Category Archives: Resensi Buku

Actually, it’s a book review

A Tale of Two Cities (Plot dan Sejarah)

photo (3)

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classics

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris

 

 

Ternyata, benar-benar reviewnya mesti kupisah jadi banyak bagian begini. Maklum, baru pertama kali, serius mau review isi satu novel selengkap-lengkapnya (tanpa perlu jadi spoiler tentunya!)

Versi yang ini, aku mau ngereview tentang sisi sejarah yang terjadi di novel ini. Sebelumnya, kan aku udah cerita ini tentang pemberontakan rakyat Perancis yang mengakibatkan jatuhnya Bastille, lambang otorita kaum aristokrat Perancis zaman dulu.

Di sini, memang Dickens menjelaskan tentang penderitaan rakyat Perancis, yang miskin dan kelaparan, karena ulah kaum aristokratnya (di mana-mana sama aja, ya). Tapi, yang menarik, Dickens bukan cuma berpihak pada sisi rakyat jelata Perancis, tapi juga menceritakan kisah ini dari sisi kaum aristokrat. Seperti Charles Darnay, yang keturunan aristokrat, tapi memutuskan untuk putus hubungan sama pamannya yang sombong dan semena-mena banget. Ada juga, ayahnya Lucie, Doctor Manette, yang bisa dibilang dari kalangan terhormat, karena dia seorang dokter.

Bahkan, ada kaum aristokrat yang divonis hukuman mati oleh Guillotine, bilang begini, “What I have been thinking as we came along,  and what I am still thinking now, as I look into your kind strong ace which gives me so much support, is this; – If the Republic really does good to the poor, and they come to be less hungry, and in all ways to suffer less, she may live a long time: she may even live to be old.” (almost cry at this scene…)

Dickens, I fell for you, sementara para pengarang lain suka menggunakan kata ganti “laki-laki” atau “he” sebagai kata ganti untuk semua hal, terutama yang berhubungan dengan perjuangan dan pergerakan, yang emang banyak lebih terkait sama laki-laki, Dickens menyebutkan “she” sebagai kata ganti “Republic.” O, wow!

Jadi, nggak hanya penderitaan rakyat jelata, para kaum aristokrat ini juga menemui ketidakadilan dalam proses revolusi Perancis. Bahkan, Dickens menyebut istilah populer soal kemerdekaan di Perancis liberty, egality, fraternity, or Death. Dari novel ini juga, kita bisa melihat fakta-fakta kelam pasca revolusi Perancis. Fakta kelam dari perjuangan kebebasan. Ya, tentu saja, masa transisi nggak segampang itu dicapai. Sama aja kayak reformasi Indonesia, kan?

Kadang, emang mesti jelek dulu sebelum kita belajar untuk jadi baik.

Setelah baca novel ini juga, aku baru sadar ada satu kesamaan dari novel-novel klasik. Mereka menggunakan banyak tokoh, yang satu per satu dibahas secara lompat-lompat, tapi akhirnya ketemu di akhir cerita. Seperti novel The Count of Monte Cristo oleh Alexandre Dumas, yang lebih kompleks lagi jalan ceritanya, tokoh-tokoh yang terlibat itu pertama kita baca seakan terpisah, tapi pada akhirnya mereka tersangkut-paut dalam seluruh konflik cerita keseluruhan, yang dikemas belakangan.

Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer juga kurang-lebih punya gaya cerita yang sama. Bedanya, mereka ini nggak terlalu kelihatan terpisah karena ada satu tokoh yang menyatukan mereka, yaitu si Minke.

Jadi, kalau baca buku ini, terima aja dulu setiap tokoh yang muncul, familiar atau nggak, atau setiap adegan yang kelihatan nggak ada hubungannya, trus simpen di memori. Karena, nanti pasti setiap tokoh ketahuan apa perannya, dan tiap adegan bakal ada hubungannya juga. Itu juga yang bikin aku kagum sama sastra klasik, begitu banyak tokoh dan adegan, tapi bisa aja koneksinya nyambung dan masuk akal.

Dan, inget, setiap tokoh, sekecil apapun, kalau disebut namanya, atau jadi karakter di satu bab, pasti bakalan muncul belakangan, jadi jangan pernah melupakan mereka sedikitpun ^^;

Aku berharap jadi nggak terlalu banyak ngebocorin isi ceritanya. Yang umum-umum aja kok ini hehe…

Last but exactly NOT the least… Narasi yang satu ini mesti aku sertakan. Setelah beberapa kalimat yang bikin aku terkesima, ini salah satunya. Kenapa, ya? Bukan hanya menggambarkan ketakutan, tetapi juga menggambarkan sisa-sisa negeri yang selama ini menderita. Setidaknya, kesan itu yang kudapet.

Houses in twos and threes pass by us, solitary farms, ruinous buildings, dye-works, tanneries, and the like, open country, avenues of leafless trees. The hard uneven pavement is under us, the soft deep mud is on either side. Sometimes, we strike into the skirting mud, to avoid the stones that clatter us, and shake us; sometimes we stick in ruts and sloughs there. The agony of our impatience is then so great, that in our wild alarm and hurry we are for getting out and running – hiding – doing anything but stopping.

Out of the open country, in again among ruinous buildings, solitary farms, dye-works, tanneries, and the like, cottages in twos and threes, avenues of leafless trees. Have these men deceived us, and taken us back by another road? Is not this the same place twice over? Thank heaven, no. A village. Look back, look back, and see if we pursued! Hush! The posting-house.

Leisurely, our four horses are taken out; leisurely, the coach stands in the little street, bereft of horses and with no likelihood upon it of ever moving again; leisurely, the new postilions follow, sucking and plaiting the lashes of their whips; leisurely, the old postilions count their money, make wrong additions, and arrive at dissatisfied results. All the time, our overtraught hearts are beating at a rate that would far outstrip the fastest gallop of the fastest horses ever foaled.

Tapi, baca sendiri ya, ini kutipan di bagian mana bukunya *ketawa setan* Singkatnya, ini buku rekomended banget bagi yang suka drama dan mau menikmati narasi-narasi panjang. Lebih bagus lagi kalau baca dalam bahasa aslinya, karena pemilihan kata-kata oleh pengarang itu yang bikin menarik. Yah, kalau dalam bahasa lain selain Inggris dan Indonesia, aku nyerah, sih! ^^;

 

sampai di akhir review, hore! 😀

 

A Tale of Two Cities (Gaya Bahasa Narasi dan Dialog)

photo (3)

 

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classics

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris

 

 

Akhirnya!

Setelah beberapa bulan, lupa juga ya, berapa bulan tepatnya, akhirnya aku selesai baca “A Tale of Two Cities”! Waktu pertama kali baca, seperti yang sudah kutulis dalam review sebelumnya, aku jatuh cinta pada paragraf pembukanya. (Lihat review part 1 : A Tale of Two Cities (part 1)) Tapi, selanjutnya, setiap kali aku buka buku itu lagi, kepalaku puyeng dan aku langsung ngantuk. Gara-gara bahasanya susah, dan mungkin juga konsentrasiku jelek 😀

Karena Dickens juga sastrawan klasik abad pertengahan (iseng pakai istilah ini, karena suka aja) seperti Shakespeare (mana yang lebih tua ya, aku nggak tahu) kadang-kadang dia pakai istilah kuno, seperti “thee,” “thy,” untungnya cuma di dialog dan nggak banyak banget. Dan karena Shakespeare terkenal banget, jadi aku udah belajar dikit-dikit soal bahasa kuno itu. Bahasa kuno ini sih, masih dipakai dalam pemujaan agama dan sebagainya setahuku, sih.

Di review kali ini aku mau fokus ke gaya bahasa Dickens, lebih mendalam. Seperti biasa, sastrawan klasik emang suka banget muter-muter dengan narasi yang panjang. Dialognya juga sama muter-muternya. Akibatnya, aku suka bosen dan ngantuk. Yang parah, nggak ngerti haha. Positifnya, narasi dari Dickens ini menarik, jadi kita tetap bisa menikmati narasi panjang-berbelit itu kalau kita mau meresapi cara penulisannya itu. Negatifnya, siap-siap capek (kalau nggak biasa sama gaya bahasanya).

Ada dua scene, yang aku mesti balik-balik halamannya, karena aku susah ngerti maksudnya. Kedua scene itu sama, dialog antara dua tokoh. Pertama, dialog antara Mr. Stryver dan Mr. Lorry. Ceritanya, Mr. Stryver mau melakukan sesuatu (apakah ituuu??? Haha), dan meminta restu dari Mr. Lorry, yang ternyata nggak setuju. Masalahnya, di tengah-tengah dialog, tiba-tiba Mr. Stryver ini marah, dan aku nggak tahu kenapa.

 

Mr. Lorry paused, and shook his head at him in the oddest manner, as if he were compelled against his will to add, internally, “you know there really is so much too much of you!”

“Well!” said Stryver, slapping the desk with his contentious hand, opening his eyes wider, and taking a long breath, “If I understand you, Mr. Lorry, I’ll be hanged!”

 

Di atas jelas dari gesturenya, Mr. Lorry terlihat nggak setuju, tapi dari satu kalimat itu aja, dan dialog mereka mengalir ke arah perseteruan. Nah, pas pertama-tama, aku bingung banget, dari mananya sih, kalimat ini tiba-tiba membuat Mr. Stryver marah? Pelan-pelan, aku baru ngerti makna dari “so much too much of you.” Sindirannya ngena banget deh, Mr. Lorry… 😀

Kedua, dialog antara Lucie dan Mr. Carton. Di sini, Mr. Carlton menceritakan kegelisahannya pada Lucie, yang tentu saja didahului oleh basa-basi dan permintaan maaf.

 

“Don’t be afraid to hear me. Don’t shrink from anything I say. I am like one who died young. All my life might have been.”

“No, Mr. Carton. I am sure that the best part of it might still be; I am sure that you might be much, much worthier of yourself.”

“Say of you, Miss Manette, and although I know better – although in the mistery of my own wretched heart I know better – I shall never forget it!”

She was pale and trembling. He came to her relief with a fixed despair of himself which made the interview unlike any other that could have been holden.

 

Hmm… Jujur, aku nggak tahu apa yang ngebuat Lucie pucat dan gemetar. Ya, emang ada kata kunci di dialognya, kalau Mr. Carton bilang “wretched heart” dan “died young” yang pasti menyatakan penderitaan dia di masa lalu. Tapi, belum jelas banget gitu lho, apaan. Bahkan, sampai detik-detik terakhir pembicaraan mereka, Mr. Carton sama sekali nggak cerita masa lalunya (nggak usah dikutip, makan space 2 halaman sendiri -_- ). Beda ya, sama kita-kita sekarang, maunya curhat aja, sedetil-detilnya.

Waktu baca novel versi Inggrisnya, kita juga harus hati-hati menelaah penggunaan bahasanya Dickens. A Tale of Two Cities ini kan mengisahkan tentang Inggris dan Perancis di detik-detik ketika Bastille jatuh oleh people power-nya. Sewaktu rakyat Perancis unjuk rasa dengan mengerahkan massa ke arah Bastille, Dickens menggunakan istilah The sea rises. Karena aku rada lemot, kupikir beneran air laut yang menerjang (sampai-sampai aku bingung, emang di tengah-tengah kota Paris ada lautnya, ya?), tahunya laut manusia. Bisa jadi juga aku yang lemot, sih. Hmm…

photo (4)
Ilustrasi scene “The Sea Rises” dari Wordsworth Classics

Satu lagi, ada satu tokoh wanita, namanya sampai akhir pun nggak ketahuan. Tadinya aku pikir dia hanya semacam simbolisme dari kemarahan dan dendam yang ada di tengah-tengah rakyat Perancis, namanya aja The Vengeance. Lah, tapi ternyata dia manusia asli, yang punya panggilan begitu, tapi aku nggak paham kenapa namanya bahkan nggak disebut sampai akhir. Dan kenapa dia yang dijuluki The Vengeance, sementara ada tokoh lain yang mendendam sebenar-benarnya, yang bakalan lebih tepat dapat julukan itu?

Karena sifatku gampang curiga, jangan-jangan dia tokoh asli yang terlibat gerakan rakyat Perancis waktu Bastille jatuh dulu? Well, who knows. Bisa jadi juga dia tokoh yang digunakan Dickens untuk memperkuat kesan dendam dari si tokoh yang punya dendam itu. Bisa jadi juga, memang simbolisasi dendam proletar Perancis ke kaum aristokratnya, tapi disuguhkan sebagai karakter yang sebenar-benar hidup.

Sampai sini aja review yang ketiga. Kalau kulanjutin, pasti jadinya panjang banget. Sampai ketemu di review selanjutnya, kalau pada belum bosen haha…

See ya!

A Tale of Two Cities (part 2)

charles dickens
Gambar diambil dari amazon.com

 

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classic

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris

 

Jangan tanya ini sampe part berapa karena akupun tak tahu. Halah… Intinya, karena aku bakal baca buku ini lama banget, tapi aku gak sabar ngasi per detailnya, akhirnya jadi begini, deh. Kutulis satu per satu review yang bakal sangat panjang ini.

Alasannya, karena dari awal aku udah dikejutkan dengan paragraf pembuka yang apik banget. Keren dan ngena banget. Bahkan, aku pikir2 cocok banget dengan kondisi sekarang ini. Hanya saja, bukan lagi soal Perancis dan Inggris, tapi tentang Amerika dan Indonesia. Jakarta dan Washington DC deh, karena kan judulnya “cities” hehe…

Dan untuk review sebelumnya, aku mau ralat. Aku dengan pedenya bilang aku udah nyampe halaman 60, tapi setelah ditilik baik-baik, aku baru sampe halaman 26! What the…

Ada apa dengan konsentrasi membacaku yang makin rendah ini?Btw, kalau mau baca review sebelumnya, yang emang cuma sampe halaman 26 itu (aneh, ya! haha…) silakan baca di sini; A Tale of Two Cities (part 1) dan kalian akan menemukan isi paragraf dari buku ini yang keren banget.

Aku sampai pada cerita dimana orang yang telah terpenjara (terkubur; kayak penjara bawah tanah gitu) ternyata punya seorang putri dan akhirnya mereka bertemu. Dan biasalah, penulisnya pasti membuatnya jadi haru-biru.

Monsieur Manette, si napi itu, hidup tanpa gairah sekarang. Dia melanjutkan hidupnya yang tertunda, dengan membuat sepatu, di bawah perlindungan seorang pria Perancis pemilik Wine Shop, Monsieur Defarge. Setelah 18 tahun terkubur hidup-hidup, Monsieur Manette tentu saja kehilangan pegangan soal makna hidup.

Ini deskripsi dari Charles Dicken :

The faintness of the voice is pitiable and dreadful. It was not the faintness of physical weakness, though confinement and hard fare no doubt had their part in it. Its deplorable peculiarity was, that it was the faintness of solitude and disuse. It was like the feeble echo of a sound made long and long ago. So entirely had it lost the life and resonance of human voice, that it effected the senses like a once beautiful color faded away into a weak poor stain. So sunken and suppressed it was, that it was like a voice underground. So expressive it was, a hopeless and lost creature, like a famished traveller, wearied out by lonely wandering in a wilderness, would have remembered home and friends in such a tone before lying down to die.”

Good, eh? Penggambaran dari suara Monsieur Manette ini menjadi simbolisasi dari kondisi dia secara keseluruhan. Lost and hopeless creature. Dan sekarang, dia siap dibawa ke negeri Inggris oleh putrinya.

Wonder it will be very boring, tapi biar, deh. Rasanya ini lebih jadi curhatan daripada review yang sebenar-benarnya. Yang pasti bahasa Inggrisnya bener-bener susah, karena Charles Dickens itu dari Britania dan bukannya Amerika, yang bahasa Inggrisnya banyak dipelajari di seluruh dunia.

Well, whatever, yang pasti aku nemuin lagi kata-kata indah dari Charles Dickens, dan mau kuabadikan satu per satu di blog. Soalnya, kalau gak, pasti lupa hehe.

Here’s another :

…to the calm that must follow all storms – emblem to humanity, of the rest and silence into which the storm called Life must hush at last…”

Kalimat singkat yang menggambarkan hidup itu penuh masalah, yang tentunya akan selesai satu hari (siapa yang tahu satu hari itu sampai mana). Satu hal yang aku sadari dari Charles Dickens adalah dia suka mem-personifikasi hal-hal penting. Kayak Life di atas. Atau Hunger di paragraf sebelumnya.

 

A Tale of Two Cities (part 1)

charles dickens
Gambar diambil dari amazon.com

 

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classic

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris
Sekarang ini lagi baca buku Charles Dickens yang judulnya “A Tale of Two Cities.” Aku milih buku ini karena di satu artikel, buku ini dapet peringkat pertama di kategori sastra klasik terbaik. Yang kedua Agatha Christie “There Were None.” Suatu hari pasti aku incer itu buku hehe…

Niat bacanya udah beberapa bulan yang lalu. Malah, sempet udah mulai baca. Tapi, dasar namanya sastra klasik, dan terlebih lagi, Bahasa Inggrisnya juga yang dari Inggris Raya, yang beda sama Bahasa Inggris yang biasa dipelajari di Indonesia. Susyaaaahh…

Akhirnya, baca dua halaman pertama, berhenti, trus ulang lagi. Begitu terus, sampai sekarang, yang keempat kalinya. Bedanya, pas sekarang ini, aku bener-bener tekad buat tetep lanjut, walau cuma satu halaman sekali baca (ini juga nggak setiap hari, lho ^^;)

Sekarang, udah di halaman ke-60-an. Dalam seminggu. Lambat banget, tapi lumayanlah buat seorang prokastinator kayak aku.

Setting waktu di buku ini sendiri adalah saat King George III merajai Inggris Raya dan Louis XVI berkuasa di Perancis. Jadi, saat-saat sebelum Revolusi Perancis yang terkenal itu. Itu tuh, yang kejatuhan Penjara Bastille yang dianggap jadi simbol tirani Louis XVI.

Karena judulnya “A Tale of Two Cities,” aku udah bisa nebak kalau ini pastinya ngelibatin dua negara ini (ya iyalaaahhh). Well, yang pasti, aku suka banget sama paragaf pembukanya…

It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity, it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way – in short, the period was so far like the present period, that some of its noisiest authorities insisted on its being received, for good or for evil, in the superlative degree of comparison only” (sumber)

Buatku, ini narasi yang unik dari penggambaran suatu situasi. Kebayang nggak sih, kita bakalan penasaran setelah ngeliat narasi macam ini? Maksudny, mendeskripsikan satu waktu dalam dua sisi yang kontradiktif begini jarang dilakukan pastinya.

Satu paragraf ini aja udah bisa ngebuat aku paham kenapa karya ini dikatakan karya terbaik dari Charles Dickens. Dan mungkin karya terbaik dari seluruh karya sastra.

Sejauh ini baru baca bagian “Recalled to Life,” cerita tentang seseorang yang dipenjara (bener-bener dikurung kayak dalam kuburan gitu) di bawah tanah selama 18 tahun. Akhirnya, dia bebas. Lalu, ternyata dia punya seorang putri yang terpaksa harus mengurus dia.

Udah, baru sampe si Petugas Bank Tellsonnya ngasih tahu itu.

Biasanya, kalau aku ngereview buku, aku harus baca bukunya sampai selesai, tapi kali ini aku nggak sabar. Pengen ngebahas paragraf pembukanya yang ini. Selain itu, dengan membahasnya dikit-dikit begini, malah makin detail reviewnya. Jadi, aku belajar buat review sebuah buku dengan baik. Kalau tunggu selesai, biasanya banyak scene-scene yang kelupaan.

Pas pertama aku baca, kupikir buku ini rada kaku. Bisa jadi gara-gara pembahasan politiknya. Mungkin aku rada ngikut stereotip kalau yang berhubungan dengan politik pasti membosankan.

Teryata, nggak juga. Narasi dari Charles Dickens emang khas sastra klasik, bertele-tele dan panjang-lebar, tapi ternyata cukup luwes. Untuk novel satire, sejauh ini lumayan luwes. Walaupun, ada bagian-bagian yang narasinya rada kaku. Di novel ini, Charles Dickens juga sesekali menggunakan metafora, dengan gaya bahasa yang cukup unik.

Seperti halnya di halaman 26 (edited), dimana Charles Dickens menggambarkan kelaparan yang terjadi di wilayah Saint Antoine, Paris. Ia menggambarkan ‘hunger‘ (maksudnya bencana kelaparan gara-gara Louis XVI waktu itu) dari narasi akan situasi yang lain. Seolah-olah ‘hunger‘ menjadi preseden dari situasi itu sendiri.

Bukan cuma, “rakyat kelaperan. Tubuhnya kurus-kering,” which is so obvious. (Rada ketampar sama kalimat sendiri haha, penggunaan bahasaku masih sesempit itu)

Coba baca sendiri, deh. Kemampuanku untuk bermain kata masih kurang, jadi nggak dapet penggambaran yang tepat untuk narasi Charles Dickens ini. Ini dia kutipannya;

The mill which had worked them down, was the mill that grinds young people old; the children had ancient faces and grave voices; and upon them, and upon the grown faces, and ploughed into every furrow of age and coming up afresh, was the sigh, Hunger. It was prevalent everywhere. Hunger was pushed out of the tall houses, in the wretched clothing that hung upon poles and lines; Hunger was patched into them with straw and rag and wood and paper; Hunger was repeated in every fragment of the small modicum of firewood that the man sawed off; Hunger stared down from the smokeless chimneys, and started up from the filthy street that had no offal, among its refuse, of anything to eat. Hunger was the inscription on the baker’s shelves, written in every small loaf of his scanty stock of bad bread; at the sausage-shop, in every dead-dog preparation that was offered for sale. Hunger rattled its dry bones among the roasting chestnuts in the turned cylinder; Hunger was shred into atomics in every farthing porringer of husky chips of potato, fried with some reluctant drops of oil. (sumber)

See? Keren, ya. Ia menggambarkannya dengan detail dan gaya bahasa yang nggak biasa dan monoton.

Ingatanku soal detail kurang bagus, jadi dua kutipan itu aku ambil dari situs lain. Ternyata dua kutipan itu ada dimana-mana, ini bukti betapa terkenal karya ini. Dan juga, bukti kalau kalimat yang sama dalam novel ini bisa memikat banyak orang sekaligus. Biasanya kan, rentang perhatian orang beda-beda dan bikin orang punya penekanan yang berbeda dari satu objek. Aku sering nyoba iseng nyari kutipan-kutipan yang kubaca dari buku di internet, dan nggak semua ada.

Nah, sekarang aku mau lanjut baca…(mungkin besok atau hari-hari setelahnya ^^;) Semoga aja cepet selesai.

Dan….

See ya di review “A Tale of Two Cities” selanjutnya, ya!

 

 

sampai

“The Count of Monte Cristo”

img_20161006_170725

 

Pengarang : Alexandre Dumas

Penerbit : Wordsworth Classics

Tahun : Text 1997 ; Catatan 2002

Pengantar dan catatan : Keith Wren

Tebal : 894 halaman (dengan catatan 17 halaman)

 

 

Buku paling tebal yang pernah kubaca! Saingannya mungkin Rose Madder oleh Stephen King dan Harry Potter and the Goblet of Fire oleh J.K. Rowling. Aku sendiri nggak tahu mana dari mereka yang paling tebel, yang pasti buku dari Alexandre Dumas ini mencapai 800-an halaman! (Harry Potter and the Goblet of Fire sampe 1000-an, ya?)

Aku tahu buku ini udah lama, dari waktu SMA, sekitar tahun 2001/2002. Direferensiin temen, yang bilang buku ini bagus (dan buku ini akhirnya difilm-in sekitar tahun 2002? Lupa tahunnya). Dan waktu itu, aku juga dipinjemin. Dan emang bener-bener bagus! Saking bagusnya, aku jadi pengen baca lagi dan pengen punya sendiri. Akhirnya, tahun 2015, aku bener-bener beli buku ini.

Yang paling aku suka di sini adalah alurnya yang rumit, muter-muter, belibet, tapi kerennya semua jadi masuk akal kalau udah baca keseluruhan cerita. Jadi, bagi yang suka konflik, buku ini bagus banget.

Masuk ke sinopsis dulu, ya. Awalnya, diceritain tentang pemuda sempurna, yang rasanya nggak mungkin ada di dunia ini! Edmond Dantѐs, awak kapal yang disukai kolega dan atasannya. Karena dia cekatan dan terampil, pemilik kapal berencana menjadikan dia kapten kapal. Udah gitu, ganteng pula! Menambah deretan kesuksesannya, dia bertunangan dengan perempuan yang terkenal kecantikannya di salah satu kota pelabuhan di Perancis itu, Mercedes. Ya, nggak heran dong, ada aja laki-laki lain yang iri sama kesuksesannya itu.

Satu, saingannya dalam berebut profesi kapten kapal, Danglars. Kedua, laki-laki yang juga mencintai Mercedes, yaitu Ferdinand. Dan hal itu diketahui oleh Danglars, yang berniat menjatuhkan Dantѐs. Kondisi Ferdinand yang patah hati, dan juga lemah hati ini orang, dimanfaatkan Danglars untuk memfitnah Dantѐs sebagai pemberontak Napoleon. Persekongkolan naif ini (naif buat si Ferdinand yang sebenernya pengecut, ya!) disaksikan oleh Caderousse, pemilik rumah sewa Dantѐs dan bapaknya (ibu Dantѐs sudah meninggal). Dia nggak setuju, dan sebenernya cukup suka sama si Dantѐs, tapi dia sama pengecutnya sama Ferdinand, jadi dia bungkam, membiarkan Dantѐs ditangkap.

Untuk paham soal cerita ini, nggak ada salahnya baca Sejarah Perancis, waktu pemberontakan Napoleon Bonaparte terhadap Louis XVI, karena cerita ini sedikit membahas kondisi politik waktu itu. Kalau di buku yang aku baca dari Wordsworth Classics ini, ada pengantarnya, jadi penjelasan tentang nama-nama dan suasana politik Perancis waktu itu, dijelasin dengan lengkap. Termasuk, tentang terjemahan buku itu yang satu-dua nggak cocok dengan si pengantar. Lengkap banget deh, pengantarnya!

Singkat kata, karena keculasan si Danglars ini, Dantѐs ditangkap, yang tragisnya nih, waktu pesta pernikahan dia dengan Mercedes. Pada era dimana setting cerita terjadi, suasana politik lagi kacau dan Louis XVI menangkapi orang-orang yang dituduh sebagai anggota pemberontak tanpa pengadilan! Dimana-mana ada aja, ya!

Di tengah kebingungannya, Dantѐs bertemu dengan salah satu jaksa yang menangani kasusnya, yaitu Villefort. Waktu menemui Dantѐs, di selnya, Villefort berjanji untuk mengusut kasusnya, karena Dantѐs merasa nggak bersalah. Sayangnya, Villefort punya masalah sendiri. Walaupun dia sangat ambisius untuk mempertahankan jabatannya di pemerintahan, ayahnya sendiri malah anggota pemberontak Bonaparte. Dan karena itu, untuk menutup-nutupi hal itu, Villefort memilih untuk membiarkan Dantѐs yang masuk penjara dan menghancurkan surat yang menyatakan tuduhan bahwa Dantѐs adalah pemberontak.

Villefort membiarkan Dantѐs dihukum dalam penjara politik (kayak penjara isolasi di bawah tanah, gitu) seumur hidup.

Dantѐs hampir saja membiarkan dirinya mati, memprotes keputusan itu dengan cara mogok makan. Namun, beberapa hari, saat ia berbaring, ia dengan jelas mendengar suara gesekan logam dengan batu. Ia yakin ada yang mencoba melubangi dinding penjara. Dia memperoleh semangat hidupnya lagi dan bertemu dengan salah seorang pendeta tua dari Italia, Abbѐ Faria, yang mengajarkannya banyak hal.

Dalam setahun saja, nggak hanya Dantѐs berhasil menyerap semua ilmu dari si pendeta tua itu, Abbѐ Faria juga memberitahukan rahasia tentang harta karun di bawah laut. Rahasia umum tepatnya kali ya, soalnya dia udah berusaha meyakinkan orang-orang yang mendatangi dia di selnya, mencoba memanfaatkan cerita itu untuk menebus kebebasannya. Ia memaksa Dantѐs untuk percaya padanya, dan mencari jalan agar Dantѐs bisa memperoleh harta itu.

Tentu saja, pertama-tama, dengan cara mengusahakan agar Dantѐs bisa kabur dari penjara terpencil yang dikelilingi samudera luas itu.

Well, sampai di sini. Kalau penasaran, ya baca bukunya. Buatku, buku ini nyaris sempurna. Kenapa kubilang nyaris? Pertama, karena buku ini tebel, liatnya aja udah suka males bukanya, kan? Tapi, percaya deh, begitu mulai baca, nggak bakalan nyesel dan betah berlama-lama. Karena konfliknya seru.

Mungkin buat orang yang nggak suka konflik muter-muter, bisa susah juga suka sama buku ini, karena emang, seperti halnya novel klasik, konfliknya emang suka dibikin panjang. Apalagi si Alexandre Dumas, setahuku sih, bukunya tebel-tebel. Apalagi, kalau nggak suka politik, ya. Salah satu konfliknya juga memuat konflik politik, sih. Tahu kan, ribetnya skenario politik?

Aku yakin, sepanjang baca buku ini, pasti ada saat kening kita dibikin berkerut pas baca di tengah-tengah.Jadi mikir; kok, ceritanya loncat ke sini, trus cerita ini apa hubungannya sama cerita si Monte Cristo, dan lain-lain. Percaya deh, baca terus ceritanya. Karena semua konfliknya jadi masuk akal begitu kita baca sampai habis. Dan ini yang bikin aku bilang “ini buku keren!” Dengan konflik rumit itu, bisa aja Dumas membuatnya masuk akal. Dan semuanya ketemu di tengah-tengah.

Pesan moral dari buku ini sebenernya cukup sederhana, tapi karena endingnya juga dieksekusi dengan baik dan mencengangkan, pesan yang ingin disampaikan penulis jadi ngena banget. Oya, endingnya bukan ending twist kayak yang lagi tren sekarang, tapi bisa dibilang, bukan ending yang juga gampang ditebak. Artinya, endingnya sih, standar banget, tapi eksekusi dan alurnya sama sekali nggak standar.

Sedikit spoiler, tema buku ini tentang pembalasan. Well, aku nggak bilang ini tentang balas dendam, karena semua tokoh rata dapet pembalasan. Yang baik-baik dapet pembalasan berkali lipat atas kebaikannya di masa lalu, yang jahat-jahat juga dapet sanksinya. Caranya juga bukan kayak di film India-India itu, nerobos markas musuh, trus membabi buta menyerang musuh-musuhnya, tapi dengan cara yang buatku intelek banget. Jadi, kalau mengharap buku ini penuh pertempuran, kamu bakal kecewa.

Akhir kata, buku ini kompleks. Dengan rasa sakit hati, dendam, cinta, sampai kompleks rasa bersalah. Lika-liku konflik masing-masing tokoh, yang ada buanyak itu, juga diceritakan dengan detail. Ngebuat semua tokoh jadi manusiawi, walaupun karakter jahat tetep nyebelin. Hehe…

Kesimpulan : wajib baca kalau yang satu ini, deh!

#31HariBerbagiBacaan

 

“Pride and Prejudice”

img_20161003_201720

” PRIDE AND PREJUDICE ” 

 

Pengarang : Jane Austen

Penerbit : Wordsworth Classics

Tebal : 325 halaman

Tahun : First published 1993, new introductions and notes added in 1999, illustration added in 2007 (jadiii??? ^^;)

 

 

Walaupun udah lama aku mendengar karya Jane Austen, Pride and Prejudice, terutama karena sering banget diangkat ke film, aku belum pernah membaca karya satu ini. Dulu-dulu aku nggak pernah tertarik sama karya klasik. Ya, karena pengetahuan tentang sastra kurang banget, apalagi sastra impor.

Kebetulan, aku baca buku ini dengan bahasa aslinya, bahasa Inggris. Itu udah bikin pusing. Ditambah lagi, Inggrisnya itu versi British punya, yang bahasanya berbeda dengan bahasa Inggris “USA” yang lebih familiar sehari-hari. Misal, Austen memakai handsome untuk menggambarkan wanita cantik, fine eyes dengan arti yang kurang-lebih sama, matrimony, dan lain-lain.

Berawal dari penggambaran situasi keluarga Bennet, sepasang suami-istri dengan lima anak, di wilayah pedesaan bernama Herthfordshire. Sang ibu, Mrs.Bennet, begitu terobsesi untuk menikahkan anaknya, jadi ia ribut saat seorang pria single-kaya, berpenghasilan £5,000 per tahun, datang ke desa mereka. Ia memaksa suaminya untuk mengenalkan diri dalam upaya memperkenalkan kelima putrinya kepada sang bujangan, bernama Mr.Bingley.

Di kata pengantar, perhatian pertamanya itu terpusat pada kalimat pertama yang disuguhkan Austen, yaitu “It is truth universally acknowledged, that a single man in possession of a good fortune, must be in a want of wife.” (Kebenaran yang sudah diketahui secara universal bahwa pria lajang berpenghasilan tinggi pasti menginginkan seorang istri) Denger ini, aku setuju juga sama penggambaran dari si pengantar kalau kalimat itu unik, karena berkebalikan dengan kepercayaan umum pada era itu, dimana justru cewek yang berkeinginan menikahi pria kaya. Di sini juga aku belajar kalau kalimat pembuka dalam novel itu nggak boleh asal-asalan. Epik, deh!

Nah, barulah Austen menjelaskan, bukan dengan gamblang, tapi lewat dialog keluarga Bennet tentang Mr. Bingley dan Mr. Darcy, dua pria berpenghasilan sangat besar, baru saja membeli rumah Netherfield (kalau di Inggris, setiap rumah punya nama). Dua pria ini sifatnya berlawanan banget. Mr. Bingley yang ramah dan supel, Mr. Darcy malah sebaliknya, kelihatan angkuh dan nggak mau bergaul dengan sekitarnya.

Mrs. Bennet, ibu dari lima anak perempuan keluarga Bennet, langsung buru-buru memperkenalkan anak-anaknya kepada dua lelaki yang disegani ini, dengan harapan salah satu atau keduanya akan jatuh cinta pada anak perempuannya yang mana saja. Belakangan, Jane Bennet, anak perempuan tertua keluarga Bennet, jadi dekat dengan Mr. Bingley. Sebaliknya, Elizabeth Bennet, yang lebih akrab dengan panggilan Lizzy, jadi membenci sahabat lelaki itu, Mr. Darcy, karena kesombongannya. Nggak hanya Lizzy, hampir semua warga desa menumbuhkan prasangka jelek pada Mr. Darcy.

Prasangka itu diperkuat oleh cerita seorang prajurit militer Inggris berpangkat rendah, Mr.Wickham. Berdasarkan cerita dari bibirnya, Mr. Darcy telah mengabaikan keinginan Mr. Darcy senior untuk mewariskan sebuah tempat tinggal (kayak semacam gereja dan dia jadi pastur) untuknya, membuat pria itu terkatung-katung jadi prajurit militer yang miskin. Kebencian Lizzy semakin menjadi. Sedangkan, ikatan perasaan Jane dan Mr.Bingley justru semakin menguat.

Mrs. Bennet berkali-kali mengucapkan rasa bahagianya karena Jane menuruti keinginan ibunya untuk mendekati Mr.Bingley. Biarpun begitu, sepucuk surat datang dari Miss Bingley, mengabarkan bahwa mereka memutuskan untuk meninggalkan Hertfordshire, bahkan mengungkapkan bahwa ia menginginkan adik Mr.Darcy untuk menjadi adik iparnya! Harapan Mrs.Bennet pupus di tengah jalan. Dan mereka semua berniat untuk melupakan keberadaan kedua pria tersebut.

Apa yang terjadi selanjutnya, baca sendiri, deh! Biar bener-bener meresapi kisahnya.

Cerita ini, walaupun bertema romansa, menampilkan banyak hal lain selain percintaan antara dua insan. Di dalamnya, terdapat sindiran dan sarkasme atas pandangan umum kala itu tentang pernikahan dan wanita. Seperti salah satu kutipan oleh Mr. Darcy kepada Miss Bingley, “A lady’s imagination is very rapid; it jumps from admiration to love, from love to matrimony, in a moment.” (“imajinasi wanita sangat cepat, bergerak dari kekaguman kepada cinta, dari cinta kepada pernikahan, dalam sekejap.”) Juga, dimana satu-satunya masa depan buat perempuan itu cuma menikah. Ini diperkuat dengan karakter Mrs. Bennet yang tujuan hidupnya cuma satu, yaitu menikahkan kesemua putrinya dalam sekejap.

Tidak hanya itu, pada zaman dimana setting cerita terjadi, wanita juga diharapkan mempunyai satu skill yang sama; melukis, bermain pianoforte (piano zaman baheula), berdansa, dan menyepikan diri di rumah hingga kakaknya menikah. Ditunjukkan dari dialog antara Lady Catherine de Buorgh, tantenya si Mr. Darcy, dengan Lizzy, ia bertanya tentang keahlian ini kepada Lizzy dan secara terus-terang menyatakan bahwa ia terkejut dengan tidak adanya saudara Lizzy yang melukis dan fakta bahwa mereka bergaul di luar rumah sebelum kakaknya menikah.

Jane Austen juga menunjukkan humor-humor yang cerdas lewat dialog-dialog sarkastis yang dilontarkan Lizzy. Karakter ini sendiri menunjukkan bahwa Austen mencoba mendobrak pandangan lama tentang pernikahan dan wanita. Aku bisa bilang kalau ini adalah salah satu karya yang mempromosikan kemajuan wanita di tengah-tengah masyarakat melalui karakter Lizzy, yang sama sekali beda dengan gadis umumnya pada zaman itu.

Yang aku suka dari romantisme yang disuguhkan Austen adalah adegan-adegan manis, tapi nggak cheesy, kayak waktu Lizzy menginap di rumah Charlotte, temennya yang baru aja menikah dengan sepupunya, Mr. Darcy, selalu muncul. Membuat Lizzy bertanya-tanya. Apalagi kecanggungannya, dimana dia menemani Lizzy jalan-jalan, tapi dia nggak banyak bicara, kebanyakan diam. Atau mengunjungi Lizzy di rumah Charlotte, tapi dia cuma bisa duduk. Lizzy sampe kebingungan, haha! Sesuai sih, sama seleraku. Nggak penuh kata-kata romantis yang kadang-kadang bikin malu sendiri dengernya.

Nah, sebaliknya, buatku kekurangan novel ini ada pada dialognya. Kebanyakan emang aku nemu ini di novel-novel klasik, sih. Dialognya panjang-panjang dan kadang bikin capek juga bacanya. Rasanya dalam dialog itu semua harus dijabarkan dengan detail, padahal menurutku sih, nggak perlu-perlu amat. Overall, aku tetep suka karena di balik dialog itu emang banyak diselipkan pandangan-pandangan Austen sendiri soal situasi sosial wanita kala itu.

Namanya juga novel klasik ya, nggak mungkin bertahan dan jadi klasik kalau nggak menarik. Jadi, bener-bener novel ini recommended, apalagi buat penyuka romance yang nggak kebanyakan mengumbar kata-kata romantis yang saking manisnya jadi rada eneg. Hehe…

 

#31HariBerbagiBacaan

“Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”

Pengarang : Soe Hok Gie

Pengantar : Prof. Dr. Ahmad Safii Ma’arif

Penerbit : Bentang

Tebal : 358 halaman (dengan 76 halaman daftar pustaka, pengantar, dan index)

 

 

Pas banget lagi tanggal 30 September, yaitu peringatan peristiwa pembunuhan jenderal-jenderal yang (katanya) dilakukan PKI, aku baca salah satu skripsi Soe Hok Gie tentang perkembangan PKI di masa pasca-proklamasi. Nah, aku niat banget posting hari ini jadinya. Tapi, sama sekali nggak menyangkut peristiwa G 30 S/PKI, ya! Minimal nyambung-nyambung dikitlah, masih soal PKI.

Pertama yang mau kubahas adalah pro-kontra soal PKI. Bahkan, sampai sekarang PKI udah nggak ada pun, orang-orang masih aja takut sama ‘hantu’ yang diciptain entah siapa. Apa lagi kepentingannya ngegunain nama PKI, aku nggak tahu. Tapi, aku pribadi sih, nggak percaya PKI bisa bangkit lagi, bekingannya siapa? Dan kalaupun iya, emang kenapa ditakutin? Politik zaman feodal yang penuh kekerasan kan, nggak mungkin hidup lagi di tengah masyarakat yang udah cerdas begini.

Nah, teralihkan. Balik ke resensi buku. Menurut pengantarnya, buku ini sebenarnya skripsi yang ditulis Soe Hok Gie tahun 1969, yang judul aslinya “Simpang Kiri Sebuah Jalan : Kisah Pemberontakan Madiun September 1948.

Sebelum masuk ke tulisan asli Soe Hok Gie, di sini nggak ada keterangan kalau ini karya asli tanpa editan (unaubridged atau aubridged version kalau istilah Inggrisnya, aku nggak tahu istilah Indonesianya apa), mending baca dulu pengantar dari Ahmad Safii Ma’arif. Yang aku lihat sih, ada sedikit pernyataan yang kontra-PKI, seperti deskripsi dia tentang pemuda-pemuda PKI yang ‘sok revolusioner.’ Ke belakang sih, pernyataan itu dikeluarkan juga dari Soe Hok Gie, aku ngerasa ini kurang baik buat karya ilmiah yang harusnya diminimalisir subjektivitasnya, walaupun mungkin nggak bisa 100%.

Buku ini sebenernya bukan tentang perjalanan PKI secara menyeluruh, tapi seperti halnya skripsi atau karya ilmiah, dia merupakan studi kasus dari satu fenomena khusus. Di sini, kasus yang mau diangkat Soe adalah tentang pemberontakan Madiun oleh Musso, salah satu fenomena sejarah yang banyak diungkit juga di buku-buku sejarah anak SMA. Dalam skripsinya, ia menganalisa sebab-sebab meletusnya pemberontakan Madiun yang memakan banyak korban jiwa itu.

Diawali tentang sekelumit kisah-kisah tokoh yang jadi pelopor perkembangan PKI di Indonesia, tentu saja termasuk pula Musso, yang disebut-sebut sebagai penggerak pemberontakan. Di sini disebutkan tokoh-tokoh besar di depan layar, yang mungkin udah sering kita dengar namanya, seperti Musso itu, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Amir Sjarifudin, dan lain-lain. D.N. Aidit malah kurang banyak disebut, mungkin karena D.N. Aidit masih generasi muda waktu itu.

Selanjutnya, Soe membatasi tulisannya dalam pergolakan internal di tengah-tengah PKI, dimulai dengan pecahnya PKI menjadi dua kubu, yaitu grup Alimin-Sardjono dan grup Tan Malaka. Dan dari perpecahan ini, PKI mulai mengalami kemunduran dari segi ideologis, yang berdampak pada situasi psikologis dalam tubuh PKI sendiri.

Adanya intervensi pihak asing dalam pemerintahan Indonesia, juga dengan Sjahrir yang bersikap kooperatif dengan asing, menimbulkan kekecewaan pihak-pihak yang menginginkan revolusi Indonesia, yaitu Indonesia yang merdeka seutuhnya. Kekecewaan ini ditambah-tambah dengan situasi politik PKI yang simpang-siur, dan akhirnya diletuskan oleh pembunuhan Kolonel Sutarto di Solo. Inilah cikal-bakal pemberontakan Madiun. Dari pelajaran yang kudapat dulu sih, otaknya itu Musso, tapi di buku ini, waktu pemberontakan Madiun, ditandai sama diproklamirkannya Pemerintah Fron Nasional (kayak kudeta terhadap pemerintahan, gitu), Musso sendiri justru lagi nggak ada di tempat. Belakangan, salah satu tokoh PKI, yaitu Soeripno, menjelaskan bahwa PKI nggak bermaksud untuk meletuskan pemberontakan, apalagi kudeta, karena petingginya sendiri justru lagi sibuk sama reorganisasi dan fusi partai PKI yang kepecah-pecah.

Ada beberapa teori soal ini, silakan baca sendiri ya, untuk lebih jelasnya.

Nggak seperti buku sejarah lainnya, tulisan Soe Hok Gie ini nggak digambarkan berdasarkan kronologis yang kaku, jadi kalau detail-detail kayak masuknya pengaruh komunisme di Indonesia dibawa sama siapa, dan kapan terjadinya, nggak disebutkan di sini. Soe lebih mementingkan situasi sosial dan psikologis yang menjadi dasar masuknya paham sosialisme-komunisme di Indonesia. Salah satunya ya, keinginan rakyat untuk mengubah situasi sosial-politik yang masih bernapaskan feodalisme.

Nggak hanya penjajahan Belanda, orang pribumi sendiri juga masih banyak menerapkan prinsip feodalisme. Kayak masih berlakunya sistem sewa tanah yang memberatkan tani, tukang ijon (semacam lintah darat), dan banyak lagi. Jadi, idealnya sih, ideologi sosialisme-komunisme ini menurutku indah banget, karena slogan mereka juga satu rasa, sama rasa. Artinya, dalam ideologi ini, nggak ada tuh, dominasi dari pihak kapitalis, jadi nggak ada kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat. Idealnya ini, lhooo…

Sayangnya, komintern nggak setuju kalau ajaran komunisme ini dicampuradukkan sama agama (ini yang bikin Tan Malaka jadi bersitegang sama komintern), sedangkan dogma agama di Indonesia itu kuat banget, akibat pengaruh para pendatang. Makanya, ketidakcocokan ini akhirnya jadi bumerang buat PKI, dimanfaatkan juga buat ngejatuhin pamor PKI.

Nah, pembicaraannya jadi ngarah ke politik, deh.

Sesuai dengan deskripsi pengantarnya, buku ini disajikan seperti “sebuah novel sejarah dramatis yang menegangkan,” emang Soe Hok Gie nggak melulu menggambarkan kronologis detik-detik pemberontakan ini dengan cara yang kaku. Soe juga memasukkan analisa kondisi psikologis pemuda yang kebingungan saat dihadapkan dengan ideologi politik PKI yang simpang-siur, contohnya Sjahrir yang banyak kompromi dengan kaum kapitalis dan pemerintah, bahkan Belanda sendiri (ini waktu muncul fasis Jerman, jadi semua negara bergabung melawan fasisme, termasuk juga PKI, yang bergabung dengan Partai Komunis di Belanda).

Kerennya sih, buku ini emang agak mirip novel, yang punya pola konflik-klimaks-antiklimaks, jadi kita bisa menikmati plot yang sama kayak kita waktu baca novel fiksi. Jadinya, asyik buat kita yang mau belajar sejarah juga. Bukan berarti, unsur kekakuan sejarah hilang ya, soalnya waktu baca buku ini kita bakal dihadapkan dengan berbagai nama, tanggal, dan tahun peristiwa. Juga, berbagai keputusan-keputusan belibet dari kongres-kongres serta rapat-rapat yang diselenggarakan PKI.

Sayangnya, buku ini rasanya dikhususkan sama pengamat politik aja, kurang bisa masuk untuk santapan orang awam atau yang buta-politik. Kalau dari skripsi Soe Hok Gie emang nggak ada penjelasan soal itu, wajar. Karena itu emang karya ilmiah yang pastinya punya istilah-istilah teknis sendiri yang udah dikenal sama kalangannya. Tapi, seharusnya Ahmad Safii, selaku pengantar buku ini, paham kalau buku ini bakal jadi santapan massal, jadi enaknya istilah-istilah teknis itu dikasih penjelasan (banyak istilah politik dan juga bahasa Belanda, bahkan ada teks dalam Bahasa Perancis, yang nggak diterjemahin). Dia ngasih pengantar sih, tapi menurutku nggak ngebantu, karena sifatnya malah mirip daftar pustaka. Padahal, yang diperluin itu detail peristiwa yang nggak dijelasin sama Soe Hok Gie. Misal, di halaman 56, ada peristiwa sabotase-sabotase kereta api, ada catatan kakinya, tapi cuma sumbernya aja yang ditulis, ringkasan kronologisnya nggak ada. Jadinya, yang nggak paham politik, kayak aku, jadi pusing dengan detail-detailnya.

Jadi, yang kurang dari buku ini sebenernya ya, pengantarnya. Kalau skripsi Soe Hok Gie sendiri, menurutku keren banget karena dia bisa menganalisa tuntas sebab-sebab meletusnya pemberontakan ini, dan juga lumayan objektif. Selain, satu kali dia nyebut-nyebut pemuda sebagai sok revolusioner, sih.

 

Catatan penulis :

Daaaan, gagallah resolusi untuk posting resensi buku ini pas tanggal 30 September… 😀

 

 

“The Little Women”

Pengarang : Louisa May Alcott

Penerbit : Wordsworth Classics

Tahun : 1993

Halaman : 224 halaman

 

 

Klasik.

Akhir-akhir ini aku sering mengincar novel klasik buat bacaan. Karena segala sesuatu yang klasik, tapi masih bisa bertahan sampe sekarang, pasti punya nilai sendiri. Makanya, aku coba untuk mempelajari nilai-nilai yang ada di mereka.

Beautiful little world…

Begitu aku baca buku ini, kata-kata ini yang terus kepikiran. Kenapa? Soalnya, buku ini memang menyajikan kisah-kisah yang bener-bener moralis, tentang kehidupan yang tenang di satu desa. Rasanya, begitu aku baca novel ini, muncul harapan-harapan tentang kehidupan moralis yang ideal, tanpa ada orang-orang jahat atau keji di sekeliling kita.

Sebenernya, aku rasa kisah ini lebih dekat dari kenyataan daripada sinetron dengan orang-orang jahat bermata melotot itu. Karena, kenakalan-kenakalan atau kekurangan-kekurangan kecil dalam diri manusia yang ada di dalamnya, disajikan dengan ringan. Itupun dengan pemikiran awal, kalau semua manusia itu pada dasarnya baik.

Oke, kayaknya aku terlalu bertele-tele soal ini. Lanjut deh, ke sinopsis ceritanya.

Sederhana aja, seperti judulnya, Little Women mengisahkan tentang 4 anak wanita yang bahkan belum akil balig. Mereka tinggal dengan ibunya dan satu pengasuh, sedang ayah mereka pergi berperang untuk membela negara. Settingnya ada di Amerika. Yang menarik dari buku ini, seolah ingin menjelaskan bagaimana pedalaman wanita-wanita kecil ini, Louisa May Alcott memulai adegan dimana masing-masing anak wanita itu mengeluh dan bermimpi tentang kehidupan yang mereka mau.

Mereka adalah anak-anak baik yang bisa dibilang sangat miskin. Karena ayah mereka pergi berperang, maka ibu mereka menjadi tulang punggung keluarga, bahkan dua anak tertua, Margaret dan Josephine, pergi bekerja untuk menambah pemasukan mereka. Sedang, Elizabeth dan anak termuda, Amy, membantu ibu mereka dengan pekerjaan rumah. Lebih banyak Beth karena Amy tidak hanya termuda, tapi anak yang paling dimanja di antara keempatnya.

Masing-masing dari mereka punya karakter sendiri-sendiri.

Margaret, yang akrab dengan panggilan Meg, adalah anak wanita tertua, berusia 17 tahun. Digambarkan sebagai perempuan muda yang cantik dan anggun, Meg sangat memperhatikan penampilan dan berambisi untuk menjadi kaya dan memiliki rumah yang mewah dengan segala perabotan yang wah.

Josephine, anak kedua yang berusia setahun saja di bawah Meg, sangat suka menulis. Ia gadis yang penuh vitalitas, kalau sekarang sih, disebutnya tomboy, ya. Tapi, tahulah, kalo setting di zaman itu, nggak ada yang namanya tomboy, semua harus bersikap selayaknya “wanita.” Blak-blakan, kurang mampu mengendalikan emosinya, serta nggak peduli sama penampilan, Jo digambarkan oleh Louisa sebagai pribadi yang unconventional. Membenci namanya sendiri, dan dia hanya mau dipanggil dengan nama “Jo.”

Anak ketiga, paling berbeda dari yang lainnya, Elizabeth, atau Beth, anak yang pendiam dan sulit bergaul. Ia takut dengan orang asing, sangat pemalu, tapi kebaikan hatinya mengalahkan ketiga saudaranya yang lain. Ia yang biasa membantu ibunya sepenuhnya di rumah, menyukai pekerjaan rumah tangga dan jadi anak paling sederhana di antara semuanya. Bahkan, di satu scene, Beth menyatakan mimpinya adalah memberikan rumah yang nyaman untuk ditinggali bagi ibu dan ketiga saudaranya yang lain.

Keempat, bernama Amy. Baru berusia 12 tahun, Amy adalah anak bawang kebanyakan. Anak bawang yang ingin sekali menyusul kakak-kakaknya, jadi dia bersikap lebih dewasa daripada anak-anak seumurnya. Keinginannya adalah menjadi seorang wanita sejati, terkadang sedikit angkuh untuk menunjukkan hal itu. Oh, dia juga lebih manja dibanding yang lainnya.

Mereka tinggal bertetangga justru dengan pria tua yang sangat kaya raya. Pria tua itu adalah teman ayah mereka dan sangat dermawan kepada mereka. Kebetulan, ia memiliki cucu yang seusia dengan Jo, bernama Laurie. Atas usaha Jo, suatu ketika, Laurie, yang kebanyakan dituntut untuk tinggal di rumah dan belajar oleh kakeknya, akhirnya akrab dengan mereka. Sejak itu, Laurie lebih sering bergaul dan menjadi anggota dalam keseharian mereka.

Louisa May Alcott menggambarkan konflik-konflik mereka dalam kumpulan-kumpulan cerita singkat. Seperti saat anak-anak keluarga March sangat senang bisa libur seminggu, tapi malah mendapat pelajaran bahwa nggak selamanya bermain terus itu menyenangkan. Ada lagi kisah tentang perang dingin antara Jo dan Amy, yang menyebabkan Amy kecelakaan, kisah Meg yang bermimpi menjadi lady yang kaya dan punya semua benda-benda mewah, malah berhadapan dengan kebusukan teman-temannya yang kaya. Kisah-kisah kecil yang berujung pada pelajaran moral yang manis.

Buat penyuka konflik berat, buku ini bisa jadi membosankan. Aku sendiri harus ngaku kalau aku sempet ngerasa bosen waktu baca buku ini. Karena, aku suka buku-buku yang menyajikan kisah-kisah yang sarat konflik. Tapi, bagaimanapun, aku terkesima dengan cara penulis ini menyampaikan keindahan-keindahan moral lewat konflik-konflik kecil yang deket banget dengan keseharian kita sendiri.

Tapi, emang novel ini diperuntukkan buat anak-anak, jadi gambaran moral yang deket dengan keseharian itu cocok banget. Aku sedikit nggak nyangka, sih. Selama ini aku mikir “Little Women” itu ya, novel-novel seperti punya Jane Austen, dkk. Karena modelnya juga nggak ada karikatur-karikatur, tulisan semua (dangkal banget, ya!)

Satu keuntungannya, kalau kita lagi bosen, mau kita taruh buku ini lama-lama, trus kita lanjut baca lagi, kita nggak bakal kebingungan karena sibuk mengingat-ingat konflik sebelumnya apa. Seperti serial TV, konfliknya habis di setiap bab. Sayangnya, kadang-kadang ini bikin ceritanya juga kayak lompat-lompat, jadi nggak terlalu nyambung antar babnya.

Biarpun begitu, aku suka dengan penggambaran Louisa tentang emosi anak-anak itu, terutama menyangkut ayah mereka yang jauh di medan perang. Mereka sedih, tapi mereka bersikap positif dan justru memperkuat mereka untuk terus berusaha jadi anak-anak yang baik. Aku selalu suka penggambaran kesedihan dari sudut pandang yang optimis. Bener-bener melambungkan harapan tentang hidup! (Makanya, paling sebel sama acara dokumenter tentang kehidupan orang papa, tapi pembawa acaranya nangis dan backsoundnya pasti lagu-lagu sedih. Padahal, mereka bisa ngegambarin itu dari perjuangan dan semangat yang tetap orang-orang itu pikul. Indah, kan?)

Jujur aja, sebagai novel anak (mungkin lebih ke anak yang mulai remaja, karena penggambarannya tentang konflik dan pelajarannya cukup rumit juga untuk anak kecil), aku nggak (atau belum) menemukan kelemahan dari novel ini. Bukannya mencoba cari-cari kelemahan karya orang ya, tapi wow banget kalau bisa nemu karya yang sempurna!

 

#31HariBerbagiBacaan

“Maryam”

Penulis : Okky Madasari

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2012

Tebal buku : 275 halaman

 

 

“Pemenang Khatulistiwa Literary Award 2012”

 

Waktu pertama kali baca buku ini, yang langsung terpikir adalah : ‘ooh, jadi nggak perlu susah-susah bikin prosa yang sangat sastrawi (apa ya, ini maksudnya?) alias nyastra buat jadi pemenang di Khatulistiwa Literary Award?’ Sok ngegampangin! Haha…

Tapi, nggak sesederhana itu memang! Pertama, tema dari buku ini nggak sembarangan. Dengan tema tentang Ahmadiyah yang dicap sesat dan sempat menimbulkan kericuhan di tengah Umat Muslim beberapa saat lalu, penggambarannya pasti nggak bakalan semudah itu.

Buku ini dimulai dengan kisah kepulangan Maryam ke Gerupuk, daerah kelahirannya. Ia memang seorang perempuan yang tumbuh di tengah-tengah warga Ahmadiyah di sana. Di sana, warga Ahmadiyah menjadi kalangan minoritas, walaupun dengan agama yang akarnya masih sama, yaitu Islam. Biarpun begitu, warga lain yang berkeyakinan Islam mayoritas tidak mempersoalkan hal itu. Mereka hidup dalam damai.

Orang tua Maryam mendidik Maryam untuk tetap berkeyakinan teguh pada agamanya sendiri, walaupun berbeda dan mendapat cemoohan dari orang lain. Ya, Ahmadiyah memang dinyatakan sesat di negeri Indonesia ini, bahkan ditentang oleh masyarakat Muslim mayoritas. Dan memang keyakinan Maryam tetap teguh dan tidak goyah hingga ia dewasa. Sampai ia bertemu dengan Alam. Keyakinannya mulai luntur karena cintanya kepada Alam, yang memang bukan Ahmadi. Bahkan, nasehat ayah dan ibunya tidak lagi ia dengarkan.

Ia pun menikah, walau tanpa persetujuan orang tuanya. Karena kondisi ayahnya yang beraliran Ahmadiyah, mertuanya juga tidak menginginkan ayahnya menjadi wali nikah. Sejak itu, komunikasi dengan keluarganya terputus karena Alam menolak menjadi Ahmadi dan Maryam lebih mengikuti suaminya, termasuk soal agama. Lima tahun kemudian, Maryam bercerai dengan Alam.

Di tengah kepenatannya, ia mengingat lagi kehangatan yang ditawarkan keluarganya dan memutuskan untuk pulang. Ia terkejut saat rumah keluarganya kosong. Yang tinggal hanyalah Jamil, orang yang dulu suka membantu di rumahnya. Dari mulut Jamil, Maryam mengetahui bahwa keluarganya telah diusir karena mereka dianggap menyebarkan aliran sesat. Tahun 2001, tiba-tiba saja keadaan berbalik dan kerukunan seolah tidak pernah ada. Warga Gerupuk bersatu-padu melakukan pengusiran terhadap anggota Ahmadiyah. Maryam terkejut dan sedih, karena ia tak pernah tahu tentang peristiwa itu.

Berbekal sedikit pengetahuan dari Jamil, Maryam mencari Zulkhair, kepala organisasi Ahmadiyah di daerah itu. Darinya, ia mendapatkan cerita lengkap tentang pengusiran itu serta dimana keluarganya berada sekarang. Sempat berada di pengungsian, para anggota Ahmadiyah kembali membangun hidupnya di daerah lain yang bernama Gerugung. Dengan bantuan anggota-anggota yang berada, mereka berhasil membangun satu pemukiman khusus mereka. Di sana, Maryam menemui keluarganya.

Tanpa memedulikan masa lalu, keluarganya menyambut Maryam dengan hangat. Seolah ia tidak pernah menghilang, bahkan setelah menceritakan kisahnya dengan Alam, pernikahannya seolah tidak pernah ada. Tidak pernah lagi disebut. Setelah itu, dimulailah kisah kebangkitan Maryam, membangun kembali hidupnya walau tak lagi seiman dengan keluarganya. Bahkan, ia kembali menikah dengan orang Ahmadi bernama Umar. Kehidupan mereka tenang-tenang saja hingga masyarakat Gegerung kembali mulai beraksi, hendak membubarkan organisasi Ahmadiyah.

Lanjutannya, silakan baca bukunya, ya!

Gaya bercerita dari Okky Madasari ini termasuk sederhana. Ia tidak menggunakan bahasa aneh-aneh dan juga tidak memainkan komposisi cerita atau alurnya, sehingga mudah untuk dimengerti, walaupun temanya termasuk berat, yaitu satire berbumbu agama. Tema agama selalu jadi topik sensitif dimana-mana, bahkan di negara liberal. Jadi, keberanian Okky Madasari mengangkat tema agama ini perlu diacungin jempol.

Okky Madasari juga kuat soal narasi. Dia memberikan gambaran setting lokasi dengan cukup akurat. Narasinya bisa membuat kita membayangkan Gerupuk dan Gegerung yang menjadi tempat tinggal keluarga Khairuddin (nama ayah Maryam) dengan mudah.

Tema sosial yang diangkat Okky juga tergambar dengan cukup baik, sehingga kita bisa ikut merasakan penderitaan anggota Ahmadiyah yang terusir hanya karena berbeda aliran. Rasanya tidak ada lagi jaminan kebebasan beribadah, seperti yang diagung-agungkan di Pancasila (ups, sudah beda nih, pembahasannya!)

Yang sedikit kusayangkan, Okky kurang banyak menggali soal Ahmadiyah. Oke, Okky menjelaskan bagaimana deskripsi kehidupan mereka yang melakukan pengajian dan bagaimana mereka berusaha mengikat kekeluargaan dengan sesama Ahmadi. Penjelasan ini cukup baik, tapi nggak menggambarkan esensi Ahmadiyah sendiri. Misalnya, aku bakalan lebih menghargai kalau sekilas Okky bisa menjelaskan sesuatu yang lebih khusus tentang ajarannya. Nggak perlu mendalam, tapi cukup untuk menjelaskan kalau itu Ahmadiyah. Kalau pengajian sih, semua agama juga punya.

Lalu, aku kurang puas sama penggambaran karakternya. Awal-awalnya sih, aku suka dengan karakter Maryam yang pemberontak, tapi makin ke belakang, karakternya malah makin nggak inspiratif. Ini novel kan, judulnya “Maryam,” jadi aku mengharapkan kalau karakter Maryam ini bakalan menjadi tokoh kunci dari segala konflik dalam cerita.

Nyatanya, karakter Maryam digambarkan plin-plan. Nggak ada penjelasan kalau dia balik ke Ahmadi setelah dia cerai sama Alam, atau malah emang menemukan keyakinan berbeda, walaupun dia tetap bersama keluarganya.

Perjuangan Maryam untuk membela komunitasnya juga nggak terlihat. Kalau dari keragu-raguan Maryam tentang imannya sendiri sih, sebenarnya cocok. Kalau kita bicara soal realita, emang banyak orang-orang yang punya karakter kayak Si Maryam ini, tapi ini novel. Seberapapun realistis, bukannya kita selalu butuh fokus cerita? Entah Maryam mau jadi pemberontak, pahlawan, ataupun tokoh dengan aksi yang drastis. Dan aku nggak nemuin itu, dan aku kecewa. Sama aja kayak suami kedua Maryam, kelakuannya sama. Cocok banget, deh. Realistis, tapi kita bisa nonton berita aja kalau mau yang bener-bener serealistis itu.

Aku suka gimana cara Okky menceritakan penderitaan Umat Ahmadiyah di penampungan. Bener-bener menyentuh hati kita. Konfliknya juga digambarkan dengan baik, sehingga bisa menimbulkan empati sama Umat Ahmadiyah. Sayangnya, pas masuk klimaks, aku kurang dapet emosi yang memuncak. Aku rasa sih, klimaks itu mau digambarin waktu Maryam mulai berselisih dengan sahabat dan keluarganya yang memegang keyakinan Islam mayoritas, tapi tiba-tiba Umar (suami keduanya yang Ahmadi galau juga haha) misahin mereka, trus udah. Udah? Minimal, jambak-jambakan gitu, mbak! 😀

Sejauh ini, biasanya aku ngerasain ini dalam karya-karya orang Indonesia. Konflik mulai panas, makin panas, belum orgasme, udah jatuh lagi ke anti-klimaks.

Apa, sih? PHP banget…

Bagaimanapun, keberanian Okky mengangkat tema kontroversial (pas lagi panas-panasnya), sekali lagi, perlu diacungi jempol. Jadi, dapet dua jempol, nih. Biar Maryam dan Umar cari aman, yang penting penulisnya nggak! Hehe…

 

#31HariBerbagiBacaan

“The Sinden”

img_20160915_163054_666

 

Judul : The Sinden

Pengarang : Halimah Munawir

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 143 halaman

 

Don’t judge the book by its cover. Itu pepatah yang tepat soal buku ini. Pertama kali aku ngeliat covernya, aku tertarik. Apalagi judulnya yang menyebut-nyebut ‘sinden.’ Temanya cukup unik karena setahuku jarang ada penulis yang mengangkat tema itu. Apa buku ini sukses mendiskripsikan sinden dengan baik? Itu lain soal.

Plotnya sendiri cukup simpel. Seorang wanita paruh baya, yaitu Nyi Inten, terobsesi dengan dunia sinden. Ia sendiri telah berkarir di dunia tersebut dan menjadi sinden ternama. Ditambah dengan dingklik, yang ia percaya membawa ruh, yang membuatnya makin sempurna waktu nyinden. Obsesinya itu diwariskan kepada anaknya, yang ia didik sedari kecil untuk menjadi sinden. Nama anaknya adalah Waranggana.

Namun, pada saat Waranggana beranjak dewasa, penguasa baru datang ke desa mereka. Ia mencari gadis-gadis desa untuk dijadikan istri samping –yang kurasa, maksudnya di sini selir– dan juga tumbal untuk pembangunan jembatan. Mendengar itu, Nyi Inten lalu menyuruh adiknya, Jarok, membawa Waranggana kabur dari desa. Dari situ, dimulailah perjalanan Waranggana menjadi sinden. Jarok memutuskan memberi nama panggung untuknya, yaitu Dingklik Waranggana, karena dingklik tempatnya menyanyi membuatnya semakin luwes nembang.

Di tengah perjalanannya, Dingklik Waranggana bertemu dengan beberapa orang, orang-orang yang akhirnya membawanya menuju karir yang sukses sebagai sinden. Namun, perjalanannya itu tidak mulus karena sinden kerap dianggap punya ‘pekerjaan sambilan’ menjadi mainan lelaki hidung belang. Ditambah dengan wajah dan tubuh molek miliknya, membuat lelaki tertarik kepadanya, bahkan ada pejabat yang memintanya jadi selir.

Dari ceritanya sih, memang kedengeran menarik. Terutama, kalau yang suka sama budaya-budaya nusantara, mendengar kata sinden aja pasti tertarik. Di dalamnya, juga tampilan budaya Jawa disajikan kental dengan banyaknya istilah-istilah Jawa. Sayangnya, soal sindennya malah kurang digarap. Sinden itu seharusnya penyanyi pendamping waktu pertunjukan wayang, kan? Minimal, kebanyakan kerjaannya begitu. Kok malah nggak ada disebut-sebut soal wayang?

Padahal, pasti seru banget tuh, kalau Halimah menceritakan sedikit soal seputar dunia perwayangan. Bikin nuansa Jawa di dalem bukunya jadi makin menarik!

Lalu, soal karakter. Tadinya aku suka karakter Dingklik Waranggana yang dibikin kayak jinak-jinak merpati gitu. Waktu dia disuruh ngibing, joget-joget yang goyang pinggul gitu deh, dia oke aja, malah sedikit genit. Biar begitu, Dingklik Waranggana nggak pernah mau jadi simpanan laki-laki manapun, dan masih memegang prinsip sebagai profesional sebagai sinden. Di sini penulis kurang konsisten, ujung-ujungnya malah karakter Dingklik Waranggana dibikin moralis banget, jadinya bikin karakter yang ngebosenin dan nggak manusiawi.

Tahulah, manusia itu harusnya punya kekurangan, kan? Dan di novel, itu jadi poin penting yang bikin karakternya menarik.

Plotnya juga cukup aneh. Banyak konflik, tapi menggantung di tengah-tengah, nggak pernah diselesaikan. Misalnya, seperti Ki Joko, yang merayu Dingklik Waranggana untuk masuk grup karawitannya. Di saat yang bersamaan, ada pejabat yang memintanya menjadi selir. Jadilah Dingklik Waranggana kabur. Padahal baru diminta sekali lho, dan belum masuk ke tahap maksa. Kesannya si Dingklik Waranggana ini paranoid gimana, gitu. Kalau kabur, kenapa nggak kabur ke grup karawitannya si Ki Joko, malah kabur sendirian? Well, kita dipaksa nebak-nebak isi kepalanya Dingklik Waranggana yang terlalu gampang panik di sini.

Ya, kalaupun itu konflik yang pengen dibangun, minimal ada penjelasan logis soal pola pikir si Dingklik Waranggana yang dengan gampang ninggalin adik ibunya. Emangnya dia nggak merasa punya beban moral sebagai keponakan, gitu? Atau sekadar kedekatan emosional yang bikin dia berat ninggalin pamannya?

Setelah kabur, keberuntungan tokoh ini kelihatan banget dibuat-buat. Setiap kali ketemu orang, mereka punya koneksi ke dunia persindenan. Lah, emang segampang itu, sebanyak itu? Ketemu di jalan ternyata orang sinden semua? Malah, dia pernah ketemu cewek mau bunuh diri di pantai, ternyata sinden juga. Duh, settingnya nggak jelas sih, mungkin ini daerah dimana orang-orangnya sinden semua?

Trus, karakter yang tiba-tiba muncul dan membuat konflik baru menurutku aneh banget. Bayangkan seorang Susan, yang tinggal di gua, nggak ada ujung-pangkal, jadi temenan sama Dingklik Waranggana. Nggak bersesuaian dengan plot awal, bahkan nggak sesuai dengan tema yang mau diangkat. Sebenernya, apa sih, yang mau disampaikan penulis? Itu jadi pertanyaan besar waktu baca buku ini.

Ditambah lagi, setting yang kurang digali. Setting waktu, kita nggak tahu Waranggana hidup di tahun berapa. Kalau nyebut-nyebut tumbal, rasanya nggak terlalu lekat dengan tahun-tahun sekarang, atau tahun 2011, saat buku ini dicetak. Mungkin ada, tapi pasti udah jarang banget. Lalu, setting tempatnya juga nggak pernah jelas. Pertama, ia di desa, tiba-tiba pas kabur sempat sampai ke pantai, dan lain-lain. Penggambaran setting juga kurang mendukung suasana emosi yang lagi dialamin tokoh.

Intinya, buku ini kukasih rating 2 bintang. Itupun hanya karena suasana Jawa yang kental ngebuat buku ini jadi sedikit ada ‘rasa’-nya.

 

#31HariBerbagiBacaan