meraih buku yang tampaknya terlupakan oleh pemiliknya.

The social contract[1]…,” gumamnya. Mungkin salah satu literatur jurusan FISIP, yang pasti Sekar sama sekali tak tertarik. Hanya karena ingin memberikan keleluasaan bagi Banowati, maka dia membuka-buka buku itu. Seluruhnya dalam bahasa Inggris. Sekar baru saja berniat membuangnya ke tempat sampah saat suara bass itu menyapanya,

“Mbak tertarik juga sama sosial-politik?” Arya dan Banowati kini tengah menatapnya membuka lembaran buku itu. Tidak sama sekali, itulah jawaban yang tepat. Namun, Sekar tak yakin apa hal itu akan menyinggung pemuda di depannya itu.

 

(Politic article that I wrote : Koalisi yang Inkonsisten)

 

“Yah,” Sekar menutup buku itu, menggumamkan jawaban tak jelas.

“Bawa aja, mbak.” Pemuda itu mengeluarkan senyum yang meruntuhkan hati Sekar. Dia mengangkat alis, terpana sejenak. Antara keterpanaannya melihat sebentuk wajah tak bercela itu dan keberuntungannya memperoleh tawaran menggiurkan untuk membaca buku yang menurutnya membosankan itu. Ia mengutuk dalam hati. Sekarang dia terbebani oleh buku yang isinya tak akan dipahami oleh gadis itu. Namun, ada hal lain yang begitu mengganggunya. Rasanya dia belum terlalu tua untuk dipanggil “mbak” oleh siapapun.

“Jangan panggil gue mbak. Panggil aja Sekar.”

“Oh,” sahut pemuda itu, membulatkan bibirnya. Dia kembali menatap Sekar dalam diam, membuat gadis itu salah tingkah. “Oke, Sekar.” Dia tersenyum lagi. Sialnya, cara dia menyebutkan nama Sekar lagi-lagi membuat dada gadis itu berdebar kencang. Dia sungguh terperangkap dalam pesonanya dan itu bukan pertanda bagus. Gadis itu langsung bertindak,

“Ya udah, gue bawa bukunya, ya. Gue ada perlu lagi, nih. Gue tinggal, ya.”

“Lho, kemana?” Kali ini Banowati yang sangat tahu bahwa Sekar tidak memiliki janji lain, membuka suara.

“Mumpung ke sini, gue mau ketemu dosen. Biasa, konsul.”

“Boleh minta nomor lo?” sahut Arya cepat, menghentikan Sekar yang baru saja hendak berbalik. Dia terkejut oleh kelugasan pemuda itu. “Jadi, gampang kalo mau balikin bukunya.”

“Oh, iya. Boleh.” Sekar begitu gugup sehingga yang terpikir olehnya adalah mengambil sehelai tisu yang tersedia di meja dan menuliskan deretan angka di atasnya. Sekar yakin wajahnya mulai memerah, sehingga dia berpamitan tanpa berbasa-basi lagi. Arya meraih tisu bertuliskan angka itu dan memandangi Banowati dengan pandangan heran. Gadis itu terkikik.

“Sori, temen gue emang aneh.”

…..bersambung…..

[1] Buku karya Jean Jacquess Rosseau

 

(I also wrote short stories, check it out here : Just Another Dawn)

Bhasmī Bhūta

BAB II

THE SOCIAL CONTRACT

Arya menatap kosong dinding kamar kosnya, tidak berbuat sesuatupun. Bulan ini telah mencapai bulan keempat, artinya tidak lama lagi dia akan menempuh UAS untuk semester keenam ini. Namun, sejak kejadian itu, tubuhnya belum lagi berkehendak untuk bangkit dan melawan apapun yang sedang bercokol di hatinya saat ini.

Pemeriksaan kepolisian atas kasus tabrakan itu masih menghantui, sekalipun sudah diputuskan ia tidak terpanggil lagi. Baik sebagai saksi, maupun sebagai terdakwa. Bebas, tapi sesuatu masih membayangi.

Ada apa dengan dirinya? Dia sendiri belum menemukan jawaban. Masih terbayang di pelupuk matanya ayahnya yang murka atas keterlibatannya dalam peristiwa yang diketahui khalayak luas itu. Ibunya memandang dengan cemas, terus-menerus berusaha membelanya, menenangkan sang ayah. Bahkan, adiknya pun mencercanya karena kini dia dibombardir oleh teman-temannya yang kebetulan mengetahui bahwa Arya adalah kakaknya.

Kenapa? Kenapa anak emas itu terlibat peristiwa memalukan itu? Pertanyaan itu tidak hanya terlontar dari mulut orang-orang di sekelilingnya, bahkan dosen-dosen dan rekan seperjuangannya di bangku kuliah, tetapi juga dari batinnya sendiri yang kini menyiksanya dengan lontaran-lontaran kalimat kasar. Pemuda itu menarik nafas, menggerakkan persendian tubuhnya.

Dering telepon itu menghentikan gerak tubuhnya. Dia mengangkatnya, “Halo?”

“Halo, ini Arya, ya? Gue dapet nomor lo dari temen gue. Katanya lo bisa bantu gue soal kajian sosial-politik Indonesia?”

“Iya,” sahutnya ragu. “Ini siapa, ya?”

“Kenalin, Banowati.”

…..bersambung…..