Category Archives: Opini

Mendeskripsikan Aroma yang Membangkitkan Emosi (2)

Lanjutan dari artikel beberapa hari yang lalu; Mendeskripsikan Aroma yang Membangkitkan Emosi

Menyontek dari wikihow tentang cara mendeskripsikan aroma dan menambal-sulam dari pengalaman sendiri, akhirnya ada beberapa hal yang kudapat, setidaknya dari diri sendiri, bukan secara saintifik, tentang bagaimana mendeskripsikan aroma. Kita butuh ini, karena aroma selalu membuat emosi terjentik dengan mudah.

Membangun Indera-indera yang Lain

 

Dalam bahasa Indonesia, ternyata kutemukan istilah-istilah untuk mendeskripsikan aroma jauh lebih banyak daripada bahasa Inggris. Kemudiannya, aku tahu kalau kekayaan bahasa Indonesia juga dipengaruhi oleh kekayaan bahasa daerah di sini. Contohnya saja, istilah sengit, yang mendefinisikan aroma terbakar atau yang biasanya dikeluarkan serangga, berasal dari bahasa Jawa. Lainnya? Terlalu panjang kalau dideskripsikan di sini.

Jadi, sebenarnya akan lebih mudah untuk mendeskripsikan aroma dalam bahasa Indonesia. Itulah keindahan bahasa nasional kita 😉

Bagaimanapun, untuk semakin mempercantik kalimat, satu kata saja tidak cukup. Kita bisa menggunakan kata harum untuk sebuah bunga, tapi harum seperti apa? Aroma mawar dan aroma melati bisa dikatakan sangat jauh berbeda. Kalau aku mencoba mendeskripsikan dengan lebih jauh, aroma mawar menyentuh indera penciuman kita dengan lebih lembut dan mengawang. Bandingkan dengan keharuman aroma melati yang menyengat, menusuk indera penciuman dengan aroma yang lebih tajam.

Di sini, aku menggunakan kata-kata semacam lembut dan tajam. Keduanya sebenarnya lebih tepat digunakan untuk indera peraba yang adanya di kulit. Ini yang kumaksudkan dengan membangun indera-indera yang lain.

Yang pasti, penggunaan indera ini lebih untuk analogi, daripada menjelaskan aroma dengan konkrit. Ya, analogi yang lain-lain juga,  sih. Misalnya lagi,

Bunga itu berwarna kekuningan dengan aroma yang membangkitkan kehangatan pagi hari, pun sesegar berkas matahari yang masih bersinar malu-malu.

Pada kalimat di atas, aku mencoba mendeskripsikan aroma dengan menggunakan indera penglihatan, tanpa melupakan kata-kata kunci yang menggambarkan aroma. Seperti “sesegar” yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan aroma.

Yang paling sering kulakukan juga adalah menggunakan indera pencecap alias lidah, seperti aroma yang manis, kecut, atau sebagainya. Entah kenapa hal ini lebih mudah untuk dibayangkan daripada aroma yang sifatnya mengawang-ngawang. Kenapa, ya?

Membandingkan Aroma dengan Situasi Lain

 

Menganalogikan aroma dengan situasi lain juga bisa memperkaya deskripsi kita dalam menggambarkan aroma. Seperti contoh sebelumnya, aku membandingkan aroma dengan kehangatan cahaya matahari pagi dan berkas sinarnya. Ini juga analogi dalam situasi yang lain.

Sebelumnya, aku sudah memberitahukan kalau aku menyukai aroma selepas hujan, dengan aroma kayu dan rumput yang lembab, tapi aku sendiri selalu menemui kesulitan untuk menyampaikan aroma yang kupersepsikan dengan persis apa yang aku dapatkan sendiri. Namun, memang untuk mendeskripsikan aroma bukan sekadar untuk menyamakan persepsi atau membuat orang lain berpikir seperti yang kita mau. Dalam mendeskripsikan aroma, terutama dalam tulisan fiksi, itu artinya mencoba membangkitkan emosi dengan cara yang lebih unik.

Dalam hal ini, hujan tentu selalu membawa kenangan, siapapun akan berpikiran sama. Hujan selalu ada, dan memberi kesan lebih mendalam dengan suasana yang dingin dan sejuk. Semua orang akan memikirkan kenang-kenangan masa lalu terkait dengan hujan.

Kita bisa bermain kata di sini, dengan mendeskripsikan aroma hujan dengan kenangan semasa kecil, karena siapapun pernah bermain hujan ketika kecil. Misal,

Aroma hujan menarik ia ke masa lalu, di mana ia kecil tak berdaya, tapi tak ada beban yang dipikul. Aroma kenangan seperti kaki-kaki kecil yang menghempas-hempas kubangan air yang tiba-tiba saja muncul.

Saat aku mendeskripsikan ini, dengan segera aku kembali ke masa kecil, ketika aku berani berbasah-basah tanpa mencemaskan macam-macam. Bagaimana dengan aku yang sekarang, sepatu basah saja aku bisa merasa kesal. Boring adult hehe…

Bisa juga mendeskripsikan dengan sesuatu yang menyebalkan. Misal,

Aroma itu busuk dan berbau tidak enak, seperti tempat pembuangan sampah dengan banyak belatung di tengahnya.

Weew, lebih baik kalimat di atas ini dijadikan bagian dari cerita thriller, ya, jangan romance, hehe…

Analogi dengan Aroma Lain

 

Sebenarnya, ini cara mendeskripsikan aroma yang paling tidak memuaskan menurutku. Masalahnya, ini hanya akan merambat kepada pikiran-pikiran lain tentang bagaimana lanjutan mendeskripsikan kata yang kita pakai untuk menganalogikan satu aroma. Rasanya dia hanya jadi aroma di atas aroma.

Misal, aroma ruangan itu menebarkan aroma bunga. Nah? Aroma bunga yang seperti apa? Jadinya, aku merasa kurang puas. Tapi, tentu saja, daripada meninggalkan ketidakpuasan seperti itu, aku bisa juga mengembangkannya dengan cara mendeskripsikan aroma yang lain. Misalnya dengan menambahkan;

 

Mengingatkannya akan sejuknya embun pagi hari yang mengitari taman yang sepi,

atau

 

Membangkitkan kenangannya akan kampung halaman yang penuh dengan bunga-bunga tropis.

Yang pasti, tentunya kita harus menggunakan perbandingan dari dua benda yang sangat berbeda. Maksudnya, tidak mungkin menganalogikan aroma bunga yang satu dengan bunga yang lain, kan? Rasanya jadi tidak masuk akal dan memang hampir tidak mungkin membandingkan aroma objek yang sama, karena biasanya memang mereka pastinya memiliki aroma yang berbeda. Misalkan,

 

Aroma tubuhnya sesegar lavender yang bercumbu dengan embun pagi hari.

 

Atau yang paling sederhana dan terlalu jelas untuk dideskripsikan, bunga bangkai yang mirip dengan bau bangkai atau kotoran. Haha, rasanya tidak perlu lagi dijadikan contoh.

Mendeskripsikan Aroma seperti Pelaku

Kita mungkin sering mendengar bagaimana nyiur melambai, angin berhembus, majas yang kuingat sebagai majas personifikasi, dimana kita memposisikan benda mati seperti benda hidup. Karena yang biasanya melambai adalah tangan manusia, kan? Atau, yang kekerabatannya dekat dengan kita, seperti hewan primata lah.

Lantas, kenapa tidak kita coba dengan aroma? Kita bisa personifikasikan aroma dan membuatnya seperti kanak-kanak yang nakal, atau orang dewasa dengan pendirian yang kaku dan dingin. Dia bisa melambai, menggelitik, atau yang lain-lain. Aku paling suka penggambaran aroma seperti ini. Tidak hanya aroma, aku paling suka menggambarkan majas personifikasi dalam hal apapun. Misal,

 

Aroma bensin itu menguar kuat, melompat-lompat di indera penciumannya, mengganggu dan mengolok-oloknya.

Di sini, aroma bertingkah seperti anak-anak iseng yang riuh-rendah suka mengolok-olok. Ini membuat kita merasa lebih dekat dengan aroma, bukan? Walaupun, aroma itu tidak tergambar secara konkrit, tapi emosi yang didapat dari aroma itu cukup jelas.

Apa lagi, ya? Mungkin;

Aroma pantai itu membelai hidungnya dengan lembut, membisikkan kata-kata yang melepasnya untuk terlelap.

Sejauh ini, hanya beberapa poin di atas yang aku temukan. Mungkin ada lagi yang lebih menarik kalau dibahas lebih lanjut atau ada cara-cara mendeskripsikan aroma yang lebih unik. Kalau memang ada yang lain lagi terbersit di pikiran, nanti aku update lagi.

Akhir kata, kalau contoh-contohnya agak mirip dengan wikihow, mohon dimaklumi, karena memang inspirasinya datang dari sana. Tapi, masalah-masalah begini lebih enak didiskusikan, karena ini murni opini yang tidak ada dasar keilmuannya. Mudah-mudahan ada lulusan sarjana bahasa Indonesia atau Sastra Indonesia yang mampir untuk mendefinisikan keilmuannya. Atau, siapa saja juga boleh diskusi dengan meninggalkan komentar. Ditunggu, ya 😉

 

Ini artikel lengkap dari wikihow tentang bagaimana mendeskripsikan aroma (Sayang, dalam bahasa Indonesia aku belum menemukan); Describe a Smell by WikiHow

Advertisements

Mendeskripsikan Aroma yang Membangkitkan Emosi

Sekarang aku menulis dalam bahasa Indonesia. Kenapa? Waktu aku browsing google, aku kesulitan menemukan situs Indonesia yang membahas tentang cara mendeskripsikan aroma lewat kata-kata, kebanyakan malah bicara parfum. Sebenarnya, situs-situs parfum itu mungkin membantu dalam menemukan beberapa kata, tapi tidak sepenuhnya bisa membantu untuk mendeskripsikan aroma dalam kisah fiksi yang bisa sangat membantu dalam membangkitkan emosi pembaca.

Secara saintifik, aku tidak punya sumber. Namun, aku ingin mengeksplor banyak hal dari deskripsi aroma sebagai pelengkap setting kisah fiksi.

Novel yang aku tahu bicara tentang aroma secara mendalam adalah Perfume dari Patrick Süskind, dimana tokohnya mengenal dunia hanya lewat aroma. Ulasan lengkapnya di sini : Perfume .

Salah satu deskripsi aroma yang aku ingat dari buku ini adalah aroma manusia yang seperti keju asam. Analogi yang bagus.

Kenapa sulit sekali mendeskripsikan aroma? Karena aroma tidak berbuat apapun. Ia tidak berhembus seperti angin, ia tidak melambai seperti nyiur, ia tidak menari seperti api, aroma hanya sensasi yang tertangkap oleh hidung.

Memang ada beberapa aroma yang bisa dideskripsikan dengan gamblang. Busuk, pesing, apak, harum, segar, sengit. Belum-belum aku sudah pusing mencari yang lain selain enam ini. Kalau sudah begini, aku jadi salut dengan bahasa daerah yang biasanya lebih kaya dalam mendeskripsikan sesuatu, termasuk aroma.

Sebutan bau-bauan dalam bahasa Sunda :

Bau : bau bangkai

Hangit : bau benda terbakar

Hangru : bau darah

Hangseur : bau air seni

Hanyir : bau ikan (anyir)

Hapeuk : bau pakaian kotor/belum dicuci

Haseum : bau kotoran kucing/keringat

Penghar : bau jengkol/obat-obatan yang mengandung bahan kimia

Segak : bau tembakau/air tapai

Seungit : bau bunga/parfum

(sumber : wisatabdg.com)

Ini cuma dalam Bahasa Sunda, belum lagi dari bahasa daerah lain.

Masalahnya, dalam kisah fiksi, terutama novel yang membutuhkan setting lebih lengkap, penggambaran aroma ini akan membuat isi novel lebih kaya dan menarik. Semakin membuat pembaca mendalami emosi setiap karakternya, karena aroma biasanya membuat kita lebih mudah menginsafi segala hal.

Contoh sederhana, makanan. Makanan yang berbau sedap akan menggugah selera daripada yang berbau tidak sedap ataupun tidak berbau.

Satu hal yang aku pelajari dalam mendeskripsikan aroma, tentunya selain hanya menyebutnya kata-kata sifat yang sebelumnya kusebutkan, adalah menggunakan analogi seperti dalam novel “Perfume.”

Dan untuk menambah ide, aku juga membaca artikel ini : Wikihow : Describe a Smell.

Oke, ada masalah dengan koneksi internet, jadi aku akan lanjut pada posting berikutnya. Nanti mari kita sharing ide masing-masing, karena butuh banyak putar otak untuk mendeskripsikan aroma.

…tunggu…

The Rarity of Certain Indonesian Classic Literature

classic indonesian

I want to talk all about my country now, Indonesia. People might know Bali more, but fyi, Bali is one of the province in Indonesia. So, if you know Bali, just keep in mind that it is part of Indonesia.

Actually, there are many many tourism spot that as beautiful as Bali. Although I must admit that maybe Bali becomes really famous not only because the beauty, but also because their people are very welcoming to any visitors all around the world with all varied cultures.

But…

I don’t wanna discuss that now. I want to talk about literature. There are many various Indonesian literature from many different eras, and it’s safe to say that I don’t really know them all.

One thing for sure, literature here becomes really important since there are times when journalism is controlled by tirant and literature replaces the function of the journalism, to spread news and thoughts.

For many years, writers were being pressured and being imprisoned without any court and justice. For example, Pramoedya Ananta Toer, famous for his Quartet Buru, was being imprisoned for 14 years just because his books were considered dangerous. He did have rather radical thoughts. Moreover, all of their works; books, journals, any writings, were destroyed and banned. Many of their works are missing until now, and few of their writings become rare goods.

Why do people not reproduct the books remain a mystery. Two possible reasons are for personal benefit, because the more books become rare, the more expensive they are.

I found one of Pramoedya Ananta Toer’s books, titled “Di Tepi Kali Bekasi” (I think it’s not being translated in other languages). One of online shop sell it with the Rp3,000,000,00 which is a lot to the ordinary people like me (if we convert it to USD it will become USD222 or so). And even though I have those money, it will be just gone with one click and dissappear again from the market. That’s how rare the certain books are.

Second, I hope it’s not true because it only makes me still belong to the feudal era, someone still tries to put their thoughts hidden, so they don’t influence many people. Maybe people who will be injured with a critical thoughts of the citizens.

However, indie publishing books publish them, but it creates other dilemmas for us because they don’t exactly get a legal agreement for it. So, whenever we buy it, we promote the piracy. In the other hand, if we don’t read them, we lost much more; the history, the different thoughts and paradigms, the social situation back then. It will be a great loss, since history is the lesson we all need to learn.

So, what happen? Why did a major publisher not publish them? Can’t they ask for legal permission from the families or the copyright holder of those rare books?

What I found is the rare books mostly the books considered as the left-wing politics books, or socialism or communism. Some people thought that Pramoedya’s books contain the communism ideology, I, myself never see it in his works. I only saw that Pram was really concerned about injustice and repression among Indonesian people in the middle of chaotic social-politic condition here.

The problem is Pram told us the other side of history, which of course will cause a rupture among the creator of historical textbook nowadays. It means a very huge change that I am certain that half of people might not be ready for it yet. But, learning from the wrong history certainly will produce the wrong result. It’s not about ready or not, it’s all about not repeating our mistakes from long time ago.

I think it doesn’t matter who is true or who is false, only the truth will helps us to avoid the same mistakes.

Classics, I Love Thee

 

Oh my God!

When did the last time I write in my own blog? Every time I want to write, I just lose it, all those inspirations is gone. Well, actually it’s still there, but only as a fuzzy shadow behind my penniless mind.

There are many ways to write something, and I just can’t seem to pull it off. Silly me!

To be honest, I don’t even know what to write right now, so maybe a random thing will help. Usually, writing any random thing, or reading mostly, helps me to let my brain works properly again. Hope it works.

This last two years, I realized something. It’s because I finally found what my dream is. A little bit too late, but I’m happy I, at least, reach this moment. Considering many opinions of my close relatives about writing and the life of writer, I sometime still can’t believe I’m doing this now.

I might not become an author yet, but deciding to pursue career in writing is a great deal for someone like me 😉

And now, to develop my writing skill, of course I need to read something. Maybe I’m too conservative, but I choose, first of all, classics. Not only because I love classics, but it is really extraordinary that a work from 150 years ago, for example A Tale of Two Cities by Charles Dickens, can stay alive, more than that, enlightens and inspires a literary world nowadays still. How great is that?!

When I actually did, and still do, hopefully forever after, I fall in love with classics. What strikes me most is, I can reread this classic novels all over again. I mean, I always thought that classics have deep and heavy meaning, difficult phrases that will very hard to grasp. Well, at some point, it’s true. But, they have definitely fascinating way of expressing stories.

You can see I already mentioned Charles Dickens is his spesific work. Well, I gotta be honest, due to my indesiciveness, I start reading seriously (here, I also mean studying them to develop my writing skill) very late. So, this novel is the only one of Charles Dickens’ novels that I’ve read. How sad I am?

Anyway!

I love how Charles Dickens expressed his opinion and feeling in this novel. The first paragraph is especially astonishing. You know, “it was the best times, it was the worst times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness…” the description of two cities that in their ups and downs at the era. Great teaser that makes me wants to read more and more. Well, since I’ve written all my opinion of this novel, you can read more in my review: A Tale of Two Cities (Gaya Bahasa Narasi dan Dialog).

Do you know that I wrote the review of A Tale of Two Cities in four parts? You can call me dork, but I’m just really amazed by this novel (and the fact that I was finishing it too long, too ^^; )

The other novel that I’m stuck with is Pride and Prejudice by Jane Austen. At first, I thought the most romantist writer there is, is Shakespeare. But, after I read this, I actually changed my mind. The awkwardness of Mr.Darcy is something that enlighten the romantism between him and Elizabeth Bennet.

The great thing about classics are the author always put a good description of the social situation in which the story happens and it always blends into the character’s situation. They are comperehending each other to make a very sensible yet delightful story composition.

In Pride and Prejudice, Jane Austen expressed her opinion about the social purposes of women at that time, through the silly act of Mrs.Bennet and many sarcastic comments of few characters inside. My favourite is by Mr.Darcy, “A lady’s imagination is very rapid; it jumps from admiration to love, from love to matrimony in a moment.” (My review of Pride and Prejudice is here: “Pride and Prejudice”)

Never forget one sentence that makes this novel being in uproar, “It is a truth universally acknowledged, that a single man in possession of a good fortune, must be in want of a wife.” I think it’s a sarcasm about how the culture always drives women to chase after life partners.

At last but certainly not the least, because this is my most favourite author of lifetime, classics author, too, and from my country Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Unlike those two I mentioned, Pram (his nickname, by the way) had a very simple way of writing. He’s a true realist, but what amazes me is that he could make such simple words touch my heart and emotion. Very deeply, too.

And just like the other two novels, Pram described the social situation that happens in Indonesia at the moment. Sometime with literal explanations through dialogues, sometime with the implicit scenes of the characters. He had a radical thoughts, so reading his work can be challenging, but definitely worth it!

Besides, he had an excellent way of thinking. My most favourite quote is “seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” The english translation would be, “an educated person must learn to act justly, beginning, first of all, with his thoughts, then later in his deeds.” Really helps me out to stop and think before I try to make any judgment about anything or anyone.

However, I think, to grasp the current situation of literature development, I need to read modern ones, too. I will talk about modern literature any time soon.

So, what’s your choices of classics?

I am Honored

Source Image : http://www.acast.com

 

What are the honorifics meant to be?

To honor someone, of course. To let people know that you respect them. And maybe, further, to let them know you care or love them. Somehow, it was used for older people. In Indonesia, it was also used to unknown person, no matter what age.

Lately, there’s a slight change about all those things. The culture of using honorifics started to be ignored, especially in mentioning government officials. Even the president itself. (Back in the old days, government officials or figure called “Bung” in Indonesia. It’s an honorific that was being used in revolutionary movement in Indonesia, an honorific used, but never lose the meaning of equality among people.)

Some people think that it’s a moral degradation, that they who leave the use of the honorifics are lacking respects toward other people. But, are they really?

I acknowledged that some people do leave the honorifics to make fun of the certain person. To show that they do no longer respect that person. But, it’s not the same of every people that I know. There are people use it, hm… I don’t know their thoughts behind their action, but certainly in their writing, even if they don’t use the honorifics, they never mean to mock the people they talked about.

True, the removal of honorifics is not Indonesian culture at all. Moreover, we will use special word to describe the most respectable person. One of the word is “beliau” which is used to impersonate “you,” but only for the special person, such as national heroes, the important figure as president, etc.

Furthermore, we even used three different word to impersonate one word, only because it’s meant to be used by different subject. The example is, if God said it, then it will be Tuhan berfirman (similar to commandment, but any sentence said by God, then it’s “firman”). If it’s being said by The Prophet, it will be “sabda” which actually has the same meaning as firman. And if the ordinary people said it, then it will be the usual, “say”, “tell”, or such. In Holy Koran itself, I found it was just the same in every different subject, which is “qul” (meaning : said). There is no difference whatsoever, whether for God or the disbeliever.

Honorifics translate into different kind of words in Indonesia. Come into many terms, I lost the track already.

Back to the slight changes in the Indonesian culture about this honorifics things, I guess it was influenced by culture acculturation. Like in English language, if it’s meant “you,” then it will you for every person we meant. Maybe a little bit different if it meant for God, which is I usually heard as “thee.”

I really agree about people to honor other people. I would think it’s great to show that either. But, to pinpoint the exact word to do it, I don’t think it’s necessary. Okay, but not necessary, let alone be forced. Honor someone is meant to act, to do something good and respectable. It’s the action that actually we need to point it out whenever we want to show respect.

However, to respect also about how we heard someone else’s opinions or wants. So, of course what really matter is considering what other people want. For example, if they do want to be called by honorifics, it won’t hurt to use honorifics, too. It’s like you accepting their subjective opinion even though it’s different for yours.

Well, the last but not least, I am honored enough if you’re willingly read my blog 😉

 

Not So Nice Indonesian’s Cultural Phenomenon : PHP

kencan-thitathiti
Source image : Bisnis.com

What’s PHP in English? The giver of false hope. The bastards who gives us the false hope? L.O.L

I’m not sure, maybe someone who knew can leave comment and tell me? What the perfect English term for the giver of false hope?

Well, let me describe a little bit about PHP. It’s Indonesian term of someone who constantly gives you an attention and kind affection that makes you happy and feel special. Usually, Indonesian people use this term refer to romantic relationship, although sometimes PHP can develop into general terms. The employer who gives the employee the baseless news so the employee develop a baseless hope, for example? Like there’s elaborate news about salary rising, but eventually, nothing is actually rising except the sun every morning 😀

I’m gonna limit my opinion to romantic relationship here.

What confuses me that people always blame this PHP, while, to be honest, the one who harbors the feeling of hope is actually, I don’t think it’s wrong, but more like it’s personal problems. The fault is if we’re asking people to take care of our problems. Lately, it becomes more and more difficult to be nice or kind to other people, because it only causes misunderstanding and creates new problems. What was that?

Don’t take a girl home, if you don’t want to be her boyfriend“, I think it’s really shockingly stupid. Sorry about the words. But, it only makes everything in this world becomes more complicated. What kind of kindness we should do, if we don’t want to create those misunderstandings? Why should we limit ourselves -in something good, morally speaking too!-  in order to take care of other people’s feeling? I mean, usually, we stop talking and doing harsh and violent things to avoid people’s suffering. Now, we should limit ourselves to be kind to other people? Really?

Well, that was really absurd to me!

I mean, we gotta start to learn, if there is nothing happened, roughly said, if a guy or girl doesn’t ask you out on a date or honestly tell you that they want to build serious romantic relationship with you, then there’s nothing really happened! So, instead of blaming other people who are being nice of you, thus gives you false hope, you can restrict your expectation, it’s rather different from hope actually, with open up yourself to reality! That there is nothing actually happened just yet! Well, maybe sometime later, there’s nothing wrong with hope, as long as you hang on to the reality, but nothing happened until something’s actually happened!

Reality is the only thing you can hold on, fellas! It may distorted by our perception, but, at least, when it’s empirically proven, we can have a definite argument of our personal assumption. I mean, who care about feelings anymore, when you are already committed to marriage, just to be clear? It’s already an empiric proofs, at the very least! There’s even a written legalized agreement paper about it. Then, I can tell you that it’s no longer “false hope,” right?

So, don’t really hang on to the false baseless expectation. Rather, you should just work on your decision. If you like this girl or this guy intensively, you just come out to them. Tell them your feeling and, of course, prepared to be rejected, too. It might not be a good feeling, but it’s a good experience. If you don’t stand among the uncertainties, leave it! And if you must wait, of course you can, but please, no longer blame anyone for whatever you harbored in your own heart. It’s yours, it will never be his/hers, thus only you, yourself, can manage it. No one can be able to do anything of your own heart, honestly!

Please, let the world be nice and kind once again, without any suspicions and distorted perceptions. The world are already suffering enough. (I put a little bit drama here ROTFL)

Freedom of Expression

freedom_of_expression-500x340
Source image : fogcityjournal.com

 

Lately, there is a massive debate among Indonesian people. I thought it would be over once Ahok was arrested, he was in jail now. Ahok was charged over a Blasphemy in Indonesia, because these sentences :

“Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya. Karena dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho. Itu hak bapak ibu, ya.” (So, don’t believe in other people. It can be that in deep in your subconscious you cannot elect me. Because you are fooled with surah Al-Maidah 51 or such things like that). Honestly, you can judge yourself, is it a blasphemy or not. I won’t direct you to one or other ways 😀

So, of course there is pro and cons about this charge. Some people don’t believe that it can be called blasphemy, but some people said it was a blasphemy. So, even though Ahok was already asked for forgiveness, some people won’t forgive him. Let’s say that the people who won’t forgive him is already too offended or resented by his sentence. (Later, he is sentenced guilty, anyway)

And what’s bad about these debates is there is no longer rational restriction. While debate or discussion actually can be helpful to bring new ideas, people just brought it up to win something. Maybe they are very pessimistic on winning something else? I don’t know.

My suggestion is, when you feel like you want to force people onto your ideas, maybe you must think about yourself first. Would you like someone else force onto his/her ideas? I bet you don’t.

After all, there was a really good quote from Noam Chomsky about this.

“If we don’t believe in freedom of expression for people we despise, we don’t believe in it at all.”

Good quotes. I agree. Whoever that is, and however we despised them or their ideas, don’t you think every people have their freedom of expression? I learned a lot actually from those phenomenon happened in my country.

 

Mudik oh Mudik

 

2017-02-08-PHOTO-00001027
Sumber : kompas.com

Selamat merayakan hari raya Idul Fitri 1438 H (maap kalau salah, suka nggak apal tahun hijriyah hehe)

Bahkan, di hari raya ini, semua orang melupakan perseteruan dan kebencian, lalu saling minta maaf dan saling memaafkan (budaya Indonesia banget, kalau ada yang minta maaf, wajib memaafkan 😀 )

Sejenak, timeline FB yang tadinya panas nggak henti-henti itu menjadi sejuk. Cuma satu yang nggak sejuk-sejuk, berita soal mudik. Berapa orang yang meninggal kali ini, untuk menjalankan tradisi yang dipertahankan? Sebenarnya, tradisi yang dipertahankan itu yang baik, yang unik, bukan yang mematikan begitu. Silaturrahmi itu kapan saja, toh. Uang THR-nya bisa ditabung dulu, buat dipakai kapan aja mau pulang… Dan nggak harus berduyun-duyun di satu waktu.

Ah, tradisi…

Kalau boleh jujur, aku suka tradisi. Maksudnya, sesuatu yang membudaya dan jadi karakter khas bangsa itu adalah sesuatu yang menarik, menawan hati. Tapi, bukan berarti logika hilang cuma karena tradisi. Kita bisa memilah tradisi yang menyenangkan, daripada yang mengharu-biru demi memuaskan hasrat si drama, the dark side of us always…

Libur sekolah?

Anak nggak bakalan jadi bodoh libur seminggu aja, dan orang tua bisa bantu mengejar ketertinggalan anak minta les tambahan dari guru, gurunya juga pasti seneng…

Cuti lebaran?

Kalau cuti-cuti lain dihemat-hemat dan lalu bisa ambil cuti besar, bukankah malah jadi bisa tinggal lebih lama dengan keluarga, daripada cuti lebaran yang paling berapa hari sih?

Bermaaf-maafan pas lebaran?

Ah, pengalamanku juga kebanyakan kita maaf-maafan lewat whatsapp, twitter, facebook, segala macam media sosial lain. Sekarang teknologi komunikasi sudah canggih, dimanfaatkanlah untuk jadi  kebaikan. Jangan buat jadi ajang gosip dan debat kusir aja.

Dan lagi, sejak kapan kita disuruh maaf-maafan pas lebaran sama Allaah? Untuk perayaan aja, sebenarnya lebih tepat kalau kita pesta (makan-makan) pas Idul Adha. Itupun dengan tetangga, keluarga terdekat sehari-hari juga bisa…

Well, apapun itu, kalau emang itu yang bikin seneng, silakan aja, sih… 😀

Terlampir sumber soal berita kecelakaan pas mudik tahun 2017 : silakan klik di sini

 

Persekusi Lama yang Diperbarui

 

Sejak kericuhan politik dan demokrasi bablas 2014, beberapa kata tiba-tiba jadi terkenal. Pertama, blusukan ala Jokowi. Itu kata yang bagus dan berkat itu, kesadaran berpolitik masyarakat jadi terbuka. Kedua, masif dan sistematis. Dua kata itu tiba-tiba jadi sangat populer setelah perseteruan antara kubu Jokowi-Prabowo. Kalau nggak salah sih, yang lebih mempopulerkan itu Prabowo. Sering banget kubunya pakai dua kata itu.

Trus, baru-baru ini, tabayyun. Sejak kasus penistaan agama, kata ini jadi melekat banget, walaupun aku nggak yakin pelaksanaannya dilakukan bener-bener, sih :p (bahkan, oleh orang yang cinta banget sama kata satu ini).

Aku nggak ingat satu per satu. Yang pasti, sekarang ini, aku menemukan kata baru. Mungkin ini kata lama, mungkin aku aja yang kurang updet. Yang kuinget, soal ancam-mengancam udah jadi makanan sehari-hari kalau soal gerakan, aksi, dan lain-lain yang berhubungan dengan politik, tapi baru sekarang istilah persekusi ini mencuat.

Gara-garanya kasus seorang dokter di Sumatera Barat, yang diancam dan diteror oleh anggota FPI karena status-statusnya yang pedas di medsos soal Rizieq Shihab. Lucunya, status-statusnya yang kulihat itu sepele banget (mungkin karena aku cuma baca sebagian). Dan banyak yang suka nulis status begitu, jadi aku agak heran, dari sekian banyak status yang menyudutkan, kenapa si dokter ini yang dipilih.

Semakin lama, aku semakin merasa kalau soal persekusi ini memang sengaja dibesar-besarkan. Disebarkan ke khalayak ramai, untuk membuat teror tersendiri. Mungkin juga taktik beberapa orang untuk menekan kebebasan berpendapat yang sudah tidak lagi konstruktif. Kebanyakan hanya serangan-serangan yang akhirnya lebih ditujukan kepada pribadi daripada kritik terhadap satu situasi atau fenomena. Lebih-lebih lagi, dilakukan tanpa ada proses pikir, seakan manusia hanya  monyet yang suka mengetik. Siapa peduli apa yang diketik, dan apa akibatnya, dan siapa yang disinggung, yang penting berpendapat.

Well, kalau itu kebebasan, sekalian aja manusia disuruh buka baju, apa bedanya? Karena kalau melihat cara orang-orang sekarang berpendapat, aku jadi berpikir kalau kaum nudis itu jauh lebih masuk akal dibandingkan mereka-mereka, mulut tanpa filter ini.

Balik ke masalah persekusi. Persekusi ini bukan hal yang baru. Ingat, Soeharto sering menculik lawan-lawan politiknya atau menangkap (tanpa pengadilan) aktivis-aktivis yang terlalu vokal? Setelah reformasi, aksi ancam-mengancam masih terus berlangsung. Jadi, kenapa sekarang baru di-blow up?

Kalau kita mau melihat dari sisi terangnya, seperti kata Simon & Garfunkel, mungkin hal ini bisa mengerem mulut-mulut tanpa filter yang berkeliaran di medsos. Aku yakin memang itu tujuannya. Yang aku tidak tahu, apakah tujuan ini dilakukan atas kepentingan tertentu atau sekadar meredakan ledakan opini di medsos.

Sama saja seperti kasus penculikan dan opresi di rezim Soeharto, persekusi dilakukan dengan cara menakut-nakuti, meneror, mengopresi. Tidak peduli siapa yang memulai atau siapa targetnya, yang diciptakan adalah ketakutan. Gabungkan dengan teror bom, situasi sempurna untuk menciptakan satu histeria massal.

Di saat-saat begini, tagar #KamiTidakTakut menciptakan efek yang sama besar. Apalagi dengan sistem informasi medsos yang masif, tagar-tagar semacam itu seperti sugesti yang ditanamkan secara massal. Menyebarkan pengaruhnya untuk memberikan rasa aman secara berkelompok. Ya, mungkin benar medsos tidak memberikanmu teman sejati, tetapi mereka mewadahi satu kelompok, dimana kau bisa merasa mendapat tempat di dalamnya, lalu mengikatmu dalam kelompok itu. Wadah bereksistensi, wadah untuk merasa terikat.

 

Ditambah dengan perang urat syaraf, penuh dengan propaganda politik yang saling serang, saling menjatuhkan, kondisi ini pas banget untuk menjatuhkan mental-psikologis massa. Ketidakpercayaan, saling curiga, provokasi, hal-hal ini selalu menjatuhkan kelompok macam apapun.

Propaganda yang dilancarkan secara kasar mungkin lebih gampang untuk ditolak, bagaimana dengan provokasi halus? Yang dilangsungkan dengan cara yang baik-baik, mengendurkan kewaspadaan, dengan begitu lebih mudah untuk ditanamkan?

Well, teror bisa datang dalam berbagai bentuk. Kurasa, teror tidak harus selalu menakutkan. Sesuatu yang meragukan saja sudah cukup menanamkan teror.

 

Satu Hari yang Tak Akan Terulang

546652_263102530451518_258489774246127_543294_1921561366_n[1]
Gambar diambil dari : rhaggill-duniaku.blogspot.co.id

Tanggal 18 Mei…

Tepat 19 tahun yang lalu, alias tahun 1998, ternyata hari ini adalah hari pertama mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR. Dan mereka melakukan itu di bawah ancaman tank, panser, dan senjata api. Waktu itu aku masih SMP.

Waktu itu aku masih kecil. Nggak kurang pula, apatis, masa bodo. Yang penting aku aman-nyaman di tempat tidur. Apa peduliku kalau di luar sana ada ribuan orang mati demi membela keyakinan mereka? Shame on me, huh?

Peristiwa Mei 1998 yang terekam jelas di ingatanku adalah tanggal 14 Mei 1998. Dulu ibuku mempekerjakan ART. Aku deket sama dia, dan hari itu adalah tanggal ulang tahunnya. Sayang sekali, pada hari itu, malam-malam sekitar jam 7, kericuhan terjadi di dekat rumah. Sejarak beberapa rumah, di seberangnya, ada indomaret (yang masih bertahan sampe detik-detik aku mau pindah rumah tahun 2015, lho! Mungkin sekarang juga masih ada) dan sekelompok orang rusuh menyerang indomaret itu.

Apa yang kulihat? Sekelompok super hero yang sedang membela bangsa? Bukan, sekelompok oportunis b***sat (maaf ya, aku sedang kesel hehe) yang sedang memanfaatkan situasi. Mereka menjarah minimarket itu. Bahkan, di ingatanku, mereka juga bawa barang-barang berat, kayak komputer. Entah itu dari indomaret, atau dari toko di dekat situ. Biar aku nggak tahu apa-apa, aku jijik melihat mereka.

Dari dulu sampe sekarang, keberadaan orang-orang seperti itu nggak pernah hilang. Orang-orang yang mencari kesempatan buat kepentingan mereka sendiri. Orang-orang yang nggak peduli dengan nasib orang lain. Orang-orang yang nggak punya kode moral. Dan orang-orang inilah yang sekarang memakai topeng agama. Kalau waktu kecil saat aku belum paham politik aku sudah merasa jijik, apalagi sekarang?

Aku nggak percaya kalau situasi sekarang akan berujung pada peristiwa reformasi 1998. Aku nggak mau menyebut itu kerusuhan, buatku itu sangat tidak menghormati orang-orang yang sukses menurunkan Soeharto dan dwifungsi ABRI di pemerintahan. Dan orang-orang yang mati membela keyakinan mereka. Bravo!

Sayangnya, orang-orang percaya. Orang-orang ketakutan. Bisa jadi, orang-orang yang trauma akan peristiwa 1998, orang-orang yang melihat langsung, nggak sepertiku yang cuma melihat dari dalam rumah yang sengaja digelapkan, supaya nggak kena serangan massa.

Dulu, waktu itu, mahasiswa dan rakyat bisa dibilang satu suara. Aku nggak bilang 100% ya, karena pasti selalu ada pro-kontra di balik semua. Yang pasti, kemuakan berpuluh tahun dan opresi Soeharto jadi pemicu. Kesatuan itu yang menggerakkan massa begitu luas, begitu banyak. Sekarang ini, dengan kita yang terpecah, mana mungkin pengumpulan massa semacam itu akan terjadi lagi? Pengikut organisasi agama yang katanya sampai 7 juta itu? Itu cuma sekitar 3% dari keseluruhan rakyat Indonesia. Kenapa takut?

Mungkin di balik ini semua, ada aktor-aktor lain. Lebih kuat, lebih berkuasa, daripada orang-orang kecil macam preman-preman bertopeng agama itu. Dan mereka sedang mempersiapkan skenario mereka. Tapi, buatku itu menjijikkan, bukan menakutkan.

Tahu yang kutakutkan? Saat seseorang dengan suara keledai malah dipuja-puja. Saat orang-orang menolak memakai salah satu bagian tubuh yang menggerakkan hampir seluruh sistem organ, yaitu sistem syaraf pusat. Saat kita bisa mulai melihat robot-robot bergerak dengan remote control di balik layar. Saat orang melupakan nuraninya sebagai bagian dari kelompok manusia, makhluk yang diciptakan tak kurang dari Tuhan sendiri.

 

well