Category Archives: Fiction

It’s not unreal, it’s surreal

Bhasmī Bhūta

Kamera beralih ke reporter yang menyatakan keraguannya akan kesaksian anak muda tersebut. Bagaimanapun, polisi telah meninjau lokasi dan terbukti dia bukan si pengemudi. Kamera sekarang menyorot salah satu petugas polisi yang datang meninjau lokasi kecelakaan. Gadis itu mengedikkan bahu tak tertarik, lalu melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk membuat kopi, santapan pagi harinya.

Menyeruput kopinya, dia menatap lukisan kelabu yang berada di studio kecilnya yang sebenarnya berstatus gudang yang disulap oleh Sekar. Dia adalah penganut realis, mengagumi pola gerakan manusia, membekukannya dalam lukisan. Maka, dirinya sendiri menganggap cukup aneh apabila tiba-tiba saja dia tertarik untuk menggali tentang aliran romantisisme. Apakah dia jenuh dengan lukisan dengan tema yang sama, entahlah. Sketsa kasar itu baru selesai dibuatnya dari pensil. Suasananya muram, suram. Angker, pun sepi. Entah apa yang merasuki dirinya kali ini, melukis sesuatu yang tidak biasanya ia lukis. Dia menghela nafas. Lukisan ini apakah juga akan gagal? Setidaknya, di mata dosennya yang terlalu selektif itu?

 

“Sekar. Lukisan lu itu seringkali tidak berjiwa. Gak ada luapan emosi di dalamnya. Coba lebih berani menghidupkan warna-warna di dalamnya, coba eksplorasi tema lukisan lo lebih dalam.”

Sekar menunduk, tidak memercayai pendengarannya sendiri. Sedari pagi dia telah mengagumi hasil karyanya sendiri. Dia puas. Ya, dia teramat puas, menganggap lukisan itu adalah masterpiecenya. Namun, ternyata dosennya yang berpengalaman puluhan tahun menganggap karyanya itu tidak seberapa.

“Gue denger lu mau ngadain pameran?”

“Lagi coba bicara sama sponsornya, Pak.” Sekar menahan diri untuk tidak menghela nafas penat di hadapan dosennya. Kelemahan hanya memicu semangat pria berambut putih berekor kuda itu untuk menyepak Sekar ke jurang keputusasaan lebih jauh.

“Lu belom siap! Gini, gua jujur udah bosen ngomong berulang-ulang sama lu. Eksplorasi, coba, gali terus potensi lu. Jangan terpaku pada bentuk yang udah ada. Jangan terpaku pada minat lu aja, itu artinya membatasi diri. Gua bisa ngerasain ketakutan di lukisan lu. Takut keluar dari kotak lu itu. Pokoknya, jangan temui gua lagi kalo lukisan lu belom bener-bener bebas dari ketakutan dan batasan-batasan itu!”

Sampai kapan? Bagaimana dia bisa tahu bahwa lukisannya telah menampilkan warna yang berbeda, yang lebih berani? Sejauh ini, dia selalu menggunakan berbagai macam warna, tidak terfokus pada satu warna. Maka, dia sama sekali tidak memahami pola pikir dosennya yang menganggap warna yang digunakannya tidak meluapkan emosi jiwanya? Sekar menunduk, menghela nafas. Tangannya yang memegang kuas bergetar. Jari-jemarinya terlalu kotor oleh campuran warna cat-cat yang selalu singgah, begitu cepat, tapi begitu enggan untuk pergi. Lukisan ini. Apakah dia sedang mencoba bereksplorasi? Tiba-tiba perasaan ragu menyelimutinya kembali. Akankah dia menyelesaikan lukisan yang tidak sesuai dengan gayanya ini?

Kuasnya lalu bergerak, memilih cat akrilik warna hijau tua, mencampurnya dengan warna hijau muda sedikit, juga sedikit warna cokelat muda. Dia terus mencampur hingga tercipta satu warna hijau lumut yang sempurna. Dia menggoreskan kuas berujung lebar, menciptakan warna latar belakang untuk lukisannya.

“Kar!”

Sekar tersentak saat seorang wanita yang kurang-lebih berusia sebaya dengannya telah muncul di depan pintu studionya yang terbuka. Wanita itu berkulit mulus, tiada satu tahi lalat pun yang menyambangi kulitnya, membuatnya bagai pualam berwarna mutiara. Kecantikannya selalu membuat gelisah para pria, keanggunannya melumatkan hati kaum Adam. Tinggallah kaum Hawa mengimpi dan mengiri padanya.

“Bano? Kok lo di sini?”

“Kok pintu lo biarin kebuka gitu aja, sih?”

“Ya, emang kenapa? Gak ada juga peralatan yang bisa dicuri di sini.”

Wanita muda yang baru saja berbicara melalui ponsel dengannya itu, bergerak mendekat. Sambil tetap berdiri, dia memperhatikan sketsa yang kini telah dihiasi sapuan kasar hijau lumut. “Lo tumben bikin lukisan suram gini?”

“Iya, gue pake satu tone warna, hijau, semua didominasi warna hijau, bahkan langitnya memantulkan warna hijau itu, nanti paling gue maenin gradasinya. Kali ini gue mau coba romantisisme, kayak Raden Saleh. Gimana menurut lo?” Gadis itu mengangkat alisnya dengan mata bersinar antusias. Temannya yang ditanyai hanya mengangkat bahu.

Jari lentik berkuku panjang terawat itu terangkat, hampir menyentuh permukaan kanvas, mengikuti garis sketsa yang belum tersentuh cat. Matanya menerawang, mungkin membayangkan pemandangan itu terpampang memenuhi pandangnya.

“Hebat. Ada kekuatan magis di dalamnya,” sahutnya dengan nada misterius. Sekar mendengus geli, ketidakpercayaan mewarnai matanya yang mengejek.

“Apaan sih, lo!” tukasnya. Dia kembali menjawil campuran cat yang menempel di palet dengan ujung kuasnya itu.

“Lho? Kok lo gak percaya, sih?” Dia berkacak pinggang, menonjolkan lekuk dadanya yang menjulang sempurna. Sekar menatap wanita yang kini berdiri di sampingnya itu. Bagi Sekar, dia adalah wanita sempurna. Sosok tubuhnya, kecantikannya, struktur tulang, hingga…pikiran itu terhenti. Dia tidak berminat membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan wanita lain, terutama temannya sendiri. Layaknya masing-masing karya memiliki jiwanya sendiri, kecantikan pun punya keunikannya sendiri.

“Ceritanya ini adalah sebuah sumur di antara semak belukar yang indah. Sendirian, berteman dengan makhluk-makhluk tak bernama, tak berwujud…”

 

…bersambung…

Advertisements

Bhasmī Bhūta

“Hhhhh!” Dada Sekar tertarik ke atas, begitu sulit dia mengambil nafas kehidupannya sendiri. Matanya terbeliak, menatap langit-langit kamarnya yang diwarnai oleh rona biasan matahari yang menembusi kaca jendelanya.

Nafas gadis berkulit kecokelatan itu terengah-engah, dia sendiri tidak menyadari kenapa. Hanya saja, ada ketakutan teramat sangat, kepedihan yang tak terkatakan. Memenuhi sanubarinya, menyesakkan. Seakan dadanya telah terhimpit beban yang terlalu berat. Baru disadarinya, peluh telah membentuk sebuah noda kelabu besar pada permukaan alas kasurnya. Begitu basah, seakan cairan itu menetes dari setiap lubang pori-pori kulitnya sepanjang malam tiada henti. Tidak sekali ini pula.

Dia menggolekkan tubuhnya, hingga menjauhi area basah pada kasurnya itu. Mengingat-ingat apa yang dimimpikannya tadi malam, dia menutup matanya. Sekar masih tidak mampu mengingat sejengkal pun kisah dalam mimpinya. Namun, dia yakin ada beberapa orang pria dan seorang wanita. Apa yang mereka lakukan? Di mana?

Lamunannya bagaikan benang kusut, yang terpilin-pilin membentuk simpul mati. Sangat sulit untuk memunculkan gambaran mimpinya lagi. Akhirnya dia menyerah dan turun setengah hati dari kasurnya, lalu menghampiri jendela di ruang tamunya.

Dia mengamati bagaimana matahari pagi menyapa dengan malu-malu, mempersembahkan belai kasihnya kepada manusia yang dirundung berbagai masalah pagi itu. Beberapa tentulah mengumpat di tengah-tengah kerumunan sesamanya di angkutan umum. Beberapa berlari terseok-seok, menyadari dirinya telah terlambat untuk memenuhi komitmen yang telah dibuatnya dengan perusahaan tempatnya bekerja. Di antara semua itu, hanya Sekar yang dengan perlahan membuka jendela kamarnya, menyambut kehangatan yang ditawarkan sang dewa cahaya tersebut.

Jeritan lengking pelan menyadarkannya. Gadis berambut ikal itu terburu-buru berlari-lari kecil ke arah dapur. Dia mematikan kompor gas dan mengangkat teko kecil itu. Kopi yang diseduhnya menguarkan aroma harum semerbak, serta kehangatan uap yang mengepul-ngepul dari atas permukaannya.

Rumahnya itu kecil-mungil, tetapi begitu nyaman. Tempatnya tidak jauh dari pusat kota, yang berarti lokasi yang strategis, tetapi juga tidak ikut campur dalam kehirukpikukan kota metropolitan jakarta itu. Dari balik jendela, dia mengamati tetangganya yang berjalan terburu-buru. Ada pula yang berdaster dan berkain untuk menopang bobot anaknya sambil menimang-nimang, terus membujuk anaknya yang enggan untuk melahap sarapannya.

Dia meletakkan kopinya di atas meja pendek di ruang tamunya, lalu membuka pintunya lebar-lebar.

“Dita,” sapanya, lebih memanggil nama anaknya daripada ibunya. Entahlah, para ibu-ibu lebih suka disapa dengan nama anaknya ketimbang namanya sendiri.

“Tante Sekar,” balas si ibu yang rambutnya masih dihiasi rol-rol rambut yang bergelung-gelung, sambil menatap anaknya dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Sekar. Anak yang dipanggil hanya menoleh dengan tatapan kosong tak berminat, lalu kembali membuang muka ke arah lain.

“Itu ada tante Sekar,” sapa seorang ibu yang lain, dengan penampilan yang jauh berbeda. Ibu yang satu ini lebih suka berpakaian modis, dengan gaun terusan selutut yang mengikuti model terkini, dengan tatanan rambut sederhana, hanya diikat menyatu ke belakang. Dia sedang menemani anaknya yang baru saja belajar jalan, masih terseok-seok mengkhawatirkan.

“Tante Sekar kapan ngelukis aku?” tanya ibu itu dengan nada bermanis-manis, mencoba menirukan tingkah anak-anak. Sekar tertawa pelan.

“Ayooo, Sintanya bisa diem bentar, gak?” balas Sekar dengan nada yang kurang-lebih sama.

“Walah, mana bisa tante…” Tak tahulah, mengapa mereka selalu menerjemahkan dengan sembarangan apa yang ada di pikiran si anak. “Ya udah deh, nanti ya, kalo Sinta udah gedean dikit. Udah bisa disuruh diem.” Wanita itu terkekeh geli, entah apa yang lucu. Sekar hanya tersenyum. Selalu saja seperti ini setiap hari, para ibu yang menemani anaknya berjalan-jalan atau menyuapi atau mengantar anaknya ke sekolah. Namun, justru pemandangan inilah yang selalu membangkitkan inspirasinya dalam melukis. Sederhana, realistis, namun memberikan kesan yang mendalam.

Gadis berparas manis ini telah beberapa tahun menjalani hidupnya sebagai pelukis selepas dia menjalani upacara wisuda dari akademi seninya. Dia memilih untuk melukis lepas seperti ini, sambil berharap suatu hari dia dapat memperoleh koneksi pada sponsor pameran lukisannya sendiri. Rasa-rasanya impian itu makin menjauh. Sekar menghela nafas.

Sebelum meneruskan rutinitasnya, dia memutuskan untuk menyetel televisi berukuran 14 inch itu. Tayangan infomersial menyerbunya dengan berbagai berita tentang perceraian dan perseteruan antar aktris Indonesia. Ah, kayak gak ada acara yang lebih bagus aja! tukasnya dalam hati sambil mengganti salurannya.

“Sebuah mobil telah menabrak tiga orang di kawasan Sarinah pada pukul 02.45 pagi tadi…” Sekar mengernyitkan dahi, menaikkan volume suaranya. Para wartawan mengelilingi lokasi kejadian yang masih dipenuhi dengan pecahan kaca mobil. Mobil yang dianggap bersalah pun masih tergeletak dalam keadaan miring dengan sejumlah penyok di body­-nya. Sekar menyeringai jijik, terutama saat diberitakan bahwa pengemudinya dalam kondisi mabuk berat.

“Umur 19 tahun?!” bisik Sekar terperangah. Baginya yang telah mencapai usia ke-23, rasanya mereka masih anak-anak. Dan hidup mereka akan berubah haluan karena sebotol minuman yang tak berdaya. Sekar sama sekali tidak menyukai minuman pahit itu, walaupun dia telah mencobanya beberapa kali.

Seorang pemuda yang tampaknya terlibat, diwawancara di kantor polisi. Wajahnya bahkan tidak disamarkan. Dia menjawab dengan sengit,

“Saya gak tau. Saya sama sekali gak minum dan gak ikut mereka. Saya inget jam 12 lewat saya udah keluar dari diskotik. Gak nyentuh minuman sama sekali,” tegasnya kesal. Menjawab rentetan pertanyaan dari wartawan, dia hanya mendesah, “abis itu saya gak inget apa-apa lagi. Yang saya tau, saya udah di lokasi kecelakaan pagi ini.”

Gadis itu mengernyit mendengar kesaksian yang aneh itu. Yah, mungkin sekali kepalanya telah terbentur dan dia melupakan sebagian ingatannya tentang malam itu. Atau mungkin memang dia mabuk hingga kehilangan kesadaran, tapi dia tidak mau mengakuinya. Memang masih tabu di Indonesia.

 

 

…bersambung…

 

(baca sebelumnya di sini : Bhasmī Bhūta)

Bhasmī Bhūta

BAB I

KECANTIKAN DINI HARI

Hingar-bingar musik dari Disc Jockey menghentak ke seluruh ruangan, menulikan telinga setiap pengunjung. Namun, mereka tak peduli dan menggerakkan tubuh seirama dengan musik techno yang disajikan. Seorang pemuda, membawa dua gelas beserta sebotol minuman keras, menyelinap di antara orang-orang yang berdansa hingga lupa diri. Seorang gadis tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya saat melihat pemuda itu mendekati mereka.

“Makasih, Arya…” Tanpa ragu, gadis berpakaian dress yang sangat minim itu mencium kedua pipinya. Dia sendiri sama sekali tidak terkejut, begitulah gaya hidup yang selama ini dijalaninya.

Pemuda bernama Arya itu menghampiri temannya yang berada di sisi lain. “Sob, gue pulang, ya!” Dia terpaksa menaikkan nada suaranya hingga ke oktaf tertinggi yang dia bisa agar temannya bisa mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya.

“Plis, deh! Masih sore!” Temannya itu balas berteriak. “Udah kita habisin ini dulu aja, deh!” serunya lagi, sambil mengangkat botol itu.

Arya menggeleng. “Gak bisa! Gue mesti nyetir!”

“Sama, kali!!!” Pemuda itu tertawa, entah apa yang lucu dengan kata-katanya. Arya langsung dapat menebak bahwa pemuda itu mabuk.

“Gila, lo!!! Parah! Udah, gue pulang, ya!”

“Yaaa, Arya!!!” kali ini gadis berpakaian minim itu yang berteriak memelas. Dia bergegas melompat ke arah Arya. Pemuda itu takjub dengan gerakannya yang gesit, mengingat hak sepatu yang dia pakai mungkin mencapai 10 cm. “Di sini dulu aja!!! Kita turun, yuk!”

Gadis itu kini menggamit lengan Arya, yang menghela nafas putus asa melihat kelakuan teman-temannya. Dia tersentak saat jari gadis itu telah menyusuri dadanya hingga ke perut bawahnya.

Nice try, Yola!” seru Arya mencibir. Gadis itu tak menjawab melainkan memandang Arya dengan tatapan menggoda dan mulai menggerakkan tubuhnya tanpa jarak dengan Arya. Pemuda itu terpana, ada sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya, hampir membuatnya tak sadar ingin merengkuh gadis itu ke pelukannya. Saat dia menatap balik gadis itu, dia tersentak.

“Udah, gue pergi!” Dia mendorong tubuh teman perempuannya itu dengan sedikit kasar. Sensasi memabukkan itu telah mempengaruhi sistem saraf pusatnya. Dia harus menolak dengan tegas, atau terjebak dalam permainan mereka.

Arya berbalik, kembali menyelinap di antara puluhan tubuh pria dan wanita yang hampir tidak berjeda. Namun, dia masih dapat mendengar sayup jeritan teman perempuannya itu dan seruan cemoohan dari teman lelakinya. Arya hanya dapat tersenyum sambil menggelengkan kepala.

God, she’s hot!” gumam Arya, sedikit menyesalkan kesempatan baik itu. Dia tersenyum menyapa pria berotot yang menjaga pintu diskotik itu. Angin malam menerpanya, dia bergidik. Biasanya Jakarta tidak sedingin itu, bahkan waktu malam. Dia langsung menyesali keputusannya untuk tidak membawa jaket. Telinganya rasanya langsung menuli begitu dia keluar bar. Senyap menyergapnya seketika, hanya ditingkahi deru mobil yang melesat menembus kepekatan malam.

Matanya kemudian tertumbuk pada satu sosok wanita bersanggul, yang juga menyadari kehadirannya. Dalam kegelapan kedua pasang mata itu bertemu. Arya merasa dia terikat oleh mata itu. Ada sesuatu tentang gadis itu yang membuat Arya melangkahkan kakinya, menjauh dari mobil. Dia begitu cantik, dengan kulit putih pucat yang begitu kontras dengan long coat selututnya. Gadis itu menggerakkan bibirnya, tapi jarak antara mereka membuat Arya tak dapat mendengar apapun.

Arya membelalakkan matanya, terkesiap saat tubuhnya terhentak ke belakang. Dia merasakan sesuatu ditarik keluar dari tubuhnya. Setelah itu, semua menjadi gelap.

 

…bersambung…

Bhasmī Bhūta

Sesuai dengan petunjuk dayang wanita itu, Kertajaya kembali ke wismanya sebelum Maghrib tiba. Dayang lelaki yang berjumlah lima orang itu tinggal empat saja yang menjagai wismanya.

“Kemana satu lagi?”

“Kurang tahu, Gusti Paduka,” jawab salah satunya. Kertajaya mendengus kesal, berniat akan menjatuhkan hukuman sekembalinya dayang yang tidak patuh itu.

“Baik, kita berangkat.” Hanya dengan berbekal kedua pasang kaki mereka, mereka berangkat menuju sumur tempat pemasungan tersebut. Kertajaya memilih jalan yang tersembunyi, bebas dari penglihatan pengawal kerajaan. Begitu ada pengawal lewat, mereka bersembunyi di belakang bangunan istana. Maghrib mulai tiba, Kertajaya memberikan isyarat untuk mempercepat langkah mereka. Mereka pun sampai ke sumur tersebut.

Baru saja Kertajaya mendekat, sebuah tombak panjang telah terhunus di depan dadanya. Seorang pengawal menghalangi geraknya. “Kau!” raung Kertajaya murka. “Beraninya kau!”

“Atas perintahku!” sahut sebuah suara yang berat. Suara yang sangat dikenalnya. Ayahandanya telah keluar dari balik kegelapan pepohonan yang rimbun. Menatapnya dingin. Dia menghaturkan sembah.

“Ayahanda!” sahutnya, terkejut. Bagaimana ayahnya bisa mengetahui rencananya?

“Apa yang kau lakukan di sini?!”

“Kenapa ayahanda ada di sini?” sahut pria itu dengan waspada. “Dayang itu!?” seru Kertajaya menyadari ketidakhadirannya adalah petaka bagi mereka.

“Ya! Dia adalah mata-mataku! Tak suka kau?!” bentak Dharmawongso II dengan suara menggelegar.

“Ampun, Ayahanda!”

“Aku sudah duga kau akan melakukan ini. Kau mengecewakanku!!! Balik kau!!!”

“Tolonglah, ayahanda! Dia kakandaku dan ibundaku yang menimangku semasa kecil!” mohon Kertajaya mengembik di bawah kaki ayahandanya.

“Kembali ke wismamu!” sahutnya tegas. “Aku ampuni kau sekali ini! Tapi, sekali lagi kau coba dekati mereka, aku tidak akan segan memenggalmu! Kau tahu, pengawal jauh lebih memercayaiku dibanding kau, raja sehari! Kembali kau dan para dayang edanmu itu!” seru Dharmawongso II menggertak Kertajaya. Sekalipun merasa terhina, Kertajaya beserta para dayang lelakinya berbalik, tidak berdaya di bawah ancaman tombak dari pengawalnya sendiri.

“Kakanda, Ibunda, maafkan aku yang tidak berdaya ini,” bisiknya, menengadah kepada cahaya bulan. Dia mengirimkan berbagai doa kepada mereka berdua, sadar penjagaan akan diperketat dan dia tidak akan bergerak bebas di negeri yang dipimpinnya sendiri.

Satria dan ibundanya tidak pernah mengetahui adegan yang terjadi di atas sana. Sumur itu terlalu jauh dari atas tanah sehingga hiruk-pikuk di atas hanya terdengar samar. Mata pria itu berkilat oleh amarah. Bayangan Kertajaya dan Ayahandanya berputar-putar, seolah mengejeknya bertubi-tubi dalam kepalanya.

Satria meraba ke dalam ikat pinggangnya, sebuah batu kecil yang berwarna hitam-kelam keluar dari padanya. Dia mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya. Mahapatih yang putus asa itu menghela nafas. Ini adalah saatnya, sekarang atau tidak sama sekali. Dia mengatupkan kedua tangannya, mengapit batu kecil itu. Mulutnya membuka perlahan,

“Wahai Dewa Syiwa, engkau sang pemusnah. Jatuhkan angkaramu bagi Raja Kerajaan Kediri beserta seluruh isi-penghuninya. Kejatuhan bagi engkau dan seluruh keturunanmu tiada henti, tiada kebahagiaan diperuntukkan bagimu. Bhasmī Bhūta[1]!!!

[1] “Hancur hingga menjadi abu” dalam bahasa sansekerta

 

…bersambung…

 

 

Bhasmī Bhūta

“Kau!!!” raung Kertajaya pada salah satu dayangnya yang tidak mengetahui sesuatu pun. Wanita muda berkulit gelap itu tergopoh mendekati rajanya sambil menghaturkan sembah. Kertajaya menurunkan nada suaranya, “Kau tahu sumur tempat pemasungan?”

“Hamba, Gusti Paduka.”

“Kirimkan makanan setiap hari ke dalamnya dan laporkan padaku tentang penjagaan di daerah itu.”

“Hamba, Gusti Paduka.”

“Jalan kau sekarang,” perintahnya tegas. Wanita itu berjalan mundur dengan lututnya. Setelah dia menutup pintu kediaman Kertajaya, barulah dia mengangkat badannya dan berjalan pada kedua kakinya sendiri.

Malam itu gelap, dinaungi bintang yang bertabur bagai permata. Keindahan itu tampak pula dari dasar sumur tempat di mana Mahapatih Satria dihukum bersama ibundanya. Namun, mereka sama sekali tidak tengah menikmati keindahannya, melainkan berduka atas keadaan yang menimpa mereka.

“Ibundaku… Ampun, beribu ampun…” Kata-kata itu terus mengalir tak henti dari mulut Satria. Keadaan wanita itu semakin lemah akibat tekanan yang dialaminya. Mata itu kini redup tanpa cahaya.

“Kita akan keluar, ibunda… Ibunda percaya padaku, toh?”

Wanita yang belum meninggalkan usia 30-nya itu mengangguk pelan. Dia tersenyum lembut.

“Kau… Kau masih saja bisa tersenyum… Kau, ibundaku… Kau selalu kesepian…,” gumam Satria. Betapa jarak menyiksanya begitu kuat. Betapa pria tua kejam itu masih saja ingin menyiksanya dalam pemasungannya. Dijauhkannya tubuh lemah ibunya dari pelukan dan genggamannya. Berapa meter dia tak tahu. Dipaksa pula dia menyaksikan wanita itu melemah dalam kungkungan rantai besi yang melilit kaki dan tangannya.

Suara derit besi yang beradu membuatnya mendongak ke atas. Sebuah ember kecil berisi makanan digerek dari atas ke bawah.

“Lihat, ibunda. Mereka mengirimkan makanan!” Segera Satria menegakkan badannya, sebisanya menangkap ember tersebut, lalu melemparkan berbagai makanan lezat kepada ibundanya. Satria memakan bagiannya dengan lahap, lalu dia terhenti. “Ibundaku, mengapa kau tidak makan?”

Kepala wanita yang belum habis kecantikannya itu hanya menggeleng lemah. Tatapannya kosong menatap dinding sumur itu.

“Ibunda! Kau harus makan! Demi anakmu ini, makanlah!” bujuk Satria, berkali-kali. Namun, Saraswati memilih untuk menutup matanya. Satria memandangnya dengan putus asa. Dia menggetarkan dasar sumur itu dengan kepalannya. “Sial kau, Dharmawongso II!!!” Teriakannya bergaung hingga ke atas sumur.

Dayang wanita itu menoleh ke arah sumur, mendengar teriakan penuh kebencian itu dengan cemas. Dia lalu berbalik, menatap garang kedua penjaga yang anehnya justru menciut di hadapannya.

“Kalau kalian berani menghalangiku, aku akan laporkan pada Gusti Paduka Sri Kertajaya. Dia raja kalian sekarang!”

“Kau tahu, Gusti Paduka Raja Dharmawongso II memerintahkan…”

“Dia tidak tahu,” sergah dayang wanita itu keras dan tegas. “Dan dia tidak perlu tahu!” Dia lalu berbalik, mengangkat kainnya sedikit untuk menyeberangi rawa itu, kembali ke kediaman Kertajaya.

“Ampun, Gusti Paduka,” sahutnya dari luar wisma kediaman raja tersebut.

“Masuk,” sahut Kertajaya dari dalam. Dayang itu menunggu pintu kediaman raja terbuka, lalu menghaturkan sembah dan mendekati raja muda itu dengan lututnya. Kertajaya mengetuk-ngetukkan jarinya dengan tidak sabar.

“Bagaimana?”

“Ampun, Gusti Paduka. Gusti Paduka Raja Dharmawongso II memerintahkan mereka untuk tidak diberi makan, tapi aku telah memperingatkan kedua penjaga bahwa ini adalah perintah raja mereka.” Kertajaya mengangkat alis, hatinya sedikit mengagumi keberanian gadis ini melawan pengawal kerajaan.

“Kau mengamati kapan pergantian pengawal?”

“Hamba, Gusti Paduka. Saat maghrib tiba, pengawal yang berjaga akan kembali, lalu memanggil pengganti mereka.”

“Waktuku?”

“Maksud Gusti Paduka?” Wanita muda itu melupakan sembahnya, mengangkat kepalanya dengan terkejut. Kertajaya mendelik melihat kekurangajarannya. Dayang wanita itu langsung bersujud.

“Ampun, Gusti Paduka. Tapi, biarlah hamba yang melaksanakan semua rencana ini,” sahutnya tergeragap, sadar akan kekhilafannya.

“Tidak! Nyawamu akan jadi taruhannya. Kalau aku, Ayahanda tidak akan memenggalku.   Tidak semudah itu.” Dayang wanita itu tergugu, hatinya tersentuh oleh kebaikan Kertajaya yang rasanya dilakukan sekilas lalu itu.

“Besok aku akan bergerak. Para lelaki, kalian ikut aku,” perintahnya pada dayangnya. Hanya para dayang itu yang menjadi kepercayaannya, karena pengawal kerajaan mungkin masih menaati titah Paduka Raja yang terdahulu dibandingkan dirinya yang baru dinobatkan menjadi raja.

 

…bersambung…

Bhasmī Bhūta

Saat itu, pintu kamar itu terbuka. Sesaat Dharmawongso II membeku, tak percaya oleh penglihatannya sendiri. Perlahan, wajahnya memerah, tatapannya pun menjadi murka.

“Gila!!!” Teriakan itu bagaikan alunan drum pemicu perang. Bertalu-talu hingga ke jantung mereka yang sedang bergumul di ranjang yang tertutup kelambu putih itu. Saraswati dan Satria berusaha menutupi tubuh telanjang mereka.

“Kau bilang, kau sakit! Ini rupanya penyakitmu?!! Penyakit najis!!! Lacur!!! Panggil Pengawal!!!”

“Yang Mulia… Keturunan para dewa…,” sahut Saraswati, menutupi tubuhnya dengan kain seadanya, memohon dalam suaranya yang serak, air mata mulai membasahi pipinya.

“Ayahanda… Ayahandaku seorang…,” tukas Satria berkali-kali. Melompat ia menyembah pada kaki Dharmawongso II. Tendangan pada muka yang diterimanya jua.

“Satria!” pekik Saraswati.

“Kau!” gerung pria yang baru saja melepaskan jabatannya itu, dengan kemurkaan luar biasa. “Anakmu sendiri! Anakmu!”

“Ampun, Yang Mulia, Ampuuun. Kami khilaf…” Kali ini Saraswati melompat, menciumi kaki pria yang mengangkatnya sebagai selir itu. “Ampuuuunn… Khilaaaff…,” sahutnya terbata-bata, dengan ucapan yang semakin meracau.

Pengawal kerajaan segera menghadap. Hanya dengan sedikit gerakan jari telunjuknya, para pria bertubuh besar serta kekar itu menyeret keduanya.

“Berhenti!!! Aku ini panglima kalian! Keturunan raja, dewa! Kalian menghinaku!!!” jeritnya, berkali-kali. Sedangkan, Saraswati hanya dapat menangis terisak-isak, memasrahkan badannya yang kuyu pada cengkeraman dua pengawal kerajaan itu.

“Keparat! Kau tak pantas jadi anakku!” raung Dharmawongso, mengalahkan jeritan-jeritan Satria.

Sementara itu, di kediaman Raja Muda Kertajaya, ketukan cepat dan keras membahana ke seluruh kamarnya. Dia mengernyit, memberikan isyarat kepada dayangnya untuk membukakan pintu.

“Beribu ampun, Yang Mulia!” serunya, terengah-engah. “Gusti Paduka Raja, ah Ayahanda Raja, menitahkan Anda untuk segera ke ruang Balairung Utara.”

“Balairung Utara?” sahutnya ragu. Ruang itu selalu digunakan untuk pengadilan para pemberontak dan pengkhianat raja. Singkatnya, tidak ada pengadilan, hanya tempat untuk menjatuhkan hukuman.

“Panglima… Panglima besar…” Dia pun seorang pengawal yang berkedudukan di bawah kepanglimaan kerajaan, maka panik jua yang menyertai setiap kata-katanya.

“Kakandaku?!” seru Kertajaya, sangat terkejut. Satria adalah panglima kerajaan yang memiliki jasa besar, ayahandanya sangat menyayangi pria yang berusia lima tahun lebih tua darinya itu. Bahkan, ayahnya telah berencana untuk menjadikannya penasehat kerajaan merangkap jabatannya sekarang ini.

Dia melempar buku yang sedari tadi ditekuninya begitu saja. Bahkan melupakan dayang-dayangnya, dia berlalu begitu saja. Hanya kewibawaan yang menyertai keris di pinggang yang mencegahnya untuk tidak berlari membabi-buta ke Balairung Utara itu.

“Ayahanda!” Dia menghaturkan sembah dengan terburu-buru.

“Berdiri kau!” titah ayahnya dengan suara tak sabar. “Lupa siapa kau sekarang? Kaulah yang harusnya kusembah sekarang!”

“Beribu ampun, Ayahanda!” Dia menundukkan kepalanya. Dharmawongso II mengembangkan cuping hidungnya. Wajahnya memerah.

“Setidaknya kau masih memandang orang tua ini!”

“Ada apa ini, Ayahanda?” Matanya membeliak terkejut saat Satria dan ibunya sedang dikerubungi oleh pengawal kerajaan, yang menghunuskan tombak mereka ke leher keduanya agar tidak bergerak.

“Tarik senjata kalian!” serunya, mengibaskan sebelah tangannya. Dia lalu menatap ayahandanya yang murka dan ibundanya yang berdiri dingin, tetapi matanya bergerak cemas kepada Kertajaya.

“Hanya karena menghormatimu, aku tidak langsung membunuh pengkhianat najis ini!” Suaranya bergetar dalam upayanya menekan ledakan amarah yang menyesakkan dada tuanya itu.

“Ayahanda. Beribu ampun, boleh saya minta penjelasan dari ayahanda mengenai ini?”

“Mereka pengkhianat. Mereka berselingkuh dan berhubungan badan. Gila! Najis! Lacur!”

Saraswati terisak keras, tak berdaya menghadapi rentetan penghinaan itu. Satria sebaliknya, memandang ayahnya dengan kebencian teramat sangat. Kertajaya menoleh dengan sangat cepat ke arah mereka berdua. Pandangannya memohon penjelasan dari kakaknya yang diakrabinya sedari kecil itu. Perlahan, Satria menggerakkan bola matanya ke arah Kertajaya, dengan mata yang memerah. Memohon belas kasihan.

“Panji, aku kakandamu. Dia pun ibumu, bukan? Kita sudah berikrar, bukan?” sahutnya, dengan mata memohon. “Dia sakit, Panji.”

“Panggil dia Gusti Paduka Sri Kertajaya!” gerung pria dengan rambut penuh dengan garis-garis putih itu. “Sakit?! Sakit apa yang membuatnya kuat bersenggama dengan anaknya sendiri, hah?!”

Satria menggertakkan rahangnya, air mata mulai berlinang jatuh ke pipinya. Kertajaya terperanjat, baru kali itu dia melihat air mata dari kakaknya yang teguh itu.

“Penggal saja aku, selamatkan dia!”

“Jangan!” pekik Saraswati. “Satria… Yang Mulia…”

“Panji Dharmawongso III!!!” seru ayahnya, memanggil nama kecilnya. Suaranya menggaung di langit-langit balairung yang berbentuk kerucut. Pria itu baru saja beberapa jam menikmati jabatannya sebagai raja. Suguhan ini terlalu cepat baginya, terlalu mendadak. Melibatkan kakak yang disayanginya, dengan segenap jiwanya.

“Tak berkutik kau?! Mereka jelas tertangkap basah! Tak percaya kau pada perkataanku?!!” raung Dharmawongso II.

“Ayahanda, bukan begitu. Dia adalah saudaraku, seperjuangan sedari kecil. Dia adalah ibundanya, dia pun ibundaku. Begitu permaisuri pertama meninggal, dia yang merawatku bertahun-tahun! Bukankah ayahanda yang selalu menceritakan?” sahut Kertajaya memohon.

“Persetan!!! Persetan!!!” sergahnya, semakin murka.

Otaknya berputar dengan cepat, memandangi Satria yang juga bersikukuh menatapnya lantang. Dia menarik nafas.

“Ayahanda, mari asingkan mereka!”

“Panji!” seru Satria, terperangah.

“Kakandaku yang baik, kau telah menodai kehormatan raja keturunan para dewa. Kau menodai istana suci peninggalan nenek moyang. Dengan segala kerendahan hatiku, kakanda, kau memang bersalah,” tegas Kertajaya, dengan pandangan menenangkannya.

“Bersalah?! Jika raja memuaskan nafsunya kepada wanita bersuami itu sah?! Begitu?! Jika raja menanamkan benih, lalu menelantarkan istrinya, itu sah?! Mana keadilanmu, tidak kau adili juga ayahandamu itu! Dia berdosa lebih banyak daripadaku! Ibuku tidak bahagia di tangannya! Saudara tidak boleh menengok, teman tidak punya, semua memusuhinya hanya karena dia sempat menjadi kesayangan raja. Tapi apa?! Raja sendiri tidak melindunginya! Setelah bosan, diabaikannya wanita ini! Aku yang memberikan kebahagiaan kepadanya! Aku sendiri!” raung Satria, pipinya sepenuhnya basah kali ini. Wanita dengan rambut bergelombang yang sama dengannya, menggeleng-gelengkan kepalanya, mencegahnya untuk berbicara lebih banyak.

“Najis!!! Kau berani menyalahkan raja!!!” balas ayahnya, tak kalah geram. Istrinya, yang merupakan permaisuri kedua, menggandeng tangannya seraya membelai-belai punggungnya. Dia hanya menepiskan tangannya dan mendorong wanita itu hingga terhenyak ke belakang.

“Cara memperlakukan permaisurimu saja kau tidak paham!” Satria tersenyum sinis, mengejek.

“Kakanda!”

“Masih sudi kau memanggilnya kakanda?!! Pengawal! Penggal mereka! Gantungkan mayat mereka sebagai contoh!”

“Ayahanda! Kau mempermalukan dirimu sendiri, membuka aib!” tukas Kertajaya, mengerahkan usaha terakhirnya. Ayahnya memandangnya dengan murka. “Pikirkan, ayahanda! Jika peristiwa ini diketahui khalayak umum, reputasi kerajaan juga yang tercemar! Mahapatih Satria, dia pun orang besar. Kematiannya yang tiba-tiba akan mengejutkan!”

Pria tua itu memandang Kertajaya dengan seksama. Pandangannya beralih kepada kedua orang yang mengkhianatinya dengan kebencian mendalam. Sakit hatinya teramat sangat.

“Baik! Maka, pasung!!”

“Ayahanda!”

“Apa lagi yang hendak kau katakan?! Pengasingan sama saja mengeluarkan mereka dari kerajaan. Siapa yang bisa mencegah mulut kotor mereka merambahi bumi kerajaan ini?! Mereka tidak boleh selangkah pun keluar dari istana ini!” Dengan geraman terakhir itu, dia berlalu keluar dari ruang Balairung Utara tersebut.

Pria muda berkumis terpilin pada ujungnya itu, menatap nanar kepada kedua orang yang sangat disayanginya itu. Matanya memerah saat dia meneriakkan, “Pasung mereka!”

“Panji!!! Bunuh kami! Penggal saja kami!!! Gusti Paduka Sri Kertajaya, kumohon!!!”

Teriakan-teriakan pedih menyertai suara seretan yang dilakukan oleh pengawal kerajaan itu. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Permaisuri mendekatinya. Air matanya jatuh tak tertahan. Pemasungan berarti lebih buruk daripada kematian. Tidak ada cahaya matahari, terpendam jauh di bawah sumur kematian, dengan kaki yang segera akan membusuk oleh rantai berkarat. Apa lagi yang dapat diusahakannya? Kertajaya terisak pelan, di atas kedua tangan permaisuri.

 

…bersambung…

 

 

Bhasmī Bhūta

“Ibundaku,” sahutnya, sambil menghaturkan sembah.

“Ah, berdirilah, Nak.” Pria dengan rambut bergelombang itu mendekati ranjang ibunya, Saraswati, menciumi tangan wanita yang kini bernafas dengan berat itu.

“Lama baru kau bisa jenguk ibundamu ini?”

“Bunda, hanya seminggu berselang,” sahutnya dengan nada membujuk, masih menggenggam tangan ibunya yang mulai kisut. Masih menciuminya, berulang kali.

“Apa sudah tak sayang lagi?”

“Ibunda,” tegurnya lembut, “semua sibuk dengan persiapan seremonial pengangkatan ini. Aku sebagai panglima kerajaan juga disibuki oleh keamanan istana. Kan ibunda mengerti?”

Wanita berkemben hitam itu mengangguk pelan, lemah. “Ibunda memang harus mengerti itu, bukan?” Dia bersikeras, menekankan kata ‘harus’ dalam pembicaraannya. Satria merasakan sarkasme dalam nada suaranya itu. Bibirnya tak ayal mengunci bibir wanita itu dalam nafsu berahi yang sedari tadi ditahannya.

“Kan ibunda tahu, kalau aku mencintai ibunda? Harus kuingatkan terus?”

“Aku ini ibundamu, Nak.”

“Berhenti panggil aku dengan sebutan itu!” tegurnya dengan nada semakin menaik. “Toh, aku bukan anak kecil lagi!”

Saraswati bersusah-payah menegakkan punggungnya, menyapukan telapaknya ke wajah Satria. Parasnya lumayan tampan, namun entah mengapa dia terikat kuat pada ibunya yang seorang ini? Dalam nafsu tak berkesudahan berlumur dosa. Memang, Saraswati pun cantik bukan alang-kepalang, paras ayu yang tidak berkesudahan. Sedikit kerut sama sekali tidak memadamkan kecantikannya yang menawan. Tak pernah Saraswati tega untuk menolaknya, anak semata wayangnya, anak kesayangannya. Satria menutup matanya, menikmati sentuhan wanita itu. Tangan itu sampai ke bibirnya, dia pun menciuminya. Nafasnya kembali terengah. Sesaat kemudian, tubuh mereka kembali bersatu dalam godaan nafsu.

 

…bersambung…

Bhasmī Bhūta

PROLOG

PENOBATAN RAJA MUDA

 

Ketukan tongkat keemasan berukir naga itu bergaung hingga ke langit-langit. Ruang pagelaran itu dipenuhi dengan beragam manusia, baik tua maupun muda, wanita maupun pria, menghaturkan sembah dengan menumpu pada lutut mereka masing-masing. Langkah berat dan pelan terseret di tengah-tengah kumpulan manusia itu diiringi alunan gamelan yang merdu dan pelan. Kakinya bersih dengan kulit terawat bagai pualam, hanya sedikit bayangan hitam menghiasinya. Tubuhnya tegap juga bidang, jelas terlatih dengan baik dalam tempaan yang cukup keras. Wajahnya pun mengesankan tempaan berat itu, angkuh dan keras. Kumis berpilin pada ujungnya menghiasi atas bibirnya, menambah kegagahannya.

Pria dengan setelan pakaian yang serupa dengannya, menanti di ujung singgasana dengan kumis abu-abu yang tak kalah tebal. Seorang wanita berkain batik dengan pola rumit kebangsawanannya berdiri dengan setia, perhiasan serba berkilau dari telinga serta lehernya. Kecantikannya tampak enggan meninggalkannya walaupun usianya mulai beranjak senja. Pria muda pembawa tongkat naga itu berhenti tepat di hadapannya. Tongkatnya disampirkan di bahu, membungkuk-sembahlah ia dengan mengangkat kedua tangan yang terkatup tinggi-tinggi di atas kepala.

Seorang patih muda tergopoh melihat anggukan pria dengan kumis abu-abu itu. Tak lama berselang, sebuah keris perak beralaskan bantal hitam berpita emas terangkat di hadapan pria tua itu. Dia mengambil dengan kedua tangannya, seolah keris itu adalah benda berat. Takutlah ia menjatuhkannya.

“Wahai Putra Raja, Keturunan Dewa-Dewa, kau saat ini akan mengemban tugas berat.”

“Hamba, Gusti Paduka Ayahanda Raja,” sembahnya semakin dalam.

“Seluruh kerajaan kini berada dalam genggamanmu, menjadi bijaklah kau, pimpin rakyatmu dengan adil dan baik. Kesejahteraan mereka adalah kesejahteraan kau pula, maka kau harus melayani mereka sebaik-baik seorang yang berkuasa.”

“Hamba, Gusti Paduka Ayahanda Raja,” ulangnya.

“Kau sudah mengerti. Dengan ini, aku angkat kau sebagai raja dengan nama Sri Kertajaya. Kelak kau akan memberikan yang terbaik bagi rakyat dan kerajaan ini, menyambungkan warisan leluhur nenek moyang, utusan para dewa.” Mulutnya berkomat-kamit memberikan “isi” pada keris warisan itu.

Keris itu disentuhkan dengan lembut pada kepala, serta kedua pundak pria muda itu.

“Berdirilah,” lanjutnya. Pria dengan rambut hitam-kelam itu menurunkan sembah serta tongkatnya. Dia bertantang mata dengan ayahandanya. Wajah pria itu tak terduga melembut melihat anandanya yang sudah dewasa, berkumis tebal.

“Terimalah keris persembahan para dewa ini, pelindung keluarga raja, disepuh oleh Mpu Syahwana, semoga kelak keris ini akan melindungimu.” Dia terdiam sejenak. “Di manapun engkau berada.”

Anandanya menunduk, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Maka, diletakkanlah keris penanda jabatan raja itu di atas tangannya. Perlahan, dia membawanya bersejajaran dengan matanya yang juga hitam-kelam.

“Aku terima keris ini, sebagai tanggung jawab keturunan raja pengemban tugas dewa, menyejahterakan rakyat, membawa keadilan dan kebenaran di atas bumi kerajaan Kediri ini.”

Hadirin berseru-seru menyuarakan puji-pujian mereka atas raja baru di kerajaan Kediri. Sembah mereka semakin mendalam, menyongsong langkah Ananda Raja menuju singgasana agung. Seiring dengan itu, ayahanda dan ibundanya duduk di kedua singgasana yang berada di kanan dan kirinya. Suara gong dibunyikan beberapa kali seiring dengan nada puji-pujian yang terlantun semakin membahana.

…bersambung…

 

Catatan Penulis :

Ini pernah kuposting sebelumnya, kuposting ulang supaya novel keduaku ini bisa diposting sampai tamat. Ditunggu kritiknya, yang pasti ini novel masih cupu 😀

Mirror

You are there
At me lurking as you are
You stay ere
And be standing still more
Part of me you become
Crowning
Past of you I bedone
Casting
Touch you I dare not
Still, to you I long
Oh stain
Grew inside down beneath
Oh disdain
Glow of me beseech
At the far
Clocks tick fast
As they scar
Crowds seek comrades
All but one
You are there
Smirking with lips that are bare
You stay ere
Still you haunt till I scatter
You are none
But me
Depok, 16 December 2017

Indonesian Poetry : “PALU”

Palu

 

Palu itu sudah berkarat

Gaungnya masih nyaring, memang

Pantul-memantul pada sekat-sekat

Gamang meminta arang

 

Palu itu kayu rapuh

Gemilang pada masa rentang

Pandir kala meramu

Gus, memang dia hanya barang

 

Dia, manusia

Menggerakkan, mengelakkan

Dimana palu menggema

 

Dia, manusia

Membuang malu, menggusur nurani

 

 

Dia, manusia

Mendewakan dewa yang telah mati

 

Adil sudah lewat

Zamannya telah lalu

Adil bukan maslahat

Sekadar guyon lucu

 

Selamat jalan

Kusebar permata di setapak ini

Untukmu yang buta akan keseakanan

 

Selamat jalan

Biar mayat-mayat garuda

Terlibas demimu berjaya

 

Depok, Indonesia, 26 November 2017

—————————————————————————————————————————————–

 

So, eventhough I change my language preferences in my site, I always love Indonesian language, duh! I’m from Indonesia, however. Besides, I really want everyone knows about my beautiful language. And it’s only my national language, there are many languages in my country. According one of Indonesian’s news media there are 652 languages, not including a dialect and subdialect of those languages. (the source : Republika : There are 652 Community Languages in Indonesia)

Ethnologue.com has the lists, I don’t even know mostly of them (So ashamed of myself, but it’s many!). You can visit here, if you ever care: Lists of Indonesian language.

Back to my poetry, I will give you in English translation :

 

 

Hammer

 

O Hammer was corroded

Its echo still aloud, indeed

O resounding among dividers

Its nerves shakes up beg for black coals

 

O hammer was tender 

Effervescent at between times

Obtuse at collecting

Childs, indeed he was merely things

They, human

Move, escape

Where he echoed

 

They, human

Move away ashamed, thrown conscience

 

 

They, human

Worship Deity who was perished

 

Justice was gone

The era was ended

Justice salvation no more

The hideous joke now he served

 

Farewell

I spread jewels on this path

For you blinded by the pretence

 

Farewell

Let the remains of Garuda

Forsaken at your triumphant

 

Depok, Indonesia, 26 November 2017

 

Only a little bit explanation. “Gus” is an old word, usually used in Java. And Garuda, I can’t translate that, because it’s the symbol of Indonesia. 🙂

Hope you know a bit of Indonesia know.