Category Archives: Novel

You know this long story

Bhasmī Bhūta

“Oh.” Benar juga, pikirnya. Dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki Arya, pastilah dia memiliki banyak kisah dengan banyak gadis. Mungkin juga dia sekarang sedang menjalin hubungan dengan gadis lain. Sekar merasakan kegetiran dalam hatinya. Pacar ataupun mantan pacarnya pastilah sekumpulan gadis cantik. Namun, gambaran selanjutnya adalah para gadis bertubuh kurus dengan baju yang fashionable saling mencakar satu sama lain untuk memperebutkan Arya. Hah? Sekar menggelengkan kepalanya, menghapus gambaran mengada-ada yang timbul dalam pikirannya.

“Kenapa?” tanya Arya, mengernyit saat menyadari gerakan Sekar. Gadis itu meringis.

“Gak, gak kenapa-napa, kok. By the way, lo punya pacar sekarang?” Dalam hati Sekar mengutuk dirinya sendiri. Buat apa dia menanyakan pertanyaan pribadi semacam itu? Mukanya memerah oleh pertanyaan yang tak bisa direm dari mulutnya itu. “Tapi, kalo gak mau cerita juga gak pa-pa, sih,” elak Sekar.

Arya menengadahkan kepala, membasahi bibirnya dengan lidahnya sendiri. Dia menyeringai. “Gak. Lagi kosong.”

“Kenapa? Gara-gara masalah lo ini?”

“Lagi males aja. Emang aneh kalo gue gak punya pacar?”

“Plis, deh,” cibir Sekar. “Tipe-tipe lo ini pasti gak pernah ada jedanya. Begitu putus, langsung jadian lagi. Putus, jadian lagi. Gue yakin mantan lo pasti lebih dari lima.” Jawabannya langsung tergambar dari senyum jenaka yang dilontarkan Arya. Sekar mengedikkan bahu, matanya mengisyaratkan Apa gue bilang?

“Angka dari mana, tuh?” elak Arya, walaupun dalam hati dia mengakuinya. “Emang gue tipe kayak gimana?”

Sekar mengernyit, mencari kata-kata yang tepat. “Ah, playboy paling.”

“Lah? Kenapa tiba-tiba gue dicap playboy?”

Sekar merebahkan tubuhnya di sofa dengan santai. Dia menatap langit-langit ruang tamunya yang dipenuhi oleh noda-noda aneh. “Hm…kenapa, ya? Cara lo ngadepin cewek. Kayak kemaren pas ketemuan sama Bano. Trus, sama gue. Lo kayak udah terbiasa banget ngadepin cewe.” Gaya santai Sekar langsung mempengaruhi Arya, yang duduk meluruskan kaki di lantai menghadap meja ruang tamu.

“Tapi, kayaknya kalian berdua beda, deh. Rasanya, sih.”

“Hah? Beda gimana?”

“Gak tau. Pas gue ketemu kalian rasanya beda aja. Trus kayak pernah liat, gitu. Apa mungkin kita pernah papasan gak sengaja, ya?”

“Wah, gak tau, ya.” Dalam hati Sekar menambahkan, yang pasti sih muka kayak lo gak bakalan gue lupain segampang itu.

Ponsel Arya kembali berdering nyaring dari balik saku celana jeans arya. Pemuda itu merogoh sakunya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dia mengerang, menarik perhatian Sekar.

“Kenapa?”

“Dia lagi,” jawab Arya, memperlihatkan nama di layarnya.

“Udah sih, angkat aja. Trus bilang gue males ngomong sama lo, trus matiin deh!”

“Yang bener aja? Lo gak tau orang satu ini, sih. Drama queen banget! Kalo gue begitu, makin heboh dia nelpon. Bisa puluhan kali. Trus, pasti sambil nangis-nangis. Ampun, deh.” Pemuda itu merebahkan dirinya di lantai, menatap nama yang terus-menerus muncul dari layar ponselnya. Tanpa dapat dicegah, Sekar mengeluh jijik. Sifat-sifat yang sungguh merusak nama kaum Hawa. Namun, telepon itu terus-menerus memekik meminta perhatiannya. Arya mendecak. Dia bagaikan melihat bayangan wajah mantannya yang merengek-rengek agar Arya memenuhi permintaannya. “Halo?” tukas Arya ketus, mengangkat telepon itu. “Gue lagi ama cewe baru gue. Sori, jangan telepon gue lagi, deh. Gue gak enak ama dia.”

Sekar menoleh ke arah Arya, yang tersenyum dengan wajah meminta maaf. Dia mengangkat alisnya, “Wah, gue ngerasa dapet kehormatan buat jadi cewe lo.”

“Lo mau?” Arya tersenyum menggoda Sekar.

“Bener, kan? Kelakuan lo udah kayak playboy kelas teri.” Sekar melompat dari sofa itu, menuju kulkas. Dia baru saja menyadari bahwa dia belum menyediakan minuman untuk tamunya.

“Kelas kakap, kek, minimal.”

“Mimpi!” Sekar mendengus. “Trus? Ceritanya kayak gimana? Pacar-pacar lo?” Gadis itu kembali ke sofa. Dia melemparkan sebuah minuman kaleng bersoda ke arah Arya, lalu melanjutkan aktivitas malasnya di sofa.

“Thanks,” sahut Arya, setelah kaleng itu telah berada di genggamannya. Pemuda itu berdehem, berusaha mengingat detil-detil tentang mantannya. “Yang pertama, pas gue SMP.”

“SMP?!” tukas Sekar terkejut. Rasanya dia bahkan tidak mengenal perbedaan pria dan wanita semasa SMP. Apa dia mengalami keterlambatan pubertas? Pikiran itu membuatnya mengasihani dirinya sendiri. Sedikit.

“Emang kenapa? SD sebenernya ada, tapi ya taulah. Gue bilang suka, dia bilang dia juga suka. Udah, kita anggep kita pacaran, padahal mah cuma liat-liatan sambil tukeran surat di kelas.” Sekar terbahak, membayangkan dua anak SD saling bertatapan dengan wajah memerah di tengah alunan suara pengantar tidur dari seorang guru yang membosankan. Pemuda itu sekilas melirik Sekar. Tawanya yang lepas itu tampak manis di mata Arya.

“Bertahan setahun sih, yang di SMP. Karena gue bosen, ya gue putusin. Dia nangis-nangis gitu, parah. Trus, yang kedua pas kelas dua SMP. Tapi, gak lama dia pindah. Kita bilang coba aja hubungan jarak jauh. Gue lumayan suka dia, sih. Eh, pas gue masuk SMA, gue ketemu cewe cakep banget. Sumpah, cakep banget. Emang sering jadi model majalah remaja, sih. Jadi, gue sempet ngeduain pacar gue yang kedua. Cewe yang ini juga gak tau sih, gue udah punya pacar.”

“Ya ampun,” desah Sekar, menyeruput minumannya.

“Gak tau deh, parah gue, ya?” kekeh Arya. “Trus, sama yang ketiga ini. Kan akhirnya gue beraniin diri buat putusin pacar gue yang kedua, karena gue juga gak tahan jarak jauh gitu. Nah, gue fokus sama yang ketiga. Malesnya, ternyata dia posesif banget. Tapi, hobi banget selingkuh di belakang gue. Sumpah, aneh banget.”

“Ya, karma lo. Eh, jangan-jangan lo begini karena disumpahin mereka kali,” tukas Sekar, tersenyum penuh arti. Dia memiringkan badannya, menatap ke bawah. Ke arah Arya, yang mengernyitkan dahi. “Jadi, lo tinggal minta maaf aja ke mereka, siapa tau mereka ngelepasin sumpahnya ke elo. Kayak di film-film itu.”

“Ah, ngaco lu.”

“Perlu dicoba, Ar. Kan sekalian lo ngapus dosa.”

“Oi!” Arya menegakkan badannya, membuat wajahnya sejajar dengan wajah Sekar. “Kok rasanya gue yang salah banget, sih? Pacar gue yang ketiga kan, juga ngeduain gue.”

“Iya, sih,” sahut Sekar, mengedikkan bahu. “Tapi, pasti banyakan lo yang nyakitin, kan?” Arya terdiam, memikirkan setiap gadis yang dekat dengannya. Beberapa yang dikencaninya tanpa ada komitmen apapun.

“Becanda, serius amat sih!” Sekar tertawa lagi. Decakan kesal mengikuti gelak tawa itu. “Emangnya gue hakim apa, seenaknya mutusin lo salah apa gak?” Gadis itu menghirup minuman bersodanya.

“Tapi, lo sukses bikin gue ngerasa bersalah.”

“Bagus lah. Kan artinya lo masih punya nurani,” kekeh Sekar. Mereka berdua kemudian terdiam, ditingkahi oleh suara mereka saat menyeruput minuman mereka. Derai tawa anak-anak kecil terdengar jelas dari luar rumah Sekar yang pintunya terbuka. Sesekali terdengar klakson motor atau mobil yang melewati jalan kecil yang hanya muat untuk dilewati satu mobil itu. Suara seruan dan teriakan menjadi penanda padatnya pemukiman tersebut.

“Makasi, ya.” Tiba-tiba Arya membuka suara. Sekar menenggak minumannya lagi. Walaupun Arya tidak menjelaskan maksudnya secara verbal, Sekar cukup mengerti.

“Sama-sama.”

…..bersambung…..

Advertisements

Bhasmī Bhūta

BAB II

THE SOCIAL CONTRACT

(lanjutan…)

 

 

Hanya selang beberapa menit, mereka sampai ke rumah kontrakan yang sangat sederhana itu. Motor mereka berhimpitan, terparkir lurus karena lahan di dalam pagar yang sempit. Arya memasuki tempat itu dengan ragu. Gadis itu cukup berani membawa pria yang baru dikenalnya ke rumah kontrakannya. Namun, Sekar membiarkan pintunya terbuka, pertanda dia tidak sepenuhnya percaya kepada Arya.

Arya mengabaikan hal itu karena perhatiannya langsung terpikat oleh berbagai lukisan yang digantung berjejer dari ruang tamu hingga ruang tengah yang tersambung itu. “Lukisan lo? Bagus, ya?” Gadis itu hanya tersenyum mendengar komentar awam tersebut. Dalam dunia melukis, Sekar justru termasuk golongan amatir, dengan karya yang tidak memberikan kesan emosi mendalam. Tenggorokannya terasa tercekat saat pikirannya mengulang kembali rekaman kata-kata dosennya itu. Sekar mengulurkan gelas berisi air mineral pada pemuda yang masih mengamati lukisan Sekar.

“Biasanya dalam seni lukis itu ada aliran-alirannya, kan? Lo aliran apa?”

“Gue lebih suka realisme. Peristiwa sehari-hari, tentang manusia, yang simpel-simpel. Liat,” tunjuk Sekar pada salah satu lukisannya, “ini ibu-ibu lagi ke pasar subuh-subuh, pulang bawa kantong plastik gede. Pas gue ngeliat pemandangan itu tiap pagi, rasanya terharu. Itu kan ngegambarin perjuangan dia sebagai seorang istri dan ibu.” Wanita itu menyisir karyanya itu dengan jemarinya sangat perlahan.

Arya terdiam, mengamati sapuan cat akrilik yang memberikan tekstur timbul pada setiap lukisan wanita yang tengah berdiri di sampingnya itu, menyadari lukisan ini cukup mampu membuatnya terserap dalam aktivitas Shubuh oleh seorang wanita paruh baya yang menjadi objek lukisan itu.

“Bagiku, manusia itu selalu menarik. Bahkan saat berinteraksi dengan hal-hal simpel. Kayak tiap pagi ada aja tuh pemandangan ibu-ibu gendong anaknya pake kain, sambil nyuapin makan. Atau wanita karir, cewe-cewe yang kerja di kantor, jalannya buru-buru karena takut telat. Manusia dan kegiatannya. Dinamikanya. Manusia selalu dinamis, berubah-ubah. Namun, tak selamanya perubahan itu baik. Tidak selalu kemajuan itu maju.” Sekar tak tahu mengapa dia mengakhiri kalimatnya dengan desahan nafas.

“Apa gue salah satunya?”

Sekar ditarik kembali ke dunia nyata, dimana dia dan seorang lelaki yang lebih muda daripadanya sedang berdiri bersisian mengamati lukisan. Arya menoleh menatap Sekar. Matanya meminta penjelasan.

“Maksudnya?” sahut Sekar mengernyitkan dahi.

“Apa gue cuma bagian dari dinamika?”

“Apa gue bilang manusia bagian dari dinamika? Gue bilang manusia itu dinamis. Gue rasa, manusia yang membuat dinamikanya sendiri. Sama halnya dengan lo. Kalo lo gak terlibat dalam proses dinamika itu, ya lo mental. Lo bakal jadi stagnan.”

“Stagnan, ya? Sebenernya gak ada salahnya juga, tuh,” sahutnya sambil tersenyum simpul. Senyum yang tidak muncul dari sinar matanya, entah tertahan di mana.

“Stagnan dalam beberapa periode aja mungkin, ya. Tapi, kalo untuk waktu lama? Lo bakal jadi manusia purba,” kekeh Sekar. Arya mendengus, tapi bibirnya menyunggingkan senyum.

“Tapi, kalo gue mesti ngalamin dinamika yang sifatnya aneh gini, rasanya…” Arya menggantungkan kalimatnya. “Gue juga ngerasa di keluarga gue mulai ada yang berubah. Bokap gue maunya marah-marah mulu. Wajar sih, karena anaknya masuk ke persidangan, ditonton orang banyak.”

Sekar menopang dagunya dengan sebelah tangan. Tanpa sadar pandangannya mengarah ke Arya, sementara pikirannya berputar pada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi seputar diri Arya. Mau tak mau dia memikirkan sebuah lukisan yang tepat untuk menggambarkannya. Semrawut, abstrak. Tidak, itu sama sekali bukan gayanya. Entahlah, surrealis? Surrealis abstrak? Ah, bodoh!

“Sekar?”

“Eh? Kenapa?”

“Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu?”

“Hah?” Sekar tersentak menyadari bahwa matanya terpancang ke wajah Arya. Mukanya seketika memerah. “Maaf, gue gak ngeh. Gue lagi mikirin soal cerita lo itu.”

“Oh.” Sekilas terbersit rasa kecewa di diri Arya. Kecewa? Kenapa?

Belum habis waktu Arya untuk melamun dalam kebingungannya, teleponnya berdering. Dia hampir saja mengeluh saat melihat nama yang tertera di layarnya kalau dia tidak menyadari dia sedang di rumah Sekar. Pemuda itu meliriknya sekilas, lalu memutuskan hubungan di ponselnya. Ada perasaan aneh yang menyeruak di hatinya, membuatnya gugup untuk mengangkat telepon dari mantannya itu.

“Lho, gak diangkat?”

“Gak, ah. Mantan gue.”

 

 

…..bersambung…..

Bhasmī Bhūta

“Jadi?” Setelah beberapa lama mereka meneliti buku itu, Sekar mengamati reaksi Arya. Pemuda itu tampak kebingungan, lebih banyak membolak-balik kumpulan kertas dengan warna yang mulai kecokelatan karena termakan usia itu.

“Di sini disebutin kalo lepasnya ruh dari tubuh manusia hanya disebabkan dua hal, yaitu kematian dan tidur. Maka, beberapa pendapat menyatakan bahwa tidur adalah suatu kondisi mati suri yang sifatnya hanya sementara. Sementara kita tidur, ruh kita bisa saja melayang di tempat lain…” Arya mengingat-ngingat. Sekar hanya bisa menunggu.

“Waktu itu gue ngerasa justru ruh gue keambil, trus pingsan.”

“Ya, cocok,” sela Sekar. Arya menghentikan omongannya.

“Trus gue tiba-tiba ada di tempat yang lain, tapi gue sadar. Berarti ruh gue balik, kan?” Dia menoleh meminta pendapat Sekar. Gadis itu mengangguk ragu, tidak yakin akan arah pembicaraan Arya. “Tapi, gak sepenuhnya. Apa mungkin ruh baliknya gak utuh?”

“Bentar, bentar.” Sekar menghentikan Arya dan asumsinya, lalu membolak-balik buku itu. “Di sini ada definisi ruh, kan? Lihat, Sebagian ulama berpendapat bahwa ruh adalah suatu benda serupa gelombang cahaya yang sifat intinya sangat halus. Ruh tidak dapat terpisah atau terkoyak, dan tidak pula terangkum dalam dimensi panjang atau lebar.

Arya mendesah, “Trus? Kenapa gue bisa beda kalau ruh gue kembali baik-baik aja?”

“Gini,” sela Sekar, memejamkan mata. Otaknya berputar keras. “Anggep ruh itu yang mengaktifkan badan. Kalo gak ada ruh, otot kita gak kerja, jantung kita gak berdetak, kita sama aja mati, sekalipun organ-organ tubuh kita masih bagus. Otak juga diaktivasi oleh ruh, kan? Gimana kalo ruh dan jasad itu bisa bersatu dengan baik kalo sebenernya ada sinkronisasi antara mereka?” jelas Sekar, mengangkat alis ke arah Arya.

“Oke,” angguk Arya, semakin tertarik.

“Nah, gimana kalo mungkin ada sesuatu yang bikin sinkronisasi antara ruh dan badan lo itu ilang. Kalo di dunia medis, jelas namanya penyakit fisiologis. Nah, gimana kalo penyakit lo ini sifatnya lebih gaib?”

“Maksudnya?”

“Gimana kalo lo disantet? Jadi, ruh sama badan lo itu jadi gak sinkron karena dihalangin oleh kekuatan itu.”

“Hah? Serius lo?! Zaman sekarang emang masih ada maenan kayak gitu?”

“Ya ampun, baca berita, dong. Itu orang yang tubuhnya keluar kawat atau paku gimana tuh, ceritanya?”

“Tapi, tubuh gue baik-baik aja.”

“Mungkin santet itu gak nyerang fisik lo, mungkin nyerang ruh lo. Mungkin yang sakit itu ruh lo.”

“Kayaknya interpretasi lo lumayan gila.”

“Iya, sih,” sahut Sekar, menghela nafas. “Tapi, gak ada salahnya nyari tau soal itu, kan?”

Arya mengedikkan bahu dengan wajah putus asa. Kalau dia harus mencari tahu segala tentang dunia ruh ini, jelas akan memakan waktu yang lama. Rasanya terlalu abstrak. Sesuatu yang tidak terikat dengan materi di atas bumi pastilah jauh lebih sulit untuk diraba, baik dengan tangan maupun dengan pikiran.

“Mending cari di internet, deh,” keluh Sekar tiba-tiba. Dia mengamati rak-rak yang berderet kaku dan bisu. Seolah sedang menantang manusia untuk beradu diam dengannya. “Gimana kalo lanjut di kontrakan gue? Deket sini, kok.”

…..bersambung…..

Bhasmī Bhūta

(Lanjutan Bab II : The Social Contract)

 

Buku The Social Contract itu berada di mata Arya saat ini. Dia tersenyum dan mengambilnya. Sekar menyisir rambut ikalnya yang tidak tersisir dengan jemarinya. Dia tidak percaya dia sedang duduk berdampingan dengan pria yang baru dikenalnya dua hari yang lalu sepagi ini. Bahkan jarum jamnya belum menunjuk pada angka delapan. Rasanya hidupnya beralih ke arah yang aneh. Bahkan, perasaannya tentang pemuda ini begitu aneh.

Saat dia terbangun karena dering ponselnya itu, dia keheranan melihat nomor telepon yang tidak dikenalnya menghiasi layar itu. Namun, begitu mengangkatnya, entah kenapa dia langsung mengenali suara itu. Lagipula, teman-teman lelakinya jarang menghubunginya lewat telepon. Dan setengah jam kemudian, dia sedang duduk bersama si penelepon, memandangi patung abstrak kelabu yang seolah sedang balas mengamatinya.

“Udah selesai?” sahut Arya, menyadarkan lamunannya.

“Buku paling ngebosenin yang pernah gue baca,” sungut Sekar, menggeleng-gelengkan kepala. Saat ini mereka berada di depan bioskop TIM, duduk menggelesot di terasnya.

“Hebat juga lo bisa nyelesein buku ngebosenin ini dalam dua hari.”

“Yah, berhubung gue males terlibat lama-lama jadi mending diselesein aja cepet-cepet,” tukasnya sambil meringis. Sekar menatap pemuda yang lebih muda empat tahun darinya itu tiba-tiba termenung. Pandangannya agak…agak apa? Sekar sulit untuk memutuskan. Muram? Dia membalik halaman buku itu tanpa membacanya. Pertanyaan di benak Sekar semakin menggunung.

“Kalo bukan karena buku itu, kenapa lo ngubungin gue? Pagi-pagi pula. Ada apaan?”

Arya membeku. Buku itu ditutupnya. Matanya bergerak ke arah Sekar. Dengan penuh pertimbangan, dia memulai,

“Gak tau.” Dia tersenyum kecut. Sekar hanya mengernyit. “Yah, gak tau kenapa. Aku ngerasa harus nelpon lo aja. Aneh, ya?” lanjutnya, dengan nada meminta maaf. Mendengar pernyataan luar biasa ini, Sekar hanya dapat menggaruk dahinya pelan. Dia lalu terdiam, otaknya seakan tersetrum ingatan yang baru disadarinya sekarang.

“Oh, ya ampun!” seru Sekar tertahan, membuat pemuda itu terkesiap. “Gue baru inget, lo kan cowo yang di TV itu? Yang diwawancara soal kecelakaan itu?”

“Lo liat beritanya?”

“Iya, pantes gue ngerasa muka lo tuh gak asing.” Arya tersenyum kecut, rasa malu menyergap kesadarannya. Dia hanya menunduk dengan wajah merah, memainkan buku yang berada di tangannya. Sekar menyadari kecanggungannya. Apa dia merasa malu?

“Emang kejadiannya gimana, sih?” tanya Sekar, mencoba menghindari kecanggungan itu. Arya menghela nafas, rasanya tak rela kembali memutar kembali rekaman tentang peristiwa aneh yang menimpanya. Namun, itulah alasan dia menghubungi gadis yang baru dikenalnya itu. Dia kembali menceritakan persis seperti yang dia laporkan kepada polisi tempo hari. Dia lalu menyudahinya dengan tatapan cemas.

“Nah, aneh, kan?” Tangannya terhempas ke pangkuannya begitu saja setelah dia menjelaskan dengan berapi-api tentang gadis yang dilihatnya malam itu dan bagaimana dia kehilangan ingatannya. Sekar masih saja mencoba mencerna arti semua itu. Dia memutar otaknya dengan keras.

“Iya, sih. Aneh,” sahutnya tak yakin.

“Nah, yang bikin gue khawatir itu entah kenapa otak gue sejak itu gak berfungsi dengan baik sejak kejadian itu. Orang bilang sih, karena gue masih trauma.”

“Bisa jadi. Kalo soal itu, ya mesti diobservasi lagi.”

“Tapi, lo percaya kan sama gue?”

“Percaya, kok,” sahutnya.

“Serius?” Arya menoleh dengan cepat hingga hampir mematahkan lehernya. Dia mengaduh pelan, memijat bagian belakang lehernya. “Kenapa?”

Sekar menimbang-nimbang jawabannya. “Yah, banyak kan, hal-hal yang gak bisa dijelasin dengan akal sehat. Misalnya, alam gaib. Mungkin ada hubungannya sama alam gaib kejadian malem itu?”

“Masa, sih?”

“Kan, elo yang bicara soal roh lo seakan terlepas dari badan lo. Bukannya gak mungkin, kan? Kayak orang kesurupan?” Sekar menaikkan sebelah alisnya pada Arya, memandang dengan yakin. Arya tak teryakinkan sepenuhnya, tapi dia mencoba menatap Sekar dalam-dalam. Ada perasaan aneh yang menyelusupi hatinya, perlahan kepercayaan yang ganjil mulai merasukinya. Seolah ada sihir yang mengikat kehidupan mereka.

“Sini!” Sekar menggamit tangan Arya, menarik tubuh pemuda itu. Arya tersentak oleh tangan yang tak sepenuhnya halus itu. Ada bagian yang mengeras mungkin akibat terlalu lama memegang kuas. Namun, kehangatan yang mengalir dari tangan itu memberikan Arya sedikit kekuatan. Rasanya pemuda itu luluh di tangan Sekar, mungkinkah karena perbedaan usia yang membuatnya segan?

Aroma kertas lapuk menyergap hidung Arya saat mereka memasuki ruangan yang berpenerangan remang-remang itu. Suasana di sekelilingnya sepi, seolah ada ritual keramat yang tengah berlangsung. Rak-rak kayu berderet menopang beratus-ratus buku yang berjejeran, berdempetan. Sekar berdiri berkacak pinggang, memerhatikan indeks huruf yang tergantung di sisi masing-masing rak. Tak lama jemarinya menyisiri buku-buku di salah satu rak.

“Lo nyari apaan?”

“Ini,” sahut Sekar mengeluarkan salah satu buku tentang spiritualisme, dunia ruh dan kegaiban. Arya membusungkan dadanya, melipat tangannya di depan dada. Tatapannya dipenuhi dengan keraguan. Sekar tersenyum penuh arti.

…..bersambung…..

Bhasmī Bhūta

“Sekar, ayo!” Banowati menarik tangannya untuk memasuki wilayah perkuliahan mereka.

“Kita ngapain, sih?”

“Ketemuan ama juniornya temen gue. Katanya ganteng, lho.” Mata Banowati memancarkan cahaya saat meyakinkan Sekar akan ketampanan pemuda yang ingin ditemuinya itu.

“Trus, ngapain ngajak gue?”

“Ya, gue kan gugup, Kar.”

“Plis, deh. Boong banget lo,” tukas Sekar, meyakini bahwa kepercayaan diri gadis itu terlalu tinggi untuk merasakan kegugupan.

“Beneran,” tukas Banowati mencoba meyakinkannya. Sekar hanya mengedikkan bahu.

“Lo ngapain ketemuan sama dia? Dia kan, anak FISIP?”

“Kemaren itu gue ketemuan sama temen gue, anak FISIP UI juga. Nah, kebetulan gue liat dia. Gue penasaran, dong.” Sekar menggeleng-gelengkan kepalanya dengan putus asa. Gadis ini tak sudah-sudahnya mencari pasangan hidup terbaik untuknya. Namun, selalu kandas bahkan sebelum memulai.

“Kalo junior, berarti masih muda, dong.”

“Gak ada salahnya sama daun muda.” Banowati lalu menunjuk-nunjuk dengan antusias ke arah seorang pemuda berkacamata yang duduk sendiri di kantin Taman Ismail Marzuki, yang biasa dikenal dengan singkatannya, TIM. Dia tampak sedang membaca sesuatu.

“Oiya, kata temen gue juga, nih. Kemaren dia sempet terlibat kasus kecelakaan, sejak itu dia jadi aneh gitu. Biasanya gaul, jadi sering menyendiri. Trus, nilai-nilai dia pada jatoh semua pas kuis. Untung cuma baru kuis doang. Kasian, ya. Mungkin masih terpengaruh sama kecelakaan itu kali, ya.”

Sekar mengedikkan bahu tak peduli, yakin bahwa rasa iba Banowati itu terbatas untuk orang-orang yang menarik hatinya. Begitu mereka mendekat, pemuda itu mengangkat wajahnya. Sekar akhirnya memahami kenapa Banowati begitu tertarik pada lelaki yang lebih muda darinya itu. Kulitnya putih dengan mata yang bersinar cerdas. Wajahnya seolah terpahat sempurna, dengan lekuk yang menambah ketampanannya. Namun, entah mengapa Sekar merasa tak asing dengan wajah itu.

Dia berdiri untuk menyambut Banowati dan Sekar. Banowati langsung menyalaminya dengan antusias. “Eh Arya, sori gue bawa temen. Gak apa-apa, kan? Kenalin, Sekar.” Arya menatap wajah gadis yang berkulit kecokelatan, tapi tampak manis itu. Kesan suku Jawa terlihat kental pada wajah gadis itu. Dia pun tersenyum seraya mengulurkan tangannya.

Sekar menjabat tangan itu. Dia merasakan ada sensasi aneh yang mengalir dari jemarinya saat bersentuhan dengan pemuda itu. Mungkin hanya karena dia mengagumi ketampanannya, tak lebih. Tak lama, Banowati langsung bercericau tentang masalah sosial dan politik di Indonesia. Dia menyatakan bahwa dia sedang melakukan riset tentang itu. Sekar tahu itu hanya taktiknya mendekati pemuda itu. Dalam kesenggangannya, dia meraih buku yang tampaknya terlupakan oleh pemiliknya.

The social contract[1]…,” gumamnya. Mungkin salah satu literatur jurusan FISIP, yang pasti Sekar sama sekali tak tertarik. Hanya karena ingin memberikan keleluasaan bagi Banowati, maka dia membuka-buka buku itu. Seluruhnya dalam bahasa Inggris. Sekar baru saja berniat membuangnya ke tempat sampah saat suara bass itu menyapanya,

“Mbak tertarik juga sama sosial-politik?” Arya dan Banowati kini tengah menatapnya membuka lembaran buku itu. Tidak sama sekali, itulah jawaban yang tepat. Namun, Sekar tak yakin apa hal itu akan menyinggung pemuda di depannya itu.

 

(Politic article that I wrote : Koalisi yang Inkonsisten)

 

“Yah,” Sekar menutup buku itu, menggumamkan jawaban tak jelas.

“Bawa aja, mbak.” Pemuda itu mengeluarkan senyum yang meruntuhkan hati Sekar. Dia mengangkat alis, terpana sejenak. Antara keterpanaannya melihat sebentuk wajah tak bercela itu dan keberuntungannya memperoleh tawaran menggiurkan untuk membaca buku yang menurutnya membosankan itu. Ia mengutuk dalam hati. Sekarang dia terbebani oleh buku yang isinya tak akan dipahami oleh gadis itu. Namun, ada hal lain yang begitu mengganggunya. Rasanya dia belum terlalu tua untuk dipanggil “mbak” oleh siapapun.

“Jangan panggil gue mbak. Panggil aja Sekar.”

“Oh,” sahut pemuda itu, membulatkan bibirnya. Dia kembali menatap Sekar dalam diam, membuat gadis itu salah tingkah. “Oke, Sekar.” Dia tersenyum lagi. Sialnya, cara dia menyebutkan nama Sekar lagi-lagi membuat dada gadis itu berdebar kencang. Dia sungguh terperangkap dalam pesonanya dan itu bukan pertanda bagus. Gadis itu langsung bertindak,

“Ya udah, gue bawa bukunya, ya. Gue ada perlu lagi, nih. Gue tinggal, ya.”

“Lho, kemana?” Kali ini Banowati yang sangat tahu bahwa Sekar tidak memiliki janji lain, membuka suara.

“Mumpung ke sini, gue mau ketemu dosen. Biasa, konsul.”

“Boleh minta nomor lo?” sahut Arya cepat, menghentikan Sekar yang baru saja hendak berbalik. Dia terkejut oleh kelugasan pemuda itu. “Jadi, gampang kalo mau balikin bukunya.”

“Oh, iya. Boleh.” Sekar begitu gugup sehingga yang terpikir olehnya adalah mengambil sehelai tisu yang tersedia di meja dan menuliskan deretan angka di atasnya. Sekar yakin wajahnya mulai memerah, sehingga dia berpamitan tanpa berbasa-basi lagi. Arya meraih tisu bertuliskan angka itu dan memandangi Banowati dengan pandangan heran. Gadis itu terkikik.

“Sori, temen gue emang aneh.”

…..bersambung…..

[1] Buku karya Jean Jacquess Rosseau

 

(I also wrote short stories, check it out here : Just Another Dawn)

Bhasmī Bhūta

BAB II

THE SOCIAL CONTRACT

Arya menatap kosong dinding kamar kosnya, tidak berbuat sesuatupun. Bulan ini telah mencapai bulan keempat, artinya tidak lama lagi dia akan menempuh UAS untuk semester keenam ini. Namun, sejak kejadian itu, tubuhnya belum lagi berkehendak untuk bangkit dan melawan apapun yang sedang bercokol di hatinya saat ini.

Pemeriksaan kepolisian atas kasus tabrakan itu masih menghantui, sekalipun sudah diputuskan ia tidak terpanggil lagi. Baik sebagai saksi, maupun sebagai terdakwa. Bebas, tapi sesuatu masih membayangi.

Ada apa dengan dirinya? Dia sendiri belum menemukan jawaban. Masih terbayang di pelupuk matanya ayahnya yang murka atas keterlibatannya dalam peristiwa yang diketahui khalayak luas itu. Ibunya memandang dengan cemas, terus-menerus berusaha membelanya, menenangkan sang ayah. Bahkan, adiknya pun mencercanya karena kini dia dibombardir oleh teman-temannya yang kebetulan mengetahui bahwa Arya adalah kakaknya.

Kenapa? Kenapa anak emas itu terlibat peristiwa memalukan itu? Pertanyaan itu tidak hanya terlontar dari mulut orang-orang di sekelilingnya, bahkan dosen-dosen dan rekan seperjuangannya di bangku kuliah, tetapi juga dari batinnya sendiri yang kini menyiksanya dengan lontaran-lontaran kalimat kasar. Pemuda itu menarik nafas, menggerakkan persendian tubuhnya.

Dering telepon itu menghentikan gerak tubuhnya. Dia mengangkatnya, “Halo?”

“Halo, ini Arya, ya? Gue dapet nomor lo dari temen gue. Katanya lo bisa bantu gue soal kajian sosial-politik Indonesia?”

“Iya,” sahutnya ragu. “Ini siapa, ya?”

“Kenalin, Banowati.”

…..bersambung…..

Bhasmī Bhūta

“Oi Sob, gimana kabar lo?” tukas Arya saat dia menjenguk temannya yang kini berstatus tersangka itu. Tangannya masih berbalut perban dan masih tampak guratan-guratan bekas kecelakaan di mukanya. Dia mempersilakan Arya masuk dengan lesu, lalu duduk dengan menopangkan kepalanya pada kedua tangannya. Pemuda itu menghela nafas berat. Sementara itu, Arya hanya dapat menepuk pundaknya untuk menenangkannya. “Sori,” bisiknya.

“Harusnya gue pulang bareng lo aja kemaren,” sahutnya lirih, menyesali keputusan bodohnya semalam. “Mana Yola masih di rumah sakit, gak sadar. Sumpah, gue ngerasa bersalah banget, Ya.”

“Yah, udah kejadian. Yang pasti jadi pelajaran aja buat lo.”

“Gue sumpah gak mau nyentuh minuman keras lagi!” tekadnya, mengepalkan kedua tangannya di lutut. “Semoga Yola gak kenapa-kenapa,” bisiknya lagi, setengah berdoa.

“Amiin. Gue barusan nengok dia, kondisinya stabil kok, kata dokter. Cuma masih dibius aja, makanya masih gak sadar.”

Temannya itu mengangkat kepalanya, memancarkan mata yang penuh kelegaaan. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Dia tertunduk malu, mengurut pangkal hidungnya. Arya memandanginya dengan penuh simpati.

“Nah, lo sendiri gimana? Lo bakalan disidang katanya?”

Dia mengangguk lesu kembali. Namun, tampak kepasrahan melandanya. “Iya, gue pantes dapetin itu. Untung orang yang ketabrak gak ada yang meninggal. Cuma ya, ganti ruginya lumayan gede. Malu gue sama bonyok gue,” sahutnya panjang-lebar, menarik nafas.

“Tenang aja. Gue yakin bisa diringanin asal lo mau kerja sama, bilang lo ngerasa bersalah banget.”

Pemuda bertubuh jangkung itu tersenyum. Arya mengambil jeda sejenak, menimbang-nimbang kata-kata yang akan ditanyakannya.

“Trus, gue mau nanya sama lo, nih. Inget kan, gue pamitan duluan sama lo-lo pada?” Temannya itu menatap Arya dengan rasa ingin tahu, lalu mengangguk. “Trus kok tiba-tiba gue ada bareng kalian, ya? Lo tau gak sih kejadiannya gimana?”

Kerutan di dahinya menandakan otaknya sedang diperas di balik tengkoraknya. “Gue lupa, Ya. Lo tau kan, kalo gue mabok itu pasti gak inget semua-muanya. Tapi, gue inget pas lo pamitan.” Dia terkekeh dan Arya yakin dia mengingat bagaimana sikap Yola malam itu.

“Berarti gue cuma bisa nunggu Yola sadar, ya.”

“Emang kenapa, sih?” selidik temannya itu.

“Harusnya kan gue langsung pulang, tapi gak tau kenapa gue malah ada di situ sama kalian.”

“Maksud lo?”

“Pas gue sadar, gue lagi di tengah-tengah jalan. Gue ampe kaget tiba-tiba dikelilingin orang-orang sama mobil ambulans dan mobil polisi.”

Adrian mengangkat alis. “Lo di situ? Kok bisa?”

“Kalo gue tahu, gue gak bakalan nanya lo, deh,” desah Arya dengan nada putus asa.

“Apa lo gak jadi pulang?” sahut temannya itu keheranan. Arya hanya bisa mengedikkan bahunya sebagai jawaban. Kepalanya penuh oleh bayangan gadis terakhir yang dia lihat itu. Ada sesuatu pada diri gadis itu yang tak bisa dijelaskan oleh Arya. Mungkin dia telah terhipnotis kecantikannya atau tatapannya yang tajam itu. Dia tidak yakin ingin menceritakan hal ini pada temannya.

“Itu dia. Anehnya gue gak inget.”

“Apalagi gue. Gue kalo udah minum gak bakalan inget apa-apa.”

“Yola pasti inget, kan?”

“Biasanya sih, minum sebanyak apapun dia inget-inget aja. Tapi, gak tau juga, ya.”

Kata-kata itu menjadi kata perpisahan dengan temannya. Dia mengundurkan diri dari rumahnya setelah dia menenangkan pemuda bernasib naas itu. Yah, bukannya dia hendak mengatakan bahwa temannya itu tidak bersalah, tetapi dari puluhan pemabuk di bumi Indonesia ini, dialah yang kebagian nasib menabrak orang. Lalu, dia tersangkut-paut dengan itu. Arya mendesah memikirkan prosesi persidangan yang harus dia jalani. Pasti dia pun mendapat panggilan sidang, entah kapan.

 

…..bersambung…..

Bhasmī Bhūta

Arya duduk menggertakkan rahang di salah satu ruang kantor polisi. Polisi itu memborbardirnya dengan pertanyaan yang itu-itu juga. Bukankah dia sudah menyatakan semua yang dia tahu? Mengapa prosedur di tempat ini begitu berbelit-belit?

“Pak,” sapanya kepada salah satu petugas yang melewatinya. Dia mencondongkan tubuhnya, mengatasi kebisingan akibat mesin tik dan suara wartawan. Petugas polisi yang masih muda itu berhenti. “Kira-kira kapan saya bisa keluar?”

“Wah, belum tau, Pak. Tapi, masih ada prosedur lain yang mesti bapak ikutin.”

Dia menjawab singkat, lalu bergegas masuk ke ruangan, meninggalkan Arya yang tak puas. Pemuda itu mendengus kesal. Pikirannya mumet oleh berbagai macam pertanyaan dan juga suara jepretan kamera wartawan yang sesekali masih terdengar. Belum lagi, suara wartawan yang menambah bising suasana di sekitarnya.

Berapa kali pun dia mengingat kejadian tadi malam, dia meyakini bahwa dia telah pulang jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Dia memejamkan matanya, mencoba mengingat apa yang terjadi malam itu. Kilasan gambaran dia keluar dari diskotik menuju mobilnya bergantian memenuhi otaknya. Lalu, seorang gadis.

Ya! Ada seorang gadis! Dia menegakkan kepala, mencari salah satu petugas yang tadi menginterogasinya. Baru beberapa menit kemudian, dia mendapat keberuntungan. Salah satu petugas itu melewatinya. Dia berdiri untuk berbicara pada pria berkumis itu.

“Pak!” sahutnya. Pria berperut buncit itu mengangkat alis. “Saya inget, sebelum saya pulang, saya ngeliat ada gadis yang rambutnya disanggul.”

“Menurut kamu, ada hubungannya sama kejadian ini?”

“Saya gak tau, tapi sebelum saya kehilangan ingatan, saya inget saya ngeliat dia, trus saya deketin dia. Abis itu, saya tiba-tiba gak tau apa-apa lagi.”

Pria paruh baya itu mengernyitkan dahi dengan ragu, menatap pemuda di hadapannya. Mata itu menyala terang, menunjukkan keteguhannya.

“Oke, nanti saya balik ke kamu.” Pria itu berlalu. Arya mendesah, hanya itu yang dapat dia lakukan. Entah berapa jam dia menunggu di situ, bagian belakang tubuhnya telah kebas karena duduk di kursi kayu yang keras itu. Seperti janjinya, polisi itu kembali mendatanginya dan membawanya ke ruang periksa. Dia menambahkan keterangan tentang gadis yang dilihatnya pada malam itu.

“Jadi, siapa gadis itu?”

“Saya gak tau, gak kenal, Pak. Tapi, saya inget banget, jam 12 lewat saya keluar dari gedung, trus ngeliat gadis ini, Pak. Kulitnya putih pucat, rambutnya disanggul gitu, wajahnya gak terlalu keliatan soalnya gelap, tapi yang saya inget wajahnya cukup cantik.” Arya tak yakin kata “cukup” tepat untuk mendeskripsikan kecantikan khayali itu. Namun, rasanya menggambarkan keterpesonaannya akan wanita itu tidak tepat untuk dilakukannya saat ini.

“Lalu, menurut Anda apa hubungannya dengan kejadian ini?”

“Saya gak tau, Pak. Masalahnya, setelah saya liat dia, saya lupa semuanya. Tiba-tiba saya bangun udah di lokasi kejadian. Udah penuh polisi dan ada ambulans. Tapi, saya gak inget apa-apa selama 2 jam lebih dari waktu saya keluar gedung sampe kecelakaan itu. Mungkin kalo gadis itu ditemuin, dia bisa ngasi tau saya ngapain.”

“Selain dia, mungkin ada orang lain yang ada di situ?” Arya mengernyitkan dahi, memutar otaknya dengan keras. Selain gadis itu…

“Ada satpam, Pak! Ada satpam gedung pas saya keluar.”

“Anda berinteraksi dengan dia?”

“Cuma nyapa aja pas keluar. Udah, gitu aja.”

“Selain itu? Ada orang lain lagi?” Arya menggelengkan kepalanya dengan yakin. Polisi itu membuka pintu ruang itu kemudian memanggil salah satu rekannya.

“Coba kasih ciri-ciri gadis itu supaya kami bisa identifikasi mereka.” Selama lima belas menit penuh, Arya kembali dipaksa untuk mengingat detil tentang gadis tak dikenal itu. Setelah sketsanya selesai, Arya diperbolehkan keluar dari ruang periksa. Dia disambut oleh wanita yang dia kenal dengan baik.

“Arya,” seru seorang wanita berkulit putih dengan mata yang sama dengan Arya. Dia masuk didampingi oleh seorang petugas polisi, menghampiri Arya dengan berlari. “Aduh, kamu gak apa-apa, sayang?”

Arya tersenyum senang, teramat lega dengan kehadiran wanita mulia yang disebutnya Mami itu. “Mi!” sahutnya, tak kuasa menyembunyikan nada lega. Di belakangnya, seorang pria mengikuti dengan wajah memerah. Dan Arya tahu dia berada dalam masalah.

“Nah, Bapak sama Ibu cuma perlu ngisi formulir ini sebelum pulang.” Ayah Arya mengisi formulir itu dalam diam, sementara ibunya meremas-remas tangan dengan gugup. Setelah beberapa nasehat tentang minuman keras dan berkendara di tengah malam, akhirnya Arya diperbolehkan pulang bersama kedua orangtuanya.

“Bikin malu!” bentak ayahnya, ketika mereka berada di dalam mobil. “Kamu ngapain tengah malem mabuk-mabukan?!”

“Pi, aku gak minum sama sekali,” tegasnya. Entah telah berapa kali dia mengatakan kalimat ini. “Kalo Papi gak percaya sama aku, ayo kita ke lab sekarang, tes urine.”

“Trus kamu ngapain sama temen-temen begundal kamu itu?!” bentaknya, seolah bertekad menyalahkan anaknya.

“Aku gak bareng mereka. Aku lupa gimana aku bisa ada di situ, aku pulang sendirian, jam 12 lewat. Kan aku janji gak pulang lebih dari jam 1 sama Papi,” balas Arya tak kalah sengit.

“Mami percaya sama Arya, Pi,” tukas wanita itu. Ayahnya hanya mendengus.

“Bagaimanapun juga, dia udah terlibat. Kamu gak boleh make mobil lagi! Sampe Papi bisa liat kamu bertanggung jawab. Mana besok Papi mesti izin buat nebus mobil.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Arya tidak menjawab atau mencoba bersikukuh tentang pendapatnya. Dia paham tidak akan ada gunanya. Lagipula, dia tidak benar-benar butuh mobil kecuali saat dia ingin keluar bersama teman-temannya. Dia lebih suka mengendarai motor yang lebih praktis.

Yang kini memenuhi pikirannya, adalah gadis itu dan bagaimana dia bisa kehilangan ingatan. Terlebih lagi, dia tiba-tiba berada di lokasi kejadian. Apakah tubuhnya terhempas dari mobil? Dia hanya ingat, terbangun dalam keadaan terbaring di aspal dengan kacamatanya yang telah retak dan kepala yang luar biasa sakit, seakan telah terhantam sesuatu. Mobilnya pun ada di situ, tapi dia tidak ingat telah mengendarainya. Dia menggelengkan kepalanya yang masih berdenyut sakit, dalam hati bertekad akan menanyakan ini kepada temannya.

…..bersambung…..

Bhasmī Bhūta

“Wah, puitis juga lo, ya…,” goda Banowati. Sekar tersenyum penuh arti kepada Banowati. Gadis yang sebaya dengan Sekar itu balas tersenyum, masih menatap terpaku pada pemandangan absurd yang masih kasar di atas kanvas milik Sekar itu.

“Rencananya gue mau ngelamar jadi pramugari.”

“Hah?” Kata-kata itu berhasil membuat Sekar menoleh sepenuhnya, mengernyitkan dahi ke arah temannya itu. Sementara, yang dipandangi hanya mengedikkan bahu tak acuh. “Lo kan lulusan seni rupa? Kayak gue?”

“Udah gue putusin. Kalo ngegantungin diri sama seni rupa bisa susah hidup lo. Nah, jangan mulai bicarain Raden Saleh atau Basuki atau siapapun itu ya, mereka satu di antara seribu.”

“Ya, mungkin aja kita bisa jadi dua di antara dua ribu? Bukan perbandingan yang tinggi juga, kan…,” sahut Sekar dengan cuping hidung mengembang, sadar kalau sebenarnya kalimat itu lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Banowati menunduk, rambutnya yang ikal tergerai lunglai di bahunya. Dia mengibaskannya ke belakang. “Yah,” desahnya, berhenti tak meneruskan.

“Kalo lo maunya begitu juga sebenernya gak apa-apa, sih. Tapi, kayaknya berasa sayang banget. Lukisan lo kan, bagus.” Sekar menghela nafas pendek. Banowati hanya menatapnya.

“Ada yang pengen gue lakuin, sih…,” bisiknya pelan.

“Hah? Apa?”

“Gak ada apa-apa.”

“Kenapa, sih?” tukas Sekar, bingung. “Nah, kenapa gak ngelamar jadi ilustrator yang lo selalu omongin itu aja?”

“Gak pede gue.”

“Serius? Eh gambar sketsa lo tuh bagus tau, gak?”

Wanita cantik itu hanya tertawa menanggapinya, mengacak rambut temannya itu.

“Apa sih, lo?” sahutku, menepis tangannya.

“Gue numpang tidur, ya.”

“Lah, kok?”

“Iya, gue ngantuk banget, semaleman gak bisa tidur. Nanti siang gue mau ketemuan sama cowo ganteng yang kaya. Semoga gue nikah sama dia biar hidup gue seneng-seneng terus.” Banowati memainkan alisnya. Sekar mendengus geli.

“Eh, lo juga udah mesti mikirin cowo. Nanti jadi perawan tua.” Sekar hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. Banowati melangkahkan kakinya ke kamar Sekar.

“Bano!” panggil Sekar kemudian. “Gue mau beli sarapan! Lo mau, gak?!”

“Beliin buah, dong! Apel aja!” seru Bano dari kamar Sekar. Sekar menggeleng-gelengkan kepala mendengar pilihan sarapannya itu. Apel? Mana kenyang!

 

…bersambung…

Bhasmī Bhūta

Kamera beralih ke reporter yang menyatakan keraguannya akan kesaksian anak muda tersebut. Bagaimanapun, polisi telah meninjau lokasi dan terbukti dia bukan si pengemudi. Kamera sekarang menyorot salah satu petugas polisi yang datang meninjau lokasi kecelakaan. Gadis itu mengedikkan bahu tak tertarik, lalu melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk membuat kopi, santapan pagi harinya.

Menyeruput kopinya, dia menatap lukisan kelabu yang berada di studio kecilnya yang sebenarnya berstatus gudang yang disulap oleh Sekar. Dia adalah penganut realis, mengagumi pola gerakan manusia, membekukannya dalam lukisan. Maka, dirinya sendiri menganggap cukup aneh apabila tiba-tiba saja dia tertarik untuk menggali tentang aliran romantisisme. Apakah dia jenuh dengan lukisan dengan tema yang sama, entahlah. Sketsa kasar itu baru selesai dibuatnya dari pensil. Suasananya muram, suram. Angker, pun sepi. Entah apa yang merasuki dirinya kali ini, melukis sesuatu yang tidak biasanya ia lukis. Dia menghela nafas. Lukisan ini apakah juga akan gagal? Setidaknya, di mata dosennya yang terlalu selektif itu?

 

“Sekar. Lukisan lu itu seringkali tidak berjiwa. Gak ada luapan emosi di dalamnya. Coba lebih berani menghidupkan warna-warna di dalamnya, coba eksplorasi tema lukisan lo lebih dalam.”

Sekar menunduk, tidak memercayai pendengarannya sendiri. Sedari pagi dia telah mengagumi hasil karyanya sendiri. Dia puas. Ya, dia teramat puas, menganggap lukisan itu adalah masterpiecenya. Namun, ternyata dosennya yang berpengalaman puluhan tahun menganggap karyanya itu tidak seberapa.

“Gue denger lu mau ngadain pameran?”

“Lagi coba bicara sama sponsornya, Pak.” Sekar menahan diri untuk tidak menghela nafas penat di hadapan dosennya. Kelemahan hanya memicu semangat pria berambut putih berekor kuda itu untuk menyepak Sekar ke jurang keputusasaan lebih jauh.

“Lu belom siap! Gini, gua jujur udah bosen ngomong berulang-ulang sama lu. Eksplorasi, coba, gali terus potensi lu. Jangan terpaku pada bentuk yang udah ada. Jangan terpaku pada minat lu aja, itu artinya membatasi diri. Gua bisa ngerasain ketakutan di lukisan lu. Takut keluar dari kotak lu itu. Pokoknya, jangan temui gua lagi kalo lukisan lu belom bener-bener bebas dari ketakutan dan batasan-batasan itu!”

Sampai kapan? Bagaimana dia bisa tahu bahwa lukisannya telah menampilkan warna yang berbeda, yang lebih berani? Sejauh ini, dia selalu menggunakan berbagai macam warna, tidak terfokus pada satu warna. Maka, dia sama sekali tidak memahami pola pikir dosennya yang menganggap warna yang digunakannya tidak meluapkan emosi jiwanya? Sekar menunduk, menghela nafas. Tangannya yang memegang kuas bergetar. Jari-jemarinya terlalu kotor oleh campuran warna cat-cat yang selalu singgah, begitu cepat, tapi begitu enggan untuk pergi. Lukisan ini. Apakah dia sedang mencoba bereksplorasi? Tiba-tiba perasaan ragu menyelimutinya kembali. Akankah dia menyelesaikan lukisan yang tidak sesuai dengan gayanya ini?

Kuasnya lalu bergerak, memilih cat akrilik warna hijau tua, mencampurnya dengan warna hijau muda sedikit, juga sedikit warna cokelat muda. Dia terus mencampur hingga tercipta satu warna hijau lumut yang sempurna. Dia menggoreskan kuas berujung lebar, menciptakan warna latar belakang untuk lukisannya.

“Kar!”

Sekar tersentak saat seorang wanita yang kurang-lebih berusia sebaya dengannya telah muncul di depan pintu studionya yang terbuka. Wanita itu berkulit mulus, tiada satu tahi lalat pun yang menyambangi kulitnya, membuatnya bagai pualam berwarna mutiara. Kecantikannya selalu membuat gelisah para pria, keanggunannya melumatkan hati kaum Adam. Tinggallah kaum Hawa mengimpi dan mengiri padanya.

“Bano? Kok lo di sini?”

“Kok pintu lo biarin kebuka gitu aja, sih?”

“Ya, emang kenapa? Gak ada juga peralatan yang bisa dicuri di sini.”

Wanita muda yang baru saja berbicara melalui ponsel dengannya itu, bergerak mendekat. Sambil tetap berdiri, dia memperhatikan sketsa yang kini telah dihiasi sapuan kasar hijau lumut. “Lo tumben bikin lukisan suram gini?”

“Iya, gue pake satu tone warna, hijau, semua didominasi warna hijau, bahkan langitnya memantulkan warna hijau itu, nanti paling gue maenin gradasinya. Kali ini gue mau coba romantisisme, kayak Raden Saleh. Gimana menurut lo?” Gadis itu mengangkat alisnya dengan mata bersinar antusias. Temannya yang ditanyai hanya mengangkat bahu.

Jari lentik berkuku panjang terawat itu terangkat, hampir menyentuh permukaan kanvas, mengikuti garis sketsa yang belum tersentuh cat. Matanya menerawang, mungkin membayangkan pemandangan itu terpampang memenuhi pandangnya.

“Hebat. Ada kekuatan magis di dalamnya,” sahutnya dengan nada misterius. Sekar mendengus geli, ketidakpercayaan mewarnai matanya yang mengejek.

“Apaan sih, lo!” tukasnya. Dia kembali menjawil campuran cat yang menempel di palet dengan ujung kuasnya itu.

“Lho? Kok lo gak percaya, sih?” Dia berkacak pinggang, menonjolkan lekuk dadanya yang menjulang sempurna. Sekar menatap wanita yang kini berdiri di sampingnya itu. Bagi Sekar, dia adalah wanita sempurna. Sosok tubuhnya, kecantikannya, struktur tulang, hingga…pikiran itu terhenti. Dia tidak berminat membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan wanita lain, terutama temannya sendiri. Layaknya masing-masing karya memiliki jiwanya sendiri, kecantikan pun punya keunikannya sendiri.

“Ceritanya ini adalah sebuah sumur di antara semak belukar yang indah. Sendirian, berteman dengan makhluk-makhluk tak bernama, tak berwujud…”

 

…bersambung…