Category Archives: Non-fiksi

Tentang semua yang nyata dan surreal…

Mudik oh Mudik

 

2017-02-08-PHOTO-00001027
Sumber : kompas.com

Selamat merayakan hari raya Idul Fitri 1438 H (maap kalau salah, suka nggak apal tahun hijriyah hehe)

Bahkan, di hari raya ini, semua orang melupakan perseteruan dan kebencian, lalu saling minta maaf dan saling memaafkan (budaya Indonesia banget, kalau ada yang minta maaf, wajib memaafkan 😀 )

Sejenak, timeline FB yang tadinya panas nggak henti-henti itu menjadi sejuk. Cuma satu yang nggak sejuk-sejuk, berita soal mudik. Berapa orang yang meninggal kali ini, untuk menjalankan tradisi yang dipertahankan? Sebenarnya, tradisi yang dipertahankan itu yang baik, yang unik, bukan yang mematikan begitu. Silaturrahmi itu kapan saja, toh. Uang THR-nya bisa ditabung dulu, buat dipakai kapan aja mau pulang… Dan nggak harus berduyun-duyun di satu waktu.

Ah, tradisi…

Kalau boleh jujur, aku suka tradisi. Maksudnya, sesuatu yang membudaya dan jadi karakter khas bangsa itu adalah sesuatu yang menarik, menawan hati. Tapi, bukan berarti logika hilang cuma karena tradisi. Kita bisa memilah tradisi yang menyenangkan, daripada yang mengharu-biru demi memuaskan hasrat si drama, the dark side of us always…

Libur sekolah?

Anak nggak bakalan jadi bodoh libur seminggu aja, dan orang tua bisa bantu mengejar ketertinggalan anak minta les tambahan dari guru, gurunya juga pasti seneng…

Cuti lebaran?

Kalau cuti-cuti lain dihemat-hemat dan lalu bisa ambil cuti besar, bukankah malah jadi bisa tinggal lebih lama dengan keluarga, daripada cuti lebaran yang paling berapa hari sih?

Bermaaf-maafan pas lebaran?

Ah, pengalamanku juga kebanyakan kita maaf-maafan lewat whatsapp, twitter, facebook, segala macam media sosial lain. Sekarang teknologi komunikasi sudah canggih, dimanfaatkanlah untuk jadi  kebaikan. Jangan buat jadi ajang gosip dan debat kusir aja.

Dan lagi, sejak kapan kita disuruh maaf-maafan pas lebaran sama Allaah? Untuk perayaan aja, sebenarnya lebih tepat kalau kita pesta (makan-makan) pas Idul Adha. Itupun dengan tetangga, keluarga terdekat sehari-hari juga bisa…

Well, apapun itu, kalau emang itu yang bikin seneng, silakan aja, sih… 😀

Terlampir sumber soal berita kecelakaan pas mudik tahun 2017 : silakan klik di sini

 

Persekusi Lama yang Diperbarui

 

Sejak kericuhan politik dan demokrasi bablas 2014, beberapa kata tiba-tiba jadi terkenal. Pertama, blusukan ala Jokowi. Itu kata yang bagus dan berkat itu, kesadaran berpolitik masyarakat jadi terbuka. Kedua, masif dan sistematis. Dua kata itu tiba-tiba jadi sangat populer setelah perseteruan antara kubu Jokowi-Prabowo. Kalau nggak salah sih, yang lebih mempopulerkan itu Prabowo. Sering banget kubunya pakai dua kata itu.

Trus, baru-baru ini, tabayyun. Sejak kasus penistaan agama, kata ini jadi melekat banget, walaupun aku nggak yakin pelaksanaannya dilakukan bener-bener, sih :p (bahkan, oleh orang yang cinta banget sama kata satu ini).

Aku nggak ingat satu per satu. Yang pasti, sekarang ini, aku menemukan kata baru. Mungkin ini kata lama, mungkin aku aja yang kurang updet. Yang kuinget, soal ancam-mengancam udah jadi makanan sehari-hari kalau soal gerakan, aksi, dan lain-lain yang berhubungan dengan politik, tapi baru sekarang istilah persekusi ini mencuat.

Gara-garanya kasus seorang dokter di Sumatera Barat, yang diancam dan diteror oleh anggota FPI karena status-statusnya yang pedas di medsos soal Rizieq Shihab. Lucunya, status-statusnya yang kulihat itu sepele banget (mungkin karena aku cuma baca sebagian). Dan banyak yang suka nulis status begitu, jadi aku agak heran, dari sekian banyak status yang menyudutkan, kenapa si dokter ini yang dipilih.

Semakin lama, aku semakin merasa kalau soal persekusi ini memang sengaja dibesar-besarkan. Disebarkan ke khalayak ramai, untuk membuat teror tersendiri. Mungkin juga taktik beberapa orang untuk menekan kebebasan berpendapat yang sudah tidak lagi konstruktif. Kebanyakan hanya serangan-serangan yang akhirnya lebih ditujukan kepada pribadi daripada kritik terhadap satu situasi atau fenomena. Lebih-lebih lagi, dilakukan tanpa ada proses pikir, seakan manusia hanya  monyet yang suka mengetik. Siapa peduli apa yang diketik, dan apa akibatnya, dan siapa yang disinggung, yang penting berpendapat.

Well, kalau itu kebebasan, sekalian aja manusia disuruh buka baju, apa bedanya? Karena kalau melihat cara orang-orang sekarang berpendapat, aku jadi berpikir kalau kaum nudis itu jauh lebih masuk akal dibandingkan mereka-mereka, mulut tanpa filter ini.

Balik ke masalah persekusi. Persekusi ini bukan hal yang baru. Ingat, Soeharto sering menculik lawan-lawan politiknya atau menangkap (tanpa pengadilan) aktivis-aktivis yang terlalu vokal? Setelah reformasi, aksi ancam-mengancam masih terus berlangsung. Jadi, kenapa sekarang baru di-blow up?

Kalau kita mau melihat dari sisi terangnya, seperti kata Simon & Garfunkel, mungkin hal ini bisa mengerem mulut-mulut tanpa filter yang berkeliaran di medsos. Aku yakin memang itu tujuannya. Yang aku tidak tahu, apakah tujuan ini dilakukan atas kepentingan tertentu atau sekadar meredakan ledakan opini di medsos.

Sama saja seperti kasus penculikan dan opresi di rezim Soeharto, persekusi dilakukan dengan cara menakut-nakuti, meneror, mengopresi. Tidak peduli siapa yang memulai atau siapa targetnya, yang diciptakan adalah ketakutan. Gabungkan dengan teror bom, situasi sempurna untuk menciptakan satu histeria massal.

Di saat-saat begini, tagar #KamiTidakTakut menciptakan efek yang sama besar. Apalagi dengan sistem informasi medsos yang masif, tagar-tagar semacam itu seperti sugesti yang ditanamkan secara massal. Menyebarkan pengaruhnya untuk memberikan rasa aman secara berkelompok. Ya, mungkin benar medsos tidak memberikanmu teman sejati, tetapi mereka mewadahi satu kelompok, dimana kau bisa merasa mendapat tempat di dalamnya, lalu mengikatmu dalam kelompok itu. Wadah bereksistensi, wadah untuk merasa terikat.

 

Ditambah dengan perang urat syaraf, penuh dengan propaganda politik yang saling serang, saling menjatuhkan, kondisi ini pas banget untuk menjatuhkan mental-psikologis massa. Ketidakpercayaan, saling curiga, provokasi, hal-hal ini selalu menjatuhkan kelompok macam apapun.

Propaganda yang dilancarkan secara kasar mungkin lebih gampang untuk ditolak, bagaimana dengan provokasi halus? Yang dilangsungkan dengan cara yang baik-baik, mengendurkan kewaspadaan, dengan begitu lebih mudah untuk ditanamkan?

Well, teror bisa datang dalam berbagai bentuk. Kurasa, teror tidak harus selalu menakutkan. Sesuatu yang meragukan saja sudah cukup menanamkan teror.

 

Satu Hari yang Tak Akan Terulang

546652_263102530451518_258489774246127_543294_1921561366_n[1]
Gambar diambil dari : rhaggill-duniaku.blogspot.co.id

Tanggal 18 Mei…

Tepat 19 tahun yang lalu, alias tahun 1998, ternyata hari ini adalah hari pertama mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR. Dan mereka melakukan itu di bawah ancaman tank, panser, dan senjata api. Waktu itu aku masih SMP.

Waktu itu aku masih kecil. Nggak kurang pula, apatis, masa bodo. Yang penting aku aman-nyaman di tempat tidur. Apa peduliku kalau di luar sana ada ribuan orang mati demi membela keyakinan mereka? Shame on me, huh?

Peristiwa Mei 1998 yang terekam jelas di ingatanku adalah tanggal 14 Mei 1998. Dulu ibuku mempekerjakan ART. Aku deket sama dia, dan hari itu adalah tanggal ulang tahunnya. Sayang sekali, pada hari itu, malam-malam sekitar jam 7, kericuhan terjadi di dekat rumah. Sejarak beberapa rumah, di seberangnya, ada indomaret (yang masih bertahan sampe detik-detik aku mau pindah rumah tahun 2015, lho! Mungkin sekarang juga masih ada) dan sekelompok orang rusuh menyerang indomaret itu.

Apa yang kulihat? Sekelompok super hero yang sedang membela bangsa? Bukan, sekelompok oportunis b***sat (maaf ya, aku sedang kesel hehe) yang sedang memanfaatkan situasi. Mereka menjarah minimarket itu. Bahkan, di ingatanku, mereka juga bawa barang-barang berat, kayak komputer. Entah itu dari indomaret, atau dari toko di dekat situ. Biar aku nggak tahu apa-apa, aku jijik melihat mereka.

Dari dulu sampe sekarang, keberadaan orang-orang seperti itu nggak pernah hilang. Orang-orang yang mencari kesempatan buat kepentingan mereka sendiri. Orang-orang yang nggak peduli dengan nasib orang lain. Orang-orang yang nggak punya kode moral. Dan orang-orang inilah yang sekarang memakai topeng agama. Kalau waktu kecil saat aku belum paham politik aku sudah merasa jijik, apalagi sekarang?

Aku nggak percaya kalau situasi sekarang akan berujung pada peristiwa reformasi 1998. Aku nggak mau menyebut itu kerusuhan, buatku itu sangat tidak menghormati orang-orang yang sukses menurunkan Soeharto dan dwifungsi ABRI di pemerintahan. Dan orang-orang yang mati membela keyakinan mereka. Bravo!

Sayangnya, orang-orang percaya. Orang-orang ketakutan. Bisa jadi, orang-orang yang trauma akan peristiwa 1998, orang-orang yang melihat langsung, nggak sepertiku yang cuma melihat dari dalam rumah yang sengaja digelapkan, supaya nggak kena serangan massa.

Dulu, waktu itu, mahasiswa dan rakyat bisa dibilang satu suara. Aku nggak bilang 100% ya, karena pasti selalu ada pro-kontra di balik semua. Yang pasti, kemuakan berpuluh tahun dan opresi Soeharto jadi pemicu. Kesatuan itu yang menggerakkan massa begitu luas, begitu banyak. Sekarang ini, dengan kita yang terpecah, mana mungkin pengumpulan massa semacam itu akan terjadi lagi? Pengikut organisasi agama yang katanya sampai 7 juta itu? Itu cuma sekitar 3% dari keseluruhan rakyat Indonesia. Kenapa takut?

Mungkin di balik ini semua, ada aktor-aktor lain. Lebih kuat, lebih berkuasa, daripada orang-orang kecil macam preman-preman bertopeng agama itu. Dan mereka sedang mempersiapkan skenario mereka. Tapi, buatku itu menjijikkan, bukan menakutkan.

Tahu yang kutakutkan? Saat seseorang dengan suara keledai malah dipuja-puja. Saat orang-orang menolak memakai salah satu bagian tubuh yang menggerakkan hampir seluruh sistem organ, yaitu sistem syaraf pusat. Saat kita bisa mulai melihat robot-robot bergerak dengan remote control di balik layar. Saat orang melupakan nuraninya sebagai bagian dari kelompok manusia, makhluk yang diciptakan tak kurang dari Tuhan sendiri.

 

well

 

Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 2)

 

images
Gambar diambil dari http://www.freevector.com

 

Cerita eh artikel sebelumnya…

Dua hal pertama yang kutemukan waktu mulai mencoba menulis cerita fantasy. Mengembangkan logika cerita dan menyesuaikan setting lokasi dan waktu yang tepat itu susah banget. Terutama, karena ini dunia fantasy, yang budaya dan adat istiadat makhluk-makhluknya harus kita bentuk dari awal dan kita atur lagi. Apalagi kalau makhluknya fantasy. Imajinasi kita harus luas dan nggak terbatas banget!

Buat part 1-nya, coba klik link ini : Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 1)

Nah, sekarang lanjut lagi. Karena emang bukan 2 hal itu aja yang bikin rumit. At least, buatku 😀

Ketiga, menetapkan nama-nama dan istilah-istilah. Kita bicara soal negara baru atau dunia baru. Mungkin malah dimensi waktu dan ruang yang lain dari realita. (Dunia orang mati, mungkin?) Buatku, ini yang paling susah. Nentuin nama tokoh aja kadang-kadang bisa bikin stuck berhari-hari, apalagi kalau ada istilah baru atau bahasa baru, dan nama-nama negara, provinsi, makhluk-makhluk baru?

Intermezzo : itulah enaknya kolaborasi, kita bisa delegasikan tugas yang susah sama teman dan bisa meringankan beban dua kali lipat :p

Jangan lupa juga nama ini nggak bisa sembarangan. Kalau makhluk menyeramkan dan jorok disebut Troll, terkesan cocok aja, kan? Kalau kita namain dia bunny atau tweety pasti rasanya ada yang janggal (karena sadar atau nggak, kita terikat sama norma-norma yang kita pelajari dari dunia nyata).

416HARSDA3L
Penamaan tokoh biasanya menggambarkan karakternya. Seperti troll, makhluk yang biasa digambarkan buruk rupa dan jahat. Gambar diambil dari http://www.amazon.com

Mau ngasi twist? Tentu saja boleh, tapi harus ada alasan yang masuk akal untuk itu. Misalkan, apa sejarahnya makhluk itu dinamai lucu dan cute begitu? Rasanya, kalau nggak sesuai sama aturan yang dipersepsikan normal sama orang-orang, susah buat pembaca mengembangkan imajinasinya. Kita bicara teks tanpa gambar soalnya. Lain hal kalau bicara soal picture book, ada gambar yang menjelaskan maksud si penulis.

Lupakan soal kesan, beberapa nama juga harus punya filosofi tersendiri. Kayak Pancasila, dinamakan begitu karena ngambil dari bahasa Sansekerta, “Panca” yang artinya “lima” dan “sila” yang artinya “prinsip/asas.” (Kok jadi PPKn? Haha…) Orang tua aja milih nama buat anak karena ada kandungan doa (ada artinya) di dalam nama anak yang mereka pilih, kan? Apalagi, kalau bicara soal logo atau lambang (negara/organisasi misalnya) yang selalu punya simbolisasi, selalu punya filosofi di baliknya.

Keempat, pengembangan kepribadian setiap karakter. Ingat kan, kalau di part pertama aku udah bahas soal penentuan lokasi yang bakal menentukan budaya? Nah, yang namanya budaya itu pasti menentukan pola tingkah laku tiap-tiap manusianya. Bisa dibilang break down dari aspek-aspek budaya itu, deh.

Kayak di Lord of the Rings (maap ya, referensiku soal novel fantasy emang cuma dua ini hehe), ada makhluk namanya hobbit (again?!). Kita bisa lihat kalau dunia hobbit itu indah dan damai, kan? Dengan begitu, masyarakatnya mudah percaya satu sama lain, mereka jarang berkonflik. Ini kelihatan dari sikap Frodo dan Sam ke Gollum. Frodo begitu aja jatuh kasihan dan percaya sepenuhnya sama Gollum. Sedangkan, sekalipun Sam nggak percaya sama makhluk licik itu, dia juga nggak begitu aja mengkonfrontasi Gollum secara langsung, kan?

Atau kita bisa liat Merry dan Pippin, yang menurutku lebih agresif ketimbang Frodo dan Sam, mereka tetep beda sama Dwarf yang agak kasar dan beringasan. Kalau ada konflik, mana ada mereka langsung serang dan sebagainya. (Trus, nama mereka cute, menggambarkan karakter mereka yang juga imut-imut?)

Artinya, keempat hobbit itu punya perbedaan karakter, tapi mirip secara fundamental. Mereka bertengkar dan berkonflik, tapi nggak melewati batas-batas budaya mereka. Artinya, kalau budaya kita tentuin lagi, berarti perkembangan kepribadiannya juga harus disesuaikan dengan budaya baru yang kita tentuin itu.

Susah banget nggak, sih? Tenang aja, kita masih bisa nyontek-nyontek dikit, kok. Misal tentang hobbit itu, kita bisa nyontek itu dari budaya masyarakat adat, kayak Suku Badui Dalam, atau yang baru-baru ini booming, Petani Kendeng. Mereka sedikitnya, punya sifat yang lumayan sama dengan para hobbit ini (berdasarkan dari observasi mentahku, ya). Mereka masyarakat homogen yang kurang suka berkonflik dengan pola pikir sederhana.

Tapi, harus tetap ingat kalau cuaca, iklim, suhu, tingkat kebisingan daerah, dan segala macam model demografis lainnya, itu menentukan kepribadian, jadi jangan pernah lupa untuk menyesuaikan unsur itu ke dalam karakter.

Terakhir, (minimal yang kepikiran, ya) tentu saja konflik politiknya. Kalau bukan novel dengan tema tentang politik pasti mikirnya nggak bakalan perlu beginian, kan? Salah besar. Yang namanya politik itu ada di mana aja dan diterapkan di mana aja. Misal, jomblo lagi nyari pacar, nih. Politik mereka adalah dandan secakep mungkin, ngasi kode-kode ke lawan jenis, dan segala macam strategi lainnya. Itu juga politik, lho.

Bayangin kalau konflik politik ini terjadi di dunia fantasy. Misal, di Lord of the Rings, ada Saruman dan Gandalf. Saruman punya tujuan menguasai cincin. Gara-gara itu, ia menghalalkan segala cara. Lalu, muncul Gandalf yang berniat menghalangi dia mencapai ambisinya. Ini lagi-lagi harus ada hubungannya dengan logika cerita dan masing-masing kepribadian tokoh.

gandalf-saruman
Gandalf dan Saruman mulai berkonflik sejak Saruman berambisi menguasai cincin untuk dirinya sendiri. Gambar diambil dari http://www.dreager1.wordpress.com

Misal, Saruman ambisius. Maka, politiknya adalah dia mencoba menghancurkan orang-orang yang menghalangi dia. Gollum, dia berniat menguasai (sebenernya dia yang dikuasai) oleh cincin terkutuk itu, akhirnya dia menipu Frodo dan Sam. Lalu, Frodo yang punya misi dan Sam yang bertugas menjaga Frodo. Ini break down lain dari budaya dan karakter, mereka menentukan hubungan antar tokoh.

Biasanya, yang paham hal-hal begini adalah gamers, tepatnya pecinta game-game RPG. Emang basis game RPG itu biasanya novel fantasy, jadi bisa juga jadi cara asyik untuk memahami alur di novel fantasy lewat games kayak gini. Untuk yang suka fantasy dan pengen nulis novel fantasy, jangan nyerah dulu karena kesulitannya, ya! Kalau sukses, bisa jadi games dan terkenal di mancanegara, lho… 😉

 

 

 

Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 1)

 

images
Gambar diambil dari http://www.freevector.com

 

Baru-baru ini mutusin untuk bikin novel kolaborasi dengan teman-teman sesama penulis. Kebetulan banget, kebanyakan dari mereka penggemar fantasy. Aku sendiri suka sih, bacanya, tapi kurang suka nulisnya. Karena aku bisanya yang realistis, yang deket sama kehidupan sehari-hari, alias imajinasiku kurang. Jadi, kenapa aku mau (malah aku yang ngajak) bikin novel kolab soal fantasy?

Eksplorasi, eksperimen, atau apalah sebutannya. Intinya, aku mau ngerasain.

Dan, lewat tulisan ini (ini gegara keseringan denger lagu kali ya, kan biasanya “lewat lagu ini…” mulai gak jelas, deh!) aku mau menyampaikan beberapa pengalaman yang kudapat lewat fantasy.

Tadinya tuh, aku mikir, asik banget kali ya, bikin sebuah novel yang murni dari hasil pikiran kita sendiri (ya eyalah, kalo gak, namanya plagiat hehe). Maksudnya, murni dari hasil imajinasi kita, nggak terkukung dengan kenyataan, dan aturan-aturan dunia nyata. Eh, ternyataaaa…. tidak semudah yang kuduga.

Pertama, mengembangkan logika cerita. Biarpun kita bisa bilang murni hasil imajinasi, novel bentuk apapun adalah bentuk komunikasi yang lain. Kita sebenernya tengah menyampaikan ke orang lain apa yang ada dalam pikiran kita, dalam perasaan kita juga. Karena itu, komunikasi harus mengikuti aturan luar, kalau nggak ya, pesan-pesannya pasti nggak nyampe. Trus, buat apa dong, kita publish novel? Kecuali kalau mau jadi pajangan di rak buku pribadi atau menuh-menuhin hard disk atau kapasitas google drive (banyak banget medianya sekarang ^^;)

Okelah, ada yang namanya novel sastra. Penyampaiannya kadang ekspresif, subjektif milik si penulis. Mereka bahkan bisa aja membentuk kaidah-kaidah baru dalam cara penulisan dan bahkan cara pembacaan. Tapi, kaidah baru terbentuk dengan dasar kaidah lama. Surrealis nggak mungkin muncul tanpa adanya realis sebelumnya, kan? Lukisan abstrak juga nggak akan muncul kalau nggak ada teknik-teknik pencampuran warna atau konsep-konsep warna dalam hubungannya dengan emosi manusia. Jadi, bahkan bacaan yang nyastra pun nggak mungkin keluar dari kaidah-kaidah baku komunikasi ini.

Contoh simpel, bahkan novel sastra pun nggak mungkin bilang, ibu memasak batu bata. Kalaupun iya, pasti nanti ada segudang alasan di balik itu, mungkin karena di novelnya emang makhluknya punya kebiasaan makan batu bata ^^; Kalau nggak, ya nurut aja sama kaidah baku bahasa indonesia, kalau yang dimasak itu ya, makanan yang bisa dimakan. Seperti, ibu memasak sayur.

Nah, seperti contoh di atas, karena komunikasi ini mutlak harus sampai ke pembaca, kita perlu menulis satu cerita yang benar-benar harus ada hubungannya satu sama lain, kan? Waktu nulis fantasy, ini yang paling sulit, artinya kita harus menghubung-hubungkan imajinasi yang banyak itu hingga membentuk rangkaian yang solid secara logika. Kalau realis masih bisa kita nyontek-nyontek dari dunia nyata. Tapi, kalau di cerita fantasy, semua harus dirancang dari awal.

Kalau misalkan kayak di Harry Potter, menjelaskan hubungan penyihir dengan goblin, misalkan? Artinya, harus jelas dulu karateristik penyihir, karakteristik goblin, perasaan-perasaan mereka, sejarah antara mereka, sehingga hubungan mereka yang diwarnai sakit hati dan saling curiga itu jadi masuk akal banget. Bravo for J.K.Rowling!

65b48871fc60046897cac12d0ad2eb131e03d5c5
GIF diambil dari http://www.romper.com

Coba, kalau nggak dijelasin sejarah mereka yang diwarnai tipu daya, tiba-tiba mereka saling benci aja gitu? Pasti kita sebagai pembaca nggak puas. Lho kok tiba-tiba saling benci aja, sih? Aneh.

Kedua, menyesuaikan setting lokasi dan waktu. Sama aja kayak mengembangkan logika cerita sih, persoalannya. Mesti dirancang ulang dari awal. Untuk beberapa novel fantasy, mereka menggunakan sistem pertanggalan masehi (tapi dengan realita yang sangat berbeda) dan ini sah. Ini lebih gampang, sih. Tapi, beda cerita kalau kita bikin setting waktu sendiri. Atau model-model post-apocalypse yang semuanya harus dari nol. Untuk penulis yang perfeksionis, harusnya sih ada sistem penanggalan sendiri soal ini (push terus novelis fantasy Indonesia! Haha!)

Setting lokasi, ini yang menurutku sangat, sangat ribet. Begitu ketemu novelis fantasy, barulah aku sadar betapa rumit soal setting lokasi ini. Apalagi kalau soal kolab ya, semua harus jelas karena orang-orang yang terlibat semua harus mirip-miripin (karena identik terlalu naif) persepsi soal hal-hal teknis begini.

Kenapa? Masalah lokasi ini penting banget untuk penanaman karakter-karakter dalam cerita. Karena seperti yang kita tahu, lokasi sangat menentukan budaya. Misal, orang-orang yang tinggal di negara tropis 2 musim, dengan negara 4 musim, budayanya pasti beda. Orang yang tinggal di negara kering macam Afrika pasti kelakuannya beda banget sama orang yang tinggal di Greenland. Trus, dia tinggal di pegunungan atau daerah pesisir pantai. Apakah dia tinggal di dataran rendah atau dataran tinggi.

Misal, di Lord of the Rings, para hobbit tinggal di rumah-rumah kecil di semacam padang rumput begitu. Aku lebih ngebayangin soal liang-liang kelinci yang damai gitu, sih. Mereka cenderung ramah dan saling percaya, tapi juga mudah ditipu. Bandingkan dengan goblin, atau disebut juga Orcs, yang tinggalnya di Misty Mountain, alias di pegunungan.

Ini penampakan liang-liang Hobbit… :p

2frodobilbo
Gambar diambil dari thorinoakenshield.net

Nah, ini tempat tinggalnya Orcs…

Trailer1Goblins3
Gambar diambil dari http://www.thelandofshadow.com

Berasa kan, kalau perbedaan sifat mereka jadi masuk akal? Pegunungan yang kebanyakan gelap dan menyimpan sejuta misteri (kayak hewan-hewan liar) otomatis membuat sifat Orcs jadi curigaan (kalau kita nggak mau buruk sangka dulu sebagai jahat, ya). Tampang mereka aja jadi nggak indah gitu, kalau dibanding Hobbit. Itulah kaidah-kaidah baku dalam dunia pembentukan kepribadian, jadi kalau nggak ngikutin itu lagi-lagi pesannya nggak bakalan nyampe.

Singkat kata, kalau setting lokasi nggak jelas, pastinya nanti bakalan nggak masuk akal dengan karakter-karakter tokoh. Kalau perlu jelasin di lintang apa, bujur apa, biar ribet sekalian! 😀

Untuk sekarang, aku nulis sampai di sini dulu. Soalnya, kalau kepanjangan malah jadi nggak enak bacanya. Nanti pesannya nggak nyampe ke pembaca, dong! :p

 

 

nyambung…

Homeschooling Sama Sepupu : Bareng Lebih Seru!

Karena ada insiden duka sebelum ini -ayah mertua meninggal-, aku, suami, dan Tombo jadi banyak nginep di rumah mertua. Well, ini late post, sih. Kejadiannya udah beberapa minggu yang lalu. Karena waktu di rumah mertua agak susah buat updet blog. Bukan karena kerja di sana, cuma nggak enak aja megang hp terus hehe…

Akhirnya…Tombo sama dua sepupunya, Isya dan Kekek (kalau mau tahu soal mereka, ada juga blog yang ditulis Isya : klik sini, cepet!). Mereka juga homeschooling, awal insprasinya emang dua anak ini. Mereka pun berkonspirasi menghebohkan rumah eni (ibu mertua). Eh, nggak ding, cuma bikin ribut dikit doang! hehe…

Tapi, berkat mereka, ada aja kegiatan asik yang bisa dilakuin pas lagi bareng. Dan itu nggak perlu melibatkan gadget (walaupun mereka masih aja suka mohon2 buat dibolehin pake gadget -_-;). Salah satunya tebak-tebakan gambar.

IMG_0945

Isya mulai gambar dengan warna merah (kekek langsung nebak strawberry), lalu setengah lingkaran warna cream. Kita nebak-nebak, sampe akhirnya pas Isya gambar seladanya, Kekek berhasil nebak; burger! Kok bisa tahu, ya? Aku aja nggak tahu. Ini hasil gambar Isya.

 

IMG_0946

 

Habis itu, giliran Kekek. Kekek mulai dengan ngegores warna merah. Namanya juga kakaknya, yang kayaknya ngerti banget pikiran adeknya, Isya langsung nebak; strawberry! Terinspirasi dari tebakan awalnya (liat cerita di atas). Duh Kek, you need a little twist! Dan inilah hasil akhirnya, strawberry dengan warna merah yang yummy. Tentu saja, jangan lupa wajah senyum. Soalnya, kita semua adalah orang-orang yang friendly… :p

 

IMG_0947

 

 

Jangan lupa, selalu selipkan nasehat-nasehat berharga. Setelah Isya gambar laki-laki nangis karena nggak boleh ngerokok ini, Kekek dan Tombo langsung menebar slogan no-smoking di seantero rumah Eni dan ngomel-ngomelin para perokok yang ketahuan ngerokok di rumah. Smoke police! Keren!

 

IMG_0948

Hmm… Tombo nggak pernah lupa sama crossing-nya (padahal udah vakum dari hal-hal berbau crossing ini). Kata mereka, cinta pertama itu memang susah matinya wkkk… So predictable, Tombo! Waktu dia gambar silang, langsung kita bertiga (iiya aku ikut main, iya!) serempak bilang “crossing!”

Emang ya, yang namanya manusia makhluk sosial, mereka bisa lebih kreatif kalau lagi bareng-bareng. Bahkan, waktu mereka bosen, mereka nemu aja permainan baru. Aku nggak propaganda homeschooling sih, tapi enaknya homeschooling itu ya, gitu. Kita bebas beraktivitas gimana aja, kadang itu bisa bikin kita lebih kreatif. (Eh, jadi mirip propaganda. Maklumlah, ya. Hehe…)

 

Belajar Berjuang

smiley_blanton_unschooling_meme

 

 

Ini sebenernya pernah diposting di blog ini versi jadul. Tapi, karena aku mau rombak besar-besaran untuk memulai hidup baru (halaaaahhh) bersama blog yang ini. Nggak mau pindah ke lain hati gitu ceritanya! Akhirnya, posting-posting zaman dulu kuhapus, tapi fotonya nggak. Ada juga beberapa tulisan yang masih kusimpen, karena terlalu sayang buat ngebuang itu.

Nah, kalau ini, adalah dokumentasi tentang perjuangan. Pahlawan? Yang pasti bukan pahlawan nasional semacam MH. Thamrin dkk, bukan pahlawan daerah macam Tuanku Imam Bonjol atau Pattimura.

Justru, ini dokumentasi perjuangan anak bayi! Kejadiannya pas di tanggal 17 Agustus 2011. Artinya, Tombo usianya 3 tahun. Ini tengah malem lho, harap dicatat! Dan dia seger kayak kucing abis dimandiin. Melek gede gitu matanya, keliatan, kan?

100_0596 e

 

Ini ceritanya dia dari telentang. Tapi, aku rada telat ngedokumentasiinnya. Soalnya, sibuk merhatiin.

Kalau ada orang lain ngeliat, kali aku disangka emak tega kali, ya. Ini anak mati-matian ngebalikin badan sambil kesel-keselan gitu. Mengerang-ngerang nggak jelas.

 

Tapi, aku mikir-mikir. Dia kan lagi berjuang, masa perjuangannya kupatahkan cuma gara-gara empati yang nggak ada dasarnya, sih? Toh, posisinya nggak lagi bahaya. Jadi, aku biarin dia berjuang.

Pertama-tama, dia ngebalikin badan. Tahap ini nggak terlalu susah. Masalahnya timbul waktu ia harus ngebetulin posisinya. Cari posisi nyaman.

100_0594 e

 

Lihat, di sini tangannya kejepit. Dia udah kesel banget, sampe hampir mau nangis gitu. Aku mulai nggak tega, tapi nahan diri. Ayo, berjuang, Nak!

Aku beneran ngomong sama anak bayi ini, lho! Ayo, Tombo! You can do it! Begitu terus. Jangan tanya dia ngarti apa nggak, ya. Pokoknya aku ngomong aja terus.

 

Ini butuh waktu berapa lama, ya? Aku kira-kira sih, hampir 10 atau 15 menitan. Yang, mungkin buat bayi, yang biasa diladenin, itu waktu yang lumayan lama, kan?

 

100_0598 e

Ini berjuang banget dia buat benerin posisi tangannya. Udah lumayan lama, sampai akhirnya, yaaaah, mungkin lemah2nya cewek kali, ya. Haha. Akhirnya, aku tarik dikit tangannya, biar keluar begini.

I mean, dia udah berjuang lama dan kupikir itu lebih dari cukup.

 

Bagaimanapun, anak seumur 3 bulan itu harus merasakan saat-saat terbahagianya. Jadi, nggak usah terlalu dipaksa. (Eh, apa aku udah maksa dari awal, ya? Hehe…)

Daaaaaannn……

 

100_0600 e
AKHIRNYAAA!!! BISA JUGA!!!

Dan ini pertama kalinya Tombo tengkurap dengan usaha sendiri. Masih curang dikit dibantu dikit, ya. Tapi, cuma dikiiiiittt, kok!

Selamat hari kemerdekaan! Selamat hari perjuangan! (Ssstt, biar late post dan ini bukan hari kemerdekaan, biarlah, ya!) Ini anak kayaknya bakalan jadi anak nasionalis, soalnya berjuang aja mesti di hari kemerdekaan!

Kalau yang namanya abis berjuang, abis itu boleh dong, nyantai-nyantai… Sambil nikmatin hadiah paling asik…

100_0597 e

 

Ngemut jari! Maaf ya Mbo, belom boleh umur segitu ngemut permen, jadi apa yang ada aja dulu, deh… (^_-)v

 

Masyarakat Adat yang Jauh Lebih Modern

sawah_kita_by_nooreva-d5q63ap
Gambar diambil dari DevianArt by nooreva

 

Please don’t judge me. Aku tahu ini topik yang udah rada basi, tapi karena aku lagi off kemaren dari segala macam berita dan medsos, jadinya bener-bener ketinggalan.

Akhir-akhir ini, berita soal Petani Kendeng lagi banyak ditampilkan. Aku sering denger, tapi baru kali ini tahu apa masalahnya. Lagi-lagi, masyarakat adat vs pengusaha.

Oke, aku sebelumnya nggak pernah tahu soal kasus masyarakat adat dan pengusaha, tapi oh come on, it’s so easy to guess! Masyarakat adat dipinggirkan karena ada kapitalis lagi nyari untung. Terjadi dimana-mana. Sejarah juga banyak membuktikan.

Di Indonesia, keberadaan masyarakat adat adalah sesuatu yang masih dihargai dan diakui secara hukum. Seberapa baik penghargaannya? Ternyata, nggak begitu baik. Soalnya, orang Indonesia sibuk nyari duit. Salah nggak? Nggaklah, siapa yang nggak butuh duit. Tapi, kalau banyak duit, tapi kita nggak punya apapun untuk dimakan, oksigen yang semakin tipis karena kita tebang semua pohon, dan banjir dimana-mana karena nggak ada daerah serapan air, apa gunanya, sih?

I don’t get human somehow. Eh, aku juga manusia, ya?

Di satu sisi, aku menyukai perkembangan teknologi. Aku menyukai kemajuan, karena bagaimanapun, kemajuan juga membawa banyak hal positif. Pengobatan, misalkan. Pendidikan parenting (karena aku orang tua yang butuh itu).

Ups! Pendidikan parenting ternyata kita nggak begitu maju, lho. Kita, masyarakat kota, yang katanya sangat beradab, jauh ketinggalan masalah yang satu ini.

Dari kakak iparku (credit for her) yang suka traveling, di Badui Dalam, mereka nggak butuh ahli parenting untuk mengatakan ke mereka, kalau anak melakukan kesalahan, ya dibilangin, nggak perlu dikasarin or such. Sementara, masyarakat kota??? Guru nyubit anak murid malah dibelain, katanya mencubit dan memukul itu biasa untuk pengendalian perilaku. Sementara, di Badui Dalam, dengan pendidikan parenting yang begitu, mereka tentram dan saling bersahabat tanpa banyak konflik. Kalaupun ada, selesai tanpa harus kasar dan menjelek-jelekkan orang lain. Sejak kapan peradaban modern justru membuat kita mundur jadi manusia purba?

Dan masyarakat adatlah yang punya cukup etika untuk menjaga alam. Masyarakat Badui Dalam punya aturan hanya boleh panen padi setiap 6 bulan sekali dalam setahun. Karena mereka percaya bahwa mereka nggak boleh tamak dalam mengambil hasil alam. Dan, kebetulan sangat, ibuku pernah cerita, bahwa dulu di Sumatera Barat, panen dilakukan 6 bulan sekali,  sebelum pemerintah (bodoh, maaf, aku nggak tahan) mengubahnya jadi 3 bulan sekali. Akibatnya, kualitas beras di Sumatera Barat menurun drastis. Dulu, kata ibuku, beras dari sawah di kampung, rasanya enak banget. Beda sama yang sekarang. Sedih.

Masyarakat Samin, termasuk petani dari pegunungan Kendeng, juga sama sekali nggak menggunakan bahan-bahan kimia untuk pertanian mereka. Mereka menggunakan bahan alami, kayak kotoran sapi dan jeroan sapi (yang masih fresh, dari sapi yang baru disembelih, kurang-lebih) dihancurkan dan diproses jadi pupuk. Artinya apa? Mereka punya kualitas beras yang jauh lebih baik daripada yang kita makan sehari-hari. How sad is that?!

Tapi, kapitalis nggak pernah puas. Dengan alasan membangun perekonomian, mereka bangun pabrik dimana-mana. Padahal, Indonesia itu negara agraria. Kalau kita bisa fokus di agraria, dan mengekspor itu semua, perekonomian kita juga bisa maju. Tanah kita sangat subur, ingat?

Aku rasa, kita harus melepas satu gelar indah lagi dari Indonesia.

Kalau aja masyarakat Indonesia lebih percaya diri untuk mengolah semua hasil alamnya sendiri. Dan kita bisa mendepak semua pihak yang maunya memperkaya diri dari berbagai tender dan investasi asing, mungkin kita akan jauh lebih kaya. Aku nggak anti investor asing ya, tapi tolonglah proporsinya diatur. Kebanyakan!

Selamat tinggal, etika dan moralitas. Sejak kapan civilization menjadi kata yang begitu menakutkan? Sejak kapan peradaban justru menghancurkan manusia daripada membangunnya?

Selamat datang, kanker dan penyakit mematikan lainnya. Hanya karena kita terlalu malas untuk memperjuangkan kesejahteraan alam, yang padahal menghidupkan kita juga.

Tanpa kita sadari, ternyata masyarakat adat jauh lebih maju daripada masyarakat, yang katanya, modern. Internet ternyata nggak cukup bikin kita pinter (akhir-akhir ini, malah membuat kita jadi makin bodoh). Begitulah, dengan berkurangnya kepedulian akan lingkungan sekitar kita, baik pada manusia dan alam, manusia hanya akan jadi hewan. Hanya dengan rasa peduli, kita jadi manusia seutuhnya.

Teriring doa bagi masyarakat adat, semoga masyarakat adat tetap terjaga dan terhormat di atas bumi Indonesia.

 

 

Depok, 29 Maret 2017

Hai,
Sudah berapa lama kita tidak bersua?

Satu hari? Dua minggu?

Tidak penting berapa hari. Waktu tidak akan sebegitu membodohi kita. Dia berkuasa, tentu, tapi tidak atas kita. Hari-hari kau tidak ada pun, sesuatu tertinggal. Mengikuti seperti hantu. Kau yang paling kupercaya.

Apa yang paling membingungkan selain hubungan? Mereka naik ke haluan, lalu turun ke lambung. Dan di setiap anak tangganya, mereka bercerita. Kau dan aku, pasangan tak terpisah. Kalau satu saat, Yang Kuasa tidak lagi mengizinkan kita bertemu, kau tetap akan ada di sampingku. Mungkin tersenyum mendengar cericau bodohku. Karena tak ada lagi kau sebagai penuntun.

Kau yang paling kupercayai.

Di depanmu, aku suka menutup pintu. Yang kukunci baik-baik. Kadang, tak kuizinkan kau masuk ke baliknya. Tempat di mana aku berpesta pora. Tempat aku melupakan keindahan batinmu. Tempat di mana aku mudah sekali terlupa, lalu tersandung.

“……………”

Hai,
Kau yang suka berkata-kata. Di satu tempat dalam bagianku, kau berdiri dengan angkuh. Mendikte. Mencaci. Mengoreksi. Kau sering terlupa aku punya kata-kata yang berbeda. Akan semua yang berlawanan. Nanti, kalau kita tidak bisa lagi bersatu, kita akan selalu memegang hal yang kita yakini. Bersama.

Lewat beberapa waktu, kita mudah sekali terpisah. Kau dengan lembar-lembar taktis, aku dengan angan-angan tentang kemuliaan obyek. Dan saat kita tidak bisa dipersatukan, aku hilang kendali. Persimpangan tidak bisa terlihat begini banyak. Setiap marka berputar tanpa mau menunjuk dengan jelas.

Hai,
Kita bertemu lagi. Dalam kondisi yang paling tidak memungkinkan. Tapi, apa yang lebih indah dari kemungkinan yang lahir dari kemustahilan? Lalu, aku melihatmu di ujung sana. Kau terus menanti. Aku tahu kau selalu ada di sana. Mungkin karena itu aku jadi begitu ceroboh.

Kau akan merangkulku lagi, kan? Dengan semua kemustahilan dua sisi yang bersatu. Melahirkan kemungkinan baru yang lebih luas.

Hai, apa kabarmu?

 

sampai

Waktu untuk Abah

Hidup itu apa, ya?

Susah-susah berjalan. Jauh-berbatu, kadang terseok, kadang tersandung. Mesti mampir di persimpangan dan bersiap untuk bingung. Jalan itupun tidak jelas. Ujung jalannya gelap, kalaupun terang, seakan tidak berujung.

Kalau sampai, harus meninggalkan semua yang sudah diperjuangkan. Lalu, pergi. Yang entah kemana.

Delima menggigit rotinya. Bola matanya bergulir. Sesekali ke kiri. Kemudian ke kanan. Orang-orang berjalan kaki. Cepat, entah kemana. Mobil, banyak mobil, berlalu-lalang, entah kemana. Dia menyadari begitu banyak yang ia tidak kenal. Lebih banyak lagi yang ia tidak tahu.

Abah kemarin menempuh jalan yang lain daripada orang-orang di depannya. Kalau dari mata telanjang, jalan itu pasti gelap. Karena Abah tidak membawa lampu. Dan jauh di bawah, semua diapit oleh warna cokelat gelap. Bagaimana lantas Abah menjalani liku-likunya?

Ah, ruang itu bahkan terlalu sempit untuk bergerak ke kanan ke kiri. Berguling saja tidak bisa. Akankah Abah bosan di dalamnya?

Waktu rupanya juga sama seperti manusia. Dia buru-buru dan tidak sabar. Akhirnya, mengambil Abah sebagai sekutu. Terbang bersama. Di lain waktu, dia begitu malas. Tubuh renta ia biarkan terus tertatih. Berjalan, biar pelan-pelan. Dan ia berjalan pelan bersamanya. Sungguh tidak konsisten.

Delima tidak tahu kenapa ia ada di sini. Apa yang harus diperbuat. Mungkin ia hanya ingin menantang waktu. Ayo, apa yang akan kau lakukan kalau aku membuang-buang kemurahan hatimu? Apa akan kau persingkat pula hariku?

Ia sudah tidak bisa bertemu Abah lagi. Dan itu membingungkan. Kebingungan yang membawa duka lebih besar dari apapun. Lelaki tinggi-besar itu tidak lagi terdengar jejaknya di rumah. Suaranya yang sedikit-sedikit itu. Bahkan, suara sandalnya yang menyeret itu. Semua tiba-tiba hilang.

Dan waktu enggan menjelaskan. Dia hanya…pergi.

Lebih membingungkan lagi, semua malah jadi lebih jelas begitu tubuhnya tidak lagi terlihat. Sebelum waktu menggandeng tangannya, ia suka berdengung. Ayat-ayat Al-Qur’an. Delima tidak pernah menanyakan. Ia tidak pernah sebegitu peduli untuk menanyakan. Namun, ia bisa menangkap sedikit-sedikit. Kalimat Allaah itu. Setelah Abah pergi, barulah ia tahu, ayat Al-Baqarah yang tengah dihapalkanlah yang sering ia dengungkan.

Dia berdengung di dapur.

Mendengungkannya di teras.
Mungkin juga ketika ia tidur.

Saat itu waktu tengah bermalas-malasan dengannya. Melihat matahari pelan bergerak. Saat-saat siang berubah jadi malam. Malam ke siang. Dengungan itu menjadi musik yang merdu buat mereka.

Waktu menikmati detik yang berjalan pelan. Ia sudah menemani lama dalam suka-duka. Ia yang bersorak kegirangan sewaktu Abah pertama kali menggendong anak perrmpuannya. Lalu, yang kedua, yang ketiga, yang keempat. Ia yang meneteskan air mata saat Abah harus berpisah dengan kakak lelaki satu-satunya. Ia sudah sesabar itu.

Delima menyuapkan potongan roti terakhir. Roti sudah habis. Waktunya belum. Katanya, “kau tahu aku akan setia. Tak peduli biar kau membuangku atau menyiksa. Sampai tiba saatnya, aku akan terus menemani.”

Hanya satu yang tidak pernah diungkapkan waktu dengan jujur. Sampai tiba. Kapan, dimana?

Begitu juga dengan waktu di sisi Abah. Ketika pria itu bertemu dengan malaikat berjas putih, ia menemani. Diam-diam berjalan bersama Abah dengan wanitanya. Wanita satu-satunya yang ia puja. Yang dengannya ia memutuskan untuk mengikat waktunya dengan waktu wanita itu.

Ikatan yang tumbuh jadi simpul berkarat yang susah lepas.

Waktu menangis bersama Abah. Ketika malaikat itu berbisik. “Sabar,” katanya. Karena itulah jadi menakutkan. Tidak ada yang akan menyuruh sabar kalau ia tidak tampak buru-buru. Satu kata yang justru menekankan makna anti-tesisnya. Begitu kuat.

Ia menatap tubuh tinggi-besar itu. Tergolek lemah di dalam pangkuan wanitanya. Bergulung. Kembali menjadi janin yang lembut. Terselubung oleh ketuban yang hangat. Waktunya tersenyum. Mengecup keningnya pelan.

Satu per satu sosok yang begitu Abah kenal. Berdiri gelisah. Seorang anak perempuan. Tiga orang anak lelaki. Tidak peduli seberapa tinggi mereka sekarang, mereka bocah-bocah kecil Abah. Dan waktu menangis.

Ia tidak sabar. Tapi, bagaimana merelakan keajaiban-keajaiban kecil yang tumbuh besar itu? Ia tidak mau menyiksa sahabatnya. Tapi, bagaimana cara melepaskan genggaman tangan yang hangat itu?

Lantas, bagaimana dengan wanita Abah? Akan seberapa hancur hatinya?

Waktu di sisi wanita itu menggenggam tangannya, “aku akan menyelubunginya dengan butir-butir baru. Yang lembut. Yang membahagiakan.”

Sampai tiba saatnya. Waktu untuk Abah. Waktu untuk waktu. Tiba di penghujung. Waktu memutar kembali. Kepingan-kepingan yang hilang beberapa minggu terakhir. Dan ia melihatnya. Mata itu bercahaya. Keajaiban-keajaiban kecil. Yang tumbuh besar di keluasan hatinya.

Matahari semakin redup. Menggeliat, ia masuk ke peraduannya. Abah turut gelisah. Ingin ikut. Menggenggam bias mahkotanya. Membiarkannya menghantarkan ke singgasana Penguasa Segala Makhluk.

Roti Delima sudah habis. Air matanya pun. Tapi, tidak seperti Abah, waktunya belum. Dia bangkit. Berjalan lagi.
Dedicated to Abah Iskandar Burhanuddin
(5 Januari 1955-9 Maret 2017)