Category Archives: Info Umum

Satu Hari yang Tak Akan Terulang

546652_263102530451518_258489774246127_543294_1921561366_n[1]
Gambar diambil dari : rhaggill-duniaku.blogspot.co.id

Tanggal 18 Mei…

Tepat 19 tahun yang lalu, alias tahun 1998, ternyata hari ini adalah hari pertama mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR. Dan mereka melakukan itu di bawah ancaman tank, panser, dan senjata api. Waktu itu aku masih SMP.

Waktu itu aku masih kecil. Nggak kurang pula, apatis, masa bodo. Yang penting aku aman-nyaman di tempat tidur. Apa peduliku kalau di luar sana ada ribuan orang mati demi membela keyakinan mereka? Shame on me, huh?

Peristiwa Mei 1998 yang terekam jelas di ingatanku adalah tanggal 14 Mei 1998. Dulu ibuku mempekerjakan ART. Aku deket sama dia, dan hari itu adalah tanggal ulang tahunnya. Sayang sekali, pada hari itu, malam-malam sekitar jam 7, kericuhan terjadi di dekat rumah. Sejarak beberapa rumah, di seberangnya, ada indomaret (yang masih bertahan sampe detik-detik aku mau pindah rumah tahun 2015, lho! Mungkin sekarang juga masih ada) dan sekelompok orang rusuh menyerang indomaret itu.

Apa yang kulihat? Sekelompok super hero yang sedang membela bangsa? Bukan, sekelompok oportunis b***sat (maaf ya, aku sedang kesel hehe) yang sedang memanfaatkan situasi. Mereka menjarah minimarket itu. Bahkan, di ingatanku, mereka juga bawa barang-barang berat, kayak komputer. Entah itu dari indomaret, atau dari toko di dekat situ. Biar aku nggak tahu apa-apa, aku jijik melihat mereka.

Dari dulu sampe sekarang, keberadaan orang-orang seperti itu nggak pernah hilang. Orang-orang yang mencari kesempatan buat kepentingan mereka sendiri. Orang-orang yang nggak peduli dengan nasib orang lain. Orang-orang yang nggak punya kode moral. Dan orang-orang inilah yang sekarang memakai topeng agama. Kalau waktu kecil saat aku belum paham politik aku sudah merasa jijik, apalagi sekarang?

Aku nggak percaya kalau situasi sekarang akan berujung pada peristiwa reformasi 1998. Aku nggak mau menyebut itu kerusuhan, buatku itu sangat tidak menghormati orang-orang yang sukses menurunkan Soeharto dan dwifungsi ABRI di pemerintahan. Dan orang-orang yang mati membela keyakinan mereka. Bravo!

Sayangnya, orang-orang percaya. Orang-orang ketakutan. Bisa jadi, orang-orang yang trauma akan peristiwa 1998, orang-orang yang melihat langsung, nggak sepertiku yang cuma melihat dari dalam rumah yang sengaja digelapkan, supaya nggak kena serangan massa.

Dulu, waktu itu, mahasiswa dan rakyat bisa dibilang satu suara. Aku nggak bilang 100% ya, karena pasti selalu ada pro-kontra di balik semua. Yang pasti, kemuakan berpuluh tahun dan opresi Soeharto jadi pemicu. Kesatuan itu yang menggerakkan massa begitu luas, begitu banyak. Sekarang ini, dengan kita yang terpecah, mana mungkin pengumpulan massa semacam itu akan terjadi lagi? Pengikut organisasi agama yang katanya sampai 7 juta itu? Itu cuma sekitar 3% dari keseluruhan rakyat Indonesia. Kenapa takut?

Mungkin di balik ini semua, ada aktor-aktor lain. Lebih kuat, lebih berkuasa, daripada orang-orang kecil macam preman-preman bertopeng agama itu. Dan mereka sedang mempersiapkan skenario mereka. Tapi, buatku itu menjijikkan, bukan menakutkan.

Tahu yang kutakutkan? Saat seseorang dengan suara keledai malah dipuja-puja. Saat orang-orang menolak memakai salah satu bagian tubuh yang menggerakkan hampir seluruh sistem organ, yaitu sistem syaraf pusat. Saat kita bisa mulai melihat robot-robot bergerak dengan remote control di balik layar. Saat orang melupakan nuraninya sebagai bagian dari kelompok manusia, makhluk yang diciptakan tak kurang dari Tuhan sendiri.

 

well

 

Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 2)

 

images
Gambar diambil dari http://www.freevector.com

 

Cerita eh artikel sebelumnya…

Dua hal pertama yang kutemukan waktu mulai mencoba menulis cerita fantasy. Mengembangkan logika cerita dan menyesuaikan setting lokasi dan waktu yang tepat itu susah banget. Terutama, karena ini dunia fantasy, yang budaya dan adat istiadat makhluk-makhluknya harus kita bentuk dari awal dan kita atur lagi. Apalagi kalau makhluknya fantasy. Imajinasi kita harus luas dan nggak terbatas banget!

Buat part 1-nya, coba klik link ini : Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 1)

Nah, sekarang lanjut lagi. Karena emang bukan 2 hal itu aja yang bikin rumit. At least, buatku 😀

Ketiga, menetapkan nama-nama dan istilah-istilah. Kita bicara soal negara baru atau dunia baru. Mungkin malah dimensi waktu dan ruang yang lain dari realita. (Dunia orang mati, mungkin?) Buatku, ini yang paling susah. Nentuin nama tokoh aja kadang-kadang bisa bikin stuck berhari-hari, apalagi kalau ada istilah baru atau bahasa baru, dan nama-nama negara, provinsi, makhluk-makhluk baru?

Intermezzo : itulah enaknya kolaborasi, kita bisa delegasikan tugas yang susah sama teman dan bisa meringankan beban dua kali lipat :p

Jangan lupa juga nama ini nggak bisa sembarangan. Kalau makhluk menyeramkan dan jorok disebut Troll, terkesan cocok aja, kan? Kalau kita namain dia bunny atau tweety pasti rasanya ada yang janggal (karena sadar atau nggak, kita terikat sama norma-norma yang kita pelajari dari dunia nyata).

416HARSDA3L
Penamaan tokoh biasanya menggambarkan karakternya. Seperti troll, makhluk yang biasa digambarkan buruk rupa dan jahat. Gambar diambil dari http://www.amazon.com

Mau ngasi twist? Tentu saja boleh, tapi harus ada alasan yang masuk akal untuk itu. Misalkan, apa sejarahnya makhluk itu dinamai lucu dan cute begitu? Rasanya, kalau nggak sesuai sama aturan yang dipersepsikan normal sama orang-orang, susah buat pembaca mengembangkan imajinasinya. Kita bicara teks tanpa gambar soalnya. Lain hal kalau bicara soal picture book, ada gambar yang menjelaskan maksud si penulis.

Lupakan soal kesan, beberapa nama juga harus punya filosofi tersendiri. Kayak Pancasila, dinamakan begitu karena ngambil dari bahasa Sansekerta, “Panca” yang artinya “lima” dan “sila” yang artinya “prinsip/asas.” (Kok jadi PPKn? Haha…) Orang tua aja milih nama buat anak karena ada kandungan doa (ada artinya) di dalam nama anak yang mereka pilih, kan? Apalagi, kalau bicara soal logo atau lambang (negara/organisasi misalnya) yang selalu punya simbolisasi, selalu punya filosofi di baliknya.

Keempat, pengembangan kepribadian setiap karakter. Ingat kan, kalau di part pertama aku udah bahas soal penentuan lokasi yang bakal menentukan budaya? Nah, yang namanya budaya itu pasti menentukan pola tingkah laku tiap-tiap manusianya. Bisa dibilang break down dari aspek-aspek budaya itu, deh.

Kayak di Lord of the Rings (maap ya, referensiku soal novel fantasy emang cuma dua ini hehe), ada makhluk namanya hobbit (again?!). Kita bisa lihat kalau dunia hobbit itu indah dan damai, kan? Dengan begitu, masyarakatnya mudah percaya satu sama lain, mereka jarang berkonflik. Ini kelihatan dari sikap Frodo dan Sam ke Gollum. Frodo begitu aja jatuh kasihan dan percaya sepenuhnya sama Gollum. Sedangkan, sekalipun Sam nggak percaya sama makhluk licik itu, dia juga nggak begitu aja mengkonfrontasi Gollum secara langsung, kan?

Atau kita bisa liat Merry dan Pippin, yang menurutku lebih agresif ketimbang Frodo dan Sam, mereka tetep beda sama Dwarf yang agak kasar dan beringasan. Kalau ada konflik, mana ada mereka langsung serang dan sebagainya. (Trus, nama mereka cute, menggambarkan karakter mereka yang juga imut-imut?)

Artinya, keempat hobbit itu punya perbedaan karakter, tapi mirip secara fundamental. Mereka bertengkar dan berkonflik, tapi nggak melewati batas-batas budaya mereka. Artinya, kalau budaya kita tentuin lagi, berarti perkembangan kepribadiannya juga harus disesuaikan dengan budaya baru yang kita tentuin itu.

Susah banget nggak, sih? Tenang aja, kita masih bisa nyontek-nyontek dikit, kok. Misal tentang hobbit itu, kita bisa nyontek itu dari budaya masyarakat adat, kayak Suku Badui Dalam, atau yang baru-baru ini booming, Petani Kendeng. Mereka sedikitnya, punya sifat yang lumayan sama dengan para hobbit ini (berdasarkan dari observasi mentahku, ya). Mereka masyarakat homogen yang kurang suka berkonflik dengan pola pikir sederhana.

Tapi, harus tetap ingat kalau cuaca, iklim, suhu, tingkat kebisingan daerah, dan segala macam model demografis lainnya, itu menentukan kepribadian, jadi jangan pernah lupa untuk menyesuaikan unsur itu ke dalam karakter.

Terakhir, (minimal yang kepikiran, ya) tentu saja konflik politiknya. Kalau bukan novel dengan tema tentang politik pasti mikirnya nggak bakalan perlu beginian, kan? Salah besar. Yang namanya politik itu ada di mana aja dan diterapkan di mana aja. Misal, jomblo lagi nyari pacar, nih. Politik mereka adalah dandan secakep mungkin, ngasi kode-kode ke lawan jenis, dan segala macam strategi lainnya. Itu juga politik, lho.

Bayangin kalau konflik politik ini terjadi di dunia fantasy. Misal, di Lord of the Rings, ada Saruman dan Gandalf. Saruman punya tujuan menguasai cincin. Gara-gara itu, ia menghalalkan segala cara. Lalu, muncul Gandalf yang berniat menghalangi dia mencapai ambisinya. Ini lagi-lagi harus ada hubungannya dengan logika cerita dan masing-masing kepribadian tokoh.

gandalf-saruman
Gandalf dan Saruman mulai berkonflik sejak Saruman berambisi menguasai cincin untuk dirinya sendiri. Gambar diambil dari http://www.dreager1.wordpress.com

Misal, Saruman ambisius. Maka, politiknya adalah dia mencoba menghancurkan orang-orang yang menghalangi dia. Gollum, dia berniat menguasai (sebenernya dia yang dikuasai) oleh cincin terkutuk itu, akhirnya dia menipu Frodo dan Sam. Lalu, Frodo yang punya misi dan Sam yang bertugas menjaga Frodo. Ini break down lain dari budaya dan karakter, mereka menentukan hubungan antar tokoh.

Biasanya, yang paham hal-hal begini adalah gamers, tepatnya pecinta game-game RPG. Emang basis game RPG itu biasanya novel fantasy, jadi bisa juga jadi cara asyik untuk memahami alur di novel fantasy lewat games kayak gini. Untuk yang suka fantasy dan pengen nulis novel fantasy, jangan nyerah dulu karena kesulitannya, ya! Kalau sukses, bisa jadi games dan terkenal di mancanegara, lho… 😉

 

 

 

Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 1)

 

images
Gambar diambil dari http://www.freevector.com

 

Baru-baru ini mutusin untuk bikin novel kolaborasi dengan teman-teman sesama penulis. Kebetulan banget, kebanyakan dari mereka penggemar fantasy. Aku sendiri suka sih, bacanya, tapi kurang suka nulisnya. Karena aku bisanya yang realistis, yang deket sama kehidupan sehari-hari, alias imajinasiku kurang. Jadi, kenapa aku mau (malah aku yang ngajak) bikin novel kolab soal fantasy?

Eksplorasi, eksperimen, atau apalah sebutannya. Intinya, aku mau ngerasain.

Dan, lewat tulisan ini (ini gegara keseringan denger lagu kali ya, kan biasanya “lewat lagu ini…” mulai gak jelas, deh!) aku mau menyampaikan beberapa pengalaman yang kudapat lewat fantasy.

Tadinya tuh, aku mikir, asik banget kali ya, bikin sebuah novel yang murni dari hasil pikiran kita sendiri (ya eyalah, kalo gak, namanya plagiat hehe). Maksudnya, murni dari hasil imajinasi kita, nggak terkukung dengan kenyataan, dan aturan-aturan dunia nyata. Eh, ternyataaaa…. tidak semudah yang kuduga.

Pertama, mengembangkan logika cerita. Biarpun kita bisa bilang murni hasil imajinasi, novel bentuk apapun adalah bentuk komunikasi yang lain. Kita sebenernya tengah menyampaikan ke orang lain apa yang ada dalam pikiran kita, dalam perasaan kita juga. Karena itu, komunikasi harus mengikuti aturan luar, kalau nggak ya, pesan-pesannya pasti nggak nyampe. Trus, buat apa dong, kita publish novel? Kecuali kalau mau jadi pajangan di rak buku pribadi atau menuh-menuhin hard disk atau kapasitas google drive (banyak banget medianya sekarang ^^;)

Okelah, ada yang namanya novel sastra. Penyampaiannya kadang ekspresif, subjektif milik si penulis. Mereka bahkan bisa aja membentuk kaidah-kaidah baru dalam cara penulisan dan bahkan cara pembacaan. Tapi, kaidah baru terbentuk dengan dasar kaidah lama. Surrealis nggak mungkin muncul tanpa adanya realis sebelumnya, kan? Lukisan abstrak juga nggak akan muncul kalau nggak ada teknik-teknik pencampuran warna atau konsep-konsep warna dalam hubungannya dengan emosi manusia. Jadi, bahkan bacaan yang nyastra pun nggak mungkin keluar dari kaidah-kaidah baku komunikasi ini.

Contoh simpel, bahkan novel sastra pun nggak mungkin bilang, ibu memasak batu bata. Kalaupun iya, pasti nanti ada segudang alasan di balik itu, mungkin karena di novelnya emang makhluknya punya kebiasaan makan batu bata ^^; Kalau nggak, ya nurut aja sama kaidah baku bahasa indonesia, kalau yang dimasak itu ya, makanan yang bisa dimakan. Seperti, ibu memasak sayur.

Nah, seperti contoh di atas, karena komunikasi ini mutlak harus sampai ke pembaca, kita perlu menulis satu cerita yang benar-benar harus ada hubungannya satu sama lain, kan? Waktu nulis fantasy, ini yang paling sulit, artinya kita harus menghubung-hubungkan imajinasi yang banyak itu hingga membentuk rangkaian yang solid secara logika. Kalau realis masih bisa kita nyontek-nyontek dari dunia nyata. Tapi, kalau di cerita fantasy, semua harus dirancang dari awal.

Kalau misalkan kayak di Harry Potter, menjelaskan hubungan penyihir dengan goblin, misalkan? Artinya, harus jelas dulu karateristik penyihir, karakteristik goblin, perasaan-perasaan mereka, sejarah antara mereka, sehingga hubungan mereka yang diwarnai sakit hati dan saling curiga itu jadi masuk akal banget. Bravo for J.K.Rowling!

65b48871fc60046897cac12d0ad2eb131e03d5c5
GIF diambil dari http://www.romper.com

Coba, kalau nggak dijelasin sejarah mereka yang diwarnai tipu daya, tiba-tiba mereka saling benci aja gitu? Pasti kita sebagai pembaca nggak puas. Lho kok tiba-tiba saling benci aja, sih? Aneh.

Kedua, menyesuaikan setting lokasi dan waktu. Sama aja kayak mengembangkan logika cerita sih, persoalannya. Mesti dirancang ulang dari awal. Untuk beberapa novel fantasy, mereka menggunakan sistem pertanggalan masehi (tapi dengan realita yang sangat berbeda) dan ini sah. Ini lebih gampang, sih. Tapi, beda cerita kalau kita bikin setting waktu sendiri. Atau model-model post-apocalypse yang semuanya harus dari nol. Untuk penulis yang perfeksionis, harusnya sih ada sistem penanggalan sendiri soal ini (push terus novelis fantasy Indonesia! Haha!)

Setting lokasi, ini yang menurutku sangat, sangat ribet. Begitu ketemu novelis fantasy, barulah aku sadar betapa rumit soal setting lokasi ini. Apalagi kalau soal kolab ya, semua harus jelas karena orang-orang yang terlibat semua harus mirip-miripin (karena identik terlalu naif) persepsi soal hal-hal teknis begini.

Kenapa? Masalah lokasi ini penting banget untuk penanaman karakter-karakter dalam cerita. Karena seperti yang kita tahu, lokasi sangat menentukan budaya. Misal, orang-orang yang tinggal di negara tropis 2 musim, dengan negara 4 musim, budayanya pasti beda. Orang yang tinggal di negara kering macam Afrika pasti kelakuannya beda banget sama orang yang tinggal di Greenland. Trus, dia tinggal di pegunungan atau daerah pesisir pantai. Apakah dia tinggal di dataran rendah atau dataran tinggi.

Misal, di Lord of the Rings, para hobbit tinggal di rumah-rumah kecil di semacam padang rumput begitu. Aku lebih ngebayangin soal liang-liang kelinci yang damai gitu, sih. Mereka cenderung ramah dan saling percaya, tapi juga mudah ditipu. Bandingkan dengan goblin, atau disebut juga Orcs, yang tinggalnya di Misty Mountain, alias di pegunungan.

Ini penampakan liang-liang Hobbit… :p

2frodobilbo
Gambar diambil dari thorinoakenshield.net

Nah, ini tempat tinggalnya Orcs…

Trailer1Goblins3
Gambar diambil dari http://www.thelandofshadow.com

Berasa kan, kalau perbedaan sifat mereka jadi masuk akal? Pegunungan yang kebanyakan gelap dan menyimpan sejuta misteri (kayak hewan-hewan liar) otomatis membuat sifat Orcs jadi curigaan (kalau kita nggak mau buruk sangka dulu sebagai jahat, ya). Tampang mereka aja jadi nggak indah gitu, kalau dibanding Hobbit. Itulah kaidah-kaidah baku dalam dunia pembentukan kepribadian, jadi kalau nggak ngikutin itu lagi-lagi pesannya nggak bakalan nyampe.

Singkat kata, kalau setting lokasi nggak jelas, pastinya nanti bakalan nggak masuk akal dengan karakter-karakter tokoh. Kalau perlu jelasin di lintang apa, bujur apa, biar ribet sekalian! 😀

Untuk sekarang, aku nulis sampai di sini dulu. Soalnya, kalau kepanjangan malah jadi nggak enak bacanya. Nanti pesannya nggak nyampe ke pembaca, dong! :p

 

 

nyambung…

Masyarakat Adat yang Jauh Lebih Modern

sawah_kita_by_nooreva-d5q63ap
Gambar diambil dari DevianArt by nooreva

 

Please don’t judge me. Aku tahu ini topik yang udah rada basi, tapi karena aku lagi off kemaren dari segala macam berita dan medsos, jadinya bener-bener ketinggalan.

Akhir-akhir ini, berita soal Petani Kendeng lagi banyak ditampilkan. Aku sering denger, tapi baru kali ini tahu apa masalahnya. Lagi-lagi, masyarakat adat vs pengusaha.

Oke, aku sebelumnya nggak pernah tahu soal kasus masyarakat adat dan pengusaha, tapi oh come on, it’s so easy to guess! Masyarakat adat dipinggirkan karena ada kapitalis lagi nyari untung. Terjadi dimana-mana. Sejarah juga banyak membuktikan.

Di Indonesia, keberadaan masyarakat adat adalah sesuatu yang masih dihargai dan diakui secara hukum. Seberapa baik penghargaannya? Ternyata, nggak begitu baik. Soalnya, orang Indonesia sibuk nyari duit. Salah nggak? Nggaklah, siapa yang nggak butuh duit. Tapi, kalau banyak duit, tapi kita nggak punya apapun untuk dimakan, oksigen yang semakin tipis karena kita tebang semua pohon, dan banjir dimana-mana karena nggak ada daerah serapan air, apa gunanya, sih?

I don’t get human somehow. Eh, aku juga manusia, ya?

Di satu sisi, aku menyukai perkembangan teknologi. Aku menyukai kemajuan, karena bagaimanapun, kemajuan juga membawa banyak hal positif. Pengobatan, misalkan. Pendidikan parenting (karena aku orang tua yang butuh itu).

Ups! Pendidikan parenting ternyata kita nggak begitu maju, lho. Kita, masyarakat kota, yang katanya sangat beradab, jauh ketinggalan masalah yang satu ini.

Dari kakak iparku (credit for her) yang suka traveling, di Badui Dalam, mereka nggak butuh ahli parenting untuk mengatakan ke mereka, kalau anak melakukan kesalahan, ya dibilangin, nggak perlu dikasarin or such. Sementara, masyarakat kota??? Guru nyubit anak murid malah dibelain, katanya mencubit dan memukul itu biasa untuk pengendalian perilaku. Sementara, di Badui Dalam, dengan pendidikan parenting yang begitu, mereka tentram dan saling bersahabat tanpa banyak konflik. Kalaupun ada, selesai tanpa harus kasar dan menjelek-jelekkan orang lain. Sejak kapan peradaban modern justru membuat kita mundur jadi manusia purba?

Dan masyarakat adatlah yang punya cukup etika untuk menjaga alam. Masyarakat Badui Dalam punya aturan hanya boleh panen padi setiap 6 bulan sekali dalam setahun. Karena mereka percaya bahwa mereka nggak boleh tamak dalam mengambil hasil alam. Dan, kebetulan sangat, ibuku pernah cerita, bahwa dulu di Sumatera Barat, panen dilakukan 6 bulan sekali,  sebelum pemerintah (bodoh, maaf, aku nggak tahan) mengubahnya jadi 3 bulan sekali. Akibatnya, kualitas beras di Sumatera Barat menurun drastis. Dulu, kata ibuku, beras dari sawah di kampung, rasanya enak banget. Beda sama yang sekarang. Sedih.

Masyarakat Samin, termasuk petani dari pegunungan Kendeng, juga sama sekali nggak menggunakan bahan-bahan kimia untuk pertanian mereka. Mereka menggunakan bahan alami, kayak kotoran sapi dan jeroan sapi (yang masih fresh, dari sapi yang baru disembelih, kurang-lebih) dihancurkan dan diproses jadi pupuk. Artinya apa? Mereka punya kualitas beras yang jauh lebih baik daripada yang kita makan sehari-hari. How sad is that?!

Tapi, kapitalis nggak pernah puas. Dengan alasan membangun perekonomian, mereka bangun pabrik dimana-mana. Padahal, Indonesia itu negara agraria. Kalau kita bisa fokus di agraria, dan mengekspor itu semua, perekonomian kita juga bisa maju. Tanah kita sangat subur, ingat?

Aku rasa, kita harus melepas satu gelar indah lagi dari Indonesia.

Kalau aja masyarakat Indonesia lebih percaya diri untuk mengolah semua hasil alamnya sendiri. Dan kita bisa mendepak semua pihak yang maunya memperkaya diri dari berbagai tender dan investasi asing, mungkin kita akan jauh lebih kaya. Aku nggak anti investor asing ya, tapi tolonglah proporsinya diatur. Kebanyakan!

Selamat tinggal, etika dan moralitas. Sejak kapan civilization menjadi kata yang begitu menakutkan? Sejak kapan peradaban justru menghancurkan manusia daripada membangunnya?

Selamat datang, kanker dan penyakit mematikan lainnya. Hanya karena kita terlalu malas untuk memperjuangkan kesejahteraan alam, yang padahal menghidupkan kita juga.

Tanpa kita sadari, ternyata masyarakat adat jauh lebih maju daripada masyarakat, yang katanya, modern. Internet ternyata nggak cukup bikin kita pinter (akhir-akhir ini, malah membuat kita jadi makin bodoh). Begitulah, dengan berkurangnya kepedulian akan lingkungan sekitar kita, baik pada manusia dan alam, manusia hanya akan jadi hewan. Hanya dengan rasa peduli, kita jadi manusia seutuhnya.

Teriring doa bagi masyarakat adat, semoga masyarakat adat tetap terjaga dan terhormat di atas bumi Indonesia.

 

 

Depok, 29 Maret 2017

Tips Ngasal Blogger Pemula

image
Gambar diambil dari zenzuhaini.blogspot.co.id Ayo kunjungin juga blognya, ya 😉

Aku bikin blog dari tahun 2008, sejak aku mulai aktif make internet. Telat banget, ya? Biarin deh, udah biasa. Nggak masalah bagaimana kita memulai sesuatu, yang penting bagaimana kita mau berproses dan menyelesaikannya sampai selesai. Itu motto ku, sih. Walaupun, secara sempurna masih banyak perlu perbaikan.

Ceritanya, aku update beberapa tulisan di dalamnya. Abis itu, tanpa sadar, blog itu tiba-tiba udah lumutan karena kelupaan bertahun-tahun. Pas nyadar, nyesel sendiri. Trus, tahun 2011, berencana mulai lagi. Mulailah kontennya diperbarui, isi-isinya ada yang dibuang karena, tahulah, dinamika manusia itu luar biasa. Aku di masa depan ternyata kurang setuju dengan diriku di masa lalu. Dan, setelah beberapa hari getol posting tulisan (fokus sama tulisan sok serius gitu, deh), tiba-tiba inspirasi hilang. Beberapa hari, beberapa bulan, dan sampai tahun 2014, itu blog terbengkalai lagi.

Sama seperti novel-novelku. Udah bikin draft, beberapa bab, trus ditinggalin ^^;

Sampai akhirnya, aku bikin resolusi baru. Nggak perlu indah-indah atau serius banget, yang penting blognya hidup dulu, deh. Ngebayang deh, sekarang di follow belasan orang aja hepi banget (ilustrasi bagaimana menyedihkannya kehidupan blogku dulu). Jadi, berdasarkan pengalaman pribadi, ini cara membuat blog kita tetap hidup :

1. Konsistensi aja dulu

Kayak yang aku bilang di atas. Kalau tulisan serius-serius yang butuh narasumber segudang itu menyulitkan, ya udah, kita nggak usah fokus ke situ dulu. Yang penting satu artikel per hari. Ini aja buatku susah banget, lho! Kemaren sempet blog sebulan nganggur ^^;
Idealisme emang bagus, tapi konsistensi itu bisa menjaga kita disiplin menjaga apapun keyakinan yang kita pegang. Nanti kalau udah ada waktu, tenaga (memeras otak itu capek, lho!) dan inspirasi, ayo kita beridealisme dalam menulis. Itu juga penting!

2. Simpan tulisan di draft

Kalau yang namanya penulis tuh, kalau lagi dapet inspirasi, tulisannya bisa banyak banget sehari aja. Nah, kalau lagi begitu, semangatlah menulis, tapi stop! Jangan buru-buru publish dulu ke khalayak ramai. Publish satu, trus simpen lainnya di draft. Inget-inget buat posting besok. Jadi, kita selalu punya cadangan buat posting sehari sekali. Konsisten dulu, karena pola pikir terbentuk dari pola kebiasaan.

3. Make it fun!

Oh, tulisan itu bisa jadi sangat membosankan, bahkan buat kita yang cinta banget menulis. Namanya juga duduk di depan laptop, atau mobile computing atau apalah itu, berhadapan dengan huruf-huruf monoton, tiap hari? Kalau ada yang nggak bosen dengan itu, blessed you! Artinya, kamu dapet hidayah dari Tuhan, dan syukurlah! Buat yang bosen, maka bersenang-senanglah dengan blog. Daripada tulisan, sekali-kali posting foto narsis (buat yang suka selfie), atau ngutak-ngatik tampilan blog, atau sekadar posting tulisan yang nggak banget. Konyol juga kalau itu bagian dari diri kita, itu harus diterima, and it should be fun!

4. Jadi follower

Lah kok, malah jadi follower? Bukannya, kebalikan? Harusnya kita yang nyari follower? Dulu, aku mikirnya juga gitu. Sekarang, aku mikir, sombong amat ya??? Kesannya kita mau dihargai orang, tapi nggak mau mulai duluan menghargai orang. Ya jelas, mental. Well, kalau blognya berguna banget, pastinya dicari orang, kita nggak perlu ngapa-ngapain. Kalau blognya curhat atau nggak jelas kayak blogku ini, mana mau deh, orang follow begitu aja? ^^; Kalau kita jadi follower, rajin komen yang bermanfaat (bukan cuma ‘nyimak’ atau numpang jejak doang, ya orang juga males.

5. SEO

Nggak perlu! Karena ribet (please jangan ditiru!) Mestinya sih, kalau blog kita menarik, bermanfaat, orang pasti suka aja. Dan selalu, mouth-to-mouth ads itu paling efektif mempromosikan sesuatu. Makanya kan, sekarang orang pakai trolls buat menjaring one-click-monkey. Atau apalah itu istilahnya, pernah denger, tapi lupa mulu. Penting apa mereka???

Ini sekilas tips-tips buat blogger pemula dar blogger pemula juga. Makanya, kalau masih ngaco, itu karena aku juga masih belajar. Belajarlah, tiap hari. Asah otak kita biar nggak karatan, daripada nanti dipoles pake yang nggak-nggak sama politikus payah di atas itu!

Tulisan kedua yang pure dari mobile computing! Yeah, another winning for me! (Kalau nggak ngerti kenapa aku seneng cuma gara-gara ini, yah maklum aja ya, kemenangan itu sifatnya personal banget soalnya ^^)

Pokemon Go (ver.2)

pokemon go

 

Pokemon Go dan Perilaku Adiktif

 

Beginilah jadinya kalau kurang konsisten ngelakuin sesuatu. Tadinya pembahasan ini mau langsung diluncurkan persis habis artikel Pokemon Go (ver.1), eh malah jadinya sekarang. Tapi, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Walaupun cepat dan tepat itu slogan yang paling tepat untuk zaman sekarang ini.

Pokemon Go dalam waktu singkat (walaupun bangun game-nya sih, bertahun-tahun, tuh) ternyata bisa mencuri hati orang-orang. Nggak tanggung-tanggung, berkat teknologi informasi yang berkembang pesat juga, ini viral dari Indonesia sampai Amerika Serikat sana. Terbukti dari berbagai berita tentang Pokemon Go di Amerika. Kadang-kadang beritanya parah, tentang kecelakaan gara-gara ngejar monster Pokemon ^^;

Aneh, ya, orang bisa meninggal gara-gara main games? Tapi, ini bukan berita baru. Waktu dulu game-game RPG masih terbilang baru, banyak orang-orang yang terjebak jadi pecandu games. Beberapa dari mereka sampai tinggal berhari-hari di warnet. Hasilnya, ada yang meninggal karena kelelahan. Ya, iya, berapa banyak radiasi yang diterima tubuh mereka? Bagaimana pola makan dan pola tidur yang keganggu? Resep bagus buat orang yang mau bunuh diri pelan-pelan.

Kenapa sih, orang bisa kecanduan games?

Intinya, semua perilaku itu didasari 3 alasan, biologis, psikologis, dan sosial. Secara biologis, games itu bisa meningkatkan hormon endorfin karena tantangan menyenangkan yang disajikan sama si pembuat games. Trus, secara psikologis, kalau kita lagi stres, ya pasti kita ngelakuin hal-hal yang bisa meningkatkan si endorfin yang efektif bikin tenang itu. Ketiga, standarlah, karena kita mau tahu hal-hal yang kekinian, atau mau diterima secara sosial. Ngikutin yang kekinian kan, bisa bikin kita punya bahan buat ngobrol sama orang lain.

Namun, kenapa satu perilaku berlanjut, punya proses yang lebih kompleks. Normalnya, kalau tujuan kita tercapai, kita bakal menghentikan satu perilaku. Bukan secara total, tapi minimal kita nggak perlu meningkatkan intensitasnya. Jadi, kalau main Pokemon Go bisa ngilangin stres, waktu stres kita berkurang, ya kita balik ke aktivitas asal dan naro HP dulu sampai kita pengen main buat ngilangin stres lagi. Atau, cukup kalau Pokemon Go yang kita mainin bisa nambah bahan obrolan sama temen sekantor, ya kita bakalan main ala kadarnya. Nggak perlu sampai menambah-nambah intensitasnya.

Kalau yang terjadi kita malah lanjut dan terobsesi sampai nggak bisa lepas dari HP, itu artinya perilaku main gamesnya udah bahaya. Karena banyak yang jadi terabaikan, bahkan nyawa sendiri. Kan?

Games sebenernya salah satu cara orang untuk melakukan penyesuaian diri terhadap stres. Kenapa sih, ada stres? Stres itu datangnya dari kebutuhan kita untuk mempertahankan diri. Kenapa orang takut kehilangan kerja? Sejatinya, karena dia takut nggak punya uang buat makan dan mati kelaparan. Kenapa orang kesel kalau dinasehatin? Karena dia ngerasa nasehat sebagai serangan dan upaya untuk mematikan dia (dalam hal karakter nih, ya), akhirnya timbul insting untuk mempertahankan diri dan melawan serangan berupa “nasehat” itu. Sama dengan games, games itu adalah cara kita menyesuaikan diri terhadap stres, supaya kita tetap bisa “survive.” Baik fisiologis maupun psikologis.

Jadi, stres itu sehat. Aneh, ya? Stres itu sehat karena stres adalah salah satu alarm dari pikiran kita supaya kita tetap bisa hidup dan berkembang. Makanya, pola pikir yang menganggap stres itu jelek justru harus diubah. Seperti halnya emosi, stres itu harus ada supaya manusia bisa mendeteksi bahaya-bahaya di sekitarnya. Yang membedakan apakah stres bisa berdampak baik atau buruk adalah cara menghadapinya. Games mungkin efektif buat menyesuaikan diri terhadap stres, kalau games diperlakukan sebagai rekreasi. Rekreasi itu kan sifatnya sementara, jadi kalau udah selesai, kita balik ke kenyataan.

Nah, ini dia yang kadang-kadang kita tolak. Kenyataan itu berat. Norak dan klise banget sih, tapi ya, begitulah. Kenyataan itu adalah tempat dimana kita harus bertanggung jawab atas semua apa yang kita lakukan dan apa yang kita jalani. Artinya, games, yang menyediakan fantasi dan gambar-gambar menarik yang beda banget sama kenyataan, membuat kita lega, merasa bebas dari kenyataan. Efeknya, kembali ke kenyataan itu jadi susah. Ini yang membuat kita kecanduan. Nggak perlu sama games deh, apa aja juga bisa. Ada yang candu rokok, narkoba, bahkan hal-hal yang kita anggap sepele, seperti makan. Dan sekalipun makan adalah kebutuhan, kalau dia jadi candu, dia jadi sama buruknya dengan narkoba. Banyak kan, orang meninggal gara-gara obesitas? Ini salah satu contoh aja, ya.

Games juga sama aja. Menyenangkan di awal. Begitu jadi candu, dia bisa menghancurkan kehidupan kita. Nggak usah ngomong yang serem-serem kayak kecelakaan karena ceroboh, tapi kalau bisa ngebuat kita mengabaikan orang-orang di sekitar kita, jadinya gimana? Mau putus sama pacar gara-gara Pokemon? Kalau masih asik main Pokemon sih, emang nggak berasa, ya. Begitu udah bosen, kekiniannya ilang, baru deh, galau sendiri hehe. Bisa juga tugas-tugas, di sekolah, di kantor, di rumah, jadi terbengkalai, dan makin numpuk dan makin numpuk, makin stres, makin pengen main games biar nggak usah ngeliatin tugas, tugasnya jadi bejibun, makin stres, makin pengen main games, jadilah lingkaran setan yang nggak putus-putus. Akhirnya, bukannya stresnya ilang, malah nambah stres baru karena udah susah lepas dari games itu.

Proses ini berlaku sama dengan apapun, baik itu ngemil, rokok, narkoba, dkk. Mereka itu awalnya bukan candu, sampai kita yang menjadikan mereka candu. Menjadikan mereka kebutuhan yang susah digantikan dan ngerusak diri sendiri. Narkoba juga nggak pernah langsung jadi candu. Dia jadi candu dan bikin sakaw, kalau kita terus-terusan make itu. Jadi, kalau kita mau coba-coba, minimal kita udah tahu gimana cara membatasi intensitasnya dan menghadapi resiko apapun yang bisa timbul dari percobaan itu.

Yuk, main games buat rekreasi aja!