Category Archives: Cerpen

Dalam Peraduan yang Menghijau

 

117648-full
Gambar diambil dari http://www.scpr.org

 

Putih dipercaya sebagai awal. Yang suci. Yang bersih. Murni dari segala-gala.

Maka, bayi diliputi kain katun putih selembut kapas. Tangan kematian pun dilumuri oleh tinta putih yang membalut jasad. Lalu, pria dan wanita, yang baru saja memulai satu titik kehidupan. Semua berlumur putih. Putih dan putih.

Sepasang itu tersenyum malu-malu. Tersipu memerah. Oranye kelabu meliuk lembut di tangan yang berujung oranye pekat. Motif bunga terpapar di atas kulit itu. Bunga berdaun tipis. Mereka juga terbalut kain putih. Sutra dan katun. Linen tebal-halus meratapi peraduannya. Halal sudah menjadi ikatan mereka. Sesegera mungkin, agar tak terjebak dalam lingkaran zinah. Cepat, cepat, jadilah halal. Dan mereka pun halal.

Putih itu segera ternoda. Semburat merah merambat pelan, lingkaran yang melebar. Darah.

Tanda mereka memasuki dunia baru. Dunia yang sama sekali lain.

 

***

 

Darah.

Annissa gemetar. Di tangannya, darah yang lengket dan kental memerahkan ujung-ujung jemarinya. Apa yang harus dilakukan? Bagian bawah perutnya sakit seperti diremas, melilit hebat. Ia bisa merasakan cairan basah-lengket menetes menggerayangi pahanya. Tapi, dia tak bergeming. Hanya berdiri. Gemetar.

Darah.

Merah.

Meluruh.

Annissa berbaring, tapi matanya nyalang melebar. Dia terpaku di tempat tidurnya. Malam itu sudah lewat tengah malam. Kotanya telah tertidur nyenyak. Perumahannya sunyi, ditingkahi sesekali deru motor satpam yang lewat berjaga.

Tapi, kamarnya berang. Memekik dengan berisik. Annissa merapatkan selimutnya. Dia membeku, ketakutan. Suara apa yang didengarnya? Seperti orkestra dari tangan-tangan awam. Biola yang berdecit nyaring. Perkusi dari kaleng-kaleng berkarat. Piano dengan senar-senar terkelupas.

“Annissa! Sudah setengah jam anakmu menangis!” ibunya berteriak dari balik pintu. Ia tersentak. Suaminya, menggeliat sejenak, tapi tidur lagi. Mendengkur pelan.

Wanita yang masih terlalu muda itu tergeragap bangun. Kebingungan, di antara tangisan bayinya dan gedoran pintu ibunya. Ia melihat pintu, lalu melihat bayinya. Mana yang harus didatanginya lebih dulu?

“Annissa!” Wanita itu memekik panik.

“Oeee…” Bayi itu tersedu sedan.

Dia berjalan pelan. Ke arah tempat tidur kecil dengan balok-balok kayu putih yang kecil. Putih. Dan putih.

Di dalamnya, seprai putih. Terserak oleh tendangan kecil, tapi kuat. Bayi itu, pipinya penuh. Wajahnya memerah oleh kemarahan yang belum juga mencapai titik jenuh. Bayi yang kuat. Dengan paru-paru yang kuat. Dengan usus yang tak pernah kenyang.

Ia membeku, melihat makhluk kecil itu meraung-raung.

“Annissa!” panggil ibunya lagi. Ia tersentak, lagi. Lalu, berlari menuju pintu.

Di balik pintu, ibunya berdiri dengan wajah ketakutan. Bulu kuduk Annissa meremang. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Anak kamu nangis, Annissa, kamu nggak dengar?” Ia berbicara dengan suara lembut, hati-hati. “Boleh Ibu masuk?”

Annissa terpaku sedetik lamanya sebelum mengangguk pelan, ragu-ragu. Dengan gurat-gurat wajah lega lalu bahagia, ibunya mengangkat bayi itu pelan, hati-hati. Ia membisikkan kata-kata manis menyejukkan. Annissa masih terpaku di pintu, melihat anak itu terisak, tidak lagi berteriak, kelelahan. Ibunya, melirik sekilas ke arahnya, mengernyit keheranan.

 

***

 

Semua orang membisikkan kata-kata sabar. Allaah memberi kita kekuatan, kita hanya perlu mendekatkan diri pada Allaah. Annissa mengaji. Demi mendekatkan diri pada Sang Khalik. Itu yang selalu didengungkan orang-orang di sekelilingnya.

Mendekatkan diri pada Allaah. Dan memang, pada saat-saat itu, ia merasa tenang.

Tapi, bayinya tidak. Meraung-raung marah, memanggil sang ibu. Popoknya sudah lama basah. Ada pola kuning kecokelatan yang tercetak kering, membayang dari balik popok kain yang dikenakan padanya tanpa semaunya.

Yaa ayyuhal ladzii na ǎmaanu laa tulhikum waa amwaa lukum…” suaranya merdu mengalun. Ia adalah lulusan pesantren. Ilmu tajwid dikuasainya. Bahkan, sedikit lagi saja, ia akan menjadi hafidzah muda. Di usianya yang 18 tahun!

“Annissa!” Ibunya masuk dengan tergopoh. “Anakmu menangis, lho!”

Annissa mengangkat wajahnya. Di hadapannya, ibunya tercengang. Sembari memegang dua kantung plastik hitam besar. Dari dalamnya, mencuat batang-batang kangkung, lalu pucuk-pucuk jagung yang menguning.

Dia meletakkannya asal saja. Annissa menoleh untuk mengikuti gerak-geriknya. Ia memeriksa bayi malang itu, sambil tersenyum dan membisikkan kata-kata lembut. Annissa diam memerhatikan, dengan tatapan kosong. Seolah keduanya berasal dari jauh. Suara mereka juga terdengar sayup, jauh.

“Popok bayi kamu basah. Ada pup di popoknya, pantatnya bisa lecet kalau tidak segera dibersihkan. Kapan terakhir kali kamu kasih dia ASI?”

Annissa membuka mulut. Ia mencoba menjawab, lalu menutup mulut kembali. Mengernyit, seolah tidak paham perkataan ibunya.

“Anak kamu kurus, Annissa. Kamu harus perhatikan minum ASI-nya. Enam bulan pertama yang paling penting karena dia belum bisa makan yang lain.”

Mata Annissa yang sudah bulat semakin membulat.

“Bayi itu rentan, Annissa. Ibu tahu kamu baru soal ini, tapi ayo, belajar lebih baik lagi. Kamu mengaji, bagus sekali, Nak, tapi bayi kamu juga perlu perhatian. Mengajinya nanti dulu, urus anak kamu dulu. Begitu tidur, kamu baru mengaji lagi.”

Wanita muda itu meremas-remas tangannya. Ibunya kembali mengajarkan banyak hal tentang bayi. Ibunya melihat Annissa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kenapa kamu menggeleng-geleng?” Annissa mengangkat wajahnya, menatap ibunya dengan dahi mengernyit. Sang ibu balas menatapnya.

 

***

 

Seprai yang membalut kasurnya tak lagi putih. Begitu awal telah berlalu, putih itu pelan-pelan ternoda. Oleh warna-warna. Annissa berbaring menyamping. Bibirnya tersenyum, ia menyorongkan telunjuknya pada tangan bayi yang sedang bermain-main di udara. Tangan mungil itu menangkapnya. Bahkan, memasukkan jari itu ke mulutnya.

Annissa tercengang. Lalu, mendengus tersenyum. Jemari bayi itu lembut, serupa kapas. Mulutnya mengenyot, menyangka jari itu payudara. Ia tertawa-tawa sendirian, mencoba-coba pita suaranya sendirian. Bayi yang tengah belajar sendirian.

Sendiri.

Sendirian.

Seorang diri.

Bayi itu mencucup ujung jarinya. Lalu, menariknya keluar dengan suara mencecap keras. Annissa menatap ujung jarinya yang basah. Matanya terbelalak. Air liur seharusnya bening. Air liur seharusnya tidak berwarna.

Ia menyentakkan jarinya keras, mengagetkan bayi itu. Bayi itu mencibir, menggetarkan bibir bawahnya, lalu mulai menangis. Tangis itu pelan. Kemudian, bertambah keras. Keras dan semakin keras, karena tidak menemukan penenang. Jantung yang dulu berdetak lembut, begitu dekat dengan telinganya. Kehangatan yang serupa pelukan tanpa putus. Semuanya hilang. Bayi itu tersedu, kemana semua pelipur laranya dulu?

Annissa bangkit dari kasurnya. Hijau, itu warnanya. Sengaja dipilih ibunya untuk menenangkan jiwanya. Hijau, warna yang menenangkan. Warna rerumputan, warna…ketubannya.

Ia gemetar. Menatap tangannya sendiri.

Darah, begitu merah.

Rasa sakit yang melilit di perut bawahnya.

Aliran air deras bercampur darah dari vaginanya.

Tiba-tiba saja, bayi kurus seukuran botol sirup dijejalkan ke tangannya.

Ditidurkan secara paksa di dadanya, yang masih bergemuruh ketakutan. Sementara, bekas jahitan ngilu meremas seluruh syaraf di tubuhnya.  

 

***

 

Ibunya menghela napas kelelahan. Ia khawatir memang, meninggalkan bayi dengan anaknya sendirian. Betapa remaja yang masih limbung. Betapa remaja yang belum mencapai ujung. Tapi, ia juga harus mengurus akta kelahiran yang sudah telat dua bulan. Sidang dan bayar segala macam, betapa ribut administrasi kependudukan Indonesia ini!

Tapi, beberapa hari ini, Annissa begitu sayang pada anaknya. Hari-hari dimana ia bersikap aneh itu sudah berlalu! Hari-hari penuh kekacauan itu mulai pudar! Bahkan, Annissa sudah menyusui anaknya tepat waktu. Ya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Annissa, ibu pulang…” kata-kata itu terhenti di tengah jalan. Annissa dengan ujung jari yang berdarah. Berdiri gemetar. Merah itu merayap hingga perut bagian bawah menuju selangkangannya. Wanita muda itu menatap linglung ke arah wanita paruh baya.

“Mana bayiku?”

 

 

sampai

Besar, Semakin Besar

38874182-fire-wallpapers
Gambar diambil dari bsnscb.com

 

Dia semakin besar. Semakin besar. Tumbuh, menjalar. Sejak kapan ia datang?

Tanah berkerikil itu berderak. Bebatuan kecilnya terserak. Gadis berjilbab putih merapikan bros putih yang tersemat di dadanya. Membetulkan letak tali tas tangannya. Tas tangan itu berpotongan sederhana. Ia pun putih polos.

Tapi, ia bukannya mau menikah. Tidak ada aturan menikah dengan pakaian putih dalam Islam. Dan perbuatan apapun di luarnya, hanya memperburuk citra Islam. Ia punya visi. Untuk itu, ia harus menjalankan misinya.

Berdakwah adalah kewajiban dalam Islam. Tidak perlu seorang yang jenius untuk memahami itu.

Berdakwah tidak semata dengan kata. Seperti halnya pakaian monokrom ini. Ia tengah menjalankan teladan. Menunjukkan sebagaimana mestinya wanita Islam bersikap. Ini juga misinya.

Ia membuka sepatu. Membiarkan kaus kaki tetap melekat, seperti kembar siam, pada kakinya. Bangunan itu luas. Sinar matahari menyeruak masuk dari sela-sela jendela, mencetak cahaya-cahaya kotak-kotak di keramik yang berkilauan. Langit-langit tinggi yang membuat bangunannya serasa tanpa batas.

Bisik-bisik bergaung lembut. Seperti dengung lebah yang menari. Yang menyenandungkan ayat-ayat yang sungguh indah. Ia memejamkan mata, merasa masuk ke dunianya. Akhirnya. Siapa bilang tidak ada surga di dunia? Siapa bilang tidak ada lagi orang yang masuk akal di atas muka bumi ini?

Gadis itu mendatangi satu per satu penyebab bisik-bisik itu. Berjenis kelamin sama dengannya, bersifat sama dengannya. Mungkin ada yang bergaya sedikit berbeda, berhijab sedikit lebih pendek daripada standarnya, tapi biarlah. Ia bisa memaafkannya. Karena gadis itu, gadis dengan hijab pendek itu, mau di sini, menghabiskan waktu dengan Sang Khalik. Dan hamba-hamba setia-Nya.

Saat ia mendatangi, dada gadis itu tersembul dari sisi-sisi hijab yang terlalu pendek. Ia merasakan desis di dadanya. Semakin keras. Ia mempercepat salamnya, lalu berjalan menjauh. Kepada Muslimah yang lebih taat. Bukan peniru yang fasik.

Ia membuka buku kecil berpenutup kulit hijau kelam. Tinta hitam di atas kertas putih gading. Tinta hitam yang meliuk, membentuk huruf-huruf indah. Dengan sajak yang indah terdengar, indah terbaca. Ia memegang dadanya, merasakan sesak yang menyenangkan di sana. Ingin sekali berkumpul dengan pembuat sajak terindah di muka  bumi ini.

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

 

***

 

“Pengajiannya bagus. Ustadznya pintar, ya.”

“Iya, lulusan Universitas Madinah, tidak diragukan lagi.”

Bisik-bisik itu berubah jadi kalimat-kalimat panjang penuh kegembiraan. Gadis berjilbab putih menempelkan telunjuk di bibirnya. Mendesis. Wanita-wanita yang berbicara itu menutup mulutnya, tersenyum malu-malu. Menunduk tersipu.

Berdakwah tidak sekadar ceramah. Ia adalah setiap kata dan cara untuk mengingatkan. Menasehati. Dalam kebaikan. Dalam kesabaran. Huruf-huruf Hijaiyyah itu berputar-putar di benaknya. Kesabaran, menasehati dalam kesabaran. Ia mendesah pelan.

Suaranya sendiri bergaung di telinganya. Ia bergidik, rasa dingin menjalar. Membangkitkan sensitivitas setiap syarafnya. Ia tengah mendekatkan diri pada Sang Khalik. Dan, oh, ia merasa sangat dekat. Mungkinkah Dia berada pada nadi-nadinya, berbisik pada telinganya? Ingin bertemu dengan-Nya, ingin bersatu dengan-Nya.

Dunia hanya tempat persinggahan. Penjara yang lain. Begitu, bukan?

Di setiap sudut, ia hanya menemukan kaum-kaum yang menentang. Yang lebih mencintai manusia, lebih memilih dunia. Di setiap sudut, ia menemukan orang-orang fasik, mengaku Islam, tapi tidak mencintai Khalik mereka.

Dan perlahan, kemarahan tumbuh di dadanya. Pelan-pelan. Wajar ia marah. Ia mencintai Islam, ia mencintai Allaah. Ia ingin menjadi pembela-Nya. Ingin menyadarkan setiap orang yang menentang-Nya. Seberapa salah itu?

Wanita berhijab pendek itu berdiri. Ia menyelipkan ujung-ujung hijabnya ke belakang. Semakin jelas menampakkan dadanya di balik kaus spandek yang jelas menunjukkan lekuk tubuhnya. Di depannya, seorang wanita berhijab panjang seperti dirinya, mematut diri di depan cermin. Memoles bedak. Lalu, memulas warna-warna di seluruh wajahnya. Meronakan wajahnya.

Dan perlahan, kemarahan semakin besar di dadanya. Menyebar bagai spora. Pelan, meluas. Membesar. Ia besar, semakin besar. Ia mencoba mengingat beberapa kalimat yang menenangkan. Batinnya tidak tenang. Tapi, bukankah wajar? Ia ingin sesamanya juga mencintai Islam, seperti dirinya. Meyakini perintah dan larangan Allaah, seperti dirinya. Mendekatkan diri pada Khalik, seperti dirinya.

Seperti dirinya.

Seperti yang ia lakukan.

Seperti yang ia tanamkan baik-baik.

Seperti dia. Seperti dia. Seperti aku, bisiknya.

Ia mendengar lagi suaranya. Tapi, itu tidak seperti suaranya. Serak yang tidak sabar. Dengkur yang kurang ajar. Sesaknya berubah. Tidak lagi menyenangkan. Napasnya tersendat. Matanya menggeliat cepat. Sesuatu tumbuh di dadanya. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia tidak kenal. Sesuatu yang ditolaknya. Memakannya dari dalam. Ia merasakan semua menciut; pikirannya, perasaannya, nuraninya. Tuhannya.

Dan sesuatu itu besar. Semakin besar. Ia tumbuh mendesak-desak. Sejak kapan ia datang? Dada gadis itu terasa sakit. Ia mengingat-ingat lagi. Kata-kata. Berdakwah, menasehati, memberitahukan yang tidak tahu. Dalam kebaikan. Dalam kesabaran.

Kesabaran, kata apa itu? Ia kehilangan satu kosakata dalam kamusnya. Hari itu.

 

sampai

 

Hai,
Sudah berapa lama kita tidak bersua?

Satu hari? Dua minggu?

Tidak penting berapa hari. Waktu tidak akan sebegitu membodohi kita. Dia berkuasa, tentu, tapi tidak atas kita. Hari-hari kau tidak ada pun, sesuatu tertinggal. Mengikuti seperti hantu. Kau yang paling kupercaya.

Apa yang paling membingungkan selain hubungan? Mereka naik ke haluan, lalu turun ke lambung. Dan di setiap anak tangganya, mereka bercerita. Kau dan aku, pasangan tak terpisah. Kalau satu saat, Yang Kuasa tidak lagi mengizinkan kita bertemu, kau tetap akan ada di sampingku. Mungkin tersenyum mendengar cericau bodohku. Karena tak ada lagi kau sebagai penuntun.

Kau yang paling kupercayai.

Di depanmu, aku suka menutup pintu. Yang kukunci baik-baik. Kadang, tak kuizinkan kau masuk ke baliknya. Tempat di mana aku berpesta pora. Tempat aku melupakan keindahan batinmu. Tempat di mana aku mudah sekali terlupa, lalu tersandung.

“……………”

Hai,
Kau yang suka berkata-kata. Di satu tempat dalam bagianku, kau berdiri dengan angkuh. Mendikte. Mencaci. Mengoreksi. Kau sering terlupa aku punya kata-kata yang berbeda. Akan semua yang berlawanan. Nanti, kalau kita tidak bisa lagi bersatu, kita akan selalu memegang hal yang kita yakini. Bersama.

Lewat beberapa waktu, kita mudah sekali terpisah. Kau dengan lembar-lembar taktis, aku dengan angan-angan tentang kemuliaan obyek. Dan saat kita tidak bisa dipersatukan, aku hilang kendali. Persimpangan tidak bisa terlihat begini banyak. Setiap marka berputar tanpa mau menunjuk dengan jelas.

Hai,
Kita bertemu lagi. Dalam kondisi yang paling tidak memungkinkan. Tapi, apa yang lebih indah dari kemungkinan yang lahir dari kemustahilan? Lalu, aku melihatmu di ujung sana. Kau terus menanti. Aku tahu kau selalu ada di sana. Mungkin karena itu aku jadi begitu ceroboh.

Kau akan merangkulku lagi, kan? Dengan semua kemustahilan dua sisi yang bersatu. Melahirkan kemungkinan baru yang lebih luas.

Hai, apa kabarmu?

 

sampai

Waktu untuk Abah

Hidup itu apa, ya?

Susah-susah berjalan. Jauh-berbatu, kadang terseok, kadang tersandung. Mesti mampir di persimpangan dan bersiap untuk bingung. Jalan itupun tidak jelas. Ujung jalannya gelap, kalaupun terang, seakan tidak berujung.

Kalau sampai, harus meninggalkan semua yang sudah diperjuangkan. Lalu, pergi. Yang entah kemana.

Delima menggigit rotinya. Bola matanya bergulir. Sesekali ke kiri. Kemudian ke kanan. Orang-orang berjalan kaki. Cepat, entah kemana. Mobil, banyak mobil, berlalu-lalang, entah kemana. Dia menyadari begitu banyak yang ia tidak kenal. Lebih banyak lagi yang ia tidak tahu.

Abah kemarin menempuh jalan yang lain daripada orang-orang di depannya. Kalau dari mata telanjang, jalan itu pasti gelap. Karena Abah tidak membawa lampu. Dan jauh di bawah, semua diapit oleh warna cokelat gelap. Bagaimana lantas Abah menjalani liku-likunya?

Ah, ruang itu bahkan terlalu sempit untuk bergerak ke kanan ke kiri. Berguling saja tidak bisa. Akankah Abah bosan di dalamnya?

Waktu rupanya juga sama seperti manusia. Dia buru-buru dan tidak sabar. Akhirnya, mengambil Abah sebagai sekutu. Terbang bersama. Di lain waktu, dia begitu malas. Tubuh renta ia biarkan terus tertatih. Berjalan, biar pelan-pelan. Dan ia berjalan pelan bersamanya. Sungguh tidak konsisten.

Delima tidak tahu kenapa ia ada di sini. Apa yang harus diperbuat. Mungkin ia hanya ingin menantang waktu. Ayo, apa yang akan kau lakukan kalau aku membuang-buang kemurahan hatimu? Apa akan kau persingkat pula hariku?

Ia sudah tidak bisa bertemu Abah lagi. Dan itu membingungkan. Kebingungan yang membawa duka lebih besar dari apapun. Lelaki tinggi-besar itu tidak lagi terdengar jejaknya di rumah. Suaranya yang sedikit-sedikit itu. Bahkan, suara sandalnya yang menyeret itu. Semua tiba-tiba hilang.

Dan waktu enggan menjelaskan. Dia hanya…pergi.

Lebih membingungkan lagi, semua malah jadi lebih jelas begitu tubuhnya tidak lagi terlihat. Sebelum waktu menggandeng tangannya, ia suka berdengung. Ayat-ayat Al-Qur’an. Delima tidak pernah menanyakan. Ia tidak pernah sebegitu peduli untuk menanyakan. Namun, ia bisa menangkap sedikit-sedikit. Kalimat Allaah itu. Setelah Abah pergi, barulah ia tahu, ayat Al-Baqarah yang tengah dihapalkanlah yang sering ia dengungkan.

Dia berdengung di dapur.

Mendengungkannya di teras.
Mungkin juga ketika ia tidur.

Saat itu waktu tengah bermalas-malasan dengannya. Melihat matahari pelan bergerak. Saat-saat siang berubah jadi malam. Malam ke siang. Dengungan itu menjadi musik yang merdu buat mereka.

Waktu menikmati detik yang berjalan pelan. Ia sudah menemani lama dalam suka-duka. Ia yang bersorak kegirangan sewaktu Abah pertama kali menggendong anak perrmpuannya. Lalu, yang kedua, yang ketiga, yang keempat. Ia yang meneteskan air mata saat Abah harus berpisah dengan kakak lelaki satu-satunya. Ia sudah sesabar itu.

Delima menyuapkan potongan roti terakhir. Roti sudah habis. Waktunya belum. Katanya, “kau tahu aku akan setia. Tak peduli biar kau membuangku atau menyiksa. Sampai tiba saatnya, aku akan terus menemani.”

Hanya satu yang tidak pernah diungkapkan waktu dengan jujur. Sampai tiba. Kapan, dimana?

Begitu juga dengan waktu di sisi Abah. Ketika pria itu bertemu dengan malaikat berjas putih, ia menemani. Diam-diam berjalan bersama Abah dengan wanitanya. Wanita satu-satunya yang ia puja. Yang dengannya ia memutuskan untuk mengikat waktunya dengan waktu wanita itu.

Ikatan yang tumbuh jadi simpul berkarat yang susah lepas.

Waktu menangis bersama Abah. Ketika malaikat itu berbisik. “Sabar,” katanya. Karena itulah jadi menakutkan. Tidak ada yang akan menyuruh sabar kalau ia tidak tampak buru-buru. Satu kata yang justru menekankan makna anti-tesisnya. Begitu kuat.

Ia menatap tubuh tinggi-besar itu. Tergolek lemah di dalam pangkuan wanitanya. Bergulung. Kembali menjadi janin yang lembut. Terselubung oleh ketuban yang hangat. Waktunya tersenyum. Mengecup keningnya pelan.

Satu per satu sosok yang begitu Abah kenal. Berdiri gelisah. Seorang anak perempuan. Tiga orang anak lelaki. Tidak peduli seberapa tinggi mereka sekarang, mereka bocah-bocah kecil Abah. Dan waktu menangis.

Ia tidak sabar. Tapi, bagaimana merelakan keajaiban-keajaiban kecil yang tumbuh besar itu? Ia tidak mau menyiksa sahabatnya. Tapi, bagaimana cara melepaskan genggaman tangan yang hangat itu?

Lantas, bagaimana dengan wanita Abah? Akan seberapa hancur hatinya?

Waktu di sisi wanita itu menggenggam tangannya, “aku akan menyelubunginya dengan butir-butir baru. Yang lembut. Yang membahagiakan.”

Sampai tiba saatnya. Waktu untuk Abah. Waktu untuk waktu. Tiba di penghujung. Waktu memutar kembali. Kepingan-kepingan yang hilang beberapa minggu terakhir. Dan ia melihatnya. Mata itu bercahaya. Keajaiban-keajaiban kecil. Yang tumbuh besar di keluasan hatinya.

Matahari semakin redup. Menggeliat, ia masuk ke peraduannya. Abah turut gelisah. Ingin ikut. Menggenggam bias mahkotanya. Membiarkannya menghantarkan ke singgasana Penguasa Segala Makhluk.

Roti Delima sudah habis. Air matanya pun. Tapi, tidak seperti Abah, waktunya belum. Dia bangkit. Berjalan lagi.
Dedicated to Abah Iskandar Burhanuddin
(5 Januari 1955-9 Maret 2017)

Di Kolam Renang

image
Dia melemparkan tumpukan baju. Agak marah. Marah pada siapa, dia sudah tidak tahu. Yang pasti, dia terus-menerus marah. Menghembuskan napas keras, ia duduk. Menghempaskan tubuhnya sendiri ke lantai yang dingin.

Lantai itu…

Dipenuhi kertas-kertas terserak. Serpihan kecil warna-warni crayon. Sekaligus dengan induk mereka. Berbagai miniatur kendaraan; mobil, kereta api, semua yang beroda. Bagaimana cara membereskan semua?

Saat-saat begini, ia membayangkan dirinya duduk di ruang ber-AC. Di tengah kubikal kecil, tapi teritorinya sendiri. Tidak, bahkan bosnya, punya hak mengutak-atiknya. Tidak juga rekan sekerjanya yang selalu penasaran. Sekarang, semuanya hilang. Tidak ada tempat khusus untuknya. Tubuhnya pun sudah bukan miliknya sendiri.

Menahan tangis frustasi, ia melipat baju. Pikirannya penuh dengan hal-hal jahat. Membakar rumah, misalnya. Membuang semua mainan tidak peduli akan air mata yang pasti tumpah karenanya. Sekadar memuaskan hasrat duniawinya, menyenangkan diri sendiri.

“Maaaa,” anaknya pulang. Satu-satunya, yang berumur 5 tahun. Belum sempat bicara apa-apa, si bocah lelaki sudah kena semprot.

“Kalau mau main yang lain, beresin dulu yang ini!” bentak ibunya, merengut kesal. Tatapannya penuh kebencian pada anaknya sendiri. Putranya melongo. Tidak berani lagi bicara. “Berantakin rumah, tapi nggak mau beresin! Harusnya kamu tanggung jawab, dong!” Semua kata-kata itu diikuti geraknya yang beringasan membereskan rumah.

Harusnya aku kerja di kantor! batinnya kesal. Biar saja anaknya diurus siapa saja, asal bukan dirinya sendiri!

***

“Ada lowongan kerja?” Tanyanya sumringah. Mungkin dia masih punya kesempatan. Umurnya belum genap 30, seharusnya ada satu pekerjaan untuknya. Memperoleh kubikal itu. Teritorialnya sendiri. Juga, harga diri ketika mengenakan blazer, kemeja yang rapi, dengan polesan make-up yang serasi.

Dia akan menggunakan intonasi itu. Suara yang sengaja dikeluarkan dari rongga dalam tenggorokan, mengesankan wibawa. Mengutak-atik power point atau mungkin aplikasi presentasi terbaru. Mempersiapkan diri untuk menunjukkan proposal. Segala kata-kata teknis yang memukau telinga. Yang membuat orang berdecak kagum.

Bukan cuci piring dan menyapu, yang bisa dilakukan siapa saja. Yang bisa dilakukan bahkan tanpa pendidikan apapun! Dia ingin menjadi ‘seseorang.’ Dia ingin merasa berharga. Menjadi seseorang di tengah sorot cahaya.

“Iya, cepetan lamar kerja. Sayang itu ijazah fungsinya apa?” Sindiran seperti biasa. Hampir semua orang, keluarganya, teman-temannya, melemparkan kalimat tajam tak berbelas kasihan itu. Heran juga, apa yang mereka dapatkan kalau dia memutuskan untuk kerja lagi?

Dia melihat e-banner yang pasti dibuat oleh desainer grafis perusahaan itu. Membayangkan ia berkenalan dengan profesional dengan skill-skill yang dihargai orang. Dan ia akan jadi salah satunya.

Soal anaknya? Ada begitu banyak ART yang bisa menggantikan. Tidak perlu dirinya. Toh dia akan selalu bertemu anaknya ketika pulang kerja. Ia melihat teks balasan dari temannya. Ia dipanggil wawancara! Oh! Tentu saja…

“Mama,” suara nyaring itu menyapanya. Anaknya bertelanjang dada, basah dan berkilau. Di sekeliling mereka, kolam-kolam dengan air jernih, biru dan hijau pastel. Dengan pantulan sinar matahari yang membias ke seluruh kolam.

Ibunya menghela napas. Apa lagi kali ini? “Ayo, sana les. Biar pinter berenangnya!” Sekali saja, ia ingin lepas dari panggilan menuntut itu. Tidak hanya 9 bulan di kandungan, ternyata beban itu masih memberatinya hingga kini.

“Tapi, hidungku sakit kalau bubble.”

“Nak, kamu harus bubble kalau mau berenang.” Segala macam ilmu parenting berseliweran di kepalanya, mencegahnya untuk tidak membentak-bentak. Ilmu yang juga membuatnya terkungkung di dunia yang sama sekali tidak rasional ini; membesarkan satu jiwa bebas dengan kesabaran tingkat tinggi.

Anaknya cemberut, berusaha mencari kata-kata lain. Tapi, ia kenal raut wajah itu. Raut wajah yang sedang tidak mau berkompromi. Bocah lelaki itu lalu lari lagi ke arah guru les renangnya.

Ibunya mengernyit agak kesal, mendapat gangguan. Sekilas kemudian, ia memfokuskan diri lagi ke ponsel pintarnya. Dia akan mengetik jawaban itu; ya.

Ibu jarinya berhenti di tengah-tengah. Ia menegakkan lehernya, mencari sosok anaknya. Jangan sampai si anak melobi guru lesnya untuk melewatkan pelajaran paling penting dalam renang, bernapas dalam air.

Guru lesnya tengah memegangi tangan anaknya. Tidak memegangi tubuhnya, hanya kedua tangannya yang terentang. Lalu, setiap dua atau tiga menit, kepala anaknya masuk ke air beberapa detik. Ia tercengang. Anaknya susah sekali kalau disuruh memasukkan kepalanya dalam air. Wanita itu lupa pada ponselnya.

Kini, pikirannya mengulang rekaman yang telah lalu. Anaknya, yang dengan teguh berusaha berguling. Jalan pertamanya yang tertatih. Kali pertama ia mengeja ‘lama’ dan mengetik ‘commuter.’

Dan banyak lagi. Terlalu banyak untuk ia hitung.

Setelah ini, mungkin ia akan mengomel lagi. Bahkan, bentakan yang sangat terlarang dalam dunia parenting itu akan keluar dari bibirnya. Tanpa tercegah.

Tapi…

Ia tersenyum. Lalu, teringat pada ponsel pintarnya yang terabaikan. Dia mengetik jawaban yang sudah dipersiapkan.

“Kurasa aku mau menyia-nyiakan ijazahku lebih lama.”

Malam ini Saja

little boy running towards golden fireworks
Gambar diambil dari http://www.pain.com

Sendal jepit di kakinya berkelepak-kelepak seiring ia mempercepat langkahnya. Kejadian siang tadi sudah hilang dari kepala. Ibunya mencubitnya sampai pahanya biru lebam. Mengatainya bodoh dan sebagainya. Ya, dia memang bodoh. Dagangan ibu yang sudah susah-payah dipersiapkan sejak matahari belum bangun pun, ia tumpahkan.

 

Itu tidak penting lagi sekarang. Ibunya sudah memaafkan. Kalau sudah ada jejak penyesalan di tubuhnya, ibu akan selalu memaafkan.

“Aduh!” suara itu diikuti dengan debuman keras. Ia menoleh kaget. Di belakangnya, adiknya meringis dalam kondisi rebah ke tanah.

“Kamu ngapain?!”

Anak seusia 7 tahun itu tidak menjawab. Bangkit dengan gagah, ia menepuk-nepuk bajunya yang terkena debu. Setelahnya, mereka berlari lagi. Bagai panah angin.

Hari ini adalah hari-hari biasa yang lain. Rutinitas mereka sama saja. Membantu ibu berjualan, lalu bersiap ke sekolah. Ya, mereka berseragam merah-putih. Setiap pagi, mengenakannya atas perintah ibu. Biar pintar. Biar punya ijazah. Biar gede nanti jadi orang sukses.

Apa itu sukses? Mereka tentu ingin tahu. Kaya dan terkenal, itu jawab ibu mereka. Macam Mario Teguh. Sayang, keduanya sudah jarang melihat orang yang wara-wiri di televisi itu. Tidak tahu kenapa ibu mereka hilang minat pada orang sukses itu.

Bukan masalah sekarang. Mereka punya tujuan!

“Ini pasti hebat! Coba kita sendiri bisa mainin itu, ya?” Di tengah sela-sela napasnya yang terengah, ia menyempatkan diri untuk bicara. Berbalik, tapi tak menyurutkan langkah.

“Kalau melihat saja udah senang, buat apa main sendiri? Kata ibu, itu mahal, kita nggak akan mampu beli itu. Senang ya, orang-orang mau membaginya buat kita lihat?” Adiknya mengangguk-angguk semangat. Ia lalu memelankan langkah. Senyumnya hilang, begitu ia menoleh.

“Bang, kita dimarahin, nggak?” sahutnya, pelan. Bagaimanapun, cubitan ibu yang khawatir itu sungguh sakit rasanya.

“Besok, pasti. Tapi, yang penting kita bisa lihat ini! Sekali setahun saja!”

Ia memegang tangan adiknya, di punggung tangannya tercoreng lingkaran kemerahan. Bekas tersundut rokok. Kadang-kadang ada saja orang-orang yang iseng pada mereka. Saat mereka membantu menjual dagangan ibu mereka, beberapa meminta uang. Beberapa meminta makanan tanpa bayar. Ada-ada saja.

Kalau tidak diberi, marah. Kata mereka, uang keamanan. Rasanya, justru mereka butuh orang justru untuk mengamankan mereka dari orang-orang ini. Kalau tidak diberi, mereka marah. Memang, kata ibu, selalu ada harga yang harus dibayar sewaktu kita melakukan sesuatu. Lagipula, sama saja dengan berbagi rezeki.

Rutinitas mereka begitu-begitu saja. Lalu, kalau semua sudah selesai, keduanya bisa bermain layang-layang. Langit selalu membawa kebebasan. Ada harapan yang tidak terbatas di atasnya. Kalau malam datang, mereka keluar, mengharap bintang. Tapi, bintang di Jakarta sungguh pemalu. Hanya sedikit yang mau mengeluarkan sinarnya.

7014905-fireworks-night-background
Gambar diambil dari 7-themes.com

Makanya, kalau ada bintang yang bersinar terang, mereka begitu gembira. Kalau langit biru membawa harapan, bintang di kegelapan membawa petunjuk. Bahwa besok kebahagiaan akan datang. Semangat untuk sekolah lagi, berdagang lagi, bermain lagi, semua akan jadi baru.

“Kenapa kita nggak naik ke atap rumah saja, seperti orang lain?”

“Kamu gimana? Atap kita itu tipis, bisa langsung rusak kalau diinjak,” balas sang kakak segera. Genteng-genteng tanah liat jauh lebih kuat. Masih bisa diinjak sekilas. Duduk di atas rangka pucuknya, pasti menyenangkan. Tapi, atap rumah mereka dari seng yang tipis. Panas kala siang, tidak bisa dipakai untuk menopang apapun, kecuali untuk menjemur kain lap biar cepat kering, atau mengisi baterai sepanjang siang. Kadang-kadang, menjemur seragam sekolah mereka yang cepat sekali kotor.

“Trus, kita kemana?”

“Satu tempat yang paling keren!”

Mereka mulai menyeruak masuk ke sela-sela pepohonan. Jalan mereka yang tadinya datar, kini mulai menanjak. Membuat napas mereka lebih cepat habis daripada sebelumnya. Tidak melunturkan semangat, mereka terus berlari. Kau tahu, saat ada tujuan, tak akan habis nyali ini.

Gelap mengerubungi mereka. Gelap yang biasa ditakuti. Gelap yang biasa jadi musuh mereka. Sekarang, terasa lembut di kulit mereka yang gelap. Terasa sebagai pelindung dari mata-mata yang tidak menyetujui. Sudah hampir tengah malam. Mana ada orang dewasa yang memperbolehkan mereka dengan suka rela? Tapi, malam ini mereka mau mengambil risiko.

Hanya satu malam. Satu malam dalam satu tahun.

“Sampai!” seru kakak. Dia melompat ke lahan terbuka yang tidak tertutup pohon. Di depan mereka, tanah terhampar berhenti. Langsung terpahat oleh erosi. Oleh hujan yang mengikis tepi tanahnya. Dari sana, mereka bisa melihat pucuk-pucuk rumah. Titik-titik cahaya dari jendela mereka yang terlihat agak kecil.

“Mana?”

“Ya, belumlah! Ayo, duduk di sini dulu!”

“Ibu mungkin lagi periksa kamar kita, Bang?”

“Nggak, ibu lagi tidur.”

“Setiap malam ini kan, kita selalu keluar.”

“Ibu belum tahu. Begitu sudah tahu, kita sudah gede, jadi ibu nggak akan melarang lagi.”

“Jam berapa?”

“Mana aku tahu? Kita tunggu aja, Dek.”

Suara mereka bagai dengung yang segera lenyap setelah mengawang di udara. Mereka tak banyak berkata. Hanya menikmati angin malam yang sejuk. Yang membawa ketenangan. Gelap yang jadi musuh mereka, berbalik menjadi kawan setia. Ya, biasanya hanya malam ini saja.

Ibu mereka tidak suka malam ini. Perayaan yang sia-sia dan sama sekali tidak disetujui oleh agama mereka. Keributannya lebih lagi. Membuat ibu mereka tidak bisa tidur. Harga yang harus dibayar oleh satu selebrasi.

Malam ini, semua rutinitas yang membosankan hilang. Semua adat yang harus dilaksanakan di rumah tidak terasa. Bahkan, masalah-masalah sepanjang tahun. Semua lenyap. Dalam debaran jantung yang lembut bertalu. Menanti.

 

maxresdefault
Gambar diambil dari BBC One – Youtube

 

Terdengar suitan panjang.

Keduanya melompat. Sebuah cahaya meledak jadi butir warna-warni di langit yang gelap. Lalu, jatuh menghilang. Disusul sebuah lagi. Mereka berteriak kegirangan. Bintang-bintang yang selalu mereka cari. Bintang-bintang yang tak pernah terlihat di langit Jakarta. Bintang-bintang yang membawa semangat baru.

“Ada lagi!” jerit yang lebih muda. Menunjuk satu titik dimana meletus sebuah lagi butir cahaya kuning cerah. Suaranya menggelegar, kadang menakutkan. Seperti kata ibu, selalu ada harga yang harus dibayar. Mereka rela membayar kekagetan mereka dengan sesuatu yang indah dan menakjubkan itu.

Dilatari oleh cahaya-cahaya itu, keduanya menjadi siluet. Merayakan dengan sorak-sorai yang tidak terdengar oleh siapapun. Berdua, membuat satu kenangan kecil, tapi mereka bisa mendengar riuh-rendah seruan banyak orang. Tiba-tiba saja, mereka dikelilingi banyak orang. Yang sama bahagianya dengan mereka. Satu per satu, dari negeri-negeri yang tak mereka kenal.

Sebentar lagi mereka menghadapi satu hari baru di tahun yang menanjak naik. Mungkin tahun berikutnya, rutinitas mereka tidak akan berubah. Tapi, saat dua jiwa itu menyongsongnya bersama bayang-bayang orang yang terasa seperti menepuk punggung mereka, semangat mereka bangkit lagi. Rutinitas tidak akan lagi jadi rutinitas. Tapi, penantian baru pada satu harapan baru.

Dan penantian itu yang tidak akan pernah menyurutkan semangat.

Selamat tahun baru, semua!!!

 

Tidak Mau Berhenti

 

foto-kuil-bel-dan-yang-tersisa-kini
Foto kuil Bell di Palmyra diambil dari boombastis.com

Wanita itu berjubah hitam. Hampir seluruh tubuh terselubung olehnya. Ia menarik sedikit kain yang berlebih untuk menutupi hidung. Debu terlalu banyak di sini. Asap lebih lagi. Buminya bergetar lagi, membuatnya terpekik pelan. Biar sudah bertahun-tahun, suara ini tidak pernah membuatnya terbiasa.

Bukan kerasnya suara itu. Tapi, pesan yang dibawanya. Mungkin membawa serta satu lagi seseorang. Baik ia kenal atau tidak ia kenal, semua tetap akan membawa kesedihan.

Bergegas, ia menarik tangan kecil yang balas menggenggam erat tangannya. Tangannya terasa kebas karena itu. Malah, cengekeraman tangan mereka semakin erat. Hanya itu satu-satunya penanda bahwa mereka masih saling memiliki. Tuhan belum boleh memisahkan mereka sekarang!

Pria berjanggut lebat, ia tidak mengenalnya, memanggilnya panik. Tangan pria itu berayun makin kencang. Seruannya lebih keras lagi, mencoba mengalahkan suara rentetan peluru yang berterbangan. Wanita itu bergegas, menarik tangan anak itu lebih keras lagi. Kenal atau tidak, bukan lagi masalah. Ia terpekik saat peluru berdesing di telinganya.

Tangan pria dan wanita itu sudah pada jarak yang dekat. Ia meraih tangan kasar yang terlihat ramah. Tubuhnya segera saja terhuyung ke depan, masuk ke dalam bangunan yang mungkin bisa memberinya waktu barang sehari lagi.

Ia menoleh lega, tertawa ke arah anak di sampingnya. Tapi, tangan itu tidak lagi mencengkeram tangannya. Penanda yang ia genggam telah hilang. Anak itu tersungkur begitu ia berhenti berlari. Di punggungnya telah tercetak satu lubang. Merah. Lalu, melebar.

Wanita itu tersungkur. Tidak ada lagi kekuatan di kakinya. “El shad dai, gha’bi ni[1]…” Air mata tak mau ditahan. Ia menetes begitu saja.

“Inna lilaahi, ta’zi ia[2]. Anakmu?” sahutnya dengan Bahasa Suryani. Wanita itu mengangkat wajahnya.

Ia menggeleng pelan, “semua anak sudah jadi anakku sekarang.”

Lelaki itu berpakaian loreng cokelat tua-muda. Dia mengulurkan tangan. Wanita itu menerimanya. Tubuhnya terangkat, ia berdiri lebih tegap. Menatap anak itu lagi, dengan mata terpejam bagai tidur. Mungkin ia lebih baik di sisi Tuhannya.

“Tidak apa, biar kami yang urus. Pergilah sekarang, di sana, bis itu sudah menanti. Keadaan masih bahaya, jadi cepatlah!”

Sang wanita menatap tentara di hadapannya. Ragu, apa benar ia akan lepas dari bahaya ini? Apa benar di luar sana ada tempat yang terbebas dari politik manusia? Mata tentara itu lurus kepadanya. Mereka meyakinkan diri tanpa kata. Bahwa, kesempatan selalu ada.

Ia takut melangkah. Meninggalkan negerinya yang ia kenal sejak kecil. Ia menatap lagi, tubuh anak yang tersungkur. Tak sempat mengucapkan apapun. Tak sempat untuk melihat dunia sekali lagi, dunia dengan orang-orang yang ia kenal.

Ia takut meninggalkan anak itu. Seolah kebahagiaan adalah dosa yang lain. Kalau ia bahagia, apa anak yang tak punya kesempatan itu akan memaafkannya?

’Hiv li[3]!” tegur tentara itu. Wanita itu tersentak dan bergegas. Ke arah yang ia tunjuk. Sebuah bis besar putih dari pemerintah negerinya. Yang akan membawa mereka keluar dari lubang neraka ini. Dulu, tanah kelahirannya ini sungguh indah. Dengan gang-gang yang bersih dan jalan-jalan yang apik. Bahwa ada seseorang di luar sana yang ingin menghancurkan keindahan, membuatnya bergidik.

Sungguh, Eden dengan manusia, tidak akan pernah terwujud. Mereka mencintainya. Mereka mencintai permusuhan. Mereka mencintai peperangan. Mereka tidak akan berhenti, sebelum nafsu-nafsu itu direnggut, dan surga, pada akhirnya, hanya di sisi Allaah.

Kakinya telah menapak tangga bis.

Rahangnya menegang, membayangkan apa yang berada di balik punggungnya. Ia mengingat kisah Nabi Lot. Seorang wanita yang tidak bisa menerima rezeki yang dianugerahkan kepadanya. Maka, ia ikut terlumat bersama penyesalan di dalam dadanya.

Inilah rezekinya.

Wanita itu menapakkan kaki yang lain. Suasana di bis lengang, hanya isak tangis yang jadi tanda kehadiran manusia. Ia tidak dapat lagi tempat duduk. Beberapa saat, tubuhnya telah terguncang seirama dengan bis. Di luar sana, debu dan asap masih membumbung tinggi. Suara ledakan terhenti, mungkin gencatan senjata sudah dimulai. Mungkin pemberontak sudah berhasil diusir.

Sayup, ia mendengar lantunan beberapa orang membacakan ayat suci Al-Qur’an. Pelan, bersahaja. Ia memahami sedikit dari bahasanya yang dekat dengan Bahasa Suryani. Lain itu, tidak. Ia beragama Kristen Ortodoks. Tapi, bahwa seseorang dekat kepada Tuhan, memilih untuk berserah diri kepada Tuhannya, daripada membalas dengan kekejian yang sama dan kebencian yang sama, menentramkan hatinya.

Satu saat, ia akan kembali. Anugerah ini tidak akan sia-sia. Pemberontak dan kekuatan yang menginginkan negaranya hancur akan musnah, dan ia akan kembali. Membawa harapan dan kekuatan yang baru. Membangun gereja untuk kaumnya lagi, membangun masjid untuk kawan sesama Muslim, biar Sunni ataupun Syi’ah.

Untuk membangun kembali Aleppo, tanah kelahirannya.

[1] Ya Tuhan, maafkan aku

[2] Turut berduka

[3] Cepatlah

 

Catatan penulis :

“Untuk Aleppo, untuk Gaza, untuk Mesir, dan semua daerah yang tengah dilanda konflik”

Bahasa Suryani diambil dari sumber http://www.lexilogos.com/english/syriac_dictionary.htm

 

Tatap

Matanya terbelalak. Jarinya menghentak cepat. Menekan tuts-tuts lembut. Semua tidak lagi sama. Dulu, untuk menulis sedikit saja, kekuatan fisik harus bergerak seirama dengan kekuatan pikiran. Dan gaungnya akan sampai di langit-langit. Membalas tak kalah tegas. Sekarang, gaung itu lemah. Selemah pikirannya yang tidak lagi tertantang.

Ia menggeleng geram. Rahangnya menegang. Semua urat-urat di pelipisnya menonjol keluar. Berlomba untuk menampakkan diri. Mereka yang biasa hanya bergerak di balik layar. Kehilangan perhatian dari semua. Kini memberontak.

Kamar itu gelap. Hanya satu sumber cahaya. Layar komputer yang lalu memantul lewat kacamatanya.

“Orang-orang gila yang tak tahu diuntung. Gila dalam pikiran mereka,” gerutunya lewat gemeletuk gigi-gigi yang beradu.

“Kebodohan yang tak habis-habis,” suaranya semakin keras. Dalam senyap, suara itu berbalik. Merembes ke pori-pori otaknya. Dia meremas kepalanya. Suaranya berbalik. Penuh dalam kepalanya. Orang-orang itu mengatainya!

Dia tahu!

Dia tahu!

Denting monoton lembut bertalu-talu. Bergantian, terus-menerus. Dia menekan keras kacamatanya hingga pangkal hidungnya begitu perih. Sesaat saja, rasa itu hilang di tengah gemuruh darah sendiri.

Gambar-gambar dan tulisan baru, kecil-kecil, bermunculan di layar itu. Wajah yang berbeda. Ilustrasi yang berbeda. Begitu banyak huruf. Begitu lurus karena ditulis oleh sistem yang kaku. Tidak punya rasa dan emosi. Sebenarnya.

Dia mendekati layar komputer. Satu wajah membayang. Menatap balik. Mau apa? Wajah itu tak membalas, tapi jelas matanya menuduh. Merendahkan. Kau tidak mungkin menyalahkanku sekarang! Tentu saja dia harus menang. Dia harus benar. Kalau tidak, semua tidak akan ada arti. Hidupnya tidak akan ada arti.

Begitu puas kalau menang. Begitu puas kalau tegak. Berdiri di tengah gelimpangan sampah. Yang terserak karena tidak mau mendengar. Wajah itu berkerut. Dengan ujung bibir tertarik ke atas. Orang bodoh harus dibuat mengerti! Itu kata-katanya. Dari bibirnya sendiri. Bergaung di dalam tengkorak, tak mau lepas.

Iya, kan?!

Dia melompat. Kursi kayu itu terbanting ke lantai keramik. Gaduhnya tidak terdengar. Kepalanya sudah terlalu penuh. Dengan kata-kata. Lebih nyaring daripada teriakannya sendiri. Tenggorokannya perih. Tapi, ia tak tahu kenapa. Kata-kata nyaring di kepalanya.

“Aaaahh!” Kesepuluh jarinya menghentak lebih keras. Memacu lebih cepat. Kata-kata meletup begitu cepat. Baris-baris panjang tak tercegah. Ia mengepalkan tangan. Ujung kuku tertancap dalam ke dagingnya. Kata-kata terus meluncur. Ia terbelalak. Siapa yang menulis?

Wajahnya semakin dekat. Hanya satu sentimeter saja dari ujung hidungnya kini. Ia menatap lurus. Dan ia melihat. Mata yang balik menatap. Urat merah menggeliat di putih matanya. Menjalar semakin banyak. Ia bisa merasakan dinginnya layar itu sekarang. Dingin yang keji. Dinginnya kata-kata monokrom. Bunyi monoton berdetak. Menggetarkan ujung syarafnya. Darahnya berdesir. Ototnya tertarik. Perlahan. Pasti. Kata-kata. Kata-kata yang bersahut-sahutan. Terkesiap!

Ia lenyap dalam kata-kata.

 

 

Kau yang Berada di Dalam Jendela

you-are-my-eternity

 

Malam ini aku ingin berbicara tentang cinta. Bagaimana kelembutannya dapat mengubah kemuraman malam menjadi sehelai lapisan cahaya temaram yang ternaungi oleh jutaan bintang. Yang setia. Setia menunggui sang rembulan, hingga habis masa peraduannya, memberikan singgasananya kepada mentari yang merajai siang. Gemulai auranya yang mengalir pelan dan syahdu, mengiringi setiap hati yang bersenandung pilu. Kau, cinta.

Malam ini, aku hanya ingin mengenangkan kau. Selewat malam ini, mungkin kau tidak lagi menemaniku.

***

Aku terduduk muram di atas jendela kayu rumahku yang terbuka. Begitu sempit kamar ini kurasa. Begitu penuh, tanpa ruangan pribadi yang bisa membebaskanku. Kubiarkan angin malam menerobos masuk, menggigilkan tulang-belulangku. Dia kuat, namun rapuh hingga ke sumsumnya. Apa dayaku apabila suatu saat diapun memutuskan untuk membisikkan kata selamat tinggal ke telingaku, menerobos jauh ke dalam hatiku. Ah, mungkin akan justru kutemukan damai itu. Di dalam sana hangat, tidak lagi dingin.

Hingga kini kuketahui, tidak ada ahli yang berani mendefinisikan cinta secara eksplisit. Hanya ikhtisarnya, tidak lebih. Hanya hakekatnya, memaknai kedalaman sukmanya yang semburatnya menerangi hati manusia. Kau, tidak lebih dari kau.

Kau mendesah membangunkanku dari alam lamunan yang sedemikian jauh. Aku terhempas ke dunia nyata dengan begitu lugasnya, hingga sukmaku kembali menemanimu. Aku menoleh ke arah sesosok tubuh yang sudah termakan usia. Kau. Aku bangkit perlahan. Badanmu menggigil oleh gigitan angin malam yang membelai mesra tanpa memberikan ibanya. Kututup jendela itu, hingga angin malam merintih kecewa. Tidak lagi dapat bercumbu rayu dengan simbolisasi kasih yang begitu besar itu.

Aku memandang seorang wanita tercantik dalam hidupku. Kau. Kulitmu telah diberangus oleh kesakitan pengalaman hidup yang bertubi-tubi. Bibirmu keropos oleh lantunan nada kasih yang kaudendangkan tanpa kenal lelah. Namun, mata batinku tak sudah-sudahnya mengagumi dan mendewakan kecantikan yang agung dari wanita ini. Kaulah kekasihku, tak pula para Dewa mampu merenggutmu dariku.

Aku mengecup bibirmu perlahan. Kau mendesah gelisah dalam tidur. Mungkin mendengus kecewa akan kekasaran seorang pria yang mengganggu satu-satunya ketenangan yang kau miliki dalam hidup. Aku tersenyum, kebiasaan tidurmu yang sulit untuk diganggu selalu menggodaku untuk merenggut kesenanganmu itu.

Kau memiringkan badan, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman, yang tak terganggu. Namun, kuganggu pula kau. Lagi. Aku berbaring di belakangmu, dengan tanganku melingkari pinggang hingga perutmu. Kau begitu ringkih, begitu mungil.

“Bu…,” bisikku perlahan, hingga keheningan masih saja menyelimuti ruangan kecil tempat kami bernaung. “Begitu lama… Kita berdua saja berlayar mengarungi dunia ini…”

Senyumanmu tampak jelas di mata batinku. Itu saja yang kaulakukan. Menemaniku, menggenggam tanganku agar tetap hangat, menjaga hatiku tetap berdenyut utuh. Pernah juga aku sekali ingin mencoba-coba merayapi dunia fana ini. Merengkuh kenikmatan bernama materi, menghayati cengkeramannya yang kuat pada hati manusia. Ya, kadang hingga hati itu pecah terserak.

Setiap hari. Setiap hari, hanya kemeja yang kuperhatikan. Kusutnya penanda kusut hatiku. Kutuang dengan laknatnya ke arahmu, yang hanya gemulai mengangguk. Bertambah-tambah kedurhakaanku pada kehidupan batiniah saat denyut lain telah menggelitik nadimu, istriku. Jemari mungil yang menjawil kemihmu, wanitaku, seolah menusuk jantungku, agar memompa lebih cepat. Hilang akal, materi jadi penentu kebahagiaan.

Di luar jendela. Selalu di sana aku berada. Menemukan kesenangan samar saat memperoleh lebih dari yang bisa kugenggam. Tertawa saat kesilauan cahaya-cahaya dari jendela yang lain. Jendelaku tak terlihat lagi.

Apa?

Sepasang bibir merah mudamu bergerak, lambat, tapi tak satupun ucapannya dapat kupegang. Sosoknya kian mengabur. Mencoba meraih bayang itu, yang justru semakin kukejar akan semakin tak terjangkau. Melayang menembus belantara besi. Kau pun perlahan menengok, tak lagi ke arahku.

Aku hilang akal. Mataku hanya menangkap remah-remah harapan, tetesan kerinduan. Di balik tudung saji hanya berupa selongsong yang kosong. Kenyang jadi suatu kemewahan. Selimut menjadi dingin, beku. Membuat hati pun perlahan membeku. Jiwaku berteriak, memohon pertolongan. Tidakkah Tuhan Maha Mendengar?

Oh!

Tidakkah aku yang menjauh saat firman-Nya memanggil-manggil? Saat hendak membasuh hati si pesakitan, memurnikannya lagi dengan embun-embun berupa rasa syukur dan doa? Ya, aku yang terlupa, menulikan telinga dari panggilan-Nya. Kesenangan mulai luntur, hati mulai resah. Desah desau angin jadi hantaman badai.

Oh kau, cinta! Kau meninggalkanku!

Mataku mengerjap dalam kekelaman. Setitik cairan bening menetes begitu saja. Aku mengusapnya. Benar, kala syaitan telah berbisik manis, memanggil-manggil nurani untuk meninggalkan badan, ketenangan yang terajut kuat pun terurai. Namun, cinta telah membawaku kembali. Ya, pada saat mata mungil yang kesulitan menatap dunia itu memandangku. Begitu herannya ia, mendapat seorang bapak serupa aku. Dan hembusan nafasnya di telingaku, jadi titik balik seluruh goresan pena kehidupanku.

Lalu, sepasang bibir serupa sabit milikmu itu. Senyuman lembut penuh haru, dihiasi setitik air mata yang mengalir perlahan. Air mata selembut embun pagi jatuh di pipi seorang anak yang begitu rapuh, yang bahkan belum jelas melihat dunia. Anak yang kemudian mulai beranjak dewasa, pelan-pelan seakan merayap mengarungi kedalaman masing-masing sisi dunia. Bertahan dan bertahan, itu saja hakekat hidupnya. Sepanjang itu pula, belaianmu mendampinginya. Saat dia terluka, pada fisiknya. Saat dia berduka, pada batinnya. Kelembutan akan selalu menenangkan sisi jiwanya yang gelisah akan ketidakpastian hidup. Cinta itu ketenangan, tidak memberikan kesenangan semu, tetapi ketenangan yang terus akan melingkar lembut di hati. Dan, itu kau!

 

***

 

Aku mendengus dalam kesunyian. Memikirkannya saja begitu sunyi. Satu masa yang mencengkeram hati.

Mata mungil itu, mata yang sebelumnya hanya memandangi aku dan kau itu beralih, terbata-bata hingga menjadi pasti. Dia memilih kadar hidupnya sendiri, lepas dari kungkungan peluk kasih orangtuanya. Dia memilih untuk terbang menjangkau cakrawala yang tak sanggup kami ikuti lagi. Air mata akan jatuh di pipi sang wanita yang melahirkannya, tetapi tanganmu kaucengkeram erat di punggung. Cinta itu melepaskan, membebaskan, hingga sang tercinta sanggup menjelajahi dunia dengan keluasan pikirannya.

Namun, bila sang tercinta itu pulang, aku dan kau, berdua mengetahui dengan pasti, pelukan akan selalu menjadi rumah untuknya. Walau tak selalu indah, tetapi akan selalu ada. Dan cinta adalah rumah, sesuatu yang akan selalu menunggu siapapun untuk menyapanya. Menghangatkan periuknya selalu agar yang tercinta bisa pulang di kala ia kelaparan, akan kasih, akan belaian manja.

Saat pintu itu menyambut kebebasan buah hati aku dan kau, kekosongan jiwa menggerus setitik ketenangan. Satu sama lain. Ya, aku dan kau terkungkung kembali dalam tautan cinta kasih yang terajut perlahan. Mataku kembali menangkap sosokmu, yang tak lagi bertuan keriangan. Sejenak. Ya, sejenak aku merasa letih dan kecewa. Aku mencoba kembali membuka jendela kamar demi memperoleh kesenangan semu. Menuhankan untaian mutiara yang di dalamnya tak lebih dari seonggok sampah. Mengagungkan sosok-sosok pesona duniawi yang genit menggoda. Dan sosokmu jualah yang selalu kutemui. Wahai, kau pelipur lara.

Aku ingat bagaimana lembut jemarimu menyentuh ujung syarafku. Tidak ada apapun di balik jendela itu, sayangku… Hanya keluasan pikiran kita yang ada…

Betapa ingin kutepiskan tanganmu, meraung bahwa kau salah, selalu salah. Kau tak lebih dari penjaraku, penghasut hati yang merindukan keluasan langit di balik jendela. Tidakkah indah langit berarak awan di luar sana? begitu aku sahut-menyahut. Tidakkah kau mengehendakinya juga?

Kau jawab, hanya keluasan pikiran yang kukehendaki. Aku terdiam. Lenyap dalam kerisauan, akan kebodohan dan keapatisan. Tenggelam dalam samudera kemunafikan. Betapa kau, kebenaran yang melembutkan es di Kutub Utara. Sekalipun, di Kutub Utara.

***

Tiap liukan jalanku, tiap persimpangan yang penuh aroma kebimbangan, hingga tiap perpisahan dengan cengkeraman perih di hati. Waktu-waktu itulah saat aku merasakan cinta yang sesungguhnya. Dari kau yang selalu menggenggam tanganku erat. Dari kau yang selalu membisikkan kata-kata yang menyejukkan hati. Dari kau yang selalu setia dengan senyuman lembut di bibirmu.

“Bu… Di balik jendela memang tidak ada apapun. Ternyata di ruangan sempit ini kurasakan cinta yang begitu luas…” Kau kembali menggelisah dalam tidur. Aku tersenyum kekanakan, merasa senang telah dapat mengganggu tidurmu yang pulas itu.

Aku bangkit, sembari memegangi pinggangku yang perih akibat reumatik berkepanjangan, menggeser tirai hingga menutupi jendela sepenuhnya. Menghalau sinar temaram rembulan yang masuk mengganggu, menyingkirkan kerlipan bintang yang menggoda. Cinta itu tidak ada di luar jendela. Sepenuhnya di sini, di sisimu, wanitaku, yang tiap untaian rambut telah memutih oleh kasihmu kepada anakku dan aku. Kau menua bersamaku, merengkuh beban hingga ke sukmaku dengan erat.

Dan di sinilah cinta berada.

 

***

“Tak Akan Membiarkanmu Mati Sekali Lagi”

Tribute to Kristianingsih (1985-2005)

Secuplik Kisah oleh Sahabat

 

11 September adalah hari kelam bagi seluruh warga Amerika, dengan adanya tragedi pemboman gedung World Trade Centre (WTC) yang menjadi pusat perekonomian Amerika. Tidak begitu dengan di sini, di bagian sempit Indonesia. Daerah pinggiran yang luput dari perhatian, sudut kota yang tersisih oleh gemerlap kota Metropolitan Jakarta. Beberapa hari setelahnya, 14 September 2005, sudut itu digantungi awan kelam.

Tidak ada demonstrasi yang mewarnai layaknya tanggal 11 September, tidak ada perang sebagai lambang kekecewaan massal. Hanya kesedihan di sudut kota kecil. Gadis muda itu bernama Kristianingsih, hanya gadis biasa yang kebetulan kutemui di universitas yang sama, UPI YAI. Dengan badan gempal dan wajah hitam manis yang selalu diliputi keceriaan, dia mulai mengisi hari-hariku sejak awal aku memasuki kuliah, begitupun dengan orang-orang di sekelilingnya.

Gadis biasa itu memanglah gadis biasa bagi orang yang melihatnya. Biar begitu, kehadirannya bak mutiara yang kilaunya menyinari hati kedua orangtuanya. Begitupun hatiku yang telah disinarinya, lambat-laun tanpa kusadari. Dan aku yakin, setiap orang di dekatnya akan menganggapnya seperti itu pula. Kehadirannya pada tanggal 13 Mei 1985 telah menjadi anugerah tak terhingga bagi kedua orangtuanya. Tanpa disadari, hatikupun meng-iya-kannya.

Tiga tahun bersama, berjalan bergandengan tanpa kusadari telah melemahkan artinya di pandangan mataku. Kehadirannya adalah sesuatu yang begitu wajar, senyumnya adalah matahari yang tiap hari selalu terbit. Begitu wajar hingga diremehkan.

Kala itu, detik-detiknya bertalu-talu tanpa seorangpun menyangka. Kehadirannya mulai menghilang perlahan. Saat orangtuanya memberitahuku ia sedang sakit, aku hanya terdiam. Tidak bertanya, tidak mencoba mencari tahu. Saat itu kupikir kata sakit adalah kata yang biasa, sakit hanya satu fase, bukankah manusia selalu terjangkit penyakit? Flu, misalnya? Ternyata itu awal dari segala kehancuran hatiku.

Mengapa saat orang hadir di pandangan mata semuanya tampak begitu wajar? Tampak remeh tidak berarti? Keberadaannya menghilang dari mataku, begitupun di mata semua teman-temannya. Jawaban dari ketiadaannya mulai muncul ke permukaan perlahan-lahan. Sakitnya bukan sakit biasa seperti yang kuperkirakan. Bukan ‘hanya’ sakit. Lalu, kata-kata “seandainya…” mulai merambat di hatiku, menggerogoti pelan-pelan.

Kami mulai panik, lalu beriringan menjenguknya. Yang kulihat adalah pemandangan yang sama sekali berbeda. Tubuhnya terbaring lunglai, kelincahannya seakan-akan terhisap oleh suatu kekuatan yang jauh lebih besar. Aku mendekatinya, memandangnya sejenak. Matanya berair, ia menangis entah oleh sebab apa. Kesakitankah ia? Aku sama sekali tidak bisa merasakannya, kesemutan pun tidak. Ia tidak bisa menoleh, maka ia menggerakkan matanya. Tampak begitu sulit, sesuatu yang sehari-hari kita lakukan tanpa sedikitpun kita sadari.

Ia tersenyum. Dalam kesakitannya yang entah sebesar apa, ia tetap mempersembahkan senyumnya. Dengan susah payah menenangkanku, matanya seakan berkata, “tidak apa-apa…” Aku terpana. Mungkin itu adalah senyum terindah yang pernah kulihat. Dengan mata sayu dan wajah basah oleh air mata, senyumnya kali itu bahkan lebih indah dibandingkan pelangi penuh warna atau bebungaan yang mewangi. Aku membisikkan kata-kata seadanya, berharap ia memahami maksud dalam hatiku yang terbesar.

Keesokan harinya, 14 September 2005, pukul 15.15 WIB aku mendapat sms. Sebuah pesan duka cita, mewartakan kepergian sahabatku yang kerap dipanggil ‘Ntien’. Saat itu pula, aku berpapasan dengan kedua temanku yang lain, Kasa dan Tyas, yang juga telah mendapat sms serupa. Dengan bergegas, entah mengejar apa, kami langsung pergi menuju rumah sakit tempatnya dirawat, OMC, yang bertempat di Rawa Mangun.

Di situlah ia, masih di ruang ICU, masih di tempat yang sama. Kami berpapasan dengan orangtuanya, yang dengan tegar memberitahu kami ia telah pergi. Tyas pun menangis, Kasa masih tidak mempercayai pendengarannya. Bagiku, itu semua…

Kami bergantian masuk ke dalam, mula-mula Tyas bersama Kasa masuk, kemudian aku ditemani Kasa selanjutnya masuk. Kasa begitu terpukul, dengan air mata berhamburan tanpa tercegah ia terduduk, tidak kuat menahan beban kenyataan yang menimpa tanpa diduga. Aku, entah apa yang ada di pikiranku, atau hatiku, atau keduanya, tidak setetes air mata pun yang keluar. Aku hanya melihat, sahabatku yang dulu selalu riang dan lincah, terbaring begitu rupa. Seakan-akan tidak ada lagi beban yang menggayuti benaknya, ia menutup mata seolah sedang tidur, bukan pergi ke alam gaib, hanya bertandang ke alam mimpi.

Aku terdiam, diam-diam mencoba memahami pemandangan di hadapanku. Aku menyentuh keningnya, masih hangat. Aku mencium keningnya lembut sebagai pengganti ucapan selamat tinggal yang tak akan pernah ia dengar. Tapi, dalam hati aku sadar. Semuanya hanyalah formalitas belaka. Apakah itu arti selamat tinggal? Selamanya tidak akan bertemu kah? Apa pula arti selamanya?

Pemakamannya berlalu begitu saja, aku kembali menatap sosok seorang gadis muda dengan tubuh berisi itu. Seperti layaknya budaya kaum Kristiani, ia didandani dan dihiasi dengan bebungaan. Ia tampak lain, tetapi tetap mata itu terpejam dengan sabar. Seakan menghadapi dunia lain tanpa beban, tanpa suatu ketakutan. Aku tetap tak menangis, tetap tak memahami.

Esoknya, dengan mengejutkan aku menjalani hariku seperti biasa. Bercanda dengan Tyas, tertawa-tawa. Benarkah kemarin telah diadakan pemakaman seorang gadis bak matahari bernama Kristianingsih? Hatiku tetap bertanya-tanya. Lalu, tiba-tiba saja Kasa menjadi mudah tersinggung. Ah, ia masih terpengaruh rupanya. Apa aku begitu tidak berperasaan sehingga aku sedemikian ‘santai’?

Kristianingsih, ia akrab dengan sebutan Ntien. Di depan teman-temannya selalu menunjukkan keceriaannya, senyumnya. Ia adalah seorang gadis yang tak lepas dari kipas, sosoknya yang selalu kuingat adalah saat ia mengipas-ngipasi dirinya seraya membetulkan poninya yang tertata rapi ke arah samping. Gadis yang tampak kekanak-kanakan itu suka sekali berpose layaknya anak kecil, menaruh kedua telunjuknya di pipinya.

Gadis itu suka sekali dengan warna biru, tasnya berwarna biru, kipas plastiknya berwarna biru, juga casing hp-nya, juga tempat pensilnya. Gadis itu memanggilku ‘bunda.’ Hanya karena perbedaan sikap, aku mendapat julukan itu, lalu dianggap dewasa. Kalau saja orang-orang dapat melihat lebih dalam. Semasa ia hidup, beberapa kali aku membentaknya. Hanya karena masalah sepele, karena kecerewetannya, bahkan dalam suasana ramai yang ribut. Lalu, apa yang biasa ia balas? Ia terdiam. Lalu, begitu aku meminta maaf, ia tersenyum. Sama sekali tidak mempermasalahkan kelakuanku. Bukankah ia lebih dewasa? Siapa bilang kedewasaan harus diukur dari sikap yang tenang? Bukankah pedalaman seseorang yang akan menunjukkan kedewasaannya?

Dia adalah orang yang paling suka mengobrol. Jika punya waktu luang, ia akan mengikat diri pada telepon, memanggil-manggil semua temannya dengan deringan telepon. Sesaat sebelum istirahat panjangnya, ia bahkan pernah meneleponku pada jam 2 dini hari! Apakah itu sesungguhnya pertanda terselubung?

Ia adalah teman yang paling royal yang pernah kutemui, mudah sekali menyisihkan uang sakunya untuk menraktir teman. Aku tak perlu heran, dia memang selalu memperhatikan teman-temannya. Ia adalah umat kristiani, jelas terlihat dari namanya. Dan dia ta’at, ia sering pergi ke gereja di hari Minggu. Akan tetapi, dia adalah teman yang paling sering mengingatkanku shalat. Aku mengaguminya untuk hal itu.

Dia berbakti kepada orangtuanya, tidak diragukan lagi. Apa aku berlebihan? Ia selalu membantu pekerjaan rumah, membantu ayahnya memasak untuk berjualan (dulu mie ayam, sekarang tongseng). Saat ia sedang berjalan-jalan dengan temannya, ia tak pernah lupa untuk memberikan sesuatu untuk kedua orangtuanya. Apa aku berlebihan?

Aku menghela nafas dalam hati. Mengapa? Seseorang yang selalu menyinari orang-orang di sekitarnya dengan senyum dan candanya harus pergi meninggalkan semuanya dalam kegelapan? Mengapa orang yang begitu berbakti kepada orangtua, selalu membawakan sesuatu untuk dibawa pulang justru menghilang dari kehidupan kedua orangtuanya? Mengapa salah seorang dari kaum Kristiani yang justru kerap kali mengingatkanku untuk shalat itu harus lenyap dari hadapanku?

Aku mulai berpikir, seandainya saja aku yang menggantikan posisinya, bukankah tidak akan begitu menyakiti banyak orang? Apakah ini salah satu keadilan Sang Kaisar Dunia-Akhirat itu? Dibiarkannya ia kembali ke sisi-Nya, agar dunia tidak mencemarinya dengan noda-noda yang begitu banyak tersebar. Agar aku, diberikan kesempatan untuk menebus dosa sebagai orang tanpa arti untuk masa selanjutnya.

Aku lupa, begitu banyak hal yang belum sempat kusampaikan. Seandainya pun waktu dikembalikan, waktu yang sesingkat itu tidak akan cukup memberikan kata-kata yang dapat menggambarkan perasaanku. Dulu, dia selalu menitipkan pesan, “Jangan kangen sama Ntien, ya…” dengan nada ceria itu, yang selalu kujawab, “Tenang aja, nggak bakalan, kok…” Ia menyambutnya dengan tertawa. Apa dia tahu kalau sekarang ternyata kata-kata itu menjadi bumerang bagiku? Ternyata, aku sangat merindukannya ketika ia pergi.

Bayangan-bayangan masa lalu melintas sekejap-sekejap di kepalaku, di ingatan yang mulai mengabur. Kututup mataku, kembali kuhitamkan tinta kenangan yang melukiskan ia yang tertidur lelap. Kembali pula ke masa yang jauh lebih lama. Lalu, aku tersadar. Ia tidak pernah kemanapun, tidak pernah meninggalkanku dalam kehampaan. Jasad adalah sesuatu yang akan lenyap, tetapi setiap kenangan yang telah digoreskan tidak akan menghilang. Dengan itu pula gadis muda itu hidup.

Ingatlah janjiku ini, wahai sahabat yang telah melambaikan tangan. Kehadiranmu tidak akan pernah terlupakan, kehadiranmu tidak akan kubiarkan berlalu layaknya jasad yang membusuk. Jika hanya dengan itu engkau hidup, kuabadikan engkau selamanya. Janji yang hampir terlupa oleh kebusukanku sebagai manusia yang tak membalas budi. Ingatlah janjiku, wahai gadis muda yang baru saja mengeluarkan kuncup. Kuncup itu tak akan mekar menjadi bunga selayaknya, tetapi akan kumekarkan kau dengan wangi yang lain. Kepergianku tidak akan pernah menjadi kesedihanku, karena aku akan terus hidup beserta bagian jiwa keabadianmu.