Category Archives: Puisi

Time for coffee and poetry

Ratapan Sang Saka

 

Pagiku begitu merah
Merekah menentang siang
Aku berdiri di tiang terpancang
Menunggu
Ia tak kunjung datang
Oh, damaiku

Siangku begitu terik
Menyengat dengan pelik
Aku tetap di sini
Berharap, berharap, berharap
Padanya yang tersenyum
Saling mendekap mesra

Malamku begitu kelam
Menguak tabir seram
Mengapa pula aku di sini?
Malam tak lagi kelam damai
Menyerah ia pada api hati
Membisu terperi

Wahai pujangga merah
Mengapa engkau menggoreskan penamu?
Di hatimu genderang bertalu
Mengibarkan panji perjuangan semu
Tidak adakah aku di hatimu?

Aku mengalir di nadimu
Mebalut belulangmu
Pun aku menyaksikanmu menghancurkannya

 

Catatan penulis :

Ini puisi yang kutulis beberapa tahun lalu, waktu itu demonstrasi anarkis lagi marak-maraknya. Yang mengerikannya, ternyata puisi ini cocok juga disesuaikan dengan kondisi sekarang ini. Walaupun dengan bentuk yang lebih simbolis…

So, jangan bikin bendera kita ternoda, ya… 😉

Democrazy

 

demokrasi
Gambar diambil dari : http://www.mediasiswa.com

 

Kamu benci demokrasi

Kamu panggil dia democrazy

Lalu, kamu berdemonstrasi

Lalu, kamu berdemokrasi

 

Kamu benci demokrasi

Saat butuh, people power beraksi

Kalaulah kamu sadari

Sekata itu terikat kuat pada demokrasi

 

Kamu benci demokrasi

Katamu, tiada hukum agama yang sesuai

Saat politik memanas, dia kamu pakai

Sudah merambahkah realita ke hati?

 

Kamu benci demokrasi

Kamu benci merah-putih

Kamu benci warna-warni

Kamu benci nada sendiri

 

Kamu benci demokrasi

Kamu benci Tuhan bertikai

Kamu benci manusia berdamai

Kamu benci semua sisi

 

Agar kamu bisa bersatu diri

 

 

Depok, 16 Oktober 2016

________________________________________

Catatan penulis :

Dipersembahkan untuk yang suka rame-rame

Bolehlah beropini, asal sehat dan konsisten

Salam damai, semua!

 

Danau Maninjau

lingka_maninjau
gambar diambil dari : genrambai.blogspot.co.id

 

Kalau aku pulang
Masihkah kau menunggu di sana?
Kalau aku pulang
Mudah-mudahan senyum terkembang senada

Di kelok ampek puluah ampek*
Di situ surga yang merayu
Di tepi aspal nan angek*
Di situ surga kan menunggu

Garis cakrawala sempurna
Menaungi bayangan pegunungan
Gemawan bercengkerama dengannya
Merendam kakinya di perairan

Kau tahu
Aku mencintai permata
Yakni ia yang terpantul
Di atas perairan Danau Maninjau

Kau tahu
Aku menyukai emas yang mulia
Yakni ia yang terpantul
Di malam kelam air maninjau

Ia yang tak tergantikan
Ramah menyambut manusia
Ia yang berlimpah ikan
Ramah memberi makan semua

Dan ia terkhianati
Oleh keinginan menyenangkan si buah hati

Kita membeli permata
Kita membeli emas mulia

Tapi

Hilang permata Maninjau
Hilang emas mulia sang danau

Berlimpah kesenangan
Mengusir kebahagiaan
Bias semilir suara angin
Menghilang di balik deru mesin

Danau Maninjau
Di kelok ampek puluah ampek
Dalam semu yang mengigau
Di tengah keseakanan yang merengek

Kalau aku pulang
Akankah kau masih menungguku di sana?

Depok, 15 April 2016