Waktu yang Terlalu Jauh

Sekali aku pernah dengar perkataan, “kalau aku tidak menuliskan apa yang ada di kepalaku, aku akan mati.” Di sini, di dalam jiwaku sendiri, aku bisa merasakan apa yang ada di benak orang itu. Betapa kematian ada dalam beragam rupa dan mengintip dari banyak celah.

Tapi, begitu banyak pula alasan untuk tidak menulis. Atau, sederhananya, terlalu takut untuk menulis.

Pekerjaan.

Keluarga.

Kepincangan pribadi.

Sesuatu yang benar bukan dalam selongsong yang tepat. Rasionalisasi, itu saja yang diperlukan manusia untuk beralih dari situasinya, yang sebenar-benarnya. Dan aku sudah rasakan akibatnya. Pahit dan terlalu pahit. Kata-kata berlompatan dan tumpang-tindih semaunya, tidak mau teratur dan tidak bisa diatur.

Ekspresi yang tidak memadai, tidak mau berbenih dari waktu-waktu yang terbuang. Siapa bilang lebih banyak waktu maka lebih banyak karya? Kebohongan yang manis dari jiwa-jiwa pesimis yang hanya mau bermimpi dalam tidur. Waktu bukan apa-apa, kecuali kita yang menggandengnya.

Terlalu banyak bicara tentang waktu, sampai kehilangan makna di balik bayang-bayangnya. Bukan, bukan waktu yang menyembuhkan, tapi pikiran yang mengelanakan waktu ke peraduan semestinya, maka ia yang akan menang.

Aku sudah sekarat, tapi enggan untuk mati. Jadi, kulakukan hal yang sudah seharusnya, sejak lama, menginjak tanah dengan kakiku sendiri. Terseok jatuh bukan hal luar biasa. Bercengkerama dengannya, menjadi satu lalu menumbuhkan yang lain, barulah kemenangan pelan-pelan itu terjadi.

Inilah ketakutan yang kubicarakan, kemenangan pelan-pelan yang tak terasa, bahkan tidak tergubris oleh mata telanjang. Kemenangan yang diinjak oleh keserakahan dari pikiran yang terselubung jentik-jentik ekspektasi. Bergerombol pelik hingga hilang celah untuk mengintip.

Kadang, aku hanya tak sabar untuk melompat ke satu waktu yang belum lagi kukenal.

Advertisements

Hanung Gagal Mengungkap Esensi Bumi Manusia

“Itu sebetulnya kan cinta yang sekarang, Minke itu memutuskan untuk ‘gue berani ayok kita ke sana,’ baru kemudian Minke dan temannya saling bersaing. Seperti kisah sekarang, tapi diletakkan pada masa tahun 1900-an. Di situ yang kemudian membuat pergulatan cinta ini menjadi semacam hubungan yang harmonis sekaligus tragis,” ujar Hanung. (Sumber : Bumi Manusia Lahir dari Tangan Orang yang Tiga Kali Dipenjara )

Waktu aku tahu Bumi Manusia bakal difilmin, aku bener-bener kaget, sekaligus senang. Ini momen yang kutunggu banget! Namanya juga penggemar, ya…

Ternyata…sutradara Bumi Manusia adalah Hanung Bramantyo. Dulu, aku nganggep Hanung ini lumayan oke karena berani ngangkat topik-topik sensitif di tanah air, contoh “?” (tanda tanya) yang mengisahkan pergulatan spiritual tokoh-tokoh dalam menghadapi perbedaan agama di sekitar mereka. Ada yang pindah agama, ada yang pacaran beda agama, dkk. Biarpun plotnya gak menarik, ya…lumayanlah…

Yang namanya agama di Indonesia kayaknya haram banget buat dipertanyakan atau dipergulatkan dalam seni-seni kayak gitu. Jadi, aku mengapresiasi keputusan Hanung mengangkat topik itu. Begitu denger dia mau menyutradarai film adaptasi dari novel Pram ini, sedikit-banyak aku ngarep ini bakal jadi lumayan.

Eh, belom keluar filmnya, aku udah yakin ini film bakal jadi jelek. Bukan, bukan gara-gara pemainnya Iqbal, tokoh Dilan, yang digandrungi cewe-cewe karena keromantisannya yang unik itu (katanya sih, karena aku gak pernah nonton Dilan hehe). Tapi, karena reaksi awal Hanung soal buku Bumi Manusia di atas.

Aku kaget, sekali lagi. Apah?! Kisah cinta Minke dan Annelies? Mas, lauw baca bener-bener gak sih, itu buku? (Maaf kalo esmosi, namanya juga fans Tetralogi Buru, yak haha)

Aku sendiri gak paham-paham banget sama sastra dan kritik sastra atau teknik-teknik pengulasannya, jadi opiniku ini emang murni aku sebagai orang awam yang mencintai Tetralogi Buru. Biarpun begitu, aku yakin kalau esensi yang ditangkap Hanung di atas, seperseratusnya aja gak ada bener-benernya. Seperseratus nyenggol kebenarannya aja gak ada. Lebay, ya! Haha…

Trus dia bilang lagi, “Saya pikir saat baca (buku) Bumi Manusia, dibanding Ayat-Ayat Cinta, lebih berat Ayat-Ayat Cinta.”

Ya iyalah, kan di otaknya cuma ada cinta-cintaan doang…

Aku gak berani membandingkan Bumi Manusia dengan Ayat-ayat Cinta. Pertama, karena aku gak pernah baca novel Ayat-ayat Cinta. Kedua, kayaknya gak pantes membanding-bandingkan satu karya dengan karya yang lain. Mereka adalah unik, seperti juga si penulis yang membangun dunia di dalam novel-novel tersebut.

Aku jadi bisa melihat betapa sempit pola pikirnya Hanung ini.

Pecinta Bumi Manusia pasti paham kebanyakan hubungan yang dibahas di dalam Bumi Manusia justru hubungan Minke dengan Nyai Ontosoroh, yaitu ibunya Annelies. Emang ada sih, hubungan cinta Minke sama Annelies, dan aku mengapresiasi cara Pram mendeskripsikan kisah mereka yang emang manis banget (alasan aku suka Pram adalah dia bisa menggambarkan berbagai macam emosi, tanpa jadi alay), tapi kisah cinta mereka ini di kemudian cerita adalah konflik yang mengarah pada kejahatan kolonial Belanda, sekaligus pengukuh hubungan Minke sama Nyai Ontosoroh. Jangan tiba-tiba mikir Minke jatuh cinta sama Nyai Ontosoroh, ya. Semoga manusia Indonesia gak kayak Hanung yang mikirnya cinta itu adanya cuma cinta asmara macam ABG labil.

Dibandingkan dengan ketiga buku lainnya, yang mengungkap perjalanan Minke menjadi pemilik pertama koran pribumi, yaitu Medan Prijaji, Bumi Manusia emang keliatan paling “ringan”. Dan menurutku, sangat wajar, karena ini adalah Minke ketika masih remaja. Yang masih naif dan masih terpengaruh oleh lingkungan di sekitarnya. Dia belum punya konsep tentang perjuangan sebagai seorang pribadi.

Tapi, tetap saja, esensi dari buku itu punya konsep mendalam tentang momentum awal seorang Minke menjadi T.A.S. Aku jadi curiga, jangan-jangan Hanung gak kenal juga T.A.S yang dimaksud di novel ini siapa -_-

Bumi Manusia diawali dengan kedatangan Minke ke rumah menyeramkan yang bernama Bourderij Buitenzorg (astagah ribet haha). Di sini tinggal seorang Belanda Totok dengan wanita pribumi. Karena mereka gak mungkin nikah dengan sah, jadilah si wanita cuma jadi “nyai,” alias simpanan Si Belanda, namanya Herman Mellema.

Dari awal ini, pembaca udah disuguhkan dengan simbolisme satu keluarga yang dihasilkan dari hubungan kolonial Belanda sama Hindia-Belanda. Nyai Ontosoroh adalah simbol dari penjajahan Indonesia oleh Belanda dan juga lambang kemunafikan Belanda yang waktu itu mengaku sebagai penganut Kristiani ta’at, yang suka mengolok-olok kebiasaan pejabat Jawa mengambil selir.

Peran Nyai Ontosoroh gak sampe di situ. Dia adalah “guru” luar Minke mula-mula, yang masih sangat terindoktrinasi dengan sekolah Belandanya (haduh namanya susah, jadi maap ya, gak kusebutin di sini), dengan guru-guru dan buku-buku teks dari sekolahnya. Begitu dia mengenal Nyai Ontosoroh, mata Minke mulai terbuka terhadap dunia di sekitarnya, yang gak cuma sesempit sekolah, apalagi sekolah yang didirikan untuk mendidik Pribumi untuk mencintai Belanda.

Itulah awal mula Minke meragukan semua yang terjadi padanya dan mulai mengamati dunia luar lebih banyak. Bumi Manusia adalah perjalanan awal Minke tumbuh menjadi pribadi yang mengabdi pada sekitarnya.

Sekarang, mari kita beranjak ke tokoh Annelies. Tokoh Annelies ini adalah tokoh yang penuh kontradiksi. Dia adalah wanita mandiri yang jadi tangan kanan ibunya untuk mengurus perusahaan mereka. Dia bisa mengatur para pekerja dan hebat dalam manajemen perusahaan, dimana dia emang diajarkan langsung oleh Nyai Ontosoroh sendiri. Aku selalu bergidik kalo inget Nyai Ontosoroh bilang, “orang yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri, tidak akan bisa mengurus lain-lain.” Kurang-lebih begitu, dan emang bener banget, kurasakan sekarang ini.

Di lain pihak, Annelies tumbuh menjadi gadis lemah yang sangat tergantung dengan ibunya dan tidak punya kekuatan pribadi untuk melawan sekitarnya. Bahkan, saat pertama-tama Minke pedekate (kasih dah, cinta-cintaan versi remaja yang dimau Hanung) kepadanya, dia langsung lari kepada ibunya, melaporkan semua. Di penghujung kisah cinta mereka, Annelies menjadi korban ketidakberdayaan pribumi melawan hukum kolonial Belanda.

Jadi, peran Annelies bukan cuma sebagai kekasih Minke, tapi juga simbolisme “hasil” dari penjajahan, berupa sosok manusia yang lemah dan tidak berani melawan, apalagi menghadapi kenyataan. Dengan mudah, Annelies membuang semuanya, tanpa melawan.

Lanjut ke…apa kata si Hanung, soal Minke dan temennya? Nyebut namanya aja gak, dia baca bukunya gak, sih? Btw, itu maksudnya si Robert Suurhof, sang peranakan Indo-Belanda, yang petantang-petenteng merasa dirinya keren. Aku gak paham dari mana Si Hanung melihat mereka berdua bersaing.

Dari awal pertemuan, Nyai Ontosoroh dan Annelies udah menolak dirinya yang mencoba menjatuhkan Minke. Ya, Robert Suurhof emang mau menjadikan Minke “monyet”-nya, sehingga dia keliatan keren banget di depan Annelies Mellema. Tapi, setelah tahu dia tidak diterima dan Annelies justru jatuh cinta pada sosok Minke, akhirnya dia kabur sendiri, karena dia emang pengecut. Jadi, janganlah kalian mengharap ada adegan dua cowo berebut cewe kayak sinetron-sinetron picisan, karena emang gak bakal ada.

Kalo Robert Suurhof sendiri kayaknya adalah simbolisme sebagai kesinisan Pram terhadap pribumi yang mendewa-dewakan sosok Belanda. Si Robert Suurhof ini padahal cuma sedikit banget darah Belandanya, tapi sombongnya luar biasa.

Ada lagi Robert Mellema, kakak laki-lakinya Annelies, yang terjebak di tengah-tengah konflik internal ayah dan ibunya. Paling kasian kayaknya dia, Pram menggambarkan bahwa dia telah ditolak ibunya, tapi tidak berhasil mendapat kasih sayang ayahnya. Waktu itu, Herman Mellema, suami Nyai Ontosoroh, sekaligus ayah Robert dan Annelies Mellema, yang tadinya Belanda baik-baik, sudah menjadi pemabuk dan jarang sekali di rumah, mengabaikan keluarga dan perusahaannya.

Semua konflik-konflik di atas nantinya akan berujung pada klimaks yang menunjukkan pribumi versus Belanda, dan Nyai Ontosoroh menjadi sosok pribumi yang berani menentang hukum kolonial dan hukum masyarakat yang sudah menjelek-jelekkan dirinya sebagai nyai-nyai. Padahal, dia jadi nyai-nyai justru karena kelemahan pribumi menghadapi Belanda. Wong dia dijual sama bapaknya sendiri, biar bapaknya bisa jadi juru tulis. KKN Indonesia mula-mula ya, dari jaman Belanda. Makanya, susah diberantas, karena udah mengakar kuat. Berapa ratus tahun yang lalu, coba?

Dan aku yakin, semua yang aku rangkum ini belum sepersepuluh dari kompleksitas alur Bumi Manusia, karena banyak lagi yang terjadi, seperti kasus Herman Mellema yang ternyata berubah gara-gara sepucuk surat dari istri sahnya yang ada di Belanda, yang nantinya akan jadi orang yang menuntut dan mengambil hak Nyai Ontosoroh. Trus, kaitannya juga dengan tetangga Bourderij Buitenzorg, si Babah yang punya tempat plesiran, alias tempat pelacuran, dan lain-lain…dan lain-lain…

Yang aku heran dari kesimpulan Hanung juga masalah ini. Dari awal sampe akhir, di Bumi Manusia, Minke itu banyak menyebut-nyebut Nyai Ontosoroh daripada tokoh lain-lain. Bisa dibilang, pusat cerita Bumi Manusia ini justru adalah Nyai Ontosoroh. Kenapa Hanung gak nangkep soal ini. Sangat jelas karena penggambarannya harfiah, kok,  soal kekaguman Minke kepada Nyai Ontosoroh.

Lagian, Pram itu sastrawan Lekra, yang bergerak di bawah PKI. Artinya, karya Pram selalu bertema realisme sosial, yang emang jadi pusat pemikiran sosialis-komunis. Kalau Hanung mempertimbangkan fakta ini aja, aku yakin dari awal dia gak bakal pernah mikir Bumi Manusia bakal jadi cerita tentang cinta.

Anggaplah, mungkin kata-kata Hanung di atas emang cuma secara khusus menyoroti hubungan Minke dan Annelies, tanpa mengikutsertakan konflik-konflik lain, tapi tetep aja gak sedangkal kata-kata dia itu.

Sekarang, aku gak lagi yakin aku pengen nonton Bumi Manusia. Gak usah nonton, pasti jelek. Haha… #ketawamiris

Bhasmī Bhūta

“Oh.” Benar juga, pikirnya. Dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki Arya, pastilah dia memiliki banyak kisah dengan banyak gadis. Mungkin juga dia sekarang sedang menjalin hubungan dengan gadis lain. Sekar merasakan kegetiran dalam hatinya. Pacar ataupun mantan pacarnya pastilah sekumpulan gadis cantik. Namun, gambaran selanjutnya adalah para gadis bertubuh kurus dengan baju yang fashionable saling mencakar satu sama lain untuk memperebutkan Arya. Hah? Sekar menggelengkan kepalanya, menghapus gambaran mengada-ada yang timbul dalam pikirannya.

“Kenapa?” tanya Arya, mengernyit saat menyadari gerakan Sekar. Gadis itu meringis.

“Gak, gak kenapa-napa, kok. By the way, lo punya pacar sekarang?” Dalam hati Sekar mengutuk dirinya sendiri. Buat apa dia menanyakan pertanyaan pribadi semacam itu? Mukanya memerah oleh pertanyaan yang tak bisa direm dari mulutnya itu. “Tapi, kalo gak mau cerita juga gak pa-pa, sih,” elak Sekar.

Arya menengadahkan kepala, membasahi bibirnya dengan lidahnya sendiri. Dia menyeringai. “Gak. Lagi kosong.”

“Kenapa? Gara-gara masalah lo ini?”

“Lagi males aja. Emang aneh kalo gue gak punya pacar?”

“Plis, deh,” cibir Sekar. “Tipe-tipe lo ini pasti gak pernah ada jedanya. Begitu putus, langsung jadian lagi. Putus, jadian lagi. Gue yakin mantan lo pasti lebih dari lima.” Jawabannya langsung tergambar dari senyum jenaka yang dilontarkan Arya. Sekar mengedikkan bahu, matanya mengisyaratkan Apa gue bilang?

“Angka dari mana, tuh?” elak Arya, walaupun dalam hati dia mengakuinya. “Emang gue tipe kayak gimana?”

Sekar mengernyit, mencari kata-kata yang tepat. “Ah, playboy paling.”

“Lah? Kenapa tiba-tiba gue dicap playboy?”

Sekar merebahkan tubuhnya di sofa dengan santai. Dia menatap langit-langit ruang tamunya yang dipenuhi oleh noda-noda aneh. “Hm…kenapa, ya? Cara lo ngadepin cewek. Kayak kemaren pas ketemuan sama Bano. Trus, sama gue. Lo kayak udah terbiasa banget ngadepin cewe.” Gaya santai Sekar langsung mempengaruhi Arya, yang duduk meluruskan kaki di lantai menghadap meja ruang tamu.

“Tapi, kayaknya kalian berdua beda, deh. Rasanya, sih.”

“Hah? Beda gimana?”

“Gak tau. Pas gue ketemu kalian rasanya beda aja. Trus kayak pernah liat, gitu. Apa mungkin kita pernah papasan gak sengaja, ya?”

“Wah, gak tau, ya.” Dalam hati Sekar menambahkan, yang pasti sih muka kayak lo gak bakalan gue lupain segampang itu.

Ponsel Arya kembali berdering nyaring dari balik saku celana jeans arya. Pemuda itu merogoh sakunya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dia mengerang, menarik perhatian Sekar.

“Kenapa?”

“Dia lagi,” jawab Arya, memperlihatkan nama di layarnya.

“Udah sih, angkat aja. Trus bilang gue males ngomong sama lo, trus matiin deh!”

“Yang bener aja? Lo gak tau orang satu ini, sih. Drama queen banget! Kalo gue begitu, makin heboh dia nelpon. Bisa puluhan kali. Trus, pasti sambil nangis-nangis. Ampun, deh.” Pemuda itu merebahkan dirinya di lantai, menatap nama yang terus-menerus muncul dari layar ponselnya. Tanpa dapat dicegah, Sekar mengeluh jijik. Sifat-sifat yang sungguh merusak nama kaum Hawa. Namun, telepon itu terus-menerus memekik meminta perhatiannya. Arya mendecak. Dia bagaikan melihat bayangan wajah mantannya yang merengek-rengek agar Arya memenuhi permintaannya. “Halo?” tukas Arya ketus, mengangkat telepon itu. “Gue lagi ama cewe baru gue. Sori, jangan telepon gue lagi, deh. Gue gak enak ama dia.”

Sekar menoleh ke arah Arya, yang tersenyum dengan wajah meminta maaf. Dia mengangkat alisnya, “Wah, gue ngerasa dapet kehormatan buat jadi cewe lo.”

“Lo mau?” Arya tersenyum menggoda Sekar.

“Bener, kan? Kelakuan lo udah kayak playboy kelas teri.” Sekar melompat dari sofa itu, menuju kulkas. Dia baru saja menyadari bahwa dia belum menyediakan minuman untuk tamunya.

“Kelas kakap, kek, minimal.”

“Mimpi!” Sekar mendengus. “Trus? Ceritanya kayak gimana? Pacar-pacar lo?” Gadis itu kembali ke sofa. Dia melemparkan sebuah minuman kaleng bersoda ke arah Arya, lalu melanjutkan aktivitas malasnya di sofa.

“Thanks,” sahut Arya, setelah kaleng itu telah berada di genggamannya. Pemuda itu berdehem, berusaha mengingat detil-detil tentang mantannya. “Yang pertama, pas gue SMP.”

“SMP?!” tukas Sekar terkejut. Rasanya dia bahkan tidak mengenal perbedaan pria dan wanita semasa SMP. Apa dia mengalami keterlambatan pubertas? Pikiran itu membuatnya mengasihani dirinya sendiri. Sedikit.

“Emang kenapa? SD sebenernya ada, tapi ya taulah. Gue bilang suka, dia bilang dia juga suka. Udah, kita anggep kita pacaran, padahal mah cuma liat-liatan sambil tukeran surat di kelas.” Sekar terbahak, membayangkan dua anak SD saling bertatapan dengan wajah memerah di tengah alunan suara pengantar tidur dari seorang guru yang membosankan. Pemuda itu sekilas melirik Sekar. Tawanya yang lepas itu tampak manis di mata Arya.

“Bertahan setahun sih, yang di SMP. Karena gue bosen, ya gue putusin. Dia nangis-nangis gitu, parah. Trus, yang kedua pas kelas dua SMP. Tapi, gak lama dia pindah. Kita bilang coba aja hubungan jarak jauh. Gue lumayan suka dia, sih. Eh, pas gue masuk SMA, gue ketemu cewe cakep banget. Sumpah, cakep banget. Emang sering jadi model majalah remaja, sih. Jadi, gue sempet ngeduain pacar gue yang kedua. Cewe yang ini juga gak tau sih, gue udah punya pacar.”

“Ya ampun,” desah Sekar, menyeruput minumannya.

“Gak tau deh, parah gue, ya?” kekeh Arya. “Trus, sama yang ketiga ini. Kan akhirnya gue beraniin diri buat putusin pacar gue yang kedua, karena gue juga gak tahan jarak jauh gitu. Nah, gue fokus sama yang ketiga. Malesnya, ternyata dia posesif banget. Tapi, hobi banget selingkuh di belakang gue. Sumpah, aneh banget.”

“Ya, karma lo. Eh, jangan-jangan lo begini karena disumpahin mereka kali,” tukas Sekar, tersenyum penuh arti. Dia memiringkan badannya, menatap ke bawah. Ke arah Arya, yang mengernyitkan dahi. “Jadi, lo tinggal minta maaf aja ke mereka, siapa tau mereka ngelepasin sumpahnya ke elo. Kayak di film-film itu.”

“Ah, ngaco lu.”

“Perlu dicoba, Ar. Kan sekalian lo ngapus dosa.”

“Oi!” Arya menegakkan badannya, membuat wajahnya sejajar dengan wajah Sekar. “Kok rasanya gue yang salah banget, sih? Pacar gue yang ketiga kan, juga ngeduain gue.”

“Iya, sih,” sahut Sekar, mengedikkan bahu. “Tapi, pasti banyakan lo yang nyakitin, kan?” Arya terdiam, memikirkan setiap gadis yang dekat dengannya. Beberapa yang dikencaninya tanpa ada komitmen apapun.

“Becanda, serius amat sih!” Sekar tertawa lagi. Decakan kesal mengikuti gelak tawa itu. “Emangnya gue hakim apa, seenaknya mutusin lo salah apa gak?” Gadis itu menghirup minuman bersodanya.

“Tapi, lo sukses bikin gue ngerasa bersalah.”

“Bagus lah. Kan artinya lo masih punya nurani,” kekeh Sekar. Mereka berdua kemudian terdiam, ditingkahi oleh suara mereka saat menyeruput minuman mereka. Derai tawa anak-anak kecil terdengar jelas dari luar rumah Sekar yang pintunya terbuka. Sesekali terdengar klakson motor atau mobil yang melewati jalan kecil yang hanya muat untuk dilewati satu mobil itu. Suara seruan dan teriakan menjadi penanda padatnya pemukiman tersebut.

“Makasi, ya.” Tiba-tiba Arya membuka suara. Sekar menenggak minumannya lagi. Walaupun Arya tidak menjelaskan maksudnya secara verbal, Sekar cukup mengerti.

“Sama-sama.”

…..bersambung…..

Mati Baik-baik, Kawan

Pengarang : Martin Aleida

Tebal : 140 halaman (termasuk kata penutup dari Katrin Bandel)

Penerbit : Akar Indonesia

Tahun terbit : 2009

Bahasa : Indonesia

 

 

Bisa dibilang, aku kurang ahli dalam resensi buku. Nggak tahu kenapa, selalu ada info-info yang kelewat. Kutipan-kutipan kalimat dalam bukunya aja, sekalipun aku suka banget, bisa aja kelupaan. Kepala ini kayaknya susah nampung info baru. Mungkin faktor “U” ^^;

Tapi, bagaimanapun, aku mau nyoba terus meresensi buku yang aku baca.

Pas lagi maen ke tempat kakak ipar, yang emang punya koleksi buku segudang, tiba-tiba dia nawarin satu buku. Katanya bagus banget, walaupun ada kekurangan fatal. Ini editor dan penerbit emang kurang hati-hati, ada dua halaman kosong di dalamnya. Kalau cuma sekadar ada kertas keselip sih, nggak apa-apa, ya, tapi ini bener-bener bagian dari ceritanya ilang.

Oke, balik ke topik semula. Buku yang judulnya “Mati Baik-baik, Kawan” ini karangan dari Martin Aleida. Baru setelah kubaca sinopsisnya, aku tahu kalau Martin Aleida ini aktif dalam menyuarakan kebenaran tentang sejarah kelam di Indonesia, yaitu genosida 1965. Kejadiannya bulan Oktober 1965, setelah PKI didakwa menjadi dalang pembunuhan para jenderal pada peristiwa G 30 S/PKI.

Ini salah satu sejarah yang kontroversial di Indonesia, karena ada pihak-pihak yang meragukan kalau dalangnya memang PKI. Ada yang bilang, PKI cuma jadi kambing hitam. Atau sengaja dijerumuskan dalam peristiwa itu supaya Soeharto punya alasan buat memberangus PKI. Malah, katanya ini melibatkan CIA dan hubungan mesra Soekarno-JFK (yang terakhir ini juga kasusnya nggak pernah selesai).

Yah, apapun teori konspirasinya, kupikir bukan alasan untuk membumihanguskan pihak-pihak yang kita nggak suka. Apalagi, tanpa ada salah, cuma karena dicurigai (bahkan tanpa bukti pula) berhubungan dengan PKI.

Buku ini adalah kumpulan cerpen, yang dikenal dengan kumcer, tentang berbagai peristiwa yang berhubungan dengan genosida 1965. Ada tokoh Mangku yang sengaja kabur dari kampung halamannya sendiri karena nggak mau mati konyol. Dengan dua sahabat setianya, seekor anjing dan kera, ia pergi dengan bekal seadanya. Tujuannya, Lampung.

Ada pula kisah tentang pemuda yang berniat meminang wanita di Kampung Soroyudan, Solo. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seseorang yang mengenal gadis pemikat hatinya, Partini. Nah, di cerita inilah, ada 2 halaman kosong. Dan sayangnya, isi dari 2 halaman itu sangat fatal buat pemahaman cerita. Sebel.

Aku mungkin spoiler sedikit, jangan kaget kalau kebanyakan endingnya berakhir sedih. Karena kekejaman genosida ’65 memang tidak mungkin dimanis-manisin. Bayangkan saja, tetangga saja bisa saling bunuh. Setidaknya, begitu yang kudengar dari kesaksian orang yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut.

Yang bikin buku ini menarik justru drama terakhir yang disampaikan Martin Aleida. Di cerpen terakhir, dia membuat autobiografinya sendiri ketika ia diterima bekerja di Koran Tempo, yang kala itu di bawah manajemen Goenawan Muhammad. Di cerpen ini juga, dia mengeluhkesahkan hubungannya dengan sang pemimpin redaksi itu. Sayangnya, autobiografi ini terlalu banyak dikuasai emosi pribadi Martin Aleida, kelihatan dari bagaimana ia bercerita dengan berapi-api. Walaupun begitu, cerpen autobiografi ini tetap menarik karena kita bisa melihat Goenawan Muhammad dari sudut pandang Martin Aleida.

Jangan pikir karena temanya yang berat, buku ini nggak bisa dinikmati. Kejadian genosida ’65 sendiri nggak diceritakan secara gamblang, tapi kita bisa rasakan lewat perasaan-perasaan pribadi tokoh-tokoh dalam cerpennya.

Gaya bahasanya sendiri bisa dibilang sederhana, nggak berbunga-bunga, bahkan nggak bisa dibilang puitis. Bisa jadi karena latar belakangnya yang jurnalis itu. Bisa jadi juga karena itu karakternya. Gaya berceritanya juga sederhana dan karena sederhananya itu justru perasaan tokoh lebih bisa disampaikan.

Paling-paling yang sedikit bikin keningku berkerut itu istilah-istilah yang aku nggak paham, seperti bertungkus lumus dan emprit gandhil (semoga nggak salah sebut). Tapi, sisi baiknya, ya aku juga jadi belajar istilah baru.

Seperti yang kubilang, aku kurang punya kemampuan dalam meresensi buku dengan baik. Sejauh ini, baru ini yang kupikirkan. Yang pasti, aku suka buku kumpulan cerpen ini, setiap kisahnya membawa gejolak emosi yang berbeda. Biasanya, aku lebih suka novel dengan alur yang panjang berbelit-belit, tapi kali ini aku bisa bilang ini kumcer yang menarik dan menggugah.

Yang udah baca juga, silakan tambahin komentar-komentarnya, ya.

Bhasmī Bhūta

BAB II

THE SOCIAL CONTRACT

(lanjutan…)

 

 

Hanya selang beberapa menit, mereka sampai ke rumah kontrakan yang sangat sederhana itu. Motor mereka berhimpitan, terparkir lurus karena lahan di dalam pagar yang sempit. Arya memasuki tempat itu dengan ragu. Gadis itu cukup berani membawa pria yang baru dikenalnya ke rumah kontrakannya. Namun, Sekar membiarkan pintunya terbuka, pertanda dia tidak sepenuhnya percaya kepada Arya.

Arya mengabaikan hal itu karena perhatiannya langsung terpikat oleh berbagai lukisan yang digantung berjejer dari ruang tamu hingga ruang tengah yang tersambung itu. “Lukisan lo? Bagus, ya?” Gadis itu hanya tersenyum mendengar komentar awam tersebut. Dalam dunia melukis, Sekar justru termasuk golongan amatir, dengan karya yang tidak memberikan kesan emosi mendalam. Tenggorokannya terasa tercekat saat pikirannya mengulang kembali rekaman kata-kata dosennya itu. Sekar mengulurkan gelas berisi air mineral pada pemuda yang masih mengamati lukisan Sekar.

“Biasanya dalam seni lukis itu ada aliran-alirannya, kan? Lo aliran apa?”

“Gue lebih suka realisme. Peristiwa sehari-hari, tentang manusia, yang simpel-simpel. Liat,” tunjuk Sekar pada salah satu lukisannya, “ini ibu-ibu lagi ke pasar subuh-subuh, pulang bawa kantong plastik gede. Pas gue ngeliat pemandangan itu tiap pagi, rasanya terharu. Itu kan ngegambarin perjuangan dia sebagai seorang istri dan ibu.” Wanita itu menyisir karyanya itu dengan jemarinya sangat perlahan.

Arya terdiam, mengamati sapuan cat akrilik yang memberikan tekstur timbul pada setiap lukisan wanita yang tengah berdiri di sampingnya itu, menyadari lukisan ini cukup mampu membuatnya terserap dalam aktivitas Shubuh oleh seorang wanita paruh baya yang menjadi objek lukisan itu.

“Bagiku, manusia itu selalu menarik. Bahkan saat berinteraksi dengan hal-hal simpel. Kayak tiap pagi ada aja tuh pemandangan ibu-ibu gendong anaknya pake kain, sambil nyuapin makan. Atau wanita karir, cewe-cewe yang kerja di kantor, jalannya buru-buru karena takut telat. Manusia dan kegiatannya. Dinamikanya. Manusia selalu dinamis, berubah-ubah. Namun, tak selamanya perubahan itu baik. Tidak selalu kemajuan itu maju.” Sekar tak tahu mengapa dia mengakhiri kalimatnya dengan desahan nafas.

“Apa gue salah satunya?”

Sekar ditarik kembali ke dunia nyata, dimana dia dan seorang lelaki yang lebih muda daripadanya sedang berdiri bersisian mengamati lukisan. Arya menoleh menatap Sekar. Matanya meminta penjelasan.

“Maksudnya?” sahut Sekar mengernyitkan dahi.

“Apa gue cuma bagian dari dinamika?”

“Apa gue bilang manusia bagian dari dinamika? Gue bilang manusia itu dinamis. Gue rasa, manusia yang membuat dinamikanya sendiri. Sama halnya dengan lo. Kalo lo gak terlibat dalam proses dinamika itu, ya lo mental. Lo bakal jadi stagnan.”

“Stagnan, ya? Sebenernya gak ada salahnya juga, tuh,” sahutnya sambil tersenyum simpul. Senyum yang tidak muncul dari sinar matanya, entah tertahan di mana.

“Stagnan dalam beberapa periode aja mungkin, ya. Tapi, kalo untuk waktu lama? Lo bakal jadi manusia purba,” kekeh Sekar. Arya mendengus, tapi bibirnya menyunggingkan senyum.

“Tapi, kalo gue mesti ngalamin dinamika yang sifatnya aneh gini, rasanya…” Arya menggantungkan kalimatnya. “Gue juga ngerasa di keluarga gue mulai ada yang berubah. Bokap gue maunya marah-marah mulu. Wajar sih, karena anaknya masuk ke persidangan, ditonton orang banyak.”

Sekar menopang dagunya dengan sebelah tangan. Tanpa sadar pandangannya mengarah ke Arya, sementara pikirannya berputar pada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi seputar diri Arya. Mau tak mau dia memikirkan sebuah lukisan yang tepat untuk menggambarkannya. Semrawut, abstrak. Tidak, itu sama sekali bukan gayanya. Entahlah, surrealis? Surrealis abstrak? Ah, bodoh!

“Sekar?”

“Eh? Kenapa?”

“Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu?”

“Hah?” Sekar tersentak menyadari bahwa matanya terpancang ke wajah Arya. Mukanya seketika memerah. “Maaf, gue gak ngeh. Gue lagi mikirin soal cerita lo itu.”

“Oh.” Sekilas terbersit rasa kecewa di diri Arya. Kecewa? Kenapa?

Belum habis waktu Arya untuk melamun dalam kebingungannya, teleponnya berdering. Dia hampir saja mengeluh saat melihat nama yang tertera di layarnya kalau dia tidak menyadari dia sedang di rumah Sekar. Pemuda itu meliriknya sekilas, lalu memutuskan hubungan di ponselnya. Ada perasaan aneh yang menyeruak di hatinya, membuatnya gugup untuk mengangkat telepon dari mantannya itu.

“Lho, gak diangkat?”

“Gak, ah. Mantan gue.”

 

 

…..bersambung…..

Yang Kutemukan Selama Belajar Menulis Artikel

Apa kabar, dunia?

Yang menyenangkan dari internet memang bisa menghubungkan banyak orang dari seluruh dunia. Tidak hanya cepat, tapi juga murah-meriah karena kita hanya mengandalkan internet. (Bisik-bisik : padahal sih, katanya, layanan informasi di Indonesia termasuk mahal). Bagaimanapun, memang tetap lebih murah dan mudah ketimbang jalur pos, misal.

Aku nggak pernah punya teman pena di luar sana, jadi kurang tahu juga bagaimana detail-detail berkirim surat antar negara. Kalau sekarang, pakai layanan messenger berbagai medsos dan email sih, udah bisa.

Ok, cukup sekian basa-basi nggak jelasnya.

 

Pengalaman Menulis Artikel

Kali ini aku pengen berbagi pengalaman nulis artikel. Aku biasanya fokus ke tulisan-tulisan fiksi, karena aku suka bermain dengan imajinasi. Dan lagi, rasanya kebebasan menulis fiksi tidak terbatas. Walaupun, sekarang ini, aku sama sekali nggak setuju. Maksudnya, kalau karya fiksi juga diuntukkan pada pembaca, artinya pembaca harus paham isi tulisan. Dan karena mereka harus paham, logika tulisannya tetep harus berpegang pada realita.

Jadinya, kebebasan sebebas-bebasnya itu mungkin cuma ilusi. Soalnya ada resikonya. Nulis tapi gak ada yang baca kan nyesek juga haha…

Jadi, selama nyoba-nyoba nulis artikel, aku memperhatikan beberapa hal yang penting buat mendukung penulisan artikel.

1. Riset

Ini sebenernya yang paling males dari nulis artikel. Faktanya harus bener-bener valid dan arus informasi di internet kan bermacam-macam dan nggak semuanya terpercaya. Beda sama fiksi, informasi dasar bisa ditambal sulam, dan orang tetep maafin dong. “Namanya juga fiksi” hoho…Jadi, soal info ini tetep mesti milih-milih, sekalipun informasi tentang satu hal bisa dapet segudang dari internet.

Buat orang perfeksionis mungkin semua sumber yang ada dibaca dan diperhatikan dulu ya, lain hal denganku. Aku memperhatikan fragmen-fragmen dari satu artikel yang bener-bener kubutuhin aja. Dan biasanya aku nulis artikel dulu, baru nyari info di internet sesuai kebutuhan. Cara ini lebih gampang, tapi rentan juga karena bisa aja ada info tambahan yang mengklarifikasi atau membantah info yang kudapet.

Nah, ini salah satu artikel hasil riset yang kurang bener. Jujur, ya? Iya, harus jujur kalau mau berkembang. Waktu nunjukin artikel ini ke temen-temen penulis, aku habis dicaci-maki karena infonya simpang-siur. Lah, tapi disuruh komen di blog ini kagak mau juga. Huh! (Coba kalau ada fitur mention, udah aku mention satu-satu tuh orang-orang hahaha) Silakan baca artikelnya di sini : Perkembangan Film Animasi 3D di Indonesia

Jangan tiru aku, deh! 😀

2. Hati-hati dengan Topik Artikel

Pernah lihat nggak, beberapa artikel dengan topik yang sama, paling beda-beda dikit. Selama riset artikel, aku banyak nemuin hal begini. Kadang-kadang, malah keliatannya, satu blog mencomot dari blog lain. Inilah ruginya dunia dengan arus informasi yang terlalu mudah. Plagiarisme jadi makin gampang.

Nah, bayangin kalau topik yang mau kita tulis sama dengan topik yang udah ada? Rasanya gimana gitu, deh. Kalau referensi diambil dari artikel itu, berasa plagiat, walaupun beda bahasanya. Apalagi, ini jadi menyalahi prinsip berita, yaitu unik. Artikel ini sama aja kayak laporan khas di berita, jadi prinsip-prinsip keberitaan harusnya tetep berlaku untuk artikel.

Sayangnya, dengan banyaknya orang berlomba-lomba buat naikin trafik webnya, akhirnya banyak banget yang nulis artikel-artikel, jadi makin banyak deh kompetitornya. Nasib…

Di lain pihak, ada bagusnya. Kalau kita butuh bahan buat artikel, ya comot aja dari artikel itu. Yang pasti, tetep harus cari sumber artikel yang tepat. Soalnya banyak blog-blog ngasal di internet. Ya, inilah salah satunya. Blog pribadiku ini.

3. Siap-siap dengan Kemampuan Bahasa Inggris

Kenapa Bahasa Inggris doang? Karena aku bisanya itu haha. Dan lagi, Bahasa Inggris emang udah sangat umum, karena dia bahasa internasional, penghubung antar etnik-etnik dunia dengan beragam bahasa. Trus, apa hubungannya dengan nulis artikel?

Karena, walaupun arus informasi di internet ini sangat cepat dan banyak, ternyata tetep terbatas. Kalau hanya bertumpu pada artikel berbahasa Indonesia, kadang kita susah dapet informasi yang mendalam. Sebagian memang ada yang tersedia lengkap, tapi ada juga yang susah banget dicari. Dan ternyata, ini bisa ketutup dengan nyari sumber-sumber dari luar.

Pastinya, juga wajib paham perbedaan budayanya. Jadi, kalau kita ambil sumber dari Bahasa Inggris, bisa jadi beberapa info nggak cocok dengan kondisi di negeri kita. Harus punya banyak pertimbangan, deh.

Coba baca artikel hasil kerjaanku di sribulancer, nih : How to Treat Scabies in Rabbits. Di sini ada yang namanya NEEM oil. Aku nggak pernah denger sama sekali tentang minyak itu, tapi di sumber berbahasa inggris, emang banyak penggunaan neem oil ini. Untungnya, ini artikel juga berbahasa inggris, jadi nggak perlu banyak perubahan. Kalau ini buat artikel bahasa Indonesia, ya nggak mungkin dijadikan pegangan, kan.

Mungkin lebih bagus lagi kalau kita punya kemampuan bahasa lain, kayak Jerman, Jepang, Cina, dkk, lebih lengkap lagi sumber yang bisa kita dapat. Tapi, ya gitu, deh. Kemampuan bahasaku terbatas.

4. SEO dan Keterbatasan Penulis

Yang namanya nulis itu sama aja kayak melukis. Alih-alih cat yang berwarna-warni, kita menggunakan bahasa dengan nuansa emosi yang berbeda-beda, lalu menggabungkannya seperti menggabungkan warna dalam lukisan. Sekarang ini, karena banyaknya kompetisi antar web, akhirnya orang lebih milih jalan praktis buat naikin trafik di blog/webnya.

Salah satunya itu dengan penggunaan SEO. Penulisan artikel untuk web sekarang lebih banyak mengikuti kaidah-kaidah SEO, karena emang SEO ini adalah cara untuk mengoptimasi pencarian kata kunci yang kita pake di artikel kita. Intinya, cara biar web/blog kita langsung jadi yang teratas begitu ada orang ngetik kata kunci tertentu.

Sayangnya, ini membatasi ekspresi penulis dalam mencampurkan kata-kata dan mencampurkannya untuk menjadi lukisan besar yang indah. Biasanya, artikel SEO itu emang lebih menuntut kata-kata yang mudah dan umum digunakan. Ah, kanvas itu jadi buku bergambar anak-anak, dengan garis-garis pembatas yang kaku.

Apalagi, ya? Aku rasa sekian sampai di sini, karena aku lagi ada urusan lain (alias belanja hihihi…)

Bhasmī Bhūta

“Jadi?” Setelah beberapa lama mereka meneliti buku itu, Sekar mengamati reaksi Arya. Pemuda itu tampak kebingungan, lebih banyak membolak-balik kumpulan kertas dengan warna yang mulai kecokelatan karena termakan usia itu.

“Di sini disebutin kalo lepasnya ruh dari tubuh manusia hanya disebabkan dua hal, yaitu kematian dan tidur. Maka, beberapa pendapat menyatakan bahwa tidur adalah suatu kondisi mati suri yang sifatnya hanya sementara. Sementara kita tidur, ruh kita bisa saja melayang di tempat lain…” Arya mengingat-ngingat. Sekar hanya bisa menunggu.

“Waktu itu gue ngerasa justru ruh gue keambil, trus pingsan.”

“Ya, cocok,” sela Sekar. Arya menghentikan omongannya.

“Trus gue tiba-tiba ada di tempat yang lain, tapi gue sadar. Berarti ruh gue balik, kan?” Dia menoleh meminta pendapat Sekar. Gadis itu mengangguk ragu, tidak yakin akan arah pembicaraan Arya. “Tapi, gak sepenuhnya. Apa mungkin ruh baliknya gak utuh?”

“Bentar, bentar.” Sekar menghentikan Arya dan asumsinya, lalu membolak-balik buku itu. “Di sini ada definisi ruh, kan? Lihat, Sebagian ulama berpendapat bahwa ruh adalah suatu benda serupa gelombang cahaya yang sifat intinya sangat halus. Ruh tidak dapat terpisah atau terkoyak, dan tidak pula terangkum dalam dimensi panjang atau lebar.

Arya mendesah, “Trus? Kenapa gue bisa beda kalau ruh gue kembali baik-baik aja?”

“Gini,” sela Sekar, memejamkan mata. Otaknya berputar keras. “Anggep ruh itu yang mengaktifkan badan. Kalo gak ada ruh, otot kita gak kerja, jantung kita gak berdetak, kita sama aja mati, sekalipun organ-organ tubuh kita masih bagus. Otak juga diaktivasi oleh ruh, kan? Gimana kalo ruh dan jasad itu bisa bersatu dengan baik kalo sebenernya ada sinkronisasi antara mereka?” jelas Sekar, mengangkat alis ke arah Arya.

“Oke,” angguk Arya, semakin tertarik.

“Nah, gimana kalo mungkin ada sesuatu yang bikin sinkronisasi antara ruh dan badan lo itu ilang. Kalo di dunia medis, jelas namanya penyakit fisiologis. Nah, gimana kalo penyakit lo ini sifatnya lebih gaib?”

“Maksudnya?”

“Gimana kalo lo disantet? Jadi, ruh sama badan lo itu jadi gak sinkron karena dihalangin oleh kekuatan itu.”

“Hah? Serius lo?! Zaman sekarang emang masih ada maenan kayak gitu?”

“Ya ampun, baca berita, dong. Itu orang yang tubuhnya keluar kawat atau paku gimana tuh, ceritanya?”

“Tapi, tubuh gue baik-baik aja.”

“Mungkin santet itu gak nyerang fisik lo, mungkin nyerang ruh lo. Mungkin yang sakit itu ruh lo.”

“Kayaknya interpretasi lo lumayan gila.”

“Iya, sih,” sahut Sekar, menghela nafas. “Tapi, gak ada salahnya nyari tau soal itu, kan?”

Arya mengedikkan bahu dengan wajah putus asa. Kalau dia harus mencari tahu segala tentang dunia ruh ini, jelas akan memakan waktu yang lama. Rasanya terlalu abstrak. Sesuatu yang tidak terikat dengan materi di atas bumi pastilah jauh lebih sulit untuk diraba, baik dengan tangan maupun dengan pikiran.

“Mending cari di internet, deh,” keluh Sekar tiba-tiba. Dia mengamati rak-rak yang berderet kaku dan bisu. Seolah sedang menantang manusia untuk beradu diam dengannya. “Gimana kalo lanjut di kontrakan gue? Deket sini, kok.”

…..bersambung…..

Nasib Studio Musik di Era Digital

Keberadaan banyak aplikasi pembuat musik dan/atau music editor memberi keuntungan bagi musisi-musisi baru. Dengan modal yang jauh lebih rendah mereka dapat membuat musik mereka sendiri. Bahkan, tidak perlu lagi menyewa studio musik maupun audio engineer. Ini merupakan tantangan baru bagi usaha studio musik di era digital.

Tak pelak lagi, memang era digital mengubah banyak hal. Usaha yang menyediakan produk fisik mulai tergerus oleh aplikasi-aplikasi di berbagai bidang. Misalnya saja, toko penjual album yang sekarang mulai gulung tikar. Keberadaan mereka digantikan oleh aplikasi-aplikasi penyedia musik seperti spotify. Layanan premiumnya pun jauh lebih murah daripada album fisik dengan kesediaan musik yang tak terbatas.

Studio musik juga mengalami tantangan yang sama. Karena sewanya yang tergolong mahal, studio musik mengalami penurunan pelanggan. Beberapa usaha penyewaan studio musik bahkan sudah menyerah di tengah kompetisi yang ketat.

Inovasi bagi Studio Musik

Studio musik, bagaimanapun, memiliki komponen-komponen yang tidak dimiliki oleh aplikasi manapun juga. Termasuk, rasa dan karsa manusianya sendiri. Maka, pihak-pihak yang terlibat dalam produksi audio dalam studio musik dapat memberikan kreasi dan inovasi lebih luas daripada mesin apapun.

Menciptakan Jenis Musik Baru

Musik adalah seni. Sebagaimana seni yang lain, ia dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, studio musik dengan komponen manusia yang tidak tergantikan dapat menciptakan musik baru. Seperti halnya lukisan, suara-suara yang ada di sekitar kita bisa dicampuradukkan menjadi satu jenis suara baru. Yang kemudian bisa menghasilkan musik baru.

Franchise bagi Home Recording Studio

Hal yang marak terjadi sekarang ini adalah bisnis seminar dan pelatihan-pelatihan di segala bidang. Studio rekaman musik juga bisa menjadikan fenomena ini sebagai inovasi dalam bisnis yang mulai meredup. Studio musik bisa mengadakan pelatihan bagi orang-orang yang tertarik untuk berbisnis dalam bidang perekaman suara. Nantinya, orang-orang yang diberikan pelatihan dapat diberikan penawaran bisnis berupa franchise.

Memberikan Pelayanan Tambahan dalam Bidang Musik

Allen Sides dalam entrepreneur.com tidak hanya membangun studio rekaman musik, tetapi juga mengumpulkan berbagai alat musik berkualitas tinggi. Alat-alat yang tergolong jarang ditemukan ini kemudian disewakan kepada para musisi. Selain itu, ia juga memberikan pelayanan berupa perbaikan alat-alat musik dan perlengkapannya. Tidak hanya itu, ia bahkan membangun high-end speaker secara costum. Bayangkan kalau speaker ini memberikan keunikan yang tidak dimiliki produk lainnya, ini tentu akan semakin menguntungkan bisnisnya.

Studio musik memang masih memegang peranan penting dalam dunia musik. Namun, persiapan tetap harus dilakukan seiring dengan berkembangnya teknologi. Bahkan, kini telah ada produk LANDR yang menggunakan algoritma rumit yang mampu menggantikan peran sound engineer. Algoritma dalam LANDR dibangun dengan cara menganalisa ribuan lagu-lagu, yang kemudian dijadikan data yang akan memberikan layanan mixing suara yang lebih baik. Semacam Artificial Intelligence dalam dunia musik.

Maka dari itu, pelaku-pelaku musik sekarang ini sama sekali tidak boleh lengah. Kalau tidak, era digital bisa menggerus usaha manusia, yang digantikan oleh mesin.

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini : SAE : Sekolah Media Kreatif.

Apakah Efek Praktikal Masih Diperlukan pada Era Film Digital?

Seperti yang kita tahu, film-film spektakuler banyak memakai efek komputer atau CGI dalam pembuatannya. Kita harus bersyukur pada era digital yang membuat adegan-adegan laga dalam film terkesan lebih hidup. Pembuatan film secara digital menjadikan semua serasa mungkin. Ini mendatangkan pertanyaan, “apakah efek praktikal masih diperlukan pada era film digital?”

Apa itu Efek Praktikal dalam Film?

Efek praktikal adalah efek kamera yang tidak menggunakan teknik komputerisasi dalam pembuatannya. Sebaliknya, ia memanfaatkan teknik-teknik manual yang juga mengagumkan. Misalkan saja, bagaimana film Lord of the Rings memanfaatkan teknik ilusi optik untuk saat hobbit terlihat jauh lebih pendek saat berhadapan dengan penyihir? Tidak ada efek komputer di adegan tersebut, melainkan hanya permainan sudut pandang. Dengan mengubah jarak pengambilan gambar antara satu pemain dengan pemain lainnya, maka terciptalah ilusi optik yang membuat hobbit jadi terlihat sangat pendek.

Dengan teknologi film digital, mungkin membuat ilusi optik ini jadi lebih mudah. Yang perlu dilakukan adalah menambahkan efek CGI dan jadilah adegan-adegan “janggal” yang terasa nyata. Sayangnya, teknik ini membutuhkan keahlian komputerisasi yang tinggi. Sedikit saja terjadi penyimpangan dalam penggunaan teknik CGI, adegan dalam film bisa lebih aneh daripada teknik praktikal.

Keuntungan Efek Praktikal

Keuntungan efek praktikal sendiri adalah lebih mudah untuk mengatur agar adegan terlihat lebih riil. Nyatanya, beberapa sutradara masih menggunakan efek praktikal ini. Contohnya adalah Christopher Nolan. Kita tentu ingat film spektakuler yang masih membekas di benak orang hingga saat ini, Dark Knight Trilogy?

Kita juga tentu ingat bagaimana adegan Batman mengejar Joker sepanjang jalan Gotham City. Seringkali terjadi tabrakan dan ledakan pada saat itu, yang terlihat sangat nyata. Mudah sekali bagi kita menganggap kalau adegan itu dibantu oleh teknik CGI. Lagipula, siapa yang rela menghancurkan mobil-mobil dan truk begitu saja?

Namun, adegan itu justru menggunakan efek praktikal. Nolan memilih untuk membangun miniatur dari setiap kendaraan yang terlibat dan menggunakannya dalam adegan tersebut. Hal ini adalah salah satu contoh efek praktikal yang digunakan dalam film.

Keuntungan lain dari efek praktikal adalah emosi yang dihasilkan akan lebih terasa. Biasanya, efek praktikal menggunakan kostum buatan yang akan dikenakan pemain. Akting dari pemain tersebut akan membuat emosi dari efek itu terasa lebih hidup. Ia tidak nyata, tapi juga nyata.

Sekalipun tidak berupa kostum, melainkan hanya model yang digerakkan oleh remote atau semacamnya, gerakan yang dihasilkan biasanya akan lebih bebas dan tetap terlihat lebih nyata daripada efek CGI.

Apakah itu artinya efek praktikal lebih baik dari efek CGI? Tentu saja tidak. Teknologi CGI tetap diperlukan untuk memperkaya adegan dan “menghaluskan” efek-efek dalam film. Sedangkan, efek praktikal akan membawa emosi yang lebih kaya dalam film. Tentu gabungan keduanya akan membuat film jadi jauh lebih sempurna, bukan?

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini : SAE : Sekolah Media Kreatif.

Peran Digital Imaging dalam Bisnis UKM

Beberapa tahun yang lalu, apa yang kita pikirkan saat mendengar istilah digital image? Tentunya, kita akan otomatis memikirkan tentang perangkat-perangkat canggih juga studio yang besar? Sekarang, istilah tersebut sudah sangat dekat dan familiar. Bahkan, kita sudah biasa menggunakannya sehari-hari. Termasuk, para pelaku usaha UKM. Begitu banyak peran digital imaging dalam bisnis UKM saat ini.

Kalau dulu, bisnis UKM lekat dengan istilah “usaha rumahan,” sekarang kita lebih banyak menyebutnya bisnis online. Dengan berkembangnya era digital, tidak heran kalau banyak yang memanfaatkan kepraktisan dan arus informasi teknologi yang sangat cepat.

Dengan maraknya media sosial yang beragam jenis, kesempatan bagi bisnis UKM semakin terbuka. Terbukti dengan banyaknya toko-toko online yang bermunculan di media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Media sosial dengan mudah menghubungkan antara penjual dan pembeli, hanya dengan akses internet.

 

(Baca selengkapnya tentang : Tips Ngasal Blogger Pemula)

Perkembangan Digital Imaging

Kecepatan arus informasi teknologi ini membuat perusahaan-perusahaan berbasis IT semakin kompetitif. Peningkatan kompetisi ini membuat perusahaan-perusahaan tersebut banyak mengembangkan aplikasi dan fitur-fitur mobile yang semakin menarik. Terutama, dalam bidang digital image.

Sudah tidak terhitung banyaknya aplikasi yang menggunakan teknologi digital image. Sekarang, mengambil foto yang indah dan menarik sudah terbilang sangat mudah dengan peningkatan kualitas dan resolusi pada kamera telepon selular. Apalagi, aplikasi untuk editor foto yang menjamur mampu menyempurnakan foto tersebut.

Kesempatan ini pun dimanfaatkan oleh pelaku bisnis UKM untuk mengambil foto-foto produk yang menarik hati. Istilah yang tren sekarang adalah foto yang “instagramable,” yang mengacu pada foto produk yang berkualitas tinggi.

Memanfaatkan Digital Imaging

Untuk menjadi pemain dalam bisnis online, keahlian dasar dalam digital imaging sangat diperlukan saat ini. Tidak ada salahnya untuk mencari aplikasi-aplikasi mobile untuk meningkatkan kualitas foto produk. Aplikasi ini akan mudah untuk digunakan di mana saja dan kapan saja diperlukan. Namun, tidak cukup dengan mengunduh aplikasi ini dan menaruh di smartphone kita. Yang harus kita lakukan adalah menguasai teknik editing foto agar gambar yang sudah kita ambil jadi jauh lebih menarik.

Tidak hanya praktis, aplikasi ini juga jauh lebih meminimalisir biaya yang dikeluarkan. Foto produk yang diambil secara profesional biasanya akan menggunakan studio yang berbekal pencahayaan lampu khusus dari berbagai sudut. Dengan resolusi pada smartphone dan aplikasi photo editor, kita tidak perlu mengeluarkan biaya untuk semua itu.

Yang perlu diingat adalah pemahaman tentang berbagai aplikasi mobile sangat mendukung dalam pemilihan aplikasi. Kita perlu tahu fitur-fitur yang ditawarkan oleh aplikasi tersebut, supaya kita dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan bisnis. Beberapa aplikasi mobile yang cocok untuk foto produk adalah:

  1. Photoshop Express,
  2. TouchRetouch,
  3.  Autodesk Pixlr,
  4.  Camera+,
  5. Procamera8  HDR
  6. VSCO Cam

Beberapa adalah aplikasi berbayar dan adapula aplikasi yang gratis. Tentu saja, aplikasi yang berbayar akan memberikan fitur yang jauh lebih banyak dan lebih lengkap. Namun, apabila aplikasi yang gratis sudah cukup mendukung foto produk kita, menggunakannya tentu akan lebih menguntungkan.

Teknik Pengambilan Foto Produk

Menggunakan aplikasi kamera dan photo editor memang mempermudah hidup kita. Namun, hal itu saja tidak cukup. Kita harus ingat bahwa semua kemudahan itu berlaku untuk banyak orang, sehingga bisnis UKM akan menjadi sangat kompetitif. Maka, kita juga membutuhkan pengetahuan tentang teknik pengambilan foto produk.

  1. Memahami produk dan kelebihan yang ingin ditampilkan.
  2. Menentukan konsep foto yang akan diambil.
  3. Menggunakan studio mini yang didukung dengan lighting buatan.
  4. Menggunakan beberapa angle dari produk.
  5. Hindari zoom in pada kamera ponsel.
  6. Lebih baik menggunakan lighting buatan daripada flash kamera ponsel.
  7. Buat sesederhana mungkin dengan latar belakang yang mendukung warna produk.

Begitu kita memahami proses digital imaging yang sederhana lewat ponsel kita, kita siap untuk terjun ke arena kompetisi bisnis UKM. Hal ini akan jadi senjata yang kuat, selain pemahaman tentang cara kerja media sosial itu sendiri.

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini : SAE : Sekolah Media Kreatif.

Tips Membuat High Quality Audio untuk Film Indie

Film indie di Indonesia semakin tegas menemukan jalannya. Sudah banyak film indie produksi anak-anak bangsa yang meraih penghargaan, sebut saja Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, Istirahatlah Kata-kata, dan lain-lain. Memahami cara membuat high quality audio untuk film Indie jadi penting apabila kita juga ingin berkontribusi dalam dunia film indie.

 

(Baca lebih lanjut resensi film di sini : “Easy A”)

 

Berikut ini adalah beberapa tips untuk membuat high quality audio untuk film indie yang sering berbudget rendah :

 

1. Dual System Audio

Singkatnya, dual sistem ini adalah audio yang direkam dengan peralatan yang berbeda dari kamera yang merekam gambar. Kelebihan dari dual system audio ini adalah kita bisa mengatur tingkat kualitas audio, seperti sampling rate dan bit depth yang lebih tinggi. Ditambah lagi, merekam audio dari kamera dengan sistem single audio justru kurang praktis karena kita akan membawa-bawa kabel sepanjang proses perekaman. Dual system audio juga dapat membuat audio yang dihasilkan tetap berkualitas walaupun dengan peralatan syuting seadanya.

 

2. Jenis-jenis Peralatan yang Digunakan

Alat-alat yang digunakan dalam merekam audio untuk film sangat menentukan kualitas suara. Misalkan saja, kabel audio yang akan mengirimkan sinyal dari mikropon ke preamplifier. Kabel yang sering digunakan profesional adalah kabel XLR, yang mempunyai input balanced dengan adanya konfigurasi 3 pin pada audio jack-nya. Mikrofon tentu saja faktor penting untuk pembuatan film. Mikropon yang paling sesuai adalah boom mic yang bisa ditempatkan dengan fleksibel untuk memastikan suara bisa jelas terekam. Untuk meringankan budget yang dikeluarkan, peralatan ini bisa disewa. Yang harus diperhatikan, jenis peralatan yang digunakan tetap harus memenuhi standar agar menghasilkan kualitas suara yang baik.

 

 3. Merekam Room Tone

Room tone adalah rekaman suara latar belakang tempat lokasi syuting film tanpa diikuti oleh suara dialog atau adegan-adegan lainnya. Hal ini sangat berguna dalam pasca produksi suara di mana editor suara bisa menggunakan latar belakang suara yang lebih tepat untuk satu dialog, bahkan bisa digunakan sebagai tambahan efek suara.

 

 4. Bekerja sama dengan Operator Boom dan Sound Recordist

Kedua kru ini sangat vital dalam merekam suara yang berkualitas. Mungkin sekilas tugas operator boom hanya memindah-mindahkan boom mic, tetapi penempatan mikropon itu sendiri sangat penting dalam menentukan kualitas suara. Untuk film Indie yang berbudget rendah, tentu merekrut keduanya bisa jadi beban. Maka, carilah sound recordist yang profesional yang biasanya juga memahami cara kerja operator boom mikrofon.

 

 5. Memahami Lokasi Syuting

Mempersiapkan diri untuk survei lokasi yang akan dipakai untuk syuting juga penting dalam menentukan kualitas audio yang baik. Kita harus memperhatikan suara-suara yang biasa muncul dalam lokasi tersebut, sehingga bisa meminimalisir gangguan audio pada proses perekaman suara.

 

6. Menggunakan Slate atau Clapperboard

Kelihatan remeh, memang, tetapi ternyata penggunaan slate atau clapperboard cukup penting untuk memisahkan adegan demi adegan. Dengan adanya suara pemisah antar adegan ini, maka akan mudah untuk mengedit suara pada proses pasca produksi nantinya. Misalnya saja, untuk melakukan looping atau lipsync agar dialog yang kurang baik dapat diperbaiki.

 

7. Memastikan Operator Boom Menonton Latihan Syuting

Sekalipun, dalam pengeditan suara, editor bisa melakukan looping, kualitas suara yang dihasilkan jelas berbeda daripada perekaman awal. Maka, mempersiapkan operator boom akan meminimalisir kesalahan penemapatan boom mikrofon pada pengambilan suara.

Tentu saja, yang paling penting adalah kesabaran dalam merekam suara pada syuting film. Ketidaksabaran hanya akan membuat kualitas suara lebih buruk, padahal suara adalah aspek penting dalam menikmati film. Bahkan, sutradara besar Steven Spielberg menyatakan bahwa “Sound is half of the picture.” Begitulah, suara sangat menentukan bagaimana film bisa dinikmati.

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini : SAE Indonesia : Sekolah Media Kreatif.

antara maya dan nyata