All posts by dewinda

Kalau Dory bilang "just keep on swimming," aku bilang "just keep on writing" :)

A Tale of Two Cities (Plot dan Sejarah)

photo (3)

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classics

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris

 

 

Ternyata, benar-benar reviewnya mesti kupisah jadi banyak bagian begini. Maklum, baru pertama kali, serius mau review isi satu novel selengkap-lengkapnya (tanpa perlu jadi spoiler tentunya!)

Versi yang ini, aku mau ngereview tentang sisi sejarah yang terjadi di novel ini. Sebelumnya, kan aku udah cerita ini tentang pemberontakan rakyat Perancis yang mengakibatkan jatuhnya Bastille, lambang otorita kaum aristokrat Perancis zaman dulu.

Di sini, memang Dickens menjelaskan tentang penderitaan rakyat Perancis, yang miskin dan kelaparan, karena ulah kaum aristokratnya (di mana-mana sama aja, ya). Tapi, yang menarik, Dickens bukan cuma berpihak pada sisi rakyat jelata Perancis, tapi juga menceritakan kisah ini dari sisi kaum aristokrat. Seperti Charles Darnay, yang keturunan aristokrat, tapi memutuskan untuk putus hubungan sama pamannya yang sombong dan semena-mena banget. Ada juga, ayahnya Lucie, Doctor Manette, yang bisa dibilang dari kalangan terhormat, karena dia seorang dokter.

Bahkan, ada kaum aristokrat yang divonis hukuman mati oleh Guillotine, bilang begini, “What I have been thinking as we came along,  and what I am still thinking now, as I look into your kind strong ace which gives me so much support, is this; – If the Republic really does good to the poor, and they come to be less hungry, and in all ways to suffer less, she may live a long time: she may even live to be old.” (almost cry at this scene…)

Dickens, I fell for you, sementara para pengarang lain suka menggunakan kata ganti “laki-laki” atau “he” sebagai kata ganti untuk semua hal, terutama yang berhubungan dengan perjuangan dan pergerakan, yang emang banyak lebih terkait sama laki-laki, Dickens menyebutkan “she” sebagai kata ganti “Republic.” O, wow!

Jadi, nggak hanya penderitaan rakyat jelata, para kaum aristokrat ini juga menemui ketidakadilan dalam proses revolusi Perancis. Bahkan, Dickens menyebut istilah populer soal kemerdekaan di Perancis liberty, egality, fraternity, or Death. Dari novel ini juga, kita bisa melihat fakta-fakta kelam pasca revolusi Perancis. Fakta kelam dari perjuangan kebebasan. Ya, tentu saja, masa transisi nggak segampang itu dicapai. Sama aja kayak reformasi Indonesia, kan?

Kadang, emang mesti jelek dulu sebelum kita belajar untuk jadi baik.

Setelah baca novel ini juga, aku baru sadar ada satu kesamaan dari novel-novel klasik. Mereka menggunakan banyak tokoh, yang satu per satu dibahas secara lompat-lompat, tapi akhirnya ketemu di akhir cerita. Seperti novel The Count of Monte Cristo oleh Alexandre Dumas, yang lebih kompleks lagi jalan ceritanya, tokoh-tokoh yang terlibat itu pertama kita baca seakan terpisah, tapi pada akhirnya mereka tersangkut-paut dalam seluruh konflik cerita keseluruhan, yang dikemas belakangan.

Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer juga kurang-lebih punya gaya cerita yang sama. Bedanya, mereka ini nggak terlalu kelihatan terpisah karena ada satu tokoh yang menyatukan mereka, yaitu si Minke.

Jadi, kalau baca buku ini, terima aja dulu setiap tokoh yang muncul, familiar atau nggak, atau setiap adegan yang kelihatan nggak ada hubungannya, trus simpen di memori. Karena, nanti pasti setiap tokoh ketahuan apa perannya, dan tiap adegan bakal ada hubungannya juga. Itu juga yang bikin aku kagum sama sastra klasik, begitu banyak tokoh dan adegan, tapi bisa aja koneksinya nyambung dan masuk akal.

Dan, inget, setiap tokoh, sekecil apapun, kalau disebut namanya, atau jadi karakter di satu bab, pasti bakalan muncul belakangan, jadi jangan pernah melupakan mereka sedikitpun ^^;

Aku berharap jadi nggak terlalu banyak ngebocorin isi ceritanya. Yang umum-umum aja kok ini hehe…

Last but exactly NOT the least… Narasi yang satu ini mesti aku sertakan. Setelah beberapa kalimat yang bikin aku terkesima, ini salah satunya. Kenapa, ya? Bukan hanya menggambarkan ketakutan, tetapi juga menggambarkan sisa-sisa negeri yang selama ini menderita. Setidaknya, kesan itu yang kudapet.

Houses in twos and threes pass by us, solitary farms, ruinous buildings, dye-works, tanneries, and the like, open country, avenues of leafless trees. The hard uneven pavement is under us, the soft deep mud is on either side. Sometimes, we strike into the skirting mud, to avoid the stones that clatter us, and shake us; sometimes we stick in ruts and sloughs there. The agony of our impatience is then so great, that in our wild alarm and hurry we are for getting out and running – hiding – doing anything but stopping.

Out of the open country, in again among ruinous buildings, solitary farms, dye-works, tanneries, and the like, cottages in twos and threes, avenues of leafless trees. Have these men deceived us, and taken us back by another road? Is not this the same place twice over? Thank heaven, no. A village. Look back, look back, and see if we pursued! Hush! The posting-house.

Leisurely, our four horses are taken out; leisurely, the coach stands in the little street, bereft of horses and with no likelihood upon it of ever moving again; leisurely, the new postilions follow, sucking and plaiting the lashes of their whips; leisurely, the old postilions count their money, make wrong additions, and arrive at dissatisfied results. All the time, our overtraught hearts are beating at a rate that would far outstrip the fastest gallop of the fastest horses ever foaled.

Tapi, baca sendiri ya, ini kutipan di bagian mana bukunya *ketawa setan* Singkatnya, ini buku rekomended banget bagi yang suka drama dan mau menikmati narasi-narasi panjang. Lebih bagus lagi kalau baca dalam bahasa aslinya, karena pemilihan kata-kata oleh pengarang itu yang bikin menarik. Yah, kalau dalam bahasa lain selain Inggris dan Indonesia, aku nyerah, sih! ^^;

 

sampai di akhir review, hore! 😀

 

A Tale of Two Cities (Gaya Bahasa Narasi dan Dialog)

photo (3)

 

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classics

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris

 

 

Akhirnya!

Setelah beberapa bulan, lupa juga ya, berapa bulan tepatnya, akhirnya aku selesai baca “A Tale of Two Cities”! Waktu pertama kali baca, seperti yang sudah kutulis dalam review sebelumnya, aku jatuh cinta pada paragraf pembukanya. (Lihat review part 1 : A Tale of Two Cities (part 1)) Tapi, selanjutnya, setiap kali aku buka buku itu lagi, kepalaku puyeng dan aku langsung ngantuk. Gara-gara bahasanya susah, dan mungkin juga konsentrasiku jelek 😀

Karena Dickens juga sastrawan klasik abad pertengahan (iseng pakai istilah ini, karena suka aja) seperti Shakespeare (mana yang lebih tua ya, aku nggak tahu) kadang-kadang dia pakai istilah kuno, seperti “thee,” “thy,” untungnya cuma di dialog dan nggak banyak banget. Dan karena Shakespeare terkenal banget, jadi aku udah belajar dikit-dikit soal bahasa kuno itu. Bahasa kuno ini sih, masih dipakai dalam pemujaan agama dan sebagainya setahuku, sih.

Di review kali ini aku mau fokus ke gaya bahasa Dickens, lebih mendalam. Seperti biasa, sastrawan klasik emang suka banget muter-muter dengan narasi yang panjang. Dialognya juga sama muter-muternya. Akibatnya, aku suka bosen dan ngantuk. Yang parah, nggak ngerti haha. Positifnya, narasi dari Dickens ini menarik, jadi kita tetap bisa menikmati narasi panjang-berbelit itu kalau kita mau meresapi cara penulisannya itu. Negatifnya, siap-siap capek (kalau nggak biasa sama gaya bahasanya).

Ada dua scene, yang aku mesti balik-balik halamannya, karena aku susah ngerti maksudnya. Kedua scene itu sama, dialog antara dua tokoh. Pertama, dialog antara Mr. Stryver dan Mr. Lorry. Ceritanya, Mr. Stryver mau melakukan sesuatu (apakah ituuu??? Haha), dan meminta restu dari Mr. Lorry, yang ternyata nggak setuju. Masalahnya, di tengah-tengah dialog, tiba-tiba Mr. Stryver ini marah, dan aku nggak tahu kenapa.

 

Mr. Lorry paused, and shook his head at him in the oddest manner, as if he were compelled against his will to add, internally, “you know there really is so much too much of you!”

“Well!” said Stryver, slapping the desk with his contentious hand, opening his eyes wider, and taking a long breath, “If I understand you, Mr. Lorry, I’ll be hanged!”

 

Di atas jelas dari gesturenya, Mr. Lorry terlihat nggak setuju, tapi dari satu kalimat itu aja, dan dialog mereka mengalir ke arah perseteruan. Nah, pas pertama-tama, aku bingung banget, dari mananya sih, kalimat ini tiba-tiba membuat Mr. Stryver marah? Pelan-pelan, aku baru ngerti makna dari “so much too much of you.” Sindirannya ngena banget deh, Mr. Lorry… 😀

Kedua, dialog antara Lucie dan Mr. Carton. Di sini, Mr. Carlton menceritakan kegelisahannya pada Lucie, yang tentu saja didahului oleh basa-basi dan permintaan maaf.

 

“Don’t be afraid to hear me. Don’t shrink from anything I say. I am like one who died young. All my life might have been.”

“No, Mr. Carton. I am sure that the best part of it might still be; I am sure that you might be much, much worthier of yourself.”

“Say of you, Miss Manette, and although I know better – although in the mistery of my own wretched heart I know better – I shall never forget it!”

She was pale and trembling. He came to her relief with a fixed despair of himself which made the interview unlike any other that could have been holden.

 

Hmm… Jujur, aku nggak tahu apa yang ngebuat Lucie pucat dan gemetar. Ya, emang ada kata kunci di dialognya, kalau Mr. Carton bilang “wretched heart” dan “died young” yang pasti menyatakan penderitaan dia di masa lalu. Tapi, belum jelas banget gitu lho, apaan. Bahkan, sampai detik-detik terakhir pembicaraan mereka, Mr. Carton sama sekali nggak cerita masa lalunya (nggak usah dikutip, makan space 2 halaman sendiri -_- ). Beda ya, sama kita-kita sekarang, maunya curhat aja, sedetil-detilnya.

Waktu baca novel versi Inggrisnya, kita juga harus hati-hati menelaah penggunaan bahasanya Dickens. A Tale of Two Cities ini kan mengisahkan tentang Inggris dan Perancis di detik-detik ketika Bastille jatuh oleh people power-nya. Sewaktu rakyat Perancis unjuk rasa dengan mengerahkan massa ke arah Bastille, Dickens menggunakan istilah The sea rises. Karena aku rada lemot, kupikir beneran air laut yang menerjang (sampai-sampai aku bingung, emang di tengah-tengah kota Paris ada lautnya, ya?), tahunya laut manusia. Bisa jadi juga aku yang lemot, sih. Hmm…

photo (4)
Ilustrasi scene “The Sea Rises” dari Wordsworth Classics

Satu lagi, ada satu tokoh wanita, namanya sampai akhir pun nggak ketahuan. Tadinya aku pikir dia hanya semacam simbolisme dari kemarahan dan dendam yang ada di tengah-tengah rakyat Perancis, namanya aja The Vengeance. Lah, tapi ternyata dia manusia asli, yang punya panggilan begitu, tapi aku nggak paham kenapa namanya bahkan nggak disebut sampai akhir. Dan kenapa dia yang dijuluki The Vengeance, sementara ada tokoh lain yang mendendam sebenar-benarnya, yang bakalan lebih tepat dapat julukan itu?

Karena sifatku gampang curiga, jangan-jangan dia tokoh asli yang terlibat gerakan rakyat Perancis waktu Bastille jatuh dulu? Well, who knows. Bisa jadi juga dia tokoh yang digunakan Dickens untuk memperkuat kesan dendam dari si tokoh yang punya dendam itu. Bisa jadi juga, memang simbolisasi dendam proletar Perancis ke kaum aristokratnya, tapi disuguhkan sebagai karakter yang sebenar-benar hidup.

Sampai sini aja review yang ketiga. Kalau kulanjutin, pasti jadinya panjang banget. Sampai ketemu di review selanjutnya, kalau pada belum bosen haha…

See ya!

Persekusi Lama yang Diperbarui

 

Sejak kericuhan politik dan demokrasi bablas 2014, beberapa kata tiba-tiba jadi terkenal. Pertama, blusukan ala Jokowi. Itu kata yang bagus dan berkat itu, kesadaran berpolitik masyarakat jadi terbuka. Kedua, masif dan sistematis. Dua kata itu tiba-tiba jadi sangat populer setelah perseteruan antara kubu Jokowi-Prabowo. Kalau nggak salah sih, yang lebih mempopulerkan itu Prabowo. Sering banget kubunya pakai dua kata itu.

Trus, baru-baru ini, tabayyun. Sejak kasus penistaan agama, kata ini jadi melekat banget, walaupun aku nggak yakin pelaksanaannya dilakukan bener-bener, sih :p (bahkan, oleh orang yang cinta banget sama kata satu ini).

Aku nggak ingat satu per satu. Yang pasti, sekarang ini, aku menemukan kata baru. Mungkin ini kata lama, mungkin aku aja yang kurang updet. Yang kuinget, soal ancam-mengancam udah jadi makanan sehari-hari kalau soal gerakan, aksi, dan lain-lain yang berhubungan dengan politik, tapi baru sekarang istilah persekusi ini mencuat.

Gara-garanya kasus seorang dokter di Sumatera Barat, yang diancam dan diteror oleh anggota FPI karena status-statusnya yang pedas di medsos soal Rizieq Shihab. Lucunya, status-statusnya yang kulihat itu sepele banget (mungkin karena aku cuma baca sebagian). Dan banyak yang suka nulis status begitu, jadi aku agak heran, dari sekian banyak status yang menyudutkan, kenapa si dokter ini yang dipilih.

Semakin lama, aku semakin merasa kalau soal persekusi ini memang sengaja dibesar-besarkan. Disebarkan ke khalayak ramai, untuk membuat teror tersendiri. Mungkin juga taktik beberapa orang untuk menekan kebebasan berpendapat yang sudah tidak lagi konstruktif. Kebanyakan hanya serangan-serangan yang akhirnya lebih ditujukan kepada pribadi daripada kritik terhadap satu situasi atau fenomena. Lebih-lebih lagi, dilakukan tanpa ada proses pikir, seakan manusia hanya  monyet yang suka mengetik. Siapa peduli apa yang diketik, dan apa akibatnya, dan siapa yang disinggung, yang penting berpendapat.

Well, kalau itu kebebasan, sekalian aja manusia disuruh buka baju, apa bedanya? Karena kalau melihat cara orang-orang sekarang berpendapat, aku jadi berpikir kalau kaum nudis itu jauh lebih masuk akal dibandingkan mereka-mereka, mulut tanpa filter ini.

Balik ke masalah persekusi. Persekusi ini bukan hal yang baru. Ingat, Soeharto sering menculik lawan-lawan politiknya atau menangkap (tanpa pengadilan) aktivis-aktivis yang terlalu vokal? Setelah reformasi, aksi ancam-mengancam masih terus berlangsung. Jadi, kenapa sekarang baru di-blow up?

Kalau kita mau melihat dari sisi terangnya, seperti kata Simon & Garfunkel, mungkin hal ini bisa mengerem mulut-mulut tanpa filter yang berkeliaran di medsos. Aku yakin memang itu tujuannya. Yang aku tidak tahu, apakah tujuan ini dilakukan atas kepentingan tertentu atau sekadar meredakan ledakan opini di medsos.

Sama saja seperti kasus penculikan dan opresi di rezim Soeharto, persekusi dilakukan dengan cara menakut-nakuti, meneror, mengopresi. Tidak peduli siapa yang memulai atau siapa targetnya, yang diciptakan adalah ketakutan. Gabungkan dengan teror bom, situasi sempurna untuk menciptakan satu histeria massal.

Di saat-saat begini, tagar #KamiTidakTakut menciptakan efek yang sama besar. Apalagi dengan sistem informasi medsos yang masif, tagar-tagar semacam itu seperti sugesti yang ditanamkan secara massal. Menyebarkan pengaruhnya untuk memberikan rasa aman secara berkelompok. Ya, mungkin benar medsos tidak memberikanmu teman sejati, tetapi mereka mewadahi satu kelompok, dimana kau bisa merasa mendapat tempat di dalamnya, lalu mengikatmu dalam kelompok itu. Wadah bereksistensi, wadah untuk merasa terikat.

 

Ditambah dengan perang urat syaraf, penuh dengan propaganda politik yang saling serang, saling menjatuhkan, kondisi ini pas banget untuk menjatuhkan mental-psikologis massa. Ketidakpercayaan, saling curiga, provokasi, hal-hal ini selalu menjatuhkan kelompok macam apapun.

Propaganda yang dilancarkan secara kasar mungkin lebih gampang untuk ditolak, bagaimana dengan provokasi halus? Yang dilangsungkan dengan cara yang baik-baik, mengendurkan kewaspadaan, dengan begitu lebih mudah untuk ditanamkan?

Well, teror bisa datang dalam berbagai bentuk. Kurasa, teror tidak harus selalu menakutkan. Sesuatu yang meragukan saja sudah cukup menanamkan teror.

 

Satu Hari yang Tak Akan Terulang

546652_263102530451518_258489774246127_543294_1921561366_n[1]
Gambar diambil dari : rhaggill-duniaku.blogspot.co.id

Tanggal 18 Mei…

Tepat 19 tahun yang lalu, alias tahun 1998, ternyata hari ini adalah hari pertama mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR. Dan mereka melakukan itu di bawah ancaman tank, panser, dan senjata api. Waktu itu aku masih SMP.

Waktu itu aku masih kecil. Nggak kurang pula, apatis, masa bodo. Yang penting aku aman-nyaman di tempat tidur. Apa peduliku kalau di luar sana ada ribuan orang mati demi membela keyakinan mereka? Shame on me, huh?

Peristiwa Mei 1998 yang terekam jelas di ingatanku adalah tanggal 14 Mei 1998. Dulu ibuku mempekerjakan ART. Aku deket sama dia, dan hari itu adalah tanggal ulang tahunnya. Sayang sekali, pada hari itu, malam-malam sekitar jam 7, kericuhan terjadi di dekat rumah. Sejarak beberapa rumah, di seberangnya, ada indomaret (yang masih bertahan sampe detik-detik aku mau pindah rumah tahun 2015, lho! Mungkin sekarang juga masih ada) dan sekelompok orang rusuh menyerang indomaret itu.

Apa yang kulihat? Sekelompok super hero yang sedang membela bangsa? Bukan, sekelompok oportunis b***sat (maaf ya, aku sedang kesel hehe) yang sedang memanfaatkan situasi. Mereka menjarah minimarket itu. Bahkan, di ingatanku, mereka juga bawa barang-barang berat, kayak komputer. Entah itu dari indomaret, atau dari toko di dekat situ. Biar aku nggak tahu apa-apa, aku jijik melihat mereka.

Dari dulu sampe sekarang, keberadaan orang-orang seperti itu nggak pernah hilang. Orang-orang yang mencari kesempatan buat kepentingan mereka sendiri. Orang-orang yang nggak peduli dengan nasib orang lain. Orang-orang yang nggak punya kode moral. Dan orang-orang inilah yang sekarang memakai topeng agama. Kalau waktu kecil saat aku belum paham politik aku sudah merasa jijik, apalagi sekarang?

Aku nggak percaya kalau situasi sekarang akan berujung pada peristiwa reformasi 1998. Aku nggak mau menyebut itu kerusuhan, buatku itu sangat tidak menghormati orang-orang yang sukses menurunkan Soeharto dan dwifungsi ABRI di pemerintahan. Dan orang-orang yang mati membela keyakinan mereka. Bravo!

Sayangnya, orang-orang percaya. Orang-orang ketakutan. Bisa jadi, orang-orang yang trauma akan peristiwa 1998, orang-orang yang melihat langsung, nggak sepertiku yang cuma melihat dari dalam rumah yang sengaja digelapkan, supaya nggak kena serangan massa.

Dulu, waktu itu, mahasiswa dan rakyat bisa dibilang satu suara. Aku nggak bilang 100% ya, karena pasti selalu ada pro-kontra di balik semua. Yang pasti, kemuakan berpuluh tahun dan opresi Soeharto jadi pemicu. Kesatuan itu yang menggerakkan massa begitu luas, begitu banyak. Sekarang ini, dengan kita yang terpecah, mana mungkin pengumpulan massa semacam itu akan terjadi lagi? Pengikut organisasi agama yang katanya sampai 7 juta itu? Itu cuma sekitar 3% dari keseluruhan rakyat Indonesia. Kenapa takut?

Mungkin di balik ini semua, ada aktor-aktor lain. Lebih kuat, lebih berkuasa, daripada orang-orang kecil macam preman-preman bertopeng agama itu. Dan mereka sedang mempersiapkan skenario mereka. Tapi, buatku itu menjijikkan, bukan menakutkan.

Tahu yang kutakutkan? Saat seseorang dengan suara keledai malah dipuja-puja. Saat orang-orang menolak memakai salah satu bagian tubuh yang menggerakkan hampir seluruh sistem organ, yaitu sistem syaraf pusat. Saat kita bisa mulai melihat robot-robot bergerak dengan remote control di balik layar. Saat orang melupakan nuraninya sebagai bagian dari kelompok manusia, makhluk yang diciptakan tak kurang dari Tuhan sendiri.

 

well

 

Dalam Peraduan yang Menghijau

 

117648-full
Gambar diambil dari http://www.scpr.org

 

Putih dipercaya sebagai awal. Yang suci. Yang bersih. Murni dari segala-gala.

Maka, bayi diliputi kain katun putih selembut kapas. Tangan kematian pun dilumuri oleh tinta putih yang membalut jasad. Lalu, pria dan wanita, yang baru saja memulai satu titik kehidupan. Semua berlumur putih. Putih dan putih.

Sepasang itu tersenyum malu-malu. Tersipu memerah. Oranye kelabu meliuk lembut di tangan yang berujung oranye pekat. Motif bunga terpapar di atas kulit itu. Bunga berdaun tipis. Mereka juga terbalut kain putih. Sutra dan katun. Linen tebal-halus meratapi peraduannya. Halal sudah menjadi ikatan mereka. Sesegera mungkin, agar tak terjebak dalam lingkaran zinah. Cepat, cepat, jadilah halal. Dan mereka pun halal.

Putih itu segera ternoda. Semburat merah merambat pelan, lingkaran yang melebar. Darah.

Tanda mereka memasuki dunia baru. Dunia yang sama sekali lain.

 

***

 

Darah.

Annissa gemetar. Di tangannya, darah yang lengket dan kental memerahkan ujung-ujung jemarinya. Apa yang harus dilakukan? Bagian bawah perutnya sakit seperti diremas, melilit hebat. Ia bisa merasakan cairan basah-lengket menetes menggerayangi pahanya. Tapi, dia tak bergeming. Hanya berdiri. Gemetar.

Darah.

Merah.

Meluruh.

Annissa berbaring, tapi matanya nyalang melebar. Dia terpaku di tempat tidurnya. Malam itu sudah lewat tengah malam. Kotanya telah tertidur nyenyak. Perumahannya sunyi, ditingkahi sesekali deru motor satpam yang lewat berjaga.

Tapi, kamarnya berang. Memekik dengan berisik. Annissa merapatkan selimutnya. Dia membeku, ketakutan. Suara apa yang didengarnya? Seperti orkestra dari tangan-tangan awam. Biola yang berdecit nyaring. Perkusi dari kaleng-kaleng berkarat. Piano dengan senar-senar terkelupas.

“Annissa! Sudah setengah jam anakmu menangis!” ibunya berteriak dari balik pintu. Ia tersentak. Suaminya, menggeliat sejenak, tapi tidur lagi. Mendengkur pelan.

Wanita yang masih terlalu muda itu tergeragap bangun. Kebingungan, di antara tangisan bayinya dan gedoran pintu ibunya. Ia melihat pintu, lalu melihat bayinya. Mana yang harus didatanginya lebih dulu?

“Annissa!” Wanita itu memekik panik.

“Oeee…” Bayi itu tersedu sedan.

Dia berjalan pelan. Ke arah tempat tidur kecil dengan balok-balok kayu putih yang kecil. Putih. Dan putih.

Di dalamnya, seprai putih. Terserak oleh tendangan kecil, tapi kuat. Bayi itu, pipinya penuh. Wajahnya memerah oleh kemarahan yang belum juga mencapai titik jenuh. Bayi yang kuat. Dengan paru-paru yang kuat. Dengan usus yang tak pernah kenyang.

Ia membeku, melihat makhluk kecil itu meraung-raung.

“Annissa!” panggil ibunya lagi. Ia tersentak, lagi. Lalu, berlari menuju pintu.

Di balik pintu, ibunya berdiri dengan wajah ketakutan. Bulu kuduk Annissa meremang. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Anak kamu nangis, Annissa, kamu nggak dengar?” Ia berbicara dengan suara lembut, hati-hati. “Boleh Ibu masuk?”

Annissa terpaku sedetik lamanya sebelum mengangguk pelan, ragu-ragu. Dengan gurat-gurat wajah lega lalu bahagia, ibunya mengangkat bayi itu pelan, hati-hati. Ia membisikkan kata-kata manis menyejukkan. Annissa masih terpaku di pintu, melihat anak itu terisak, tidak lagi berteriak, kelelahan. Ibunya, melirik sekilas ke arahnya, mengernyit keheranan.

 

***

 

Semua orang membisikkan kata-kata sabar. Allaah memberi kita kekuatan, kita hanya perlu mendekatkan diri pada Allaah. Annissa mengaji. Demi mendekatkan diri pada Sang Khalik. Itu yang selalu didengungkan orang-orang di sekelilingnya.

Mendekatkan diri pada Allaah. Dan memang, pada saat-saat itu, ia merasa tenang.

Tapi, bayinya tidak. Meraung-raung marah, memanggil sang ibu. Popoknya sudah lama basah. Ada pola kuning kecokelatan yang tercetak kering, membayang dari balik popok kain yang dikenakan padanya tanpa semaunya.

Yaa ayyuhal ladzii na ǎmaanu laa tulhikum waa amwaa lukum…” suaranya merdu mengalun. Ia adalah lulusan pesantren. Ilmu tajwid dikuasainya. Bahkan, sedikit lagi saja, ia akan menjadi hafidzah muda. Di usianya yang 18 tahun!

“Annissa!” Ibunya masuk dengan tergopoh. “Anakmu menangis, lho!”

Annissa mengangkat wajahnya. Di hadapannya, ibunya tercengang. Sembari memegang dua kantung plastik hitam besar. Dari dalamnya, mencuat batang-batang kangkung, lalu pucuk-pucuk jagung yang menguning.

Dia meletakkannya asal saja. Annissa menoleh untuk mengikuti gerak-geriknya. Ia memeriksa bayi malang itu, sambil tersenyum dan membisikkan kata-kata lembut. Annissa diam memerhatikan, dengan tatapan kosong. Seolah keduanya berasal dari jauh. Suara mereka juga terdengar sayup, jauh.

“Popok bayi kamu basah. Ada pup di popoknya, pantatnya bisa lecet kalau tidak segera dibersihkan. Kapan terakhir kali kamu kasih dia ASI?”

Annissa membuka mulut. Ia mencoba menjawab, lalu menutup mulut kembali. Mengernyit, seolah tidak paham perkataan ibunya.

“Anak kamu kurus, Annissa. Kamu harus perhatikan minum ASI-nya. Enam bulan pertama yang paling penting karena dia belum bisa makan yang lain.”

Mata Annissa yang sudah bulat semakin membulat.

“Bayi itu rentan, Annissa. Ibu tahu kamu baru soal ini, tapi ayo, belajar lebih baik lagi. Kamu mengaji, bagus sekali, Nak, tapi bayi kamu juga perlu perhatian. Mengajinya nanti dulu, urus anak kamu dulu. Begitu tidur, kamu baru mengaji lagi.”

Wanita muda itu meremas-remas tangannya. Ibunya kembali mengajarkan banyak hal tentang bayi. Ibunya melihat Annissa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kenapa kamu menggeleng-geleng?” Annissa mengangkat wajahnya, menatap ibunya dengan dahi mengernyit. Sang ibu balas menatapnya.

 

***

 

Seprai yang membalut kasurnya tak lagi putih. Begitu awal telah berlalu, putih itu pelan-pelan ternoda. Oleh warna-warna. Annissa berbaring menyamping. Bibirnya tersenyum, ia menyorongkan telunjuknya pada tangan bayi yang sedang bermain-main di udara. Tangan mungil itu menangkapnya. Bahkan, memasukkan jari itu ke mulutnya.

Annissa tercengang. Lalu, mendengus tersenyum. Jemari bayi itu lembut, serupa kapas. Mulutnya mengenyot, menyangka jari itu payudara. Ia tertawa-tawa sendirian, mencoba-coba pita suaranya sendirian. Bayi yang tengah belajar sendirian.

Sendiri.

Sendirian.

Seorang diri.

Bayi itu mencucup ujung jarinya. Lalu, menariknya keluar dengan suara mencecap keras. Annissa menatap ujung jarinya yang basah. Matanya terbelalak. Air liur seharusnya bening. Air liur seharusnya tidak berwarna.

Ia menyentakkan jarinya keras, mengagetkan bayi itu. Bayi itu mencibir, menggetarkan bibir bawahnya, lalu mulai menangis. Tangis itu pelan. Kemudian, bertambah keras. Keras dan semakin keras, karena tidak menemukan penenang. Jantung yang dulu berdetak lembut, begitu dekat dengan telinganya. Kehangatan yang serupa pelukan tanpa putus. Semuanya hilang. Bayi itu tersedu, kemana semua pelipur laranya dulu?

Annissa bangkit dari kasurnya. Hijau, itu warnanya. Sengaja dipilih ibunya untuk menenangkan jiwanya. Hijau, warna yang menenangkan. Warna rerumputan, warna…ketubannya.

Ia gemetar. Menatap tangannya sendiri.

Darah, begitu merah.

Rasa sakit yang melilit di perut bawahnya.

Aliran air deras bercampur darah dari vaginanya.

Tiba-tiba saja, bayi kurus seukuran botol sirup dijejalkan ke tangannya.

Ditidurkan secara paksa di dadanya, yang masih bergemuruh ketakutan. Sementara, bekas jahitan ngilu meremas seluruh syaraf di tubuhnya.  

 

***

 

Ibunya menghela napas kelelahan. Ia khawatir memang, meninggalkan bayi dengan anaknya sendirian. Betapa remaja yang masih limbung. Betapa remaja yang belum mencapai ujung. Tapi, ia juga harus mengurus akta kelahiran yang sudah telat dua bulan. Sidang dan bayar segala macam, betapa ribut administrasi kependudukan Indonesia ini!

Tapi, beberapa hari ini, Annissa begitu sayang pada anaknya. Hari-hari dimana ia bersikap aneh itu sudah berlalu! Hari-hari penuh kekacauan itu mulai pudar! Bahkan, Annissa sudah menyusui anaknya tepat waktu. Ya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Annissa, ibu pulang…” kata-kata itu terhenti di tengah jalan. Annissa dengan ujung jari yang berdarah. Berdiri gemetar. Merah itu merayap hingga perut bagian bawah menuju selangkangannya. Wanita muda itu menatap linglung ke arah wanita paruh baya.

“Mana bayiku?”

 

 

sampai

Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 2)

 

images
Gambar diambil dari http://www.freevector.com

 

Cerita eh artikel sebelumnya…

Dua hal pertama yang kutemukan waktu mulai mencoba menulis cerita fantasy. Mengembangkan logika cerita dan menyesuaikan setting lokasi dan waktu yang tepat itu susah banget. Terutama, karena ini dunia fantasy, yang budaya dan adat istiadat makhluk-makhluknya harus kita bentuk dari awal dan kita atur lagi. Apalagi kalau makhluknya fantasy. Imajinasi kita harus luas dan nggak terbatas banget!

Buat part 1-nya, coba klik link ini : Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 1)

Nah, sekarang lanjut lagi. Karena emang bukan 2 hal itu aja yang bikin rumit. At least, buatku 😀

Ketiga, menetapkan nama-nama dan istilah-istilah. Kita bicara soal negara baru atau dunia baru. Mungkin malah dimensi waktu dan ruang yang lain dari realita. (Dunia orang mati, mungkin?) Buatku, ini yang paling susah. Nentuin nama tokoh aja kadang-kadang bisa bikin stuck berhari-hari, apalagi kalau ada istilah baru atau bahasa baru, dan nama-nama negara, provinsi, makhluk-makhluk baru?

Intermezzo : itulah enaknya kolaborasi, kita bisa delegasikan tugas yang susah sama teman dan bisa meringankan beban dua kali lipat :p

Jangan lupa juga nama ini nggak bisa sembarangan. Kalau makhluk menyeramkan dan jorok disebut Troll, terkesan cocok aja, kan? Kalau kita namain dia bunny atau tweety pasti rasanya ada yang janggal (karena sadar atau nggak, kita terikat sama norma-norma yang kita pelajari dari dunia nyata).

416HARSDA3L
Penamaan tokoh biasanya menggambarkan karakternya. Seperti troll, makhluk yang biasa digambarkan buruk rupa dan jahat. Gambar diambil dari http://www.amazon.com

Mau ngasi twist? Tentu saja boleh, tapi harus ada alasan yang masuk akal untuk itu. Misalkan, apa sejarahnya makhluk itu dinamai lucu dan cute begitu? Rasanya, kalau nggak sesuai sama aturan yang dipersepsikan normal sama orang-orang, susah buat pembaca mengembangkan imajinasinya. Kita bicara teks tanpa gambar soalnya. Lain hal kalau bicara soal picture book, ada gambar yang menjelaskan maksud si penulis.

Lupakan soal kesan, beberapa nama juga harus punya filosofi tersendiri. Kayak Pancasila, dinamakan begitu karena ngambil dari bahasa Sansekerta, “Panca” yang artinya “lima” dan “sila” yang artinya “prinsip/asas.” (Kok jadi PPKn? Haha…) Orang tua aja milih nama buat anak karena ada kandungan doa (ada artinya) di dalam nama anak yang mereka pilih, kan? Apalagi, kalau bicara soal logo atau lambang (negara/organisasi misalnya) yang selalu punya simbolisasi, selalu punya filosofi di baliknya.

Keempat, pengembangan kepribadian setiap karakter. Ingat kan, kalau di part pertama aku udah bahas soal penentuan lokasi yang bakal menentukan budaya? Nah, yang namanya budaya itu pasti menentukan pola tingkah laku tiap-tiap manusianya. Bisa dibilang break down dari aspek-aspek budaya itu, deh.

Kayak di Lord of the Rings (maap ya, referensiku soal novel fantasy emang cuma dua ini hehe), ada makhluk namanya hobbit (again?!). Kita bisa lihat kalau dunia hobbit itu indah dan damai, kan? Dengan begitu, masyarakatnya mudah percaya satu sama lain, mereka jarang berkonflik. Ini kelihatan dari sikap Frodo dan Sam ke Gollum. Frodo begitu aja jatuh kasihan dan percaya sepenuhnya sama Gollum. Sedangkan, sekalipun Sam nggak percaya sama makhluk licik itu, dia juga nggak begitu aja mengkonfrontasi Gollum secara langsung, kan?

Atau kita bisa liat Merry dan Pippin, yang menurutku lebih agresif ketimbang Frodo dan Sam, mereka tetep beda sama Dwarf yang agak kasar dan beringasan. Kalau ada konflik, mana ada mereka langsung serang dan sebagainya. (Trus, nama mereka cute, menggambarkan karakter mereka yang juga imut-imut?)

Artinya, keempat hobbit itu punya perbedaan karakter, tapi mirip secara fundamental. Mereka bertengkar dan berkonflik, tapi nggak melewati batas-batas budaya mereka. Artinya, kalau budaya kita tentuin lagi, berarti perkembangan kepribadiannya juga harus disesuaikan dengan budaya baru yang kita tentuin itu.

Susah banget nggak, sih? Tenang aja, kita masih bisa nyontek-nyontek dikit, kok. Misal tentang hobbit itu, kita bisa nyontek itu dari budaya masyarakat adat, kayak Suku Badui Dalam, atau yang baru-baru ini booming, Petani Kendeng. Mereka sedikitnya, punya sifat yang lumayan sama dengan para hobbit ini (berdasarkan dari observasi mentahku, ya). Mereka masyarakat homogen yang kurang suka berkonflik dengan pola pikir sederhana.

Tapi, harus tetap ingat kalau cuaca, iklim, suhu, tingkat kebisingan daerah, dan segala macam model demografis lainnya, itu menentukan kepribadian, jadi jangan pernah lupa untuk menyesuaikan unsur itu ke dalam karakter.

Terakhir, (minimal yang kepikiran, ya) tentu saja konflik politiknya. Kalau bukan novel dengan tema tentang politik pasti mikirnya nggak bakalan perlu beginian, kan? Salah besar. Yang namanya politik itu ada di mana aja dan diterapkan di mana aja. Misal, jomblo lagi nyari pacar, nih. Politik mereka adalah dandan secakep mungkin, ngasi kode-kode ke lawan jenis, dan segala macam strategi lainnya. Itu juga politik, lho.

Bayangin kalau konflik politik ini terjadi di dunia fantasy. Misal, di Lord of the Rings, ada Saruman dan Gandalf. Saruman punya tujuan menguasai cincin. Gara-gara itu, ia menghalalkan segala cara. Lalu, muncul Gandalf yang berniat menghalangi dia mencapai ambisinya. Ini lagi-lagi harus ada hubungannya dengan logika cerita dan masing-masing kepribadian tokoh.

gandalf-saruman
Gandalf dan Saruman mulai berkonflik sejak Saruman berambisi menguasai cincin untuk dirinya sendiri. Gambar diambil dari http://www.dreager1.wordpress.com

Misal, Saruman ambisius. Maka, politiknya adalah dia mencoba menghancurkan orang-orang yang menghalangi dia. Gollum, dia berniat menguasai (sebenernya dia yang dikuasai) oleh cincin terkutuk itu, akhirnya dia menipu Frodo dan Sam. Lalu, Frodo yang punya misi dan Sam yang bertugas menjaga Frodo. Ini break down lain dari budaya dan karakter, mereka menentukan hubungan antar tokoh.

Biasanya, yang paham hal-hal begini adalah gamers, tepatnya pecinta game-game RPG. Emang basis game RPG itu biasanya novel fantasy, jadi bisa juga jadi cara asyik untuk memahami alur di novel fantasy lewat games kayak gini. Untuk yang suka fantasy dan pengen nulis novel fantasy, jangan nyerah dulu karena kesulitannya, ya! Kalau sukses, bisa jadi games dan terkenal di mancanegara, lho… 😉

 

 

 

Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 1)

 

images
Gambar diambil dari http://www.freevector.com

 

Baru-baru ini mutusin untuk bikin novel kolaborasi dengan teman-teman sesama penulis. Kebetulan banget, kebanyakan dari mereka penggemar fantasy. Aku sendiri suka sih, bacanya, tapi kurang suka nulisnya. Karena aku bisanya yang realistis, yang deket sama kehidupan sehari-hari, alias imajinasiku kurang. Jadi, kenapa aku mau (malah aku yang ngajak) bikin novel kolab soal fantasy?

Eksplorasi, eksperimen, atau apalah sebutannya. Intinya, aku mau ngerasain.

Dan, lewat tulisan ini (ini gegara keseringan denger lagu kali ya, kan biasanya “lewat lagu ini…” mulai gak jelas, deh!) aku mau menyampaikan beberapa pengalaman yang kudapat lewat fantasy.

Tadinya tuh, aku mikir, asik banget kali ya, bikin sebuah novel yang murni dari hasil pikiran kita sendiri (ya eyalah, kalo gak, namanya plagiat hehe). Maksudnya, murni dari hasil imajinasi kita, nggak terkukung dengan kenyataan, dan aturan-aturan dunia nyata. Eh, ternyataaaa…. tidak semudah yang kuduga.

Pertama, mengembangkan logika cerita. Biarpun kita bisa bilang murni hasil imajinasi, novel bentuk apapun adalah bentuk komunikasi yang lain. Kita sebenernya tengah menyampaikan ke orang lain apa yang ada dalam pikiran kita, dalam perasaan kita juga. Karena itu, komunikasi harus mengikuti aturan luar, kalau nggak ya, pesan-pesannya pasti nggak nyampe. Trus, buat apa dong, kita publish novel? Kecuali kalau mau jadi pajangan di rak buku pribadi atau menuh-menuhin hard disk atau kapasitas google drive (banyak banget medianya sekarang ^^;)

Okelah, ada yang namanya novel sastra. Penyampaiannya kadang ekspresif, subjektif milik si penulis. Mereka bahkan bisa aja membentuk kaidah-kaidah baru dalam cara penulisan dan bahkan cara pembacaan. Tapi, kaidah baru terbentuk dengan dasar kaidah lama. Surrealis nggak mungkin muncul tanpa adanya realis sebelumnya, kan? Lukisan abstrak juga nggak akan muncul kalau nggak ada teknik-teknik pencampuran warna atau konsep-konsep warna dalam hubungannya dengan emosi manusia. Jadi, bahkan bacaan yang nyastra pun nggak mungkin keluar dari kaidah-kaidah baku komunikasi ini.

Contoh simpel, bahkan novel sastra pun nggak mungkin bilang, ibu memasak batu bata. Kalaupun iya, pasti nanti ada segudang alasan di balik itu, mungkin karena di novelnya emang makhluknya punya kebiasaan makan batu bata ^^; Kalau nggak, ya nurut aja sama kaidah baku bahasa indonesia, kalau yang dimasak itu ya, makanan yang bisa dimakan. Seperti, ibu memasak sayur.

Nah, seperti contoh di atas, karena komunikasi ini mutlak harus sampai ke pembaca, kita perlu menulis satu cerita yang benar-benar harus ada hubungannya satu sama lain, kan? Waktu nulis fantasy, ini yang paling sulit, artinya kita harus menghubung-hubungkan imajinasi yang banyak itu hingga membentuk rangkaian yang solid secara logika. Kalau realis masih bisa kita nyontek-nyontek dari dunia nyata. Tapi, kalau di cerita fantasy, semua harus dirancang dari awal.

Kalau misalkan kayak di Harry Potter, menjelaskan hubungan penyihir dengan goblin, misalkan? Artinya, harus jelas dulu karateristik penyihir, karakteristik goblin, perasaan-perasaan mereka, sejarah antara mereka, sehingga hubungan mereka yang diwarnai sakit hati dan saling curiga itu jadi masuk akal banget. Bravo for J.K.Rowling!

65b48871fc60046897cac12d0ad2eb131e03d5c5
GIF diambil dari http://www.romper.com

Coba, kalau nggak dijelasin sejarah mereka yang diwarnai tipu daya, tiba-tiba mereka saling benci aja gitu? Pasti kita sebagai pembaca nggak puas. Lho kok tiba-tiba saling benci aja, sih? Aneh.

Kedua, menyesuaikan setting lokasi dan waktu. Sama aja kayak mengembangkan logika cerita sih, persoalannya. Mesti dirancang ulang dari awal. Untuk beberapa novel fantasy, mereka menggunakan sistem pertanggalan masehi (tapi dengan realita yang sangat berbeda) dan ini sah. Ini lebih gampang, sih. Tapi, beda cerita kalau kita bikin setting waktu sendiri. Atau model-model post-apocalypse yang semuanya harus dari nol. Untuk penulis yang perfeksionis, harusnya sih ada sistem penanggalan sendiri soal ini (push terus novelis fantasy Indonesia! Haha!)

Setting lokasi, ini yang menurutku sangat, sangat ribet. Begitu ketemu novelis fantasy, barulah aku sadar betapa rumit soal setting lokasi ini. Apalagi kalau soal kolab ya, semua harus jelas karena orang-orang yang terlibat semua harus mirip-miripin (karena identik terlalu naif) persepsi soal hal-hal teknis begini.

Kenapa? Masalah lokasi ini penting banget untuk penanaman karakter-karakter dalam cerita. Karena seperti yang kita tahu, lokasi sangat menentukan budaya. Misal, orang-orang yang tinggal di negara tropis 2 musim, dengan negara 4 musim, budayanya pasti beda. Orang yang tinggal di negara kering macam Afrika pasti kelakuannya beda banget sama orang yang tinggal di Greenland. Trus, dia tinggal di pegunungan atau daerah pesisir pantai. Apakah dia tinggal di dataran rendah atau dataran tinggi.

Misal, di Lord of the Rings, para hobbit tinggal di rumah-rumah kecil di semacam padang rumput begitu. Aku lebih ngebayangin soal liang-liang kelinci yang damai gitu, sih. Mereka cenderung ramah dan saling percaya, tapi juga mudah ditipu. Bandingkan dengan goblin, atau disebut juga Orcs, yang tinggalnya di Misty Mountain, alias di pegunungan.

Ini penampakan liang-liang Hobbit… :p

2frodobilbo
Gambar diambil dari thorinoakenshield.net

Nah, ini tempat tinggalnya Orcs…

Trailer1Goblins3
Gambar diambil dari http://www.thelandofshadow.com

Berasa kan, kalau perbedaan sifat mereka jadi masuk akal? Pegunungan yang kebanyakan gelap dan menyimpan sejuta misteri (kayak hewan-hewan liar) otomatis membuat sifat Orcs jadi curigaan (kalau kita nggak mau buruk sangka dulu sebagai jahat, ya). Tampang mereka aja jadi nggak indah gitu, kalau dibanding Hobbit. Itulah kaidah-kaidah baku dalam dunia pembentukan kepribadian, jadi kalau nggak ngikutin itu lagi-lagi pesannya nggak bakalan nyampe.

Singkat kata, kalau setting lokasi nggak jelas, pastinya nanti bakalan nggak masuk akal dengan karakter-karakter tokoh. Kalau perlu jelasin di lintang apa, bujur apa, biar ribet sekalian! 😀

Untuk sekarang, aku nulis sampai di sini dulu. Soalnya, kalau kepanjangan malah jadi nggak enak bacanya. Nanti pesannya nggak nyampe ke pembaca, dong! :p

 

 

nyambung…

A Tale of Two Cities (part 2)

charles dickens
Gambar diambil dari amazon.com

 

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classic

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris

 

Jangan tanya ini sampe part berapa karena akupun tak tahu. Halah… Intinya, karena aku bakal baca buku ini lama banget, tapi aku gak sabar ngasi per detailnya, akhirnya jadi begini, deh. Kutulis satu per satu review yang bakal sangat panjang ini.

Alasannya, karena dari awal aku udah dikejutkan dengan paragraf pembuka yang apik banget. Keren dan ngena banget. Bahkan, aku pikir2 cocok banget dengan kondisi sekarang ini. Hanya saja, bukan lagi soal Perancis dan Inggris, tapi tentang Amerika dan Indonesia. Jakarta dan Washington DC deh, karena kan judulnya “cities” hehe…

Dan untuk review sebelumnya, aku mau ralat. Aku dengan pedenya bilang aku udah nyampe halaman 60, tapi setelah ditilik baik-baik, aku baru sampe halaman 26! What the…

Ada apa dengan konsentrasi membacaku yang makin rendah ini?Btw, kalau mau baca review sebelumnya, yang emang cuma sampe halaman 26 itu (aneh, ya! haha…) silakan baca di sini; A Tale of Two Cities (part 1) dan kalian akan menemukan isi paragraf dari buku ini yang keren banget.

Aku sampai pada cerita dimana orang yang telah terpenjara (terkubur; kayak penjara bawah tanah gitu) ternyata punya seorang putri dan akhirnya mereka bertemu. Dan biasalah, penulisnya pasti membuatnya jadi haru-biru.

Monsieur Manette, si napi itu, hidup tanpa gairah sekarang. Dia melanjutkan hidupnya yang tertunda, dengan membuat sepatu, di bawah perlindungan seorang pria Perancis pemilik Wine Shop, Monsieur Defarge. Setelah 18 tahun terkubur hidup-hidup, Monsieur Manette tentu saja kehilangan pegangan soal makna hidup.

Ini deskripsi dari Charles Dicken :

The faintness of the voice is pitiable and dreadful. It was not the faintness of physical weakness, though confinement and hard fare no doubt had their part in it. Its deplorable peculiarity was, that it was the faintness of solitude and disuse. It was like the feeble echo of a sound made long and long ago. So entirely had it lost the life and resonance of human voice, that it effected the senses like a once beautiful color faded away into a weak poor stain. So sunken and suppressed it was, that it was like a voice underground. So expressive it was, a hopeless and lost creature, like a famished traveller, wearied out by lonely wandering in a wilderness, would have remembered home and friends in such a tone before lying down to die.”

Good, eh? Penggambaran dari suara Monsieur Manette ini menjadi simbolisasi dari kondisi dia secara keseluruhan. Lost and hopeless creature. Dan sekarang, dia siap dibawa ke negeri Inggris oleh putrinya.

Wonder it will be very boring, tapi biar, deh. Rasanya ini lebih jadi curhatan daripada review yang sebenar-benarnya. Yang pasti bahasa Inggrisnya bener-bener susah, karena Charles Dickens itu dari Britania dan bukannya Amerika, yang bahasa Inggrisnya banyak dipelajari di seluruh dunia.

Well, whatever, yang pasti aku nemuin lagi kata-kata indah dari Charles Dickens, dan mau kuabadikan satu per satu di blog. Soalnya, kalau gak, pasti lupa hehe.

Here’s another :

…to the calm that must follow all storms – emblem to humanity, of the rest and silence into which the storm called Life must hush at last…”

Kalimat singkat yang menggambarkan hidup itu penuh masalah, yang tentunya akan selesai satu hari (siapa yang tahu satu hari itu sampai mana). Satu hal yang aku sadari dari Charles Dickens adalah dia suka mem-personifikasi hal-hal penting. Kayak Life di atas. Atau Hunger di paragraf sebelumnya.

 

When I’m Feeling Jealous

photo
This is one of the book that Tombo’s already finished. He’s supposed to be the one who’s writing the resume, but I guess let’s skip it for now!

 

Author : Trace Moroney

Publisher : Bonnier Publisher

Publishing Year : 2013

 

Now, for this extra… Children’s book, I want to write in English. Well, only because the book is established in English language. Hope I can pull it off well. If not, please excuse me, because English is not really my native language.

I want to especially make this section because there’s a pile of good children’s book in front of me right now. And it’s really poking me, I can definitely hear them calling me, begging me to be resumed… How can I resist that, duh?!

Now, it’s the book about jealousy. I kinda amazed because usually, the feeling like that usually being considered bad in Indonesia (I don’t know about Western People, though). And adults don’t like the children to feel that. Furthermore, they will oppose their children to even read about it because they think it can effect their mind. But, what can one do about feelings? I bet adults have this sort of feeling, too. And it’s really matter to know something if you want to overcome it.

So, the writer is Trace Moroney. I honestly don’t know about the author, nor whether she/he (I have the feeling that it’s a she, but no one can really know before they meet the person itself, right?) is famous writer or not. I just know, the book is great. It exactly shows you what jealousy is.

If you want to know the author, just visit her site here. Just click it, it’s easy, kids!

 

photo (2)The metaphor is good, too. There’s one quote in this book about jealousy; “When I’m feeling jealous I feel like a big, green, grouchy monster. I see the things others have and want to have them all to myself.” You can really relate, right? Adults, be honest! Me, honest! 😀

There are few symptoms of the jealousy feeling in this book also. And every single time, spot on! And the writer told the children too, how to overcome the jealousy. It’s certainly an awful feeling, but remember, it’s there and it’s true. I’m a little bit disappointed by the fact that the author isn’t exactly underline that the feeling is pretty normal, but she told you what you can do to overcome such feeling.

So, never afraid of such feeling, it’s normal, kids! The most important thing is how to make the feeling go away, because it will make you upset!

And to top of that, I like the visualization. The character is being visualized as rabbit and who doesn’t like rabbit?! It’s so cute. What I like about Western children’s book is the picture they represented. It’s unique in every different book. Sometime, the writers don’t especially make it very neat or aesthetically beautiful, but it felt close to you. Because it’s for children, the warm and welcoming picture, easy-looking too, of course make the book become the apple of one’s eye!

 

photo (1)

 

Even though the children like it simple, I bet the illustrator will never think that visualization of a character is easy. Because you need to create the strong, unique character, otherwise it’s not gonna interesting at all. Children maybe simply pleased, but not that easy to be pleased. They knew what’s interesting and what’s not! Don’t underestimate them!

I strongly recommended this book, not really every day that you find the book about awful feelings!