Category Archives: Cerbung

Bosan

Ini hal teraneh yang kualami. Bahkan, lebih aneh ketika mie keluar dari hidungku. Lebih menakutkan, jangan lupa.

“Aneh,” dia mengamatiku. “Kepala”-nya (aku rasa itu kepala?) meneleng ke kiri, ke kanan. “Kaki”-nya (aku tidak bisa benar-benar menggunakan kata ini dengan ikhlas, bentuknya terlalu mirip tangan) memutariku. Ke samping kiri, lalu ke samping kanan. “Kenapa kamu bentuknya abstrak gini?”

Kamu yang abstrak! Aku mau berteriak begitu, tapi kata-kata tertelan lagi. Didesak oleh ketakutan, insting untuk lari, bertahan dari peristiwa-peristiwa menyeramkan. Aku mau otakku bekerja, aku harus bagaimana? tapi ternyata dia pun lumpuh.

Matanya berputar di kepalanya, maksudku benar-benar berpusing cepat. “Jangan-jangan , kamu alien, ya?” Hanya intonasi suaranya yang membuatku sadar, bahwa dia sedang antusias, bukan ketakutan sepertiku.

Tunggu, ini mimpi, kan? Mimpiku sendiri. Dimana aku harus jadi pahlawannya. Dimana misteri jadi kenyataan dan yang nyata jadi pengganggu.

“Bukan. Aku tinggal di sini.”

“Nggak mungkin! Aku nggak pernah lihat benda kayak kamu!”

Benda? Dia terlalu keterlaluan! “Aku manusia!”

Mata itu tidak bercangkang, tapi aku tahu ia tengah memandangiku. Satu titik agak besar di dalamnya bergerak ke arahku. Mencitrakan dengan jelas wajahku sendiri, yang melebar, terkena permukaan cembung.

“Kalau iya, di mana rumah kamu?” nada suaranya menantang. Aku sedikit bersyukur bahwa ada hal-hal yang tak berubah. Suara, bahasa, lingkungan ini, setidaknya aku jadi tidak terlalu asing.

Mendengus kesal, dia sepertinya sombong, aku berbalik, menuju arah rumahku. Tempat dimana aku keluar dari lubang aneh dan justru keluar di pekaranganku sendiri. Satu rumah terlewati. Ini rumah tetanggaku, pasangan suami-istri beranak dua yang ramah, kemana mereka? Dua rumah, rumah yang ini, seorang kakek-nenek, yang terlalu sering dititipi dua cucunya. Rumah ini pun tampak sepi. Akhirnya aku berhenti.

Benda…, aku mengoreksi dalam hati, makhluk seperti manusia abstrak di belakangku mengikuti. Kaki (tangan) nya mengikuti. Aku menunjuk ke arah rumah ini.

Titik bulat di matanya bergerak ke atas, mengamati rumah yang memang menjulang agak tinggi daripada kami berdua. Kalau tidak, aku tidak akan bisa masuk, kan?

Dia terkikik. Setidaknya itu yang kupikir, karena suara itu aneh dan ganjil, membuatku merinding. Melengking dan terputus berdetak-detak, sama sekali berbeda seperti suara saat dia berbicara. Lalu, lengkingan itu berubah menjadi suara tawa, tapi tidak mengandung kegembiraan, malah seperti dengungan yang keji.

Dia tertawa, terus tertawa.(bersambung)

 

Catatan penulis :

16 days ago?! Udah selama itu aku nganggurin tulisan ini?

dan tulisan dadakan ini pun semakin aneh… 😀

Bosan

Aku bukan Alice. Dan aku bukan di wonderland. Aku hanya seorang gadis biasa yang tenggelam dalam mimpi sendiri. Seberapa bodoh itu? Tapi, aku tak mau berhenti. Belum, setidaknya.

Kakiku mulai lelah, otakku mulai mengawang. Rasanya sudah beberapa hari berjalan. Itulah yang terjadi kalau kau berada dalam ketidakpastian. Semua hal tampak jauh dan lama. Terseok, aku bisa merasakan bahwa kakiku mulai protes.

Ada yang bilang, Tuhan itu tepat waktu, mungkin benar, karena kini aku melihat titik cahaya itu. Aku melupakan letih, kakiku juga terlupa, karena ia kini berlari sekuat tenaga. Ketidakpastian adalah sesuatu yang menakutkan, ketidakpastian dalam kegelapan adalah tragedi.

Titik itu tentu saja semakin besar. Itu aturan dalam sebuah kisah. Kalau tidak, maka suatu kisah tidak akan ada artinya. Dia membentuk sebuah pintu. Dalam kegelapan, ia serupa rembulan dengan cahaya lembut. Kakiku melangkah menuju terang, membuatku ingat semboyan emansipasi wanita dari Kartini. Habislah gelap, terbitlah terang.

Ah, ini rumahku.

Aku berdiri di depan pagar hitam yang tertutup. Belum pernah aku segembira ini menemukan aspal yang di beberapa tempat berlubang. Selokan yang membawa segala macam bungkus makanan ringan anak-anak, yang dibuang sembarangan. Sudah berbau busuk, aku menghirupnya dalam-dalam. Baunya tidak sedap, tapi ini bau kenyataan, bau realita yang kukenal.

Mungkin aku berjalan dalam tidur dan alam bawah sadar menunjukkanku jalan keluar dari rumah. Lucu sekali. Aku menghela napas lega. Setidaknya, benar juga, Tuhan memberikanku jalan untuk keluar dari kebosanan. Kalau bosan, tinggal keluar rumah, seharusnya aku tahu. Salah satu guna manusia untuk manusia yang lain.

Dua rumah berselang, ditutup oleh dinding panjang, lalu jalanan beraspal membelah jadi dua bagian. Yang ke kiri dan yang ke kanan. Aku melihat satu bangunan ganjil di sana. Seperti patung tak berbentuk. Ada satu tungkai, yang agaknya kurang jelas, kakikah itu? Tidak, ia menapak, seperti tangan. Seperti orang yang tengah berdiri terbalik.

Kenapa aku mendekat? Karena aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Tiba-tiba dia, apapun itu, berbalik. Aku terbelalak.

“Aaaa!!!” dia, apapun itu, ikut berteriak. Kami berdua, berteriak dalam unison.

Manusia? Bukan manusia? Aku sudah jatuh duduk di aspal, dengan takut-takut menilai apapun itu yang ada di hadapanku. Semua bagian tubuhnya adalah organ manusia, tapi tampak berada di tempat yang salah. Tidak benar, tidak mungkin benar.

“Apa yang terjadi dengan wajahmu?” aku mengangkat alis mendengar pertanyaan itu. Aku baru menyadari bahwa ia juga tengah menilaiku. Menatapku seksama. Sepasang mata bulat, yang benar-benar berbentuk lingkaran, kini menyipit. Serupa bulan sabit. Sinar mata itu bisa kukenali setidaknya. Ia juga sama takut, takjub, tangar* kepadaku.

Dan kata-kata lenyap dalam kekagetan itu. Seharusnya aku yang bertanya, kan? Kenapa kelopak matanya berbentuk lingkaran, bukan almond sepertiku? Kenapa mata itu berada di pipi dan hidungnya malah mendongak ke atas? Kenapa kepalanya setengah botak seperti itu, dengan rambut terkepang di sisi kanan tubuhnya?

Kenapa tangannya di bawah dan tidak bersepatu?! (bersambung)

 

Catatan penulis :

Sampai di sini dulu… Siapa atau apa yang tokoh temukan itu?

Terus baca, ya…

*tangar : aku dapet di web kalau tangar itu sinonim hati-hati atau waspada

aku bikin catatannya, siapa tahu ada yang kayak aku, baru pertama kali denger kata itu hehe…

Enjoy!

Berapa lama? Sudah berapa detik dan menit aku dalam lorong gelap? Aku kehilangan jejak akan waktu. Semakin lama, rasanya semakin gamang. Rasanya seperti melayang dalam lubang hitam tak berujung, dasar pijakannya saja tidak bisa terlihat.

Aku berhenti melangkah. Takut. Ini mimpi, lalu kenapa bisa terasa menakutkan? Biasanya aku tidak pernah merasa takut dalam mimpi. Biasanya, aku jadi pahlawan dalam mimpiku, yang tidak takut pada bayangan apapun, pada sosok ganjil seperti apapun.

Yah, mungkin belum terlambat untuk kembali, aku pun menoleh. Cahaya dari kamarku sudah jadi titik kecil putih di tengah kegelapan. Lalu, seperti lampu bohlam yang mau putus, ia berkedip-kedip, hingga perlahan ia menghilang sama sekali.

Oh, Tuhan!

Tubuhku sudah condong, mau berlari ke arahnya. Jangan! ada suara di dalam kepalaku. Dia meyakinkan kalau itu lebih bodoh lagi. Berbalik lagi 180′, setidaknya aku tidak akan tersesat dalam lubang hitam. Maksudnya, pasti ada tujuannya dia terbuka, kan? Pasti ada lorong yang mengarah pada sesuatu. Benar, kan?

Aku berbalik, berjalan dalam kegelapan. Melayang antara ketiadaan yang semakin pekat. (bersambung)

 

 

catatan penulis :

oke, kuota internet mau habis,

daripada gak ngepost apa-apa sama sekali,

mending sampai di sini dulu.

Semoga ada yang mau baca dan ngikutin ^^

Sampai jumpa di cerita berikutnya!

Bosan

Navy-blue-and-black-wall-3D-image
gambar diambil dari http://www.newhdwallpaper.in

Kepalaku tergantung pasrah. Lunglai di leher penopangnya. Mataku terpancang ke atas, bukan pada langit-langit, malah lantai. Tubuhku berbaring saja di atas kasur. Kalau sudah begini, artinya satu : aku bosan. Saking bosannya, aku mencoba melihat dunia dengan cara terbalik. Biasanya aku tidak mendapat apa-apa, aku sedang bosan, ingat? Orang yang sedang bosan biasanya karena kurang inspirasi.

Temanku berjanji untuk menelepon. Rahasia, katanya, jadi mungkin menarik. Di hari yang membosankan ini. Apakah tentang temanku yang lain? Perempuan biasanya hobi membicarakan orang, mungkin juga karena kebosanan menjadikan drama kehidupan orang lain jadi menarik. Tapi, ia tak juga menelepon.

Medsos tidak menawarkan sesuatu yang menarik. Ternyata, medsos bisa juga berhibernasi. Dunia di baliknya mungkin sama saja, sedang tidak terinspirasi. “Apapun!” seruku pada langit-langit rumah yang bisu. “Apapun untuk menghilangkan kebosanan ini!”

Ia menjawab dengan gaung lemah. Itu karena rumah yang kosong, sedikit perabotnya. Suara malah jadi terpantul-pantul dan jadi lebih besar daripada seharusnya. Oh, betapa dunia manusia bisa menipu dengan baik!

Aku berbalik, menatap dinding. Ada sesuatu di sana, padahal ia kaku dan monoton. Mataku tak bisa lepas, aku terlalu bosan. Suara mengeklik, pelan. Sepotong balok kecil membuka. Aku mengernyit. Satu lagi. Aku mundur. Dua, tiga. Balok-balok, vertikal dan horisontal, bergeser, mendorong satu sama lain. Seperti puzzle balok itu, yang sedang mencoba mencari solusi lain daripada sekadar tembok.

Di tengahnya, lubang hitam menganga. Mimpi? Ya, tentu saja ini mimpi. Dalam upaya pikiran bawah sadar yang dilanda kebosanan, tanpa pelampiasan energinya yang bergolak, tentu saja mimpi adalah hal paling masuk akal. Aku menatap ke sekeliling, dunia nyata yang sunyi. Rak buku, dengan buku yang sedikit, banyak puing-puing kenangan terserak. Televisi, yang menawarkan acara-acara monoton, yang berkisar tentang drama-drama, maya dan nyata, yang jauh lebih membosankan.

Aku melangkahkan kaki. Di tengah kebosanan, ketidakpastian bisa jadi menyenangkan. Rasa takut digubah menjadi adrenalin yang menggoyahkan akal sehat.

Di lubang itu, aku kini melenyapkan bayanganku. (to be continued)